Yakub Tri Handoko, M. Th.

Pendahuluan

Sebelum mempelajari seluk-beluk predestinasi, kita perlu memahami lebih dahulu beberapa istilah penting yang sering dipakai dan disalahpahami:

  • Foreordination: penentuan segala sesuatu sejak kekekalan.
  • Predestination: penentuan yang berhubungan dengan keselamatan atau kebinasaan kekal sejak kekekalan.
  • Election: penentuan sebagian orang untuk diselamatkan sejak kekekalan.

Jadi, election merupakan salah satu bagian dari predestination, sedangkan predestination sendiri merupakan salah satu bagian dari foreordination.

Doktrin tentang predestinasi merupakan salah satu doktrin yang paling membingungkan dan sedikit dimengerti oleh orang Kristen (Millard J. Erickson, Christian Theology, 921). Berikut ini adalah beberapa hal yang menyebabkan hal tersebut terjadi dan bagaimana kita seharusnya menyikapinya:

  1. Orang menganggap doktrin ini berada di luar kapasitas manusia untuk memahaminya.

Respon:

Alkitab mengajarkan tentang predestinasi, karena itu kita tidak boleh mengabaikan apa yang telah Allah nyatakan. Ada beberapa aspek dari doktrin ini yang memang trans-rasional, karena selalu akan misteri setiap kali ciptaan ingin memahami Pencipta, tetapi itu bukan halangan untuk berhenti memahami doktrin ini sejauh yang Allah telah nyatakan.

  1. Orang menganggap doktrin ini tidak berhubungan sama sekali dengan hal praktis. Doktrin ini dianggap hanya sebagai spekulasi filosofis dari rasio manusia yang ada di awan-awan (teoritis saja).

Respon:

Beberapa bagian Alkitab yang menyinggung tentang predestinasi justru berhubungan dengan hal praktis. Contoh: Roma 8:29-30. Doktrin ini diajarkan dalam konteks penderitaan yang dialami oleh orang percaya (Rom 8:17-28).

  1. Orang menganggap doktrin ini hanya dimiliki oleh sebagian denominasi/aliran teologi.

Respon:

Kata maupun ide predestinasi memang diajarkan oleh Alkitab (bukan produk teolog Reformed), misalnya Roma 8:29, 30; Efesus 1:5, 11 (NIV). Inti persoalan terletak pada dasar predestinasi: pra-pengetahuan Allah atau kedaulatan Allah. Golongan Armenian juga menerima predestinasi, tetapi konsep mereka berbeda dengan predestinasi Reformed. Selain itu, kita juga perlu mengetahui bahwa predestinasi bukanlah inti dari teologi Calvinisme/Reformed. Dalam buku Institutio­, Calvin hanya sedikit menyinggung tentang predestinasi, itu pun hanya dalam kaitan dengan doktrin kedaulatan Allah/anugerah.

Predestinasi dalam Alkitab

Sebelum membahas beberapa ayat yang secara khusus mengajarkan predestinasi, ada baiknya kita melihat cakupan foreodination Allah. Apakah ketetapan Allah sejak kekekalan mencakup segala sesuatu atau beberapa hal saja? Apakah ketetapan Allah bisa gagal? Seandainya ketetapan tersebut mencakup segala sesuatu dan tidak bisa gagal berarti predestinasi merupakan hal yang tidak terelakkan.

Ayat-ayat berikut ini menunjukkan bahwa ketetapan Allah memang mencakup segala sesuatu, baik besar maupun kecil dan tidak bisa batal.

  • Apa yang terjadi sudah ditetapkan Allah sebelumnya.

Dasar Alkitab: Yes 37:26; Mzm 139:16; Ayub 14:5; Ef 1:4

  • Ketetapan ini mencakup hati manusia, hal-hal yang tampaknya sepele maupun buruk menurut pandangan manusia.

Dasar Alkitab: Ams 16:4, 33; 21:1; Ayub 38:4; Yes 22:11; 40:12; Mat 26:24; Mar 14:21; Luk 22:22; Yoh 17:12; 18:9; Kis 2:23; 4:27-28.

  • Ketetapan ini tidak bisa gagal.

Dasar Alkitab: Ayub 42:2; Ams 19:21; Yes 14:27; 46:10-11.

            Berikut ini adalah beberapa ayat yang secara khusus mengajarkan tentang predestinasi:

  1. Yohanes 6:44 “tidak ada seorang pun yang dapat datang kepadaku jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa” (lihat juga ayat 37, 65; 15:16).
  2. Kisah 13:48 “semua yang ditentukan Allah untuk hidup yang kekal menjadi percaya”.
  3. Roma 8:29-20 “sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula”. Mayoritas versi Inggris memang menerjemahkan “diketahui sebelumnya” (foreknew), tetapi harus diingat bahwa dalam konsep berpikir orang Ibrani mengetahui bukan hanya pengetahuan kognitif, tetapi personal-eksperiensial.
  4. Efesus 1:4 “Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan”.

Dari ayat-ayat di atas dengan jelas terlihat bahwa predestinasi memang diajarkan oleh Alkitab. Pertanyaannya adalah apakah dasar bagi predestinasi? Apakah Allah menentukan sebagian untuk selamat karena Ia sudah mengetahui sebelumnya bahwa mereka akan percaya? Ataukah Allah memilih berdasarkan kedaulatan-Nya yang mutlak?

