Yakub Tri Handoko, Th. M.

 

Salah satu teks Perjanjian Lama yang paling sering menimbulkan perdebatan adalah Kejadian 6:2. Lebih khusus lagi, fokus perdebatan terletak pada identitas “anak-anak Allah” (bene ‘elohim) dalam ayat ini. Ada tiga pandangan utama berkaitan dengan identitas “anak-anak Allah”: keturunan Set, kaum bangsawan dan malaikat. Setiap pandangan memiliki argumen dan kelemahan sendiri-sendiri sehingga pilihan yang pasti diantara tiga alternatif ini sulit untuk dicapai. Sebagian penafsir bahkan memilih menghindari perdebatan ini dan lebih memfokuskan pembahasan pada inti dari Kejadian 6:1-8 secara keseluruhan.

Dalam makalah ini masing-masing pandangan di atas akan diselidiki secara mendetil untuk menemukan alternatif mana yang paling memungkinkan. Pembahasan pertama akan diarahkan pada kecenderungan sebagian sarjana yang menghindari persoalan ini. Setelah itu, kita akan membahas argumen dan kelemahan masing-masing alternatif yang ada.

Identitas “anak-anak Allah” tidak terlalu penting dalam Kejadian 6:1-8

Seperti sudah disinggung di atas, sebagian sarjana mencoba menghindari perdebatan tersebut dengan berpendapat bahwa identifikasi seperti itu tidak terlalu relevan dengan isi perikop secara keseluruhan. Mereka yang termasuk ke dalam kategori ini tidak mau memilih salah satu alternatif. Sebaliknya, mereka memilih untuk memfokuskan pada inti perikop, yaitu keberdosaan manusia yang sedemikian parah dalam bentuk pelecehan dan kekerasan (Richard Pratt, Dirancang Bagi Kemuliaan, 77).

Yang lain melihat perikop ini sebagai sesuatu yang sangat wajar dan tidak berkaitan dengan identifikasi di atas (John Sailhamer, Genesis, EBC Vol. II; The Pentateuch As Narrative, 120-121). Menurut Sailhamer, Kejadian 6:1-8 merupakan penutup bagi bagian sebelumnya (silsilah Adam di pasal 5) dan bukan sebagai pendahuluan atau penyebab dari kisah penghukuman air bah. Jika ini diterima, maka Kejadian 6:1-8 hanya merupakan penjelasan bagaimana keturunan Adam telah bertambah banyak di bumi, yaitu melalui perkawinan. Dia menganggap bahwa peletakan perikop ini (tentang perkawinan) sebelum penghukuman merupakan strategi penulisan semata-mata, sama seperti perkawinan Adam dan Hawa di Kejadian 2:21-25 diletakkan sebelum penghukuman mereka di Kejadian 3. Singkatnya, identifikasi “anak-anak Allah” merupakan upaya yang tidak relevan dan didasarkan pada asumsi yang keliru bahwa Kejadian 6:1-8 merupakan pendahuluan (penyebab) penghukuman ilahi melalui air bah.

Sebelum memaparkan kelemahan dari pandangan ini, kita pertama-tama harus mengakui bahwa apa yang diusulkan di atas tidak sepenuhnya salah. Identitas “anak-anak Allah” memang bukan inti dari Kejadian 6:1-8. Inti perikop ini terletak pada kondisi manusia yang sedemikian jahat sehingga Allah perlu menghukum mereka, entah hukuman tersebut dipahami dalam kaitan dengan pasal 6:3 saja atau pasal 6-7 secara keseluruhan.

Hubungan Kejadian 6:1-8 dengan pasal 5 juga tidak terbantahkan (lihat Gordon Wenham, Genesis 1-15, WBC Vol. I). Ungkapan “ketika manusia mulai bertambah banyak jumlahnya di bumi” (Kej 6:1) jelas merujuk pada silsilah di pasal 5. Penyebutan “anak-anak perempuan” sudah ada di pasal 5. Kalau di pasal 5 “anak-anak perempuan” hanya disebut secara sambil lalu saja, di pasal 6:1-8 mereka menjadi fokus perhatian. Beberapa kosa kata muncul baik di pasal 5 maupun 6:1-8, misalnya “Tuhan”, “manusia”, “anak-anak laki-laki”, “anak-anak perempuan”, “membuat”, dsb.

