Yakub Tri Handoko, Th. M.

 

Dalam makalah yang lalu kita sudah membahas bahwa setan berhasil menjatuhkan Adam dan Hawa sebagai gambar Allah. Kejatuan ini menyebabkan semua aspek dalam gambar Allah – relasi, dominasi dan reproduksi – mengalami kerusakan. Hubungan antara Allah dan manusia maupun antara sesama manusia mengalami disharmoni. Manusia gagal memerintah bersama dengan Allah secara sempurna dalam kerajaan-Nya di bumi. Peperangan antara keturunan ular dan perempuan (Kej 3:15) terus berlangsung.

Setelah kejatuhan manusia ke dalam dosa, Allah terus melakukan langkah-langkah restorasi. Ia memakai para patriakh – dari Nuh, Abraham, Musa, Daud – untuk memulihkan tiga aspek gambar Allah yang telah rusak. Puncak dari restorasi ini adalah karya Kristus. Dia datang ke dalam dunia sebagai gambar Allah yang sempurna (2Kor 4:4; Kol 1:15; Ibr 1:3) sehingga Dia dapat memulihkan kita menjadi serupa dengan gambar-Nya (Rom 8:29).

PEMULIHAN ASPEK RELASI

Kata “perjanjian” di dalam PL muncul hampir 300 kali. Yang paling penting adalah perjanjian yang dibuat oleh Allah dengan Nuh (Kej 6:18), Abraham (2Raj 13:23), Musa atas nama bangsa Israel (Kel 6:4) dan Daud (Yer 33:21). Perjanjian ini diteruskan kepada keturunan mereka (Kej 9:8; 15:18; 2Sam 7:12-16).

Sejarah bangsa Israel menunjukkan bahwa mereka seringkali berlaku tidak setia terhadap perjanjian ini. Mereka tidak menaati Taurat sebagai tanda perjanjian (Dan 9:11-13; Zef 3:4). Mereka bahkan menyembah dewa-dewa kafir, sehingga tindakan ini layak disebut sebagai perzinahan rohani, karena mereka telah melanggar perjanjian relasi dengan Allah (Hak 2:17; 1Taw 5:25; Yer 3:1, 9; 5:7; Yeh 6:9).

Di tengah ketidaksetiaan bangsa Israel, Allah memberikan suatu janji bahwa Ia akan mengadakan perjanjian yang baru dengan mereka. Kali ini Tuhan memberikan Taurat di dalam hati mereka (Yer 31:33a). Tuhan berjanji akan menjadi Allah mereka dan mereka menjadi umat-Nya (Yer 31:33b).

Janji di atas digenapi melalui pelayanan Yesus. Pada saat perjamuan terakhir Yesus menyatakan bahwa pencurahan darah-Nya adalah tanda perjanjian (Mat 26:28; Mar 14:24; Luk 22:20). Kaitan antara perjanjian dan darah jelas merujuk balik pada perjanjian dengan umat-Nya di Keluaran 24:5-8. Dalam 1Korintus 11:25 Paulus mengingat kembali perkataan Yesus ini dan menyebutnya sebagai tanda perjanjian yang baru. Keterangan “yang baru” menyiratkan restorasi terhadap perjanjian yang lama. Ide ini sangat mungkin dilatarbelakangi oleh Yeremia 31:32-34.

Pemulihan relasi antara Allah dan manusia juga dapat dilihat dari konsep tentang gereja sebagai Israel yang baru. Yesus memulai umat-Nya yang baru dengan 12 orang, sama seperti bangsa Israel yang lama terdiri dari 12 suku. Tidak heran, ketika Yudas Iskariot mati, bilangan 12 itu harus digenapkan (Kis 1:20-22). Paulus mengajarkan bahwa janji Allah kepada Abraham diteruskan kepada semua keturunannya, tetapi bukan secara biologis (Rom 4). Hal ini sangat dimungkinkan karena yang disebut Israel adalah secara pilihan, bukan keturunan biologis (Rom 9:6). Dia bahkan secara eksplisit menyebut orang percaya sebagai Israel milik Allah (Gal 6:16). Orang-orang percaya adalah mereka yang sudah bersunat secara rohani (Flp 3:3; Gal 3:7; Kol 2:11). Dia mengontraskan orang percaya dengan Israel menurut daging (1Kor 10:18).

