Ateism Needs More Faith

Yakub Tri Handoko, Th.M.

Keberadaan (atau ketidakberadaan) Allah sudah menjadi isu sejak dahulu. Para filsuf Yunani kuno menjadikan isu sebagai salah satu fokus pembahasan yang selalu menarik. Alkitab pun tidak lupa mencatat keberadaan orang-orang ateis (Mzm 14:1; 53:2), walaupun penolakan ini lebih banyak didorong oleh aspek pragmatis. Mereka mempertanyakan keberadaan dan pengetahuan Allah ketika perbuatan mereka yang fasik ternyata tidak diganjar dengan hukuman (Mal 2:17; 3:13-15). Beberapa orang saleh pun pernah bergumul dengan pertanyaan yang sama (Mzm 73; Hab 1:2-4). Persoalan ini tampaknya akan terus ada. Pendeknya, “There is no issue that provokes more controversy than the question of whether or not there is a God.”[1]

Dalam pembahasan modern tentang keberadaan Allah muncul kecenderungan untuk menganggap ateisme sebagai ideologi yang sangat rasional dan objektif. Mereka yang percaya kepada Allah (teis) diperlakukan sebagai golongan yang memiliki fanatisme berlebihan, iman yang buta dan tidak rasional. Roger E. Dickson dengan tepat mengekspresikan hal ini, “In the atheist’s fruitless struggle to disprove Christianity, accusations have been made that the Christian’s system rests entirely upon faith and that the atheist’s position rests entirely upon reason”.[2] Richard Dawkin, salah satu dari kelompok ateis modern terkemuka, dengan tajam mengatakan bahwa kekristenan adalah “a persistently false belief held in the face of strong contradictory evidence”.[3]

Situasi seperti ini merupakan warisan buruk dari kaum intelektual sejak jaman Pencerahan (Enlightenment). Clark mencatat:

Among intellectuals, belief in God has suffered since the 18th-century Enlightenment. The Enlightenment charged to dispel superstition and credulity by right reason has led some to contend that religious belief has reached its demise. The heroes of the Enlightenment were vigorous and intellectually potent critics of the rationality of religious belief. This pantheon included such notables as David Hume, Voltaire, Rouuseau; and the towering  Immanuel Kant.[4]

Sampai sekarang paradigma di atas tetap masih dapat dijumpai dengan mudah. Ini pula yang menjadi salah satu problem mengapa orang tidak tertarik dengan kekristenan. Situasi ini dengan tepat disiratkan dalam judul buku Intellectuals Don’t Need God & Other Modern Myths karangan Alister McGrath. Dalam buku ini halangan rasional diletakkan sebagai faktor pertama di antara delapan faktor yang membuat orang terhalang menjadi orang Kristen.[5]

Del Ratzsch dengan gamblang memaparkan empat keberatan utama yang seringkali ditujukan terhadap keyakinan relijius.[6]

  1. Keyakinan relijius tidak ilmiah dan harus dicurigai sebagai sebuah kesalahan.
  2. Keyakinan relijius tidak dapat dibuktikan, karena itu tidak rasional.
  3. Tidak seperti sains yang didukung oleh semua bukti yang diperlukan, keyakinan relijius tidak memiliki bukti apapun.
  4. Keyakinan relijius tidak diperlukan lagi karena banyak pertanyaan sudah berhasil dijawab dengan baik oleh sains.

Di sini lain, para apologet Kristen juga memandang sains sebagai sebuah paham yang tidak rasional. Keberatan dari pihak ateis terhadap rasionalitas teisme (teisme adalah tidak rasional) juga dapat diaplikasikan pada ateisme. McGrath menulis, “most unbelieving scientists of my acquaintance are atheists on grounds other than their science; they bring those assumptions to their science  rather than basing them on their science”.[7] Dickson menulis, “without doubt, it takes a greater faith to be an atheist than to be a Christian… Atheism is more of a system of faith than Christianity. And it is more difficult to have his faith because it is not a faith based on evidence. It is based only on denials”.[8]

Manakah yang benar di antara dua opini di atas? Apakah ateisme lebih rasional daripada teisme atau sebaliknya? Apakah ada petunjuk yang memadai bagi keberadaan Allah?