Walaupun dua cara menghindari problem identifikasi “anak-anak Allah” di atas dapat dibenarkan, tetapi persoalan tetap tidak terselesaikan. Para pembaca tetap mempertanyakan siapa yang dimaksud anak-anak Allah dalam perikop itu. Sehubungan dengan pandangan Sailhamer, kita perlu menandaskan bahwa Kejadian 6:1-8 jelas berhubungan dengan hukuman air bah (ayat 7a “Aku akan menghapuskan manusia yang telah Kuciptakan dari muka bumi”). Mengapa Allah ingin memusnahkan manusia? Karena Dia melihat bahwa dosa manusia di bumi sudah sedemikian besar sehingga Dia menyesal telah menciptakan manusia (ayat 5-6). Kejahatan apa yang dilihat Allah di bumi? Jawabannya jelas terletak di ayat 1-4. Jadi, Kejadian 6:1-8 lebih cocok sebagai pendahuluan bagi bagian sesudahnya daripada kesimpulan dari bagian sebelumnya, walaupun pasal 6:1-8 memiliki kaitan dengan pasal 5.

Anak-anak Allah adalah keturunan Set

Salah satu usulan identifikasi “anak-anak Allah” adalah yang menganggap bahwa “anak-anak Allah” merujuk pada keturunan Set (orang benar), sedangkan “anak-anak perempuan manusia” adalah keturunan Kain (orang fasik). Pandangan ini dipegang oleh beberapa rabi Yahudi abad ke-2, beberapa bapa gereja ternama (Agustinus dan John Chrysostom) dan para reformator serta dipercaya oleh hampir semua orang Kristen awam. Di antara semua penganut pandangan ini, Agustinus mungkin adalah yang paling penting dan berpengaruh. Argumen yang dia berikan dijelaskan dalam bukunya The City of God.

Jika ini benar, maka inti dosa dalam perikop ini bukanlah sekedar pelampisan hawa nafsu. Fokus yang dibahas adalah kawin campur dengan orang yang fasik. Akibat dari kawin campur ini adalah hilangnya kesaksian untuk Tuhan dan standar moral (Gleason L. Archer, Encyclopedia of Bible Difficulties, 70).

Beragam argumen telah dimunculkan untuk mendukung dugaan ini. Pertama, pertentangan antara keturunan Kain dan Set memang sudah diajarkan di pasal 4 dan 5. Kedua keturunan ini mewakili dua macam keturunan yang saling berperang sejak Kejadian 3:15 (keturunan ular melawan keturunan perempuan). Perkawinan campur antara keturunan yang benar (“anak-anak Allah”) dengan yang tidak benar jelas merupakan dosa yang sangat serius di mata Tuhan.

Kedua, larangan kawin campur antara orang percaya dan orang yang tidak percaya diajarkan secara konsisten dan jelas dalam Alkitab. Allah memberikan larangan ini kepada bangsa Israel sebelum mereka menduduki tanah Kanaan (Ul 7:1-6). Larangan ini dipertegas lagi oleh Yosua pada akhir hidupnya (Yos 23:12). Alkitab juga menyaksikan bahwa perkawinan campur memang mengakibatkan dekadensi moral, misalnya Salomo (1 Raj 11:1-4). Pada saat bangsa Yehuda kembali dari pembuangan di Babel, mereka sangat menentang perkawinan campur (Ezra 9:14). Dalam Perjanjian Baru pun Paulus memberi nasehat yang sama (2 Kor 6:14-18).

Ketiga, sebutan “anak-anak Allah” dalam Alkitab dapat merujuk pada umat perjanjian. Tuhan berkata bahwa “Israel adalah anak-Ku” (Kel 4:22). Ulangan 14:1 “kamulah anak-anak TUHAN, Allahmu”. Mereka yang memberontak terhadap Tuhan disebut sebagai “yang bukan anak-anak-Nya” (Ul 32:5). Di hadapan Tuhan Asaf menyebut para leluhurnya sebagai “angkatan anak-anak-Mu” (Mzm 73:15). Pada saat Tuhan memulihkan Israel, Dia akan menyebut mereka “anak-anak Allah yang hidup” (Hos 1:10). Penyebutan ini tetap dipertahankan oleh para penulis Perjanjian Baru. Orang-orang yang percaya adalah anak-anak Allah (Mat 5:9; Luk 6:35; 20:36; Yoh 1:12; 11:52; Rom 8:16, 19, 21). Paulus bahkan secara khusus menyebut keturunan perjanjian sebagai anak-anak Allah (Rom 9:8). Adam pun disebut sebagai anak Allah (Luk 3:38).

