CHRISTIAN WORLDVIEW (Wawasan Dunia Kristen)

Yakub Tri Handoko

Pendahuluan

Para ahli memberikan beragam definisi tentang “wawasan dunia”. Terlepas dari keberagaman pada tingkat detil dalam definisi yang diberikan, semua ahli pada dasarnya telah menyentuh elemen umum yang seragam. Secara sederhana wawasan dunia dapat didefinisikan sebagai “how one views or interprets reality…it is the framework through which or by which one makes sense of the data of life”.[1] Walaupun definisi ini sebenarnya tidak bisa menjelaskan semua aspek dalam wawasan dunia, tetapi sudah memadai untuk menunjukkan aspek penting dalam sebuah wawasan dunia. Kata kunci dalam definisi ini adalah “framework”. Wawasan dunia bukan hanya tentang apa yang kita lihat (objek pengetahuan), tetapi bagaimana kita melihat apa yang kita lihat (perspektif pengetahuan). Ini tentang “bagaimana” (how), bukan hanya “apa” (what).

Kita bisa menjelaskan pengertian wawasan dunia dengan cara yang sedikit berbeda. Wawasan dunia merupakan keyakinan kita terhadap beberapa pergumulan fundamental dalam hidup ini yang nanti akan kita jadikan perspektif untuk melihat hal-hal lain yang bersifat sekunder. Pergumulan ini mencakup pertanyaan ontologis, epistemologis, aksiologis, dan teleologis. Pertanyaan ontologis berhubungan dengan pergumulan seputar asal usul dunia dan keberadaan (Darimanakah asal alam semesta? Mengapa ada keberadaan dan bukan ketidakadaan?). Pertanyaan epistemologis menyentuh arti dan dasar kebenaran (Apakah kebenaran itu? Bagaimana kita tahu bahwa sesuatu adalah benar?). Pertanyaan aksiologis menyinggung tentang persoalan moralitas (Apakah suatu tindakan etis atau tidak? Bagaimana kita menentukan penentu nilai moralitas ini?) Pertanyaan teleologis berkisar seputar tujuan keberadaan manusia dan arti hidup ini (Mengapa kita ada di dunia ini? Apakah hakekat keberhasilan sebuah kehidupan di dunia ini?).

Hal lain sehubungan dengan wawasan dunia yang perlu kita pahami adalah karakteristik. Sebuah wawasan dunia pasti memiliki karakteristik tertentu. Arthur W. Holmes memaparkan beberapa karakteristik penting dari suatu wawasan dunia.[2]

  1. Wawasan dunia memiliki tujuan yang holistik: mencoba melihat setiap area kehidupan dan pemikiran dalam suatu cara yang integratif.
  2. Wawasan dunia merupakan pendekatan yang bersifat perspektif: melihat hal-hal dari titik pandang yang sudah diadopsi sebelumnya yang sekarang menyediakan kerangka integratif.
  3. Wawasan dunia memiliki proses eksplorasi: mengarahkan hubungan antara satu area dengan area yang lain ke suatu perspektif yang terpadu.
  4. Wawasan dunia bersifat pluralistik: perspektif dasar dapat diartikulasikan dalam beberapa cara yang berbeda.
  5. Wawasan dunia memiliki tindakan sebagai hasilnya: apa yang dipikirkan dan dinilai membimbing apa yang akan dilakukan.

Berdasarkan definisi dan karakteristik di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa setiap orang pasti memiliki wawasan dunia, terlepas dari (1) orang tersebut menyadari atau tidak bahwa ia memilikinya; (2) orang tersebut memahami pengertian wawasan dunia atau tidak; (3) wawasan dunia tersebut benar atau tidak; (4) wawasan dunia tersebut terintegrasi atau tidak. Hal ini sangat berkaitan dengan kebutuhan integral dalam diri semua orang terhadap sebuah wawasan dunia. Manusia memiliki kebutuhan untuk menyatukan pikiran dan kehidupan, mendefinisikan sebuah kehidupan yang baik serta menemukan pengharapan dan arti kehidupan, mengorganisir atau membimbing pikiran-pikiran kita, menjaga tindakan-tindakan kita sesuai dengan konsep yang kita yakini.[3] Beberapa kebutuhan fundamental ini pada akhirnya mendorong semua orang – baik disadari atau tidak – untuk mengadopsi sebuah wawasan dunia tertentu. Wawasan dunia yang diambil mungkin hanya satu tetapi bisa juga beberapa digabungkan secara tidak konsisten. Pendeknya, semua orang hidup berdasarkan wawasan dunia tertentu. Jadi, pergumulan setiap orang bukanlah “haruskah aku memiliki sebuah wawasan dunia”, melainkan “wawasan dunia manakah yang benar dan harus aku pegang?”

