LIMA POKOK CALVINISME (TULIP)

Bagian 4: Sanggahan & Jawaban Terhadap Pemilihan Tanpa Syarat

Yakub Tri Handoko, Th. M.

Sanggahan dan jawaban

Konsep pemilihan tanpa syarat memiliki argumen biblikal dan logis yang cukup kuat. Meskipun demikian, sebagian orang tetap mengajukan keberatan-keberatan tertentu menentang konsep ini. Pertama, mereka menganggap pemilihan tanpa syarat membuat Allah sebagai Pribadi yang tidak adil, karena Dia hanya memilih sebagian orang untuk diselamatkan. Di balik keberatan ini terdapat asumsi bahwa Allah seharusnya tidak usah memilih siapapun atau sebaliknya memilih semua orang.

Terhadap keberatan ini kita perlu menegaskan bahwa sekalipun Allah menghukum semua orang, maka tindakan itu tetaplah adil, karena semua orang telah berdosa. Mereka yang dipilih telah menerima anugerah (sesuatu yang mereka tidak layak terima), sedangkan yang tidak dipilih menerima keadilan Allah. Dalam hal ini tidak ada satu pihak pun yang menerima ketidakadilan Allah. Tidak menerima anugerah Allah bukanlah bukti ketidakadilan Allah, karena Dia tidak harus memberikan anugerah kepada siapapun (Rom 9:15, 18). Jika anugerah adalah sebuah keharusan, maka hal itu tidak akan menjadi anugerah lagi, melainkan upah atau hak (Rom 4:4-5).

Keberatan di atas juga didasarkan pada konsep tentang keadilan yang tidak tepat. Adil tidak selalu sama rata. Tidak ada keharusan dalam diri Allah untuk memberikan kebaikan kepada semua orang dengan cara dan kualitas yang sama (Rom 9:20-21). Bahkan seandainya Allah memberikan kebaikan yang sama untuk semua orang, sebagian orang pasti tetap akan mempertanyakan keadilan-Nya (Mat 20:13, 15).

Pemilihan tanpa syarat yang adalah murni inisiatif Allah tetap tidak melanggar nilai keadilan, karena tindakan ini tidak dilakukan secara sembarangan. Alkitab mencatat bahwa pemilihan ini dilakukan dalam hikmat dan pengertian (Ef 1:8). Kita tidak tahu secara pasti mengapa Allah memilih sebagian orang. Yang kita tahu adalah bahwa pemilihan itu tidak didasarkan pada faktor kebaikan orang tersebut. Berangkat dari kebenaran ini, kita seharusnya mempercayai bahwa Allah tetap adil, sekalipun kita tidak mengetahui alasan di balik tindakan-Nya. Seandainya Allah tidak adil, bagaimana Dia dapat menjadi hakim atas seluruh bumi (Rom 3:5-6)?

Keberatan kedua yang sering dikemukan adalah doktrin pemilihan tanpa syarat akan mematikan upaya penginjilan. Orang akan acuh tak acuh terhadap keselamatan orang lain, karena hal itu murni adalah perbuatan Allah. Kalaupun kita tidak memberitakan injil, orang pilihan Allah pasti juga akan selamat. Beberapa contoh dalam sejarah gereja menunjukkan adanya kecenderungan seperti ini di kalangan gereja-gereja yang menerima predestinasi.

Keberatan di atas dapat dijawab melalui beberapa cara. Yang paling utama, kita harus sepakat bahwa Allah memang mampu mempertobatkan seseorang tanpa penginjilan dari orang lain, sama seperti yang Dia lakukan terhadap Paulus (Kis 9:1-19; 1Kor 15:8-9). Kalau manusia diam, Allah bisa membuat batu-batu berteriak (Luk 19:40). Allah dapat menjadikan anak-anak bagi Abraham dari batu-batu (Mat 3:9//Luk 3:8).

Walaupun demikian, kita tidak boleh mengabaikan ajaran Alkitab bahwa Allah bukan hanya menetapkan hasil pemilihan, tetapi proses dalam pemilihan tersebut. Pertobatan dan pelayanan Paulus tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi sudah direncanakan Allah jauh sebelumnya (Gal 1:15). Roma 8:29-30 menunjukkan bahwa pemilihan tanpa syarat sejak kekekalan pasti akan diikuti dengan penentuan, pemanggilan, pembenaran dan pemuliaan. Semua proses di atas hanya akan terjadi kalau ada yang diutus, pergi dan memberitakan injil (Rom 10:14-17). Orang-orang pilihan Allah di Kisah Rasul 13:48 akhirnya benar-benar menerima keselamatan melalui kotbah Paulus dan Barnabas.

