Yakub Tri Handoko, Th.M.

Pandangan negatif sebagian orang terhadap upaya misi di kalangan gereja-gereja Reformed dapat dikelompokkan menjadi tiga alasan. Pertama, alasan teologis. Sebagian orang menganggap bahwa doktrin predestinasi – yang dipahami sebagai ciri khas Teologi Reformed – telah melumpuhkan semangat penginjilan.[1] Mereka beranggapan bahwa pemilihan Allah sejak kekekalan yang bersifat pasti ini (WCF IV.3) membuat upaya penginjilan kehilangan maknanya. Untuk apa memberitakan injil jika keselamatan dan kebinasaan orang sudah direncanakan Allah dan hal itu pasti terjadi?

Kedua, alasan historis. Di samping praduga teologis di atas, mereka yang berpandangan negatif terhadap aktivitas misi dalam tradisi Reformed juga tidak jarang merujuk pada sebagian kecil cerita misi dunia yang mengisahkan bagaimana beberapa misionaris mendapat tantangan dari jemaat gereja Reformed ketika mereka ingin memberitakan injil di tempat-tempat terpencil. Tantangan ini sebagian memang berhubungan dengan doktrin predestinasi. Sebagai contoh, ketika William Carey – seorang tokoh misi modern dari gereja Baptis yang beraliran Reformed[2] – mengutarakan niatnya untuk memberitakan injil di India seorang penatua gereja berkata, “Sit down young man, if God wants to save the heathen he is God enough to do it without man’s help.”[3]

Ketiga, alasan praktis. Orang-orang Reformed seringkali dilihat sebagai kelompok intelektual yang hanya tertarik pada teologi dan filsafat. Kesukaan mereka adalah pada hal-hal yang abstrak, kering, dan teoritis. Kekuatan Teologi Reformed yang terletak pada soliditas rasional sekaligus menjadi kelemahan dari teologi ini. Hal ini sedikit banyak dibenarkan juga oleh pemikir Reformed. James M. Boice pernah menulis:[4]

A glory of the Reformed movement has been the number of great minds that have embraced its distinctives, communicating them forcefully to their age…The very nature of the Reformed system of doctrine, which tends to put reality together and thus make sense of life as other systems of theology do not, tends to produce lovers of theology for its own sake and thus persons detached from life and perhaps even detached from vital fellowship with the God they speak about theologically. It is not without reason that some of our seminaries are more noted for producing theology lecturers than preachers, not to mention evangelist. It is not without justification that many Reformed people are seen as dry, ivory-tower intellectuals (or pseudo-intellectuals) out of touch with contemporary needs.

Tulisan ini bukanlah sebuah pembelaan dari perspektif Reformed dalam arti pembelaan yang bersifat mengaburkan atau meniadakan fakta. Di beberapa gereja Reformed memang ada kecenderungan untuk tidak menekankan misi. Bagaimanapun, fakta ini tidak boleh dilihat secara terbatas. Bukankah fenomena yang sama juga dengan mudah ditemukan dalam gereja-gereja yang non-Reformed? Jadi, tulisan ini lebih tepat dipandang sebagai sebuah ajakan akademis untuk memberikan penilaian yang lebih kritis dan objektif terhadap keterkaitan penginjilan dan doktrin predestinasi Reformed. Benarkah dalam tradisi Reformed tidak ada aktivitas penginjilan yang signifikan? Benarkah doktrin predestinasi pada dirinya sendiri berpotensi melumpuhkan upaya penginjilan?

Untuk mencapai kesimpulan yang komprehensif bagi pertanyaan di atas, tulisan ini akan dibagi menjadi beberapa bagian yang saling berkaitan. Bagian pertama akan membahas tentang pengertian penginjilan menurut perspektif Reformed. Pemahaman ini sangat diperlukan untuk menilai apakah aktivitas tertentu yang dilakukan dalam tradisi Reformed dapat dikategorikan sebagai penginjilan. Bagian selanjutnya adalah pemaparan dan pembelaan terhadap doktrin predestinasi yang sering dianggap sebagai penyebab kelumpuhan misi dalam tradisi Reformed.