Terakhir, penafsiran ini lebih meminimalisasi masalah yang dapat muncul. Alkitab mengajarkan bahwa malaikat adalah roh (Ibr 1:14). Walaupun malaikat dapat menampakkan diri dalam bentuk manusia, namun mereka tidak memiliki tubuh fisik sehingga tidak mungkin mengadakan hubungan seksual dengan manusia. Penafsiran “anak-anak Allah” sebagai malaikat merupakan akibat dari pengaruh mitos-mitos kafir.

Anak-anak Allah adalah keturunan bangsawan

Identifikasi kedua adalah yang menganggap “anak-anak Allah” sebagai keturunan bangsawan/raja, sedangkan “anak-anak perempuan” adalah keturunan rakyat biasa. Pandangan ini mulai dipopulerkan oleh para penafsir Yahudi pada pertengahan abad ke-2 M dan dianut oleh beberapa penafsir Kristen. Beberapa targum Yahudi mulai abad ke-2 M tampak mendukung pandangan ini. Dalam Targum Neofiti istilah “anak-anak Allah” diterjemahkan dengan istilah Aram yang artinya “anak-anak para penguasa”. Targum Onkelos memilih terjemahan “anak-anak para pembesar”, sedangkan Symmachus memakai “anak-anak yang berkuasa” atau “anak-anak para penguasa”.

Jika tafsiran ini yang benar, maka inti dosa di Kejadian 6:1-8 adalah poligami. Para pembesar mengambil banyak istri dari kalangan rakyat biasa “siapa saja yang disukai mereka” (6:2). Dosa ini sama seperti yang dilakukan oleh Lamekh (4:19-24).

Argumen yang diajukan sebagai dukungan bagi pandangan ini biasanya hanya berkaitan dengan studi kata “anak-anak Allah”. Dalam Alkitab para pembesar juga kadangkala disebut sebagai “anak Allah”. Dalam Mazmur 82:6 Allah menyebut para hakim sebagai “anak-anak Yang Mahatinggi”. Para raja dari keturunan Daud disebut sebagai anak Allah (2Sam 7:14; Mzm 2:7).

Bukti di luar Alkitab juga mengarah pada arti yang sama. Dalam sebuah tulisan, raja Sumer-Akkadia disebut sebagai ‘Sang Raja, anak dari dewa[nya]”. Raja Hittit disebut sebagai ‘anak dewa cuaca’. Dalam sebuah teks Ugarit, raja Keret disebut sebagai ‘Keret ben El’ yang artinya “raja Keret, anak allah”.

Anak-anak Allah adalah para malaikat

Pandangan ini banyak dipegang oleh para penafsir modern. Salah satu teolog Reformed yang menganut pandangan ini adalah James M. Boice. Berikut ini adalah beberapa argumen penting yang biasa dikemukakan untuk mendukung pandangan ini.

Pertama, dalam Alkitab sebutan “anak-anak Allah” dipakai sebagai rujukan untuk para malaikat (Ay 1:6; 2:1; 38:7). Penerjemah New International Version (NIV) bahkan secara eksplisit menerjemahkan sebutan itu di Ayub 1:6 dan 2:1 dengan “malaikat-malaikat”. Sebutan yang mirip dengan itu – yaitu bar ‘elohim – juga muncul di Daniel 3:25 (LAI:TB “anak dewa”). Dalam konteks ini, bar ‘elohim jelas merujuk pada malaikat (band. ayat 28). Pemakaian seperti ini juga dapat ditemukan dalam literatur Ugarit kuno yang menyebut para penghuni surga sebagai “anak-anak allah”.

