Yakub Tri Handoko, Th. M.

 

Doktrin tentang setan (satanologi) maupun roh-roh jahat (demonologi) sebaiknya memperhatikan progresivitas karya keselamatan yang dilakukan Allah di dunia. Kita perlu menyelidiki perbedaan situasi yang ada dalam dunia roh sebelum dan sesudah karya Kristus di dunia. Ada beberapa keuntungan yang dapat diperoleh melalui pendekatan seperti ini.

Pertama, kita dapat mengetahui apakah ada perubahan radikal yang terjadi dalam dunia roh berdasarkan apa yang Kristus telah lakukan di dunia. Apakah karya Kristus di dunia menyebabkan perubahan yang nyata dalam dunia roh, misalnya setan secara de facto menjadi lebih terikat dan tidak bebas seperti dulu lagi? Apakah karya tersebut hanya sekedar kemenangan secara de jure yang menjamin kekalahan setan di akhir jaman? Apakah karya tersebut membawa dua aspek kemenangan – kekinian dan futuris – di atas? Untuk mengetahui jawaban terhadap pertanyaan ini, kita perlu membandingkan pekerjaan kuasa kegelapan di Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB).

Kedua, kita dapat memahami progresivitas peperangan kosmik antara Allah dan setan. Alkitab mencatat peperangan supranatural ini, dari pencobaan di Taman Eden (Kej 3:1-5, 14-15) sampai kekalahan telak setan di akhir jaman (Why 20:7-10). Dengan perspektif seperti ini kita mampu melihat pekerjaan setan dalam skala yang lebih luas dan sistematis. Kita akan melihat bahwa setan memang memiliki strategi global untuk melawan pemerintahan Allah. Strategi ini dilakukan secara konsisten dari awal penciptaan sampai akhir jaman. Dengan membagi pekerjaan setan menjadi dua masa – sebelum dan sesudah Kristus – kita mampu melihat keterkaitan dan progresivitas peperangan tersebut.

Data Perjanjian Lama tentang pekerjaan kuasa kegelapan

Jika kita membaca PL secara sekilas, maka kita akan mendapatkan kesan bahwa pekerjaan kuasa kegelapan di masa PL tidak terlalu banyak dan serius seperti di PB. Kita jarang melihat setan muncul dalam kisah-kisah PL. Aktivitas roh-roh jahat pun tampaknya tidak sesering yang kita jumpai dalam PB, terutama selama pelayanan Yesus di dunia.

Apakah kesan di atas sesuai dengan data yang ada di PL? Jawabannya adalah “ya” dan “tidak”. Ya, jika kita melihatnya dari pemunculan eksplisit dari sebutan “setan” maupun “roh-roh jahat” atau jika kita membatasi pekerjaan mereka hanya pada konteks kerasukan. Tidak, jika kita menyadari bahwa mereka memiliki strategi global yang konsisten sepanjang PL dengan satu tujuan yang tidak berubah sejak dari awal.

Rujukan eksplisit tentang setan dan pengikutnya memang jarang muncul dalam PL. Berikut ini adalah beberapa di antaranya:

Kata Ibrani satan (lit. “musuh” atau “penentang”) hanya muncul kurang dari 15 kali dalam PL. Dari pemunculan ini, sebagian bukan merujuk pada setan sebagai malaikat yang jatuh, misalnya Malaikat Tuhan yang menghadang Bileam (Bil 22:22, 32), para musuh Salomo (1Raj 11:14, 23, 25), Abisai (2Sam 19:22). Kata satan yang secara khusus merujuk pada iblis hanya muncul sebanyak 14 kali dalam PL (1Taw 21:1; Ay 1:6-12; 2:1-7; Zak 3:1-2). Frekwensi pemunculan ini kalah jauh dari PB: iblis (72x) dan setan (54x).

  • Roh jahat.

PL menyebut para pengikut setan sebagai roh tertentu yang negatif, misalnya roh peramal (Im 20:27; Ul 18:11; 1Sam 28:3, 9; 2Raj 21:6; 23:24; 2Taw 33:6), roh jahat (1Sam 16:14-16, 23; 18:10; 19:9;1Raj 22:21-23), roh dusta (2Taw 18:20-22). Pemunculan ini relatif tidak terlalu banyak jika dibandingkan kata “roh-roh jahat” atau “roh-roh” yang muncul di PB sekitar 40 kali.

