PENETAPAN ALLAH ATAS DOSA DAN SIFAT KUDUS ALLAH

Yakub Tri Handoko, Th. M.

Eksistensi dosa dalam dunia telah menjadi pusat perdebatan sepanjang abad, baik di kalangan filsuf maupun teolog. Habakuk pernah bergumul dengan isu ini ketika ia menanyakan mengapa Allah diam ketika orang fasik memakan orang benar (Hab 1:2-4) atau ketika Allah justru memakai bangsa yang berdosa untuk menggenapi rencana-Nya (Hab 1:13)? Asaf juga mempertanyakan keadilan dan kesetiaan Allah ketika ia melihat orang fasik sukses sementara orang benar justru menderita (Mzm 73:1-12)?

Seandainya dunia memang diciptakan oleh Allah yang mahakudus, mahabaik dan mahakuasa, mengapa ada dosa dalam dunia? Apakah Allah sudah tahu sebelumnya sejak kekekalan tetapi Ia tidak berkuasa untuk mengubah hal ini? Apakah Ia tidak berkuasa menciptakan dunia yang lebih baik? Atau, sebaliknya, apakah dosa memang sudah berada dalam penetapan Allah? Kalau memang yang terakhir ini benar, apakah itu tidak berkontradiksi dengan sifat Allah yang kudus? Seberapa jauh Allah terlibat dalam eksistensi dosa dalam dunia? Deretan pertanyaan ini dalam dunia teologi dikenal dengan pertanyaan seputar theodicy.[1]

Kaum ateis menganggap isu ini sebagai bukti terkuat untuk menolak eksistensi Allah. Salah satu argumen klasik yang berkaitan dengan isu ini dipopulerkan oleh David Hume. Ia menganggap eksistensi dosa membuktikan tiga kemungkinan: Allah tidak mahakuasa, tidak mahakudus/baik atau tidak ada Allah sama sekali.[2] Ronald H. Nash, salah satu penganut teisme ternama, juga mengakui bahwa serangan terkuat dari pihak ateis terhadap teisme berkaitan dengan topik ini.[3]

Perdebatan di atas ternyata tidak hanya melibatkan kaum ateis dan teis. Mereka yang memegang teisme pun memiliki pandangan yang beragam berkaitan dengan topik ini.[4] Benedict Spinoza dan Christian Science menganggap dosa hanya sebagai ilusi. Armenianisme menganggap eksistensi dosa hanya berhubungan dengan pra-pengetahuan Allah, bukan penetapan Allah. Menurut mereka, Allah tidak merencanakan dosa dalam dunia, Ia hanya membiarkan hal itu ada. Zoroastrianisme dan Manicheanisme memegang dualisme kosmologis yang menganggap Allah dan dosa/kejahatan sama-sama bersifat kekal. Golongan Reformed percaya bahwa dosa berada di dalam ketetapan Allah, namun Allah bukan pencipta dosa.[5]

 Dalam makalah ini, Penulis pertama-tama akan menyinggung penetapan atas dosa secara umum dari perspektif Alkitab (Reformed). Setelah itu Penulis akan menjelaskan bahwa eksistensi dosa tidak berkontradiksi dengan natur Allah yang mahakudus. Bagian terakhir akan difokuskan pada usaha untuk mengetahui, sejauh yang Alkitab nyatakan, mengapa Allah menetapkan dosa.

Penetapan Allah atas dosa

Pada bagian ini Penulis akan mencantumkan data Alkitab tentang Allah dan dosa. Pemaparan ini akan dibagi menjadi dua: Allah dan dosa sebelum dan setelah kejatuhan.[6] Setelah memaparkan data Alkitab yang ada, Penulis akan menyelidiki apakah penetapan atas dosa sejak kekekalan hanyalah sebuah perijinan atau memang penetapan aktif Allah?

Data Alkitab tentang Allah dan dosa

 Penetapan sebelum kejatuhan

Berkaitan dengan penetapan dosa sebelum kejatuhan, Alkitab memang tidak memberikan banyak rujukan yang eksplisit. Bagaimanapun, ayat-ayat berikut ini memberikan inferensi yang cukup konklusif tentang hal itu.

