Lima Pokok Calvinisme (TULIP)

Bagian 8: Sanggahan, Jawaban & Manfaat Anugerah Yang Tidak Dapat Ditolak

Yakub Tri Handoko, Th. M.

Sanggahan dan jawaban

Sama seperti poin lain dalam TULIP, anugerah yang tidak dapat ditolak juga mendapat berbagai serangan, walaupun teks Alkitab yang mendukung konsep ini sudah cukup jelas. Sebagian serangan bermula dari kesalahpahaman tentang konsep ini, sedangkan serangan lain muncul akibat ketidakmampuan melihat harmonisasi konsep ini dengan teks-teks Alkitab lain yang sekilas menentangnya. Paling sedikit ada empat sanggahan utama yang biasa dikemukakan.

Pertama, anugerah yang tidak dapat ditolak bertentangan dengan kehendak bebas manusia. Manusia bebas untuk memilih atau menolak Allah (Yos 24:15), sedangkan doktrin ini menyiratkan bahwa manusia tidak memiliki kehendak sama sekali. Manusia ibarat robot yang hanya mengikuti kemauan orang yang mengontrolnya.

Terhadap sanggahan ini kita pertama-tama perlu mengetahui lingkup kedaulatan Allah. Alkitab dengan jelas menyatakan bahwa Allah berdaulat atas segala sesuatu (Mzm 103:19; Dan 4:34-35; Ef 1:11), termasuk hati dan keputusan manusia (Ams 16:1; 19:21; 21:1). Allah berhak mengeraskan hati seseorang (Kel 7:3//Rom 9:18; 2Tes 2:9-12, terutama ayat 11) maupun melembutkan hati yang lainnya (Kel 12:35-36; Ez 7:27). Jika kehendak manusia berada di luar kontrol Allah, bagaimana Allah dapat berdaulat atas segala sesuatu, padahal kehendak manusia itulah yang memungkinkan terjadinya banyak hal besar maupun kecil dalam dunia?

Kita juga harus memahami bahwa kebebasan manusia memang tidak bersifat 100%. Dalam kehidupan sehari-hari kita mendapati ada banyak hal yang lebih besar daripada kebebasan manusia. Kita tidak dapat memilih etnis maupun orang tua kita. Kita bahkan lahir ke dalam dunia tanpa keinginan dari pihak kita sendiri. Secara logis kita pun tidak mungkin bebas secara mutlak. Untuk menjadi bebas secara mutlak manusia harus memiliki kuasa yang lebih besar daripada segala sesuatu yang ada. Manusia juga harus memiliki ketidakterbatasan dalam dirinya sehingga dia bisa memikirkan setiap kemungkinan yang dia inginkan dan merealisasikan kemungkinan tersebut. Dari penjelasan ini terlihat dengan jelas bahwa manusia tidak mungkin bebas secara mutlak. Jika memang manusia tidak bebas secara mutlak, bukankah sangat masuk akal kalau kita berpikir bahwa kedaulatan Allahlah yang membatasi kebebasan tersebut?

Dalam hal panggilan efektif, Allah tidak melakukan pelanggaran terhadap kehendak bebas manusia. Allah justru membebaskan kehendak “bebas” manusia yang selama ini dikekang oleh dosa. Melalui panggilan efektif manusia justru dimampukan untuk berkehendak lain selain dari menuruti kehendak dosa. Pemberian hidup yang baru, penerangan pikiran dan pembaruan hati memampukan manusia untuk kembali kepada Allah. Manusia dmampukan untuk memahami hal-hal yang baik di mata Allah.

Sanggahan kedua terhadap anugerah yang tidak dapat ditolak – yang mirip sanggahan pertama – berasal dari kesalahpahaman terhadap doktrin ini. Mereka yang menolak doktrin ini menganggap bahwa orang berdosa telah dipaksa untuk percaya. Mereka memilih Allah bukan dengan sukacita dan sukarela. Jika ini yang terjadi, maka iman dan ibadah mereka kepada Allah bukan lahir dari kesungguhan hati dan Allah pasti tidak akan berkenan dengan ibadah yang bersifat paksaan seperti ini.

Untuk menjawab keberatan di atas kita harus menegaskan bahwa orang yang akhirnya percaya sebenarnya tidak pernah merasa dipaksa untuk percaya. Dalam panggilan efektif Allah menghidupkan orang itu dari keadaannya yang mati dalam dosa, sehingga dia mampu meresponi injil dan memilih Allah. Apakah tindakan ini membuat orang berdosa terpaksa memilih Allah? Sama sekali tidak! Dalam panggilan efektif Allah menyingkirkan semua halangan yang selama ini menguasai orang berdosa sehingga dia tidak dapat memilih Allah. Kita harus ingat bahwa manusia pada dasarnya diciptakan dalam keadaan baik (Kej 1:31) dan diberi wahyu untuk mengenal Allah. Keadaan yang baik sudah tercemar oleh dosa sehingga wahyu yang diberikan pun menjadi sia-sia karena natur manusia yang berdosa selalu mendorong manusia untuk menindas kebenaran yang dinyatakan melalui wahyu tersebut (Rom 1:18). Ketika pikiran orang berdosa diterangi dan kehendaknya diperbarui, maka mereka dengan sukarela akan memilih Allah.

