DEKODENISASI THE DA VINCI CODE

Yakub Tri Handoko, Th. M.

Novel The Da Vinci Code (selanjutnya disingkat DVC) karangan Dan Brown mampu menarik perhatian dunia sejak pertama kali dirilis pada tahun 2003. Hal ini bisa dilihat dari jumlah eksemplar yang mencapai 30 juta di seluruh dunia dan diterjemahkan dalam 44 bahasa. Seiring dengan keberhasilan ini, Dan Brown juga turut menikmati kekayaan dan popularitas luar biasa. Royalti ia terima mencapai 650 miliar rupiah. Ia berulang kali diundang untuk wawancara di berbagai stasiun TV terkenal, misalnya ABC, NBC. Puncak dari semua ini adalah peluncuran film dengan judul yang sama. Walaupun apa yang disampaikan lewat film “tidak seberbahaya” apa yang ada di novel, namun bagaimanapun film tersebut mampu menarik perhatian banyak orang, terutama mereka yang enggan membaca novel Brown, karena mereka memang tidak terbiasa membaca.

Beragam respon dari orang Kristen di Indonesia telah bermunculan. Sebagian sudah mengadakan protes damai (demo) menentang pemutaran film DVC. Sebagian yang lain cenderung menganggap remeh isu ini dan mengatakan “itu hanya sekedar novel, tidak perlu dipikirkan terlalu serius”. Dua sikap ini sebenarnya kurang tepat. Protes saja, tanpa disertai pembinaan teologi kepada jemaat, bisa berpotensi meneguhkan asumsi Brown bahwa ada konspirasi internasional untuk menghancurkan semua ajaran yang bertentangan dengan ajaran tradisional kekristenan. Sikap menganggap remeh juga tidak tepat, karena faktanya DVC bukan sekedar novel. Pengaruh DVC bagi pergumulan iman orang Kristen awam tidak bisa dipandang sebelah mata.

Bagaimana orang Kristen seharusnya meresponi hal ini? 1 Petrus 3:15 mengajarkan bahwa orang percaya harus siap sedia memberikan jawaban verbal (apologia) terhadap siapa saja yang mempertanyakan iman Kristiani. Ide yang dituangkan dalam DVC merupakan pertanyaan (baca: bantahan) terhadap kekristenan yang harus dijawab dengan penuh tanggung jawab. Makalah ini merupakan apologia dari sudut pandang kaum Injili terhadap DVC.

Sinopsis cerita

DVC dimulai dengan kematian seorang kurator bernama Jacques Sauniere. Sebelum ia mati, ia meninggalkan kode-kode khusus untuk cucu perempuannya, Sophie Neveu, seorang kriptologis, yang sebelumnya ia telepon untuk datang mengunjungi dirinya, berdamai dengan dia dan diberitahu suatu rahasia keluarga. Sophie sendiri dulu sempat berselisih dengan Sauniere karena ia melihat kakeknya dan seorang wanita sedang melakukan hubungan seks dalam sebuah acara ritual tertentu dengan disaksikan para pengikut sekte tersebut.

Kode yang ditinggalkan Sauniere meliputi posisi tubuh yang menyerupai lukisan The Vitruvian Man karya Leonardo Da Vinci dan kode-kode lain yang berbentuk angka-angka, anagram maupun pentagram yang dia lukis di tubuhnya menggunakan darahnya sendiri. Berdasarkan kode-kode ini Sophie, yang didampingi ahli simbol keagamaan dari Harvard bernama Robert Langdon, berusaha untuk menguak kode demi kode yang ditinggalkan Sauniere.

Usaha dekodenisasi terhadap beberapa lukisan Da Vinci, dokumen Les Dossiers Secrets, kitab-kitab injil non-kanonik dan berbagai simbol lain akhirnya berujung pada penemuan beberapa hal yang sangat mengejutkan. Sauniere ternyata pemimpin organisasi The Priory of Sion, yang dahulu juga memiliki anggota beberapa tokoh terkenal, termasuk di dalamnya Leonardo Da Vinci. The Priory of Sion merupakan sebuah sekte keagamaan yang berkomitmen untuk menjaga sebuah rahasia besar. Rahasia itu berhubungan dengan pernikahan Yesus dengan Maria Magdalena dan penunjukan Maria Magdalena sebagai pemimpin gereja oleh Yesus. Para rasul lain, yang semuanya adalah laki-laki, menjadi cemburu melihat hal itu. Mereka akhirnya berusaha memusnahkan rahasia ini. Maria Magdalena dan keturunannya akhirnya terpaksa mengungsi ke Prancis demi keselamatan mereka, mendirikan kota Paris dan menjadi cikal-bakal keturunan bangsawan Prancis yang disebut Merovingian. The Priory of Sion terus-menerus berusaha menjaga rahasia ini. The Kngiht Templar, sebuah organisasi tentara pada jaman Perang Salib, merupakan salah satu pelindung rahasia ini. Berdasarkan keyakinan tersebut, ritual seks dalam sekte The Priory of Sion telah menjadi aktivitas wajib untuk meneruskan darah (keturunan) Yesus dan Maria Magdaena.

Di sisi lain, pihak gereja tradisional yang didominasi kepemimpinan pria berusaha menekan pengaruh Maria Magdalena dan memusnahkan rahasia tersebut. Pada awal abad ke-4 gereja menegaskan doktrin keilahian Yesus yang sebetulnya hanyalah manusia biasa yang juga menikah seperti orang Yahudi yang saleh lainnya. Gereja dipercaya telah menghancurkan berbagai tulisan Kristen kuno lain yang tidak sesuai dengan ajaran gereja tradisional melalui proses kanonisasi pada abad ke-4. Semua langkah ini bisa dilakukan gereja karena pada abad ke-4 gereja telah menjelma menjadi kekuatan mayoritas seiring dengan keputusan Kaisar Konstantinopel untuk menjadikan agama Kristen sebagai agama resmi negara. Dalam periode selanjutnya, gereja tetap berusaha menghapus rahasia pernikahan Yesus dan Maria Magdalena melalui sekte Opus Dei. Pemusnahan ini terus berlanjut sampai kematian Sauniere. Jadi, tindakan Sauniere yang menelepon Sophie sebelum kematiannya merupakan upaya The Priory of Sion untuk tetap meneruskan rahasia tersebut dan meminta Sophie supaya melanjutkan keturunan Yesus-Maria Magdalena.

