Yakub Tri Handoko, M. Th.

Isu yang paling sulit sehubungan dengan predestinasi adalah tentang orang-orang yang tidak dipilih. Sebagian sarjana menyebut mereka yang tidak dipilih sebagai orang-orang yang ditolak, namun istilah “orang-orang yang ditolak” tampaknya tidak tepat. Istilah ini memberi kesan manusia berdosa telah mengindikasikan inisiatif untuk datang, tetapi Allah dengan aktif menolak/menghalangi mereka. Predestinasi didasarkan pada natur manusia yang berdosa. Tanpa intervensi Allah dalam bentuk paket keselamatan (dari predestinasi sampai pemuliaan), manusia tidak akan percaya kepada Allah. Karena manusia berdosa tidak mungkin datang kepada Allah, mereka tidak perlu ditolak.

Diskusi tentang orang-orang yang tidak dipilih telah menyebabkan perbedaan pendapat di kalangan mereka yang menerima predestinasi. Sebagian hanya membatasi predestinasi pada orang-orang yang dipilih (predestinasi tunggal), sementara yang lain percaya bahwa predestinasi menyangkut orang-orang yang dipilih maupun yang tidak dipilih (predestinasi ganda). Pandangan predestinasi ganda dapat disarikan sebagai berikut “Allah telah memilih sebagian orang untuk diselamatkan berdasarkan kebaikan dan kedaulatan-Nya yang mutlak dan membiarkan sebagian yang lain dalam kebinasaan”.

Kata “membiarkan” di atas menyiratkan “ketidakaktifan” Allah dalam kebinasaan sebagian orang. Allah tidak perlu secara aktif membuat orang binasa. Mereka secara natur pasti akan binasa. Di sisi lain, kata “membiarkan” juga tidak boleh diartikan bahwa Allah tidak bisa berbuat apa-apa (pasif) terhadap apa yang akan terjadi dengan orang-orang yang tidak dipilih. Membiarkan berarti “secara aktif menetapkan untuk membiarkan sesuatu terjadi”.

 Dasar Alkitab untuk predestinasi ganda

Alkitab tidak banyak memberikan indikasi eksplisit tentang orang-orang yang tidak dipilih. Berikut ini adalah beberapa ayat yang mengarah ke sana:

Amsal 16:4      “TUHAN membuat segala sesuatu untuk tujuannya masing-masing, bahkan orang fasik dibuat-Nya untuk hari malapetaka”

Kis 1:16-20     Perbuatan Yudas Iskariot sudah dinubuatkan sebelumnya

Kis 4:27-28     “Herodes…Pontius Pilatus…untuk melaksanakan segala sesuatu yang telah Engkau tentukan dari semula oleh kuasa dan kehendak-Mu”

Yudas 1:4        “orang-orang yang telah lama ditentukan untuk dihukum”

Wahyu 13:8     “…semua orang yang namanya tidak ditulis sejak dunia dijadikan di dalam kitab kehidupan”

Alkitab memberi penekanan pada ketetapan Allah untuk menyerahkan Yesus (Rom 5:6; 8:32). Yesus juga berkali-kali menyatakan bahwa Ia harus mati (Mat 16:21; 20:22; 26:54; Mar 8:31; 10:38). Kalau Yesus memang telah ditetapkan sejak kekekalan untuk menjadi juru selamat kita (band. Ef 1:4), bukankah orang-orang yang menyerahkan-Nya juga sudah ditetapkan (Kis 1:16-20; 4:27-28)?

Argumentasi teologis-filosofis untuk predestinasi ganda

Predestinasi tunggal sebenarnya secara logis dan teologis tidak bisa dibenarkan. Berikut ini adalah runtutan pemikiran untuk membuktikan inkonsistensi predestinasi tunggal:

à Seandainya Allah hanya memilih orang-orang tertentu untuk diselamatkan, bagaimana nasib orang-orang yang tidak dipilih? Apakah mereka memiliki peluang untuk diselamatkan?

à Jawaban terhadap pertanyaan di atas ada dua: ya atau tidak

à Seandainya tidak, berarti mereka pasti akan binasa (predestinasi ganda)

à Seandainya ya, atas dasar apa mereka diselamatkan? Apakah Allah memiliki pola keselamatan yang berbeda untuk orang yang berbeda? Apakah seseorang bisa selamat tanpa intervensi Allah? Kalau begitu, apakah artinya keselamatan karena anugerah? (band. Ef 2:8-10)

Predestinasi ganda sebagai sebuah misteri ilahi

Orang yang menolak predestinasi ganda biasanya memiliki anggapan, baik sadar atau tidak, bahwa tujuan utama penciptaan adalah kebaikan manusia. Hal ini kurang sesuai dengan Alkitab. Tujuan utama Allah menciptakan segala sesuatu adalah untuk kemuliaan-Nya (Rom 3:36; Kol 1:16; Ef 1:5-6, 12, 13-14; 2:8-10; Why 4:11). Allah tidak harus menciptakan sesuatu di luar diri-Nya. Tanpa apapun Allah sudah sempurna. Dia tidak membutuhkan apapun, sekecil apapun. Ketika Ia menetapkan untuk menciptakan segala sesuatu, semuanya itu hanya untuk kemuliaan-Nya. Ia membangkitkan dan menghukum Firaun hanya untuk menunjukkan kemuliaan-Nya (Kel 14:4; Rom 9:17). Ia berhak melakukan apa saja, karena Ia adalah Pencipta (Rom 9:20-21).

Hal yang lain yang perlu disadari adalah kecenderungan manusia untuk mengetahui segala sesuatu dengan tuntas. Hal ini tentu saja merupakan sesuatu yang mustahil untuk dicapai. Manusia terbatas dalam banyak hal. Selain itu, dalam konteks pengetahuan tentang Allah, Allah tidak bisa dipahami, karena Ia tidak terbatas. Manusia tidak akan pernah bisa memahami semua ketetapan Allah (Ul 29:29; Rom 11:33-35). Orang percaya seharusnya menerima doktrin ini dengan ucapan syukur dan kerendahhatian. Alkitab mengajar hal ini, karena itu orang percaya wajib mengetahuinya. Hal-hal lain yang berada di luar kapasitas rasio manusia kita terima dengan iman.

Sebagian orang berpikir bahwa konsep predestinasi tunggal atau penolakan terhadap predestinasi bisa lebih memuaskan pikiran manusia dalam memahami kebaikan dan keadilan Allah, namun pendangan ini tidak bisa diterima. Seandainya Allah tidak menetapkan apa-apa dalam kaitan dengan keselamatan, paling tidak Ia tetap tahu sejak kekekalan siapa yang akan selamat dan yang binasa. Manusia tetap akan bertanya, “kalau Ia sudah tahu, mengapa Ia tetap menciptakan orang-orang yang binasa tersebut?”

 

Leave a Reply