Yakub Tri Handoko, Th. M.

 

Kebangkitan spiritisme

Sejak beberapa dekade terakhir dunia secara umum sedang berada dalam suatu jaman yang disebut jaman spiritisme. Di Indonesia hal ini dapat dilihat dari fenomena film, sinetron maupun reality show yang mengekspos dunia spiritual. Beberapa faktor telah memicu lahirnya mentalitas seperti ini (B. J. Oropeza, 99 Answers to Questions about Angels, Demons & Spiritual Warfare, 11). Pertama, kekecewaan terhadap ilmu pengetahuan (teknologi) dalam menjawab kebutuhan manusia, terutama pasca Perang Dunia. Kebangkitan ilmu pengetahuan sejak abad ke-17 telah memberikan harapan palsu kepada manusia. Teknologi yang didengung-dengungkan dapat memberikan kebahagiaan dan pemenuhan kebutuhan manusia ternyata justru menimbulkan berbagai masalah. Ilmu pengetahuan telah gagal mengisi kekosongan batiniah manusia.

Kedua, kebangkitan kultur Timur di seluruh dunia sejak tahun 1960-an. Sebagai imbas dari kekecewaan terhadap ilmu pengetahuan, manusia mulai mencoba merambah dunia metafisika. Pencarian ini membuka pintu bagi kultur Timur yang cenderung mistis. Pergeseran ini dikenal sebagai Gerakan Jaman Baru (New Age Movement).

Ketiga, tekanan hidup sehari-hari yang berlebihan mendorong manusia untuk melarikan diri dari situasi konkret yang ada. Mereka berusaha mencari sandaran hidup yang melampaui kekuatan manusiawi mereka. Paranormal menduduki posisi yang makin populer sebagai salah satu penasehat hidup manusia. Kultur Barat yang selama ini dianggap sangat rasional pun tidak kebal terhadap kecenderungan ini. Nancy Reagan dan Hilary Clinton hanyalah segelintir contoh riil dari orang-orang Barat yang menyukai spiritisme.

Signifikansi studi

Mengapa kita perlu mempelajari dunia roh menurut perspektif Reformed? Berikut ini adalah beberapa jawaban penting terhadap pertanyaan ini.

  • Karena di kalangan Reformed topik ini kurang mendapat penekanan. Beberapa buku teologi sistemtika Reformed memang membahas topik ini (Millard J. Erickson, Wayne Grudem, Robert Culver), tetapi secara umum pembahasan yang diberikan tidak sekomprehensif dan seintensif doktrin lain.
  • Karena penyelidikan terhadap sejarah perkembangan doktrin ini menunjukkan bahwa dunia roh seringkali dibahas secara tidak semestinya (lihat Erickson, Christian Theology, rev. ed., 459-461): mereka yang terlalu menekankan terjebak pada spekulasi (tulisan Yahudi pada masa intertestamental dan tulisan teolog abad pertengahan), sedangkan yang lain cenderung mengabaikan doktrin ini.
  • Karena dewasa ini banyak muncul buku-buku Kristiani yang memberikan penjelasan yang tidak Alkitabiah dan seringkali hanya didasarkan pada pengalaman spiritual yang subjektif.
  • Karena sebagian orang tidak dapat membedakan antara malaikat terang dan gelap (iblis dan pengikutnya). Mereka tidak menyadari bahwa iblis memang dapat menyamar sebagai malaikat terang (2Kor 11:14).

Istilah “malaikat”

Istilah utama dalam Alkitab yang dipakai untuk malaikat adalah mal’āk (Ibrani) atau angelos (Yunani). Dua kata ini memiliki arti yang sama, yaitu “utusan”. Mal’āk maupun angelos dapat merujuk pada manusia (Kej 32:3; 1Raj 19:2; Pkt 5:6; Mar 1:2; Luk 7:24; 9:52) atau makhluk roh (Kej 28:12; Dan 6:22; Luk 2:13). Kita harus memperhatikan konteks untuk mengetahui apakah mal’āk/angelos menunjuk pada manusia atau malaikat. Berdasarkan istilah ini kita dapat mendefinisikan “malaikat” sebagai makhluk rohani yang memiliki tugas sebagai utusan Allah kepada manusia, walaupun tugas malaikat bukan hanya berkaitan dengan manusia saja.

Alkitab memakai beberapa istilah lain untuk malaikat, misalnya “anak-anak Allah” (Ay 1:6; 2:1), “anak-anak Elim (Mzm 29:1; 89:6), “elohim” (Mzm 8:5[?]), “yang kudus” (Mzm 89:5, 7), “penjaga” (Dan 4:13, 17, 23), “bala tentara surga” (Neh 9:6; Luk 2:13), “penguasa” (Kol 1:16; band. Rom 8:38; 1Kor 15:24; Ef 1:21; 6:12; Kol 2:15).