Apakah DVC hanya sebuah novel?

Penyelidikan yang teliti menunjukkan bahwa Brown tidak melihat novelnya hanya sebagai novel fiksi semata. Ia tampaknya ingin menunjukkan bahwa DVC adalah sebuah novel sejarah (historical novel). Sebagai sebuah novel sejarah, DVC menyiratkan fakta-fakta tertentu. Kenyataannya, novel ini belum layak dikategorikan sebagai novel sejarah. Apa yang dianggap fakta oleh Brown tidak lebih dari sekedar interpretasi Brown terhadap beberapa data. Hal ini jelas bisa berpotensi mengelabui dan membohongi harapan pembaca yang sejak awal melihat DVC sebagai sebuah novel sejarah. Apa saja yang menyebabkan pembaca mendapat kesan bahwa DVC adalah sebuah novel sejarah?

Pertama, pada bagian kata pengantar Brown mengucapkan terima kasih kepada sejumlah institusi ternama yang telah membantu dia dalam melakukan riset sebelum penulisan DVC (hlm 2), yaitu Louvre Museum, the French Ministry of Culture, Project Guttenberg, Bibliotheque Nationale, the Gnostic Society Library, the Department of Paintings Study and Documentation Service at the Louvre, Catholic World News, Royal Observatory Greenwich, London Record Society, the Muniment Collection at Westminster Abbey, John Pike, and the Federation of American Scientists. Ia bahkan secara khusus mengucapkan terima kasih kepada 5 (lima) anggota Opus Dei (3 di antaranya masih aktif) yang bersedia menjadi nara sumber yang menceritakan pengalaman mereka di dalam Opus Dei, baik yang positif maupun yang negatif. Hal ini tentu saja akan memberikan kesan bahwa apa yang ditulis dalam DVC merupakan hasil riset yang bertanggung jawab.

Kedua, setelah bagian kata pengantar,  Brown menggunakan satu halaman khusus untuk menyatakan 3 (tiga) “fakta” dalam novelnya (hlm 3). Apa saja yang diklaim sebagai “fakta” dalam DVC?

  • The Priory of Sion. Pada tahun 1975 Paris’s Bibliotheque Nationale menemukan perkamen yang dikenal dengan nama Les Dossiers Secrets, yang menunjukkan beberapa anggota The Priory of Sion, misalnya Sir Isaac Newton, Botticelli, Victor Hugo dan Leonardo Da Vinci.
  • Opus Dei. Organisasi kaum rohaniwan ini merupakan kumpulan sekte Katholik yang sangat loyal. Opus Dei telah menjadi topik kontroversi sehubungan dengan pencucian otak, pemaksaan dan penyiksaan diri (corporal mortification) yang berbahaya.
  • Semua diskripsi tentang karya seni, arsitektur, dokumen dan ritual-ritual rahasia.

Ketiga, dalam wawancara dengan beberapa stasiun televisi ternama, Brown menegaskan “kebenaran” dari apa yang ia tulis. Pada waktu ia ditanya oleh Matt Lauer dari NBC tentang seberapa banyak bagian DVC yang bisa disebut realita dalam arti benar-benar terjadi, Brown menjawab “Absolutely all of it. Obviously, Robert Langdon is fictional, but all of the art, architecture, secret rituals, secret societies; all of that is historical fact”.

Keempat, tokoh-tokoh fiktif dalam DVC yang membuka kode rahasia ditampilkan Brown sebagai figur yang ilmiah, sehingga menimbulkan kesan apa yang mereka sampaikan berhubungan dengan “kebenaran objektif”. Robert Langdon diperkenalkan sebagai profesor dari Harvard dalam bidang simbol keagamaan (religious symbology), walaupun sebenarnya tidak ada disiplin ilmu tersebut di Harvard. Sophie merupakan ahli kode rahasia (cryptologist). Pembaca juga akan bertemu figur Profesor Teabing yang “sangat mahir” dalam sejarah dan berbagai dokumen kuno.

Strategi penulisan di atas ingin memberikan pesan kepada pembaca bahwa apa yang ditulis dalam DVC benar-benar merupakan fakta. Seberapa banyak “kebenaran” yang diharapkan bisa ditangkap dan diterima oleh para pembaca? Melebihi harapan seseorang ketika ia membaca sebuah novel sejarah! Sayangnya, sebagaimana akan tampak dalam bagian selanjutnya dari makalah ini, untuk dikategorikan sebagai novel sejarah pun DVC sebenarnya belum layak (apalagi sebagai “buku ilmiah” seperti yang dianggap oleh banyak orang). Jelas, DVC bukanlah sekedar novel. Tidak heran, banyak pembaca DVC mengalami kegoncangan iman yang luar biasa (lihat www.salon.com dan www.danbrown.com). Para peninjau seni pun tidak luput dari pengaruh DVC, misalnya USA Today dan Counterculture.

Tidak ada yang baru di bawah matahari

Nasehat Salomo bahwa “tidak ada yang baru di bawah matahari” (Pkh. 1:9) tampaknya berlaku untuk kasus DVC. Brown tidak menulis dalam kevakuman. DVC hanyalah salah satu dari sekian banyak produk yang berasal dari presuposisi tentang konspirasi internasional yang dilakukan pihak gereja untuk menyeragamkan teologi mereka yang sebenarnya tidak didasarkan pada fakta. Meminjam ungkapan yang lebih akademis, DVC merupakan salah satu versi dari pembedaan antara The Historical Jesus (Yesus yang ada dalam sejarah) dan The Christ of Faith (Yesus yang dipahami oleh gereja mula-mula). Spirit jaman seperti ini sudah mulai muncul pada jaman pencerahan (enlightenment) pada sekitar abad ke-17. Dengan pendekatan filosofis yang antisupranaturalis dan pra-anggapan bahwa Alkitab bukanlah firman Allah yang tidak bisa salah, orang berusaha menginterpretasikan ulang kebenaran Alkitab. Gambaran tentang Yesus yang ada di Perjanjian Baru dan berbagai pengakuan iman (kredo) kuno dianggap sebagai hasil rekayasa gereja. Yesus yang dipercayai oleh gereja dipercayai sangat berbeda dengan Yesus yang ada di dalam sejarah.

