Yakub Tri Handoko, Th. M.

Orang percaya sepanjang jaman terus menghadapi pergumulan etis yang kompleks seputar masalah seks. Mereka terus-menerus hidup dalam dunia yang mengadopsi konsep seks yang berkontradiksi dengan Alkitab. Pada masa Perjanjian Lama sudah terjadi berbagai penyimpangan seksual, misalnya homoseksualitas (Kej 19:4-5; Im 18;22), incest (Im 20:17), hubungan seks dengan binatang (Im 18:23). Pada masa Perjanjian Baru orang percaya juga harus menghadapi praktek homoseksualitas (Rom 1:27), perzinahan dengan pelacur (1Kor 6:12-20), pelacuran bakti dalam konteks agama-agama misteri dan gerakan feminisme kuno (1Kor 11:2-16).

Situasi pada jaman modern juga tidak jauh berbeda. Orang Kristen tetap berhadapan dengan isu penyimpangan seksual dari homoseksualitas, incest, feminisme maupun moralitas baru yang bebas dan relatif. Semua distorsi ini berasal dari natur manusia yang berdosa dan dipicu oleh kultur postmodernisme yang permisif. Untuk menghadapi hal ini, orang Kristen perlu memahami konsep Alkitab yang benar tentang seks, sehingga mereka bisa menghargai keagungan dan kesucian seks.

Perbedaan seksualitas manusia merupakan bagian integral utama dari natur manusia sebagai gambar dan rupa Allah

Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Bapa-bapa gereja abad pertama sampai teolog modern sekarang ini terus memperdebatkan arti frase “gambar dan rupa Allah” dalam Kejadian 1:26-27. Penjelasan yang paling objektif sebenarnya sudah disediakan oleh konteks ayat ini.

Segambar dan serupa dengan Allah menunjukkan dua hal. Pertama, manusia diberi potensi untuk menguasai alam semesta. Ayat 26 “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan Rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas…”.

Kedua, manusia menyiratkan kejamakan dan ketunggalan Allah. Dalam teks ini kejamakan Allah yang dinyatakan dalam bentuk kata ganti orang pertama jamak “Kita” dipadukan dengan ketunggalan-Nya yang dinyatakan melalui bentuk kata kerja tunggal “menjadikan”. Hal ini sesuai dengan kejamakan dan ketunggalan dalam diri manusia. Ayat 27 “Maka Allah menciptakan manusia itu (tunggal) menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia (tunggal); laki-laki dan perempuan (jamak) diciptakan-Nya mereka (jamak)”. Penyebutan jenis kelamin yang berbeda untuk manusia di sini merupakan sesuatu yang penting untuk diperhatikan, karena Alkitab tidak mencatat perbedaan jenis kelamin binatang di Kejadian 1, walaupun mereka tentu saja berjenis kelamin berbeda.

Kejamakan dan ketunggalan ini juga terlihat dari narasi di Kejadian 2:18-25. Kesendirian Adam dianggap tidak baik oleh Allah (ayat 18). Allah selanjutnya memberikan Hawa bagi Adam. Menariknya, tujuan Hawa diciptakan dan diberikan kepada Adam adalah supaya mereka menjadi satu (ayat 24). Bukankah ini menunjukkan bahwa manusia memang diciptakan jamak tetapi tunggal sebagaimana Allah juga jamak tetapi tunggal? Jadi, seksualitas merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari posisi manusia sebagai gambar dan rupa Allah di dunia.

Seksualitas merupakan berkat dan sarana untuk melayani Allah, bukan tujuan hidup manusia

Banyak orang menganggap Kejadian 1:28 sebagai amanat budaya. Teks ini dianggap sebagai perintah Allah yang tertinggi dalam kaitan dengan tanggung jawab kultural orang percaya. Walaupun isi dari istilah tersebut bisa dibenarkan, namun penggunaan istilah amanat budaya sebenarnya tidak tepat. Ayat ini bukanlah sebuah perintah, tetapi berkat. Hal ini terlihat dari awal ayat 28 “Allah memberkati mereka, lalu berfirman…”. Tidak heran, dalam bagian Alkitab selanjutnya, memiliki keturunan merupakan simbol/bukti bahwa seseorang diberkati oleh Allah.

