Yakub Tri Handoko, Th. M.

 

Tugas malaikat

Alkitab mengajarkan bahwa segala sesuatu diciptakan oleh dan untuk Allah (Rom 11:36). Kebenaran ini pasti mencakup penciptaan malaikat juga. Dengan kata lain, malaikat diciptakan untuk melayani Allah. Pernyataan ini tidak berarti bahwa Allah membutuhkan malaikat. Allah sudah sempurna dalam diri-Nya sendiri dan Dia dapat melakukan apapun tanpa bantuan malaikat. Eksistensi malaikat bukanlah sebuah kebutuhan bagi Allah.

Apa saja tugas yang ditetapkan Allah bagi para malaikat? (dalam hal ini hanya malaikat yang baik yang disoroti). Jawaban terhadap pertanyaan di atas sangat banyak dan beragam. Beberapa teolog telah mencoba mengelompokkan tugas-tugas tersebut ke dalam klasifikasi tertentu supaya lebih mudah dipahami. Henry C. Thiessen mengusulkan dua pembagian: (1) yang berkaitan dengan kehidupan dan pelayanan Yesus; (2) secara umum (Lectures in Systematic Theology, 204-207). Ron Rhodes memberikan klasifikasi yang lebih detil menjadi lima bagian (khusus untuk malaikat yang baik), yaitu (1)  mengawasi bumi; (2) menyembah Allah yang mahatinggi; (3) melayani Yesus Kristus; (4) menolong orang percaya; (5) bekerja di antara orang yang tidak percaya (Angels Among Us, 129-184).

Usaha klasifikasi seperti di atas dalam beberapa hal sangat bermanfaat, tetapi di sisi lain tetap menunjukkan adanya tumpang-tindih. Dalam makalah ini tugas malaikat akan dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu tugas yang berhubungan dengan Allah secara langsung, Tuhan Yesus (terutama selama inkarnasi) dan yang berhubungan dengan manusia. Pembagian seperti ini bukan berarti ada tugas-tugas tertentu yang tidak berhubungan dengan Allah. Semua hal – baik di surga maupun di bumi, baik yang kelihatan maupun yang tidak kelihatan – pasti berhubungan dengan dan untuk kemuliaan Allah (Mzm 119:91).

Tugas yang berhubungan dengan Allah secara langsung

Ada beberapa tugas malaikat yang termasuk dalam kategori ini. Dalam hadirat Allah di surga (Mat 18:10), para malaikat bertugas memuji (Mzm 103:20; 148:1-2) atau menyembah Allah (Mzm 29:1-2; Yes 6:2-3). Mereka melakukan ini sepanjang waktu (Why 4:8). Malaikat bahkan memerintahkan manusia untuk menyembah Allah (Why 22:9). Mereka juga bersukacita atas segala pekerjaan Allah, misalnya penciptaan (Ay 38:6-7) dan penebusan (Luk 2:14; 15:10).

Tugas lain dari para malaikat adalah mengawasi dunia. Dalam penglihatan Daniel diajarkan bahwa ada penghulu-penghulu malaikat tertentu yang ditugaskan untuk mengawasi bangsa Persia (10:13), Yunani (10:20) maupun Israel (10:21; band. 11:1). Dalam dunia ini ada peperangan spiritual antara Allah dan iblis, antara kebaikan dan kejahatan. Dalam konteks peperangan inilah, malaikat terlibat secara aktif. Mereka melaksanakan ketetapan Allah di seluruh daerah kekuasaan-Nya (Mzm 103:20-22). Mereka diberi tugas untuk mengelilingi dan mengawasi bumi (Zak 1:10-11). Mereka berperang melawan iblis dan para pengikutnya (Dan 10:13, 21; Why 12:7-8). Dalam hal-hal yang tidak disadari manusia pun, malaikat berperang melawan iblis, misalnya perselisihan antara iblis dan Mikhael seputar mayat Musa (Yud 1:9). Peperangan ini pada akhirnya akan berujung pada kemenangan malaikat (Why 20:1-3).