Argumen kosmologis

Argumen ini sudah lama diusulkan oleh Thomas Aquinas, seorang teolog skolastik. Istilah “kosmologis” diambil dari bahasa Yunani “kosmos” yang berarti “dunia” atau “alam semesta”. Secara khusus istilah ini berkaitan dengan permulaan dunia.

Di balik argumen ini terdapat sebuah pertanyaan rumit (tetapi fundamental dan signifikan) tentang eksistensi. Pertanyaan di balik argumen ini adalah “mengapa ada sesuatu daripada tidak ada?” (why is there something rather than nothing?). Kaum teis mengusulkan prinsip alasan yang cukup (principle of sufficient reason). Artinya, untuk setiap fakta atau kebenaran pasti ada penyebab atau alasan yang cukup bagi keberadaan maupun kebenaran tersebut.[9]

Secara lebih praktis, argumen ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Segala sesuatu yang memiliki permulaan berarti memiliki penyebab.
  2. Alam semesta memiliki permulaan.
  3. Karena itu alam semesta memiliki penyebab.

Para ilmuwan kini semakin menyadari bahwa alam semesta pasti memiliki sebuah permulaan. Pertama, hukum termodinamika ke-2.[10] Dalam hukum ini dijelaskan bahwa alam semesta mengalami kehilangan energi yang digunakan. Keadaan ini dipercaya suatu waktu nanti akan menyebabkan alam semesta musnah. Jika digabungkan dengan hukum ternodinamika ke-1 yang menandaskan bahwa jumlah energi total di alam semesta adalah konstan, maka kita menemukan petunjuk untuk mempercayai permulaan alam semesta. Alam semesta memiliki energi yang terbatas; jika terus digunakan maka energi itu akan habis. Jika alam semesta masih ada sampai sekarang, maka alam semesta pasti memiliki titik permulaan tertentu. Jika alam semesta adalah kekal, maka alam semesta sudah musnah sejak dahulu. Keadaan ini sama seperti mobil yang memiliki bahan bakar terbatas pada tankinya. Jika mobil itu dikendarai terus-menerus sejak lama, maka bahan bakar itu pasti sudah habis sejak dulu. Jika sampai sekarang bahan bakar itu masih tersisa sebagian, maka mobil itu pasti baru dikendarai beberapa saat (pengisian bahan bakar terjadi tidak lama).

Kedua, Teori Ledakan Besar (Big Bang Theory).[11] Teori ini diusulkan para ilmuwan sebagai salah satu upaya untuk menjelaskan asal-usul dunia yang pasti memiliki sebuah permulaan. Fakta bahwa alam semesta terus membesar dalam ukuran yang tetap ke segala arah menunjukkan bahwa ada titik awal perkembangan. Jika alam semesta ini kekal, maka sampai sekarang perkembangannya pasti sudah mencapai titik akhir. Walaupun Teori Ledakan Besar tidak memberi solusi tuntas dan memuaskan, tetapi bagaimanapun teori ini tetap menunjukkan bahwa ilmuwan mempercayai permulaan alam semesta. Dengan kata lain, para ilmuwan menyakini bahwa sebelum terjadi ledakan besar itu tidak ada materi, waktu dan ruang.

Jika alam semesta memang memiliki permulaan, maka alam semesta pasti memiliki penyebab. Apa atau siapakah penyebab ini? Golongan ateis dan teis memberikan penjelasan yang berbeda. Kaum ateis hanya puas pada satu titik bahwa alam semesta dimulai dari sebuah ledakan besar. Kaum teis melangkah lebih jauh untuk menjelaskan fenomena ini[12] dan menemukan sesuatu yang supernatural di baliknya. Secara logis dan ilmiah kita dapat mengatakan bahwa ledakan itu tidak mungkin merupakan peristiwa alamiah, karena “there was no natural world or natural law prior to the Big Bang”.[13] Lebih jauh, bagaimana sebuah ledakan bisa menghasilkan keteraturan kecuali jika ada kekuatan supernatural yang menyebabkan dan mengontrol setiap detil dari ledakan itu? Akhirnya, kita harus mengatakan bahwa sesuatu yang tidak berpribadi (impersonal) tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang berpribadi (personal). Keberadaan manusia yang personal lebih masuk akal jika dihasilkan dari suatu keberadaan yang personal juga.