Wawasan dunia Kristen

Salah satu problem terbesar dalam kekristenan adalah anti-intelektualisme. Gerakan Zaman Baru dan Postmodernisme berhasil menganakemaskan pemuasan emosi jauh di atas pergumulan intelektual. Spiritualitas hanya dibatasi pada berbagai aktivitas ekklesiastikal yang bersifat vertikal dan sempit, misalnya berdoa, menyanyi, memberikan persembahan, dsb. Tanpa bermaksud mengurangi nilai biblikal dari semua kegiatan ini, kita perlu menyadari dengan sungguh bahwa kekristenan jauh lebih komprehensif daripada semua ini. Kekristenan adalah sebuah wawasan dunia yang memiliki banyak implikasi dalam berbagai aspek kehidupan di dunia.

Gejala ini di atas disayangkan, terutama di kalangan mahasiswa. Universitas sebagai pusat pergumulan telah dipengaruhi begitu rupa oleh wawasan dunia yang menyimpang. Jika wawasan dunia Kristen yang kuat tidak diajarkan di universitas maka pusat pendidikan yang berfungsi untuk mencetak para pemikir dan pemimpin ini pasti akan mengadopsi wawasan dunia yang lain. Hal ini sangat berhubungan dengan fakta bahwa dunia pendidikan tidak pernah netral dalam hal ideologis. Richard A. Baer menulis, “Education never takes place in a moral and philosophical vacuum. If the larger questions about human being and their destiny are not being asked and answered within a predominantly Judeo-Christian framework (worldview), they will be addressed with another philosophical or religious framework – but hardly one that is neutral”.[4]

Pada gilirannya pengaruh wawasan dunia non-Kristen di sebagian besar universitas pasti akan mempengaruhi masyarakat seperti apa yang terbentuk di kemudian hari. Jika banyak universitas diwarnai wawasan dunia non-Kristen, maka para pemikir dan pemimpin yang dihasilkan juga pasti akan membawa warna tersebut ke dalam masyarakat yang di dalamnya mereka berkiprah. Sebaliknya, “if the Christian worldview can be restored to a place of prominence and respect at the university, it will have a leavening effect throughout society. If we change the university, we change our culture through those who shape culture.”[5]

Apakah kita memiliki dasar Alkitabiah yang kokoh bagi upaya membentuk sebuah wawasan dunia Kristen? Tentu saja. Dalam hal ini Roma 12:2 merupakan teks yang paling  penting, karena ayat ini secara eksplisit berbicara tentang cara berpikir Kristiani (“berubahlah oleh pembaruan akal budimu”). Kita tidak hanya memikirkan hal-hal yang berkaitan dengan kekristenan, tetapi memikirkan segala sesuatu secara Kristiani. James Boice dengan tepat membedakan antara dua hal di atas: “but to think Christianity itself is not a matter of thinking about Christian subjects…but rather to think in a Christian way about everything.”[6] Kita bisa saja memikirkan hal-hal tentang kekristenan tetapi dengan cara berpikir yang sekuler. Sebaliknya, kita juga bisa memikirkan hal-hal yang tampak sekuler dari perspektif Kristiani. Yang kedua inilah yang dimaksud oleh Paulus dalam teks ini.

Teks di atas mengajarkan beberapa poin penting seputar wawasan dunia Kristen. Pertama, keselamatan dan pertumbuhan rohani sangat ditentukan oleh perubahan cara berpikir. Di pasal 1-11 Paulus banyak membahas tentang doktrin keselamatan (bagaimana orang berdosa dapat diselamatkan melalui iman kepada Kristus). Pasal 12 merupakan awal dari bagian yang praktis di Surat Roma. Bukan suatu kebetulan apabila pada bagian awal pasal 12-16 Paulus menyinggung tentang perubahan cara berpikir. Posisi seperti ini menunjukkan bahwa salah satu buah pertobatan atau bukti keselamatan adalah perubahan cara berpikir.

Lebih jauh, perubahan ini juga sangat mempengaruhi pertumbuhan rohani orang Kristen. Grant R. Osborne memberikan komentar menarik tentang hal ini. Setelah menyebutkan beberapa teks dalam Surat Roma yang menunjukkan pikiran sebagai salah satu aspek terpenting yang mempengaruhi kerohanian (1:18-32; 7:23, 25; 8:5-7), Osborne menyatakan, “thus it is clear that the mind is where spiritual growth occurs, and in the mind decisions are made that determine one’s spiritual direction and destiny. Paul’s focus is inner, spiritual transformation, and the locus is in the thinking process.”[7] Tanpa perubahan pikiran kita tidak mungkin bisa memahami kehendak Allah (Rom 12:2b). Tanpa memahami kehendak Allah maka kita tidak mungkin dapat bertumbuh secara rohani.