  • Sebutan-sebutan lain.

Penerjemah Septuaginta (LXX) memakai kata daimonion (lit. “demon”) untuk beberapa istilah Ibrani: shedhim (“roh-roh jahat”, Ul 32:17; Mzm 106:37), seirim (“jin-jin”, Im 17:7; 2Taw 11:15), ‘elilim (LAI:TB “hampa”, versi Inggris “berhala-berhala”, Mzm 96:5//LXX 95:5), gad (LAI:TB “dewa Gad”, versi Inggris “Nasib”, Yes 65:11), qeter (LAI:TB “penyakit menular”, Mzm 91:6//LXX 90:6). Walaupun pilihan para penerjemah LXX ada yang masih dapat diperdebatkan – yaitu dalam kasus Mazmur 91:6 – namun data di atas menunjukkan bagaimana para penerjemah LXX meyakini adanya aktivitas roh-roh jahat dalam teks-teks di atas. Jumlah ini tergolong kecil dibandingkan jumlah pemunculan kata daimonion di PB yang mencapai 63 kali.

Dari sisi manifestasi kuasa kegelapan dalam bentuk kerasukan, rujukan PL yang ada juga tidak terlalu banyak dan eksplisit seperti di PB. Ide tentang kerasukan dalam PL hanya muncul secara tersirat, itupun dalam manifestasi yang berbeda dengan di PB, misalnya orang dirasuk oleh arwah atau roh peramal, Saul yang dikuasai kebencian karena pengaruh roh jahat dalam dirinya dan nabi-nabi palsu. Teks-teks yang lain mengajarkan manifestasi pengaruh kuasa kegelapan dalam bentuk pencobaan dan ibadah yang salah.

Penjelasan di atas tidak berarti bahwa setan dan pengikutnya kurang aktif dalam PL. Penyelidikan PL yang teliti menunjukkan bahwa mereka terlibat dalam berbagai dosa dan kejahatan yang ada, sekalipun figur mereka tidak muncul secara eksplisit dalam kisah-kisah Alkitab. Mereka memiliki satu tujuan yang jelas dan konsisten, yaitu melawan pemerintahan Allah di dunia dengan cara menjatuhkan manusia sebagai wakil Allah di bumi. Ketika kita membahas strategi setan di atas, kita juga akan melihat intervensi Allah untuk menolong manusia kembali pada posisi mereka sebagai wakil-Nya di bumi. Peperangan inilah yang akan menjadi sorotan utama dalam makalah ini.

Manusia sebagai gambar Allah

Manusia memiliki kesamaan dan keunikan dibandingkan dengan ciptaan yang lain. Kesamaan antara manusia dan ciptaan lain terlihat dari asal mereka yang sama, yaitu tanah (Kej 2:7). Baik tumbuhan maupun binatang berasal dari tanah (Kej 1:11-12, 24-25). Beberapa binatang bahkan dibentuk sendiri oleh tangan Tuhan (Kej 2:19-20), sama seperti proses penciptaan manusia. Baik manusia maupun binatang sama-sama disebut sebagai makhluk hidup (Kej 1:21, 24; 2:7, 19-20).

Pada saat yang sama manusia juga memiliki keunikan dibandingkan ciptaan lain. Penciptaan manusia bersifat lebih personal. Allah berkata “Baiklah Kita…” (Kej 1:26), bukan sekedar “jadilah…” (Kej 1:3, 6, 14). Hanya manusia yang dihembusi nafas Allah (Kej 2:7). Yang paling penting, manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26-27), bukan sekedar “menurut jenisnya” (Kej 1:11, 12, 21, 24, 25; versi Inggris “according/after their/its kinds”).

Apakah maksud “gambar dan rupa Allah”? Jawaban terhadap pertanyaan ini ada dua. Pertama, manusia adalah wakil Allah di bumi. Dengan kata lain, manusia dipercaya sebagai pemimpin dalam kerajaan Allah di bumi.

  • Kejadian 1:26 “…menurut gambar dan rupa Kita supaya mereka berkuasa atas…”
  • Menurut budaya/agama kuno, gambar allah/dewa hanya dibatasi pada para penguasa saja.
  • Gambar atau patung para penguasa dipahami sebagai representasi mereka.