Sebagian orang berusaha membantah argumen di atas dengan menerapkan argumen kosmologis pada diri Allah; Jika segala sesuatu ada penyebabnya, mengapa Allah tidak disebabkan oleh yang lain? Jawaban terhadap pertanyaan ini ada dua. Pertama, hukum ini hanya berlaku bagi sesuatu yang memiliki permulaan.[14] Karena “Allah” diasumsikan sebagai suatu keberadaan yang ada dengan sendirinya (aseity),[15] maka Allah tidak dapat dibatasi oleh hukum sebab-akibat ini. Kedua, jika diterapkan pada Allah maka akan terjadi pemunduran yang tidak terbatas (infinite regression).[16] Jika ini diteruskan, maka sama saja dengan kita menolak hukum sebab-akibat. Rasio manusia akan membawa pada satu titik permulaan yang tidak disebabkan oleh yang lain. Semua ilmuwan sebenarnya menerima hal ini, hanya saja mereka tidak mau mengakui Allah sebagai titik awal yang menyebabkan semuanya.

Argumen teleologis

Istilah ini diambil dari bahasa Yunani “telos” yang berarti “tujuan”. Dalam apologetika istilah ini dipakai untuk argumen yang didasarkan pada fakta bahwa alam semesta memiliki sebuah rancangan yang teratur, dengan demikian menyiratkan adanya tujuan tertentu di balik semua fenomena itu.

Prinsip dari argumen ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

  1. Setiap rancangan pasti memiliki perancang.
  2. Alam semesta menunjukkan rancangan yang luar biasa.
  3. Karena itu alam semesta pasti memiliki Perancang.

Penyelidikan ilmiah semakin menguatkan suatu fakta bahwa alam semesta ini berada dalam keteraturan yang luar biasa. Jika keteraturan ini berubah sedikit saja, maka akan mengakibatkan kehancuran yang tidak terbayangkan. Berikut ini adalah beberapa saja dari fakta menarik tentang keteraturan bumi dan alam semesta.[17]

  1. Jumlah oksigen di bumi mencapai 21% dari atmosfir. Jika jumlah oksigen mencapai 25% maka akan terjadi kebakaran secara spontan di mana-mana. Jika jumlahnya 15% maka semua akan mati keracunan. Hal yang sama berlaku untuk unsur yang lain, misalnya CO2, nitrogen dan ozon.
  2. Ketebalan atmosfir. Jika lebih tebal dari sekarang maka sinar matahari yang sangat penting untuk kehidupan akan sulit menenbus bumi. Jika lebih tipis maka radiasi sinar matahari akan menyebabkan kekeringan yang ekstrim dan tidak tertahankan.
  3. Interaksi gravitasi antara bumi dan bulan. Jika interaksi ini semakin kuat atau lemah dari sekarang, maka akan terjadi iklim yang tidak stabil secara ekstrim sehingga kehidupan di dunia menjadi mustahil.
  4. Gravitasi ideal dan konstan antar anggota tata surya. Sebagai contoh, jika gravitasi bumi berubah 0,00000000000000000000000000000000000001% saja, maka matahari tidak akan ada lagi dan beberapa planet akan saling bertabrakan.
  5. Jika kekuatan sentrifugal planet-planet tidak seimbang dengan gaya gravitasi maka tidak akan ada yang disebut orbit. Semua akan statis atau bertabrakan.
  6. Jika planet Yupiter tidak tetap pada orbitnya, maka planet bumi akan dibombordir dengan banyak meteor, komet dan asteroid. Yupiter selama ini berfungsi seperti vacuum cleaner yang menyedot semua itu dengan gaya gravitasinya yang besar.