Pengertian misi

Terlepas dari popularitas istilah “misi” atau “penginjilan”, kesimpangsiuran tentang makna kata tersebut merupakan fakta yang sulit untuk dibantah. Dalam salah satu bab yang membahas tentang arti penginjilan, David Watson merangkum kesimpangsiuran ini dalam kalimat: “numerous definitions have been suggested in the last half-century.”[5] Ambiguitas arti ini pada gilirannya berdampak pada cara gereja melakukan apa yang mereka pahami sebagai misi/penginjilan, sebagaimana diutarakan oleh Will Metzger, “if we think wrongly about our definition of evangelism, we are likely to act wrongly in our methods of evangelism.”[6] Sebagai contoh, sebagian gereja memahami penginjilan dalam arti “segala sesuatu yang kita lakukan” atau sekadar aktivitas sosial-politik bagi kepentingan kaum marjinal. Berangkat dari hal ini, “a careful reflection on this definition will underscore both its accuracy and its timeliness.”[7]

Apakah yang dimaksud dengan misi atau penginjilan? Dalam tradisi Reformed istilah “misi” atau “penginjilan” dipahami dalam beberapa cara. Johannes Verkuyl mendefinisikan misi sebagai “The study of the salvation activities of the Father, Son, and Holy Spirit throughout the world geared toward bringing the kingdom of God into existence….(It) is the study of the worldwide church’s divine mandate to be ready to serve this God who is aiming his saving acts toward this world. In dependence on the Holy Spirit and by word and deed the church is to communicate the total gospel and the total divine law to all (humanity).”[8] J. Hermann Bavinck berkata, “Missions is that activity of the church – in essence it is nothing else than an activity of Christ, exercised through the church – through which the church, in this interim period, in which the end is postponed, calls the peoples of the earth to repentance and to faith in Christ, so that they may be made his disciples and through baptism be incorporated into the fellowship of those who await the coming of his kingdom.”[9]

Dari beragam pengertian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa misi/penginjilan memiliki beberapa aspek dasar yang harus ada di dalamnya: (1) keterlibatan Roh Kudus sebagai pembimbing dan penentu keberhasilan; (2) sifat misi yang global sebagai upaya melebarkan Kerajaan Allah di muka bumi; (3) berita Injil yang berpusat pada Yesus Kristus; (4) tujuan akhir adalah pemuridan. Semua aspek ini harus diterima sebagai sebuah keutuhan. Ketidakadaan salah satu aspek membuat aktivitas yang dilakukan tidak bisa disebut sebagai penginjilan.

Bertolak dari pengertian ini, beberapa upaya penginjilan yang sedang dilakukan ternyata belum memadai untuk disebut sebagai penginjilan. Metzger dengan jeli melihat fenomena ini. Sebagian aktivitas penginjilan telah mereduksi berita Injil, lebih menekankan metode daripada berita, berpusat pada usaha-usaha manusiawi dan kurang memberi tempat bagi keterlibatan Allah yang lebih luas dan sentral.[10] Pemberitaan yang bersifat anthroposentris semacam “Injil Kemakmuran” maupun “Injil Pembebasan” jelas tidak bisa disebut sebagai “misi/penginjilan”. Kecenderungan untuk menyamakan penginjilan dengan pertumbuhan gereja pun adalahs ebuah kesalahan, karena penginjilan harus berorientasi global (Kerajaan Allah), bukan lokal (denominasi tertentu). Lalu, bagaimana dengan upaya yang dilakukan oleh gereja-gereja Reformed sendiri?