Natur malaikat

Berikut ini adalah penjelasan Alkitab tentang hakekat malaikat. Pertama, malaikat adalah ciptaan. Walaupun malaikat merupakan makhluk surgawi yang lebih kuat daripada manusia, namun mereka tetaplah ciptaan (Mzm 148:2, 5). Segala sesuatu di luar diri Allah adalah ciptaan (band. Yoh 1:3-4). Nehemia 9:6 menyatakan bahwa Allah menciptakan langit dan semua yang ada di dalamnya. Malaikat termasuk kategori ciptaan yang tidak kelihatan yang diciptakan Allah (Kol 1:16).

Sebagai ciptaan, malaikat bukanlah allah dalam arti apapun (tidak seperti mitos Yunani yang menganggap malaikat sebagai allah yang lebih rendah). Malaikat tidak berhak untuk menerima sembah (Why 19:10; 21:8-9; band. Kol 2:18; Ibr 1:5-2:9). Sebaliknya, malaikat harus memuliakan Allah (Mzm 148:2-5). Sebagai ciptaan, malaikat juga tidak memiliki sifat-sifat ilahi. Sebagai contoh, Alkitab mengajarkan bahwa malaikat hanya bisa berada di satu tempat pada waktu tertentu. Malaikat perlu “berpergian” untuk menemui seseorang (Dan 10:12-14; Luk 1:26). Malaikat juga tidak mahatahu (1Pet 1:12). Pengetahuan mereka bertambah seiring dengan pengamatan yang mereka lakukan terhadap manusia (1Kor 4:9; Ef 3:10).

Kedua, malaikat adalah roh. Ibrani 1:14 secara eksplisit menyebut malaikat sebagai roh-roh yang melayani. Ayat-ayat lain turut memberikan petunjuk implisit ke arah hal ini (Erickson, 463): malaikat yang jatuh juga disebut roh (Mat 8:16; 12:45; Luk 7:21; 8:2; 11:26; Kis 19:12; Why 16:14), dikontraskan dengan darah dan daging (Ef 6:12), tidak terlihat (Kol 1:16) dan tidak dapat mati (Luk 20:36). Sebagai makhluk roh, malaikat tidak memiliki tubuh (band. Luk 24:39), walaupun dalam kasus-kasus tertentu mereka dapat menampakkan diri seperti manusia (Kej 18:2, 16, 22; 19:1, 5, 10, 12, 15, 16; Hak 13:6; Mat 28:5; Mar 16:5; Luk 24:4). Malaikat tidak dapat dilihat oleh manusia, kecuali Allah memberi kemampuan pada orang-orang tertentu untuk itu (Bil 22:31; 2Raj 6:17; Luk 2:13).

Ketiga, malaikat adalah makhluk adikodrati. Pernyataan ini berarti bahwa malaikat memiliki kemampuan supranatural yang melebihi manusia (2Pet 2:11). Mereka kadangkala disebut “yang perkasa” (Mzm 103:20) atau “penguasa” (Ef 1:21; Kol 1:16). Tidak heran mereka mampu melakukan hal-hal yang luar biasa, misalnya membutakan mata orang (Kej 10:10-11), menggulingkan batu kubur yang berat (Mat 28:2), membuka pintu penjara (Kis 5:19; 12:5-11), melaksanakan hukuman fisik kepada manusia (Kis 12:23). Mereka tampaknya juga memiliki kuasa atas alam dalam taraf tertentu (band. Mat 14:26; Why 7:1). Di samping kekuatan yang melebihi manusia, malaikat juga memiliki pengetahuan yang melebihi manusia. Mereka adalah perantara wahyu (Gal 3:19). Superioritas pengetahuan malaikat atas manusia juag tersirat dari kalimat Yesus “tidak seorang yang tahu, bahkan (LAI:TB tidak menerjemahkan makna ini) malaikat-malaikat di surga tidak” (Mat 24:36).

Keempat, malaikat adalah makhluk yang berpribadi. Malaikat bukanlah sekedar kuasa/kekuatan atau robot supranatural. Mereka sungguh-sungguh memiliki pikiran, perasaan dan kehendak. Mereka dapat membedakan mana yang baik dan jahat (2Sam 14:17-20; 19:27). Mereka sangat rindu mengetahui rencana keselamatan (1Pet 1:10-12; Ef 3:10). Mereka dapat bersukacita atas ciptaan Allah (Ay 38:7) atau orang yang bertobat (Luk 15:7, 10). Mereka dengan sadar dan sukarela menaati Allah (Mzm 103:20; Why 22:8-9), walaupun sebagian memilih untuk memberontak kepada Allah (Yud 1:6). Malaikat yang jatuh dapat berdusta (Yoh 8:44) maupun berdosa (1Yoh 3:8-10).