  • Kisah Rasul 4:27-28.

Ayat ini menunjukkan bahwa Allah telah menentukan dari semula (proorizw) dosa orang-orang yang menyalibkan Yesus. Dari teks Yunani yang ada, tidak ada indikasi yang jelas tentang kapan penentuan ini dilakukan. Kata proorizw – yang terdiri dari pro = sebelum dan orizw = menetapkan – secara hurufiah berarti “menentukan sebelumnya”. Beberapa versi menerjemahkan “determined before” (KJV), “had decided beforehand” (NIV), “predestined” (RSV/NASB) atau “dari semula” (LAI:TB). Berdasarkan penggunaan proorizw di Perjanjian Baru dapat disimpulkan bahwa kata ini merujuk pada penentuan sebelum dunia dijadikan. Kata yang muncul sebanyak 6 kali ini selalu dipakai dalam konteks sebelum dunia dijadikan (Rom 8:29-30; 1Kor 2:7; Ef 1:5, 11).

  • Efesus 1:4.

Dalam ayat ini diajarkan bahwa Allah memilih orang percaya di dalam Kristus sebelum dunia dijadikan. Walaupun ayat ini tidak secara eksplisit menjelaskan penetapan dosa sejak kekekalan, tetapi inferensi ke arah itu sangat jelas. Ayat ini menyiratkan bahwa kejatuhan manusia ke dalam dosa sudah berada dalam rencana Allah, karena itu Ia juga telah menetapkan Kristus sebagai penebus. Ide yang sama juga dinyatakan dalam 1Petrus 1:20.

  • Wahyu 13:8; 17:8.

Dua teks di atas menyebutkan eksistensi orang-orang yang namanya tidak ada dalam kitab kehidupan sebelum dunia dijadikan. Makna yang tersirat dari ayat tersebut sudah jelas: dosa sudah berada dalam rencana Allah sebelum dunia dijadikan.

Penetapan setelah kejatuhan

Alkitab memberikan banyak contoh eksplisit “keterlibatan” Allah dalam dosa atau kejahatan. Beberapa yang penting untuk diketahui antara lain:

  • Kejadian 45:4-8.

Dalam teks ini Yusuf menegaskan sebanyak 3 kali bahwa ia ada di Mesir karena Allah yang mengirim dia ke sana (ayat 5, 7, 8). Hal ini membuktikan bahwa semua tindakan jahat yang dialami Yusuf juga ditetapkan oleh Allah, misalnya keirihatian dan kebencian saudara-saudaranya serta fitnah istri Potifar.

  • Keluaran 7:1-4.

Teks ini menunjukkan bahwa Allahlah yang mengeraskan hati Firaun sehingga ia menolak membiarkan bangsa Israel pergi. Setelah mereka keluar dari Mesir, Allah juga yang mengeraskan hati Firaun sehingga ia mengejar mereka dan akhirnya binasa di laut (Kel 14:4). Paulus menyinggung peristiwa ini dan memberikan konklusi bahwa Allah menaruh belas kasihan atau mengeraskan hati seseorang sesuai dengan kehendak-Nya (Rom 9:18). Bagian Alkitab lain yang sama dengan ayat-ayat di atas adalah Ulangan 2:30-31, 1Sam 2:22-25.

  • Hakim-hakim 14:1-4.

Ayat ini secara eksplisit menjelaskan bahwa Allah memang menghendaki Simson untuk menikah dengan orang Filistin, sehingga Allah memiliki kesempatan untuk melawan bangsa Filistin.

  • 1Raja-raja 22:21-22.

Ayat ini mungkin merupakan salah satu ayat yang paling eksplisit yang mengajarkan “keterlibatan” Allah dalam dosa. Ayat lain yang juga eksplisit adalah 1Samuel 16:14 (Allah mengirim roh jahat) dan 1Samuel 24:1//1Taw 21:1 (Allah dan Iblis terlibat bersama-sama dalam dosa Daud).