Beragam faktor berikut ini sudah sangat memadai untuk menunjukkan bahwa orang-orang Reformed selama ini sudah berperan dalam penginjilan. Pandangan negatif orang lain terhadap aktivitas misi dalam tradisi Reformed tidak lebih daripada sebuah penilaian yang kurang akurat dan subyektif. Gereja Reformed selalu terlibat secara aktif dalam misi/penginjilan, paling tidak penginjilan dalam perspektif Reformed.

Pertama, keprihatinan tentang keadaan gereja pada jaman Calvin. Pemahaman populer yang cenderung hanya menekankan perjuangan orang-orang Reformed (dalam taraf tertentu juga reformator lain) dalam hal doktrin merupakan pemikiran yang perlu dipertanyakan. Apakah pergumulan doktrinal ini sama sekali tidak berkaitan dengan penginjilan? Penyelidikan yang cermat terhadap tulisan-tulisan Calvin akan membawa pada kesimpulan yang berbeda. Konteks pelayanan Calvin di antara orang-orang Roma Katholik pada waktu itu seyogyanya dipahami sebagai ladang misi juga. Mengapa demikian? Terlepas dari pertemanan Calvin dengan sahabat-sahabat lamanya yang masih berada di lingkungan Katholik Roma, secara keseluruhan Calvin melihat gereja pada waktu itu bukan sebagai gereja yang benar. Ia sangat menentang penggunaan gambar dan patung dalam ibadah yang ia kategorikan sebagai penyembahan berhala (Inst. I.11-12). Dengan pemahaman seperti ini ia berusaha menegaskan kembali esensi injil yang benar. Situasi pada jaman Calvin dapat disamakan dengan situasi di daerah-daerah kekristenan tertentu di mana kekristenan hanyalah bagian dari dan dicampuradukkan dengan tradisi setempat. Dalam situasi seperti ini, pemberitaan firman Tuhan lebih dekat disebut sebagai penginjilan daripada pembangunan jemaat.

Kedua, perspektif Calvin yang global tentang Kerajaan Allah. Berbeda dengan pandangan sebagian orang yang menampilkan Calvin sebagai sosok yang sangat fanatik terhadap ajarannya sendiri dan tidak bisa mentolerir ajaran lain, tulisan-tulisan Calvin (terutama surat-menyurat yang ia lakukan) justru menunjukkan bahwa ia adalah pribadi yang sangat oikumenis.[11] Bukan hanya itu saja, ia juga memiliki pemikiran global untuk perkembangan Kerajaan Allah di muka bumi.

Banyak aktivitas penginjilan yang dilakukan oleh Calvin.[12] Aktivitas ini bersifat sentrifugal maupun sentripetal. Posisi kota Genewa sebagai tempat pengusian bagi orang-orang Protestan yang teraniaya dan pusat studi teologi bagi banyak orang dari berbagai negara memungkinkan Calvin untuk memiliki pengaruh yang sangat luas dan global. Beberapa pemikir besar yang lahir dari akademi Genewa pada akhirnya menjadi pelopor reformasi di negara mereka masing-masing, misalnya John Knox di Skotlandia. Calvin juga mengutus beberapa orang untuk menjangkau berbagai daerah, walaupun beberapa upaya ini menemui kegagalan. Ia bahkan terus berkirim surat untuk memberikan bimbingan pastoral pada orang-orang yang ia utus di tempat-tempat yang sulit. Di Prancis sendiri Calvin berhasil mendirikan banyak gereja bawah tanah. Antara tahun 1555-1562 gereja semacam ini telah berkembang dari 5 gereja menjadi lebih dari 2000 gereja dengan jumlah jemaat mencapai sekitar 3 juta.

Setelah masa Calvin berakhir pun, aktivitas misi di kalangan gereja Reformed tetap terus membara.[13] Sebagian kaum Puritan dari Inggris yang berimigrasi ke benua Amerika melakukan penjangkauan terhadap suku Indian di sana. Sementara itu, orang-orang Reformed di Belanda yang termasuk Reformed Pietisme dengan gencar memberitakan Injil melalui tulisan maupun pengutusan misionaris. Tidak berlebihan apabila dikatakan bahwa misi dunia modern di kalangan Protestan dimulai dari dua kelompik Reformed: Puritan di Inggris dan kaum Reformed Pietisme di Belanda.

