Yakub Tri Handoko, Th. M.

 

Pada hari Kamis tanggal 5 April 2007 banyak orang Kristen dikejutkan dengan sebuah artikel di Harian Kompas yang ditulis oleh Pdt. Ioanes Rakhmat, dosen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Artikel ini telah menimbulkan kontroversi yang cukup luas. Beberapa penulis lain turut menanggapi artikel tersebut; ada yang senada dengan Rakhmat namun lebih halus, ada yang kontra tetapi sanggahannya tidak esensial. Isu ini semakin menuntut perhatian serius seiring dengan penerjemahan dan penerbitan buku Dinasti Yesus (Jesus Dynasti) karangan James Tabor, salah satu sarjana yang memiliki pandangan setali tiga uang dengan Rakhmat dan teolog liberal lainnya.

Dalam artikel kontroversial di atas Rakhmat mendukung pendapat yang mengatakan bahwa tulang-tulang Yesus dan anggota keluarga telah ditemukan di Talpiot, pinggiran Yerusalem. Beliau menjelaskan bahwa dalam inskripsi (tulisan) yang ditemukan di beberapa osuarium (peti tempat penyimpanan tulang) di Talpiot terdapat nama-nama keluarga Yesus, misalnya Yesus, Yusuf, Maria, Maria Magdalena, Yose (nama singkat dari Yoses, saudara Yesus; Mrk 6:3), Yehuda anak Yesus (yang diyakini sebagai anak dari Yesus dan Maria Magdalena). Beliau juga menegaskan bahwa osuarium Yakobus (saudara Yesus) yang ditemukan di tempat terpisah dulunya termasuk salah satu osuarium Talpiot tetapi selanjutnya dicuri/dipindahkan oleh pedagang barang antik. Untuk meneguhkan pendapatnya, beliau juga menyertakan hasil data statistik tentang kemungkinan ditemukannya nama-nama keluarga Yesus dalam satu kuburan. Beliau juga menyinggung tentang hasil tes DNA yang menunjukkan ketidakadaan hubungan darah antara tulang Yesus dan Maria Magdalena. Datum ini dianggap cukup untuk membuktikan bahwa keduanya suami-istri, karena dua orang tanpa hubungan darah tapi berada dalam satu kuburan keluarga hanya bisa dipahami kalau mereka suami-istri.

 Apa yang dikemukakan di atas sebenarnya hanya mengadopsi pandangan yang diekspresikan dalam film The Lost Tomb of Jesus (Discovery Channel, 4 Maret 2007) dan buku The Jesus Family Tomb (February 2007). Film yang disutradarai oleh Simcha Jacobovici dengan James Cameron sebagai produser ini merupakan penafsiran baru terhadap penemuan arkheologis yang sudah lama diketahui oleh para arkheolog. Osuarium-osuarium di Talpiot itu pada mulanya ditemukan oleh tim arkheolog yang dipimpin oleh Amos Kloner pada 1980. Mereka yang menemukan benda-benda arkheologis ini menganggap penemuan itu sebagai hal yang biasa, karena di Yerusalem sendiri ditemukan ratusan osuarium. Mereka tidak berpikir bahwa hal itu berhubungan dengan tokoh tertentu di dalam Alkitab.

Masalah lama dalam kemasan baru

Pengkhotbah 1:9 “tidak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” merupakan ungkapan yang tepat untuk mengambarkan berbagai kontroversi “kontemporer” seputar kehidupan Yesus. Apa yang disampaikan dalam The Lost Tomb of Jesus mengandung asumsi teologis yang sama dengan novel/film Da Vinci Code, buku Injil Yudas, buku Dinasti Yesus, film Jesus Superstar, film The Body, novel Holy Blood Holy Grail, dsb. Semua perdebatan populer dalam level jemaat ini sebenarnya bermula dari perubahan pola pikir dalam dunia akademik mulai abad ke-18.

Inti dari semua kontroversi semacam itu adalah pembedaan antara Yesus Sejarah (Historical Jesus) dan Kristus Iman (Christ of Faith). Para teolog liberal berpendapat bahwa figur Yesus yang pernah hidup di Palestina dahulu (Yesus Sejarah) berbeda dengan figur Yesus yang ditampilkan oleh para penulis Alkitab (Kristus Iman). Yesus Sejarah adalah manusia biasa, sedangkan Kristus Iman adalah refleksi teologis para penulis Alkitab yang berusaha menampilkan figur Yesus yang supranatural. Semua hal yang bersifat mujizat ditolak, termasuk kisah kebangkitan Yesus.

Mereka berusaha membuktikan pendapat ini dengan menggunakan beberapa kriteria otentisitas (kriteria untuk menyelidiki apakah suatu cerita atau perkataan benar-benar berasal dari Yesus). Di kalangan akademis, kriteria yang dipakai sudah terbukti tidak memadai dan mereka sendiri tidak konsisten dengan kriteria yang dipakai (Michael J. Wilkins and J. P. Moreland, Jesus Under Fire, Zondervan, 1995). Penyelidikan yang lebih mendalam menunjukkan bahwa secara penelusuran historis lebih berpihak pada kredibilitas Alkitab. Pandangan liberal lebih banyak didasarkan pada presuposisi anti-supranaturalis daripada bukti-bukti objektif.