Kedua, transformasi akal budi merupakan proses terus-menerus sepanjang hidup kita. Douglas J. Moo menerangkan Roma 12:2 dengan kalimat sebagai berikut: “this ‘re-programming’ of the mind does not take place over night but is a lifelong process by which our way of thinking is to resemble more and more the way God wants us to think.”[8] Tafsiran Moo ini memang mendapatkan dukungan kuat secara gramatikal maupun kontekstual. Bentuk tense present pada kata “berubahlah” menyiratkan bahwa tindakan ini harus berlangsung secara terus-menerus.[9] Kesejajaran dengan frase “janganlah menjadi serupa dengan dunia ini” juga mengarah pada kesimpulan yang sama. Sebagaimana kita terus-menerus tidak boleh menjadi serupa dengan dunia, demikian pula kita harus terus-menerus mengalami perubahan akal budi.

Ketiga, perubahan pikiran merupakan perubahan radikal dan mendasar yang mencapai tingkat perubahan wawasan dunia. Untuk memahami poin ini kita perlu mengetahui bahwa perubahan pikiran di Roma 12:2 sebaiknya dilihat sebagai kontras dengan pikiran yang terkutuk di Roma 1:28.[10] Dalam teks Yunani kata “terkutuk” di ayat ini secara hurufiah berarti “tidak teruji” (adokimos). Hal ini berbeda dengan pembaruan pikiran (Rom 12:2) yang berguna untuk “menguji” (dokimazō) kehendak Allah.[11] Dalam Roma 1:28-32 dijelaskan bagaimana pikiran yang belum ditebus ini berimbas pada konsep dan tindakan yang keliru sehubungan dengan keberadaan Allah, tujuan hidup manusia maupun moralitas (terutama lihat Rom 1:20, 21, 28). Semua kekeliruan ini berkaitan dengan wawasan dunia yang dipegang seseorang (pertanyaan ontologis, epistemologis, aksiologis, teleologis). Sebaliknya, pembaruan akal budi akan berdampak positif pada wawasan dunia Kristen, misalnya tujuan hidup (Rom 12:1) dan standar kebenaran (Rom 12:2). Pada gilirannya dua hal ini mempengaruhi cara kita melayani sesama saudara seiman (Rom 12:8) maupun orang lain (Rom 12:9-21), cara pandang terhadap pemerintah (Rom 13:1-7), dsb. Pendeknya, perubahan akal budi berarti pembaruan wawasan dunia yang selanjutnya berdampak pada seluruh aspek lain dalam kehidupan orang percaya.

Contoh praktis: integrasi teologi dan sains

Sebagaimana sudah disinggung di atas, perubahan wawasan dunia pasti membawa banyak implikasi praktis dalam hidup ini. Salah satu yang mendesak untuk dibahas dalam konteks pendidikan di universitas adalah isu seputar teologi dan ilmu. Apakah wawasan dunia Kristen pasti berkontradiksi dengan sains?

Sejarah pertemuan antara teologi dan sains

Dalam sejarah perkembangannya, teologi terus mendapatkan lawan tangguh yang berusaha menjadikan diri sebagai ratu ilmu pengetahuan (the Queen of Science). Dari awal kekristenan ilmu filsafat selalu bersaing dengan teologi. Dalam beberapa kasus fisafat berhasil mempengaruhi jemaat Kristen mula-mula (1Kor 1:23; 15:12; Kol 2:8; 1Yoh 4:2). Pada abad permulaan filsafat semakin merajalela, terutama filsafat gnostisisme. Sepanjang sejarah gereja pun filsafat terus berebut posisi dengan teologi.

Tanpa mengecilkan pengaruh dari filsafat terhadap orang-orang Kristen, makalah ini hanya akan memfokuskan pada satu ilmu, yaitu ilmu alam (sains). Kita sedang memfokuskan pembahasan pada relasi antara alam (nature) dan kitab suci (scripture). Walaupun fokus utama dalam makalah ini bukanlah filsafat, namun – seperti akan dipaparkan berikut ini – filsafat tetap tidak bisa diabaikan secara total, karena perdebatan antara teologi dan sains juga mencakup filsafat. Baik teologi maupun sains sama-sama mengandung muatan filosofis di dalamnya.