Dalam konteks akademis, usaha menampilkan Yesus yang berbeda dengan Yesus dalam Perjanjian Baru dan kredo mulai dipopulerkan oleh Herman S. Reimarus (1694-1768). Selanjutnya, mayoritas teolog di Jerman mengadopsi cara pandang yang mirip dengan ini, misalnya William Wrede, Rudolf Bultmann, E. Kasëman, G. Bornkamm, Barbara Thiering. Salah satu hasil diskusi dalam taraf akademis yang perlu diwaspadai adalah Jesus Seminar yang dipelopori oleh Robert W. Funk, Marcus Borg dan John Dominic Crossan. Mereka berusaha membawa hasil diskusi akademis ini ke dalam domain publik melalui penerbitan The Five Gospels: What Did Jesus Really Say? dan wawancara di berbagai stasiun televisi. Dalam The Five Gospels mereka memberikan warna berbeda untuk setiap ucapan Yesus di kitab-kitab Injil plus Injil Thomas untuk menjelaskan perkataan mana yang bisa ditelusuri sebagai berasal dari Yesus sendiri dan mana yang hasil karangan para penulis Alkitab.

Dalam konteks yang lebih populer, kekristenan sempat digemparkan oleh penerbitan novel Holy Blood Holy Grail (Michael Baigent, Richard Leigh, Henry Lincoln), The Last Temptation of Christ (Nikos Kazantzakis), The Woman Wth the Alabaster Jar (Margaret Starbird), The Templar Revolution (Lynn Picknett dan Clive Prince). Cara pandang yang sama juga bisa disimak dalam beberapa film, misalnya Jesus Christ Superstar, The Last Temptation of Christ, The Body, Jesus in the Himalaya, Who is the Real Mary Magdalene.

Penjelasan dalam bagian ini berguna untuk melihat DVC dalam konteks yang lebih komprehensif. Analisa kritis terhadap DVC seharusnya dimulai dari konteks ini. Dengan kata lain, diskusi tentang DVC seharusnya mencakup kredibilitas historis kitab-kitab Perjanjian Baru sebagai buku kuno, validitas pembedaan antara The Historical Jesus dan The Christ of Faith, nilai kitab-kitab non-kanonik, dsb. Setelah membahas hal-hal ini, fokus selanjutnya diarahkan pada analisa detil terhadap DVC yang berkaitan dengan faktualitas beberapa organisasi/sekte (The Priory of Sion, The Knight Templar, Opus Dei), simbol-simbol kuno (anagram, pentagram), lukisan Da Vinci (Monalisa, The Last Supper), dokumen-dokumen Gnostik kuno (Injil Filipus dan Injil Maria), sejarah gereja abad permulaan (seputar kanonisasi dan kredo), “pernikahan” Yesus, dst.

Proses analisa di atas jelas membutuhkan waktu yang panjang dan pengetahuan akademis yang memadai. Dalam seminar ini analisa akan langsung difokuskan pada DVC. Ini pun tidak akan membahas secara khusus tentang simbol-simbol kuno yang dipakai dalam DVC. Seminar ini diharapkan berhasil memberikan pemahaman yang agak komprehensif tentang DVC dari sisi historis, seni maupun biblikal.

The Priory of Sion

Seperti yang sudah disinggung di awal makalah ini, Brown secara eksplisit menyatakan bahwa catatan tentang beberapa organisasi/sekte dalam DVC (The Priory of Sion dan Opus Dei) sebagai fakta. Sejauh mana batasan “fakta” yang dimaksud Brown di sini? Bagian ini hanya akan menganalisa eksistensi The Priory of Sion, karena organisasi ini menjadi dasar dan pusat cerita DVC. The Knight Templar dan Opus Dei hanya ditampilkan Brown sebagai pelengkap cerita saja. Seandainya The Priory of Sion memang pemelihara rahasia pernikahan Yesus-Maria Magdalena dan bahwa Leonardo Da Vinci pernah menjadi anggotanya, maka cerita DVC memiliki benang merah yang sangat masuk akal. Sebaliknya, seandainya keterangan Brown salah (terutama tentang keanggotaan Da Vinci), maka novel/film Brown akan kehilangan inti cerita, yaitu kode Da Vinci. Dengan kata lain, seandainya Da Vinci bukan anggota The Priory of Sion, maka DVC dari sisi historis sudah gagal sejak awal.

Apakah sekte The Priory of Sion sungguh-sungguh ada? Benarkah organisasi ini merupakan pemelihara rahasia pernikahan Yesus-Maria Magdalena melalui indikasi-indikasi implisit dalam berbagai tulisan kuno, lukisan dan arsitektur? Untuk meneliti ini sebaiknya dimulai dari pernyataan Brown sendiri bahwa “faktualitas” The Priory of Sion ia dapatkan dari perkamen di Paris’ Bibliotheque Nationale yang disebut Les Dossiers Secrets. Dalam hal ini Brown sangat dipengaruhi oleh buku Holy Blood Holy Grail yang juga memakai Les Dossiers Secrets sebagai dasar teori mereka. Di sinilah letak kesalahan terbesar Brown. Les Dossiers Secrets adalah dokumen palsu.

