ANTIKRISTUS

Pdt. Yakub Tri Handoko, Th. M.

Istilah “antikristus” bukanlah sesuatu yang asing di telinga orang Kristen. Hampir semua orang Kristen mengetahui bahwa keberadaan antikristus sering dikaitkan dengan konteks eskhatologi (doktrin tentang akhir zaman). Hal ini memang bisa dipahami, karena diskusi seputar identitas antikristus selalu menarik perhatian orang Kristen dari abad permulaan sampai sekarang.

Beragam dugaan tentang identitas antikristus sudah pernah dimunculkan. Kecenderungan umum yang terlihat mengarah pada para kaisar Romawi[1] atau paus (pimpinan tertinggi Gereja Roma Katholik).[2] Di luar dua pandangan ini, sebagian orang pernah menganggap semua penduduk Amerika yang pergi ke Inggris sebagai antikristus. Yang lain meyakini bahwa antikristus berada di balik peristiwa historis tertentu, misalnya Revolusi Prancis.[3] Sampai sekarang pun masih dijumpai orang atau tokoh Kristen tertentu yang percaya bahwa figur antikristus akan muncul di masa yang akan datang dan mereka juga tanpa lelah terus meluncurkan spekulasi tentang identitas antikristus.

Berdasarkan keberagaman pendapat tersebut terlihat bahwa topik ini bukanlah sesuatu yang mudah. Walaupun topik ini relatif sudah sangat umum, tetapi masih ada beberapa aspek yang belum jelas. Ketidakjelasan ini berhubungan dengan dua pertanyaan mendasar: (1) apakah antikristus merujuk pada seorang pribadi tertentu (tunggal, personal) atau sistem/paham yang menentang Kristus (jamak, impersonal)?; (2) apakah antikristus yang dibicarakan dalam surat-surat Yohanes (istilah ini memang hanya muncul di 1 dan 2 Yohanes) memiliki keterkaitan dengan bagian lain di Alkitab, misalnya pembinasa keji (Mar 13:14; bdk. Dan 9:27; 12:11), manusia durhaka (2Tes 2:3), 666 (Why 13:18)? Dua pertanyaan ini sangat berkaitan dan jawaban terhadap keduanya akan memberi pencerahan bagi kesimpangsiuran opini tentang antikristus.

Istilah antikristus dalam tulisan Yohanes

Istilah “antikristus” (antichristos) pertama kali ditemukan pada paruh kedua abad ke-1 M dan merupakan hasil tulisan Kristen.[4] Istilah ini hanya muncul 5 kali, itu pun semuanya ada di dua surat Yohanes (1Yoh 2:18 [2x], 22; 4:3; 2Yoh 7). Istilah antikristus muncul dalam bentuk tunggal sebanyak 4 kali (1Yoh 2:18, 22; 4:3; 2Yoh 7) dan bentuk jamak sebanyak 1 kali (1Yoh 2:18).

Seandainya diskusi tentang antikristus dibatasi pada tulisan Yohanes saja, maka figur antikristus yang diperoleh akan sedikit berbeda dengan konsep yang selama ini populer di kalangan orang-orang Kristen. Pertama, antikristus tidak merujuk pada seorang individu tertentu. Hal ini tampak dari bentuk jamak antichristoi polloi (1Yoh 2:18 “banyak antikristus”). Dalam 2 Yohanes 7 semua penyesat yang menolak inkarnasi Kristus disebut sebagai antikristus. Ungkapan “roh antikristus” (1Yoh 4:3) juga menyiratkan bahwa “antikristus” bukanlah seorang manusia. Ini dipertegas dengan penggunaan kata ganti neuter (bukan maskulin) yang dipakai Yohanes di ayat ini pada waktu ia menunjuk pada antikristus (bagian terakhir ayat ini dalam NASB/NRSV diterjemahkan “of which [neuter] you have heard that it is coming, and now it is already in the world”).[5]