PEMULIHAN ASPEK DOMINASI

Beberapa teks Alkitab menyatakan bahwa dunia dan segala isinya merupakan milik Allah (Kel 19:5; 1Taw 29:11). Allah memerintah atas seluruh bumi (Mzm 47:3, 8; 89:12; 103:19; 145:11, 13; Yes 54:5). Dia adalah Tuhan atas langit dan bumi (Kis 17:24). Dia juga seringkali disebut sebagai raja atas umat-Nya (Kel 15:18; Bil 23:21; Ul 33:5; Yes 43:15).

Bagaimanapun, Alkitab juga memberikan data lain yang perlu kita perhatikan. Dalam nubuat para nabi disebutkan bahwa Tuhan akan menjadi raja atas seluruh bumi. (Yes 24:23; 33:22; 52:7; Zef 3:15; Zak 14:9). Seorang keturunan Daud akan memerintah sebagai raja untuk selama-lamanya (Yer 23:5; Mik 5:2).

Bentuk keterangan waktu yang futuris dalam teks-teks di atas menunjukkan bahwa walaupun Allah adalah Raja atas seluruh bumi tetapi dalam arti tertentu Dia belum memerintah secara total di bumi. Salah satu permohonan dalam Doa Bapa Kami yang diajarkan Yesus “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga” (Mat 6:10) mengindikasikan bahwa pemerintahan Allah di bumi belum seperti pemerintahan-Nya di surga. Hal ini bukan berarti bahwa Allah tidak berdaulat penuh. Dia tetap menguasai semua bangsa (2Taw 36:23; Ez 1:1; Yes 45:1; Hab 1:6). Setan pun berada di bawah kendali Allah (Ay 1:6-12; 2:1-7; Zak 3:1-2).

Bagaimana kita harus menjelaskan dua situasi di atas? Jawabannya terletak pada fakta bahwa setan telah berhasil ikut memerintah dalam kerajaan Allah di bumi yang seharusnya dikontrol oleh Allah dan dilaksanakan oleh manusia secara penuh. Manusia sebagai gambar Allah telah gagal menjalankan dominasi mereka dalam kerajaan Allah. Keturunan mereka sampai sekarang harus berperang melawan keturunan ular.

Dominasi setan atas bumi ini diajarkan secara jelas di dalam Alkitab. Setan menawarkan kekuasaan dunia kepada Yesus dan Yesus tampaknya tidak membantah klaim setan atas dominasinya di bumi (Mat 4:8-9//Luk 4:5-7). Setan digambarkan sebagai orang kuat yang menguasai sebuah rumah (Mat 12:29//Mar 3:27). Paulus menyebut kuasa kegelapan sebagai pemerintah, penguasa dan penghulu dunia (Ef 6:12). Pada bagian sebelumnya di surat yang sama dia menyebut roh-roh jahat sebagai penguasa kerajaan angkasa yang memerintah orang-orang durhaka (Ef 2:2). Paulus secara eksplisit memakai istilah “allah jaman ini” untuk setan (2Kor 4:4).

Sehubungan dengan situasi di atas, pelayanan Yesus terfokus pada datangnya kerajaan Allah di muka bumi. Yohanes Pembaptis menyerukan hal ini (Mat 3:1-2//Mar 1:4). Yesus pun memberitakan hal yang sama (Mat 4:17//Mar 1:14-15). Ketika para penulis kitab injil merangkum pelayanan Yesus, mereka tidak lupa menyebutkan aktivitas pemberitaan kerajaan Allah (Mat 4:23; 9:35; Luk 8:1). Yesus secara khusus memberitahu murid-murid-Nya bahwa tujuan Dia diutus ke dunia adalah untuk memberitakan kerajaan Allah (Luk 4:43). Dia pun memerintahkan murid-murid-Nya untuk memberitakan pesan yang sama sampai akhir jaman (Mat 10:7; 24:14).