Tugas yang berhubungan dengan Tuhan Yesus

Tugas ini merupakan hal yang tidak terelakkan karena para malaikat diciptakan oleh dan untuk Tuhan Yesus (Kol 1:16). Sebelum inkarnasi Yesus, para malaikat telah memuji Dia. Yohanes 12:41 menjelaskan bahwa kemuliaan Allah yang dilihat oleh Yesaya dan yang dipuji oleh para serafim (Yes 6:1-10) tidak lain adalah kemuliaan Tuhan Yesus sendiri. Pasca inkarnasi para malaikat tetap memuji Tuhan Yesus, Sang Anak Domba (Why 5:11-12).

Selama inkarnasi Tuhan Yesus di dunia, para malaikat juga tetap melayani Dia. Hal ini sesuai dengan perintah Allah ketika Ia membawa anak-Nya yang sulung  ke dunia, “semua malaikat Allah harus menyembah Dia” (Ibr 1:6). Sehubungan dengan kelahiran Tuhan Yesus, para malaikat bertugas sebagai pemberi kabar. Malaikat Gabriel yang pada masa Perjanjian Lama telah memberitahukan kelahiran Mesias (Dan 8:16; 9:21), dia pula yang memberitahukan kelahiran Yesus kepada Maria (Luk 1:26-28, 30-33, 35-37). Malaikat juga menampakkan diri kepada Yusuf dalam sebuah mimpi ketika Yusuf tengah mempertimbangkan sebuah respon yang salah terhadap kehamilan Maria yang supranatural (Mat 1:20-21). Kabar gembira ini selanjutnya diberitakan para malaikat kepada para gembala (Luk 2:9-11).

Setelah Yesus dilahirkan, sebuah masalah yang serius muncul. Raja Herodes merasa tidak aman dengan kelahiran Yesus sebagai Raja Orang Yahudi (Mat 2:2). Dengan segala tipu daya (Mat 2:7-8) dan kuasa yang dia miliki (Mat 2:16-18), Herodes berusaha membunuh Yesus. Orang-orang majus yang tidak menyadari tipuan Herodes ini akhirnya disadarkan Tuhan dalam sebuah mimpi, walaupun teks tidak menyebutkan apakah mereka diperingatkan oleh Tuhan sendiri atau melalui malaikat-Nya (Mat 2:12). Malaikat Tuhan selanjutnya memerintahkan Yusuf dan keluarganya untuk menyingkir ke Mesir (Mat 2:13-15). Sesudah Herodes mati, malaikat sekali lagi memerintahkan mereka untuk kembali ke Israel (Mat 2:19-20). Ketika mereka berencana untuk kembali ke propinsi Yudea – di mana Arkhealus memerintah – mereka diperingatkan lewat mimpi untuk pergi ke propinsi Galilea (Mat 2:22).

Pelayanan malaikat selanjutnya dapat dilihat dari kisah pencobaan yang dialami Yesus (Mat 4//Luk 4). Dalam keadaan lapar dan haus Yesus mendapat cobaan yang berat dari iblis, yaitu ditawari popularitas dan kekuasaan tanpa melalui jalan salib. Ketika Dia berhasil menang dalam pencobaan ini Alkitab mencatat bahwa para malaikat datang dan melayani Dia (Mat 4:11). Ketika Yesus menolak mengatasi rasa lapar dengan menggunakan kekuatan supranatural-Nya, Dia justru diberi makan oleh Bapa secara supranatural. Ketika Yesus menolak menjatuhkan diri-Nya dari puncak bait Allah agar ditopang malaikat, Dia justru pada akhirnya dilayani oleh para malaikat (Carson, Matthew, EBC).

Para malaikat juga melayani Yesus di masa sulit yang lain, yaitu ketika Dia bergumul di Taman Getsemani. Yesus sangat ketakutan (Mat 26:38; Mar 14:34; Luk 22:44) membayangkan Dia akan ditinggalkan oleh Bapa di surga karena Dia menanggung dosa seluruh dunia di kayu salib (band. Mat 27:46//Mar 15:34). Di tengah situasi seperti ini, malaikat datang untuk menguatkan Dia (Luk 22:43). Malaikat sebenarnya bisa juga melepaskan Yesus dari tangan para penangkap-Nya (Mat 26:53), tetapi mereka hanya memberikan kekuatan kepada Yesus.