Eksistensi perkamen tersebut secara historis dapat ditelusuri sampai pada tahun 1950-an. Seorang berkebangsaan Prancis yang bernama Pierre Plantard mendirikan sebuah kelompok sosial yang kecil pada tahun 1954 yang ia beri nama The Priory of Sion. Tujuan dari organisasi ini adalah mengusahakan perumahan yang murah di negara Prancis. Tahun 1957 organisasi ini bubar, tetapi namanya tetap disangkutpautkan dengan Plantard. Selama tahun 1960-an dan 1970-an Plantard mengumpulkan dokumen-dokumen yang “membuktikan” teori pernikahan Yesus-Maria Magdalena, yang dipercaya sebagai cikal-bakal keturunan raja-raja Prancis yang disebut dinasti Merovingian. Plantard sendiri mengklaim bahwa ia adalah salah satu keturunan dari Yesus-Maria Magdalena. Untuk menyukseskan pendirian monarki Prancis, ia merekrut sejumlah pengikut dan mempopulerkan teori pernikahan Yesus-Maria Magdalena dengan cara meletakkan perkamen-perkamen itu di Bibliotheque Nationale. Beberapa waktu setelah itu, salah seorang sahabat president Prancis terlibat dalam masalah hukum dan Plantard dipanggil untuk memberikan kesaksian terkait dengan Les Dossiers Secrets. Di bawah sumpah ketika dia ditanya di pengadilan ia mengakui bahwa ia mengarang semua cerita dalam dokumen tersebut. Temannya juga menegaskan pengakuan ini. Semua ini telah dicatat dalam banyak buku di Prancis (lihat James Garlow and Peter Jones, Cracking Da Vinci’s Code, hlm. 112).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa organisasi The Priory of Sion memang pernah ada, tetapi bukan seperti yang digambarkan dalam DVC. Tidak ada rahasia besar yang diteruskan oleh organisasi ini. Dengan demikian, keterangan tentang keanggotaan Da Vinci dalam organisasi ini juga fiktif, sehingga yang namanya “Da Vinci Code” juga tidak pernah ada.

Kode dalam karya Da Vinci

Inti lain dari DVC adalah keyakinan Brown bahwa Da Vinci menyimpan kode-kode tertentu dalam beberapa karyanya yang mengarah pada pernikahan Yesus-Maria Magdalena. Ia juga mengutip “pernyataan Da Vinci” yang terkesan negatif terhadap akurasi Perjanjian Baru maupun tradisi dalam gereja. Benarkah Da Vinci adalah seorang yang radikal dalam hal doktrin (iman)?

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah konteks jaman Renaissance pada abad ke-15 di mana Da Vinci hidup. Masa ini ditandai dengan timbulnya semangat mempelajari tulisan-tulisan kuno Yunani-Romawi dan cara pandang humanisme. Dua hal ini, ditambah dengan dekadensi moral di kalangan rohaniwan, pada akhirnya menimbulkan sikap negatif terhadap gereja. Da Vinci juga ofensif terhadap gereja, tetapi bukan seperti yang digambarkan Brown. Da Vinci hanya menyerang dekadensi moral dan kemewahan hidup para rohaniwan waktu itu.

Bagaimana dengan tulisan Da Vinci yang menganggap Perjanjian Baru berisi angan-angan dan mujizat palsu yang menipu banyak orang (hlm. 231)? Brown ternyata telah mengutip pernyataan Da Vinci lepas dari konteksnya (out of context). Pernyataan Da Vinci yang dikutip Brown tidak berhubungan dengan Perjanjian Baru sama sekali. Brown hanya mengambil beberapa kata dari pernyataan Da Vinci tentang masalah kimiawi (bahan/zat). Yang dimaksud penipuan oleh Da Vinci adalah pandangan tradisional yang menganggap air raksa adalah benih dari setiap logam.

Hal kedua yang penting untuk dibahas adalah “kode” dalam lukisan Mona Lisa. Brown menyatakan bahwa ada perpaduan (kesejajaran) antara laki-laki dan perempuan dalam lukisan Mona Lisa (hlm. 120). Ia bahkan menyatakan bahwa nama “Mona Lisa” merupakan sebuah anagram yang merujuk pada dewa-dewa kesuburan Mesir kuno yang bernama dewa Amon dan dewi Isis (yang dalam piktograf disebut L’ISA). Dalam hal ini Brown telah melakukan kesalahan yang fatal. Da Vinci tidak pernah memberi nama lukisannya. Tidak heran, beragam orang menyebut lukisan “Mona Lisa” dengan beragam nama. Sebutan “Mona Lisa” sendiri baru muncul dalam buku karangan Giorgio Vasari tahun 1550 yang berjudul The Lives of the Artist. Jadi, nama “Mona Lisa” baru ada sekitar 30 tahun setelah kematian Da Vinci.

Selain itu, teori anagram Brown juga defektif. Dewa Amon (Ammon atau Amun) adalah dewa matahari yang tidak secara khusus berhubungan dengan kesuburan. Pada waktu dewa Amon dihubungkan dengan seorang dewi, ia disandingkan dengan dewi Muth (bukan Isis).

Lukisan lain yang paling penting dan menjadi inti kode Da Vinci adalah The Last Supper. Menurut Brown, figur di sebelah kanan Yesus adalah Maria Magdalena, karena wajahnya tampak feminin. Hal ini dipertegas dengan posisi Yesus dan Maria Magdalena yang membentuk huruf “V” (simbol rahim/wanita). Petrus sendiri digambarkan seperti sedang mengancam Maria Magdalena dengan posisi tangannya yang sedang memegang pisau di dekat leher Maria Magdalena. Brown juga memberi penekanan pada ketidakadaan cawan perjamuan yang ia percayai dimaksudkan Da Vinci untuk memberitahu bahwa cawan darah perjanjian yang sejati adalah Maria Magdalena.

Tafsiran Brown di atas sangat spekulatif dan tidak sesuai dengan apa yang dipikirkan Da Vinci. Hal terpenting yang perlu diketahi adalah bahwa lukisan ini tidak berbicara tentang perjamuan terakhir ketika Yesus membagikan roti dan anggur sebagai tanda pengorbanannya. Lukisan ini mengisahkan momen ketika Yesus memberitahu siapa yang akan mengkhianati Dia (Yoh 13:21-24). Hal ini didukung oleh beberapa bukti: (1) semua murid saling menanyakan satu kepada yang lain; (2) Petrus menanyai seorang murid yang duduk di sebelah kanan Yesus. Karena momen yang dicatat adalah perjamuan terakhir versi Yohanes, maka tidak ada catatan tentang cawan, karena dalam Yohanes 13 Yesus memang tidak membagikan roti dan anggur.

Tafsiran di atas sekaligus bisa menjelaskan posisi Yesus dan figur yang ada di sebelah kanannya (menurut Yohanes 13:23 figur ini adalah Yohanes). Posisi Yohanes (atau Maria Magdalena menurut Brown) yang agak condong ke kanan berguna untuk menunjukkan sebuah harmoni, yaitu murid-murid dikelompokkan ke dalam 4 grup masing-masing terdiri dari 3 orang. Selain itu, posisi ini juga penting untuk menampilkan Yesus sebagai pusat dari lukisan ini. Yesus berada di tengah dan tampak sendirian (terpisah) dari empat kelompok murid yang ada.