Jika perdebatan hanya difokuskan pada sains, maka titik awal pertama yang perlu disinggung berkaitan dengan seorang ilmuwan yang bernama Nikolas Kopernikus (1473-1543 M) dan Galileo Galilei (1564-1542 M). Keduanya dikenal sebagai tokoh yang mempopulerkan teori Heliosentris (matahari sebagai pusat tata surya). Pada waktu konsep ini mulai berkembang, gereja merespon pandangan ini secara negatif dan menganggap keduanya sebagai pengajar ajaran sesat yang merendahkan otoritas gereja dan Alkitab. Mereka pun dipaksa untuk mengubah pandangan tersebut.

Satu hal yang perlu diketahui dalam perseteruan ini adalah perseteruan ini lebih bersifat filosofis daripada teologis. Yang ditentang oleh dua ilmuwan tersebut bukanlah otoritas Alkitab tetapi validitas filsafat Aristotelian yang mendasari pandangan geosentris (bumi sebagai pusat dari tata surya) yang dianut oleh gereja. Thomas H. Henderson menulis, “It was not a simple conflict between science and religion, as usually portrayed. Rather it was a conflict between Copernican science and Aristotelian science which had become Church tradition”.[12] Berdasarkan konsep kosmologisnya yang bertingkat-tingkat, Aristotle meyakini bahwa alam semesta memiliki batasan dan berbentuk sebuah bola dengan bumi sebagai pusat yang tidak bergerak.[13] Konsep inilah yang diadopsi oleh gereja dan dijadikan ajaran resmi. John Dillenberger mengungkapkan hal ini dalam sebuah kalimat, “The Ptolemaic system which had originated in Hellenic soil and which subsequently acquired Aristotelian form, had been brought into close relationship with the Biblical picture…his understanding of nature had been accepted but it was given Christian baptism.[14] Jadi, perseteruan ini “was not a choice between one science and another, or between one philosophy and a scientific view; it was a choice between philosophies, between the Aristotelian-Ptolemaic or the Neo-Platonic-Phthagorean”.[15]

Bukti lain bahwa Kopernikus dan Galileo tidak berusaha merendahkan ajaran ALkitab dapat dilihat dari kesalehan dan iman mereka. Dari semua catatan tentang kehidupan dan perkataan Galileo terlihat bahwa dia adalah seorang Katholik yang ketat.[16] Dalam suratnya kepada Madame Christina, pemimpin di Tuscany, Galileo menulis dengan tegas bahwa Kitab Suci tidak mungkin menyatakan sesuatu yang tidak benar. Ia juga menegaskan bahwa Kopernikus tidak mengabaikan Alkitab.[17]

Apa yang diajarkan oleh Kopernikus dan Galileo jelas merupakan sesuatu yang sangat serius di mata gereja pada waktu itu. Jika pandangan Aristotle yang sudah sedemikian terhisap dalam dogma gereja ternyata salah, maka berbagai masalah akan mencuat ke permukaan. Menurut Dillenberger ada tiga alasan utama mengapa teori yang baru ini menimbulkan masalah bagi para teolog: “First, it seemed to run counter to those Bible passages which assumed the centrality of the earth and the movement of the sun. Second, it dislodged the comfortable interrelation of space and destiny. Third, it confronted man with the anxiety engendered by infinity”.[18]

Seiring dengan “kemenangan” Kopernikus dan Galileo atas gereja, sebagian orang mulai menyangsikan wibawa para pemimpin gereja. Pada akhirnya sikap skeptis ini juga diarahkan pada Alkitab. Mulai akhir abad ke-18 otoritas Alkitab dalam hal-hal yang berkaitan dengan alam mulai dipertanyakan secara serius. Pada masa inilah terjadi perubahan pemahaman yang sangat radikal dan kritis terhadap Alkitab. Hal ini berkaitan dengan perkembangan ilmu-ilmu baru dalam bidang geologi, palaentologi dan biologi. Kalau penemuan Kopernikus dan Galileo sebelumnya hanya berhubungan dengan sesuatu di luar dunia ini, penemuan-penemuan baru dalam tiga bidang ini lebih berkaitan dengan sejarah dunia. Ada beberapa isu utama yang mencuat pada periode ini:

  • Usia bumi yang terkesan muda menurut Alkitab sangat bertentangan dengan perhitungan sains yang menyatakan bahwa bumi ini sudah berusia jutaan tahun.
  • Konsep tradisional tentang manusia sebagai mahkota ciptaan juga diabaikan dan digantikan dengan konsep evolusi. Manusia bukanlah ciptaan Allah secara langsung, tetapi hasil paling kompleks dari proses evolusi.

