Pdt.Yakub Tri Handoko, Th.M

Mulai pertengahan abad ke-19 kesejarahan Alkitab terus menjadi topik perdebatan. Para teolog liberal bukan hanya menolak mujizat-mujizat di dalam Alkitab, tetapi mereka juga mempertanyakan kredibilitas historis dari cerita-cerita Alkitab. Salah satu yang dipersoalkan adalah historisitas Adam. Apakah ia sungguh-sungguh pernah ada dalam sejarah atau sekadar tokoh mitos yang ditampilkan untuk mengajarkan nilai-nilai relijius/moral tertentu?

Sebelum menjawab pertanyaan ini secara detil kita perlu memahami latar belakang mengapa isu ini ramai dibicarakan orang. Problem seperti ini tidak muncul tanpa alasan, juga tidak muncul dari penyelidikan Alkitab yang teliti. Ada dua faktor yang saling berkaitan yang menjadi pemicu perdebatan.

Pertama, filsafat rasionalisme. Pada abad ke-17 dan 18 berkembang sebuah gerakan intelektual yang bersikap kritis terhadap tradisi dan kepercayaan (sering disebut sebagai jaman pencerahan atau rasionalisme). Mereka hanya mau menerima kebenaran yang dapat dibuktikan secara ilmiah. Konsekuensi logis dari gerakan ini adalah penolakan terhadap semua hal yang supranatural. Kisah-kisah Alkitab mulai dilihat sebagai mitos atau dongeng kuno yang kesejarahannya sangat diragukan.

Kedua, kritik sumber Alkitab. Penolakan terhadap elemen supranaturalisme berdampak pada penolakan terhadap Alkitab sebagai firman Allah. Alkitab mulai dianggap sebagai karangan manusia, seperti tulisan kuno yang lain. Para penulis Akitab tidak diilhami oleh Roh Kudus. Mereka hanya menggunakan dan mengubah sumber-sumber kuno yang ada pada waktu itu. Beberapa sumber yang digunakan berasal dari mitos kuno yang seringkali bernafaskan politeisme (keyakinan pada keberadaan banyak dewa). Sebagai orang yang dibesarkan dalam tradisi keagamaan Israel, para penulis tentu saja berusaha mengubah kisah yang ada supaya sesuai dengan konsep mereka yang monoteistik (keyakinan pada keberadaan satu Allah). Kisah tentang Adam di Kejadian 1-3 termasuk salah satu di antara gubahan cerita tersebut.

Bagaimana memberikan respon terhadap pandangan ini? Yang terutama, kita perlu menandaskan bahwa rasionalisme sendiri tidak memiliki bukti yang obyektif. Tidak ada bukti rasional yang mampu membuktikan bahwa rasio adalah patokan kebenaran satu-satunya. Dasar pemikiran rasionalisme adalah iman yang tidak rasional terhadap rasionalisme. Apa yang mereka sebut “bukti ilmiah” tidak lain adalah dugaan subyektif yang sejalan dengan rasionalisme itu sendiri. Kebenaran dari konsep “sebuah kebenaran harus bisa dibuktikan secara ilmiah” bahkan sebenarnya tidak mungkin dibuktikan secara ilmiah. Tidak ada bukti obyektif yang mampu meruntuhkan keyakinan pada hal-hal yang supranatural, kecuali keyakinan subyektif pada kebenaran rasionalisme itu sendiri.

Hal kedua yang perlu dimengerti adalah kelemah-an dalam kritik sumber. Para penulis memang meng-gunakan sumber-sumber lisan maupun tertulis tertentu, tetapi hal itu tidak berarti bahwa proses pengguna-an sumber-sumber itu seperti yang diperkirakan dalam kritik sumber versi liberal. Sampai sekarang tidak ada data yang konsisten yang mendukung spekulasi liberal. Berkaitan dengan Alkitab sebagai modifikasi tendensius terhadap tradisi politeistik, dugaan ini juga merupakan penilaian tendensius yang tidak memiliki bukti obyektif yang memadai. Ada banyak alternatif cara untuk menjelaskan kemiripan antara kisah di Alkitab dan mitos kuno.