Sehubungan dengan identitas figur di sebelah kanan Yesus, dia pasti salah seorang dari 12 murid. Kitab-kitab Injil menunjukkan bahwa pada saat perjamuan terakhir 12 murid bersama dengan Yesus, baru setelah itu Yudas pergi meninggalkan mereka (Yoh 13:27-30). Seandainya figur itu adalah Maria Magdalena, hal ini akan meninggalkan sebuah pertanyaan tentang siapa di antara 12 murid yang tidak hadir pada waktu momen penting tersebut.

Tentang figur Yohanes yang tampak feminin, hal ini harus dipahami dalam konteks jaman Renaissance. Orang-orang pada jaman itu terbiasa menggambarkan figur “murid yang ideal” dengan wajah yang tampak sangat muda, rambut yang panjang dan wajah yang  bersih dari kumis dan jenggot. Gambaran ini berguna untuk menunjukkan bahwa seorang murid masih belum berpengalaman dan perlu terus bersama dengan gurunya. Tidak heran, wajah Yohanes dalam beberapa lukisan jaman Renaissance juga memiliki penampilan yang hampir sama dengan yang ada di lukisan The Last Supper. Gambaran tentang murid yang ideal untuk Yohanes sangat sesuai dengan karakter Yohanes di Injil Yohanes. Ia disebut dengan “murid yang dikasihi Tuhan” dan paling cepat memahami sesuatu (Yoh 20:2, 4, 8; 21:7, 20).

Maria Magdalena di luar Alkitab

Figur Maria Magdalena memiliki peranan sangat sentral dalam DVC. Secara umum dapat dikatakan bahwa misteri yang ingin diungkap dalam DVC berpusat pada Maria Magdalena (dan Yesus). Gambaran “baru” tentang Maria Magdalena dalam DVC berhubungan dengan pemunculan Maria Magdalena dalam tulisan bapa gereja dan naskah-naskah kuno yang beraliran Gnostik.

Datum pertama terdapat dalam tulisan bapa gereja Hippolytus, abad ke-3, dalam tafsiran Kidung Agung 24-26. Ia menulis “supaya rasul-rasul wanita tidak meragukan malaikat-malaikat, Kristus sendiri datang kepada mereka supaya mereka menjadi rasul-rasul Kristus dan dengan ketaatan mereka memperbaiki dosa Hawa yang dulu…Kristus datang kepada rasul-rasul laki-laki dan berkata kepada mereka:…’Akulah yang menampakkan diri kepada wanita-wanita ini dan Akulah yang mengirim mereka kepadamu sebagai rasul [dari para rasul]’”.

Text berikutnya yang penting adalah Injil Filipus 63:32-64:10. Bagian yang paling kontroversial terdapat dalam pasal 63:33-36 “dan teman/istri dari [….] Maria Magdalena. […mengasihi] dia lebih daripada [semua] murid dan [terbiasa] mencium dia [sering] pada […]nya”. Tanda kurung di atas menunjukkan bagian yang hilang dari naskah kuno yang ditemukan, sehingga menimbulkan spekulasi beragam dari para sarjana. Berdasarkan konteks bagian ini, konteks Injil Filipus secara umum (terutama pasal 58-59) dan ukuran bagian yang  hilang para sarjana mencoba merekonstruksi kata apa yang telah hilang. Mereka umumnya merekonstruksi seluruh teks di atas sebagai berikut: “dan teman (istri) dari Juru Selamat Maria Magdalena mengasihi dia lebih daripada semua murid yang lain dan terbiasa mencium dia sering pada mulutnya”. Rekonstruksi seperti ini dianggap menyiratkan bahwa Maria Magdalena adalah istri Yesus.

Teks terakhir berasal dari kitab yang ditulis pada abad ke-2, yang bernama Injil Maria Magdalena. Bagian yang sangat kontroversial adalah Injil Maria 17:10-18:21 yang berbunyi sebagai berikut:

Tetapi Andreas menjawab dan berkata kepada saudara-saudara, “katakan apa yang ingin kalian katakan tentang apa yang telah ia (Maria Magdalena) katakan. Aku setidaknya tidak percaya kalau Juru Selamat mengatakan seperti itu, karena ajaran-ajaran itu jelas merupakan hal yang aneh”. Petrus menjawab dan mengatakan hal yang sama. Ia menanyakan mereka tentang Juru Selamat: “apakah Ia sungguh-sungguh berbicara dengan seorang wanita tanpa pengetahuan kita dan tidak secara publik? Akankah kita berpaling dan semua mendengarkan dia (Maria Magdalena)? Apakah Ia lebih memilih dia daripada kita?” Lalu Maria meratap dan berkata kepada Petrus, “Saudaraku Petrus, apa yang engkau pikirkan? Apakah engkau berpikir bahwa aku sendiri telah memikirkan hal ini atau aku sedang berdusta tentang Juru Selamat?” Lewi menjawab dan berkata kepada Petrus, “Petrus, engkau selalu temperamental. Sekarang aku melihat engkau menentang seorang wanita seperti musuh. Tetapi jika Juru Selamat membuat dia layak, akankah engkau sungguh-sungguh menolaknya? Juru Selamat tentu mengenal dia sangat baik. Itulah sebabnya Ia mengasihi dia lebih daripada kita. Sebaliknya, biarlah kita malu dan memakai Manusia sempurna, berpisah sebagaimana Ia memerintahkan kita dan memberitakan Injil, tidak meletakkan hukum atau peraturan lain selain apa yang Juru Selamat katakan.

Sebelum membahas teks-teks tersebut secara detil, ada beberapa penjelasan dalam DVC yang perlu ditambahkan sehubungan dengan isu kepemimpinan Maria Magdalena. Brown menganggap sumber kuno di atas sebagai bukti atau dasar untuk mengetahui hubungan Yesus dan Maria Magdalena yang sebenarnya. Kanonisasi yang dilakukan gereja pada abad ke-4 (setelah gereja memiliki kekuatan karena dijadikan agama negara) merupakan cara untuk menyingkirkan “sumber-sumber terpercaya” ini dan untuk memberi legitimasi pada kitab-kitab yang sejalan dengan ajaran gereja. Usaha ini selanjutnya didukung oleh berbagai konsili (terutama Konsili Nicea, tahun 325) yang menghasilkan kredo yang menampilkan keilahian Yesus.