Ayat-ayat yang telah dipaparkan di atas hanyalah sebagian dari sekian banyak rujukan dalam Alkitab yang mengajarkan bahwa Allah dalam tingkat tertentu memang terlibat dalam dosa. Seberapa jauh Allah “terlibat” dalam eksistensi dosa akan dibahas dalam bagian selanjutnya. Bagaimanapun, ayat-ayat di atas cukup jelas menyatakan bahwa kekudusan Allah tidak berarti Ia sama sekali tidak berhubungan dengan dosa. Bukankah Yesus Kristus – Allah dan manusia sejati yang tidak mengenal dosa – juga dijadikan berdosa karena pelanggaran manusia (2Kor 5:21)?

Sifat penetapan Allah atas dosa

Apakah dalam kasus eksistensi dosa, penetapan Allah hanya bersifat pasif saja (sekedar membiarkan hal itu terjadi) atau aktif (merencanakan hal itu)? Sebagian orang lebih memilih alternatif pertama, karena dianggap lebih bisa mengharmonisasikan eksistensi dosa dengan kekudusan/kebaikan Allah. Bagaimanapun, data Alkitab dan logika justru lebih mendukung penetapan Allah yang aktif.

  • Konsep tentang Allah yang hanya membiarkan sesuatu terjadi membahayakan konsep tentang kedaulatan-Nya yang mutlak.

Istilah “membiarkan” menyiratkan kesan bahwa ada sesuatu di luar diri Allah yang mendorong terjadinya sesuatu. Allah hanya memiliki dua pilihan: mencegah atau membiarkan hal itu terjadi. Pemikiran seperti ini jelas bertentangan dengan natur Allah yang berdaulat. Ia menetapkan segala sesuatu bukan berdasarkan pra-pengetahuan-Nya, tetapi kedaulatan-Nya.

  • Kalau Allah mengetahui lebih dahulu baru menetapkan itu untuk terjadi, siapa yang mendorong segala sesuatu tersebut untuk terjadi seperti yang Allah ketahui sebelumnya?
  • Kalau Allah mengetahui sesuatu akan terjadi – sedangkan pengetahuan Allah bersifat pasti – mengapa Allah masih perlu menetapkan hal itu untuk terjadi? Bukankah tanpa ditetapkan pun semuanya pasti akan terjadi seperti yang Allah ketahui?
  • Bukankah pola pemilihan dan penetapan Allah dalam Alkitab juga tidak didasarkan pada pra-pengetahuan Allah (Rom 9:10-12; Ef 1:4, 5, 9)?
  • Konsep tentang Allah yang hanya membiarkan sesuatu terjadi tidak menjawab masalah yang sebenarnya.

Seperti telah disinggung sebelumnya, konsep perijinan dosa meletakkan Allah pada dua pilihan: mencegah atau membiarkan dosa terjadi. Menurut penganut teori perijinan, Allah hanya membiarkan dosa terjadi, sehingga tidak bisa disalahkan dan masalah selesai. Benarkah ini adalah jawaban yang memuaskan? Sama sekali tidak! Orang akan tetap bertanya, “bukankah Allah bisa mencegah (karena Ia mahakuasa)? Mengapa Dia tidak melakukan itu?” John Calvin[7] dan Gordon H. Clark[8] secara tegas menolak konsep perijinan seperti ini. Robert L. Reymond menjelaskan hal ini dalam konteks legal sebagai berikut: jika seseorang mengetahui bahwa anaknya memiliki keinginan untuk membunuh dan ia tidak mencegah, sebaliknya ia malah membekali anak itu dengan ketrampilan khusus, maka walaupun ia sudah memperingatkan anak itu tentang hukuman, ia tetap dianggap bersalah.[9]

  • Data Alkitab mendukung keterlibatan Allah yang aktif dalam dosa.

Ayat-ayat Alkitab yang sudah dipaparkan di bagian sebelumnya bukan hanya menunjukkan bahwa Allah terlibat dalam dosa, tetapi juga Allah secara aktif terlibat dalam dosa. Pengertian “aktif” di sini jelas bukan berarti Allah sebagai pencipta atau pelaku dosa (Mzm 92:16; Pkh 7:29; Yak 1:13; 1Yoh 1:5). Dalam taraf tertentu Ia berhubungan, bahkan perlu mengontrol dosa (Ay 1:12; 2:6; Luk 22:31-32; Yud 1:6). Keterlibatan dan kontrol atas dosa ini merupakan bagian integral dari natur-Nya sebagai Pencipta dan Pemelihara segala sesuatu.