Kedua, manusia menyatakan kejamakan dalam ketunggalan Allah. Ketika Allah menciptakan manusia, Ia menyatakan kejamakan dalam ketunggalan-Nya. Ia berkata “Marilah Kita (jamak) menjadikan (tunggal) manusia…” (Kej 1:26). Hasil penciptaan ini juga diungkapkan sebagai makhluk yang jamak tetapi tunggal. Kejadian 1:27 “maka Allah menciptakan manusia itu (tunggal) menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakannya dia (tunggal); laki-laki dan perempuan (jamak) diciptakannya mereka (jamak)”.

Dalam hal ini, manusia memiliki dua aspek relasi: dengan Allah dan sesama. Relasi dengan Allah terlihat dari kapasitas manusia representasi Allah. Cara penciptaan yang bersifat personal (“Baiklah Kita…”) turut mengajarkan keunikan relasi antara Allah dan manusia, apalagi hasil penciptaan tersebut menunjukkan ide tentang kejamakan dalam ketunggalan. Relasi antara sesama manusia dapat dilihat dari fakta bahwa di antara semua ciptaan, Alkitab hanya menyebut perbedaan jenis kelamin dalam kasus penciptaan manusia (Kej 1:27). Kesendirian Adam yang dianggap tidak baik oleh Allah (Kej 2:18) dan tujuan pemberian Hawa supaya dia dan Adam menjadi satu daging (Kej 2:24) mengajarkan bahwa sekalipun berbeda, namun manusia memiliki kesatuan yang intim.

Sebagai gambar Allah yang mewakili Allah di bumi dan yang menyatakan kejamakan dalam ketunggalan-Nya, manusia diberi kemampuan untuk beranakcucu, bertambah banyak, memenuhi bumi, menaklukkan bumi dan menguasai binatang-binatang (Kej 1:28 “Allah memberkati…berfirman…’beranakcuculah – bertambah banyak – penuhilah bumi – taklukkanlah itu – berkuasalah atas…’). Reproduksi bagi manusia bukan sekedar memperbanyak diri atau upaya mempertahankan eksistensi hidup di bumi. Reproduksi adalah alat untuk menggenapi peranan manusia sebagai gambar Allah. Reproduksi merupakan pelipatgandaan gambar Allah (band. Kej 5:3). Di samping reproduksi, manusia juga diberi kemampuan untuk menguasai (dominasi) atas alam semesta. Kemampuan ini bukan hasil usaha manusia, tetapi pemberian Allah.

Dari semua penjelasan dalam bagian ini, kita dapat melihat bahwa ungkapan “gambar Allah” dalam Alkitab memiliki tiga aspek penting: relasi (baik antara manusia dengan Allah maupun sesama mereka), reproduksi dan dominasi atas alam. Tiga aspek inilah yang menjadi topik yang sentral dan konsisten dalam seluruh tulisan Musa (Kejadian – Ulangan), bahkan seluruh Alkitab.

Kejatuhan manusia sebagai gambar Allah

Pencobaan yang dialami manusia di Taman Eden sangat berkaitan dengan kapasitas manusia sebagai gambar Allah. Tindakan setan yang menggunakan ular sebagai juru bicara merupakan sesuatu yang cukup mengagetkan. Alkitab sebelumnya sudah menyatakan bahwa semua binatang – termasuk ular yang merayap di tanah – berada dalam dominasi manusia (Kej 1:26, 28). Mengapa setan mengintervensi dominasi ini? Ironisnya, mengapa manusia dapat diperdaya oleh binatang yang seharusnya berada di bawah dominasi mereka?

Strategi yang dipakai setan adalah sebagai berikut: ia mula-mula merampas kebanggaan manusia yang sah sebagai gambar Allah, setelah itu ia mendorong mereka menentang Pencipta-Nya (Richard Pratt, Dirancang Bagi Kemuliaan, 49). Setan mencoba membuat Hawa meragukan kebaikan Allah dalam menjadikan dia sebagai gambar Allah. Ia mengarahkan Hawa pada larangan Allah untuk memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat (Kej 3:1-3), padahal larangan ini sebenarnya tidak ada apa-apanya jika dibandingkan kebebasan yang Allah berikan kepada manusia untuk makan semua pohon lain dalam Taman Eden (Kej 2:16). Setan seakan-akan ingin berkata kepada Hawa, “jika engkau memang gambar Allah di bumi, mengapa engkau tidak memiliki dominasi yang mutlak? Mengapa engkau tidak berhak atas satu jenis buah saja?”.