Ketika semua hasil penemuan ini berkontradiksi dengan catatan Alkitab, maka akibat yang ditimbulkan menjadi menjadi lebih serius. Langdon Gilkey menyatakan, “When Copernican, Galilean, and Newtonian astronomy had taken away the view of the spatial realms of the universe implied in scriptre, that was incidental to the Bible, which was in essence no geographical tract. But when the new sciences showed that the Biblical history was in error, that was something else again, and the understanding of what Biblical truth was had perforce to change”.[19] Pendapat yang senada juga disuarakan oleh Bernard Ramm, “The battle to keep the Bible as a respected book among the earned scholars and the academic world was fought and lost in the nineteenth century. The astronomy of Copernicus did not begin to have the influence on human thought as did the events of the nineteenth century. During that period there was a mushrooming of anti-Biblical, anti-Christian movements”.[20]

Kalau pada masa sebelumnya semua catatan Alkitab yang berkaitan dengan alam dianggap sebagai kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi, mulai abad ke-19 kecenderungan ini berbalik arah. Semua keterangan Akitab tentang alam, sejarah maupun geografi mulai ditolak. Sains pun menjadi hakim atas Alkitab. Situasi inilah yang sampai sekarang seringkali memberikan kesan meyakinkan bahwa teologi dan sains selalu kontradiktif, tidak ada titik temu antara kebenaran dalam kitab suci (scripture à teologi) dan alam (nature à sians).

Integrasi: sebuah perspektif teologis

Penjelasan berikut ini akan membuktikan bahwa kontradiksi sebenarnya hanya terjadi pada tingkat penafsiran (teologi versus sains). Secara ontologis kitab suci (scripture) dan alam (nature) tidak tidak mungkin mengandung kontradiksi. Jika keduanya ditafsirkan secara tepat, maka tidak mungkin ada kontradiksi antara keduanya. Raam menulis:

If we believe that the God of creation is the God of redemption, and that the God of redemption is the God of creation, then we are committed to some very positive theory of harmonization between science and evangelicalism. God cannot contradict His speech in Nature by His speech in Scripture. If the Author of Nature and Scipture are the same God, then the two books of God must eventually recite the same story.[21]

Jack Wood Sears dengan yakin menyatakan:

I recognize that conflicts now exist between our understanding of scientific truth and our understanding of Biblical truth, but I believe these conflicts should not surprise anyone but should be expected. I also believe that as we approach more nearly the Truth (and I believe that there is Absolute Truth) these conflicts will diminish. If ultimate truth is ever attained in science and in our understanding of the Bible, I believe the conflict will evaporate completely.[22]

Pendapat di atas mendapat dukungan yang kuat dalam Alkitab. Pertama, Alkitab dimulai dengan Allah yang menciptakan langit dan bumi (Kej 1:1).[23] Pemunculan di bagian paling awal Alkitab menunjukkan betapa pentingnya teks ini. Posisi seperti ini menyiratkan bahwa konsep penciptaan dunia oleh Allah merupakan dasar dari seluruh Alkitab. Dalam salah satu judul bab dari bukunya yang terkenal yaitu Philosophy for Understanding Theology, Diogenes Allen menyebut bahwa pondasi dari teologi Kristen adalah fakta bahwa dunia diciptakan.[24]

Kisah penciptaan selanjutnya menunjukkan bahwa manusia adalah pusat dari dunia. Manusia diciptakan sebagai mahkota ciptaan yang diberi mandat untuk menguasai bumi (Kej 1:26, 28).[25] Untuk menguasai bumi jelas diperlukan pengenalan terhadap alam. Manusia harus mengeksplorasi semua informasi tentang alam supaya mereka mampu menaklukkannya. Ayat inilah yang telah menjadi dasar sekaligus keunikan Kristiani dalam pergumulan ilmiah. Pandangan Timur kuno umumnya menganggap alam bersifat ilahi,[26] karena itu tidak mungkin diselidiki sedemikian rupa seolah-olah manusia berada di atas alam. Di sisi lain pandangan Hellenis justru melihat alam (materi) sebagai sesuatu yang sangat rendah,[27] karena itu tidak layak untuk diselidiki. Hanya Alkitab yang memberikan pandangan seimbang tentang alam. Kebenaran ini seharusnya mendorong orang Kristen untuk berani meneliti alam dan menggunakannya untuk kemuliaan Allah.

Kedua, Allah dapat dikenal melalui alam (wahyu umum). Keyakinan bahwa alam dapat menyatakan sesuatu tentang Allah bukanlah ide yang baru ditemukan pada masa sains modern. Mazmur 19:1 mengajarkan bahwa ciptaan menyatakan kemuliaan Allah. Paulus pun menegaskan bahwa melalui alam semesa manusia seharusnya dapat mengetahui kekuatan yang kekal dan keilahian Allah (Rom 1:19-21). Pemberian hujan dan pengaturan musim pun di mata Paulus membuktikan bahwa sesuatu dalam diri Allah, yaitu kebaikan-Nya (Kis 14:17; bdk. Mat 5:45; Kis 17:26-27).