Proses di atas menunjukkan bahwa pertobatan maupun iman bukanlah sebuah paksaan dan Allah tetap menyukai ibadah seperti ini. Sebenarnya dalam beberapa kasus Allah justru “memaksa” umat-Nya untuk beribadah kepada Dia. Berbagai peringatan dan hukuman yang dilakukan Allah kepada umat-Nya merupakan cara Allah untuk mengkondisikan manusia beribadah kepada-Nya. Walaupun dasar semua ibadah dan ketaatan seharusnya adalah kasih, namun karena ketegaran hati manusia Allah seringkali perlu menggunakan cara-cara tertentu yang keras untuk menolong manusia taat kepada-Nya. Jadi, panggilan efektif tidak menyebabkan manusia terpaksa beribadah kepada Allah; kalaupun mereka memang “dipaksa”, hal itu tidak membuat iman dan ibadah mereka menjadi sesuatu yang dibenci oleh Allah.   

Sanggahan selanjutnya yang mirip dengan sanggahan kedua adalah pendapat yang menganggap anugerah yang tidak dapat ditolak meniadakan respon manusia terhadap injil dan dengan demikian meremehkan nilai pekabaran injil. Seandainya panggilan efektif adalah mutlak pekerjaan Allah, maka manusia tidak perlu meresponi injil. Seandainya manusia tidak perlu meresponi injil, maka pekabaran injil tidak diperlukan. Yang diperlukan hanyalah karya Allah secara internal dalam diri orang berdosa.

Sanggahan semacam ini jelas bermula dari kesalahpahaman terhadap doktrin anugerah yang tidak dapat ditolak. Panggilan efektif tidak meniadakan respon orang berdosa terhadap injil. Orang berdosa tetap harus meresponi injil secara positif, karena keselamatan melibatkan pengakuan (Rom 10:10). Panggilan efektif bersifat memampukan manusia untuk memberikan respon terhadap injil dalam bentuk pertobatan, iman dan ketaatan. Jadi, panggilan efektif memampukan orang berdosa untuk melakukan bagian mereka dalam keselamatan. Bagaimanapun, kemampuan untuk meresponi ini tidak berasal dari manusia, tetapi dari Allah sendiri. Kita tidak boleh berpikir bahwa keselamatan adalah hasil kerja sama Allah dan orang berdosa.

Walaupun sebuah ilustrasi pasti bersifat defektif (tidak sempurna), namun ilustrasi berikut ini dalam taraf tertentu dapat mempermudah pemahaman kita tentang kaitan antara tindakan Allah dan manusia dalam keselamatan. Seorang pemuda sedang diikat tangan dan kakinya dalam sebuah permainan bersama teman-temannya di sebuah pantai. Tiba-tiba dia terseret oleh ombak hingga ia tidak sadarkan diri karena menelan air laut terlalu banyak (dalam Alkitab keadaan orang berdosa sebenarnya “mati”, bukan sekedar “tidak sadarkan diri”). Seorang teman kemudian berenang ke arahnya, memberikan nafas buatan, melepaskan ikatan pada kaki dan tangannya, lalu memberikan sebuah pelampung kepada orang itu. Kini orang itu sudah pasti selamat dan tinggal menggerakkan kaki dan tangannya menuju pantai. Dalam ilustrasi ini si pemuda akhirnya dapat selamat dari kematian bukan karena dia bergerak menuju pantai (gerakan ini tidak akan mampu dia lakukan apabila dia pingsan, kaki dan tangannya terikat serta tidak memiliki pelampung). Dia selamat karena ditolong oleh temannya, tetapi dia tetap perlu bergerak ke arah daratan.

Panggilan efektif juga tidak meremehkan pentingnya pekabaran injil. Kita perlu memahami bahwa panggilan efektif bukanlah perhentian akhir dan tidak terjadi begitu saja. Ketika Allah memanggil seseorang secara efektif, maka Allah menggunakan instrumen, yaitu firman-Nya (WCF X.1). Panggilan efektif bukanlah sekedar pengalaman spiritual yang bersifat mistis semata-mata dan berakhir pada tahap tersebut. Dalam panggilan efektif Allah menerangi pikiran orang berdosa dan membuka hatinya supaya mereka mampu memahami dan menerima hal-hal rohani. Dengan kata lain, panggilan efektif merupakan karya Allah dalam diri orang berdosa sehingga mereka mampu menerima panggilan injil yang eksternal. Jelas, pekabaran injil tetap diperlukan, karena Allah menggunakan itu sebagai instrumen.