Penyebutan “anak-anak Allah” untuk malaikat dalam contoh-contoh di atas disebut sebagai pemakaian yang bersifat atributif. Artinya, “anak-anak Allah” memang nama lain dari para malaikat, sebagaimana mereka memiliki sebutan-sebutan yang lainnya, misalnya “yang kudus”, “utusan”, dsb. Hal ini jelas berbeda dengan argumen sebelumnya yang dipakai untuk menafsirkan “anak-anak Allah” sebagai “keturunan Set” atau “keturunan bangsawan”. Dalam dua pemakaian ini, sebutan “anak-anak Allah” digunakan secara predikatif. Artinya, sebutan itu dipakai untuk menerangkan keadaan atau status dari sesuatu. Untuk mempermudah pemahaman, perhatikan perbedaan dari dua contoh berikut ini:

Atributif          Si ganteng itu sedang pergi

Predikatif        Dia adalah laki-laki yang ganteng

Kedua, berdasarkan pertimbangan konteks, kata “manusia” (ha ‘adam) dan “anak-anak perempuan” (banot) dalam ungkapan “anak-anak perempuan manusia” harus dipahami secara umum sebagai rujukan pada semua manusia tanpa terkecuali. Dari pasal 1-5, kata Ibrani ‘adam (24x) selalu merujuk pada Adam atau manusia secara umum. Tidak ada alasan untuk membatasi “manusia” di sini hanya pada keturunan Kain atau rakyat biasa, apalagi kata ini malah muncul sebagai pendahuluan bagi silsilah Set (5:1-2). Begitu pula dengan kata Ibrani banot. Kata ini muncul 9 kali di pasal 5 (ayat 4, 7, 10, 13, 16, 19, 22, 26, 30) dan semuanya merujuk pada keturunan Set. Tidak ada bukti apapun untuk menunjukkan bahwa banot terbatas pada keturunan Kain saja.

Di samping itu, kita perlu menambahkan bahwa tidak ada ide tentang perkawinan campur di Kejadian 6:1-8 yang dilarang oleh Tuhan. Mengapa? Kalau memang perkawinan campur dilarang dalam teks ini, maka Set juga bersalah. Bukankah dia pasti menikah dengan salah satu dari saudara perempuannya (Kej 5:4)? Apakah saudara perempuan ini (istri Set) termasuk orang kafir atau orang benar? Bagaimana dengan saudara-saudara Set lain yang laki-laki? Apakah mereka termasuk orang kafir atau orang benar? Dari penjelasan ini terlihat bahwa pembagian manusia ke dalam “keturunan Kain” dan “keturunan Set” adalah kategorisasi yang terlalu sempit dan tidak memperhatikan data lain dalam kitab Kejadian.

Ketiga, pandangan ini dapat menjelaskan keberadaan para nephilim (para raksasa di dunia purba) di Kejadian 6:4. Walaupun tidak semua orang yang bertubuh besar adalah hasil persetubuhan malaikat dan manusia (misalnya Bilangan 13:33; 1Sam 17; 2Sam 21:16-22), namun pemunculan nephilim sebagai hasil persetubuhan akan lebih masuk akal jika dipahami bahwa ini adalah persetubuhan yang tidak wajar. James Boice bahkan meyakini bahwa mitos kuno tentang para pahlawan yang separuh dewa-separuh manusia yang ada di hampir semua kisah rakyat (suku) dapat memberi dukungan ke arah sana (Genesis Vol I, 310).

Keempat, konteks kitab Kejadian secara keseluruhan mendukung adanya intervensi iblis secara langsung dalam sejarah keselamatan. Dimulai dengan hukuman dan janji Allah di pasal 3:15. iblis terus berusaha menggagalkan munculnya keturunan perempuan yang akan meremukkan kepalanya. Dia berhasil memakai ular, Kain, para pembangun menara Babel dan orang-orang lainnya untuk menggagalkan janji Allah tersebut. Hal ini akan semakin jelas apabila kita memperhatikan kesejajaran pola yang dipakai iblis di Kejadian 3:6 dan 6:2 yaitu “melihat…baik…mengambil” (catatan: terjemahan LAI:TB “cantik-cantik” di 6:2 seharusnya “baik” karena kata Ibrani yang dipakai sama dengan yang di 3:6).