Kebenaran ini tetap didengungkan oleh bapa-bapa gereja dan para pemikir Kristen pada periode-periode selanjutnya.[28] Menurut Origen (sekitar 185-254 M), bapa gereja yang menganut penafsiran alegoris, Allah telah meletakkan pengajaran dan pengetahuan tentang hal-hal yang tidak terlihat dalam benda-benda yang terlihat di dunia ini. Konsep ini diteruskan oleh Ambrose dari Milan (340-397 M) dan Basil Agung (329-379 M). Agustinus (354-430 M) adalah orang pertama yang memakai istilah “kitab alam” sebagai rujukan pada alam semesta sebagai refleksi kebenaran ilahi. Konsep yang lebih integratif dan konkrit tentang penggunaan alam sebagai sarana mengenal Allah dipopulerkan oleh Anselmus dan Thomas Aquinas. Keduanya berusaha membuktikan keberadaan Allah melalui argumentasi yang alamiah dan rasional.[29]

Ketiga, kedaulatan Allah yang mutlak atas segala sesuatu. Alkitab memberikan bukti yang melimpah tentang bagaimana Allah menguasai alam. Ia bukan hanya menciptakannya, tetapi juga menggunakannya untuk menggenapi rencana-Nya. Allah berada di balik semua fenomena alam, baik yang ada di langit, bumi maupun lautan (Mzm 135:6). Dia memberikan hujan dan mengatur musim-musim (Kis 14:17; 17:26; band. Kej 2:7; Im 26:4). Api, hujan es, salju, kabut dan angin badai dikatakan “melakukan firman-Nya” (Mzm 148:8; band. Ay 37:6-13; 38:22-30). Mazmur 135:6 “Ia menaikkan kabut dari ujung bumi, Ia membuat kilat mengikuti hujan, Ia mengeluarkan angin dari dalam perbendaharaan-Nya”. Kemunculan matahari dan fajar setiap hari membutuhkan perintah Dia (Ay 38:12; Mat 5:45a). Allah menumbuhkan rumput untuk binatang maupun tanaman untuk manusia (Mzm 104:14-15). Ia memelihara burung di udara (Mat 6:26), sehingga tidak ada satu pun yang jatuh ke tanah di luar kehendak Allah (Mat 10:29). Tentang binatang-binatang di laut, pemazmur berkata kepada Tuhan, “semuanya menantikan Engkau, supaya diberikan makanan pada waktunya” (Mzm 104:27). Jika Allah sedemikian berdaulat atas alam, sulit dimengerti jika kebenaran yang Dia letakkan di alam dan Dia jaga akhirnya berkontradiksi dengan kebenaran-Nya di kitab suci.

Problem epistemologi: sebuah perspektif filosofis

Dalam perdebatan antara teologi dan sains muncul suatu kesan bahwa apa yang dikatakan Alkitab baru akan diterima sebagai kebenaran kalau sudah dibuktikan. Di sisi lain sains mendapat posisi yang lebih kuat. Penemuan dalam sains diasumsikan sebagai sesuatu yang objektif dan pasti benar. Mereka yang tetap mempercayai catatan Alkitab yang berkontradiksi dengan suatu teori sains secara otomatis dianggap sebagai orang yang kurang rasional. Di kalangan para ilmuwan sendiri sempat timbul suatu kesan bahwa mereka yang percaya kepada kebenaran Alkitab dianggap bukan seorang ilmuwan yang sejati.

Kecenderungan di atas jelas masih memerlukan pengujian lebih lanjut. Sayangnya dalam banyak kasus, asumsi seseorang lebih banyak berperan. Inti persoalan bukan lagi terletak pada ketersediaan fakta yang mendukung satu pandangan, tetapi pada asumsi dasar yang dipakai. Dengan kata lain, inti perdebatan terletak pada masalah epistemologi.

Benarkah sains bersifat objektif dan tanpa penafsiran? Benarkah sesuatu yang benar harus dapat dibuktikan terlebih dahulu baru diterima sebagai kebenaran? Apakah sains dapat menjadi hakim atas Alkitab? Penjelasan berikut akan menjawab deretan persoalan ini.