Walaupun dalam dunia akademis sikap para sarjana terhadap kredibilitas Alkitab relatif lebih positif, tidak demikian halnya di kalangan orang awam. Beberapa teolog liberal memiliki hasrat yang kuat dan agenda tertentu untuk membawa interpretasi mereka ke dalam level populer (awam). Mereka meyakini bahwa apa yang mereka percayai adalah benar dan “kebenaran” ini harus diajarkan pada semua orang Kristen. Tujuan dari semua usaha ini adalah re-interpretasi terhadap kekristenan ortodoks.

Polemis di atas dengan tanggap dimanfaatkan oleh berbagai pihak. Mereka yang memiliki agenda teologis (relijius) tertentu memakai ini sebagai senjata untuk menyerang Alkitab. Mereka yang lebih berpikir secara komersial berusaha mengeruk keuntungan dari isu-isu semacam ini. Dalam era postmodernisme dengan nuansa keterbukaan pendapat yang ketal semua kontroversi ini pada akhirnya benar-benar mendapat tempat dan selalu menjadi pusat perhatian banyak orang.

Konsekuensi dari kontroversi penemuan di Talpiot

Dari penjelasan sebelumnya terlihat bahwa esensi dari kontroversi seputar penemuan kuburan Talpiot bukanlah masalah arkheologi, tetapi teologi; bukan masalah bukti, tetapi presuposisi. Bagaimana pandangan orang terhadap isu ini sedikit banyak ditentukan oleh cara pandang orang itu terhadap Alkitab (apakah catatan Alkitab dapat dipercaya secara historis). Hal semacam ini jelas memiliki konsekuensi teologis yang sangat serius. Ada dua aspek konsekuensi teologis yang muncul apabila kuburan di Talpiot benar-benar adalah kuburan keluarga Yesus. Satu menyangkut kredibilitas Alkitab secara umum, yang lain berhubungan dengan kebangkitan Kristus sebagai pondasi kekristenan.

Dari perspektif kalangan injili, kekristenan adalah kepercayaan yang sangat berkaitan dengan sejarah. Apa yang diajarkan tidak dapat diceraikan dari peristiwa yang ada. Lukas menandaskan bahwa apa yang dia tulis merupakan hasil riset yang teliti dan menyeluruh, karena itu dapat berfungsi sebagai pembuktian kepada Teofilus bahwa apa yang dia percayai adalah benar (Luk 1:1-4). Petrus menjelaskan bahwa perbedaan antara ajaran rasuli dan bidat terletak pada historisitas dari apa yang diajarkan (2Pet 1:16-18; band. 2:3). Keterkaitan dengan sejarah inilah yang justru menjadi karakteristik kekristenan.

Aspek lain yang bersentuhan adalah historisitas kebangkitan Yesus sebagai pondasi kekristenan. Paulus dalam surat 1Korintus 15:13-18 secara tegas menyatakan bahwa tanpa historisitas kebangkitan Yesus maka iman Kristen akan sia-sia. Kekristenan tanpa kebangkitan bukan hanya sebuah buku tanpa pasal terakhir, tetapi bukan buku sama sekali.

Melihat konsekuensi yang fatal seperti di atas, kontroversi penemuan di Talpiot tidak dapat dianggap remeh, karena menyentuh pondasi kekristenan. Untuk memberikan penjelasan yang optimal terhadap kontroversi tersebut, makalah ini akan dibagi menjadi 3 bagian utama. Pertama-tama diskusi akan difokuskan pada isu seputar penafsiran nama Mariamne sebagai Maria Magdalena. Fokus pembahasan selanjutnya berhubungan dengan kontroversi tentang asal mula osuarium Yakobus. Apakah osuarium ini dulu merupakan salah satu dari kumpulan osuarium di Talpiot? Pada bagian terakhir akan dipaparkan bukti-bukti positif bahwa osuraium-osuarium di Talpiot bukanlah kuburan keluarga Tuhan Yesus.

Mariamne adalah Maria Magdalena?

Perdebatan seputar identitas nama Mariamne merupakan inti dari semua kontroversi yang ada. Dalam sebuah wawancara dengan Discovery Channel, Jacobovici mengakui bahwa momen kunci dalam penyelidikannya adalah identifikasi nama Mariamne sebagai Maria Magdalena. Cameron juga menandaskan bahwa yang baru dari temuan Jacobovici adalah identifikasi nama Maria Magdalena yang sebelumnya tidak dikenali oleh para penemu osuarium Talpiot. Semua data lain – statistik dan ujian DNA – hanya didasarkan pada inti argumen ini. Seandainya identifikasi nama ini ternyata salah, maka seluruh konsep dalam film The Lost Tomb of Jesus akan runtuh.

Apakah benar nama Mariamne di kuburan Talpiot adalah Maria Magdalena? Bagaimana pendukung film The Lost Tomb of Jesus mendapatkan identifikasi seperti ini? Apakaha identifikasi tersebut dapat diterima?