Kelima, malaikat adalah makhluk yang kudus. Salah satu sebutan untuk malaikat adalah “yang kudus” (Ul 33:2; Mzm 68:18; Dan 4:13, 17; 1Tes 3:13; Yud 1:14; Why 14:10). Malaikat memiliki kemuliaan dalam taraf tertentu (Luk 2:9; 24:4-5) dan akses ke surga (Kej 28:12; Luk 2:13-15; Yoh 1:51). Walaupun mereka disebut makhluk kudus, namun kekudusan mereka tetap berasal dari Allah, bukan dari dalam diri mereka sendiri. Kekudusan malaikat tidak sebanding dengan kekudusan Allah (Ay 15:15), karena itu para serafim harus menutup wajah mereka di hadapan kemuliaan Allah sambil berseru “kudus, kudus, kudus” (Yes 6:2-3; Why 4:8). Tradisi Yahudi bahkan mengajarkan bahwa jika para malaikat lupa menyerukan “kudus” maka Tuhan akan membinasakan mereka dan menciptakan yang baru (3Henokh 10:3-4).

Keenam, malaikat tidak memiliki relasi antar sesama mereka, kecuali dalam konteks pelayanan kepada Allah. Berbeda dengan manusia yang memiliki asal yang sama (Luk 3:38; Kis 17:26), malaikat adalah pribadi yang terpisah. Mereka tidak kawin maupun mengawinkan (Mat 22:30//Luk 20:34-36). Dari pernyataan ini dapat disimpulkan bahwa jumlah malaikat yang tidak terhitung banyaknya (Ul 33:2; Ay 25:2-3; Dan 7:10; Ibr 12:22; Yud 1:14; Why 5:11-13) bukanlah hasil reproduksi. Jumlah mereka sangat mungkin tetap.

Terakhir, malaikat tidak memiliki jenis kelamin tertentu. Mengingat malaikat adalah makhluk roh, maka jenis kelamin sama sekali tidak relevan bagi mereka. Walaupun dalam Alkitab malaikat seringkali disebut dengan ungkapan yang bernuansa maskulin atau menampakkan diri dalam figur maskulin (Kej 18-19; Zak 1:10-12), namun hal itu tidak membuktikan bahwa malaikat berjenis kelamin maskulin. Malaikat kadangkala menampakkan diri dalam figur feminin (Zak 5:9-11). Bagaimanapun, kita tidak boleh menarik kesimpulan apapun dari penampakan ini sehubungan dengan jenis kelamin malaikat. Penampakan ini hanyalah cara malaikat menyatakan diri kepada manusia, apalagi dalam beberapa kasus penampakan ini dicatat dalam bentuk tulisan apokaliptis yang penuh dengan simbol.

Waktu penciptaan malaikat

Kapankah malaikat diciptakan? Alkitab tidak memberikan penjelasan yang eksplisit. Bagaimanapun, kita masih dapat mengetahui hal ini dari beberapa petunjuk yang ada. Malaikat pasti sudah diciptakan sebelum hari ke-7 penciptaan. Kejadian 2:1 menyatakan bahwa langit dan bumi dan segala isinya telah diciptakan. Kemungkinan besar malaikat diciptakan sebelum hari ke-1. Penciptaan malaikat sangat mungkin sudah tersirat dari frase “langit dan bumi” di Kejadian 1:1 (Oropeza, 21). Hal ini menjadi semakin jelas apabila dikaitkan dengan Kejadian 1:2 yang menginformasikan keadaan bumi yang belum berbentuk dan kosong (Grudem, 401-402). Ayat ini sebaiknya dipahami sebagai petunjuk bahwa ada kontras antara keadaan langit (surga) dan bumi. Di surga semua yang ada sudah teratur. Hal ini diteguhkan oleh Ayub 38:6-7 yang menyatakan bahwa para malaikat ikut bersorak-sorai pada waktu Allah menata bumi sebagai tempat tinggal. Ayat ini jelas menunjukkan bahwa malaikat sudaj ada pada saat Allah mulai menciptakan bumi.