Pada waktu kebangkitan Yesus, para malaikat juga memegang peranan penting dalam membuktikan kebangkitan tersebut. Seorang malaikat menggulingkan batu kubur supaya murid-murid dapat menyaksikan bahwa Yesus sudah bangkit (Mat 28:2-4). Penggulingan batu ini memang hanya dapat dilakukan secara supranatural, karena batu tersebut beratnya mencapai 4 ton, dimeterai dan dijaga para prajurit. Jika batu ini tidak digulingkan, maka para murid yang datang ke kubur akan mengira bahwa tubuh Yesus tetap berada di sana.

Ketika Yesus akan meninggalkan dunia ini, para malaikat tetap melayani Dia. Jika awan yang menutupi Yesus ketika Dia naik ke surga (Kis 1:9) merupakan kumpulan para malaikat (seperti diduga sebagian sarjana), maka para malaikat terlibat langsung dalam kenaikan Yesus ke surga. Jika dugaan ini tidak tepat sekalipun, peranan malaikat masih dapat dilihat dari teguran mereka kepada para murid (Kis 1:11).

Pada saat kedatangan-Nya yang kedua kali, Tuhan Yesus juga akan disertai oleh para malaikat. Penghulu malaikat akan meniup sangkakala (1Tes 4:16), sedangkan para malaikat yang lain akan bersama dengan Tuhan Yesus (Mat 16:27; 25:31; Yud 1:14). Kedatangan ini sangat mulia dan disertai malaikat-malaikat yang penuh kuasa (2Tes 1:7, mayoritas versi Inggris “mighty/powerful angels”).

Tugas yang berhubungan dengan manusia

Tugas para malaikat yang berhubungan dengan manusia dapat dibagi lagi menjadi dua: yang berkaitan dengan orang percaya maupun tidak percaya. Dalam kategori pertama, para malaikat memang adalah roh-roh yang melayani orang-orang yang harus diselamatkan (Ibr 1:14). Malaikat berperan dalam mempersiapkan jalan bagi pertobatan seseorang. Malaikat menuntun Filipus untuk menemui sida-sida dari Etiopia (Kis 8:26). Malaikat Allah menemui Kornelius secara khusus agar dia memanggil Petrus dan akhirnya beroleh keselamatan (Kis 10:3-6).

Tugas lain dari para malaikat adalah menjaga orang percaya. Kebenaran ini diajarkan dengan jelas dalam Alkitab. Tuhan memerintahkan para malaikat untuk menjaga orang percaya (Mzm 91:11-12). Bapa-bapa gereja maupun teolog skolastik bahkan mempercayai bahwa setiap orang dijaga oleh satu malaikat tertentu. Dasar yang dipakai mereka adalah Matius 18:10 (“malaikat mereka”) dan Kisah Rasul 12:15 (“itu malaikatnya [Petrus]”). Bagaimanapun, dugaan ini tampaknya berlebihan. Malaikat yang menjaga anak-anak di Matius 18:10 berada di surga, bukan di dekat mereka (Rhodes, 169). Dalam kasus Kisah Rasul 12:15, mengapa “malaikat penjaga Petrus” ini perlu mengeluarkan suara seperti suara Petrus? Sebagian penafsir bahkan memahami kata “malaikat” di dua teks tersebut sebagai rujukan pada roh mereka setelah kematian (Warfield, Carson), karena pada waktu kebangkitan orang percaya menjadi seperti malaikat dalam hal perkawinan (22:30) maupun immortalitas (20:36).

Alkitab memberikan beberapa contoh yang jelas bahwa para malaikat terus-menerus menyaksikan hidup orang percaya. Mereka memperhatikan ibadah orang percaya, sehingga Paulus mengingatkan jemaat Korintus untuk tertib dalam ibadah karena malaikat (1Kor 11:10). Paulus juga menyertakan malaikat dalam beberapa nasehatnya (1Tim 5:21 “di hadapan Allah dan Kristus Yesus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya”; 1Kor 4:9).

Para malaikat tentu saja tidak sekedar menjaga, tetapi mereka menolong orang percaya yang sedang berada dalam kesulitan. Malaikat memberi kekuatan (Mat 28:5-7; Kis 27:23-24). Dalam banyak kasus mereka bahkan langsung memberikan pertolongan. Mereka menjaga orang percaya dari bahaya dengan cara yang ajaib (2Raj 6:15-17). Mereka menyelamatkan orang percaya dari hukuman Allah (Kej 19). Mereka memberi keselamatan secara fisik (1Raj 19:5; Kis 5:19; 12:7-10). Mereka menyelamatkan dari bahaya (Dan 6:22).