Hal lain yang penting yang diajarkan ayat ini adalah bahwa seks (dalam konteks ini memiliki keturunan) bukanlah tujuan hidup manusia. Sebaliknya, memiliki keturunan merupakan sarana bagi manusia untuk melayani Allah dalam bentuk menguasai alam. “Perintah” untuk memenuhi bumi sangat berhubungan dengan tugas manusia sebagai gambar dan rupa Allah yang harus mengurusi alam ini. Begitu pentingnya hal ini, Allah bahkan memandang berdosa tindakan orang-orang yang hendak membangun menara Babel supaya mereka tidak terserak ke seluruh bumi (Kej 11:4).

Perbedaan seksualitas sebagai sarana untuk melayani Allah juga bisa dilihat dari Kejadian 2:15-18. Dalam ayat 18 dikatakan bahwa Hawa dijadikan sebagai penolong Adam. Penolong dalam hal apa? Konteks menunjukkan bahwa penolong di sini berhubungan dengan perintah Allah di ayat 15-17. Terlepas dari terjemahan yang benar tentang ayat 15 (“beribadah dan memelihara perintah Allah” atau “mengusahakan dan memelihara taman”), keberadaan Hawa di sini dimaksudkan sebagai penolong Adam dalam melaksanakan tugas di ayat 15. Mereka pada akhirnya memang gagal menaati Allah, tetapi bukan berarti rencana Allah gagal atau seks merupakan sesuatu yang negatif.

Hubungan seks merupakan hubungan yang paling intim

Allah melihat bahwa kesendirian Adam merupakan sesuatu yang tidak baik (Kej 2:18). Penilaian ini pertama kali sangat mengejutkan, karena Allah sebelumnya selalu mengatakan “baik” untuk hal yang Ia lakukan. Setelah itu Allah menciptakan berbagai binatang sebagai kandidat pasangan manusia (Kej 19-20). Walaupun binatang-binatang tersebut diciptakan dari bahan yang sama dengan manusia dan disebut dengan istilah makhluk hidup, namun tidak satu pun yang cocok sebagai pasangan manusia. Allah akhirnya menciptakan Hawa bagi Adam. Yang menarik adalah Hawa tidak diciptakan dari tanah liat seperti Adam maupun binatang-binatang di ayat 19-20. Hawa diciptakan dari bagian tubuh Adam, yaitu tulang rusuk dan daging Adam (ayat 21-23). Proses penciptaan ini menunjukkan keintiman hubungan antara suami-istri (Adam dan Hawa).

Keintiman tersebut juga terlihat dari superioritas relasi suami-istri dibandingkan orang tua-anak. Ayat 24 mengajarkan bahwa laki-laki harus meninggalkan ayah-ibunya dan bersatu dengan istrinya. Berdasarkan kultur Yahudi yang patrilokal (istri yang masuk ke dalam lingkungan keluarga suami) dan struktur kalimat Ibrani, ayat ini tidak boleh ditafsirkan bahwa laki-laki akan meninggalkan rumah orang tuanya. Tidak ada kata “rumah” dalam ayat ini. Kata Ibrani “meninggalkan” (‘azab, Yer 1:16; 2:13, 17, 19; 5:7; 16:11; 17:13; 19:4; 22:9) dan “bersatu” (dabaq, Ul 4:4; 10:20; 11:22; 13:5; 30:20) dalam ayat ini biasanya dipakai dalam konteks perjanjian. Penggunaan dua kata tersebut dalam ayat ini menunjukkan bahwa perkawinan telah mengubah loyalitas dan komitmen seseorang dari orang tua ke pasangan masing-masing.

Keintiman tersebut juga terlihat dari ayat 24b. Laki-laki dan perempuan harus menjadi satu. Menjadi satu di sini pasti tidak hanya merujuk pada satu rumah, tetapi kesatuan yang paling dalam. Kesatuan ini tidak boleh dipisahkan oleh manusia (Mat 19:4-6). Tidak heran, Paulus menganggap laki-laki yang mengikatkan diri dengan pelacur sebagai “menjadi satu tubuh” dengan pelacur itu (1Kor 6:16).