Setan selanjutnya membuat Hawa menentang Allah. Ia menjelaskan bahwa larangan Allah merupakan upaya-Nya untuk mencegah manusia menjadi seperti Dia (Kej 3:4-5). Jika manusia memang adalah gambar Allah, bukankah mereka layak untuk menjadi seperti Allah? Mengapa Allah mencegah hal ini? Pemikiran seperti inilah yang ditaburkan setan dalam hati Hawa, sehingga Hawa akhirnya tertarik untuk melampaui apa yang sudah ditetapkan Allah bagi dia: manusia hanyalah gambar Allah, bukan sama seperti Allah.

Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, gambar Allah dalam diri mereka mengalami kerusakan. Manusia memang tetap sebagai gambar Allah (Kej 9:6; Yak 3:9), tetapi gambar ini telah rusak secara serius. Semua aspek yang tercakup dalam “gambar Allah” – yaitu relasi, reproduksi dan dominasi – telah terdistorsi oleh dosa.

  • Manusia takut kepada dan bersembunyi dari Allah (Kej 3:7-10) — relasi
  • Mereka menyalahkan orang lain dan Allah (Kej 3:11-13) — relasi
  • Keturunan perempuan akan berperang melawan keturunan ular. Kalau sebelumnya pelipatgandaan gambar Allah hanyalah faktor biologis semata-mata (karena semua manusia menaati Allah), kini pelipatgandaan itu juga menuntut faktor spiritual (Pratt, Dirancang, 35) — reproduksi
  • Perempuan akan mengalami kesakitan waktu melahirkan (Kej 3:16a), padahal reproduksi sebelumnya adalah berkat Allah yang sempurna (Kej 1:28) — reproduksi
  • Hawa ingin menguasai Adam (Kej 3:16b; terjemahan modern “birahi” tidak tepat; kata Ibrani teshuqa artinya “mengingini”, dari pemakaian kata ini di pasal 4:7 teshuqa sangat mungkin bermakna “ingin menguasai”), begitu pula sebaliknya (Kej 3:16b), padahal mereka seharusnya menjadi pasangan yang sepadan (Kej 2:18) — relasi
  • Adam harus berjerih-lelah untuk mendapatkan sesuatu dari bumi (Kej 3:17-19), padahal sebelumnya bumi berada dalam kontrolnya (Kej 1:26, 28) — dominasi

Usaha setan dan intervensi Allah

Setelah berhasil menjatuhkan manusia pertama, setan tidak tinggal diam. Dia terus memusuhi keturunan perempuan. Walaupun figur setan tidak muncul secara eksplisit dalam kisah-kisah selanjutnya, tetapi karyanya masih dapat terlihat dengan jelas. Dosa sangat ingin menguasai Kain (Kej 4:7). Kain dipakai setan untuk memusnahkan Habel, orang benar dan salah satu keturunan perempuan di pasal 3:15. Lamekh – salah seorang keturunan Kain – malah membanggakan dosanya (Kej 4:23-24). Pemunculan Lamekh di akhir silsilah Kain bukanlah tanpa alasan. Silsilah ini dimulai dan diakhiri oleh orang yang melawan Allah. Dengan demikian, keturunan Kain ditampilkan sebagai keturunan setan yang memerangi keturunan perempuan (band. Kej 3:15). Ide ini didukung oleh 1Yohanes 3:12 yang menyatakan bahwa Kain berasal dari si jahat sehingga semua perbuatannya adalah jahat semata-mata (band. Yoh 8:44a “iblislah yang menjadi bapamu”). Ide ini juga sesuai dengan konteks Kejadian 4-5: silsilah Kain (4:1-24) dikontraskan dengan silsilah Set (4:25-5:32). Dalam Kejadian 4:25 Set secara khusus disebut sebagai pengganti Habel, padahal Adam dan Hawa juga kehilangan Kain (4:11, 14, 16), tetapi Set bukan pengganti Kain.