Eksistensi Allah dan dosa: sebuah telaah filosofis singkat

Bagian ini secara khusus akan menyoroti pandangan Hume yang menyatakan bahwa eksistensi dosa berkontradiksi dengan eksistensi Allah. Argumen Hume dapat dijelaskan sebagai berikut:

Allah mahakudus dan mahabaik à Ia pasti membenci dosa dan penderitaan

Allah mahatahu dan mahakuasa à Ia pasti mampu mencegah dosa dalam dunia

Fakta: dosa ada dalam dunia

Konklusi: (1) Allah tidak mahakudus/mahabaik; (2) Allah mahabaik/kudus tetapi tidak berkuasa mencegah dosa dalam dunia; (3) Allah atau dosa tidak ada.

Bagaimana menjawab keberatan di atas? Pertama, definisi dosa/kejahatan perlu ditinjau ulang. Agustinus dalam bukunya The City of God memberikan pemahaman tentang dosa yang bisa memberikan sedikit pencerahan tentang isu ini. Bagi Agustinus, dosa adalah ketidakadaan kebaikan (the absence of good). Dosa bukanlah suatu entitas yang kekal, karena tidak ada sesuatu pun yang independen dari Allah. Dosa juga bukan sesuatu yang diciptakan Allah, karena itu tidak bertentangan dengan sifat kudus Allah. Segala sesuatu yang diciptakan Allah adalah sangat baik (Kej 1:31). Ketika ciptaan-Nya memilih untuk tidak mengikuti kehendak Pencipta (menolak yang baik) dosa eksis.

Kedua, problem “keharusan” dalam diri Allah. Silogisme Hume di atas sebenarnya menyiratkan satu asumsi pemikiran, yaitu “kalau Allah dapat melakukan apa saja, maka Ia pasti melakukan apa saja”. Pemikiran seperti ini tidak sesuai dengan salah satu atribut Allah yang paling fundamental, yaitu kebebasan dan kesempurnaan-Nya yang mutlak. Di dalam kamus Allah tidak ada kata “harus”. Dalam hubungan dengan isu theodicy, Allah memang baik dan membenci dosa, tetapi itu tidak berarti bahwa Ia harus meniadakan dosa. Allah memang mahakuasa dan mahatahu, tetapi itu tidak berarti bahwa Ia harus “mencegah” eksistensi dosa dalam dunia. Satu-satunya yang bisa “membatasi” Allah adalah atribut-Nya sendiri: Allah tidak bisa melakukan sesuatu yang bertentangan dengan atribut-Nya. Walaupun demikian, hal ini tetap tidak berarti bahwa Ia harus melakukan segala sesuatu yang tidak bertentangan dengan atribut-Nya. Dalam kedaulatan dan hikmat-Nya Allah telah menetapkan untuk merencanakan eksistensi dosa dalam dunia. Penetapan dosa (ketidakadaan kebaikan) tidak berkontradiksi dengan atribut Allah yang kudus, kecuali kalau Ia menciptakan atau melakukan dosa, itu baru melanggar kekudusan-Nya.

Ketiga, konklusi dalam silogisme Hume di atas terlalu sempit. Bandingkan dengan silogisme berikut ini:

Saya merasa jijik dengan tikus, karena itu saya pasti membenci tikus

Saya mampu membunuh tikus dan memiliki senjata untuk membunuh mereka

Di rumah saya ternyata ada tikus

Apakah itu berarti saya tidak ada? saya tidak jijik? saya tidak mampu membunuh tikus?

Konklusi yang lebih masuk akal seharusnya adalah “saya belum mau membunuh tikus-tikus itu sekarang” atau “saya mempunyai rencana tertentu yang lebih baik daripada membunuh tikus-tikus itu sekarang”. Demikian pula dengan sikap Allah terhadap dosa. Ia memang membenci dosa dan mampu membuat manusia tidak berdosa, namun dalam kedaulatan-Nya Allah memilih untuk tidak melakukan itu sekarang. Nanti ketika orang percaya berada di surga, Allah akan membuat mereka non posse peccare (tidak bisa berdosa).