Dalam salah satu osuarium yang ditemukan di Talpiot terdapat sebuah tulisan yang menunjukkan nama orang yang mati dalam peti tersebut. Tulisan ini menimbulkan perdebatan di kalangan ahli, karena tidak terlalu jelas, sehingga bisa ditafsirkan dalam beberapa cara. Dalam film The Lost Tomb of Jesus, tulisan ini dipahami sebagai berikut: “Mariamne yang disebut sebagai Mara (bahasa Aram yang berarti “Tuan”). Dari mana mereka bisa mengidentifikasi Mariamne ini sebagai Maria Magdalena? Jacobovici memakai kitab non-kanonik The Acts of Philip (abad ke-4 M) untuk menunjukkan bahwa Maria Magdalena juga disebut dengan nama Mariamne. Penyebutan ini menurut dia tetap dipertahankan oleh Gereja Yunani Ortodoks, terutama dalam perayaan untuk menghormati Maria Magdalena. Penyebutan Maria Magdalena sebagai “Tuan” (Mara) juga dianggap sesuai karena dalam kitab-kitab injil non-kanonik lain Maria Magdalena beberapa kali ditampilkan sebagai pribadi yang melebihi semua murid Yesus yang lain.

Identifikasi di atas memiliki banyak kelemahan mendasar. Pertama, tulisan yang ada bisa ditafsirkan dalam banyak hal. Stephen J. Pfann, Ph. D., memahami tulisan itu dalam arti “Mariame dan Mara (versi lain dari Marta)”. Ia juga menunjukkan perbedaan jenis tulisan yang dipakai di kata “Mariame” dan frase “dan Mara”, yang menunjukkan bahwa frase “dan Mara” dituliskan pada waktu yang kemudian oleh orang lain (ketika tulang Mara digabungkan dengan tulang Mariame yang lebih dulu ada di peti itu). Maurice Robinson menafsirkan inskripsi tersebut dengan “Mariam yang disebut Mara”, sedangkan L. Y. Rahmani dan Amos Kloner memilih “Mariamene [milik/dari] Mara”. Beragam tafsiran ini memang tidak membuktikan bahwa tafsiran dalam film The Lost Tomb of Jesus adalah salah (walaupun pandangan Pfann tampaknya lebih meyakinkan), namun argumen-argumen selanjutnya cukup kuat untuk menyanggah tafsiran ini.

Kedua, identifikasi Mariamne (seandainya bacaan “Mariamne” benar) berdasarkan The Acts of Philip merupakan sebuah anachronisme.  Apa yang dimaksud anachronisme? Istilah ini merujuk pada penggunaan istilah yang lebih modern untuk jaman sebelumnya. Seandainya tulang itu benar-benar milik Maria Magdalena, maka inskripsi itu pasti ditulis pada abad ke-1 M. Berdasarkan data historis abad ke-1 M yang ada – yaitu kitab-kitab injil kanonik – Maria Magdalena tidak pernah disebut dengan nama “Mariamne”. Dia biasanya disebut Maria atau Mariam (Yoh 20:18) ditambah dengan penjelasan tentang asal-usulnya (Magdalena = dari [daerah] Migdal) untuk membedakan dia dari Maria-Maria yang lain. Di samping itu, dalam tulisan Kristen abad ke-2 dan ke-3, Maria Magdalena selalu disebut dengan istilah umum yang dipakai dalam Alkitab. Tidak ada satu pun kitab Kristen pada abad tersebut yang memakai nama “Mariamne” untuk Maria Magdalanea. Seandainya tulang itu milik Maria Magdalena, bukankah penulis inskripsi itu pasti akan memakai nama yang lebih umum pada abad ke-1 M?

Ketiga, tidak ada bukti yang mendukung pandangan bahwa Mariamne di The Acts of Philip merujuk pada Maria Magdalena. Ben Witherington III menduga Mariamne di kitab ini merujuk pada seorang penginjil wanita di kota-kota Hellenis yang tidak lain adalah saudara perempuan Filipus (entah rasul Filipus atau Filipus si penginjil di Kisah Rasul 8). Seandainya nama Mariamne di kitab ini memang merujuk pada Maria Magdalena, apakah hal itu membuktikan bahwa Maria Magdalena pada abad ke-1 memang disebut dengan nama Mariamne? Francois Bovon yang mencetuskan teori “Mariamne = Maria Magdalena” pun menolak hal tersebut. Ia tidak melihat adanya relasi historis antara Mariamne dan Maria Magdalena, karena penulis kitab-kitab injil gnostik seperti The Acts of Philip memang sering meminjam figur tokoh Alkitab yang minor (tidak dominan) dan menambahi dengan cerita-cerita tertentu yang sarat dengan teologi gnostik serta tidak didasarkan pada tradisi (fakta).

Keempat, penyebutan nama Maria Magdalena dalam bahasa Yunani “Mariamne” merupakan sesuatu yang sangat janggal. Semua nama yang ada di osuarium Talpiot ditulis dalam bahasa Ibrani dan Aram, mengapa hanya nama Maria Magdalena saja yang memakai bahasa Yunani? Penggunaan bahasa yang dipakai menunjukkan bahwa kubur Talpiot merupakan kuburan multi-generasi dan bahwa Mariamne ini hidup dalam periode yang berbeda dengan anggota keluarga lain yang namanya ditulis dalam bahasa Ibrani atau Aram. Hal ini sekaligus meruntuhkan dugaan kalau Mariamne adalah istri dari Yeshua bar Yehosef (Yesus anak Yusuf), karena keduanya hidup pada masa yang berlainan (sebagaimana tampak dari perbedaan bahasa dalam nama mereka). Selain kejanggalan di atas, nama Yunani “Mariamne” juga terkesan aneh apabila dikaitkan dengan asal-usul Maria Magdalena. Kota Migdal adalah kota Yahudi, sehingga sangat jarang ditemukan orang yang bersedia memakai nama Yunani.

