Yakub Tri Handoko, Th. M.

 

Hampir semua orang percaya mungkin sudah mengetahui bahwa ada peperangan rohani antara kita dan roh-roh jahat. Kebenaran ini diajarkan secara jelas dalam Alkitab. Paulus menyatakan bahwa peperangan kita bukan melawan darah dan daging tetapi roh-roh jahat (Ef 6:12). Petrus mengingatkan bahwa si iblis berjalan keliling hendak menelan orang yang dapat ditelannya (1Pet 5:8). Yakobus menasehati penerima suratnya untuk melawan iblis (Yak 4:7).

Hampir semua orang Kristen juga mungkin sudah memahami bahwa Kristus telah mengalahkan roh-roh jahat dan kita sendiri diberi otoritas atas mereka. Kristus telah melucuti pemerintah-pemerintah dan penguasa-penguasa (Kol 2:15). Mereka telah dihakimi dan dibuang (Yoh 12:31; 16:11). Iblis yang berkuasa atas maut telah dibinasakan (Ibr 2:14-15).

Orang Kristen juga diberi otoritas atas roh-roh jahat. Para rasul diberi kuasa untuk mengusir setan (Mat 10:1; Kis 19:12). Mereka yang tidak termasuk para rasul pun memiliki kuasa untuk mengusir setan (Kis 8:7), dengan demikian menyiratkan bahwa kuasa atas roh-roh jahat juga diberikan kepada semua orang percaya. Kalau orang percaya mau tunduk kepada Allah, maka iblis akan lari dari kita (Yak 4:7).

Beberapa teks menyiratkan bahwa orang percaya akan aman dari serangan iblis. Roh di dalam diri orang percaya lebih besar daripada roh apapun yang di dalam dunia (1Yoh 4:4). Orang percaya telah dilepaskan dari kerajaan kegelapan (Kol 1:13; band, Kis 26:18). Yesus sendiri telah berdoa agar kita dijaga dari si jahat (Yoh 17:15). Allah pun setia dalam menguatkan dan menjaga kita dari si jahat (2Tes 3:3). Iblis tidak dapat menjamah orang percaya (1Yoh 5:18).

Walaupun hampir semua orang percaya mengetahui bahwa ada peperangan rohani dan kita telah diberi otoritas atas roh-roh jahat, tetapi tidak semua orang percaya memahami seberapa jauh kuasa kegelapan dapat menyerang atau mempengaruhi orang Kristen. Apakah pikiran dan hati orang percaya dapat dipengaruhi oleh iblis? Apakah iblis dapat menyentuh tubuh kita, bahkan membunuh kita? Apakah iblis dapat masuk ke dalam gereja dan membuat kekacauan? Yang paling ekstrim, apakah iblis dapat mengontrol kehidupan orang percaya (kita biasa menyebut ini sebagai “kerasukan”)?

SERANGAN IBLIS TERHADAP ORANG PERCAYA

Jika kita konsisten terhadap ajaran Alkitab, maka kita harus mengakui bahwa dalam taraf tertentu iblis dapat menyerang dan mempengaruhi orang percaya. Berbagai peringatan untuk mewaspadai iblis hanya akan memiliki makna jika ada kemungkinan bahwa hal itu dapat terjadi. Paulus menyiratkan bahwa iblis dapat mengambil keuntungan (2Kor 2:11) atau kesempatan (Ef 4:27) di tengah-tengah orang percaya. Paulus melarang orang yang baru bertobat untuk menjadi pemimpin rohani, karena orang itu sangat rawan terhadap hukuman dan jerat iblis (1Tim 3:6-7). Peringatan Petrus tentang iblis yang mencari orang yang dapat ditelannya menunjukkan bahwa orang percaya dapat ditelan oleh iblis (1Pet 5:8), walaupun arti “sitelan” di ayat ini masih dapat diperdebatkan.

Kemenangan atas iblis memang sudah dijanjikan kepada orang percaya, namun bukan berarti kemenangan ini tanpa syarat dan dalam segala kondisi. Apa yang akan terjadi jika orang percaya tidak menyadari adanya peperangan rohani atau tidak menggunakan senjata Allah (band. Ef 6:13-18)? Apa yang akan terjadi jika orang percaya tidak mau tunduk kepada Allah (band. Yak 4:7)?

Dalam bagian ini kita akan membahas ayat-ayat Alkitab yang menyiratkan bahwa orang percaya dapat diserang, dipengaruhi maupun dikuasai oleh iblis dalam berbagai tingkatan. Kita tidak akan membahas isu tentang kerasukan, karena topik ini akan dibahas tersendiri di akhir makalah ini. Berikut ini adalah beberapa cara iblis dapat mempengaruhi orang percaya.