Dasar Alkitab bagi predestinasi

Golongan Reformed melihat doktrin predestinasi bukan sebagai doktrin yang terpisah (berdiri sendiri). Doktrin ini didasarkan pada dua kebenaran utama. Pertama, natur keberdosaan manusia. Teologi Reformed percaya bahwa semua manusia turut berdosa dalam Adam sebagai perwakilan semua umat manusia (Rom 5:12-21). Manusia mengalami apa yang disebut total depravity (kerusakan total). Efesus 2:3 “secara natur kita adalah anak-anak kemurkaan” (RSV/NASB). Kebaikan manusia seperti apapun tetap merupakan kejahatan di mata Allah (Rom 3:9-20). Manusia tidak mungkin memilih Allah karena mereka dikuasai oleh kuasa lain (Ef 2:1-3; 2Kor 4:3-4).

Kedua, kedaulatan Allah yang mutlak. Teologi Reformed mengakui bahwa segala sesuatu ditetapkan oleh Allah berdasarkan kehendak-Nya sendiri. Walaupun secara kronologis tidak bisa dibedakan, namun secara logis Allah lebih dahulu menetapkan segala sesuatu lalu Ia mengetahui segala sesuatu. Jadi, ketetapan Allah mendahului pengetahuan-Nya. Dalam kaitan dengan predestinasi, Alkitab memberikan indikasi yang cukup kuat bagi pendapat di atas.

  1. Roma 9:11-21 à Pilihan Allah tidak didasarkan pra-pengetahuan-Nya tentang apa yang akan dilakukan manusia (ay. 11-12), tetapi kebebasan-Nya untuk memberi belas kasihan kepada siapa saja yang Ia mau (ay. 15-16).
  2. Efesus 1:5 “…Allah memilih kita…sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya”.
  3. 1Yoh 4:10 “Inilah kasih itu: bukan kita yang mengasihi Allah, tetapi Allah yang lebih dahulu mengasihi kita”.

Dasar teologis-filosofis bagi predestinasi

  1. Seandainya predestinasi didasarkan pra-pengetahuan Allah bahwa orang tersebut akan percaya, apa signifikansi “pilihan” Allah? Kalau memang Allah sudah tahu (dan pengetahuan-Nya bersifat pasti), bukankah Ia tidak perlu memilih, karena bagaimanapun apa yang Dia tahu pasti akan terjadi?
  2. Seandainya segala sesuatu terjadi berdasarkan pengetahuan Allah, di manakah letak kedaulatan Allah atas ciptaan-Nya?
  3. Seandainya predestinasi didasarkan pra-pengetahuan Allah, bagaimana hubungannya dengan konsep keselamatan oleh anugerah yang diajarkan Alkitab?

Sanggahan dan jawaban

Sanggahan Jawaban
Kita tidak perlu memberitakan Injil Kita tidak tahu siapa yang telah dipilih oleh Allah untuk selamat. Pemberitaan Injil adalah bukti ketaatan kita kepada Allah
Kita berbuat dosa semaunya, karena keselamatan tidak bisa hilang Predestinasi adalah satu paket keselamatan. Allah menjamin orang pilihan dengan cara memberikan kemauan dan kemampuan untuk taat (Flp 2:12-13)
Hidup kita seperti sandiwara Kita tidak tahu skenario hidup kita. Pedoman hidup kita adalah Alkitab, bukan ketetapan Allah sejak kekekalan
Manusia tidak memiliki kehendak bebas Kehendak bebas harus benar-benar bebas, sedangkan secara natur kebebasan mutlak hanya milik Allah. Kehendak bebas manusia yang terbatas berada dalam kedaulatan Allah
Allah bersikap tidak adil Seandainya semua manusia binasa karena keberdosaan mereka, Allah tetap adil. Ketika ia memilih sebagian untuk diselamatkan, itu adalah bukti kasih-Nya, sedangkan orang lain menerima keadilan Allah

 Aplikasi

Doktrin predestinasi merupakan konsep yang sangat penting bagi orang percaya. Berikut ini adalah beberapa implikasi dari doktrin bagi kehidupan praktis kita:

  1. Kita meyakini bahwa keselamatan kita tidak bisa hilang, karena rencana Allah tidak bisa gagal. Mazmur 37:24 à orang benar jatuh tidak akan tergeletak.
  2. Kita semakin rendah hati, karena keselamatan kita adalah benar-benar anugerah. Bahkan kemauan dan kemampuan untuk taat pun merupakan pekerjaan Allah (Flp 2:12-13).
  3. Kita semakin memahami kasih Allah yang luar biasa. Ia mengasihi kita ketika kita masih berdosa (Rom 5:6). Allah juga tidak berhenti mengasihi kita ketika kita nanti melakukan dosa yang sebesar apapun, karena pada dasarnya Ia memang memilih kita bukan karena kebaikan kita (1Yoh 1:9).
  4. Kita tidak patah semangat dalam memberitakan Injil kepada orang yang keras hati, karena kalau orang itu ditetapkan Allah untuk selamat, orang itu suatu ketika pasti akan selamat. Sebaliknya, kita tetap akan rendah hati ketika Injil yang kita beritakan diterima orang, karena itu murni pekerjaan Allah.

Leave a Reply