Memberitahukan kehendak Allah kepada manusia juga merupakan tugas para malaikat (Thiessen, 205). Mereka kadangkala dipakai Tuhan untuk menyatakan sesuatu (Ay 33:23; Dan 10:5, 11) atau menjelaskan sesuatu (Dan 7:16; Zak 1:9, 13, 14, 19; 2:3; 4:1, 4, 5; 5:5, 10; 6:4, 5) kepada manusia. Begitu populernya konsep seperti ini di kalangan orang Yahudi, Paulus sampai-sampai memperingatkan jemaat Galatia untuk tidak menerima ajaran injil yang lain sekalipun hal itu diajarkan oleh malaikat dari surga (Gal 1:8). Kolose 2:18 merupakan contoh konkrit dari bahaya yang dapat muncul dari tugas malaikat sebagai pemberita kehendak Allah kepada manusia. Bahaya seperti ini sangat mudah dipahami karena iblis pun dapat menyamar sebagai malaikat terang (2Kor 11:14). Para nabi palsu menyatakan bahwa mereka mendapatkan wahyu melalui malaikat (1Raj 13:18).

Para malaikat tetap terlibat dengan kehidupan orang percaya bahkan setelah mereka meninggal dunia. Ketika orang percaya meninggal dunia, mereka dibawa oleh malaikat ke surga (Luk 16:22). Ajaran ini didukung oleh pengalaman orang-orang saleh sesaat sebelum mereka meninggal dunia yang dimampukan Allah untuk melihat Tuhan Yesus atau malaikat. Pada waktu akhir jaman para malaikat akan memisahkan orang benar dari orang fasik (Mat 13:39, 49-50), mengumpulkan orang percaya (Mat 24:31) dan menjaga tempat kediaman orang percaya di kota Yerusalem Baru (Why 21:12).

Dalam kaitan dengan orang yang tidak percaya, para malaikat bertugas melaksanakan hukuman Allah atas mereka. Mereka mendatangkan tulah atas bangsa Israel (2Sam 24:16-17). Seorang malaikat diperintahkan Tuhan untuk menghukum bangsa Asyur (2Taw 32:21). Ketika Herodes menyombongkan diri dan tidak memberi hormat pada Allah maka dia ditampar seorang malaikat sampai mati (Kis 12:23). Dalam Wahyu 8:5-13 dan 16:1 Allah mengutus tujuh malaikat-Nya untuk menimpakan hukuman.

Dalam kasus-kasus tertentu, malaikat mencegah seseorang melakukan suatu dosa atau kesalahan tertentu. Seorang malaikat menghadang jalan Bileam ketika dia memiliki motivasi yang salah dan berniat melawan kehendak Tuhan (Bil 22:23-34). Malaikat mencegah penduduk Sodom dan Gomora dari dosa seksual dan penganiayaan dengan jalan membutakan mata mereka (Kej 19:9-11), walaupun dalam kasus ini tindakan malaikat lebih ditujukan sebagai upaya penyelamatan terhadap orang benar (Nuh dan keluarganya).

Kedudukan malaikat dan manusia

Malaikat dan manusia adalah ciptaan yang sama-sama bermoral dan memiliki inteligensia yang tinggi. Keduanya sama-sama memiliki aspek spiritual dan bersifat kekal. Keunikan seperti ini tentu saja tidak dimiliki oleh ciptaan yang lain, baik tumbuhan maupun binatang. Pertanyaan yang wajar dikemukakan adalah “di antara keduanya, manakah yang lebih mulia?”

Terhadap pertanyaan di atas Alkitab memberikan jawaban yang tampaknya bertentangan, padahal sebenarnya tidak. Di satu sisi Alkitab mengajarkan bahwa malaikat lebih mulia daripada manusia. Selama inkarnasi Yesus disebut berada dalam keadaan “sedikit lebih rendah daripada para malaikat” (Ibr 2:7, 9). Para malaikat memiliki kelebihan dibandingkan manusia dalam hal kekuatan (2Pet 2:11) maupun pengetahuan (Mat 24:36). Mereka juga terus-menerus berada dalam hadirat Allah (Mat 18:10). Ucapan Paulus di Galatia 4:14 menyiratkan bahwa malaikat memiliki kedudukan yang khusus. Semua kelebihan ini tidak heran mendorong sebagian orang untuk memuja mereka (Kol 2:18).