Ketiga, keterkaitan antara penginjilan dan pemuridan. Amanat Agung Tuhan Yesus secara eksplisit mengajarkan bahwa pekabaran Injil sangat berhubungan dengan pemuridan (Mat 28:19-20). Keduanya tidak dapat dipisahkan, seperti diungkapkan berikut ini:[14]

Basically evangelism seeks to bring people into a new relationship with God through Jesus Christ. Through the power of the Holy Spirit it endeavors to awaken repentance, commitment, and faith. Its goal is nothing less than the conversion of the sinner to a radically new way of life. How, then, do we know when evangelism has taken place? When the message has been given? When the message has been adequately understood?…This means that though evangelism by definition concentrates on the need to respond to God in initial repentance and faith, its message must also contain something about the obligations of Christian discipleship.

Jika dilihat dari perspektif ini, apa yang dilakukan oleh para tokoh Reformed, terutama Calvin dengan akademinya di Genewa, sudah masuk dalam wilayah penginjilan. Ia telah berhasil mencetak banyak pengikut yang sangat bersemangat bagi Injil. Tidak salah jika John Knox dalam sebuah suratnya kepada Locke pernah berujar bahwa akademi Genewa merupakan “the most perfect school of Christ that ever was in this earth since the days of the apostles.”[15]

Keempat, keterlibatan gereja-gereja Reformed dalam misi dunia. Tuduhan terhadap gereja Reformed yang didasarkan pada kesalahpahaman beberapa penatua gereja tentang konsep predestinasi (seperti pada kasus William Carey) merupakan serangan yang sangat lemah dan tidak konsisten. Mereka yang menuduh demikian telah melupakan satu hal penting bahwa William Carey dibesarkan dalam gereja Reformed dan tetap sebagai orang Reformed selama ia menjadi misionaris.[16] Contoh lain yang menarik untuk disoroti adalah John Paton, yang terkenal sebagai “misionaris salib.” Ia mengatakan, “Sekalipun dalam hal keyakinan saya adalah seorang Calvinis yang kuat, saya bukanlah seorang fatalis. Saya terus bertahan meskipun hanya ada secercah harapan yang tersisa. Namun menyelamatkan jiwa sekarang adalah satu-satunya kewajiban saya.”[17]

Kelima, peranan sentral Roh Kudus dalam penginjilan. Seperti sudah disinggung di bagian awal, konsep misi yang benar mencakup kesadaran bahwa keberhasilan penginjilan ditentukan oleh Roh Kudus. Manusia hanyalah sarana, bukan penentu. Jika dilihat dari perspektif ini, maka akan semakin tampak bahwa orang-orang Reformed seharusnya menjadi pekabar Injil yang paling memahaminya. Penekanan Teologi Reformed bahwa semua manusia sudah berdosa di dalam Adam dan tidak mungkin bisa memilih Allah dengan kekuatan sendiri jelas memberikan ruang yang tidak terbatas pada peranan Roh Kudus dalam penginjilan. Tidak berhenti sampai di situ, Teologi Reformed juga menandaskan bahwa intervensi Roh Kudus ini tidak dapat ditolak.[18]

Pembelaan Terhadap Doktrin Predestinasi

Sekelumit pemaparan di bagian sebelumnya cukup untuk menunjukkan bahwa Teologi Reformed (terutama doktrin predestinasi) pada dirinya sendiri tidak berpotensi memadamkan semangat pekabaran Injil. Seandainya benar demikian, mengapa sebagian orang cenderung menjadikan doktrin ini sebagai kambing hitam? Jawabannya sederhana. Mereka tidak benar-benar memahami apa yang diajarkan dalam doktrin ini.