Semua ilmuwan yang rasional pasti akan menerima keteraturan alam semesta. William A. Dembski mengatakan, “many scientists are design theorists already, albeit in naturalistic clothing”.[18] Bahkan Richard Dawkin pun mengakui keteraturan ini dalam dunia biologi.[19] Hanya saja mereka memberikan penjelasan yang berbeda untuk hal ini.[20] Kita hanya akan menyinggung beberapa sanggahan umum yang dimunculkan ateis. Ilmuwan yang ateis memakai Teori Alam Semesta yang Jamak (Multiple Universe Theory): dahulu kala ada banyak alam semesta, manusia termasuk beruntung karena secara kebetulan bisa ada di sebuah alam semesta yang teratur.

Kelemahan dari penjelasan tersebut sangat banyak. Para ilmuwan tidak memiliki bukti ilmiah apapun tentang keberadaan alam semesta yang banyak. Apa yang dianggap mereka mungkin (possible) ternyata tidak aktual (actual). Kemungkinan yang ada adalah sangat kecil sekali, sehingga layak disebut sebagai kemustahilan. Jika kita melihat sebuah jam tangan, apakah mungkin jam itu berasal dari sebuah proses alamiah yang kebetulan? Dari sisi kemungkinan kita harus menjawab “mungkin”, tetapi dari sisi aktualitas kita pasti akan menganggap ini sebagai kemustahilan. Jika jam tangan yang tidak seberapa kompleks saja membutuhkan perancang yang intelijen, apalagi system alam semesta yang sedemikian luar biasa!

Argumen teleologis juga dapat diterapkan pada system tubuh manusia yang begitu kompleks dan detil, namun tetap teratur. Perkembangan biologi yang begitu pesat semakin menyingkapkan kemustahilan Teori Evolusi. Kehidupan yang sedemikian kompleks mustahil berasal dari sebuah proses alamiah yang acak dan tidak berpribadi.[21]

Bantahan paling serius terhadap argumen teleologis mungkin dimunculkan oleh David Hume. Walaupun ia mengakui keteraturan dalam alam semesta, ia menganggap bahwa keteraturan itu tidak selalu mengarah pada Allah. Berikut ini adalah ringkasan dari pandangan Hume:[22]

  1. Tidak ada alasan yang kuat untuk mengatakan bahwa penyebab dari sesuatu yang terbatas haruslah sesuatu yang tidak terbatas.
  2. Karena ada beberapa ketidakteraturan dan ketidaksempurnaan dalam alam (penderitaan, bencana, dsb.), maka tidak ada alasan bahwa perancang alam semesta adalah suatu keberadaan yang sempurna.
  3. Bahkan jika alam ini sempurna, hal itu tetap tidak membuktikan bahwa perancangnya adalah sempurna, sebab dalam kehidupan sehari-hari kita kadangkala menemukan sebuah karya yang sempurna yang dikerjakan oleh orang yang tidak sempurna.
  4. Tidak ada alasan bahwa perancang alam semesta hanyalah satu. Ada kemungkinan beberapa keberadaan yang terbatas bergabung membentuk sebuah rancangan yang indah.
  5. Jika keteraturan alam dianggap merefleksikan Allah, maka tidak ada alasan untuk mencegah anthropomorfit yang mutlak. Maksudnya, manusia bisa saja membuat gambaran tertentu tentang “Allah” berdasarkan apa yang dilihat di alam.

Kita harus mengakui adanya kebenaran dalam pandangan Hume di atas. Bagaimanapun, argumen teleologis tidak boleh dilihat secara terpisah, melainkan secara kumulatif. Artinya, kita perlu membandingkan semua pandangan yang bertentangan untuk melihat pandangan mana yang mampu memberikan penjelasan yang paling konsisten dan komprehensif. Berikut ini adalah respon terhadap bantahan Hume.