Sanggahan paling serius terhadap doktrin anugerah yang tidak dapat ditolak didasarkan pada teks-teks tertentu yang tampaknya mengajarkan bahwa panggilan dari Allah dapat ditolak. Matius 22:14 “sebab banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih”. Orang-orang Yahudi menyelidiki kitab suci tetapi mereka tetap tidak mau datang kepada Yesus sekalipun kitab suci memberi kesaksian tentang Dia (Yoh 5:39-40). Seperti induk ayam Yesus berkali-kali ingin mengumpulkan orang-orang Yahudi dalam sayab-Nya tetapi mereka menolak (Mat 23:37//Luk 13:34). Pekabaran injil kepada orangorang non-Yahudi terjadi karena bangsa Yahudi menolak panggilan injil tersebut (Kis 13:46).

Semua teks di atas tidak akan memberi kita kesulitan yang signifikan apabila kita memahami bahwa Alkitab memang membedakan dua panggilan injil: panggilan eksternal yang bersifat universal dan panggilan internal/efektif yang bersifat partikular. Panggilan eksternal dapat ditolak oleh orang yang mendengarnya sedangkan panggilan internal selalu efektif. Dua macam panggilan ini tersirat dalam doa Yesus di Matius 11:25-27. Yang dimaksud dengan orang bijak dan pandai di ayat 25 bukanlah mereka yang tidak pernah mendengarkan injil (band. Mat 11:21-23), tetapi mereka yang sudah mendengar dan menolak injil itu. Sebaliknya, yang dimaksud orang kecil di ayat 27 bukanlah anak kecil, tetapi mereka yang dengan rendah hati menerima injil. Dua respon berbeda terhadap injil ini dijelaskan Yesus sebagai akibat dari tindakan Allah menyembunyikan dan menyatakan. Dua sikap ini sama-sama baik di mata Allah (ayat 26).

Selain itu, semua teks yang dipakai untuk menyanggah anugerah yang tidak dapat ditolak merupakan teks-teks yang merujuk pada panggilan eksternal kepada semua orang. Hal ini dapat diketahui dari konteks yang ada. Dalam Yohanes 5:39-40, Matius 23:37//Lukas 13:34 maupun Kisah Rasul 13:46, subjek yang menolak injil bukanlah pribadi (individu), tetapi sekumpulan orang dalam kelompok tertentu, yaitu bangsa Yahudi. Secara umum injil telah diberitakan kepada bangsa Yahudi dan secara umum mereka telah menolaknya. Teks-teks tersebut tentu saja tidak menyatakan bahwa semua orang Yahudi menolak injil (120 murid yang menunggu di Yerusalem maupun para petobat pada masa awal gereja mula-mula adalah orang Yahudi). Teks tersebut hanya menunjukkan bahwa panggilan injil secara eksternal telah ditolak oleh mayoritas bangsa Yahudi.

Manfaat doktrin anugerah yang tidak dapat ditolak

  1. Kunci semua perubahan dalam diri individu dan masyarakat bukan terletak pada sistem, peraturan maupun edukasi, walaupun tiga hal ini memegang peranan penting. Perubahan sesungguhnya bersifat supranatural oleh karya Roh Kudus melalui firman-Nya dan dimulai dari diri umat pilihan (Erickson, 958).
  2. Salah satu aspek paling penting dalam pekabaran injil adalah doa dan kebergantungan kita kepada Roh Kudus, karena hanya Allah yang dapat menyelamatkan orang berdosa.
  3. Kemurnian injil merupakan pra-syarat mutlak bagi pekabaran injil yang sejati, karena Allah memanggil orang berdosa secara efektif melalui firman-Nya. Injil yang tidak murni (atau injil lain) tidak akan pernah menghasilkan pertobatan yang sejati.
  4. Dalam sebuah keluarga Kristen, anak-anak harus terus diperhadapkan dengan konsep injil atau doktrin yang  benar dan bukan sekedar dilatih untuk hidup sesuai gaya hidup Kristiani.
  5. Orang Kristen tidak perlu kuatir dengan berbagai upaya pihak lain untuk mempersempit ruang pekabaran injil – baik melalui pembatasan maupun penganiayaan – karena bagaimanapun injil akan tetap diberitakan dan sampai kepada orang-orang yang sudah dipilih Allah sejak kekekalan untuk memperoleh hidup kekal, karena pekabaran injil merupakan elemen esensial yang dipakai Allah untuk merealisasikan keselamatan umat pilihan.

Leave a Reply