Upaya reformasi yang dilakukan oleh Set dan keturunannya (Kej 4:25-26; pasal 5, terutama ayat 22-24) sempat berjalan sukses, tetapi setan terus mengacaukan hal ini. Hasilnya, kejahatan manusia di bumi menjadi semakin besar (Kej 6:5-6). Setelah air bah, setan tetap bekerja. Keturunan Nuh selanjutnya menjadi rusak dan bahkan menolak peranan mereka sebagai gambar Allah. Mereka mendirikan menara yang sangat tinggi dengan maksud supaya mereka jangan terserak (Kej 11:4), padahal untuk menjalankan peran sebagai gambar Allah mereka harus memenuhi bumi (Kej 1:28).

Pada jaman para patriakh (Abraham – 12 suku Israel), setan tidak berhenti bekerja. Ia berusaha menggagalkan janji Allah kepada para patriakh. Janji yang mencakup aspek relasi (penciptaan umat yang kudus), reproduksi (keturunan) dan dominasi (tanah) ini terus mengalami pertentangan. Kelaparan yang mengancam kelangsungan hidup para patriakh terjadi beberapa kali (Kej 12:10; 26:1; 41:54). Beberapa istri patriakh berada dalam bahaya (12:14-20; 20:1-18; 26:7). Abraham menuruti nasehat Sara untuk mengawini Hagar sehingga dia melahirkan anak secara daging yang menganiaya anak secara Roh (Gal 4:23, 29). Pertentangan antara keturunan daging dan Roh ini terus berlanjut (Kej 16:12). Esau ingin membunuh Yakub (Kej 27:41). Yusuf – yang akan dipakai untuk menjaga kelangsungan hidup umat Allah (Kej 45:5, 7) – mengalami percobaan pembunuhan dari saudara-saudaranya (Kej 37:20).

Setelah keturunan para patriakh menjadi sangat banyak seperti yang dijanjikan Allah (Kel 1:7), persoalan tidak berhenti sampai di situ. Setan terus bekerja. Kali ini dia memakai bangsa Mesir untuk menindas bangsa Israel supaya mereka tidak bertambah banyak (Kel 1-2). Mereka melenyapkan setiap bayi laki-laki dari bangsa Israel (Kel 2:16). Selama perjalanan menuju tanah perjanjian, setan tetap berusaha menggagalkan upaya restorasi gambar Allah melalui penyembahan berhala (Kel 32). Ia juga membuat bangsa Israel tidak terlalu tertarik dengan tanah perjanjian. Sebaliknya mereka beberapa kali ingin kembali di Mesir (Kel 14:12; Bil 14:3).

Kita masih dapat melanjutkan deretan aktivitas setan di atas secara detil. Bangsa-bangsa kafir yang masih tinggal di Kanaan membuat bangsa Israel membelakangi Tuhan berkali-kali (kitab Hakim-hakim). Daud – sebagai salah satu nenek moyang Mesias (Mat 1:1-18) – hendak dibunuh oleh Saul (1Sam 19). Penyembahan berhala menjadi bahaya terbesar sejak jaman Salomo sampai pembuangan ke Asyur dan Babel. Gaya hidup yang bertentangan dengan Taurat sebagai tanda perjanjian juga menjadi ciri khas kehidupan bangsa Israel dan Yehuda sebelum mereka akhirnya dibuang Tuhan dari tanah mereka. Bagaimanapun, apa yang sudah ditulis di atas sudah cukup jelas menggambarkan adanya permusuhan konsisten antara keturunan ular dan perempuan.

Di sisi yang lain, Allah tidak tinggal diam. Ia terus menjaga realisasi janji-Nya di Kejadian 3:15 bahwa keturunan perempuan akan mengalahkan setan. Ketika Habel dibunuh (Kej 4:1-16), Dia membangkitkan Set (Kej 4:25-26). Ketika semua manusia berbuat kejahatan yang besar di bumi (Kej 6:5-6), Dia memberikan kasih karunia kepada Nuh (Kej 6:9). Dia memusnahkan bumi dan segala isinya (Kej 6-7) supaya Ia dapat memulai sesuatu yang baru lagi. Ia memberikan mandat untuk menguasai bumi lagi (Kej 9:1-7). Mandat ini sangat mirip dengan berkat dan perintah Allah di pasal 1:28. Melalui pembaruan total ini Allah ingin memulai segala sesuatu secara baru seperti sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa. Ketika keturunan Nuh mulai berdosa dan melawan Allah (Kej 11:1-9), Allah mempersiapkan sebuah keturunan yang lain (Kej 9:10-32) yang akan melahirkan Abraham (Kej 12:1-3).