  1. Dugaan bahwa sesuatu yang terbatas berasal dari yang tidak terbatas secara rasional tetap lebih masuk akal daripada penyebab yang terbatas, walaupun pandangan Hume juga tetap memiliki probabilitas. Lebih jauh, alam semesta juga terdiri dari komponen personal (manusia). Kenyataan sehari-hari menunjukkan bahwa tidak ada suatu yang impersonal dapat menghasilkan sesuatu yang personal.
  2. Wawasan dunia Kristiani memberikan jawaban yang konsisten dan harmonis berkaitan dengan poin ini. Allah sebagai Pencipta tetap sempurna; ketidaksempurnaan berasal dari keberdosaan manusia.
  3. Sesuatu yang sempurna memang bisa dihasilkan oleh sesuatu yang tidak sempurna, tetapi lebih masuk akal kalau bersal dari yang sempurna juga.
  4. Pendapat Hume memang bisa benar, tetapi penjelasan teisme jauh lebih sederhana (satu Allah yang berpribadi dan berhikmat menciptakan dunia yang begitu teratur) daripada mengasumsikan suatu proses kebetulan yang kompleks.
  5. Argumen teleologis memang tidak memberikan analogi sempurna maupun membuktikan keberadaan Allah secara konklusif. Apa yang ada di alam belum tentu merefleksikan hakekat Allah. Bagaimanapun, hal ini juga tidak berarti bahwa keberadaan Allah tidak dapat diasumsikan dari karya-Nya.

Argumen Hukum Moral

Argumen ini berusaha membuktikan adanya hukum moral yang dimiliki oleh semua manusia. Dengan kata lain, semua manusia memiliki kesan fundamental tentang benar dan salah. Selanjutnya argumen ini akan menunjukkan bahwa hukum ini tidak mungkin diciptakan oleh manusia. Asal dari hukum ini harus dicari di luar diri manusia.

Terlepas dari sikap beberapa orang yang berusaha melawan dan mengaburkan hukum moral yang mutlak ini, kita masih dapat memenukan jejak dari kebenaran itu. Semua manusia pasti akan setuju bahwa membunuh orang yang tidak bersalah adalah salah.[23] Kita akan setuju bahwa membantu orang yang layak dibantu adalah perbuatan yang baik.

Bukti lain adalah keberadaan dari hak, terutama hak asasi. Ketika seseorang mengakui bahwa ia memiliki hak, maka hal itu berarti bahwa ia menganggap perampasan terhadap hak itu sebagai sesuatu yang salah. Dengan demikian ia telah menyiratkan keyakinan terhadap keberadaan hukum moral tertentu, paling tidak hukum untuk tidak mengambil hak orang lain.

Menariknya, kita sendiri tidak bisa menjelaskan mengapa kita memiliki standar kebenaran seperti itu. Kita pasti tidak mendapatkan itu melalui observasi indera (kita tidak bisa melihat atau mengecap hukum moral itu). Kita bukanlah pembuat standar itu (kenyataannya, semua hukum manusia justru didasarkan pada hukum moral ini).

Dalam kultur postmodern hukum moral ini berusaha untuk disangkal. Moralitas dianggap sebagai preferensi pribadi, tergantung selera masing-masing. Tidak ada moralitas yang absolut.

Konsep moralitas relatif ini mengandung banyak kelemahan. Relativisme sendiri seringkali tanpa disadari telah dijadikan absolutisme oleh orang-orang postmodern ketika mereka meyakini dengan pasti (absolut) bahwa relativisme pasti benar. Kelemahan lain adalah inkonsistensi hidup yang dijalani oleh penganut moralitas relatif. Jika tidak ada moralitas absolut, maka setiap orang bisa melakukan apapun terhadap siapapun dengan alasan apapun. Cara paling mudah untuk menunjukkan kesalahan penganut moralitas relatif dengan melakukan ketidakadilan kepada mereka. Mereka pasti akan protes, “itu tidak adil”. Jika mereka bisa membedakan antara adil dan tidak adil, naka itu berarti bahwa mereka mengakui suatu standar tertentu. Inti persoalan sebenarnya bukan terletak pada ada atau tidaknya standar moral absolut, tetapi penyangkalan kaum ateis bahwa Allah adalah sumber dari standar moral tersebut.

Dalam sebuah perdebatan dengan Anthony Flew, William Craig memberi penjelasan yang bermanfaat untuk menghindari kesalahpahaman tentang argumen hukum moral.