Bagaimana meresponi catatan-catatan kuno di atas? Pertama, tentang catatan Hippolytus. Untuk memperjelas masalah, perlu diketahui bahwa frase “rasul dari para rasul” tidak ada dalam tulisan Hippolytus. Tambahan “dari para rasul” baru muncul pada abad ke-10. Hippolytus memang menyebut Maria Magdalena sebagai rasul wanita. Hal ini sesuai dengan catatan kitab-kitab Injil yang menceritakan tentang penampakan diri Yesus kepada Maria Magdalena dan pengutusan Yesus supaya Maria Magdalena pergi kepada para murid (band. Yoh 20:17). Dari sini terlihat bahwa sebelum Konsili Nicea, gereja mula-mula dan bapa-bapa gereja dari kalangan ortodoks tetap mengakui posisi Maria Magdalena sebagai rasul.

Apakah hal itu berarti pandangan Brown benar? Perlu diperhatikan, kutipan Hippolytus tidak berbicara secara khusus tentang Maria Magdalena. Bentuk jamak yang dikenakan pada rasul-rasul wanita dalam kutipan ini menunjukkan bahwa Hippolytus memikirkan perempuan-perempuan lain juga sebagai rasul. Namun, apakah maksud istilah “rasul” di sini? Dalam Perjanjian Baru, kata rasul (apostolos) bisa merujuk pada tiga kelompok: 12 murid (Mat 10:2//Luk 6:13), orang-orang tertentu yang memegang kepempinan dalam gereja secara resmi (misalnya Paulus dan Barnabas, Kis 14:14; Rom 1:1) dan orang-orang Kristen secara umum yang memberitakan Injil (1Kor 9:5-6; 2Kor 8:3, 23; Flp 2:25). Dari konteks kutipan Hippolytus terlihat bahwa “rasul-rasul wanita” adalah mereka yang melihat peristiwa kebangkitan dan diutus memberitakan kabar baik. Jadi, “rasul” di sini tidak berhubungan dengan posisi formal kepemimpinan dalam gereja. Seandainya ini diterima, maka tidak ada yang istimewa dalam kutipan Hippolytus, karena Perjanjian Baru juga menyebut beberapa wanita sebagai rasul maupun nabi, misalnya Yunias (Rom 16:7), anak-anak Filipus (Kis 21:9).

Kedua, tentang Injil Filipus. Ada beberapa hal yang memicu perdebatan para sarjana. Yang terutama adalah arti kata koinonos dalam frase “teman/istri dari [Juru Selamat]”. Kata koinonos bisa berarti teman atau istri. Berdasarkan pemakaian kata ini dalam literatur Yunani, koinonos sebaiknya dipahami sebagai teman. Seandainya yang dimaksud adalah “istri”, maka penulis Injil Filipus pasti akan memakai kata yang lebih umum, yaitu gunh.

Hal lain yang perlu dibahas adalah ciuman Yesus kepada Maria Magdalena. Kita perlu memahami bahwa tulisan-tulisan Gnostik penuh dengan simbol. Maria Magdalena sendiri dalam Injil Filipus digambarkan sebagai Sang Hikmat, ibu dari para malaikat dan saudara perempuan dari Juru Selamat. Berdasarkan pemahaman tentang genre dan teologi Gnostik ini, kita sebaiknya memahami ciuman Yesus “di bibir” (seandainya kata yang hilang memang demikian) dalam kitab ini secara simbolis, yaitu penerusan firman. Hal ini bisa dipahami karena figur Maria Magdalena sebagai Sang Hikmat. Kasih Yesus kepada Maria Magdalena yang melebihi murid-murid lain bisa dimengerti dengan mudah apabila dikaitkan dengan posisi Maria Magdalena secara mistis dalam tulisan Gnostik.

Ketiga, tentang Injil Maria Magdalena. Sebagaimana dalam tulisan Gnostik lainnya, kitab ini juga memiliki ungkapan-ungkapan yang simbolis dan misterius. Tidak terkecuali Injil Maria Magdalena 17:10-18:21. Teks ini menggambarkan pertentangan antara aliran ortodoks (diwakili oleh Petrus) dan aliran minoritas lain (diwakili tokoh wanita Maria Magdalena). Pertentangan ini juga hanya berhubungan dengan wahyu Allah, bukan jabatan gerejawi. Kaum Gnostik menganggap diri sebagai penerima pengetahuan yang rahasia dari Kristus, sedangkan pengetahuan ini bertentangan dengan ajaran gereja pada umumnya. Jadi, teks ini sama sekali tidak membicarakan tentang perebutan posisi kepemimpinan dalam gereja.

Kanonisasi, konsili dan kitab-kitab non-kanonik

Setelah membahas kitab-kitab non-kanonik yang berhubungan dengan Maria Magdalena, kita sekarang akan menyelidiki isu yang lebih luas, yaitu posisi kitab-kitab non-kanonik dalam gereja abad permulaan. Brown berpendapat bahwa sejarah berada di tangan yang memiliki kuasa (hlm. 356). Berdasarkan asumsi ini ia meyakini bahwa kanonisasi dan konsili mulai abad ke-4 hanyalah upaya gereja untuk menindas pihak minoritas. Gereja ingin menampilkan Yesus sebagai figur yang ilahi, karena itu berbagai ajaran yang berbeda dengan pandangan mayoritas (ortodoks) ini sengaja dikesampingkan, terutama pernikahan Yesus-Maria Magdalena dan penunjukkan Maria Magdalena sebagai pemimpin gereja, seperti tercatat dalam kitab-kitab non-kanonik.