Iblis dapat bekerja di tengah orang percaya dalam bentuk perpecahan. Ketika jemaat penerima surat Efesus berada dalam disharmoni (Ef 4:25-32), Paulus mengingatkan mereka agar jangan memberi kesempatan kepada iblis (Ef 4:27). Hal yang mirip dengan itu juga disampaikan kepada jemaat Korintus yang sedang menghadapi masalah tentang pengampunan (2Kor 2:10-11). Yakobus juga menyatakan kebenaran yang sama. Kepada penerima suratnya yang sedang berselisih dan menganggap diri berhikmat, Yakobus dengan tegas menyatakan bahwa hikmat seperti itu berasal dari setan-setan (Yak 3:15).

Iblis juga dapat menghalangi pekerjaan penginjilan. Dia membutakan mata orang-orang yang tidak percaya sehingga mereka tidak dapat memahami injil (Kis 26:18; 2Kor 4:3-4). Lukas 8:12 “iblis mengambil firman itu dalam hati mereka supaya mereka jangan percaya dan diselamatkan”. Dia berusaha mengaburkan kebenaran injil dan mengganggu para pekabar injil (Kis 13:8-11; 16:16-18). Dia menghalangi perjalanan misi para pekabar injil (1Tes 2:18). Permintaan Paulus kepada jemaat Efesus untuk mendoakan dia agar dia diberi keberanian memberitakan injil menunjukkan bahwa keberanian semacam ini adalah hasil pekerjaan supranatural (Ef 6:19-20). Secara khusus hal ini berkaitan dengan peperangan rohani yang sudah disinggung sebelumnya (Ef 6:10-18). Dari konteks yang ada kita dapat menyimpulkan bahwa ketakutan yang mungkin melanda Paulus merupakan siasat kuasa kegelapan. Jika ini bisa diterima, maka kasus ini mirip dengan penyangkalan Petrus. Ketakutan Petrus untuk menderita bersama Yesus (Luk 22:34, 55-62) sangat berkaitan dengan aktivitas iblis (Luk 22:31 “Simon, Simon, lihat, iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum”).

Beberapa teks tampaknya mengindikasikan bahwa iblis dalam kasus tertentu dapat menjamah tubuh orang percaya. Salah satu contoh adalah penyakit bongkok yang diderita seorang perempuan akibat aktivitas roh jahat (Lukas 13:10-17). Dari indikasi yang disediakan teks terlihat bahwa perempuan ini sangat mungkin adalah orang yang sudah percaya. Yesus menyebut perempuan ini sebagai keturunan Abraham. Sebutan ini di Injil Lukas juga dipakai untuk Zakheus yang baru bertobat (19:9 “hari ini telah terjadi keselamatan kepada rumah ini karena orang ini pun anak Abraham”). Lebih jauh, Lukas juga mencatat bahwa tidak semua bangsa Yahudi secara etnis adalah anak Abraham (3:8). Semua ini menunjukkan bahwa perempuan ini adalah orang percaya. Jika ini benar, maka kasus ini sangat mirip dengan kasus Ayub. Walaupun dia adalah orang yang saleh (Ay 1:1), namun Tuhan tetap memberi ijin kepada iblis untuk menjamah tubuhnya (Ay 2:4-6).

Iblis tidak hanya menyerang orang percaya dalam bentuk kelemahan fisik tertentu, tetapi dia juga kadangkala bekerja melalui penganiayaan terhadap orang percaya. Iblis melemparkan orang percaya ke dalam penjara supaya mereka mengalami penderitaan (Why 2:9-10). Saksi Tuhan pun dibunuh di tempat iblis, dengan demikian menyiratkan bahwa pembunuhan ini melibatkan intervensi iblis (Why 2:13). Kebenaran ini selaras dengan Matius 10:28. Siapakah yang dimaksud dengan “mereka yang dapat membunuh tubuh” di ayat ini? Ada dua kemungkinan: para penganiaya di ayat 16-24 atau iblis dan pengikutnya di ayat 25. Pilihan manapun yang kita pilih, pembunuhan ini tetap berkaitan dengan aktivitas kuasa kegelapan, walaupun kita tidak mengetahui apakah mereka langsung membunuh orang percaya atau mereka menggunakan para penganiaya.