But we’ve got to be very careful here. The question here is not: ‘Must we believe in God in order to live moral live?’. I’m not claiming that we must. Nor is it the question ‘Can we recognize objective moral values without believing in God?’. I think that we can. Rather, the question is: ‘If God does not exist, do objective moral values exist?’[24]

Salah satu contoh konkrit betapa argumen ini sangat persuasive adalah pertobatan C. S. Lewis.[25] Dia dahulu adalah seorang ateis yang menolak keberadaan Allah atas dasar keberadaan ketidakadilan di dunia ini. Dia berpendapat bahwa keberadaan kejahatan dan dosa di dunia tidak sesuai dengan konsep tentang Pencipta yang mahakuasa dan baik. Akhirnya ia justru mempercayai teisme karena ia menyadari bahwa untuk mengatakan bahwa sesuatu adalah jahat atau tidak adil, maka diperlukan suatu standar tentang apa yang baik dan adil. Lebih jauh, tingkatan tentang kebaikan juga mengarah pada kesimpulan bahwa ada standar kebenaran yang mutlak dan sempurna. Karena standar ini tidak berasal dari dalam diri manusia, maka kita harus menemukan sumbernya di tempat lain. Golongan teis mempercayai bahwa standar mutlak yang sempurna ini adalah diri Allah sendiri (Mat 5:48; 1Pet 1:16).

Argumen dari kebangkitan Yesus

Para apologet Kristen dari aliran evidensialis biasanya memakai kebangkitan Yesus sebagai titik tolak pertama dalam membuktikan keberadaan Allah. Para apologet dari aliran klasik juga memakai pendekatan ini, tetapi argumen ini baru dipakai sesudah mereka memberikan argumen bagi keberadaan Allah dari wahyu umum.[26] Baik kaum evidensialis maupun klasik menandaskan bahwa jika kebangkitan Yesus adalah sebuah fakta, maka kita mendapatkan argumen lain yang mendukung keberadaan Allah. Argumen ini tetap berlaku, terlepas dari apakah Yesus bangkit dengan kuasa-Nya sendiri (Yoh 2:19; 10:17-18) atau dibangkitkan oleh Allah (Kis 2:32; Rom 1:4).

Salah satu cara menarik dan efektif untuk membuktikan kebangkitan Yesus adalah memulai dengan fakta tentang kubur kosong.[27] Fakta ini diakui oleh semua pihak, karena jika mayat Yesus masih ada di kubur maka musuhnya dengan mudah dan telak akan menunjukkan kesalahan murid-murid Yesus yang mempercayai kebangkitan. Inti persoalan terletak pada bagaimana kita memberi penjelasan yang paling masuk akal tentang fakta tersebut. Beberapa penjelasan sudah coba diusulkan, misalnya mayat Yesus dicuri (Mat 28:11-15), Yesus hanya pingsan ketika disalib sehingga Ia bisa keluar dari kubur seorang diri, yang disalib bukanlah Yesus, mayat Yesus dimakan anjing liar. Semua penjelasan ini membuktikan “iman” yang lebih besar daripada untuk mempercayai kebangkitan Yesus secara supernatural, seperti dikatakan: “the theories attempting to give an alternative explanation to the resurrection take more faith to believe than the resurrection itself”.[28]

Di sisi lain, ada beberapa argumen yang mendorong kita untuk mempercayai kebangkitan. Pertama, perubahan hidup murid-murid yang berani mengorbankan diri demi berita kebangkitan. Jika berita kebangkitan itu adalah sebuah kebohongan yang diciptakan oleh para murid, maka mereka adalah orang-orang paling bodoh yang mau mati demi sebuah kebohongan tanpa mereka mendapatkan apapun yang positif dari tindakan itu. Kedua, kisah kebangkitan versi murid-murid sangat berbeda dengan konsep kebangkitan di akhir jaman yang dipegang oleh orang Yahudi (bdk. Yoh 11:24). Murid-murid pasti memiliki alasan yang sangat kuat dan radikal untuk mempopulerkan (dan berani mempertaruhkan nyawa) suatu konsep yang mereka tahu sangat berbeda dengan konsep semua orang Yahudi waktu itu.

