Yakub Tri Handoko, Th. M.

Pendahuluan

Keilahian Kristus selalu menjadi fokus perdebatan sepanjang jaman. Selama Yesus ada di dunia, keilahian-Nya sudah menimbulkan kontroversi. Klaim dan tindakan-Nya yang menyamakan diri dengan Allah beberapa kali dianggap penghujatan (Mat 9:2-3//Mar 2:5-7//Luk 5:20-21; Mat 26:64-65; Yoh 5:18; 10:30-33). Pada masa gereja mula-mula, para rasul berjuang untuk menangkis berbagai ajaran sesat yang meragukan inkarnasi (1Yoh 4:1-6) maupun keilahian Yesus (1Yoh 5:1-5). Kontroversi terus berlanjut pada masa pasca rasuli. Gereja Timur dan Barat berdebat tentang hakekat keilahian Kristus dalam kaitan dengan keilahian Bapa. Gereja Timur berpendapat bahwa keilahian Kristus mirip ({omoiousios) dengan Bapa, sedangkan Gereja Barat menganggap sama ({omoousios) dengan Bapa. Selain itu, gereja juga harus menghadapi berbagai bidat yang menolak keilahian Kristus, misalnya Arianisme (Yesus adalah ciptaan yang memiliki hakekat yang mirip dengan Allah), Adopsionisme (Yesus hanya manusia biasa yang akhirnya diangkat menjadi Allah), Ebionites (Yesus adalah manusia biasa, namun diperanakkan dan diberi kuasa yang luar biasa oleh Roh Kudus). Perdebatan di atas ternyata sampai sekarang masih terus berlanjut. Walaupun beberapa aspek dari perdebatan kontemporer hanya mengulang apa yang dulu sudah ada (tidak ada yang baru di bawah matahari, Pkt. 1:9), namun pendekatan yang mereka lakukan terus mengalami modifikasi.

Inti perdebatan

Untuk mempermudah pemahaman, serangan terhadap keilahian Yesus dapat dikelompokkan sebagai berikut: Pertama, mereka yang membedakan antara Yesus Sejarah (Historical Jesus) dan Kristus Iman (the Christ of Faith). Sejak awal abad ke-18 para teolog liberal mulai mempopulerkan teori bahwa figur Yesus yang ditampilkan dalam Alkitab berbeda dengan figur Yesus yang pernah hidup di dunia. Semua hal supranatural yang berkaitan dengan Yesus (keilahian, mujizat dan kebangkitan-Nya) dianggap hanya sebagai refleksi teologis para penulis terhadap kehidupan Yesus di dunia yang mereka yakini sangat manusiawi. Beberapa sarjana bahkan sangat skeptis terhadap kemungkinan menemukan figur Yesus yang pernah ada di dunia (Rudolf Bultmann, Jesus and the Word, trans. Louise Pettibone Smith and Erminie Huntress Lantero, Charles Scribner’s Sons, 1958; Jesus Christ and Mythology, SCM Press, 1960). Pandangan seperti ini sampai sekarang masih dipopulerkan oleh para penganut Jesus Seminar (Dominic Crossan, Robert Funk, Marcus Borg). Jika pandangan seperti ini diterima, maka keilahian Yesus yang diajarkan dalam Alkitab dengan sendiri akan ditolak, karena dianggap tidak berasal dari Yesus.

Mereka yang menganut pandangan di atas umumnya menganggap para penulis Alkitab dipengaruhi oleh pola pikir Hellenis pada waktu itu yang dipenuhi dengan hal-hal supranatural. Para penulis Alkitab tidak bermaksud membohongi pembacanya, karena para pembaca memahami catatan supranatural itu hanya sebagai metafora yang merefleksikan konsep teologis tertentu. Selain menghilangkan (baca: menafsirkan ulang secara metaforis) hal-hal yang supranatural, mereka juga menggunakan kriteria-kriteria tertentu untuk menyelidiki apakah suatu ucapan maupun tindakan dalam kitab-kitab injil memang berasal dari Yesus atau hanya karangan para penulis Alkitab.

Kedua, mereka yang menganggap doktrin Tritunggal (terutama keilahian Yesus) sebagai produk pergumulan teologis gereja abad permulaan. Menurut mereka, istilah dan konsep Tritunggal tidak pernah diajarkan dalam Alkitab. Doktrin ini hanyalah respon gereja terhadap berbagai bidat waktu itu. Pandangan yang lebih lunak melihat keilahian Yesus dalam Perjanjian Baru secara fungsional, tetapi bukan ontologis (Oscar Cullman, The Christology of the New Testament, 1963). Artinya, para penulis Alkitab tidak pernah membahas tentang natur/hakekat keilahian-Nya, karena yang menjadi pergumulan mereka pada abad ke-1 adalah fungsi Yesus, bukan hakekat-Nya. Doktrin Tritunggal yang diajarkan gereja sangat bernuansa Hellenis yang sarat dengan pemikiran metafisik yang tidak konkret.