Salah satu aktivitas iblis yang paling umum adalah dalam hal dosa. Iblis tidak hanya membuat orang yang tidak percaya berbuat dosa (1Yoh 3:8-10), dia juga bisa menjatuhkan orang percaya. Memang tidak setiap dosa disebabkan oleh iblis (Yak 1:14-15), tetapi Alkitab memberikan banyak contoh keterlibatan iblis dalam dosa-dosa tertentu, misalnya kemunafikan (Kis 5:3), perzinahan (1Kor 7:5), perzinahan dan gosip (1Tes 5:11-15), kecongkakan (Yak 4:6-10). 1Yohanes 5:18 “kita tahu, bahwa setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa; tetapi Dia yang lahir dari Allah melindunginya, dan si jahat tidak dapat menjamahnya”.

Kita tidak boleh melupakan salah satu ajaran Alkitab yang sangat jelas tentang aktivitas kuasa kegelapan dalam hal kesesatan doktrin. Banyak teks yang memberi indikasi tentang hal itu. 1Timotius 4:1 menyatakan bahwa ajaran yang sesat adalah hasil dari pekerjaan roh-roh penyesat dan setan-setan. Para nabi palsu yang menyangkal inkarnasi Yesus tidak memiliki Roh Allah. Sebaliknya, mereka dikuasai roh antikristus (1Yoh 4:1-4).

Ada satu kasus yang sangat penting untuk diperhatikan dalam memahami kaitan antara iblis dan orang percaya, yaitu 2Korintus 12:7-8. Dalam bagian ini Paulus mengatakan bahwa dia diberi suatu duri dalam dagingnya. Berdasarkan tata bahasa Yunani, bentuk pasif “diberi” (edoqh) yang tidak disertai subjek seperti ini menunjukkan bahwa tindakan ini berasal dari Allah (divine passive). Yang menarik, Paulus sendiri menyebut duri dalam daging ini sebagai utusan iblis yang menggocoh dia. Walaupun arti yang sebenarnya dari ungkapan “duri dalam daging” masih terus menjadi perdebatan para penafsir, tetapi hal itu tidak menghilangkan fakta bahwa iblis dalam taraf tertentu memang diberi ijin oleh Tuhan untuk menyerang orang percaya.

Dari penjelasan di atas terlihat bahwa iblis dalam taraf tetentu memang bisa menyerang orang percaya. Serangan ini dapat bersifat sosial (disharmoni), misionaris (penginjilan), fisik (penyakit dan penderitaan), rohani (dosa-dosa tertentu) maupun intelektual (ajaran sesat). Walaupun demikian, kita perlu menegaskan beberapa batasan:

  • Iblis hanya dapat menyentuh orang percaya jika mereka memberi kesempatan.
  • Dalam kasus lain iblis bisa menjamah kita kalau dia diberi ijin oleh Tuhan. Itu pun dengan pertimbangan untuk kebaikan orang percaya. Ayub diijinkan Tuhan untuk dicobai iblis supaya imannya semakin teruji (Ay 1:8-12; 2:3-5). Paulus diberi utusan iblis supaya dia tidak meninggikan diri (2Kor 12:7) dan mampu menghargai anugerah Tuhan (2Kor 12:9).
  • Tidak ada satu pun dari contoh-contoh di atas yang menyiratkan bahwa keselamatan orang percaya dapat hilang.

KERASUKAN

Isu tentang kemungkinan bagi orang percaya untuk dirasuk iblis merupakan topik yang paling rumit untuk dijelaskan. Salah satu faktor yang membuat diskusi ini sulit adalah ketidakjelasan pengertian “kerasukan”. Istilah ini cenderung hanya menyoroti keadaan seseorang yang berada dalam kontrol mutlak iblis sehingga dia tidak sadar terhadap apa yang dia pikirkan, katakan atau lakukan. Ungkapan bahasa Inggris “demon possesed” (lit. “dimiliki oleh iblis”) juga menyiratkan makna yang sama.

Istilah-istilah seperti ini tidak terlalu tepat mengekspresikan kata Yunani yang dipakai para penulis Alkitab. Dalam PB ada beberapa kata Yunani yang biasa dipakai untuk menggambarkan kerasukan. Yang paling sering dipakai adalah daimonizomai (13 kali). Dari sisi etimologis, kata ini terdiri dari tiga kata: daimon = iblis, iz = penyebab aktif dan omai/omenos = kepasifan dari orang yang dikenai tindakan. Jika digabungkan, kata ini menunjukkan suatu keadaan pasif yang disebabkan oleh iblis. Dari penjelasan ini terlihat bahwa kita tidak dapat membatasi arti kata daimonizomai hanya pada keadaan yang tidak sadarkan diri dan berada dalam kontrol mutlak iblis, walaupun arti seperti ini juga termasuk dalam cakupan arti kata daimonizomai (band. Mat 8:28). Kepasifan yang ditimbulkan bisa terkait dengan mulut (bisu, Mat 9:32; 12:22) atau mata (buta,  Mat 12:22), sedangkan orang yang dirasuk secara umum berada dalam keadaan normal. Perbedaan tingkat kerasukan ini mungkin diungkapkan secara jelas dalam Matius 22:15. Dalam ayat ini terjemahan LAI:TB “kerasukan setan dan sangat menderita” tidak sesuai dengan struktur kalimat Yunani yang ada. Ayat ini seharusnya diterjemahkan “dirasuk dengan kejam/hebat” (kakws daimonizetai, NASB/RSV).