Kedua, antikristus lebih berkaitan dengan kristologi daripada eskhatologi. Tidak dapat disangkal, di satu sisi Yohanes tetap membicarakan tentang antikristus dalam konteks eskhatologi. Ia menerangkan bahwa antikristus akan datang (1Yoh 2:18) dan kedatangan ini terjadi pada “waktu terakhir” (1Yoh 2:8). Walaupun keterkaitan dengan eskhatologi cukup jelas, tetapi tetap tidak seperti yang dipikirkan banyak orang. Banyak antikristus “telah bangkit” (1Yoh 2:18) dan “telah ada di dalam dunia” (1Yoh 4:3). Di sisi lain, Yohanes tampak lebih menyoroti antikristus dalam konteks kristologi. Antikristus lebih banyak ditampilkan sebagai roh (1Yoh 4:3) maupun manusia (1Yoh 1:22) yang menyangkal Kristus. Semua orang yang menentang doktrin yang benar tentang Kristus dapat dikategorikan sebagai antikristus (2Yoh 7).

Keterkaitan antikristus di tulisan Yohanes dengan teks-teks lain

Apakah diskusi tentang antikristus hanya dibatasi pada pemunculan istilah “antikristus” secara eksplisit? Hampir semua teolog sepakat bahwa ketidakadaan suatu istilah yang berhubungan dengan suatu topik tertentu bukan berarti bahwa topik tersebut tidak diajarkan di tempat lain. Mereka menganggap antikristus di tulisan Yohanes sangat berkaitan dengan gambaran tentang figur antikristus di tempat lain, walaupun istilah yang dipakai berbeda.

Pemahaman seperti ini bisa dipahami, bahkan dibenarkan. Ada beberapa pertimbangan yang mendukung hal ini. Untuk memudahkan pemahaman, semua pertimbangan ini akan dikelompokkan menjadi dua bagian: pertimbangan dari tulisan Yohanes sendiri dan kesamaan karakteristik antikristus di tulisan Yohanes maupun teks-teks yang lain.

Dari perspektif Yohanes sendiri, ia kemungkinan juga memikirkan tentang seorang figur antikristus di zaman akhir, walaupun hal ini bukanlah fokus perhatian dalam pembahasannya tentang antikristus. Beberapa pembenaran bagi pendapat ini antara lain: (1) penggunaan istilah “antikristus” dalam tulisan Yohaes bersifat sangat luas, dalam arti siapa saja yang menentang Kristus dapat disebut sebagai antikristus. Batasan seperti ini membuat istilah antikristus versi Yohanes dengan mudah dapat diterapkan pada siapa saja, termasuk pada seorang pribadi antikristus yang akan menjelang akhir zaman; (2) frase “seperti yang telah kamu dengar” sangat mungkin merujuk pada ajaran Paulus, Daniel maupun Kristus sendiri;[6] (3) kedatangan antikristus bersifat “sudah” dan “akan” (1Yoh 2:18).[7] Bentuk futuris “akan” di sini mungkin merujuk pada kedatangan seorang figur antikristus tertentu menjelang akhir zaman.[8]

Perbandingan antara tulisan Yohanes dan teks-teks lain yang diduga membicarakan tentang antikristus (2 Tes 2; Mat 24//Mar 13; 1 & 2 Yohanes; Why 13) menunjukkan beberapa kesamaan yang cukup signifikan. Perbedaan memang tetap ada (karena masing-masing penulis memang menulis dalam konteks tertentu yang berbeda-beda), namun kesamaan yang ada tampaknya sudah cukup membuktikan keterkaitan di antara teks-teks Perjanjian Baru ini.[9]

 