Alkitab memberikan banyak indikasi bahwa selama pelayanan Yesus di dunia telah terjadi peperangan yang hebat antara Dia dan setan. Ketika Yesus lahir di dunia, setan memakai Herodes untuk membinasakan Yesus (Mat 2:1-12). Wahyu 12:1-6 menggambarkan peristiwa ini sebagai peperangan antara perempuan dengan naga. Setan berusaha menggoda Yesus untuk menjauhi jalan salib (Mat 4//Luk 4). Ketika dia tidak berhasil melakukan itu, dia memakai Petrus untuk menghalangi jalan menuju salib (Mat 16:22-23). Ketika jalan salib akan menjadi kepastian, setan memakai Yudas (Yoh 6:70; 13:2, 27) dan Petrus (Luk 22:31) untuk melemahkan Dia. Dari semua peperangan ini, Yesus tetap tampil sebagai pemenang.

Sebaliknya, beberapa teks lain menunjukkan kekalahan setan dalam peperangan melawan Yesus. Ketika Yesus mengusir setan dengan kuasa Roh Allah, Dia berkata “Kerajaan Allah sudah datang kepada-Mu” (Mat 12:28). Di tempat lain ia menggambarkan pengusiran setan yang Dia lakukan sebagai tindakan mengikat orang kuat untuk merampok harta miliknya (Mat 12:29//Mar 3:27). Dia memberi murid-murid-Nya otoritas atas roh-roh jahat (Mat 10:8). Setelah murid-murid-Nya melaporkan pengusiran roh-roh jahat yang mereka lakukan,Yesus berkata “Aku melihat iblis jatuh seperti kilat dari langit” (Luk 10:18). Banyaknya kisah pengusiran setan selama pelayanan Yesus menunjukkan bahwa otoritas setan benar-benar telah dikalahkan. Puncak kemenangan Yesus adalah kebangkitan-Nya. Dia berkata “kepada-Ku telah diberikan segala kuasa (lit. “otoritas”) di surga dan di bumi” (Mat 28:18).

Jika karya Kristus di dunia sudah mengalahkan setan, mengapa setan masih memiliki kuasa sampai sekarang ini? Mengapa setan masih bisa mengganggu gereja yang sedang bertumbuh (Kis 5:3)? Mengapa dia masih menguasai orang-orang di luar Kristus (Ef 2:2)? Mengapa dia masih dapat menelan orang yang dapat ditelannya (1Pet 5:8)? Dalam hal ini kita perlu memahami dua aspek dari realisasi kerajaan Allah: aspek kekinian dan futuris. Kristus sekarang sudah menjadi Raja, tetapi Dia harus menunggu sampai segala sesuatu diletakkan di bawah kaki-Nya (1Kor 15:24-26). Setan sudah dikalahkan, tetapi dia hanya diikat, bukan dihancurkan kekuatannya (Why 20:2-3).

Kerajaan Allah memang sudah datang melalui pelayanan Yesus. Di awal pelayanan-Nya Yesus mengatakan bahwa jaman baru yang dijanjikan sudah digenapi dalam diri Dia pada saat itu (Luk 4:21//Yes 61:1-2). Ketika Dia ditanya orang Farisi tentang waktu kedatangan kerajaan Allah, Dia menjawab “kerajaan Allah ada di tengah-tengah kamu” (Luk 17:21; band. Mat 12:28). Kerajaan maut tidak dapat menguasai orang percaya (Mat 16:18).