Argumen pengalaman langsung dengan Allah

Argumen ini seringkali diabaikan dalam diskusi tentang keberadaan Allah. Argumen ini dianggap terlalu subjektif. Sikap seperti ini tidak dapat dibenarkan. Walaupun hal ini bukanlah bukti bagi keberadaan Allah, namun argumen ini berusaha memberikan wacana bahwa kita bisa mengenal Allah tanpa harus melalui berbagai argumen rasional yang telah disinggung sebelumnya.[29]

Pengalaman pribadi seseorang dengan Allah tidak bisa disalahkan begitu saja. Hal ini konsisten dalam paradigma teisme. Jika Allah memang ada dan menciptakan manusia sebagai makhluk yang berpribadi dan sosial, maka Ia bisa saja menyatakan dirinya secara langsung dalam sebuah relasi dengan manusia. Konsep keagamaan yang ada dalam diri semua manusia – entah mereka akhirnya berakhir dengan konsep yang salah atau benar – lebih mengarahkan kita pada kerinduan universal yang berasal dari Allah. Lebih jauh, karena kaum teis meyakini pengalaman perjumpamaan ini, maka beban untuk membutkikan (burden of proof) terletak pada kaum ateis untuk membuktikan bahwa pengalaman seperti itu adalah salah.

Konklusi

Akhirnya kita hanya bisa mengakui bahwa mempercayai Allah bukan secara otomatis muncul dari penyelidikan rasional. Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa kita mengetahui dunia diciptakan oleh Allah melalui iman (Ibr 11:3). Keberadaan Allah pun lebih merupakan masalah iman daripada pergumulan rasional (Ibr 11:6). Bagaimanapun, kita tidak perlu merasa ‘kurang rasional’ ketika beriman, karena semua orang pada dasarnya hidup dengan ‘iman’ tertentu, entah ia memilih untuk beriman kepada Allah atau pada hal-hal alamiah. Stephen Evans menulis:

The fact that we are not completely rational in the adoption of our faith is not necessarily bad. Certainly it is not reasonable to claim that all of a person’s beliefs should be the product of some explicitly conscious logical process. Many of those human beliefs which might be termed “basic” or “foundational” seem to be beliefs which can’t be traced back to any such process.[30]

Walaupun kita tidak mungkin memberikan bukti yang konklusif dan tidak terbantahkan tentang keberadaan Allah, bukan berarti keberadaan Allah menjadi berkurang kepastiannya. Problem utama manusia bukanlah seberapa jumlah kebenaran yang mereka mampu dapatkan; Masalah mereka adalah justru “menindas kebenaran” (Rom 1:19-21). Apa yang seharusnya sudah jelas bagi mereka ternyata masih terus disangkal.

Bagaimanapun, secara rasional (secara khusus dari sisi konsistensi system pemikiran) wawasan dunia Kristiani lebih bias memberikan jawaban rasional dan konsisten bagi semua fenomena yang ada. Kita tidak mengatakan bahwa Alkitab menyediakan semua jawaban bagi semua kemungkinan pertanyaan manusia. Kita hanya menegaskan bahwa wawasan dunia teisme Kristiani paling bisa dihidupi. Sistem pemikiran ini mampu menjawab dengan lebih rasional tentang mengapa dunia dan kita ada di sini?, bagaimana kita dapat menentukan benar dan salah?, ke mana kita akan pergi setelah kita mati?, dsb.[31]

Mari kita renungkan kalimat berikut ini yang menunjukkan bahwa klaim ateisme merupakan sesuatu yang berlebihan (jika ia merupakan ateis murni): “For a person to be able to make this type of statement [bahwa Allah tidak ada] with authority, he would have to know the universe in its entirety and to possess all knowledge. If anyone had these credentials, then by definition he would be God”.[32] Tuhan memberkati kita. Soli Deo Gloria.

 

[1]R. C. Sproul, If There’s a God, Why Are There Atheists? : Why Atheists Believe in Unbelief, Revised edition of the book The Psychology of Atheism (Wheaton, IL: Tyndale House Publishers, 1978). Electronic edition.

[2] The Fall of Unbelief (Winona/Singapore/New Delhi: J. C. Choate Publications, 1982), 36.

[3] God Delusion (Boston: Houghton Mifflin, 2006), 5.

[4] Kelly James Clark, Return to Reason (Grand Rapids: Eerdmans, 1994 c1990), 3.

[5] (Grand Rapids: Zondervan Publishing House, 1993), 64-66.