2 Tesalonika 2 Matius 24/Markus 13 1 & 2 Yohanes Wahyu 13
Waktunya akan datang bagi manusia durhaka untuk dinyatakan (2:3) Mesias/nabi palsu akan datang (Mat 24:4-5, 11, 24//Mar 13:22) Antikristus akan datang (1Yoh 2:18) Binatang keluar dari laut (13:1)
Ia melawan dan meninggikan diri di atas segala yang disebut allah (2:4)   Menyangkal Bapa dan Anak (1Yoh 2:22) Binatang itu menghujat Allah (13:5-6)
Ia mengambil tempat di bait Allah & menyatakan diri sebagai Allah (2:5) Ia berdiri dan menajiskan tempat kudus (Mat 24:15-16//Mar 13:14)   Manusia dipaksa menyembah patung/gambar binatang itu (13:4)
Penjelasan ini sudah berkali-kali dikatakan (2:5) Yesus mengatakan sebelum hal ini terjadi (Mat 24:25//Mar 13:23) Frase “seperti yang telah kamu dengar” (1Yoh 2:18)  
Rahasia kedurhakaan telah mulai bekerja (2:7)   Sekarang telah muncul banyak antikristus (1Yoh 2:18)  
Kedatangannya disertai berbagai perbuatan ajaib (2:9) Mesias/nabi palsu akan menunjukkan tanda dan keajaiban (Mat 24:24; Mar 13:22)   Binatang itu mengadakan berbagai tanda (13:11-14)
Tujuannya untuk menyesatkan (2:10) Mesias/nabi palsu menyesatkan banyak orang (Mat 24:4, 11, 24, 26//Mar 13:21, 22) Antikristus disebut sebagai penyesat (1Yoh 2:26; 2Yoh 7) Binatang itu menipu (13:11) dan menyesatkan (13:14)

Satu teks lain yang tidak jarang dikaitkan dengan isu antikristus adalah Daniel 11:36-45. Berpijak pada perkataan Tuhan Yesus sendiri bahwa kedatangan pembinasa keji yang Ia nubuatkan berakar dari tulisan Daniel (Mat 24:15; bdk. Dan 9:27; 11:31; 12:11), upaya mengaitkan Daniel 11:36-45 dengan antikristus bukan sesuatu yang tanpa dasar. Penyelidikan yang cermat bahkan memberi dukungan yang konklusif ke arah sana.

Untuk membuktikan hal ini tugas pertama yang harus dilakukan adalah menunjukkan bahwa Daniel 11:36-45 merupakan perikop tersendiri yang tidak terlalu berhubungan dengan bagian sebelumnya. Dengan kata lain, teks ini tidak membicarakan tentang penerus Kerajaan Yunani (terutama Antiokhus Epifanes), sebagaimana dibahas di Daniel 11:5-35.

Argumen paling kuat yang mendukung hal ini adalah ketidakcocokan historis antara kehidupan Antiokhus Epifanes dan Daniel 11:36-45. Figur raja di Daniel 11:36-45 yang menganggap diri sebagai allah dan tidak mempedulikan pandangan tradisional tentang Allah (11:36-38) tidak sesuai dengan figur Antiokhus Epifanes yang menunjukkan respek terhadap dewa-dewa. Dalam uang koin yang ia keluarkan Antiokhus yang menyatakan diri sebagai penjelmaan allah tetap mencantumkan Dewa Zeus. Dalam koin yang lain ia memakai gambar Dewa Apollo. Ia mempersembahkan korban kepada Zeus di bait Allah. Ia pun menggalakkan berbagai ibadah kepada semua dewa pada waktu perayaan Dafne. Di Yerusalem ia juga menggalakkan penyembahan kepada Dewa Dionisius (2Mak 6:7).[10]

Cara mati raja ini juga tidak sesuai dengan kisah historis tentang Antiokhus. Raja ini mati dalam upayanya mendirikan kemah kebesaran di antara laut dan gunung Permai yang kudus (Palestina[?]), sedangkan Antiokhus tewas di Elama (Persia) pada waktu ia berusaha merampok kekayaan kuil Elumais. Hampir semua teolog mengetahui dan mengakui fakta ini.[11]