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah pandangan bahwa predestinasi merupakan inti dari Teologi Reformed. Walaupun doktrin ini memang penting dan sangat terkait dengan sistem Teologi Reformed, hal ini tidak berarti bahwa doktrin ini merupakan inti atau dasar dari bangunan Teologi Reformed. Dalam pengantar terjemahan tulisan Calvin yang paling detil tentang predestinasi, J. K. S. Reid dengan tepat menyatakan, “…contrary to a prevalent view, the doctrine of predestination by no means determines the system. Though it is indeed attached to and even integrated into the system, the part it plays is not really dominant.”[19]

Pernyataan ini memang dapat dibenarkan.[20] Dalam tulisan-tulisan awal Calvin ia tidak membahas doktrin ini. Perhatiannya terhadap topik ini semakin besar seiring dengan serangan yang ia terima dari orang lain (Melanchthon yang meremehkan pentingnya doktrin ini atau Jerome Bolsec dan Pighius yang sangat menetang kebenaran doktrin ini). Ketika ia membahas doktrin ini, ia hanya melihatnya dalam kaitan dengan doktrin lain yang lebih dominan. Tujuan dari pembahasan itu pun juga tidak semata-mata untuk kebutuhan intelektual. Di mata Calvin, doktrin ini harus diberitakan karena memiliki manfaat besar bagi pertumbuhan rohani secara praktis.

Jadi, doktrin ini tidak pernah menempati posisi yang sangat penting, sehingga mengaitkan hal ini dengan keadaan pekabaran Injil dalam tradisi Reformed merupakan sebuah lompatan kesimpulan yang terlalu jauh dan berlebihan. Kalau pun aktivitas misi dalam gereja-gereja memang lemah (dalam kenyataannya tidak demikian), penyebab utama dari situasi ini bukanlah doktrin predestinasi. Sebaliknya, seperti akan dibahas di bagian berikutnya, doktrin predestinasi – walaupun tidak memainkan peranan vital – seharusnya justru semakin menggairahkan misi.

Seandainya Allah memang sudah menetapkan untuk menyelamatkan sebagian orang dan rencana kekal ini tidak mungkin gagal, mengapa pekabaran Injil masih diperlukan? Bukankah tanpa penginjilan pun mereka tetap akan selamat seperti yang sudah direncanakan Allah? Bukankah orang yang tidak dipilih tidak akan selamat sekalipun mereka mendengarkan Injil ribuan kali? Bukankah lebih baik pekabaran Injil hanya difokuskan pada orang-orang pilihan saja?

Berikut ini adalah beberapa poin penting tentang relasi predestinasi dan penginjilan yang perlu untuk diketahui dan sekaligus menjadi jawaban bagi semua pertanyaan di atas. Pertama, Allah tidak hanya menetapkan hasil akhir tetapi juga proses yang mengarah pada hasil tersebut. Samuel Storm memberikan peringatan yang penting tentang hal ini. Ia menulis, “one must not assume that the ordained end (the salvation of the soul) will occur apart from the prescribed means (the preaching of the good news, which, I might add, is likewise ordained by God).”[21]

Dilihat dari perspektif ini, predestinasi justru seharusnya memberikan kepastian dan semangat penginjilan. Sekeras apa pun seseorang Allah sanggup mempertobatkan orang itu jika ia termasuk dalam pemilihan kekal Allah. Mengutip perkatan Paulus di 2 Timotius 2;10 Wayne Grudem menjelaskan, “He knows that God has chosen some people to be saved, and he sees this as an encouragement to preach the gospel, even if it means enduring great suffering. Election is Paul’s guarantee that there will be some success for his evangelism.”[22]