Kelima, para penerjemah Septuaginta (LXX) dan semua penulis Yahudi sebelum jaman Perjanjian Baru memahami “anak-anak Allah” sebagai sebutan lain untuk para malaikat (Ay 1:6; 2:1; 38:7, LXX). Fakta ini tentu saja tidak secara otomatis membuktikan bahwa apa yang mereka percayai adalah benar. Mereka bisa saja melakukan kesalahan yang sama secara bersama-sama. Bagaimanapun, fakta tersebut akan tampak sangat meyakinkan apabila kita melihat salah satu tulisan Yahudi tersebut yang dipakai oleh beberapa penulis Perjanjian Baru, yaitu kitab 1Henokh (dipakai dalam surat 1Petrus, 2Petrus dan Yudas). Dalam pasal 6-8 dari kitab ini disebutkan bahwa yang menghampiri anak-anak perempuan manusia adalah para malaikat atau anak-anak surga. Akibat dari persetubuhan ini lahirlah para raksasa di jaman purbakala.

Keenam, beberapa teks Perjanjian Baru memberi indikasi yang cukup jelas bahwa anak-anak Allah di Kejadian 6:1-8 memang para malaikat. Dalam hal ini ada tiga teks yang perlu kita perhatikan secara seksama. Yang paling penting adalah Yudas 1:6-7. Surat ini adalah salah satu yang secara eksplisit memakai kitab 1Henokh (lihat Yud 1:14-15 band. 1Henokh 1:9 dan 60:8). Setelah Yudas menjelaskan bentuk kesalahan malaikat (tidak taat pada batas-batas kekuasaan, meninggalkan tempat kediaman mereka, ayat 6), ia lalu menjelaskan bahwa penduduk Sodom dan Gomora melakukan dosa dengan cara yang sama (ayat 7). Ayat ini secara eksplisit menghubungkannya dengan dosa seksual. Lebih jelas lagi, ungkapan Yunani yang dalam beberapa versi modern diterjemahkan “perbuatan yang tak wajar” (NIV) atau “nafsu yang tidak alamiah” (RSV) adalah sarkos heteras. Walaupun ungkapan ini secara hurufiah berarti “daging yang lain”, tetapi beberapa versi secara tepat menerjemahkannya dengan “daging yang aneh” (ASV/KJV/NKJV/NASB). Jika kita melihat kisah penduduk Sodom dan Gomora di Kejadian 19 maka kita akan menemukan bahwa mereka memang menginginkan daging yang aneh atau yang lain, yaitu tubuh para malaikat (ayat 1-5, NIV ayat 5 “supaya kami dapat berhubungan seks”, LAI:TB “memakai mereka”). Jika mereka dengan cara yang sama dengan malaikat mengingini daging lain, maka jelas para malaikat pernah terlibat dalam dosa seksual yang melibatkan manusia.

Teks lain yang penting adalah 1Petrus 3:19-20. Menurut terjemahan LAI:TB, “roh-roh yang di dalam penjara” (ayat 19) adalah “roh-roh mereka yang dahulu pada waktu Nuh tidak taat kepada Allah” (ayat 20). Dari terjemahan ini tersirat bahwa yang dikunjungi Yesus di penjara dunia roh adalah roh-roh orang yang mati pada jaman Nuh. Kesan ini akan langsung sirna jika kita mengetahui bahwa terjemahan “mereka” sebenarnya tidak ada dalam teks aslinya. Ayat 20 hanya menyebutkan “roh-roh” yang tidak taat pada jaman Nuh. Dari penyebutan ini (“roh-roh”) terlihat bahwa yang dikunjungi Yesus adalah makhluk roh yang tidak taat pada jaman Nuh.

Jika kita menyadari bahwa gaya bahasa di ayat 19-20 bersumber dari kitab 1Henokh, kita akan semakin yakin bahwa roh-roh di sini adalah para malaikat di Kejadian 6:1-8. Dalam surat 1Henokh para malaikat disebut dengan “roh-roh” (15:4, 6, 8). Para malaikat ini berada di dalam penjara (18:12-19:2; 21:1-10). Pemenjaraan ini juga dikaitkan dengan air bah pada jaman Nuh. Hal yang menarik adalah bahwa di pasal 12 dari kitab 1Henokh diceritakan bahwa Henokh diutus untuk memberitakan hukuman kepada para malaikat yang ada di penjara (di 1Petrus 3:19-20 yang memberitakan hukuman adalah Kristus).