Jika keterkaitan Daniel 11 dengan antikristus seperti diterangkan di atas diterima, maka teks ini memberi penegasan tentang beberapa karakteristik antikristus yang sudah disinggung sebelumnya. (1) Raja di Daniel 11:36-45 menganggap diri sebagai allah dan tidak mengindahkan semua allah (11:36-38; bdk. 2Tes 2:4); (2) ia menghujat Allah yang benar (11:36; bdk. Why 13:5-6); (3) ia menyesatkan banyak bangsa untuk mengikuti dia dengan cara menawarkan kuasa dan kekayaan (11:39, 43; bdk. Mat 24:24//Mar 13:22; 2Tes 2:10; 1Yoh 2:26; 2Yoh 7; Why 13:4); (4) ia menguasai dan menajiskan Tanah Permai (11:41, 45; bdk. Mat 24:15-16//Mar 13:14; 2Tes 2:4); (5) ia akan dibunuh oleh Tuhan (11:45; bdk. 2Tes 2:8).

Beberapa kesalahan umum dalam upaya pengidentifikasian antikristus

Pembuktian bahwa antikristus di tulisan Yohanes merujuk pada pribadi yang sama di teks-teks lain tidak menjamin bahwa upaya pengidentifikasian figur antikristus menjadi bebas dari kesulitan. Kesalahpahaman masih bisa ditemukan dengan mudah dalam berbagai tulisan maupun khotbah. Apa saja kesalahpahaman umum yang seringkali muncul?

Pertama, tindakan yang terburu-buru dalam mengidentifikasi antikristus maupun mengetahui waktu kedatangan Tuhan Yesus kedua kali dengan lebih tepat. Sebagian orang telah berusaha menemukan antikristus pada zaman mereka sebagai penggenapan dari semua nubuat eskhatologis tentang kedatangan pribadi antikristus di akhir zaman. Usaha ini pada gilirannya mendorong mereka untuk meyakini bahwa zaan mereka sudah sangat dekat dengan akhir zaman.

Kecenderungan yang salah seperti ini perlu untuk diwaspadai. Walaupun Alkitab memang menyebutkan tentang figur antikristus tertentu yang akan datang di akhir zaman, tetapi tetap tidak ada seorang pun yang bisa memastikan kedatangan Tuhan. Bahkan Tuhan Yesus sendiri setelah memaparkan tanda-tanda akhir zaman (Mat 24:3-34) lalu menegaskan bahwa tidak ada seorang pun tahu (Mat 24:36), karena itu semua orang percaya harus selalu bersiap sedia (Mat 24:37-44).

Dalam hal ini Hoekema memberikan nasehat yang sangat tepat dan bijaksana. Ia mengatakan:[12]

Summing up, we conclude that the sign of antichrist, like the other signs of the times, is present throughout the history of the church…but we look for an intensification of this sign in the appearance of the antichrist shortly before Christ’s return. This ign, too, does not enable us to date the return of Christ with precision. We simply do not know how the final antichrist will arise or what form his appearance will take. In our day of rapid change, such a person could rise up in a very short time. In the meantime, we must always be alert to the presence of antichristian forces, movements, and leaders in our day, as one of the continuing signs that we are living “between the times.”

Kedua, pengidentifikasian antikristus dalam kaitan dengan bangsa Israel di zaman akhir. Beberapa teks tentang kedatangan antikristus di akhir zaman sekilas memberi kesan bahwa hal ini sangat berhubungan dengan bangsa Israel. Rujukan seperti “pembinasa keji berdiri di tempat kudus” (Mat 24:15), “duduk di bait Allah” (2Tes 2:4) atau “tanah/gunung Permai” (Dan 11:41, 45) tampak sangat bernuansa Yahudi. Hal ini diyakini bertambah jelas apabila dikaitkan dengan teks eskhatologis lain yang secara eksplisit membicarakan tentang bangsa Israel, misalnya pertobatan bangsa Israel (Rom 11:26) atau kedatangan Tuhan Yesus di Bukit Zaitun (Kis 1:9-12).

