CRUCIFIXION OR CRUCI-FICTION?

Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Salah satu fokus perdebatan antara Islam-Kristen adalah historisitas penyaliban Yesus Kristus. Tidak sulit untuk mengerti mengapa topik ini layak untuk diperdebatkan. Seandainya Yesus tidak mati disalib, maka diskusi tentang kebangkitan Yesus juga akan menjadi tidak relevan. Di samping itu, kematian di atas kayu salib sendiri sudah menjadi azas pokok dalam teologi Kristen, sehingga jika penyaliban Yesus (dan sebagai konsekuensi, kebangkitan-Nya juga) ternyata tidak pernah terjadi, maka teologi Kristen akan kehilangan bagian yang paling esensial. Hal yang sebaliknya juga berlaku. Seandainya penyaliban Yesus merupakan sebuah fakta historis, maka kredibilitas Al Quran sebagai kitab suci juga akan dipertaruhkan. Berdasarkan konsekuensi teologis yang serius semacam ini, setiap orang Kristen dan Muslim harus dengan sungguh-sungguh berusaha mencari kebenaran yang sejati.

Pandangan Islam

Orang Muslim pasti akan memberikan jawaban negatif terhadap pertanyaan di atas, karena dalam kitab suci mereka dituliskan secara eksplisit bahwa Yesus tidak dibunuh maupun mati disalib (Al Quran 4 [An-Nisa]:157-158). Yesus diselamatkan Allah dari tangan musuh dengan cara wa laakin shubbiha lahum, sebuah frase yang ditafsirkan secara beragam oleh orang Muslim. Pandangan minoritas menduga bahwa Yesus hanya pingsan selama penyaliban (Ahmadiyya), sedangkan pandangan mayoritas meyakini bahwa orang lain telah diserupakan seperti Yesus (Al-Nasa’i, Al-Kubra 6:489). Orang-orang Muslim memberikan beberapa argumen atau bukti untuk mendukung sanggahan mereka terhadap penyaliban.

Yang paling utama, mereka berpegang pada keyakinan teologis terhadap kebenaran Al Quran. Sebagai contoh, setelah mengutip teks Al Quran yang menyangkal historisitas penyaliban Yesus di atas, Deedat mengatakan: “Muslim percaya pernyataan kategorikal Al Quran ini berasal dari Allah. Ia tidak bertanya atau mencari bukti” (Crucifiction or Crucifixion, 4). Tidak heran, orang-orang Muslim cenderung memberikan argumen negatif (serangan terhadap kekristenan) daripada argumen positif (dukungan terhadap Al Quran).

Salah satu argumen positif yang diberikan bersumber dari Al Quran sendiri. Dalam Encyclopedia of Islam diterangkan bahwa Allah selalu membuat iman menang atas kekuatan-kekuatan kejahatan dan kebencian (94:5-6; 22:49; 3:54), sehingga menerima penyaliban Yesus berarti menerima kemenangan dari para penyalib.  Penyaliban Yesus tidak sejalan dengan logika Al Quran.

Argumen ketiga didasarkan pada ketidakadaan saksi mata dari pihak pengikut Yesus pada saat penyaliban terjadi (Ibn Taymiyya, A Muslim Theologian’s Response to Christianity, 110). Orang Muslim menyoroti catatan Alkitab tentang semua murid yang meninggalkan Yesus (Mat 26:56; Mar 14:50). Jika tidak ada satu pun pengikut Yesus yang menyaksikan langsung peristiwa penyaliban, maka kesaksian mereka dinilai tidak kuat. Hal ini dianggap sejalan dengan kesaksian Al Quran bahwa para pengikut Yesus dipenuhi kebingungan dan ketidaktahuan serta hanya mengikuti terkaan orang-orang Yahudi yang keliru (4:158).

 Argumen lain bersumber dari tulisan-tulisan kuno di luar Alkitab yang ditulis oleh orang-orang Kristen. Sehubungan dengan hal ini orang-orang Muslim sering menyinggung tentang keterangan dari kitab Injil Basilides yang menyatakan bahwa Yesus dibangkitkan secara tubuh ke surga atau Injil Barnabas yang mencatat bahwa Yudas Iskariot menggantikan Yesus. Di balik pengutipan ini terdapat sebuah praduga bahwa kitab-kitab ini lebih bisa dipercaya daripada Alkitab.

Tanggapan Kristen

Sehubungan dengan logika Al Quran tentang pembelaan Allah atas orang benar, hal itu juga diajarkan secara konsisten di dalam Alkitab. Titik perbedaan terletak pada bentuk pembelaan yang dimaksud. Al Quran memilih kegagalan penyaliban Yesus, sedangkan Alkitab memilih kebangkitan Yesus sebagai bukti pembenaran ilahi atas Yesus (Kis 2:23-24). Di antara dua penafsiran teologis ini, yang terakhir lebih masuk akal. Seandainya Allah membela Yesus dengan cara menyelamatkan Dia dari tangan musuh, mengapa Allah membiarkan semua pengikut-Nya berada dalam kebohongan akibat ketidaktahuan ini? Mengapa baru pada abad ke-7 Allah mengungkapkan kebenaran ini?