Implikasi bagi argumen yang lain

Seandainya Mariamne dalam inskripsi kubur di Talpiot tidak merujuk pada Maria Magdalena, apakah pengaruh hal ini bagi kredibilitas argumen yang lain? Luar biasa! Absennya nama Maria Magdalena dalam kubur Talpiot membuat argumen lain kehilangan signifikansi. Yang pertama adalah argumen dari sisi statistik. Pendukung The Lost Tomb of Jesus mengetahui bahwa beberapa nama yang tercantum di osuarium Talpiot merupakan nama Yahudi yang umum. Untuk mengantisipasi ini mereka memakai jasa Andrey Feuerverger, ahli statistik dan matematika Universitas Toronto, untuk menghitung kemungkinan nama-nama keluarga Yesus bisa berada dalam satu tempat yang sama. Hasilnya adalah 600:1. Tingkat kemungkinan yang cukup kecil ini membuat mereka yakin bahwa nama-nama dalam 6 osuarium Talpiot memang keluarga Yesus.

Statistik di atas sebenarnya tidak terlalu istimewa. Terlepas dari beberapa kelemahan dari sisi pengujian statistik (banyak ahli lain sudah menunjukkan hal ini), perhitungan statistik di atas didasarkan pada beberapa asumsi yang belum/tidak dibuktikan lebih dahulu kebenarannya, antara lain: nama Maria yang ditemukan di osuarium lain adalah Maria ibu Yesus, Mariamne adalah Maria Magdalena, Yose adalah saudara Yesus. Jika Mariamne bukanlah Maria Magdalena, maka variable lain juga akan ditafsirkan berbeda, karena pengidentifikasian kubur Talpiot sebagai kubur keluarga Yesus terutama didasarkan pada identifikasi Mariamne sebagai Maria Magdalena. Tanpa “Maria Magdalena” semua nama di inskripsi osuarium itu hanyalah nama-nama Yahudi biasa yang tidak akan disangkutpautkan dengan Yesus dalam Alkitab.

Penjelasan di atas selanjutnya membawa dampak pada hasil perhitungan permutasi Feuerverger. Jika figur Maria Magdalena dihilangkan, maka hanya ada 3 nama yang sama dengan nama keluarga Yesus dalam Alkitab, yaitu Yesus, Yusuf dan Maria. Nama Mariamne, Yose dan Matya harus disingkirkan sebagai kandidat variabel, karena ketiganya bukan nama-nama anggota keluarga Yesus dalam Alkitab. Seberapa besar peluang yang ada untuk menemukan sebuah kubur keluarga Yahudi dengan 3 nama tersebut di dalamnya? Sangat besar sekali, karena nama-nama itu adalah nama-nama Yahudi yang sangat umum. Menurut Richard Bauckham, dari 2625 pria Yahudi nama “Yusuf” ditemui 218 kali dalam pemakaian umum, sedangkan di osuarium-osuarium nama ini ditemukan 45 kali. Nama “Yesus” dipakai 99 kali dalam pemakaian umum dan 22 kali di berbagai inskripsi osuarium. Dari 328 wanita Yahudi nama “Maria” muncul 70 kali dalam pemakaian umum dan 42 kali dalam inskripsi osuarium.

Hal terakhir sehubungan dengan statistik yang perlu diketahui sebelum berpindah pada topik berikutnya adalah pengakuan Feuerverger. Hasil perhitungan statistik Feuerverger ternyata telah dikemas begitu rupa seolah-olah data itu sangat kuat membuktikan kubur Talpiot sebagai kuburan keluarga Yesus. Kenyataannya, Feuerverger sendiri tidak menganggap demikian. Ia berkali-kali menegaskan bahwa perhitungannya tidak bisa dijadikan dasar untuk memastikan isu tersebut (lihat website pribadi Feuerverger di http://magicstatistics.com/2007/03/05/jesus-tomb-statistician-backtracks-from-original-claim/).

Selain dari sisi statistik, identifikasi Mariamne juga berpengaruh terhadap pengujian DNA yang dilakukan. Dengan asumsi bahwa Mariamne adalah Maria Magdalena pendukung The Lost Tomb of Jesus mengadakan uji mitokhondrial DNA (ujian untuk menelusuri hubungan kekerabatan dari pihak ibu) atas Yesus dan Mariamne. Hasil pengujian ini menunjukkan ketidakadaan hubungan kekeluargaan dari pihak ibu. Hasil ini dianggap membuktikan kalau keduanya suami-istri, karena mereka berpikir bahwa dua orang lawan jenis tanpa hubungan kekerabatan dari pihak ibu berada dalam kuburan keluarga hanya bisa dipahami kalau keduanya suami-istri. Dalam publikasi mereka bahkan terkesan kalau konklusi ini berasal dari ahli yang mengadakan tes DNA tersebut.