Penyelidikan yang komprehensif dan lebih berhati-hati akan menunjukkan bahwa kesan sekilas ini perlu dipertanyakan. Semua teolog meyakini bahwa pernyataan Tuhan Yesus tentang pembinasa keji yang berdiri di tempat kudus (Mat 24:15) harus dipahami dalam konteks peperangan Yahudi tahun 60-an melawan tentara Romawi yang akhirnya menyebabkan kehancuran bait Allah tahun 70.[13] Hal ini sangat bisa dibenarkan karena di Matius 24:3-4 Yesus dan murid-murid memahami kehancuran bait Allah dan kesudahan dunia dalam kaitan yang erat. Bagi gereja mula-mula zaman akhir memang sudah dimulai pada waktu kedatangan Tuhan Yesus yang pertama (1Kor 10:11; Ibr 1:2; 9:26; 1Pet 1:20; bdk. Kis 2:16-17).

Sehubungan dengan “duduk di bait Allah” (2Tes 2:4) atau “tanah/gunung Permai” (Dan 11:41, 45), dua teks ini perlu dipahami sesuai dengan jenis literatur (genre) yang digunakan, yaitu apokaliptis.[14] Sebagai tulisan apokaliptis bagian ini harus ditafsirkan secara simbolis.[15] Pembacaan sekilas pun sebenarnya sudah cukup untuk menangkap prinsip ini. Seandainya seluruh bagian ditafsirkan secara hurufiah, maka bagian lain akan sulit dipahami, misalnya “Tuhan Yesus akan membunuhnya dengan nafas mulut-Nya” (2Tes 2:8). Apakah hal ini secara hurufiah akan terjadi ataukah hanya simbol bahwa kekuatan manusia durhaka (antikristus) sangat tidak sebanding dengan kuasa Tuhan Yesus?

Penggunaan rujukan tentang bait Allah di 2 Tesalonika 2:4 sebaiknya dipahami sebagai simbol dari perlawanan terhadap otoritas Allah yang benar[16] atau ia sedang menganggap dirinya sebaga Allah.[17] Konteks pun mendukung hal ini. Manusia durhaka tidak hanya menentang Allah yang benar, tetapi juga semua ibadah kepada allah (2Tes 2:4), karena ia sendiri akan menjadikan dirinya sebagai allah. Karena berkaitan dengan ibadah, maka sangat wajar apabila perlawanan manusia durhaka ini disimbolkan dengan penguasaan atas tempat ibadah (bait Allah).

Tentang pertobatan semua bangsa Israel (Rom 11:26) di akhir zaman, isu ini terlalu kompleks untuk dibahas secara sekilas saja. Bagaimanapun, poin penting yang perlu ditegaskan di sini adalah konsep Paulus tentang “Israel”. Bagi Paulus, istilah “Israel” tidak berarti secara biologis/etnis, tetapi pilihan.[18] Ketika ia mengatakan “semua Israel”, ia hanya memaksudkan orang-orang Israel secara etnis yang dipilih oleh Tuhan untuk diselamatkan. Hal ini tampak dari pembahasannya sebelumnya bahwa “tidak semua yang terhitung keturunan Abraham adalah anak Abraham” (Rom 9:7). Di bagian selanjutnya (Rom 9:8-13) ia memaparkan bahwa keturunan Israel sejati adalah berdasarkan pilihan, misalnya Ishak (bukan Ismael atau anak-anak lain dari Kethura) dan Yakub (bukan Esau). Hal ini konsisten dengan ajaran Paulus di tempat lain bahwa orang-orang percaya, entah itu dari bangsa Yahudi maupun tidak, adalah Israel sejati (Flp 3:3; Gal 6:16).