Untuk menjawab pandangan DVC di atas, kita perlu memaparkan beberapa hal. Usaha kanonisasi pada abad ke-4 bukanlah usaha awal untuk menentukan kitab-kitab yang diterima gereja. Dari tulisan bapa-bapa gereja sebelum abad ke-4 terlihat bahwa kitab-kitab kanonik sebenarnya sudah diterima secara praktis di gereja dalam bentuk pemakaian kitab-kitab tersebut dalam pembacaan publik di ibadah. Pembacaan dalam ibadah ini berakar dari ibadah Yahudi di synagoge dan bait Allah (band. Luk 4:16-21; 1Tim 4:13). Secara khusus berkaitan dengan keempat kitab Injil, dokumen kuno sebelum abad ke-4 sudah mengakui otoritas kitab-kitab tersebut, misalnya Diatesseron. Jadi, penerimaan kitab-kitab kanonik sebagai firman Allah sudah dilakukan secara non-formal jauh sebelum gereja memegang dominasi pada masa pemerintahan Kaisar Konstantinopel. Kanonisasi hanyalah keputusan resmi (formal) dan menyeluruh dari gereja-gereja yang ortodoks.

Kebutuhan gereja untuk mengetahui dengan jelas kitab apa saja yang merupakan firman Allah tidak bisa dilepaskan dari situasi gereja pada abad ke-2 dan ke-3. Mereka berada di bawah penganiayaan yang hebat. Kepemilikan kitab suci bisa menjadi alasan yang kuat bagi pemerintah untuk menangkap orang Kristen. Di tengah situasi seperti ini mereka merasa perlu mengetahui kitab-kitab mana yang benar-benar firman Allah, karena pada saat itu kitab-kitab lain juga banyak bermunculan. Mereka ingin diyakinkan bahwa mereka membayar harga mahal untuk firman Allah, bukan untuk kitab-kitab lain yang tidak berotoritas. Selain itu, keberadaan berbagai bidat pada masa itu juga mendorong gereja untuk memiliki pedoman yang jelas yang benar-benar meneruskan ajaran para rasul.

Kita juga perlu memahami bahwa pertentangan dengan ajaran yang tidak sesuai dengan ortodoksi bukan dimulai pada abad ke-4. Pada masa gereja masih menjadi minoritas pada abad ke-2 dan ke-3, bapa-bapa gereja sudah menentang ajaran yang dianggap tidak ortodoks. The Muratorian Canon (abad ke-2) secara eksplisit menyatakan tulisan-tulisan Valentinus dan Marcion harus dibuang dari gereja. Irenaeus (abad ke-2) menulis kitab Against Heresies untuk menegaskan tradisi kekristenan dan sekaligus menentang para bidat.

Hal lain yang perlu kita pahami adalah kriteria kanonisasi. Bagaimana gereja di abad ke-2 dan ke-3 memilih kitab-kitab mana yang pantas dibaca di dalam ibadah? Bagaimana konsili menentukan kitab-kitab mana yang layak dianggap sebagai kanon (pedoman)? Jawaban terhadap pertanyaan ini ada tiga:

  • Kriteria tradisi.

Suatu kitab diakui sebagai firman Allah yang berotoritas jika sejak jaman para rasul kitab itu memang sudah diterima oleh gereja mula-mula secara universal. Kriteria ini berhubungan dengan eksistensi para rasul dan gereja induk di Yerusalem sebagai alat kontrol (band. Kis 11 dan 15). Seandainya suatu kitab sejak jaman para rasul memang beredar secara luas dan dipakai dalam ibadah, maka itu berarti kitab tersebut mendapat “pengesahan” dari para rasul sebagai firman Allah. Dari kriteria ini terlihat bahwa kanonisasi justru berakar pada situasi abad pertama ketika orang Kristen masih menjadi minoritas dan dianiaya. Kriteria ini sekaligus juga menolak kitab-kitab non-kanonik yang baru ditulis mulai abad ke-2 dan ditolak oleh bapa-bapa gereja.

  • Kriteria wibawa apostolik.

Allah menyatakan wahyu-Nya kepada hamba-hamba-Nya. Para rasul merupakan saksi mata dan penerus tradisi dari Yesus. Dua hal inilah yang turut melandasi kanonisasi. Suatu kitab diakui sebagai firman Allah kalau memang bersumber dari para rasul sebagai saksi mata dan penerima ajaran Yesus pertama kali. Berdasarkan kriteria ini, kitab-kitab non-kanonik dengan sendirinya tidak memenuhi syarat, karena mereka ditulis jauh setelah masa hidup para rasul.

  • Kriteria ortodoksi.

Suatu kitab yang diakui dalam kanon tidak mungkin mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan wahyu Allah sebelumnya maupun kitab yang lain, karena Allah adalah sumber pengilhaman kitab suci. Alkitab tidak mungkin mengandung kontradiksi. Pandangan DVC bahwa kitab-kitab non-kanonik ditolak gereja karena bertentangan dengan ajaran ortodoks tidak bisa dipertahankan. Pandangan tersebut didasarkan pada asumsi bahwa gereja seharusnya menerima kitab lain yang bertentangan sekalipun.

Sekarang mari kita membahas klaim dalam DVC bahwa doktrin keilahian Yesus baru diciptakan gereja pada abad ke-4 (Konsili Nicea) untuk mengaburkan figur Yesus yang sebenarnya hanyalah manusia biasa yang menikah, mempunyai anak dan bisa mati. Pengakuan terhadap keilahian Yesus sebenarnya sudah muncul pada abad ke-1. Dalam bagian ini saya tidak akan memberikan ayat-ayat dari kitab Injil, karena hal itu bisa dianggap tendensius dan bersifat circular reasoning (kita sedang mendiskusikan validitas catatan tentang Yesus dalam kitab-kitab Injil, tetapi kita menggunakan kitab tersebut sebagai dasar argumen). Ada beberapa teks yang signifikan. Dalam Galatia 1:11-24 (yang ditulis sekitar tahun 50-an), Paulus membuktikan bahwa Injil yang ia beritakan berakar dari ajaran yang bersumber dari Yesus sendiri melalui para rasul maupun pertemuan pribadinya dengan Tuhan di Damaskus (Kis 9). Rujukan penting lainnya ada di Filipi 2:6-11. Paulus mengutip hymne gereja mula-mula yang menyinggung keilahian Yesus (ayat 6-8) dan mengaplikasikan Yesaya 45:23 untuk Yesus. Karena ayat paling awal tentang keilahian Yesus terdapat dalam Filipi 2:9-11, ketika ia mengutip sebuah hymne. Dari pemaparan ini terlihat bahwa doktrin keilahian Yesus bukanlah ciptaan gereja abad ke-4.

