Yakub Tri Handoko, Th.M.

Pada hari Kamis tanggal 5 April 2007 banyak orang Kristen dikejutkan dengan sebuah artikel di Harian Kompas yang ditulis oleh Pdt. Ioanes Rakhmat, dosen di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta. Dalam artikel ini beliau mendukung pendapat yang mengatakan bahwa tulang-tulang Yesus dan anggota keluarga telah ditemukan di Talpiot, pinggiran Yerusalem. Beliau menjelaskan bahwa dalam inskripsi (tulisan) yang ditemukan di beberapa osuarium (peti tempat penyimpanan tulang) di Talpiot terdapat nama-nama keluarga Yesus, misalnya Yesus, Yusuf, Maria, Maria Magdalena, Yose (nama singkat dari Yoses, saudara Yesus; Mrk 6:3), Yehuda anak Yesus (yang diyakini sebagai anak dari Yesus dan Maria Magdalena). Beliau juga menegaskan bahwa osuarium Yakobus (saudara Yesus) yang ada di tempat terpisah dulunya termasuk salah satu osuarium Talpiot tetapi selanjutnya dicuri/dipindahkan oleh pedagang barang antik. Untuk meneguhkan pendapatnya, beliau juga menyertakan hasil data statistik tentang kemungkinan ditemukannya nama-nama keluarga Yesus dalam satu kuburan. Beliau juga menyinggung tentang hasil tes DNA yang menunjukkan ketidakadaan hubungan darah antara tulang Yesus dan Maria Magdalena. Datum ini dianggap cukup untuk membuktikan bahwa keduanya suami-istri, karena dua orang tanpa hubungan darah tapi berada dalam satu kuburan keluarga hanya bisa dipahami kalau mereka suami-istri.

Bagaimana meresponi pendapat di atas yang sebenarnya hanya mengikuti film The Lost Tomb of Jesus (Discovery Channel, 4 Maret 2007) dan The Jesus Family Tomb (February 2007) ini? Pertanyaan ini membutuhkan jawaban berlembar-lembar. Dalam artikel singkat ini tidak mungkin dipaparkan semua sanggahan detil terhadap pandangan Pdt. Ioanes Rakhmat, karena itu fokus pembahasan hanya akan ditujukan pada inti argumen beliau.

Sebagaimana diakui oleh Simcha Jacobovici – sutradara film The Lost Tomb of Jesus – dalam wawancara dengan Discovery Channel, momen kunci dalam penyelidikannya adalah identifikasi nama Maria Magdalena. James Cameron, produser utama film ini, juga menandaskan bahwa yang baru dari temuan Jacobovici adalah identifikasi nama Maria Magdalena yang sebelumnya tidak dikenali oleh para penemu osuarium Talpiot. Semua data lain – statistik dan ujian DNA – hanya didasarkan pada inti argumen ini. Seandainya identifikasi nama ini ternyata salah, maka seluruh konsep dalam film The Lost Tomb of Jesus akan runtuh.

Mariamne adalah Maria Magdalena?

Dalam salah satu osuarium yang ditemukan di Talpiot terdapat sebuah tulisan yang menunjukkan nama orang yang mati dalam peti tersebut. Tulisan ini menimbulkan perdebatan di kalangan ahli, karena tidak terlalu jelas, sehingga bisa ditafsirkan dalam beberapa cara. Dalam film The Lost Tomb of Jesus, tulisan ini dipahami sebagai berikut: “Mariamne yang disebut sebagai Mara (bahasa Aram yang berarti “Tuan”). Dari mana mereka bisa mengidentifikasi Mariamne ini sebagai Maria Magdalena? Jacobovici memakai kitab non-kanonik The Acts of Philip (abad ke-4 M) untuk menunjukkan bahwa Maria Magdalena juga disebut dengan nama Mariamne. Penyebutan ini menurut dia tetap dipertahankan oleh Gereja Yunani Ortodoks, terutama dalam perayaan untuk menghormati Maria Magdalena. Penyebutan Maria Magdalena sebagai “Tuan” (Mara) juga dianggap sesuai karena dalam kitab-kitab injil non-kanonik lain Maria Magdalena beberapa kali ditampilkan sebagai pribadi yang melebihi semua murid Yesus yang lain.