[6] Philosophy of Science: The Natural Sciences in Christian Perspective (Downers Grove: InterVarsity Press, 1986), 107-114.

[7] Alister McGrath & Joanna Colicutt McGrath, The Dawkins Delusion? Atheist Fundamentalism and the Denial of the Divine (Downers Grove: IVP Books, 2007). 44.

[8] The Fall of Unbelief, 36.

[9] Clark, Return to Reason, 17-18.

[10] Norman Geisler and Frank Turek, I Don’t Have Enough Faith to be an Atheist (Wheaton: Crossway Books, 2004), 76-77.

[11] Geisler & Turek, I Don’t Have Enough Faith to be an Atheist, 79-83.

[12] Teori Ledakan Besar tidak harus dipahami sebagai musuh Alkitab, kecuali jika intervensi supernatural di dalamnya ditolak. Teori ini masih bisa bersanding harmonis dengan Kejadian 1:1, karena ayat ini tidak menjelaskan bagaimana proses detil Allah menciptakan alam semesta dari tidak ada menjadi ada (creatio ex nihilo). Beberapa apologet Kristen terkenal, misalnya William Craig, Geisler, Turek memakai pendekatan ini. Jika sebagian orang merasa tersandung dengan istilah “ledakan besar”, mereka bisa memahami ini sebagai “keberadaan alam semesta yang tiba-tiba”.

[13] Geisler & Turek, I Don’t Have Enough Faith to be an Atheist, 85.

[14] Ibid., 92-93.

[15] Asumsi ini sama-sama diakui oleh teis maupun ateis. Kaum ateis tidak menolak definisi “Allah” ini, tetapi mereka menolak eksistensi dari keberadaan yang seperti ini.

[16] Norman Geisler, Christian Apologetics (Grand Rapids: Baker, 1976), 245.

[17] Untuk contoh yang lebih banyak, lihat Geisler & Turek, I Don’t Have Enough Faith to be an Atheist, 98-106.

[18] “What Every Theologian Should Know About Creation, Evolution, and Design”, Unapologetic Apologetics, ed. by William A. Dembski & Jay Wesley Richards (Downers Grove: InterVarsityPress, 2001), 227.

[19] The Blind Watchmaker (New York: W.W. Norton, 1996), 2-3.

[20] Phillip E. Johnson, The Wedge of Truth: Splitting the Foundations of Naturalism (Downers Grove: InterVarsityPress, 2000), 125-142.

[21] Untuk sanggahan terbaik terhadap Teori Evolusi, lihat Phillip E. Johnson, Darwin on Trial (2nd ed;, Downers Grove: InterVarsityPress, 1993).

[22] Clark, Return to Reason, 31.

[23] Geisler and Turek, I Don’t Have Enough Faith to be an Atheist, 172.

[24] Stan W. Wallace, ed., Does God Exist?: The Craig-Flew Debate (Aldershot/Burlington: Ashgate Publishing, 2003), 22.

[25] Lihat C. S. Lewis, Mere Christianity (New York: Maximillan, 1952), 19.

[26] Untuk mengetahui berbagai aliran dalam apologetiak Kristen, lihat Stephen B. Cowan, ed., Five Views on Apologetics (Grand Rapids: Zondervan, 2000).

[27] William L. Craig, Assessing the New Testament Evidence for the Historicity of the Resurrection of Jesus, Studies in the Bible and Early Christianity 16 (2nd ed., Lewiston: Edwin Mellen, 2002).

[28] Josh McDowell and Don Stewart, Answers to Tough Questions Skeptics Ask about the Christian Faith (San Bernardino: Here’s Life Publishers, Inc., 1980), 48.

[29] Poin ini disinggung oleh Craig dalam perdebatannya melawan Flew. Wallace, Does God Exist?, 23-24.

[30] The Quest for Faith: Reasons & Mystery as Pointers to God (Downers Grove: InterVarsityPress, 1986), 20.

[31] James W. Sire, The Universe Next Door: A Gudie to Worldviews (2nd ed., Downers Grove: InterVarsityPress, 1988), 22-44.

[32] Josh McDowell, A Ready Defense, compiled by Bill Wilson (San Bernardino: Here’s Life Publishers, 1990), 316.

Leave a Reply