Kedua, predestinasi tidak mungkin bisa melemahkan penginjilan karena ini merupakan kehendak Allah yang kekal dan tidak diketahui oleh manusia. Calvin menegaskan,” Since we do not know who belongs to the number of the predestined and who does not, it befits us so to feel as to wish that all be saved. So it will come about that, whoever we come across, we shall study to make him a sharer of peace . . . even severe rebuke will be administered like medicine, lest they should perish or cause others to perish. But it will be for God to make it effective in those whom He foreknew and predestined.[23] A. H. Strong bahkan melihat doktrin ini sebagai motivasi yang besar bagi penginjilan. Ia mengatakan, “Since it is a secret decree, it cannot hinder or discourage such effort. On the other hand, it is a ground of encouragement, and so; for, without election, it is certain that all would be lost (cf. Acts 18:10).”[24]

Ketiga, motivasi utama dalam penginjilan adalah ketaatan pada perintah Allah. Sebagian orang telah memahami tujuan penginjilan secara keliru. Walaupun hasil yang diharapkan dalam penginjilan adalah sampai pada tahap pemuridan, tetapi penginjilan tidak boleh dibatasi pada hasilnya belaka.[25] Tugas orang percaya hanyalah memberitakan Injil. Hasil apa pun yang muncul bukanlah urusan orang percaya dan tidak seharusnya menentukan apakah penginjilan tetap dilakukan atau tidak. Pekabaran Injil harus dilakukan karena Allah sudah memerintahkan itu kepada orang percaya. Ini adalah alasan yang cukup sederhana, tetapi bukan alasan yang sepele. Sehubungan dengan isu ini, R. C. Sproul secara tepat mengatakan, “Evangelism is our duty. God has commanded it. That should be enough to end the matter.”[26]

Apa pun hasil penginjilan, hal itu tetap akan sesuai dengan rencana Allah. 2 Korintus 2:15-16 mengajarkan, “Sebab bagi Allah kami adalah bau harum dari harum Kristus di tengah-tengah mereka yang diselamatkan dan di antara mereka yang binasa. Bagi yang terakhir kami adalah bau kematian yang mematikan dan bagi yang pertama bau kehidupan yang menghidupkan. Tetapi siapakah yang sanggup menunaikan tugas yang demikian?” Jadi, entah seseorang ditetapkan untuk selamat atau bianasa, orang itu tetap perlu mendengarkan Injil. Bagi yang diselamatkan, Injil adalah sarana keselamatan. Bagi yang tidak dipilih, Injil akan menjadi pembenaran bagi penghukuman mereka. Mereka tidak akan bias berdalih lagi di hadapan Allah.

Penutup

Di penghujung tulisan ini, saya ingin mengutip sebuah pernyataan yang indah dari seorang pakar sejarah gereja tang bernama Earle E. Cairns. Ia menulis, “Some have thought that Calvinistic theology cuts off the nerve of evangelism and missionary effort. However, any study of the history of the propagation of the gospel will show that those who have professed the Reformed faith have had an important part in the great revivals of the past and in the modern missionary movement.”[27] Kutipan ini secara tepat merepresentasikan dan merangkum seluruh pembahasan dalam tulisan ini. Soli Deo Gloria.

[1] Dalam tulisan ini istilah “misi” dan “penginjilan” digunakan secara bergantian. Hal ini hanya dimaksudkan sebagai penyederhanaan saja, tanpa bermaksud meniadakan perbedaan arti di antara dua kata tersebut. Penginjilan merupakan bagian integral dari misi, walaupun misi tidak bisa dibatasi pada penginjilan semata-mata.

[2] David S. Dockery, Southern Baptist Consensus and Renewal: A Biblical, Historical, and Theological Approach (Nashville: B & H Publishing Group, 2008), 222.

[3] Walter B. Shurden, Not A Silent People: Controversies That Have Shaped Southern Baptist (Macon: Smyth & Helwys Publisher, 1995), 19.

[4] “The Future of Reformed Theology,” Reformed Theology in America: A History of Its Modern Development, ed. by David F. Wells (Grand Rapids: Eerdmans, 1985), 301.