Identifikasi di atas memiliki banyak kelemahan mendasar. Pertama, tulisan yang ada bisa ditafsirkan dalam banyak hal. Stephen J. Pfann, Ph. D., memahami tulisan itu dalam arti “Mariame dan Mara (versi lain dari Marta)”. Ia juga menunjukkan perbedaan jenis tulisan yang dipakai di kata “Mariame” dan frase “dan Mara”, yang menunjukkan bahwa frase “dan Mara” dituliskan pada waktu yang kemudian oleh orang lain (ketika tulang Mara digabungkan dengan tulang Mariame yang lebih dulu ada di peti itu). Maurice Robinson menafsirkan inskripsi tersebut dengan “Mariam yang disebut Mara”, sedangkan L. Y. Rahmani dan Amos Kloner memilih “Mariamene [milik/dari] Mara”. Beragam tafsiran ini memang tidak membuktikan bahwa tafsiran dalam film The Lost Tomb of Jesus adalah salah (walaupun pandangan Pfann tampaknya lebih meyakinkan), namun argumen-argumen selanjutnya cukup kuat untuk menyanggah tafsiran ini.

Kedua, identifikasi Mariamne (seandainya bacaan “Mariamne” benar) berdasarkan The Acts of Philip merupakan sebuah anachronisme.  Apa yang dimaksud anachronisme? Istilah ini merujuk pada penggunaan istilah yang lebih modern untuk jaman sebelumnya. Seandainya tulang itu benar-benar milik Maria Magdalena, maka inskripsi itu pasti ditulis pada abad ke-1 M. Berdasarkan data historis abad ke-1 M yang ada – yaitu kitab-kitab injil kanonik – Maria Magdalena tidak pernah disebut dengan nama “Mariamne”. Dia biasanya disebut Maria atau Mariam (Yoh 20:18) ditambah dengan penjelasan tentang asal-usulnya (Magdalena = dari [daerah] Migdal) untuk membedakan dia dari Maria-Maria yang lain. Di samping itu, dalam tulisan Kristen abad ke-2 dan ke-3, Maria Magdalena selalu disebut dengan istilah umum yang dipakai dalam Alkitab. Tidak ada satu pun kitab Kristen pada abad tersebut yang memakai nama “Mariamne” untuk Maria Magdalanea. Seandainya tulang itu milik Maria Magdalena, bukankah penulis inskripsi itu pasti akan memakai nama yang lebih umum pada abad ke-1 M?

Ketiga, tidak ada bukti yang mendukung pandangan bahwa Mariamne di The Acts of Philip merujuk pada Maria Magdalena. Ben Witherington III menduga Mariamne di kitab ini merujuk pada seorang penginjil wanita di kota-kota Hellenis yang tidak lain adalah saudara perempuan Filipus (entah rasul Filipus atau Filipus si penginjil di Kisah Rasul 8). Seandainya nama Mariamne di kitab ini memang merujuk pada Maria Magdalena, apakah hal itu membuktikan bahwa Maria Magdalena pada abad ke-1 memang disebut dengan nama Mariamne? Francois Bovon yang mencetuskan teori “Mariamne = Maria Magdalena” pun menolak hal tersebut. Ia tidak melihat adanya relasi historis antara Mariamne dan Maria Magdalena, karena penulis kitab-kitab injil gnostik seperti The Acts of Philip memang sering meminjam figur tokoh Alkitab yang minor (tidak dominan) dan menambahi dengan cerita-cerita tertentu yang sarat dengan teologi gnostik serta tidak didasarkan pada tradisi (fakta).

Keempat, penyebutan nama Maria Magdalena dalam bahasa Yunani “Mariamne” merupakan sesuatu yang sangat janggal. Semua nama yang ada di osuarium Talpiot ditulis dalam bahasa Ibrani dan Aram, mengapa hanya nama Maria Magdalena saja yang memakai bahasa Yunani? Penggunaan bahasa yang dipakai menunjukkan bahwa kubur Talpiot merupakan kuburan multi-generasi dan bahwa Mariamne ini hidup dalam periode yang berbeda dengan anggota keluarga lain yang namanya ditulis dalam bahasa Ibrani atau Aram. Hal ini sekaligus meruntuhkan dugaan kalau Mariamne adalah istri dari Yeshua bar Yehosef (Yesus anak Yusuf), karena keduanya hidup pada masa yang berlainan (sebagaimana tampak dari perbedaan bahasa dalam nama mereka). Selain kejanggalan di atas, nama Yunani “Mariamne” juga terkesan aneh apabila dikaitkan dengan asal-usul Maria Magdalena. Kota Migdal adalah kota Yahudi, sehingga sangat jarang ditemukan orang yang bersedia memakai nama Yunani.