Pertama-tama yang perlu diketahui adalah bahwa sains tidak seobjektif yang dipikirkan oleh sebagian orang.[30] Dalam sains ada penafsiran. Dalam sains bahkan ada “iman” terhadap beberapa asumsi yang tidak mungkin dibuktikan dan karena itu dianggap sebagai “kebenaran yang tidak perlu dibuktikan”. Sains kadangkala lebih merupakan suat kepercayaan daripada penyimpulan ilmiah. Walaupun hal ini dapat dimengerti, tetapi tetap tidak dapat dipertanggungjawabkan.[31]

Sebagai contoh, dalam diskusi seputar asal-usul dunia maupun manusia, sains tidak akan pernah dapat memberikan bukti yang konklusif. Scott M. Huse menulis, “it is impossible to prove scientifically any theory of origins. This is because the very essence of the scientific method is based on observation and experimentation, and it is impossible to make observations or conduct experiments on the origin of the universe.[32] Apabila seorang ilmuwan ingin meneliti asal-usul dunia, maka dia harus memiliki iman tertentu terhadap sebuah asumsi. Dia harus beriman pada “the doctrine of uniformity, which assumes that these present processes may be extrapolated indefinitely into the past or future”.[33]

“Iman” dalam sains juga dapat dilihat dalam kasus evolusi. Huse mengutip pernyataan Harrison Matthews yang memberikan prakata untuk buku Darwin Origin of Species edisi tahun 1971 sebagai berikut: “belief in the theory of evolution is thus exactly parallel to belief in special creation – both are concepts which believers know to be true but neither, up to the present, has been capable of proof”.[34] Dengan kata lain, “evolution can only be correctly labelled as a belief, a subjective philosophy of origins, the religion of many scientists”.[35]

Hal lain yang perlu kita pahami sehubungan dengan sains adalah titik tolaknya yang berbeda dengan kebenaran Alkitab. Dalam beberapa kasus perdebatan, inti masaah terletak pada titik tolak yang berbeda. Sebagai contoh, dalam hal usia bumi. Dengan memperhitungkan kecepatan cahaya dan jarak bintang-bintang dengan bumi, sebagian ilmuwan meyakini bahwa usia alam semesta pasti sudah jutaan tahun. Pandangan ini sekalipun secara perhitungan matematis masuk akal, namun tetap didasarkan pada satu asumsi dasar yang linear (setelah bintang diciptakan, bintang memerlukan waktu jutaan tahun untuk mencapai bumi). Asumsi dasar linear ini berbeda dengan konsep penciptaan yang simultan. Dalam Kejadian 1:1 disebutkan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi. Frase “langit dan bumi” merujuk pada segala sesuatu, termasuk bumi dan bintang-bintang. Karena keadaan bumi masih belum siap didiami (Kej 1:2), maka Allah mulai menata dan menciptakan apa yang belum ada (Kej 1:3-31).[36] Di antara dua asumsi dasar ini – linear atau simultan – sulit ditentukan mana yang secara objektif tepat, karena tidak ada cara ilmiah apapun untuk membuktikan mana yang tepat. Dalam hal ini orang Kristen harus mempercayai apa yang diajarkan dalam Alkitab sekalipun hal itu tidak bisa dibuktikan benar atau salah. Alkitab sendiri mengajarkan bahwa “karena iman kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh firman Allah, sehingga apa yang kita lihat telah terjadi dari apa yang tidak dapat kita lihat” (Ibr 11:3).

“Beriman” dalam hal-hal yang ilmiah adalah tidak salah. Jika para ilmuwan mau jujur, dalam kasus-kasus tertentu secara logika lebih masuk akal mengimani ajaran Alkitab daripada ajaran sains. Contoh yang paling jelas adalah Teori Ledakan Besar (Big Bang Theory). Untuk mempercayai bahwa alam semesta yang relatif teratur ini berasal dari sebuah ledakan diperlukan iman yang lebih besar daripada mempercayai bahwa alam semesta diciptakan oleh Allah yang mahakuasa dan bijaksana. Begitu pula dengan evolusi. Diperlukan iman yang sangat besar untuk mengamini bahwa sistem tubuh manusia yang begitu kompleks dan relatif teratur merupakan hasil proses alamiah yang panjang dari sebuah zat yang paling sederhana. Diperlukan iman yang sangat besar untuk percaya bahwa sebuah keberadaan yang berpribadi dihasilkan dari sesuatu yang tidak berpribadi.[37]

 

[1] Norman L. Geisler, Baker Encyclopedia of Christian Apologetics (Grand Rapids: Baker Books, 2000, c1999), 785.

[2] “Toward a Christian View of Things” in The Making of a Christian Mind: A Christian Worldviews & the Academic Enterprise (ed. by Arthur Holmes; Downers Grove: InterVarsity Press, 1985), 17.