Ternyata, proses ujian DNA di atas memiliki kecacatan. Sample yang diuji hanya berasal dari osuarium Yesus dan Mariamne, sedangkan yang lain diabaikan begitu saja. Seandainya semua osuarium diuji maka ada kemungkinan identitas Mariamne ini bisa ditelusuri, misalnya dia adalah anak dari salah satu perempuan di osuarium itu, dsb. Mereka juga tidak mengadakan tes radiokarbon untuk mengetahui apakah tulang Yesus dan Mariamne berasal dari masa yang sama (perbedaan bahasa dalam nama mereka menyiratkan keduanya berasal dari masa yang berlainan). Yang paling parah, sample yang diuji tidak berasal dari tulang secara langsung (hanya residu dari tempat itu). Jika ini yang terjadi, maka DNA yang diuji bisa jadi merupakan DNA para penggali kubur Talpiot, mereka yang membawa sample tersebut ke laboratorium, dsb.

Selain cacat dalam hal proses, tes DNA yang dilakukan sebenarnya tidak bisa membuktikan apapun. Mereka telah memanipulasi data yang diberikan oleh ahli yang mengadakan tes DNA tersebut. Carney Matheson yang mengadakan pengujian DNA tersebut berkali-kali dalam berbagai kesempatan telah menyatakan secara eksplisit tentang upaya manipulasi data yang dilakukan mereka. Berdasarkan tes yang dia lakukan, ada beragam kemungkinan untuk menjelaskan ketidakadaan relasi dari pihak ibu antara Yesus dan Mariamne Kemungkinan ini antara lain: keduanya adalah suami dan istri, Mariamne adalah istri dari salah satu pria yang dikubur di Talpiot, ayah dan anak, sepupu dari pihak ayah, saudara tiri berlainan ibu atau bahkan dua orang yang tidak memiliki relasi kekerabatan sama sekali. Dari sekian banyak kemungkinan ini, hanya satu yang diambil dan dipublikasikan seolah-olah kemungkinan itu adalah hasil konklusi dari ahli yang melakukan tes DNA. Jadi, tes DNA yang dilakukan tidak membuktikan apapun. Hasil ini harus diinterpretasikan lagi berdasarkan data lain yang lebih pasti.

Apakah osuarium Yakobus berasal dari Talpiot?

Bagian ini secara khusus akan menyoroti kemungkinan keterkaitan antara osuarium Yakobus (saudara Yesus; Mrk 6:3; Gal 1:19) dan yang ada di Talpiot. Mereka yang mendukung asumsi The Lost Tomb of Jesus melihat kemungkinan keterkaitan ini sebagai sesuatu yang signifikan. Seandainya osuarium Yakobus yang ditemukan di tempat lain dulu berasal dari Talpiot, maka kubur di Talpiot dapat dipastikan memang merupakan kubur keluarga Yesus.

Untuk mendukung dugaan bahwa osuarium Yakobus dulu berasal dari Talpiot, pendukung The Lost Tomb of Jesus menyatakan bahwa Oded Golan – pemilik osuarium Yakobus yang sempat berurusan dengan pemerintahan Israel – membeli osuarium dari seseorang pada sekitar tahun 1980. Di samping itu, mereka juga memberikan dua argumen, sebagaimana dikutip oleh Pdt, Ioanes Rakhmat. (1) hasil pengujian isotop terhadap patina di dua jenis osuarium yang menunjukkan hasil identik; (2) ukuran osuarium Yakobus yang sama dengan ruang kosong di kubur Talpiot. Mereka mengklaim bahwa argumen di atas – terutama argumen pertama – diteguhkan oleh kesaksian ahli yang mengadakan ujian isotop tersebut.

Benarkah osuarium Yakobus dulu berasal dari Talpiot? Sebelum menjawab pertanyaan ini, ada satu hal yang perlu diketahui lebih dahulu, yaitu osuarium ke-10 di Talpiot sebenarnya tidak pernah hilang. Amos Kloner dan Joe Zias – dua orang penting yang menemukan dan membuat katalog tentang penemuan Talpiot pada tahun 1980 – sudah memberi tahu pembuat film The Lost Tomb of Jesus bahwa osuarium ke-10 hanyalah osuarium kosong yang tidak memiliki inskripsi (tulisan) apapun. Berdasarkan hal ini, osuarium ini tidak lagi disimpan bersama dengan 9 osuarium yang lain. Oleh pendukung The Lost Tomb of Jesus, hal ini dilebih-lebihkan sehingga muncul sebuah misteri “di mana osuarium yang ke-10 itu sekarang berada?”

Selain melebih-lebihkan dan menciptakan misteri yang sebenarnya tidak ada, para pendukung The Lost Tomb of Jesus juga tidak memiliki bukti-bukti yang meyakinkan. Argumen yang diberikan terlalu mengada-ada dan mengandung manipulasi data. Berikut ini adalah beberapa kelemahan mendasar dari pendapat mereka.

Hal pertama yang perlu diketahui adalah kapan Oded Golan memiliki (membeli) osuarium Yakobus. Data yang ada menunjukkan bahwa Golan tidak mungkin baru membeli osuarium itu pada tahun 1980. Mengapa? Golan sendiri berkali-kali menegaskan kalau dia sudah memiliki osuarium itu sebelum tahun 1978, yaitu sebelum ada perubahan undang-undang pemerintah Israel tentang kepemilikan barang purbakala. Ia mengklaim telah membeli osuarium itu pertengahan tahun 1970-an. Dalam sebuah persidangan ia bahkan menunjukkan foto tahun 1970-an yang menggambarkan dia bersama osuarium Yakobus. Klaim dan bukti foto ini sangat diperlukan Goded, karena setelah tahun 1978 semua benda purbakala yang ditemukan di Israel tidak bisa dimiliki oleh perorangan dan secara otomatis menjadi milik pemerintah Israel. Fakta yang juga sempat dilihat oleh agen FBI Gerard Richard dan telah iduji oleh laboratorium foto FBI ini menutup kemungkinan bahwa osuarium Yakobus berasal dari Talpiot, karena kubur Talpiot baru dibuka pada tahun 1980.