Di samping itu, kita juga perlu memahami bahwa kita tidak tahu siapa yang dipilih dan siapa yang dibiarkan Allah dalam kebinasaan. Ketidaktahuan ini seharusnya memotivasi kita untuk lebih semangat memberitakan injil kepada siapapun juga, karena siapa tahu di antara mereka ada yang dipilih Allah untuk diselamatkan. Ingat, pedoman hidup kita bukanlah ketetapan Allah sejak kekekalan (karena tidak ada orang yang mengetahui hal itu), tetapi ketetapan-Nya dalam Alkitab. Kalau Alkitab mengajarkan kita untuk memberitakan injil (Mat 28:19-20), maka kita harus melakukan hal tersebut.

Sejarah gereja juga mencatat bahwa mereka yang memegang doktrin predestinasi adalah mereka yang justru sangat giat dalam pekabaran injil, misalnya Charles Spurgeon, George Whitefield, William Carey, David Livingstone. Kesuaman misi di kalangan gereja-gereja yang memegang doktrin predestinasi bukan bersumber dari teologi yang salah, tetapi sikap yang salah terhadap teologi tersebut. Akar masalah terletak pada ekses, bukan esensi dari konsep tersebut.

Keberatan lain terhadap pemilihan tanpa syarat didasarkan pada studi kata sifat “pilihan” (eklektos). Mereka yang menolak doktrin predestinasi berpendapat bahwa dari 22 kali pemunculan kata sifat ini, arti yang dimaksud bisa merujuk pada “orang-orang yang terpilih” atau “superior [dibandingkan yang lain]”. Mereka juga memberikan data dari Septuaginta (LXX) yang mendukung makna yang terakhir. Jika pendapat ini benar, maka pemilihan Allah hanyalah bermakna pengkhususan orang-orang tertentu, tetapi tidak menyiratkan seleksi, apalagi penolakan terhadap orang lain.

Walaupun keberatan di atas sekilas tampak meyakinkan, namun tidak didukung oleh penyelidikan kata Yunani yang memadai. Ide tentang predestinasi tidak hanya didapat dari bentuk kata sifat eklektos, tetapi juga dari kata benda eklogh (“pemilihan”) maupun kata kerja eklegw (“memilih”). Dari pemunculan kata eklogh sebanyak 7 kali dalam PB, 4 di antaranya secara eksplisit merujuk pada “pemilihan” (Rom 9:11; 11:5, 28; 1Tes 1:4), sedangkan 3 yang lain artinya kurang begitu jelas (Kis 9:15; Rom 11:7; 2Pet 1:10). Kata kerja eklegw muncul 20 kali dalam PB dan 19 di antaranya secara eksplisit merujuk pada tindakan “memilih” (Mar 13:20; Luk 6:13; 10:42; 14:7; Yoh 6:70; 13:18; 15:16,19; Kis 1:2,24; 6:5: 13:17; 15:7,22,25; 1Kor 1:27,28; Ef 1:4; Yak 2:5).

Keberatan lain terhadap pemilihan tanpa syarat didasarkan pada pemikiran logis sebagai berikut: seandainya orang-orang yang binasa memang sudah ditetapkan Allah untuk itu, maka mereka tidak perlu bertanggung-jawab terhadap dosa mereka; faktanya, Alkitab menuntut pertanggung-jawaban dari orang-orang berdosa, karena itu kebinasaan mereka pasti bukan karena ketetapan Allah, melainkan pilihan orang-orang itu sendiri.

Keberatan di atas didasarkan pada pemahaman yang keliru tentang predestinasi (terutama reprobasi). Reprobasi bukanlah penyebab keberdosaan manusia. Reprobasi hanyalah membiarkan manusia berada dalam keadaan mereka yang berdosa. Manusia berdosa menyukai keberdosaan mereka, karena itu mereka patut menerima hukuman atas tindakan tersebut.