Ketiga, mereka yang menganggap doktrin Tritunggal (terutama keilahian Yesus) sebagai hal yang kontradiktif. Konsep “satu hakekat Allah dalam tiga pribadi” dianggap secara logis tidak masuk akal. Konsep “Anak diperanakkan secara kekal dari Bapa” (eternal generation of the Son) juga dipahami sebagai kontradiksi: bagaimana peristiwa kelahiran (berarti dalam kurun waktu tertentu yang dilahirkan pernah tidak ada) bisa terjadi secara kekal? Untuk membuat doktrin ini menjadi lebih masuk akal, perbedaan di antara Trintunggal hanya dibatasi daam konteks fungsi. Jadi, Tritunggal dipahami sebagai “satu hakekat dan satu pribadi Allah, tetapi tiga fungsi”. Walaupun konsep ini tetap menganggap Yesus sebagai Alah, tetapi mengaburkan perbedaan pribadi antara Bapa, Putra dan Roh Kudus.

Keempat, mereka yang menafsirkan ulang teks-teks tradisional yang mengajarkan keilahian Kristus. Contoh: mereka mencoba menjelaskan bahwa gelar qeos (“Allah”) atau kurios (“Tuhan”) untuk Yesus tidak secara eksklusif merujuk pada keilahian-Nya, karena dalam Perjanjian Lama sebutan ‘el atau ‘elohim (“Allah”) maupun adonay (“Tuhan”) bisa merujuk pada pribadi lain di luar Allah, misalnya “Musa” (Kel 7:1), “orang kuat” (Yeh 31:11), tuan (Kel 21:6; 22:8, 9, 28). Dalam literatur sekuler waktu itu sebutan “Allah dan Tuhan” kadangkala dipakai untuk pemimpin politis, misalnya kaisar atau ratu. Sebutan “Anak Allah” yang dipakai Yesus juga dipahami dengan cara yang sama. Sebutan ini hanyalah penyebutan biasa, karena dalam Perjanjian Lama sebutan ini juga bisa dipakai untuk para malaikat (Kej 6:1-4; Ay 1:6; Mzm 29:1). Mereka yang menolak keilahian Kristus juga tidak lupa mempermasalahkan beberapa ayat tentang Tritunggal atau keilahian Yesus yang dianggap tidak asli, misalnya 1Yohanes 5:7b-8a.

Terakhir, mereka yang menafsirkan ayat-ayat tertentu sebagai argumen untuk menentang keilahian Yesus. Teks yang paling sering dipermasalahkan antara lain Amsal 8:22 dan Wahyu 3:14. Penyebutan untuk Yesus sebagai “yang sulung di antara ciptaan” (Kol 1:15) juga dianggap membuktikan bahwa Yesus hanyalah ciptaan pertama. Beberapa ayat yang tampaknya mengajarkan keterbatasan Yesus (Mat 24:36//Mar 13:32; Yoh 5:19) turut dipakai sebagai argumen untuk menentang keilahian-Nya. Pendeknya, mereka tetap mengagungkan Yesus, tetapi buan dalam kesamaan hakekat dengan Bapa. Yesus mungkin ilahi, tetapi tidak sehakekat atau setara dengan Bapa (Yoh 14:28b).

Pembahasan

Dari lima inti perdebatan di atas terlihat bahwa permasalahan yang ada terlalu kompleks (filosofis, historis, biblikal) dan menyangkut hal-hal yang sangat detil (penyelidikan eksegetis setiap ayat yang diperdebatkan). Makalah ini tidak mungkin dapat membahas semua aspek tersebut secara memuaskan dan detil. Dengan pertimbangan ini, pembahasan dalam makalah ini hanya akan dipaparkan secara umum. Penyelidikan detil hanya akan diberikan jika berkaitan dengan hal-hal yang sangat penting.

Konsep tentang keilahian bersumber dari Yesus sendiri

Pandangan teolog liberal yang membedakan antara Yesus Sejarah dan Kristus Iman hanyalah sebuah dugaan yang tidak memiliki argumen biblika yang kuat. Pendapat mereka lebih banyak ditentukan oleh presuposisi antisupranaturalisme yang mereka anut. Beberapa kriteria yang dipakai mereka untuk membedakan antara Yesus Sejarah dan Kristus Iman ternyata tidak mereka ikuti secara konsisten.   

Konsekuensi menolak keilahian Kristus

  1. Kita menjadikan Allah sebagai pendusta (1Yoh 5:10).
  2. Tidak memiliki hidup kekal (1Yoh 4:15).

Leave a Reply