Setelah menyingkap kelemahan argumen, interpretasi dan manipulasi data yang dilakukan para pendukung teori The Lost Tomb of Jesus, tulisan ketiga ini secara khusus akan memaparkan data penting yang menunjukkan bahwa kuburan yang ditemukan di Talpiot bukanlah kubur keluarga Yesus. Beberapa data yang akan dijelaskan berikut ini sangat signifikan, sedangkan data lain kurang signifikan jika berdiri sendiri, tetapi jika digabungkan secara keseluruhan data tersebut tetap memiliki nilai signifikan.

Alkitab sebagai salah satu sumber arkheologi

Sebelum memulai pemaparan bukti-bukti positif, satu hal yang harus diluruskan terlebih dahulu adalah kontribusi Alkitab bagi penelitian sejarah abad ke-1. Sebagian arkheolog – terutama dipelopori oleh William G. Dever – tidak menganggap Alkitab sebagai bukti arkheologis yang penting. Mereka menuntut pembuktian tentang kebenaran Alkitab secara arkheologis lebih dahulu, baru sesudah itu kebenaran Alkitab bisa diterima. Pendeknya, mereka cenderung meragukan kredibilitas Alkitab sampai ada bukti-bukti arkheologis/historis “objektif” yang mendukung Alkitab.

Pandangan seperti di atas jelas sangat subjektif. Alkitab – dalam taraf tertentu – adalah salah satu penemuan arkheologi. Bukti-bukti yang ada mengarah pada kesimpulan bahwa naskah asli (autografa) Perjanjian Baru semua ditulis pada abad ke-1. Mengapa mereka memperlakukan Alkitab secara berbeda? Mengapa mereka secara a priori lebih percaya pada penemuan arkheologis abad ke-1 di luar Alkitab daripada Alkitab itu sendiri? Mengapa mereka lebih percaya pada asumsi (yang tidak terbukti) bahwa Alkitab telah dikarang maupun dan diubah sedemikian rupa sehingga tidak sesuai dengan Yesus asli yang hidup di Palestina? Bukankah dalam hal literatur, Perjanjian Baru adalah bukti tertulis tertua dan terlengkap tentang Yesus? Jadi, arkheolog yang objektif seharusnya membuktikan kesalahan Alkitab dahulu (suatu usaha yang sia-sia) baru dia boleh meragukan kredibilitasnya, karena – sekali lagi – Alkitab adalah bukti arkheologis tertua dan terlengkap tentang kehidupan Yesus.

Kubur Talpiot bukanlah kubur keluarga Yesus

Berdasarkan pemahaman bahwa Alkitab adalah sumber arkheologis yang bisa dipercaya (kecuali mereka yang menolak Alkitab mampu menunjukkan inakurasi Alkitab), kita sekarang bisa mulai memaparkan beberapa bukti penting, yang sebagian besar berkaitan dengan Alkitab.

Menurut catatan Alkitab, keluarga Yesus berasal dari Betlehem (Luk 2:4). Yesus dan saudara-saudara-Nya bertumbuh di kota Nazaret (Luk 2:39), sehingga Dia dijuluki orang Nazaret (Mat 2:23; 21:11; 26:71). Alkitab juga memberi indikasi implisit kalau Yusuf – ayah Yesus secara legal – sudah meninggal sebelum Yesus memulai pelayanan di Yerusalem: (1) Yusuf tidak pernah muncul selama pelayanan Yesus; (2) Yesus bukan hanya disebut anak tukang kayu (Mat 13:55), tetapi tukang kayu (Mar 6:3). Jika hal ini benar, maka Yusuf pasti sudah dikuburkan sebelum Yesus melayani di Yerusalem. Dengan demikian, penemuan kubur keluarga Yesus di Yerusalem merupakan sesuatu yang janggal. Mengapa keluarga Yesus semuanya dikubur di Yerusalem, padahal mereka berasal dari Betlehem dan besar di Nazaret?