Istilah lain yang sering diterjemahkan “dirasuk” oleh LAI:TB adalah “memiliki roh tertentu” (Luk 4:33; Kis 16:16), “diganggu oleh roh tertentu” (Luk 6:18), “dikuasai iblis” (Kis 10:38). Kadangkala penulis PB hanya memakai ungkapan “orang dengan roh tertentu” (Mar 1:23). Dari istilah-istilah ini dan konteks pemunculan mereka kita tidak dapat menentukan seberapa jauh keadaan seseorang layak dikategorikan sebagai “kerasukan”.

Dengan mempertimbangkan pengertian “kerasukan” seperti di atas, kita sekarang perlu mendefinisikan ulang apa yang kita maksud dengan kerasukan? Jika kita memaksudkan kerasukan secara umum (mencakup semua tingkatan kerasukan), maka orang percaya dapat dirasuk oleh iblis dalam tingkat yang paling rendah, misalnya iblis dapat menyebabkan kita sakit (band. Lukas 13:10-16). Jika kita memaksudkan bahwa kerasukan adalah kepemilikan iblis atas hidup kita atau penguasaan iblis secara total atas hidup kita, maka hal seperti ini tidak mungkin dialami oleh orang percaya. Ada beberapa alasan yang mendukung hal ini.

Pertama, orang percaya adalah milik Allah. Kita telah dibeli dengan darah-Nya sendiri (Kis 20:28; 1Kor 6:20; 1Pet 1:18-19). Beberapa teks secara jelas mengajarkan kepemilikan Allah atas hidup kita (1Kor 3:23; Gal 6:16; Ef 1:14; Tit 2:14; Yak 2:7). Jika Allah adalah pemilik hidup kita, maka iblis tidak mungkin memiliki kita. Allah dan iblis tidak mungkin sama-sama memiliki kita, karena tidak ada kesamaan antara terang dan kegelapan (2Kor 6:14-15). Kita telah dibebaskan dari dominasi iblis (Kis 26:18; Kol 1:13).

Kedua, Roh Kudus tinggal di dalam diri orang percaya (Rom 8:9). Orang percaya sudah ditebus dan dijadikan bait Roh Kudus (1Kor 6:19-20). Roh Kudus adalah jaminan bagi orang percaya sampai mereka memperoleh keselamatan yang sempurna (2Kor 1:22; 5:5; Ef 1:14). Lebih jauh, Roh Kudus yang di dalam diri kita lebih besar daripada roh manapun (1Yoh 4:4).

Ketiga, kepastian keselamatan. Jika iblis dapat menguasai kita secara total, maka dia juga dapat membuat kita mencintai semua hal yang najis atau berdosa. Dia dapat membuat kita jauh dari dan memusuhi Allah. Dia dapat melakukan apa saja untuk menggagalkan keselamatan kita. Hal ini jelas bertentangan dengan ajaran Alkitab. Rencana keselamatan telah dirancang sejak dunia belum dijadikan (Ef 1:4; 2Tim 1:9) dan rencana Allah pasti tidak ada yang gagal (Ay 42:2), sehingga mereka yang dipilih dari semula juga pasti akan mencapai kemuliaan (Rom 8:29-30; band. 5:1-10; Ef 1:13-14; 4:30). Dalam Yohanes 10:28-29 Yesus mengatakan bahwa tidak ada seorang pun yang dapat merampas orang percaya sehingga mereka binasa. Teks yang paling kuat mengajarkan hal ini adalah Roma 8:38-39. Dalam ayat ini dijelaskan bahwa tidak ada satu pun yang dapat memisahkan kita dari kasih Kristus, termasuk malaikat, pemerintah, kuasa atau makhluk apapun.

Keempat, perlindungan Allah atas hidup kita. Yesus berdoa agar kita dijaga dari si jahat (Yoh 17:15), dan doa Yesus selalu dijawab oleh Allah (Yoh 11:41-42a). Allah sendiri berjanji akan melindungi kita dari yang jahat (2Tes 3:3). Pencobaan-pencobaan dari setan yang kita alami pun harus seijin Tuhan dan tidak akan melebihi kekuatan kita (1Kor 10:13).

 

Leave a Reply