Asumsi DVC bahwa doktrin keilahian Yesus sengaja diciptakan untuk menghilangkan sisi kemanusiaan Yesus juga tidak bisa dipertanggungjawabkan. Kitab-kitab Injil mengajarkan kemanusiaan Yesus. Ia lahir dari seorang manusia, bertumbuh seperti anak-anak pada umumnya, merasakan lapar dan haus, bahkan mati. Seandainya Yesus memang menikah dan mempunyai anak, hal ini tidak akan membahayakan keilahian Yesus. Hal ini bahkan semakin memperkuat ajaran Alkitab tentang kemanusiaan Yesus.

Apakah Yesus menikah?

DVC mengajarkan bahwa Yesus menikah dengan Maria Magdalena. Dasar yang dipakai adalah kutipan dari Injil Filipus (hlm. 246-247) dan asumsi bahwa selibat bukanlah praktek yang bernuansa Yahudi (hlm. 245). Sebagai orang Yahudi, Yesus pasti menikah. Alasan pertama tidak akan dibahas dalam bagian ini, karena telah disinggung dalam bagian sebelumnya. Bagian ini hanya akan menanggapi alasan kedua yang dipakai DVC. Kita juga akan melihat beberapa teks yang berhubungan dengan kemungkinan apakah Yesus menikah atau tidak.

Sehubungan dengan asumsi Brown tentang keharusan orang Yahudi yang saleh untuk menikah, kita perlu mengetahui bahwa pada jaman Yesus ada sekelompok orang Yahudi yang saleh yang justru tidak menikah. Mereka dikenal sebagai masyarakat Qumran dan kaum Essenes. Naskah Laut Mati dan kitab sejarah Josephus menegaskan bahwa dua kelompok tersebut menganut gaya hidup selibat. Yesus sendiri mengakui keistimewaan gaya hidup ini dalam kaitan dengan fokus untuk kerajaan Allah (Mat 19:10-12).

Catatan Alkitab yang mengajarkan bahwa Maria Magdalena ikut bepergian bersama Yesus tidak bisa dijadikan alasan kuat untuk menganggap keduanya suami-istri. Lukas 8:1-3 memang mencatat Maria Magdalena bepergian bersama Yesus, tetapi kita tidak boleh lupa bahwa ayat itu juga mencatat nama-nama wanita lain, yaitu Susana dan Yohana. Kalau mau konsisten, kita juga harus mengakui bahwa Yesus menganut poligami. Seandainya Maria Magdalena adalah istri yang menyertai Yesus, bukankah Lukas pasti akan menghilangkan nama-nama wanita lain dalam Lukas 8:1-3?

Sama dengan ayat di atas, Alkitab biasanya menyebut Maria Magdalena dalam hubungan dengan wanita lain: ia dan wanita-wanita lain bepergian bersama Yesus (Luk 8:1-3), menyertai Yesus ke kayu salib (Mat 27:55-56//Mar 15:40-41; Yoh 19:25) dan tetap ada di sana (Mat 27:61). Satu-satunya ayat yang menyebut Maria Magdalena muncul sendirian dengan Yesus adalah Yohanes Yohanes 20:11-18. Tindakan Maria yang memeluk Yesus dalam teks ini memang tidak wajar dalam kultur Yahudi, namun hal ini bisa dipahami sebagai spontanitas Maria sebagai luapan keterkejutan dan kegembiraan bahwa Yesus masih hidup (ia sebelumnya tidak memiliki pikiran bahwa Yesus akan bangkit kembali).

Sekarang mari kita melihat beberapa teks yang menyiratkan bahwa Yesus tidak menikah dengan Maria Magdalena. Pertama, Maria Magdalena tidak pernah dikaitkan dengan nama seorang pria. Teks yang penting adalah Matius 27:55-56, Markus 15:40-41, Lukas 8:2 dan Yohanes 19:25. Nama-nama wanita dalam teks ini muncul dalam hubungan dengan suami atau anak mereka, tetapi khusus untuk Maria Magdalena ia diterangkan dengan asal usulnya, yaitu Magdala (Magdalena). Seandainya ia sudah menikah atau memiliki anak, ia pasti akan disebut seperti wanita-wanita lain dalam teks-teks tersebut.

Kedua, 1Korintus 9:4-6. Dalam bagian ini Paulus memberikan argumen bahwa ia sebenarnya layak untuk mendapatkan bantuan dari jemaat untuk pelayanannya. Secara khusus ia mengatakan bahwa ia memiliki hak yang sama dengan Petrus dan para rasul lain yang membawa istri mereka. Seandainya Yesus memang menikah dengan Maria Magdalena dan mereka sering bepergian bersama, maka Paulus pasti akan menyebutkan hal itu sebagai dasar argumen yang lebih kuat untuk menegaskan pendapatnya.

Ketiga, Yohanes 19:26-27. Teks ini mencatat salah satu fase hidup yang penting, yaitu penyaliban-Nya. Di dekat salib, beberapa wanita mengikuti Yesus, termasuk ibunya, Maria. Seandainya Yesus sudah menikah, kita bertanya-tanya mengapa “istri” Yesus tidak hadir pada saat yang krusial ini. Alkitab juga mencatat bahwa Yesus memperhatikan ibu dengan cara menyerahkannya dalam pemeliharaan Yohanes. Seandainya Maria Magdalena adalah istri, bukankah Yesus seharusnya lebih memperhatikan dia atau, paling tidak, memperhatikan dia dan ibunya sekaligus?

 Keempat, anggota keluarga Yesus disebut beberapa kali dalam Alkitab. Ayah, ibu dan saudara-saudara-Nya muncul beberapa kali (Mat 1:18-25; Mar 6:3; Yoh 7:3). Seandainya Yesus menikah dengan Maria Magdalena, Alkitab pasti akan menyebutkan istri-Nya itu, walaupun mungkin cuma sekali. Kenyataannya, semua keluarga Yesus disebut berkali-kali dalam Alkitab, tetapi “istri”-Nya tidak pernah disebut sekalipun.

Leave a Reply