Implikasi bagi argumen yang lain

Seandainya Mariamne dalam inskripsi kubur di Talpiot tidak merujuk pada Maria Magdalena, apakah pengaruh hal ini bagi kredibilitas argumen yang lain? Luar biasa! Absennya nama Maria Magdalena dalam kubur Talpiot membuat argumen lain kehilangan signifikansi. Yang pertama adalah argumen dari sisi statistik. Pendukung The Lost Tomb of Jesus mengetahui bahwa beberapa nama yang tercantum di osuarium Talpiot merupakan nama Yahudi yang umum. Untuk mengantisipasi ini mereka memakai jasa Andrey Feuerverger, ahli statistik dan matematika Universitas Toronto, untuk menghitung kemungkinan nama-nama keluarga Yesus bisa berada dalam satu tempat yang sama. Hasilnya adalah 600:1. Tingkat kemungkinan yang cukup kecil ini membuat mereka yakin bahwa nama-nama dalam 6 osuarium Talpiot memang keluarga Yesus.

Statistik di atas sebenarnya tidak terlalu istimewa. Terlepas dari beberapa kelemahan dari sisi pengujian statistik (banyak ahli lain sudah menunjukkan hal ini), perhitungan statistik di atas didasarkan pada beberapa asumsi yang belum/tidak dibuktikan lebih dahulu kebenarannya, antara lain: nama Maria yang ditemukan di osuarium lain adalah Maria ibu Yesus, Mariamne adalah Maria Magdalena, Yose adalah saudara Yesus. Jika Mariamne bukanlah Maria Magdalena, maka variable lain juga akan ditafsirkan berbeda, karena pengidentifikasian kubur Talpiot sebagai kubur keluarga Yesus terutama didasarkan pada identifikasi Mariamne sebagai Maria Magdalena. Tanpa “Maria Magdalena” semua nama di inskripsi osuarium itu hanyalah nama-nama Yahudi biasa yang tidak akan disangkutpautkan dengan Yesus dalam Alkitab.

Penjelasan di atas selanjutnya membawa dampak pada hasil perhitungan permutasi Feuerverger. Jika figur Maria Magdalena dihilangkan, maka hanya ada 3 nama yang sama dengan nama keluarga Yesus dalam Alkitab, yaitu Yesus, Yusuf dan Maria. Nama Mariamne, Yose dan Matya harus disingkirkan sebagai kandidat variabel, karena ketiganya bukan nama-nama anggota keluarga Yesus dalam Alkitab. Seberapa besar peluang yang ada untuk menemukan sebuah kubur keluarga Yahudi dengan 3 nama tersebut di dalamnya? Sangat besar sekali, karena nama-nama itu adalah nama-nama Yahudi yang sangat umum. Menurut Richard Bauckham, dari 2625 pria Yahudi nama “Yusuf” ditemui 218 kali dalam pemakaian umum, sedangkan di osuarium-osuarium nama ini ditemukan 45 kali. Nama “Yesus” dipakai 99 kali dalam pemakaian umum dan 22 kali di berbagai inskripsi osuarium. Dari 328 wanita Yahudi nama “Maria” muncul 70 kali dalam pemakaian umum dan 42 kali dalam inskripsi osuarium.

Hal terakhir sehubungan dengan statistik yang perlu diketahui sebelum berpindah pada topik berikutnya adalah pengakuan Feuerverger. Hasil perhitungan statistik Feuerverger ternyata telah dikemas begitu rupa seolah-olah data itu sangat kuat membuktikan kubur Talpiot sebagai kuburan keluarga Yesus. Kenyataannya, Feuerverger sendiri tidak menganggap demikian. Ia berkali-kali menegaskan bahwa perhitungannya tidak bisa dijadikan dasar untuk memastikan isu tersebut (lihat website pribadi Feuerverger di http://magicstatistics.com/2007/03/05/jesus-tomb-statistician-backtracks-from-original-claim/).