Bantahan kedua berasal dari mereka yang pertama kali menemukan kubur Talpiot. Berdasarkan foto yang diambil Amos Kloner dan katalogisasi Joe Zias terlihat bahwa osuarium Yakobus berbeda dengan osuarium Talpiot “yang hilang”. Foto dan catatan tersebut menunjukkan bahwa osuarium Talpiot tidak memiliki tulisan atau ornamen apapun, sedangkan osuarium Yakobus memiliki keduanya. Perbedaan ini jelas menunjukkan bahwa osuarium Yakobus bukanlah osuarium Talpiot ke-10.

Selain perbedaan dari sisi tulisan dan ornamen, Kloner dan Zias juga menandaskan bahwa ukuran dua osuarium tersebut tidak sama. Osuarium Yakobus memiliki panjang 50 cm, lebar 30 cm di satu sisi dan 25,5 cm di sisi lain. Osuarium Talpiot ke-10 panjangnya 60 cm dengan lebar masing-masing 26 cm dan 30 cm. Walaupun ada beberapa usaha pengukuran ulang untuk menyamakan ukuran keduanya, namun tidak pernah mencapai akurasi yang sesuai. Bahkan sekalipun ukuran keduanya mungkin sama, hal itu tetap tidak membuktikan keduanya identik. “Kesamaan” ukuran itu paling jauh hanya menunjukkan bahwa orang Yahudi waktu itu terbiasa membuat osuarium dengan ukuran yang hampir sama.

Sanggahan lain berasal dari pengakuan Oded Golan (pemilik osuarium Yakobus) yang menceritakan bahwa osuarium itu berasal dari daerah Silwan. Pengakuan ini sudah diselidiki akurasinya melalui pengujian debu/tanah yang ada di Silwan dengan yang menempel di osuarium tersebut. Hasil pengujian ini menunjukkan kesamaan yang identik. Kesamaan ini sangat signifikan, karena lapisan tanah yang diuji dari Silwan adalah khusus dan sangat jarang ditemukan di tempat lain.

Hasil pengujian tanah di atas juga tampak signifikan apabila dibandingkan dengan pengujian patina yang dilakukan pendukung The Lost Tomb of Jesus. Yang diuji mereka ternyata adalah lapisan tanah terra rosa yang ada di Talpiot dan osuarium Yakobus. Hasil pengujian yang menunjukkan kesamaan identik seharusnya tidak terlalu mengagetkan, karena terra rosa dapat ditemukan di mana saja, baik di dalam maupun di sekitar Yerusalem. Jadi, kesamaan hasil ujian patina tidak membuktikan apapun.

Satu hal lagi berkaitan dengan pengujian patina ini, ahli yang melakukan tes tersebut secara resmi menyangkal kalau ia telah mengambil kesimpulan apapun tentang tes yang dia lakukan. Direktur Laboratorium Kriminal Suffolk ini menyatakan bahwa diperlukan serangkaian tes terhadap osuarium-osuarium yang lain untuk membuktikan kesamaan antar osuarium Yakobus dan Talpiot. Sekali lagi, apa yang dipublikasikan di The Lost Tomb of Jesus hanyalah manipulasi data.

Berkaitan dengan Silwan sebagai tempat ditemukannya osuarium Yakobus, informasi ini sesuai dengan catatan sejarahwan Kristen pada abad ke-4 yang bernama Eusebius. Dalam bukunya dia menjelaskan bahwa kuburan Yakobus terletak di dekat bait Allah dam Lembah Kidron dan pada jamannya masih ada tanda khusus yang menunjukkan bahwa itu kuburan Yakobus. Tradisi ziarah Kristiani juga mendukung tempat di dekat bait Allah sebagai tempat Yakobus dikuburkan. Dua data historis ini jelas bertentangan dengan asumsi bahwa osuarium Yakobus berasal dari Talpiot, karena Talpiot terletak jauh dari area bait Allah.

Kuburan Talpiot bukanlah kuburan keluarga Yesus

Sebelum memulai pemaparan bukti-bukti positif, satu hal yang harus diluruskan terlebih dahulu adalah kontribusi Alkitab bagi penelitian sejarah abad ke-1. Sebagian arkheolog – terutama dipelopori oleh William G. Dever – tidak menganggap Alkitab sebagai bukti arkheologis yang penting. Mereka menuntut pembuktian tentang kebenaran Alkitab secara arkheologis lebih dahulu, baru sesudah itu kebenaran Alkitab bisa diterima. Pendeknya, mereka cenderung meragukan kredibilitas Alkitab sampai ada bukti-bukti arkheologis/historis “objektif” yang mendukung Alkitab.