Berkaitan dengan saksi mata penyaliban, para pemikir Muslim tampaknya terlalu selektif dalam memilih catatan Alkitab yang mereka gunakan sebagai dukungan dan juga tidak berhati-hati dalam menafsirkan teks tersebut. Berdasarkan konteks yang ada, “semua” yang meninggalkan Yesus adalah para pengikut inti Yesus (12 rasul, minus Yudas Iskariot). Meninggalkan di sini juga terbatas pada peristiwa penangkapan di Taman Getsemani. Setelah pengangkapan Simon Petrus masih mengikuti Dia dari jauh (Mar 14:54). Sekumpulan pengikut lain di luar 12 rasul bahkan ikut sampai di dekat kayu salib (Luk 23:27).

Di samping para pengikut di atas, Alkitab juga mencatat tentang kehadiran para pemimpin Yahudi (Mat 27:41; Mar 15:31), orang banyak (Mat 27:39), dan tentara Romawi  (Mat 27:35, 54; Mar 15:24, 39; Luk 23:35, 47) di sekitar salib. Seandainya orang Muslim secara konsisten menerima teks-teks ini (bukan hanya secara subyektif dan selektif memilih teks yang dianggap mendukung pandangan mereka), maka mereka seharusnya mengakui (paling tidak) keberadaan orang-orang Yahudi sebagai saksi. Ini adalah poin yang sangat penting: (1) rujukan tentang kesombongan orang-orang Yahudi yang membunuh Yesus (4:157) menyiratkan bahwa cerita seperti itulah yang berkembang secara umum sampai pada abad ke-7; (2) popularitas cerita ini di kalangan orang-orang Yahudi paling tidak berfungsi sebagai bukti historis yang mendukung Alkitab, kecuali orang Muslim memiliki bukti historis lain yang lebih meyakinkan sebagai bantahannya; (3) seandainya Yesus tidak mati (disalib), maka cara paling efektif bagi orang-orang Yahudi pada abad permulaan untuk menghancurkan ajaran Kristen adalah dengan menyangkal penyaliban.

Sehubungan dengan kitab-kitab injil di luar Alkitab yang menyanggah penyaliban, adalah sangat penting untuk menegaskan bahwa penulis Injil Basilides dipengaruhi oleh filsafat Gnostisisme pada abad ke-2. Catatan tersebut lebih sebagai hasil konsekuensi teologis dari filosofi tersebut daripada observasi faktual. Sejak awal kekristenan (sebelum kekristenan diterima sebagai agama resmi pada abad ke-4) bapa gereja Irenaeus sudah menentang kesaksian itu. Secara khusus terkait dengan Injil Barnabas, tahun penulisan kitab ini yang jauh lebih muda daripada kitab-kitab injil di Alkitab membuat kesaksiannya secara historis tidak memiliki kekuatan yang berarti.

 Dukungan lain terhadap Alkitab datang dari para penulis non-Kristen kuno (Voorst, Jesus Outside the New Testament). Sebagai contoh, Tacitus (sekitar 56-120 M) mencatat bahwa Kristus dihukum mati oleh Pontius Pilatus pada jaman Kaisar Tiberius (Annals 44). Keterangan yang sama dikemukakan oleh Lucian Samosata dan Mara Bar Serapion pada abad ke-2. Dukungan dari kalangan Yahudi berasal dari sejarahwan abad ke-1 yang bernama Yosefus (Ant. 18.3.3 §63-64). Begitu kuatnya argumen ini sampai-sampai teolog Kristen yang paling liberal pun tidak meragukan historisitasnya, misalnya Dominic Crossan (Jesus: A Revolutionary Biography, 145).

Argumen lain untuk merespon sanggahan Islam terhadap penyaliban adalah dengan menunjukkan kelemahan dari teori alternatif yang mereka tawarkan. Dugaan bahwa Yesus hanya mengalami pingsan selama penyaliban sulit dipertahankan dari sisi medis (Stroble, The Case for Christ, 255-273). Teori tentang pengganti Yesus yang serupa dengan Dia juga memiliki beberapa kelemahan: (1) berbeda dengan catatan Alkitab yang dapat diselidiki secara historis, teori pengganti yang diusulkan orang Muslim adalah murni sebuah keyakinan. Dibutuhkan iman yang lebih besar untuk menerima kesaksian Al Quran daripada Alkitab; (2) secara obyektif lebih mudah menerima bahwa pandangan populer tentang historisitas penyaliban pasti memiliki alasan yang masuk akal, apalagi jika dikaitkan dengan ketidakadaan bukti historis seputar kesalahan identifikasi kurban selama proses penyaliban Romawi. (3) teori ini bisa menyisakan sebuah problem berkaitan dengan cara kerja Allah yang menghalalkan “penipuan” publik; (4) teori ini sulit menerangkan mengapa untuk mengelabui orang-orang Yahudi tentang penyaliban Yesus Allah sampai rela mengorbankan nyawa orang yang tidak bersalah; (5) teori ini juga gagal memberikan penjelasan mengapa orang yang disalib itu tidak memberitahu Pilatus dan para prajurit bahwa mereka telah salah menyalibkan orang.

Leave a Reply