Bagaimanapun, realisasi yang sempurna dari kerajaan Allah masih menunggu akhir jaman. Kristus akan datang kembali untuk menghakimi setiap orang (Mat 16:27). Setan dan para pengikutnya akan dihancurkan (Mat 25:41). Pada saat itulah Tuhan akan menyingkirkan semua generasi yang fasik dalam kerajaan-Nya (Mat 13:36-43). Paulus berdoa agar Tuhan segera menghancurkan iblis (Rom 16:20).

Di antara dua titik inilah orang Kristen berada. Tuhan sudah menjamin kemenangan kita atas kuasa kegelapan (Mat 10:8; Yak 4:7), namun kita tetap harus berperang melawan kuasa kegelapan (Ef 6:12). Kita harus meruntuhkan benteng-benteng musuh (2Kor 10:3-5). Kita harus menerangi dunia yang gelap dan menggarami dunia yang tawar (Mat 5:13). Pada akhir jaman nanti kita akan turut memerintah bersama Kristus (2Tim 2:12). Kita akan memerintah sebagai raja di bumi yang baru (Why 5:10; 22:5). Kita bahkan akan mengadili para malaikat (1Kor 6:3).

Pemulihan aspek reproduksi          

Setan, para pengikut dan keturunannya terus berperang melawan keturunan perempuan (band. Kej 3:15). Orang-orang Yahudi disebut sebagai anak-anak iblis (Yoh 8:44). Elimas, si tukang sihir, ditegur Paulus sebagai anak iblis (Kis 13:10). Anak-anak terang dikontraskan dengan anak-anak jaman ini (Luk 16:8). Teks yang paling eksplisit dan menarik tentang dua jenis keturunan ini adalah Matius 13:38 (“benih yang baik itu anak-anak Kerajaan, lalang anak-anak si jahat”). Kita dapat membedakan dua jenis keturunan ini dari respon mereka terhadap kebenaran (1Yoh 2:9-10) atau pada saat akhir jaman (Mat 13:39-43).

Dari penjelasan di atas kita dapat melihat bahwa sebutan “anak-anak Allah” untuk orang percaya bukanlah penyebutan yang tanpa maksud. Di dunia ini akan selalu ada dua macam keturunan. Habel disebut orang benar (Mat 23:35), sedangkan Kain disebut berasal dari si jahat (1Yoh 3:12); Ismael adalah anak secara daging, sedangkan Ishak secara janji/rohani (Rom 9:7-9; Gal 4:28, 31); Yakub adalah keturunan pilihan, sedangkan Esau bukan (Rom 9:10-13); orang percaya dilahirkan dari Allah (Yoh 1:12-13; 3:3, 5, 8), sedangkan mereka yang tidak percaya adalah anak-anak iblis (Yoh 8:44). Salah satu petunjuk yang jelas tentang hal ini adalah penyebutan orang percaya sebagai keturunan Abraham (Rom 4:23-24; Gal 4:28, 31). Jika janji Allah kepada Abraham tentang keturunannya merupakan upaya restorasi gambar Allah dan penggenapan Kejadian 3:15, maka keberadaan orang percaya sebagai keturunan rohani Abraham juga bagian dari upaya tersebut.

Pemulihan aspek reproduksi dalam jaman PB adalah melalui pemuridan. Setelah Yesus mengatakan bahwa segala otoritas ada di tangan-Nya (Mat 28:18), Dia lalu memberikan perintah agar orang percaya menjadikan semua bangsa murid-Nya (Mat 28:19-20). Perintah ini merupakan cara yang ditetapkan Allah untuk menggenapi nubuat di Daniel 7:13-14 tentang semua orang dari segala bangsa yang akan menyembah Allah. Sama seperti para patriakh harus bertambah banyak dan memenuhi bumi, orang percaya juga harus pergi ke seluruh bumi untuk melipatgandakan gambar Allah (Mat 24:14; Kis 1:8).