Keintiman hubungan seks (suami-istri) ini pula yang selanjutnya dianggap paling cocok untuk menggambarkan kasih Allah kepada manusia. Hubungan Allah dengan umat-Nya seringkali digambarkan sebagai hubungan suami-istri. Penyembahan berhala dianggap sebagai perzinahan secara rohani. Paulus juga menggambarkan keintiman Kristus dengan gereja-Nya dalam konteks pernikahan (Ef 5:31-32).

Penyimpangan seksualitas merupakan akibat dari dosa

Sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa, kehidupan seks merupakan berkat Allah yang sempurna. Keadaan ini berubah ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Memiliki keturunan harus disertai dengan berbagai kesakitan. Hubungan antara laki-laki dan perempuan pun mengalami perubahan. Mereka tidak lagi menjadi pasangan yang sepadan (Kej 3:16). Kerusakan ini terus berlanjut pada jaman Lamekh (Kej 4:19, 23-24), Nuh (Kej 9:21-29), Lot (Kej 19:4-5, 30-38), bahkan sampai hari ini.

Pedoman praktis mengatasi kelemahan seksual

Kemampuan seseorang untuk menang atas dosa memang tidak didasarkan pada kiat-kiat tertentu. Keberhasilan itu lebih bersumber dari kekuatan Allah yang supranatural (Flp 2:12-13), tetapi hal ini tidak berarti bahwa manusia hanya bersikap pasif saja. Keselamatan memang monergis (hanya Allah yang bekerja), tetapi pengudusan hidup merupakan sebuah sinergi (Ef 5:18). Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi maupun membebaskan diri dari dosa seks.

  • Perubahan paradigma tentang seks, yaitu seks hanya berlaku dalam konteks pernikahan, itu pun bukan yang terpenting dalam pernikahan.
  • Pikiran yang dipenuhi dengan hal-hal yang mulia (Flp 4:8). Secara praktis, kita perlu menempelkan ayat-ayat Alkitab tertentu di tempat-tempat yang strategis dan mudah kita lihat. Hal lain yang perlu dilakukan adalah mengisi waktu luang kita dengan belajar firman Tuhan.
  • Kontrol sosial. Kita perlu memiliki partner rohani yang bisa dipercaya sebagai tempat untuk sharing dan saling menjaga diri.
  • Disiplin diri untuk menjauhi pencobaan, misalnya tidak berada di suatu tempat yang memungkinkan terjadinya perzinahan secara fisik.
  • Pergumulan yang intensif dan spesifik berkaitan dengan dosa seks, sambil terus mengarahkan diri pada anugerah Allah.

Renungan: anugerah dalam kejatuhan seks

Para ahli biasanya menganggap dosa seks merupakan dosa yang paling serius, karena dosa ini dilakukan dalam diri manusia. Mereka yang jatuh dalam dosa ini umumnya memiliki konsep diri yang rusak dan sulit melepaskan diri dari ikatan dosa ini. Ya, dosa ini merupakan dosa yang sangat serius, sebagaimana dosa-dosa yang lain. Bagaimanapun, anugerah Allah selalu cukup bagi mereka yang mau bertobat.

Teks yang paling jelas mengungkapkan hal ini adalah silsilah Yesus Kristus di Matius 1:1-18. Yesus ternyata lahir dari keturunan yang rusak secara moral. Perzinahan Yehuda dengan menantunya, Tamar, mewarnai silsilah Yesus (ayat 3). Yesus juga berasal dari keturunan pelacur yang bernama Rahab (ayat 5). Skandal lain juga terlihat dari perzinahan Daud dengan Betsyeba, istri Uria (ayat 6). Anak hasil perzinahan ini memang mati (2Sam 12), tetapi dari hubungan Daud-Betsyebalah Salomo dan nenek moyang Yesus selanjutnya dilahirkan.

Leave a Reply