Seandainya pun istilah “Israel” di sini ditafsirkan secara biologis atau etnis, hal itu tetap tidak mengajarkan bahwa semua orang Yahudi tanpa terkecuali akan diselamatkan. Kata Yunani yang dipakai adalah “semua”, bukan “setiap”. Penggunaan ini menyiratkan makna koorperasi.[19] Dengan kata lain, Paulus sedang memikirkan sekelompok orang Yahudi sebagai perwakilan dari bangsa Yahudi secara keseluruhan.

Sekarang tentang kedatangan Tuhan Yesus kembali di Bukit Zaitun. Apakah Kisah Rasul 1:11 mengajarkan bahwa Tuhan Yesus akan datang kembali di Bukit Zaitun? Tidak! Kesamaan antara kenaikan Tuhan Yesus ke sorga dan kedatangan-Nya kembali terletak pada dua hal: pribadi Yesus (“Yesus ini”) dan cara penampakan (“dengan cara yang sama”). Bagian Alkitab yang lain pun tidak pernah menyinggung tentang tempat kedatangan Tuhan Yesus. Secara konsisten para penulis Alkitab memfokuskan pada sifat kedatangan Kristus kedua kali yang tiba-tiba (Mat 24:44; 2Pet 3:10), secara pribadi (Yoh 14:3; 1Tes 4:16), terlihat secara kasad mata (Why 1:7), dan dalam tubuh kemuliaan (Kis 1:11).[20]

Kesalahan umum terakhir yang perlu dicermati adalah penafsiran hurufiah terhadap Wahyu 13. Metode penafsiran yang mengabaikan hakekat Kitab Wahyu sebagai tulisan apokaliptis ini (bdk. Why 1:1) telah membawa pada kesalahan fatal yang sebenarnya bisa dihindarkan. Salah satu kesalahan populer yang pernah mengguncangkan banyak orang Kristen adalah tuduhan bahwa penggunaan barcode dalam dunia bisnis perdagangan barang-barang tertentu merupakan propaganda antikristus, karena “rahasia” di dalam barcode menunjuk pada angka 666. Tuduhan ini paling sering dikaitkan dengan tulisan Mary Stewart Relfe yang berjudul New Money System.[21] Seiring dengan popularitas buku ini, tulisan-tulisan sejenis yang meyakini keberadaan kode rahasia 666 di balik barcode terus bermunculan.[22] Beberapa bahkan berspekulasi bahwa barcode tertentu dengan menggunakan tehnik infra merah akan dituliskan di dahi dan tangan setiap orang yang menyembah antikristus. Tanpa tanda ini tidak ada seorang pun yang bisa menjual atau membeli apapun (Why 13:16-18).

Tuduhan tanpa dasar ini jelas tidak memiliki bukti apa pun. Para praktisi teknologi industri dengan mudah menunjukkan kesalahan di balik pandangan ini. Inti persoalan yang lebih serius sebenarnya bukan terletak pada ketidakpahaman mereka terhadap teknologi, namun – yang lebih penting – ketidaktahuan mereka tentang cara menafsirkan Kitab Wahyu. Mereka menganggap bahwa tanda pada dahi harus dipahami secara hurufiah, begitu pula dengan angka 666. Cara penafsiran semacam ini jelas tidak dapat dibenarkan. Tanda di dahi juga dimeteraikan Allah di dahi orang percaya (Why 7:3; 14:1). Jika tanda pada umat Allah tidak terlihat (dan juga tidak bisa dideteksi secara teknologi), demikian juga tanda di dahi para pengikut antikristus.[23]

[1] Kaisar Romawi yang sering dianggap sebagai penggenapan antikristus adalah Nero. Hal ini – selain dihubungkan dengan kekejaman Nero atas orang-orang Kristen – terutama berkaitan dengan tafsiran bahwa angka 666 (Why 13:18) merujuk pada Nero. Banyak penafsir modern menganggap teori ini sebagai opsi terbaik dalam memahami makna simbolis 666. Lihat Grant R. Osborne, Revelation, BECNT (Grand Rapids, Mich.: Baker Academic, 2002), 521; David E. Aune, Revelation 6-16, Word Biblical Commentary Vol. 52B, electronic ed., Logos Library System (Dallas: Word, Incorporated, 1998), 770.