Pandangan seperti di atas jelas sangat subjektif. Alkitab – dalam taraf tertentu – adalah salah satu penemuan arkheologi. Bukti-bukti yang ada mengarah pada kesimpulan bahwa naskah asli (autografa) Perjanjian Baru semua ditulis pada abad ke-1. Mengapa mereka memperlakukan Alkitab secara berbeda? Mengapa mereka secara a priori lebih percaya pada penemuan arkheologis abad ke-1 di luar Alkitab daripada Alkitab itu sendiri? Mengapa mereka lebih percaya pada asumsi (yang tidak terbukti) bahwa Alkitab telah dikarang maupun dan diubah sedemikian rupa sehingga tidak sesuai dengan Yesus asli yang hidup di Palestina? Bukankah dalam hal literatur, Perjanjian Baru adalah bukti tertulis tertua dan terlengkap tentang Yesus? Jadi, arkheolog yang objektif seharusnya membuktikan kesalahan Alkitab dahulu (suatu usaha yang sia-sia) baru dia boleh meragukan kredibilitasnya, karena – sekali lagi – Alkitab adalah bukti arkheologis tertua dan terlengkap tentang kehidupan Yesus.

Berdasarkan pemahaman bahwa Alkitab adalah sumber arkheologis yang bisa dipercaya (kecuali mereka yang menolak Alkitab mampu menunjukkan inakurasi Alkitab), kita sekarang bisa mulai memaparkan beberapa bukti penting, yang sebagian besar berkaitan dengan Alkitab.

Menurut catatan Alkitab, keluarga Yesus berasal dari Betlehem (Luk 2:4). Yesus dan saudara-saudara-Nya bertumbuh di kota Nazaret (Luk 2:39), sehingga Dia dijuluki orang Nazaret (Mat 2:23; 21:11; 26:71). Alkitab juga memberi indikasi implisit kalau Yusuf – ayah Yesus secara legal – sudah meninggal sebelum Yesus memulai pelayanan di Yerusalem: (1) Yusuf tidak pernah muncul selama pelayanan Yesus; (2) Yesus bukan hanya disebut anak tukang kayu (Mat 13:55), tetapi tukang kayu (Mar 6:3). Jika hal ini benar, maka Yusuf pasti sudah dikuburkan sebelum Yesus melayani di Yerusalem. Dengan demikian, penemuan kubur keluarga Yesus di Yerusalem merupakan sesuatu yang janggal. Mengapa keluarga Yesus semuanya dikubur di Yerusalem, padahal mereka berasal dari Betlehem dan besar di Nazaret?

Seandainya keluarga Yesus memang memiliki kubur di Yerusalem, cara penulisan nama di isnkripsi osuarium juga pasti berbeda dengan yang ditemukan di Talpiot. Menurut penelitian L. Y. Rahmani (seorang arkheolog Israel) terhadap semua osuarium yang ditemukan di Yerusalem, osuarium milik orang dari luar Yerusalem biasanya mencantumkan daerah asal pada inskripsinya. Seandainya osuarium Talpiyot memang milik keluarga Yesus yang berasal dari luar Yerusalem, maka dalam inskripsi tersebut akan ada tambahan Yusuf [dari] Betlehem, Yesus [dari] Nazaret, Maria [dari] Magdalena, dsb. Dalam inskripsi Talpiot ternyata penjelasan ini tidak muncul dan itu menyiratkan bahwa kubur Talpiot adalah milik orang Yerusalem, bukan milik keluarga Yesus.

Hal lain yang membuktikan kubur Talpiot bukan kubur keluarga Yesus adalah status ekonomi keluarga Yesus. Sesuai dengan kultur Yahudi, kuburan bukit batu hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kaya, karena pembelian bukit dan pembuatan ruang-ruang (gua) di dalamnya memakan biaya yang sangat mahal. Kubur batu Talpiot dan berbagai osuarium yang ada di dalamnya menunjukkan bahwa kubur ini milik orang kaya, sedangkan keluarga Yesus bukanlah keluarga kaya. Ketika Yesus lahir dan dibawa ke bait Allah, orang tuanya hanya bisa memberikan persembahan dua ekor burung (Luk 2:24) yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang miskin (Im 12:8). Yesus dan Petrus bahkan pernah tidak memiliki uang untuk membayar bea bait Allah yang hanya dua dinar (Mat 17:27).

Poin selanjutnya adalah peristiwa penyaliban dan penguburan Yesus. Menurut catatan Alkitab, setelah Yesus mati di kayu salib, Yusuf Arimatea meminta ijin kepada Pilatus untuk menguburkan Yesus di kubur baru miliknya. Hal ini dilakukan Yusuf Arimatea dengan segera karena esok hari adalah hari Sabat (Mar 15:42-43). Seandainya kuburan keluarga Yesus ada di Talpiot dan Dia harus secepatnya dikubur, bukankah orang akan menguburkan-Nya di Talpiot? Mengapa Yusuf Arimatea perlu meminjamkan kuburnya yang baru untuk Yesus (sesuatu yang sangat janggal menurut budaya waktu itu karena Yesus tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan Yusuf Arimatea)? Bukankah tindakan Yusuf Arimatea ini menunjukkan bahwa kubur keluarga Yesus terletak jauh dari Yerusalem dan tidak bisa dicapai dalam waktu singkat?