[5] I Believe in Evangelism (Grand Rapids: Eerdmans, 1976), 25.

[6] Tell the Truth: The Whole Gospel to the Whole Person by Whole People (Downers Grove: InterVarsity Press, 1984), 25.

[7] Ben Campbell Johnson, Rethinking Evangelism: A Theological Approach (Philadelphia: The Westminster Press, 1987), 11.

[8] Charles Van Engen, “Reformed Mission”, Evangelical Dictionary of World Missions (Grand Rapids: BakerBooks, 2000), 814.

[9] An Introduction to the Science of Missions (Philadelphia: Presbyterian & Reformed, 1992), 6.

[10] Tell the Truth, 28-40.

[11] Untuk pembahasan menarik tentang hal ini, lihat Jane Dempsey Douglas, “Calvin in Ecumenical Context,”, The Cambridge Companion to John Calvin, ed. by Donald L. McKim (Cambridge: Cambridge University Press, 2004), 305-316.

[12] Bagian ini didasarkan pada Keith Coleman, “Calvin and Missions,”, WRS Journal 16:1 (February 2009) : 28-33. Untuk pembahasan yang jauh lebih komprehensif dan intensif tentang pengaruh Calvin dalam pekabaran injil, lihat Thomas Schirrmacher, ed., Calvin and World Mission (Nurnberg/Bonn: VTR/VKW, 2009).

[13] Thomas Schirrmacher, “Introduction,” Calvin and World Mission, 12-14.

[14] T. P. Weber, “Evangelism,” Evangelical Dictionary of Theology, ed. by Walter A. Elwell (Carlisle/Grand Rapids: Paternoster Press/BakerBooks, 1984), 383.

[15] Thom M’Crie, The Life of John Knox: Containing Illustration of the History of the Reformation in Scotland  (London: Henry G. Bohn, 1847), 112.

[16] Nicholls, “The Theology of William Carey,” Calvin and World Mission, 129-140.

[17] John D. Legg, John G. Paton: Misionaris Salib, diterjemahkan oleh  Francine Padmadewi (Surabaya: Momentum, 2009), 24.

[18] Lihat Loraine Boettner, The Reformed Doctrine of Predestination (Philipsburgh: Presbyterian & Reformed, 1981); Edwin H. Palmer, The Five Points of Calvinism (Grand Rapids: Baker Book, 1972).

[19] John Calvin, Concerning the Eternal Predestination of God, trans. by J. K. S. Reid (Cambridge,: James Clark & Co., 1961), 9.

[20] Francois Wendel, Calvin: Origin and Development of His Religious Thought, trans. by Philip Mairet (Durham: The Labyrinth Press, 1963), 263-284.

[21] “Prayer and Evangelism Under God’s Sovereignty,” Still Sovereign, ed. By Thomas Schreiner & Bruce Ware (Grand Rapids: Baker Books, 2000), 318; Robert Duncan Culver dalam bukunya Systematic Theology: Biblical and Historical (Ross-shire: Mentor, 2005) mengatakan, “That intrepid apostle understood well what some advocates of this doctrine sometimes tend to forget: God who ordains ends also ordains all the means to those ends.” (678).

[22] Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine (Nottingham: InterVarsity Press, 1994), 674.

[23] John Calvin, Concerning the eternal predestination of God, 138

[24] Systematic Theology (London: Pickering & Inglis, 1962 of 1907), 788-789.

[25] Metzger, Tell the Truth, 25; J. I. Packer, Evangelism and the Sovereignty of God (Downers Grove: InterVarsity Press, ), 25 .

[26] Chosen By God (Wheaton: Tyndale House Publishers, 1986), 209. James M. Boice, Foundations of the Christian Faith: A Comprehensive and Readable Theology (revised in one volume; Downers Grove: InterVaristy Press, 1986), 652-653.

Leave a Reply