Di sisi lain Alkitab menegaskan kelebihan manusia dibandingkan malaikat. Hanya manusia yang disebut sebagai gambar dan rupa Allah (Kej 1:26-27; 9:6). Status ini dalam taraf tertentu diteruskan secara biologis (Kej 5:3), sedangkan malaikat tidak memiliki kemampuan untuk mereproduksi diri. Malaikat diciptakan untuk melayani manusia (orang-orang yang percaya, Ibr 1:14). Allah lebih mengasihi keturunan Abraham daripada malaikat (Ibr 2:16). Itulah sebabnya Allah menyediakan penebusan bagi orang pilihan-Nya, tetapi hal itu tidak disediakan bagi para malaikat yang jatuh. Dia tidak menyayangkan malaikat-malaikat-Nya yang jatuh (2Pet 2:4; Yud 1:6). Misteri penebusan umat pilihan inilah yang sangat ingin diketahui oleh para malaikat (1Tim 3:16; 1Pet 1:12). Dengan dasar penebusan ini di akhir jaman nanti orang percaya akan turut memerintah bersama Kristus (2Tim 2:12) dan menghakimi malaikat (1Kor 6:3).

Apa yang dapat disimpulkan dari data di atas? Secara natur (hakekat), malaikat sebenarnya lebih mulia daripada manusia. Bagaimanapun, manusia (umat pilihan) ternyata lebih berharga daripada para malaikat. Kelebihan ini tidak bersifat inheren (ada secara esensial dalam diri manusia), tetapi diberikan. Kelebihan ini berhubungan dengan apa yang Allah lakukan untuk orang percaya, yaitu Dia mengasihi mereka, menebus mereka dan mengangkat mereka untuk memerintah bersama Kristus.

Manfaat mempelajari malaikat

Doktrin tentang malaikat (angelologi) merupakan salah satu cabang teologi yang sangat penting. Dengan memahami doktrin ini orang percaya akan mendapat manfaat:

  • Mengetahui kebesaran kasih Allah yang tercermin dalam misteri penebusan.
  • Mengakui kedaulatan Allah. Kita tidak akan pernah bisa memahami mengapa Allah lebih mengasihi manusia daripada malaikat. Itu adalah pilihan Allah yang berdaulat.
  • Mengetahui bahwa dunia yang tidak kelihatan memang benar-benar ada. Orang percaya patut mewaspadai pandangan Saduki modern yang tidak mempercayai eksistensi malaikat (Kis 22:8).
  • Merasa nyaman, baik dari serangan manusia maupun kuasa kegelapan.
  • Lebih mengucap syukur atas hal-hal yang tampaknya kebetulan, misalnya selamat dari sebuah kecelakaan yang fatal, padahal hal itu adalah penyelamatan ilahi.
  • Memahami bahwa tujuan hidup tertinggi manusia adalah memuliakan Allah. Ini adalah hal yang sangat menyenangkan sebagaimana para malaikat terus bersukacita menyembah Allah di surga.
  • Memahami keagungan ibadah, karena ibadah orang percaya juga dihadiri oleh ribuan malaikat (Ibr 12:22).
  • Lebih memperhatikan orang-orang asing yang tidak terpandang, karena siapa tahu mereka adalah malaikat yang sedang menampakkan diri dalam rupa manusia dan sedang menguji orang percaya (Ibr 13:2; band. Kej 18:2-5; 19:1-3).
  • Mewaspadai bahaya pengagungan terhadap malaikat. Bentuk pengangungan ini dapat bermacam-macam, misalnya lebih menyukai “wahyu” tertentu dari “malaikat” daripada penyelidikan firman Tuhan yang bertanggung-jawab, berdoa kepada atau melalui perantaraan malaikat.
  • Lebih berhati-hati terhadap iblis dan para pengikutnya yang juga merupakan malaikat, walaupun mereka sudah jatuh.

Leave a Reply