Melalui janji kepada Abraham, Allah merestorasi tiga aspek penting dari gambar Allah: relasi, reproduksi dan dominasi. Tiga tema ini menjadi topik utama dalam seluruh kitab Musa (David J. A. Clines, The Theme of the Pentateuch, 2nd ed.). Allah akan membangun sebuah umat yang mengasihi dia dan dipakai untuk memberkati seluruh bumi (Kej 12:2-3; 17:1-11, 16-17; 26:2, 24; 28:13, 15; 35:9, 46:3; 48:21; Kel 3:6, 12, 15; 4:5, 23; 5:1; 6:6; 7:16; Im 26:12). Allah menjanjikan keturunan yang sangat banyak (Kej 12:2, 7; 13:15; 15:4, 13, 16; 15:18; 16:10; 17:2, 4-7, 16, 19; 21:12, 18; 22:16; 26:3; 26:24; 28:13; 35:11-12; 46:3). Allah juga menjanjikan tanah untuk didiami (Kej 12:1, 7; 13:14-15, 17; 15:7, 13, 16, 18; 17:8; 22:17; 26:2; 28:13, 15; 35:12; 46:3; Kel 3:8, 17; 6:6; 23:23-33; 34:24). Janji tentang keturunan muncul lebih dominan di Kejadian 12-50, janji tentang relasi di kitab Keluaran dan Imamat, sedangkan janji seputar tanah dominan di kitab Bilangan dan Ulangan (Clines, The Themes, 30).

Dari penjelasan di atas kita dapat melihat bahwa Allah ingin merestorasi manusia sebagai gambar-Nya. Dia memang tidak melakukan hal ini secara langsung dalam skala makro (seluruh bumi). Dia memulai dari sebuah keturunan (band. Kej 3:15) yang akan memberkati seluruh bumi (band. Kej 12:3). Melalui umat inilah Allah akan merestorasi bumi secara global sehingga bumi akan penuh kemuliaan-Nya (Hab 2:14). Kerajaan Allah akan dinyatakan secara sempurna di bumi.

Dari kitab Kejadian pasal 12-50 kita dapat melihat bagaimana Allah menjaga keturunan yang Dia pilih. Dia membuat mujizat kelahiran Ishak, sekalipun Abraham sudah sangat tua dan rahim Sara sudah tertutup (Kej 18:11; 21:2; Rom 4:19). Dia membuka kandungan Ribka yang mandul (Kej 25:21). Dia juga membuat Rahel mampu melahirkan anak-anak (Kej 30:22-23).

Allah juga menjaga kemurnian keturunan para patriakh. Beberapa kali janji tentang keturunan mengalami masalah serius karena para istri patriakh diingini oleh para penguasa. Dari semua bahaya ini Allah selalu campur tangan untuk menyelamatkan mereka (12:14-20; 20:1-18; 26:7).

Allah menjaga kelangsungan hidup para patriakh dan keturunan mereka. Beberapa kali mereka mengalami kelaparan yang hebat, tetapi Allah terus menjaga mereka (Kej 12:10; 26:1; 41:54). Bahkan ketika kelaparan melanda seluruh dunia, Allah mengirim Yusuf ke Mesir dan memberi dia hikmat untuk memelihara keturunan umat-Nya (Kej 45:7; 50:20). Mereka juga dijaga Allah dari upaya pembunuhan atau penindasan (Kej 16:4, 12; band. Gal 23, 29; Kej 27:41; 37:20). Ketika keturunan mereka hendak dilenyapkan bangsa Mesir, Allah tetap menjaga mereka, sehingga mereka tetap bertambah banyak (Kel 1:12).

Selama perjalanan di padang gurun dan selama mereka menempati tanah perjanjian, umat Allah memang berkali-kali melanggar perjanjian yang sudah dibuat (aspek relasi), Allah menghukum, bahkan menghalau mereka dari tanah yang Dia janjikan, tetapi Dia tetap menjaga kesetiaan-Nya. Mereka dibawa kembali ke Yudea dan mengalami restorasi Taurat pada jaman Ezra dan Nehemia.

 

Leave a Reply