Hal terakhir yang harus dipahami adalah ajaran Alkitab yang jelas tentang historisitas kisah Adam. Pertama, posisi Adam dalam beberapa silsilah yang dicatat oleh Alkitab (Kej 5:1-32; 1Taw 1:1-54; Luk 3:23-38). Poin ini akan menjadi semakin kuat apabila dika-itkan dengan pandangan kuno terhadap silsilah. Orang-orang kuno menghargai asal-usul keluarga le-bih daripada orang modern. Selain itu, tujuan teologis dicantumkannya beberapa silsilah tersebut juga mendukung historisitas dari nama-nama yang ada di sana. Seandainya silsilah tersebut tidak bisa dipercaya, maka poin teologis yang mau disampaikan juga patut diragukan karena didirikan di atas kebohongan.

Kedua, posisi Adam dalam teologi Paulus. Ketika ia berkhotbah kepada penduduk Atena yang tidak mengenal kitab suci Perjanjian Lama, Paulus menandaskan sebuah kebenaran umum bahwa semua manusia berasal dari satu orang saja (Kis 17:26). Walaupun di ayat ini nama Adam tidak disebutkan secara eksplisit, namun bagi Paulus yang adalah orang Yahudi, satu orang tersebut pastilah Adam. Di beberapa suratnya, ia juga mengaitkan Adam sebagai orang pertama sekaligus jalan masuk dosa dan kematian dalam kehidupan manusia. Di Roma 5:12-21, ia mengontraskan Adam dengan Kristus: dari yang pertama semua manusia mendapatkan dosa, sedangkan dari yang kedua mendapatkan kebenaran. Di 1Korintus 15:20-22,44-49, Paulus juga membandingkan kematian yang didapat dari Adam dan kehidupan yang bersumber dari Kristus sebagai Adam terakhir. Seandainya Adam hanyalah tokoh mitos atau perumpamaan yang tidak pernah ada, maka semua konsekuensi dari keberdosaannya juga tidak nyata. Jika ini yang terjadi maka penebusan dan kebangkitan Kristus akan kehilangan arti yang sebenarnya.

Ketiga, posisi Adam dalam etika Paulus. Kisah Adam memegang peranan penting dalam pandangan Paulus terhadap relasi laki-laki-perempuan. Di 1 Korintus 11:8-9, ia mendasarkan perintah dan larangannya berkaitan dengan relasi laki-laki-perempuan di dalam gereja pada kisah penciptaan bahwa perempuan diciptakan untuk laki-laki, bukan sebaliknya. Di tempat lain, ia juga melarang perempuan memainkan otoritas atas laki-laki dengan alasan bahwa laki-laki diciptakan terlebih dahulu daripada perempuan dan bahwa perem-puan yang justru lebih dahulu jatuh ke dalam dosa (1 Tim 2:12-14).

Keempat, posisi Adam dalam ajaran Yesus. Pada saat orang-orang Farisi menanyai Yesus tentang ala-san yang diperbolehkan untuk bercerai (Mat 19:1-12), Ia mengutip beberapa teks dari Kejadian 1-2. Menurut-Nya, perceraian tidak sesuai dengan rencana Allah yang ideal karena sejak semula Allah menciptakan hanya satu laki-laki dan satu perempuan sebagai pas-angan (Kej 1:27), supaya mereka menjadi satu daging (Kej 2:24). Seandainya kisah Adam di dua pasal pertama Kitab Kejadian adalah mitos, maka argumen Yesus di Matius 19:4-6 akan menjadi sangat lemah.

Semua penjelasan di atas menunjukkan bahwa penolakan terhadap kesejarahan kisah Adam bukanlah sebuah persoalan yang sepele. Ada banyak doktrin penting yang dipertaruhkan di sana, dari doktrin tentang pengilhaman Alkitab, keberdosaan semua manusia, karya penebusan dan kebangkitan Kristus, dan etika Kristiani tentang relasi laki-laki dan perempuan. Walaupun demikian, kita mempertahankan histori-sitas Adam bukan hanya semata-mata untuk melin-dungi doktrin-doktrin yang penting ini. Kita tetap mene-rima faktualitas kisah ini karena serangan yang dilan-carkan orang-orang liberal mengandung banyak kelemahan dan spekulasi serta karena kesaksian kitab su-ci yang begitu jelas tentang historisitas Kejadian 1-3.

Leave a Reply