Keberatan lain yang sangat sering diajukan untuk menolak doktrin pemilihan tanpa syarat didasarkan pada ajaran Alkitab yang tampaknya mengajarkan bahwa Allah menghendaki semua manusia diselamatkan (Yeh 18:23, 32; 33:11; 1Tim 2:4; 2Pet 3:9). Dalam bagian Alkitab yang lain Allah menyatakan keinginan-Nya terhadap pertobatan manusia, yang akhirnya bisa terjadi atau tidak (Yes 30:18; 45:22; 65:2; Rat 3:31-36; Hos 11:7-8; Mat 23:37//Luk 13:34). Teks-teks yang eksplisit seperti ini dianggap sangat bertentangan dengan doktrin pemilihan tanpa syarat. Lebih jauh, mereka berargumentasi bahwa kita harus lebih memprioritaskan teks-teks yang lebih jelas daripada teks-teks lain yang masih kabur.

Harus diakui, keberatan ini merupakan salah satu yang paling sulit dijawab dengan tuntas. Dalam hal ini kita perlu membedakan antara kehendak Allah yang pasti akan terjadi (decritive will) dan kehendak Allah yang dinyatakan (prescriptive will), walaupun dua istilah teknis tersebut sebenarnya tidak terlalu tepat (Frame, Doctrine of God, 531). Alkitab memberikan banyak contoh bahwa tidak setiap kehendak Allah yang diekspresikan ternyata menjadi kenyataan. Allah menyesal ketika melihat semua manusia berdosa (Kej 6:6). Yesus sangat menginginkan keselamatan Yerusalem, tetapi hal itu tidak terjadi (Mat 23:37//Luk 13:34). Sebaliknya, Alkitab mengajarkan bahwa semua rencana Allah tidak ada yang gagal (Ay 42:2). Fenomena di atas sangat banyak ditemukan dalam Alkitab dan bukan hanya berkaitan dengan keselamatan manusia saja.

Dua kehendak di atas tidak boleh dianggap sebagai sebuah kontradiksi. Dalam kehidupan kita sehari-hari pun dua macam kehendak tersebut sering muncul bersama-sama. Seorang yang menderita infeksi parah di tangannya memutuskan untuk menjalani amputasi (pemotongan anggota tubuh) supaya infeksi itu tidak menular ke seluruh tubuh. Orang ini memang memutuskan untuk mengamputasi tangannya, namun hal ini jelas bukanlah apa yang dia kehendaki dari semula. Seorang yang sedang membela diri dari serangan perampok terpaksa melawan dan membunuh perampok tersebut, walaupun dia tidak pernah berkeinginan untuk membunuh orang.

Jawaban kedua terhadap keberatan di atas terletak pada analisa konteks dari setiap teks yang didiskusikan. Dalam 1Timotius 2:4 jelas terlihat bahwa yang dimaksud “semua orang” bukanlah “setiap manusia”, tetapi “semua orang tanpa perbedaan status”, terutama mereka yang berada dalam posisi pemerintahan (1Tim 2:1-2). Dalam 2Petrus 3:9 kata “kamu” di ayat tersebut sangat mungkin merujuk pada orang-orang percaya yang menerima surat itu. Hal ini akan tampak lebih jelas jika kita memperhatikan bahwa dalam pasal ini Petrus menggunakan kata ganti orang “kamu” untuk penerima surat (ayat 1-3) dan “mereka” untuk para pengejek kekristenan (ayat 4-7).

Keberatan paling serius terhadap doktrin pemilihan tanpa syarat berkaitan dengan kebaikan Allah terhadap orang-orang yang binasa. Mereka yang menolak doktrin ini berpandangan bahwa reprobasi bertentangan dengan kebaikan Allah, padahal Alkitab secara jelas mengajarkan bahwa Allah mengasihi semua orang (Mzm 145:9). Dalam perspektif mereka, orang-orang yang binasa adalah mereka yang tidak dikasihi Allah.

Terhadap keberatan di atas, John Frame (The Doctrine of God, 429-437) memberikan jawaban yang tepat dan komprehensif. Menurut dia, mereka yang akan binasa sebenarnya telah menerima kebaikan Allah dalam berbagai bentuk, misalnya:

  1. Allah membatasi dosa. Tanpa intervensi Allah maka semua manusia akan berbuat jahat secara maksimal. Kenyataannya, Allah masih membatasi hal tersebut (Kej 4:15; 11:6; 20:6; 2Raj 19:27-28; 2Tes 2:7). Ia juga membatasi intervensi iblis dalam diri manusia sejauh Allah ijinkan (Ay 1:12; 2:6).
  2. Allah menahan murka-Nya. Ketika semua manusia sudah sangat berdosa (Kej 6:3-6) Allah bisa saja membinasakan mereka semua, tetapi Ia memilih untuk memulai suatu keturunan baru dari keluarga Nuh. Dia menunda murka karena kesabaran-Nya (2Pet 3:9).
  3. Alah memberikan berkat temporal kepada semua orang berupa makanan (Mzm 65:6-14; 136:25; 145:9, 15-16; Kis 14:17), pemerintah (Rom 13:4; 1Tim 2:2; 1Pet 2:4), kekayaan (Kej 39:5; Luk 16:25), iklim yang teratur (Mat 5:43-48).
  4. Allah memampukan orang-orang yang binasa untuk berbuat kebaikan (walaupun kebaikan tersebut bersifat relatif). Raja Yehu (2Raj 10:29-31), Yoas (2Raj 12:2) dan Koresy (Yes 44:28; 45:1, 13) adalah contoh dari orang-orang fasik yang masih bisa melakukan kebaikan.
  5. Allah memberikan wahyu kepada semua orang untuk mengenal Dia (Mat 23:2-3; Rom 1:18-21; 2:12-16).
  6. Allah memberikan berkat ilahi kepada orang-orang yang tidak benar, misalnya Bileam (Bil 22:1-24:25 [terutama 22:7; 24:1]; 2Pet 2:15; Why 2:14), Saul (1Sam 10:9-11), Yudas Iskariot (Mat 10:5-8).   

Dari pemaparan di atas terlihat bahwa reprobasi tidak meniadakan kebaikan Allah atas orang-orang yang akan binasa. Mereka telah menerima kebaikan tersebut selama hidup mereka di dunia. Jadi, inti permasalahan sebenarnya terletak pada jenis dan waktu kebaikan yang diberikan Allah. Sebagian orang dalam taraf tertentu “tidak” mendapat kebaikan Allah dalam bentuk kekayaan, kemakmuran maupun kebebasan hidup selama mereka hidup di dunia. Orang-orang fasik justru tidak jarang memiliki kualitas kehidupan temporal yang lebih baik daripada orang benar (Mzm 73:3-16; Luk 16:25).  

Manfaat praktis doktrin pemilihan tanpa syarat

  1. Sekalipun semua manusia sudah rusak total, tetapi tidak ada seorang berdosa pun yang berkata, “aku terlalu jahat; aku telah berbuat dosa terlalu lama dan dalam; aku tidak mungkin diselamatkan”. Doktrin pemilihan tanpa syarat adalah kabar baik bagi orang-orang berdosa, karena keberdosaan mereka tidak menutup pintu keselamatan mereka.
  2. Doktrin ini merupakan pondasi yang kokoh ketika kita merasa tidak layak dikasihi Tuhan setelah kita diselamatkan. Kalau ketika kita menjadi seteru Allah kita sudah dipilih berdasarkan anugerah-Nya, masakan sekarang ketika sudah menjadi anak-anak-Nya kita akhirnya tidak dikasihi (Rom 5:10).
  3. Doktrin ini mendorong kita untuk mau mengambil insiatif dalam mengasihi orang lain, karena Allah lebih dulu memilih (Yoh 15:16a) dan mengasihi (1Yoh 4:10) kita.
  4. Doktrin ini menjaga manusia dari dosa kesombongan rohani, karena penentu keselamatan kita adalah Allah, bukan diri kita.
  5. Doktrin ini membuat orang percaya lebih menghargai tujuan dan nilai hidup mereka. Hidup mereka berakar dari kekekalan dan menuju pada kekekalan. Nilai hidup kita bukan terletak pada kesementaraan, tetapi pada pemenuhan rencana kekal Allah. Hal ini sesuai dengan artikel pertama dari Katekismus Westminster “apakah tujuan utama manusia?”, yang kemudian dijawab “untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya”.
  6. Doktrin ini menempatkan kedaulatan Allah pada tempat yang tertinggi sekaligus memberikan kenyamanan hidup yang didasarkan pada kedaualatan itu.
  7. Dalam bidang pekabaran injil doktrin ini menolong kita untuk rendah hati ketika ada orang bertobat melalui pelayanan kita, sekaligus memberi optimisme ketika ada orang terus-menerus menolak dan menyerang injil yang kita beritakan.
  8. Doktrin ini menjaga gereja dari kesalahan konsep bahwa perkembangan gereja – secara kualitas maupun kuantitas – ditentukan oleh program, orang yang berpengaruh maupun usaha-usaha manusiawi lainnya. Semua ini memang penting selama dipakai Tuhan sebagai instrumen untuk merealisasikan rencana-Nya, tetapi hal-hal tersebut tidak pernah menjadi kunci kesuksesan.

 

Leave a Reply