Seandainya keluarga Yesus memang memiliki kubur di Yerusalem, cara penulisan nama di isnkripsi osuarium juga pasti berbeda dengan yang ditemukan di Talpiot. Menurut penelitian L. Y. Rahmani (seorang arkheolog Israel) terhadap semua osuarium yang ditemukan di Yerusalem, osuarium milik orang dari luar Yerusalem biasanya mencantumkan daerah asal pada inskripsinya. Seandainya osuarium Talpiyot memang milik keluarga Yesus yang berasal dari luar Yerusalem, maka dalam inskripsi tersebut akan ada tambahan Yusuf [dari] Betlehem, Yesus [dari] Nazaret, Maria [dari] Magdalena, dsb. Dalam inskripsi Talpiot ternyata penjelasan ini tidak muncul dan itu menyiratkan bahwa kubur Talpiot adalah milik orang Yerusalem, bukan milik keluarga Yesus.

Hal lain yang membuktikan kubur Talpiot bukan kubur keluarga Yesus adalah status ekonomi keluarga Yesus. Sesuai dengan kultur Yahudi, kuburan bukit batu hanya bisa dimiliki oleh orang-orang kaya, karena pembelian bukit dan pembuatan ruang-ruang (gua) di dalamnya memakan biaya yang sangat mahal. Kubur batu Talpiot dan berbagai osuarium yang ada di dalamnya menunjukkan bahwa kubur ini milik orang kaya, sedangkan keluarga Yesus bukanlah keluarga kaya. Ketika Yesus lahir dan dibawa ke bait Allah, orang tuanya hanya bisa memberikan persembahan dua ekor burung (Luk 2:24) yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang miskin (Im 12:8). Yesus dan Petrus bahkan pernah tidak memiliki uang untuk membayar bea bait Allah yang hanya dua dinar (Mat 17:27).

Poin selanjutnya adalah peristiwa penyaliban dan penguburan Yesus. Menurut catatan Alkitab, setelah Yesus mati di kayu salib, Yusuf Arimatea meminta ijin kepada Pilatus untuk menguburkan Yesus di kubur baru miliknya. Hal ini dilakukan Yusuf Arimatea dengan segera karena esok hari adalah hari Sabat (Mar 15:42-43). Seandainya kuburan keluarga Yesus ada di Talpiot dan Dia harus secepatnya dikubur, bukankah orang akan menguburkan-Nya di Talpiot? Mengapa Yusuf Arimatea perlu meminjamkan kuburnya yang baru untuk Yesus (sesuatu yang sangat janggal menurut budaya waktu itu karena Yesus tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan Yusuf Arimatea)? Bukankah tindakan Yusuf Arimatea ini menunjukkan bahwa kubur keluarga Yesus terletak jauh dari Yerusalem dan tidak bisa dicapai dalam waktu singkat?

Poin yang lain berkaitan dengan posisi dan keadaan kubur Talpiot. Seandainya tulang-tulang Yesus disimpan di Talpiot (menunjukkan bahwa Yesus tidak bangkit), maka anggota keluarga dan pengikut-Nya pasti akan merahasiakan posisi kubur ini kepada publik. Mereka tidak ingin “kebohongan” berita kebangkitan Yesus akan terbongkar dan dengan mudah dipatahkan dengan menunjukkan tulang-tulang Yesus. Mereka pasti akan menempatkan simbol kekristenan tertentu yang hanya bisa dipahami oleh orang-orang Kristen dan berbekal simbol khusus ini mereka bisa tetap berziarah di kubur Yesus sekaligus menyembunyikan bukti yang menunjukkan Yesus tidak bangkit. Ternyata, semua ini tidak sesuai dengan posisi dan keadaan kubur Talpiot. Tidak ada indikasi bahwa kubur Talpiot disembunyikan dari publik. Tidak ada simbol kekristenan apapun di kubur maupun osuarium yang ada. Tidak ada rujukan historis apapun tentang ziarah orang Kristen di kubur ini. Pendukung teori The Lost Tomb of Jesus mencoba menjelaskan bahwa simbol chevron (huruf V terbalik dengan lingkaran ada di bawahnya) di Talpiot adalah simbol Kristen, tetapi pendapat ini dengan mudah dipatahkan dengan menunjukkan ratusan tanda chevron di berbagai kubur Yahudi. Tanda ini adalah kuburan Yahudi, bukan kuburan Kristen.