Selain dari sisi statistik, identifikasi Mariamne juga berpengaruh terhadap pengujian DNA yang dilakukan. Dengan asumsi bahwa Mariamne adalah Maria Magdalena pendukung The Lost Tomb of Jesus mengadakan uji mitokhondrial DNA (ujian untuk menelusuri hubungan kekerabatan dari pihak ibu) atas Yesus dan Mariamne. Hasil pengujian ini menunjukkan ketidakadaan hubungan kekeluargaan dari pihak ibu. Hasil ini dianggap membuktikan kalau keduanya suami-istri, karena mereka berpikir bahwa dua orang lawan jenis tanpa hubungan kekerabatan dari pihak ibu berada dalam kuburan keluarga hanya bisa dipahami kalau keduanya suami-istri. Dalam publikasi mereka bahkan terkesan kalau konklusi ini berasal dari ahli yang mengadakan tes DNA tersebut.

Ternyata, proses ujian DNA di atas memiliki kecacatan. Sample yang diuji hanya berasal dari osuarium Yesus dan Mariamne, sedangkan yang lain diabaikan begitu saja. Seandainya semua osuarium diuji maka ada kemungkinan identitas Mariamne ini bisa ditelusuri, misalnya dia adalah anak dari salah satu perempuan di osuarium itu, dsb. Mereka juga tidak mengadakan tes radiokarbon untuk mengetahui apakah tulang Yesus dan Mariamne berasal dari masa yang sama (perbedaan bahasa dalam nama mereka menyiratkan keduanya berasal dari masa yang berlainan). Yang paling parah, sample yang diuji tidak berasal dari tulang secara langsung (hanya residu dari tempat itu). Jika ini yang terjadi, maka DNA yang diuji bisa jadi merupakan DNA para penggali kubur Talpiot, mereka yang membawa sample tersebut ke laboratorium, dsb.

Selain cacat dalam hal proses, tes DNA yang dilakukan sebenarnya tidak bisa membuktikan apapun. Mereka telah memanipulasi data yang diberikan oleh ahli yang mengadakan tes DNA tersebut. Carney Matheson yang mengadakan pengujian DNA tersebut berkali-kali dalam berbagai kesempatan telah menyatakan secara eksplisit tentang upaya manipulasi data yang dilakukan mereka. Berdasarkan tes yang dia lakukan, ada beragam kemungkinan untuk menjelaskan ketidakadaan relasi dari pihak ibu antara Yesus dan Mariamne Kemungkinan ini antara lain: keduanya adalah suami dan istri, Mariamne adalah istri dari salah satu pria yang dikubur di Talpiot, ayah dan anak, sepupu dari pihak ayah, saudara tiri berlainan ibu atau bahkan dua orang yang tidak memiliki relasi kekerabatan sama sekali. Dari sekian banyak kemungkinan ini, hanya satu yang diambil dan dipublikasikan seolah-olah kemungkinan itu adalah hasil konklusi dari ahli yang melakukan tes DNA. Jadi, tes DNA yang dilakukan tidak membuktikan apapun. Hasil ini harus diinterpretasikan lagi berdasarkan data lain yang lebih pasti.

Konklusi

Argumen yang dipaparkan Pdt. Ioanes Rakhmat dan pendukung The Lost Tomb of Jesus ternyata hanyalah eksploitasi sebuah interpretasi (beberapa orang bahkan menyebutnya manipulasi data). Beliau tidak terlalu jujur dengan interpretasi lain yang sebenarnya jauh lebih kuat. Sama seperti mayoritas arkheolog terkemuka, kita sebaiknya melihat kontroversi kontemporer ini hanya sebagai sebuah isu sensasional belaka yang tidak memiliki nilai ilmiah. Orang-orang yang terlibat di dalam riset tersebut bukanlah arkheolog maupun ahli di bidangnya. Beberapa data para ahli pun dimanipulasi sedemikian rupa seolah-olah mendukung pandangan sensasional ini. Tidak heran William G. Denver, seorang arkheolog Amerika terkemuka yang tidak beragama Kristen pun mengatakan isu ini sebagai AIB bagi dunia penelitian, karena data yang ada dimanipulasi dan dilebih-lebihkan. Amos Kloner, penemu kubur Talpiot pada April 1980 juga sepakat bahwa kubur ini tidak memiliki kaitan apapun dengan keluarga Yesus dalam Alkitab. Sekian pembahasan kali ini. Kalau Tuhan berkehendak, pembahasan-pembahasan yang lain akan segera menyusul.

 

Leave a Reply