[2] Salah satu judul buku yang paling eksplisit dan provokatif tentang pengidentifikasian paus sebagai antikristus ditulis oleh tokoh Kristen Protestan terkenal di Eropa bernama Rev. J. A. Wylie, The Papacy Is the Antichrist. A Demonstration (Edinburgh: George M’Gibbon, 1888). Anggapan bahwa paus adalah antikristus memang populer sejak zaman Martin Luther (abad ke-16), bahkan beberapa tokoh yang disebut “para pendahulu reformasi” (John Wycliffe, John Hus) juga sudah lebih dahulu mengadopsi pandangan ini. Begitu populernya pandangan ini sampai-sampai para tokoh yang berbeda prinsip hermeneutik maupun posisi teologi pun memegang pandangan yang sama. Stephen J. Nichols menulis, “Such different eschatologies, nonetheless, yield a rather surprising connection. All of these, as well as a host of others, identify the Pope as the antichrist. Not only is this commonality strange given the different theological perspectives and hermeneutics of these figures, it also confounds understanding given the distance – chronological, geographical, and sociological – between them.” “Prophecy Makes Strange Bedfellows: On the History of Identifying the Antichrist,” JETS 44/1 (March 2001) : 75

[3] Untuk identifikasi antikristus pada masa awal koloni Amerika sampai modern, lihat Robert Fuller, Naming the Antichrist: the History of an American Obsession (Oxford, USA: Oxford University Press, 1996).

[4] E. Kauder, “Antichrist,” NIDNTT Volume 1, ed. by Colin Brown (Exeter: The Paternoster Press, 1980), 124.

[5] Nichols, “Prophecy Makes Strange Bedfellow”, 76.

[6] Anthony Hoekema, The Bible and the Future (Grand Rapids: Eerdmans, 1979), 158. Ia menerangkan, “the words’ as you have heard that antichrist is coming’ indicate that John did indeed, along with the early Christian church, expect a personal antichrist at the end of the age. He would probably have been familiar with Paul’s teaching about ‘the man of lawlessness’ found in II Thessalonians 2, which had been written much earlier. He would also have familiar with the teachings  about this future opponent of God and Christ found in Daniel and in the words of Christ himself. It is therefore not correct to give impression that John does not look for a future antichrist in this sense”.

[7] Kata “akan datang” (erchetai) dalam teks ini berbentuk present tense, tetapi mayoritas penerjemah dengan tepat memahami hal ini sebagai bentu kekinian yang segera akan terjadi (RSV/NRSV/NIV/NASB/ESV “is coming”, KJV “shall come”). Penggunaan tense present seperti ini dalam tata bahasa Yunani disebut “futuristic present”. Lihat Daniel B. Wallace, Greek Grammar Beyond the Basics (Grand Rapids: Zondervan, 1996), 535-537.

[8] Simon J. Kistemaker memberikan pandangan yang bijak dalam hal ini. Ia menulis, “But John is not interested in identifying a particular individual. He points to a principle…John…in his epistles, stresses the principle instead of the person of the antichrist. By saying that the antichrist is coming, he indicates that the future antichrist will be individual who personifies this principle.” James, Epistles of John, Peter, and Jude, NTC (Grand Rapids: Baker Books, 1996), 276.

[9] Bagian ini dikembangkan dari Colin G. Kruse, The Letters of John, PNTC (Grand Rapids, Mich.; Leicester, England: W.B. Eerdmans Pub.; Apollos, 2000), 100..