Keberagaman malaikat

Alkitab tampaknya memberikan petunjuk yang cukup bagi kita untuk menyimpulkan bahwa tidak semua malaikat sama. Sebagian dari mereka berbeda dengan kelompok malaikat yang lain. Dari data Alkitab yang ada, kita mengetahui tiga aspek keberagaman dalam dunia malaikat. Yang pertama, mereka memiliki nama kelompok (jenis) yang berbeda. Dalam hal ini, paling sedikit ada tiga nama jenis malaikat:

  • Kerubim: malaikat jenis ini diberi tugas menjaga jalan menuju Taman Eden (Kej 3:24). Mereka seringkali digambarkan sebagai kendaraan Allah (Mzm 18:11; Yeh 10:1-22). Gambar kerubim juga ada di tabut perjanjian (Kel 25:18-22, terutama ayat 22).
  • Serafim: jenis malaikat ini hanya disebutkan sekali dalam Alkitab, yaitu di Yesaya 6:3. Mereka berada di sekeliling Allah dan menyerukan kekudusan Allah.
  • Mahkluk khusus: baik Yehezkiel 1:5-14 maupun Wahyu 4:6-8 mencatat tentang keberadaan jenis malaikat tertentu yang menggunakan berbagai rupa makhluk hidup. Mereka mungkin sebagai gambaran bahwa seluruh ciptaan Allah wajib memuji Dia setiap waktu (Why 4:8).

Keberagaman berikutnya berhubungan dengan nama diri dari malaikat. Alkitab menyebutkan beberapa nama malaikat, yaitu Mikhael (Dan 10:13, 21; Yud 1:9; Why 12:7-8) dan Gabriel (Dan 8:16; 9:21; Luk 1:19, 26-27). Tradisi Yahudi mengenal lebih banyak lagi nama malaikat. Dari Yesaya 40:26 dapat disimpulkan bahwa setiap malaikat tampaknya memiliki nama masing-masing. Jika ini benar, maka setiap setiap individu malaikat adalah unik di mata Tuhan.

Keberagaman yang terakhir berkaitan dengan status atau tingkatan di antara para malaikat. Alkitab memberikan bukti yang cukup kuat untuk menyimpulkan bahwa tidak semua malaikat memiliki tingkatan yang sama. Dengan kata lain, ada urutan otoritas dalam dunia malaikat.

  • Ada penghulu malaikat yang baik (Dan 10:13; 1Tes 4:16; Yud 1:9). Penyebutan Mikhael sebagai salah satu penghulu malaikat (Dan 10:13) menyiratkan adanya penghulu-penghulu yang lain. Mikhael mungkin diberi tugas khusus menjaga bangsa Israel (Dan 12:1).
  • Ada penghulu malaikat yang jahat (Mat 9:34; 12:24; Mar 3:22; Luk 11:15)
  • Ada perbedaan tingkatan kuasa dalam roh-roh jahat (Mat 12:45//Luk 11:26; band. Mar 9:29//Mat 17:21[?])
  • Iblis memiliki pengikut (Mat 25:41)
  • Perbedaan istilah untuk para malaikat yang jatuh (Ef 6:12)
  • Keteraturan dalam ibadah berhubungan dengan malaikat (1Kor 11:10)

Malaikat Tuhan

Dalam Alkitab ungkapan “Malaikat Tuhan” sering dijumpai. Ungkapan ini merupakan sebutan khusus dan bukan sekedar pernyataan bahwa malikat tersebut diutus atau milik Tuhan. Para penafsir memperdebatkan identitas pasti dari “Malaikat Tuhan”. Perdebatan ini dipicu oleh fakta bahwa kasus tertentu Malaikat Tuhan diidentikkan dengan Allah, tetapi dalam kasus yang lain dibedakan dari Allah.

Untuk kasus yang pertama kita dapat melihat dalam Kejadian 16:10 ketika Malaikat Tuhan sendiri berjanji akan memberikan keturunan kepada Hagar. Hagar sendiri meresponi hal ini dengan menyebut “Allah yang melihat” (Kej 16:13). Malaikat Tuhan adalah yang menguji Abraham (Kej 22:12), padahal di ayat jelas disebutkan bahwa yang menguji adalah Allah. Malaikat Tuhan menampakkan diri pada Yakub dan memperkenalkan diri sebagai “Akulah Allah yang di Betel” (Kej 31:13). Malaikat yang sama menampakkan diri kepada Musa dan berkata “Akulah Allah nenek moyangmu” (Kel 3:2, 6).

Untuk kasus yang kedua kita memiliki dua teks yang secara eksplisit membedakan antara Malaikat Tuhan dan Allah. Dalam 2Samuel 24:16 Malaikat Tuhan dibedakan dari Allah. Dalam Zakaria 1:11-13 bahkan dicatat adanya komunikasi (percakapan)  antara Malaikat Tuhan dan Allah. Zakaria 3:1-2 Malaikat Tuhan membedakan diri-Nya dengan Tuhan.

Data di atas hanya dapat dijelaskan secara masuk akal jika kita menafsirkan bahwa Malaikat Tuhan adalah Allah sendiri. Lebih khusus lagi, Malaikat Tuhan kemungkinan besar adalah Yesus sendiri yang menampakkan diri dalam rupa malaikat atau manusia (Grudem, 401).

 

Leave a Reply