Mengapa Allah menetapkan dosa?

Jawaban yang paling jujur atas masalah ini adalah “misteri Allah” (Ul 29:29). Bagaimanapun, apabila orang percaya mencoba menyelidiki apa yang Alkitab nyatakan tentang hal ini – betapapun terbatasnya data yang ada – itu bukanlah dosa.

Pertama, eksistensi dosa sebagai “ketidakadaan kebaikan” merupakan kemungkinan yang logis dari penciptaan manusia sebagai pribadi yang bebas.[10] Allah menciptakan Adam dan Hawa dengan kesadaran moral yang baik dan juga kehendak bebas. Allah bisa saja menciptakan manusia yang tidak bisa berdosa (selalu memilih yang baik), tetapi hal itu berarti manusia tidak memiliki kehendak bebas. Dalam kedaulatan-Nya yang mutlak dan pikiran-Nya yang tidak terselami, Allah telah menetapkan untuk menciptakan manusia yang baik dengan kehendak bebas. Hal ini tidak berarti Allah menciptakan manusia dengan potensi untuk berbuat dosa. Potensi berbeda dengan kemungkinan. “Potensi” berhubungan dengan sesuatu dalam diri manusia yang memampukan mereka untuk melakukan sesuatu (dalam hal ini untuk berdosa), sedangkan “kemungkinan” merupakan sesuatu yang objektif dan di luar diri manusia.

Kedua, eksistensi dosa merupakan instrumen yang dipakai Allah agar manusia mengenal Dia dengan lebih sempurna. Melalui kejatuhan ke dalam dosa dan karya penebusan Allah, manusia bisa mengenal Allah dengan lebih baik. Manusia bisa memahami kekudusan, keadilan, kasih dan kekuasaan Allah secara optimal. Salah satu contoh dari pemikiran ini dapat dilihat dalam kasus Adam dan Hawa. Sebelum mereka jatuh ke dalam dosa, mereka bisa berhubungan intim dengan Allah. Setelah mereka berdosa, mereka langsung menyembunyikan diri dari Allah dalam ketakutan (Kej 3:7, 10). Dalam keberdosaan yang paling dalam, manusia justru menemukan kekudusan Allah yang paling sempurna, yang membuat mereka begitu ketakutan. Paulus juga mampu melihat kesabaran Allah yang paling luar biasa ketika ia menyadari keberdosaannya yang luar biasa pula (1Tim 1:15-16). Kasih karunia juga menjadi semakin nyata ketika dosa semakin banyak (Rom 5:20).

Ketiga, eksistensi dosa dipakai Allah untuk mengerjakan kebaikan bagi diri-Nya dan umat pilihan-Nya. Sebagaimana telah disinggung dalam bagian sebelumnya, Allah tidak harus melakukan apapun. Ia benar-benar bebas dan sempurna. Bavinck, seperti dikutip Morton Smith, mengatakan, “God does not need the universe in order to be perfect; he does not need to create and preserve in order not to be idle; in himself he is absolute activity”[11]. Ketika Ia menetapkan untuk menciptakan segala sesuatu, Ia berhak mengatur semuanya hanya untuk kebaikan dan kemuliaan-Nya (Yes 43:6-7; Mzm 19:1; Rom 1:19-20). Kolose 1:16 menyatakan dengan jelas bahwa segala sesuatu dijadikan oleh dan untuk Dia. Mazmur 119:91 “semua ada untuk melayani-Mu”. Berdasarkan hal ini, Ia berhak memakai dosa untuk kemuliaan-Nya (Rom 3:4-8; 9:17-21).

Allah juga berhak membatasi kebaikan-Nya pada sebagian orang saja, yaitu umat pilihan-Nya (Rom 8:29-30). Kesalahan umum dari mereka yang menolak penetapan Allah atas dosa adalah asumsi bahwa Allah harus berbuat baik kepada semua orang. Allah memang baik kepada semua orang (Mat 5:45), tetapi itu tidak berarti bahwa Ia harus memberikan kebaikan dalam bentuk dan tingkat yang sama kepada semua orang.