Pelipatgandaan ini sebelumnya sudah tersirat dalam perumpamaan Yesus. Ia menggambarkan kerajaan Allah seperti biji sesawi yang kecil tetapi akan terus bertambah besar (Mat 13:31-32). Kerajaan Allah juga harus memiliki pengaruh yang besar bagi dunia (Mat 13:33). Menariknya, dua perumpamaan ini diajarkan Yesus setelah perumpamaan tentang benih gandum (anak-anak Kerajaan) dan benih lalang (anak-anak si jahat). Hal ini menunjukkan bahwa sekalipun iblis akan terus melipatgandakan keturunannya, tetapi kemenangan akan berada pada pihak keturunan perempuan. Pada akhir jaman nanti akan ada sejumlah besar orang dari seluruh bumi yang akan menyembah Allah (Why 7:9).

YESUS SANG PEMULIH GAMBAR ALLAH

Alkitab memakai beberapa cara untuk menjelaskan bahwa Yesus adalah puncak dari upaya Allah untuk memulihkan manusia sebagai gambar Allah. Dengan kata lain, Yesus adalah penggenapan dari janji Allah di Kejadian 3:15.

  • Yesus disebut sebagai gambar Allah (2Kor 4:4; Kol 1:15; Ibr 1:3).
  • Yesus disejajarkan dengan Adam: Ia disebut sebagai “Adam terakhir” (1Kor 15:45); Ia disejajarkan dengan Adam sebagai kepala perjanjian (Rom 5:12-21); Ia dicobai iblis sama seperti Adam (Mat 4:11//Luk 4:1-13; melalui silsilah di pasal 3:23-38, Lukas secara khusus menampilkan Yesus sebagai keturunan Adam).
  • Keselamatan yang Yesus berikan disamakan dengan keselamatan pada jaman Nuh (1Pet 3:21). Situasi kedatangan-Nya pun disejajarkan dengan situasi jaman Nuh (Mat 24:37//Luk 17:26).
  • Yesus disebut sebagai keturunan Abraham yang akan menjadi berkat bagi semua bangsa (Gal 3:16//Kej 22:18).
  • Yesus ditampilkan sebagai Musa yang baru yang menuntut umat-Nya untuk memiliki cara hidup yang berbeda dengan dunia (Mat 5:17-48, terutama ayat 20, 45-48).
  • Yesus ditampilkan sebagai keturunan Daud (Mat 1:1; 9:27; 12:13; 15:22; 20:30, 31; 21:9, 15; 22:42).

Sekarang secara khusus kita akan membahas Roma 8:29. Dalam teks ini disebutkan bahwa kita akan diubah menjadi serupa dengan gambaran Kristus. Konteks bagian ini berbicara tentang penderitaan jaman ini (Rom 8:18). Penderitaan ini merupakan penderitaan yang berskala makro (kosmik), karena seluruh makhluk turut menderita (Rom 8:19-22). Orang percaya juga berada dalam penderitaan sementara ini, namun jika kita tekun menderita bersama Kristus, maka kita juga akan menerima kemuliaan bersama Kristus (Rom 8:17). Kita akan diubah menjadi serupa dengan gambar Kristus dalam arti bahwa kita akan turut dimuliakan sebagaimana Kristus juga dimuliakan (Rom 8:30).

KONKLUSI

Peperangan melawan kuasa kegelapan adalah peperangan yang berskala kosmik. Semua serangan setan ditujukan untuk merusak manusia sebagai gambar Allah. Setan terus berusaha agar aspek relasi, dominasi dan reproduksi yang dimiliki manusia sebagai gambar Allah terus-menerus berada dalam keadaan rusak. Dalam perspektif inilah kita harus memandang semua bentuk tipu daya iblis.

Di lain pihak, Allah juga tidak pernah berhenti bekerja. Dia terus merestorasi manusia sebagai gambar Allah. Ia memberikan janji pemulihan kepada para patriakh. Puncaknya, Dia mengirim Yesus Kristus – Anak-Nya yang tunggal – untuk mematahkan kausa setan di bumi dan sekaligus menjamin kemenangan mutlak di akhir jaman.

 

Leave a Reply