[3] Arthur F. Holmes, Contours of a Worldview (Grand Rapids: Eerdmans, 1983), 5.

[4] “They Are Teaching Religion in Public School.” Christianity Today, Feb 17, 1984, 15 (huruf miring ditambahkan).

[5] J. P. Moreland and William Lane Craig, Philosophical Foundations for A Christian Worldview (Downers Grove: InterVarsity Press, 2003), 2.

[6] Romans Volume 4: The New Humanity (Grand Rapids: BakerBooks, 1995), 1540.

[7] Romans, IVPNTCS (Downers Grove/Leicester: InterVarsity Press, 2004), 321.

[8] The Epistle to the Romans, NICNT (Grand Rapids: Eerdmans, 1996), 756-757.

[9] Leon Morris, The Epistle to the Romans, PNTC (Leicester/Grand Rapids: Apollos/Eerdmans, 1988), 435.

[10] James R. Edward, Romans, NIBC (Peabody/Carlisle: Hendrickson/Paternoster, 1995), 285.

[11] Moo, The Epistle to the Romans, 757.

[12] Dikutip dari “What were Galileo’s scientific and biblical conflicts with the Church?”, http://www.christiananswers.net/q-eden/galileo.html.

[13] Charles E. Hummel, The Galileo Connection (Downer Grove: InterVarsityPress, 1986), 27-29.

[14] John Dillenberger, Protestant Thought & Natural Science: A Historical Study (Nashville/New York: Abingdon Press, 1960), 22. Italics ditambahkan.

[15] Ibid., 27.

[16] Salah satu sumber yang bermanfaat untuk melihat figur Galileo dari perspektif yang lain – selain dari perspektif gereja yang cenderung menempatkan Galileo sebagai tokoh sejarah gereja yang sangat negatif – adalah Dava Sobel, Galileo’s Daughter (New York: Walker & Company, 1999), 11-12; Stillman Drake, Discoveries and Opinions of Galileo (New York: Doubleday Anchor Books, 1957), 173-216.

[17] Henderson, “What were…”

[18] Protestant Thought, 26.

[19] Langdon Gilkey, Religion and the Scientific Future (New York: Harper & Row Publishers, 1970), 9.

[20] The Christian View of Science and Scripture (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Co., 1954), 15.

[21] Ramm, The Christian View, 25.

[22] Conflict and Harmony in Science and the Bible (Grand Rapids: Baker Book House, 1968), 13.

[23] Ibid., 26.

[24] (Atlanta: John Knox Press, 1985), 1-14.

[25] “Berkuasa” dalam konteks ini tidak menagndung makna eksploitasi seperti yang sempat dituduhkan oleh beberapa orang terhadap kekristenan sebagai penyebab kerusakan ekologis. Untuk jawaban singkat tapi berbobot terhadap tuduhan ini, lihat Walter C. Kaiser, Hard Saying of the Old Testament (Downer Grove: InterVarsityPress,  1988), 16-19.

[26] W. Endrew Hoffecker, ed., Membangun Wawasan Dunia Kristen Volume 2 (diterjemahkan oleh Peter Suwadi Wong; Surabaya: Momentum, 2008), 11-24.

[27] Ibid.,25-44.

[28] Untuk ringkasan yang baik dan bermanfaat tentang hal ini, lihat Peter Harrison, “The Bible and the Emergence of Modern Science”, Science & Chrisian Belief, Vol. 18, No. 2 (2006),  116-119.

[29] Lihat Collin Brown, Philosophy & the Christian Faith (Downer Grove: InterVarsityPress, 1968), 20-32.

[30] Untuk pembahasan lebih detil tentang mitos seputar sains, lihat Rousas John Rushdoony, The Mythology of Science ( Nutley, NJ: The Craig Press, 1978), 1-15.

[31] Heath, Sains, Iman & Teknologi, 8. Lihat pembahasan yang lebih mendetil dalam tulisan Phillip E. Johnson, The Wedge of Truth: Splitting the Foundations of Naturalism (Downers Grove: InterVarsity Press, 2000).

[32] The Collapse of Evolution (Grand Rapids: Baker Book House, 1983), 1.

[33] Henry M. Morris, Studies in the Bible and Science (Philadelphia: Presbyterian and Reformed Publishing Co., 1966), 109.

[34] Ibid., 1.

[35] Ibid.

[36] John Sailhamer, “Genesis”, Expositor’s Bible Commentary Vol. II (Grand Rapids: Zondervan Publishing House). Electronic edition.

[37] Salah satu bantahan terbaik terhadap teori evolusi telah ditulis oleh Philip E. Johnson, Darwin on Trial (Downers Grove: InterVarsity Press, 1993).

Leave a Reply