Poin yang lain berkaitan dengan posisi dan keadaan kubur Talpiot. Seandainya tulang-tulang Yesus disimpan di Talpiot (menunjukkan bahwa Yesus tidak bangkit), maka anggota keluarga dan pengikut-Nya pasti akan merahasiakan posisi kubur ini kepada publik. Mereka tidak ingin “kebohongan” berita kebangkitan Yesus akan terbongkar dan dengan mudah dipatahkan dengan menunjukkan tulang-tulang Yesus. Mereka pasti akan menempatkan simbol kekristenan tertentu yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang Kristen dan berbekal simbol khusus ini mereka bisa tetap berziarah di kubur Yesus sekaligus menyembunyikan bukti yang menunjukkan Yesus tidak bangkit. Ternyata, semua ini tidak sesuai dengan posisi dan keadaan kubur Talpiot. Tidak ada indikasi bahwa kubur Talpiot disembunyikan dari publik. Tidak ada simbol kekristenan apapun di kubur maupun osuarium yang ada. Tidak ada rujukan historis apapun tentang ziarah orang Kristen di kubur ini. Pendukung teori The Lost Tomb of Jesus mencoba menjelaskan bahwa simbol chevron (huruf V terbalik dengan lingkaran ada di bawahnya) di Talpiot adalah simbol Kristen, tetapi pendapat ini dengan mudah dipatahkan dengan menunjukkan ratusan tanda chevron di berbagai kubur Yahudi. Tanda ini adalah kuburan Yahudi, bukan kuburan Kristen.

Masih terkait dengan poin di atas, dalam inskripsi Talpiot juga tidak ditemukan kalimat-kalimat yang mengagungkan Yesus. Tulisan “Yeshua bar Yehosef” (Yesus Anak Yusuf) sifatnya sangat umum. Bahkan nama “Yesus anak Yusuf” juga ditemukan di beberapa osuarium Yahudi. Lebih lagi, menurut catatan Alkitab, sebutan “Yesus anak Yusuf” hanya diucapkan oleh orang yang belum atau tidak percaya kepada Yesus (Luk 4:22; Yoh 1:45; 6:42). Lukas 3:23 menjelaskan “menurut anggapan orang, Ia [Yesus] adalah anak Yusuf”. Seandainya osuarium itu berisi tulang Yesus, sulit dipahami mengapa anggota keluarga dan para pengikut Yesus justru memakai ungkapan yang terlalu umum dan menurut Alkitab berkonotasi negatif? Bukankah mereka pasti akan menggunakan gelar atau sebutan tertentu yang mengagungkan Yesus?

Bukti terakhir – tetapi bukan yang terkecil – adalah perubahan hidup para pengikut Yesus. Alkitab mencatat bahwa pada saat Yesus mati disalib, murid-murid-Nya meninggalkan Dia dan berada dalam ketakutan, ketidakadaan harapan dan ketidakpastian. Sikap murid-murid mulai berubah setelah – menurut Alkitab – melihat Yesus yang bangkit. Terlepas dari historitas kisah kebangkitan yang sering diragukan teolog liberal, tradisi di luar Alkitab memang mencatat bahwa murid-murid memiliki perubahan sikap tidak lama setelah peristiwa kematian Yesus. Semua rasul (kecuali Yohanes) mati sebagai martyr ketika mereka memberitakan Yesus yang bangkit. Ribuan orang Kristen lain juga mengikuti jejak mereka. Seandainya Yesus tidak bangkit dan tulang-tulang-Nya dipindahkan dari kuburan Yusuf Arimatea ke kubur Talpiot, maka keluarga dan murid-murid Yesus PASTI mengetahui hal ini. Jika ini yang terjadi, maka akan sangat aneh kalau mereka tetap mengikuti seorang pemimpin yang janji-Nya tidak terbukti dan hanya membawa mereka pada ketidakpastian. Bukankah mereka pasti akan meninggalkan Dia? Lebih aneh lagi, mereka ternyata dengan berani bersedia mati martyr demi pemberitaan bahwa Yesus telah bangkit secara fisik sebagai tanda bahwa Ia adalah Tuhan. Seandainya mereka tahu persis bahwa Yesus tidak bangkit secara fisik (tulang-tulang-Nya disimpan di Talpiot), mengapa mereka mau mati demi sebuah kebohongan atau – menurut Pdt. Ioanes Rakhmat – sebuah metafora teologis semata?

Konklusi

Argumen yang dipaparkan Pdt. Ioanes Rakhmat dan pendukung The Lost Tomb of Jesus ternyata hanyalah eksploitasi sebuah interpretasi (beberapa orang bahkan menyebutnya manipulasi data). Beliau tidak terlalu jujur dengan interpretasi lain yang sebenarnya jauh lebih kuat. Sama seperti mayoritas arkheolog terkemuka, kita sebaiknya melihat kontroversi kontemporer ini hanya sebagai sebuah isu sensasional belaka yang tidak memiliki nilai ilmiah. Orang-orang yang terlibat di dalam riset tersebut bukanlah arkheolog maupun ahli di bidangnya. Beberapa data para ahli pun dimanipulasi sedemikian rupa seolah-olah mendukung pandangan sensasional ini. Tidak heran William G. Denver, seorang arkheolog Amerika terkemuka yang tidak beragama Kristen pun mengatakan isu ini sebagai AIB bagi dunia penelitian, karena data yang ada dimanipulasi dan dilebih-lebihkan. Amos Kloner, penemu kubur Talpiot pada April 1980 juga sepakat bahwa kubur ini tidak memiliki kaitan apapun dengan keluarga Yesus dalam Alkitab.

Leave a Reply