[10] Andrew E. Steinmann, “Is the Antichrist in Daniel 11?,” BibSac 162 (April-June 2005) : 201.

[11] Gleason L. Archer, A Survey of Old Testament Introduction (rev & enl. ed., Chicago: Moody Press, 1994), 439.

[12] The Bible and the Future, 162.

[13] Terlepas dari perdebatan tentang peristiwa historis tertentu apa yang ada dalam pikiran Tuhan Yesus ketika menyatakan hal ini, semua teolog meyakini bahwa keterangan ini sudah digenapi pada abad ke-1. Lihat variasi usulan para teolog di R. T. France, The Gospel According to Matthew, NICNT (Grand Rapids: Eerdmans, 2007), 913.

[14] Tulisan apokaliptis bukanlah barang baru bagi orang-orang Yahudi. Mereka sudah mengenal beragam tulisan apokaliptis yang memiliki ciri-ciri: (1) gaya bahasa simbolis; (2) fokus pada zaman akhir; (3) mediasi wahyu melalui malaikat, Roh, atau penglihatan; (4) dualistik (zaman kekafiran akan diakhiri dengan penghakiman ilahi; (5) berkaitan dengan penderitaan zaman ini. D. S. Russell, The Method & Message of Jewish Apocalyptic: 200 BC – AD 100 (Philadelphia: The Westminster Press, 1964), 104-139

[15] Untuk prinsip penafsiran tulisan apokaliptis, lihat Grant R. Osborn, The Hermeneutical Spiral: A Comprehensive Introduction to Biblical Interpretation (rev. & exp. ed., Downers Grove:IVPAcademic, 2006), 275-290.

[16] F. F. Bruce, 1 and 2 Thessalonians, WBC Vol. 45, electronic ed., Logos Library System; Word Biblical Commentary (Dallas: Word, Incorporated, 1998), 169.

[17] Gene L. Green, The Letters to the Thessalonians, PNTC (Grand Rapids, Mich.; Leicester, England: W.B. Eerdmans Pub.; Apollos, 2002), 311

[18] Lihat pembahasan yang cukup komprehensif di Hoekema, The Bible and the Future, 139-147.

[19] Douglas J. Moo, The Epistle to the Romans, NICNT (Grand Rapids: Eerdmans, 1996),722-723; Leon Morris memberikan contoh dalam tulisan Yahudi kuno bahwa istilah “semua Israel” tidak berarti  “setiap orang Israel tanpa terkecuali”. Dalam Mishnah dipakai ungkapan “semua Israel akan mewarisi dunia yang akan datang” (Sanh. 10:1), padahal di bagian selanjutnya kitab yang sama memberikan daftar orang-orang Israel yang tidak akan mewarisi dunia yang akan datang tersebut. The Epistle to the Romans, PNTC (Leicester/Grand Rapids: Apollos/Eerdmans, 1988), 420-421.

[20] Sifat kedatangan Tuhan ini diadopsi dari pembahasan Wayne Grudem, Systematic Theology: An Introduction to the Biblical Doctrine (Nottingham: InterVarsityPress, 1994), 1092. Untuk pembahasan yang sedikit lebih komprehensif, lihat Millard J. Erickson, Christian Theoogy (2nd ed., Grand Rapids: Baker Books, 1998), 1194-1197.

[21] (Montgomery, Alabama: League of Prayer, 1982).

[22] Terry Cook, The Mark of the New World Order (Pennsylvania: Whitaker House, 1996); Bob Fraley, The Last Days in America (Phoenix: Christian Life Services, 1984).

[23] Simon J. Kistemaker, Tafsiran Kitab Wahyu, diterjemahkan oleh Peter Suwadi Wong dan Bayu Widjotomo (Surabaya: Momentum, 2001), 423.

Leave a Reply