Penutup

Masalah ini tidak akan pernah terjawab dengan tuntas. Manusia tetap tidak akan mampu memahami mengapa Allah menetapkan dosa hanya untuk kemuliaan-Nya dan kebaikan umat pilihan-Nya atau mengapa Allah tidak menciptakan dunia yang lain. Allah bisa menciptakan “dunia lain” yang tanpa dosa, tetapi apakah dunia seperti itu yang terbaik? Terbaik untuk siapa? Dunia sekarang ini adalah yang terbaik, karena Allah telah menetapkannya dan menuju pada pemuliaan Allah yang tertinggi.

[1] Istilah yang dipopulerkan oleh Gottfried Leibniz (1646-1716) ini berasal dari dua kata Yunani: qeos = Allah dan dikh = keadilan.

[2] Dialogues Concerning Natural Religion, part 10, edited by Nelson Pike (Prentice Hall, 1964)

[3] Faith and Reason (Zondervan, 1988), 177.

[4] Diringkas dari penjelasan Millard J. Erickson, Christian Theology (2nd ed., Baker Books, 2002), 439-447.

[5] Salah satu contoh adalah The Westminster Confession of Faith 3:1 5:2, 4: “God from all eternity did, by the most wise and holy counsel of His own will, freely and unchangeably ordain whatsoever comes to pass: yet so, as thereby neither is God the author of sin, nor is violence offered to the will of the creatures, nor is the liberty or contingency of second causes taken away, but rather established. Although, in relation to the foreknowledge and decree of God, the first cause, all things come to pass immutably and infallibly; yet, by the same providence, He orders them to fall out according to the nature of second causes, either necessarily, freely, or contingently. The almighty power, unsearchable wisdom, and infinite goodness of God, so far manifest themselves in His providence, that it extends itself even to the first Fall, and all other sins of angels and men, and that not by a bare permission, but such as has joined with it a most wise and powerful bounding, and otherwise ordering and governing of them, in a manifold dispensation, to His own holy ends; yet so as the sinfulness thereof proceeds only from the creature, and not from God; who, being most holy and righteous, neither is nor can be the author or approver of sin”.

[6] Pembagian ini sebenarnya tidak terlalu tepat, karena semua yang terjadi dalam dunia ini, baik dulu, sekarang maupun yang akan datang, telah ditetapkan Allah sebelum dunia dijadikan. Bagaimanapun, pembagian ini tetap diperlukan karena isu theodicy mencakup dua sisi: ketetapan atas dosa sebelum dan setelah kejatuhan. Berkaitan dengan eksistensi dosa setelah kejatuhan, isu ini relatif lebih bisa diterima oleh banyak orang, karena manusia sudah tercemar dan Allah hanya perlu “menahan kasih karunia-Nya” saja maka manusia akan jatuh ke dalam dosa (band. Flp 2:12-13). Isu tersulit justru berhubungan dengan ketetapan atas dosa sebelum kejatuhan. Dengan kata lain, orang cenderung memprotes, “mengapa Allah menciptakan dunia yang penuh dengan dosa, padahal Ia sudah tahu akan hal itu dan punya kuasa untuk menciptakan “dunia lain yang lebih baik”?”.

[7] The Institutes of Christian Religion, III.xxiii.8.

[8] Religion, Reason and Revelation (Presbyterian & Reformed, 1961), 205. Clark juga membahas isu theodicy seperti ini secara khusus dalam bukunya God and Evil (The Trinity Foundation, 1996).

[9] A New Systematic Theology of the Christian Faith (Thomas Nelson, 1998), 350-351.

[10] Erickson, Christian, 448-450.

[11]Smith, M. H. 1994; Published in electronic form by Christian Classics Foundation, 1996. Systematic Theology, Volume One : Prolegomena, Theology, Anthropology, Christology. Index created by Christian Classics Foundation. (electronic ed.). Greenville Presbyterian Theological Seminary Press: Greenville SC

Leave a Reply