Teks terakhir yang perlu diselidiki adalah 2Petrus 2:4-6. Dalam bagian ini Petrus merujuk balik pada tiga peristiwa penghukuman yang semuanya terjadi pada masa Perjanjian Lama: para malaikat, orang-orang pada jaman Nuh dan penduduk Sodom dan Gomora. Tiga peristiwa ini tampaknya ditulis secara kronologis sesuai dengan alur cerita kitab Kejadian. Tiga peristiwa ini juga dikaitkan dengan pemuasan hawa nafsu (2Pet 2:2, 7, 10). Jika ini benar, maka para malaikat di 2Petrus 2:4 sangat mungkin menunjuk pada anak-anak Allah di Kejadian 6:1-8.

Kesulitan dan jawaban

Pandangan yang dianut dalam makalah ini bukan tanpa kesulitan. Seandainya kita dapat menafsirkan Alkitab sesuai kehendak kita sendiri, maka kita pasti akan menghindari pandangan ini dan cenderung pada pandangan pertama (anak-anak Allah adalah keturunan Set). Bagaimanapun, kita harus membiarkan Alkitab menafsirkan dirinya sendiri, walaupun hasil dari penafsiran tersebut mengandung beberapa hal yang sulit kita jelaskan. Apa saja kesulitan atau keberatan yang sering diajukan oleh mereka yang menentang pandangan ini?

Mereka umumnya menyanggah berdasarkan ucapan Yesus di Matius 22:30 (para malaikat di surga tidak kawin maupun mengawinkan). Jika dibaca secara lebih teliti, teks ini sebenarnya tidak berkontradiksi dengan pandangan kita di atas. Ayat ini berlaku bagi para malaikat-malaikat di surga. Bagaimana dengan mereka yang “meninggalkan tempat kediaman mereka” (Yud 1:6)? Bukankah selama di dunia para malaikat dapat menampakkan diri dalam bentuk manusia? Bukankah dosa-dosa malaikat yang dicatat di Yudas 1:6-7 dihubungkan dengan dosa seksual?

Sanggahan lain yang diajukan biasanya adalah masalah ketidakadilan dalam hukuman Allah. Jika “anak-anak Allah” adalah malaikat, maka yang melakukan dosa di Kejadian 6:1-8 adalah para malaikat dan manusia. Mengapa Allah hanya menghukum manusia saja? (Bruce K. Waltke, Genesis, 116).

Terhadap sanggahan di atas, beberapa jawaban dapat diberikan. Pertama, jenis hukuman yang diberikan Allah di Kejadian 6-8 merupakan hukuman yang luar biasa. Hukuman yang luar biasa ini akan masuk akal jika dilatarbelakangi tindakan dosa yang luar biasa pula. Kedua, surat 1Petrus, 2Petrus dan Yudas menjelaskan tentang hukuman yang dialami oleh para malaikat yang jatuh. Ketiga, Musa tidak selalu mencatat hukuman apa yang diterima iblis pada saat mereka terlibat dalam suatu dosa. Dalam kasus keberdosaan Kain, tidak ada hukuman yang disebutkan untuk iblis, walaupun dia sangat jelas tersirat dalam kejatuhan Kain (4:7). Faktanya, Musa hanya mencatat hukuman untuk iblis secara eksplisit di Kejadian 3:15.

Sanggahan terakhir yang dikemukakan berkaitan dengan hasil persetubuhan. Mereka menganggap bahwa persetubuhan yang dilakukan oleh para malaikat yang adalah makhluk roh tidak mungkin menghasilkan apapun. Di samping itu mereka juga mempertanyakan apakah kejatuhan seperti ini masih dapat terjadi.

Sanggahan di atas merupakan yang paling sulit untuk dijawab. Kemungkinan besar kejatuhan para malaikat di Kejadian 6:1-8 merupakan kejatuhan yang terakhir yang diijinkan Allah, walaupun tidak ada teks yang mendukung hal ini secara eksplisit. Bagaimanapun, dugaan ini bukannya tidak mungkin. Penghukuman air bah harus dilihat sebagai sebuah akhir dan awal: akhir dari suatu tatanan dunia lama dan awal bagi yang baru. Hal ini tampak jelas dalam tulisan Petrus yang membagi dunia ini menjadi sebelum dan sesudah air bah (2Pet 3:5-7 “dunia yang dahulu dan dunia yang sekarang”).

 

Leave a Reply