 Masih terkait dengan poin di atas, dalam inskripsi Talpiot juga tidak ditemukan kalimat-kalimat yang mengagungkan Yesus. Tulisan “Yeshua bar Yehosef” (Yesus Anak Yusuf) sifatnya sangat umum. Bahkan nama “Yesus anak Yusuf” juga ditemukan di beberapa osuarium Yahudi. Lebih lagi, menurut catatan Alkitab, sebutan “Yesus anak Yusuf” hanya diucapkan oleh orang yang belum atau tidak percaya kepada Yesus (Luk 4:22; Yoh 1:45; 6:42). Lukas 3:23 menjelaskan “menurut anggapan orang, Ia [Yesus] adalah anak Yusuf”. Seandainya osuarium itu berisi tulang Yesus, sulit dipahami mengapa anggota keluarga dan para pengikut Yesus justru memakai ungkapan yang terlalu umum dan menurut Alkitab berkonotasi negatif? Bukankah mereka pasti akan menggunakan gelar atau sebutan tertentu yang mengagungkan Yesus?

Bukti terakhir – tetapi bukan yang terkecil – adalah perubahan hidup para pengikut Yesus. Alkitab mencatat bahwa pada saat Yesus mati disalib, murid-murid-Nya meninggalkan Dia dan berada dalam ketakutan, ketidakadaan harapan dan ketidakpastian. Sikap murid-murid mulai berubah setelah – menurut Alkitab – melihat Yesus yang bangkit. Terlepas dari historitas kisah kebangkitan yang sering diragukan teolog liberal, tradisi di luar Alkitab memang mencatat bahwa murid-murid memiliki perubahan sikap tidak lama setelah peristiwa kematian Yesus. Semua rasul (kecuali Yohanes) mati sebagai martyr ketika mereka memberitakan Yesus yang bangkit. Ribuan orang Kristen lain juga mengikuti jejak mereka. Seandainya Yesus tidak bangkit dan tulang-tulang-Nya dipindahkan dari kuburan Yusuf Arimatea ke kubur Talpiot, maka keluarga dan murid-murid Yesus PASTI mengetahui hal ini. Jika ini yang terjadi, maka akan sangat aneh kalau mereka tetap mengikuti seorang pemimpin yang janji-Nya tidak terbukti dan hanya membawa mereka pada ketidakpastian. Bukankah mereka pasti akan meninggalkan Dia? Lebih aneh lagi, mereka ternyata dengan berani bersedia mati martyr demi pemberitaan bahwa Yesus telah bangkit secara fisik sebagai tanda bahwa Ia adalah Tuhan. Seandainya mereka tahu persis bahwa Yesus tidak bangkit secara fisik (tulang-tulang-Nya disimpan di Talpiot), mengapa mereka mau mati demi sebuah kebohongan atau – menurut Pdt. Ioanes Rakhmat – sebuah metafora teologis semata?

Konklusi

 Dari berbagai sisi, teori The Lost Tomb of Jesus tidak bisa dipertahankan. Argumen yang lemah, interpretasi yang berlebihan dan manipulasi data membuat “penemuan baru” ini hanya sebuah isu sensasional belaka dengan tujuan untuk mendiskriditkan kekristenan dan memanfaatkan momentum untuk meraih popularitas dan materi. Mereka pandai dalam membidik dan memanfaatkan suasana pasar yang memang sedang “gandrung” dengan segala hal yang menyerang Yesus di dalam Alkitab.

Bagaimanapun, ucapan terimakasih tetap layak diberikan kepada mereka. Melalui mereka orang-orang Kristen didorong untuk lebih mempelajari dan percaya pada Alkitab. Serangan ini tidak akan melemahkan kekristenan (the truth surely will win). Orang Kristen yang sejati dan belajar Alkitab sungguh-sungguh justru akan menggunakan momentum ini untuk lebih menggali, mempercayai dan memberitakan kebenaran Alkitab. Thanks Pak Ioanes Rakhmat!

Leave a Reply