Yakub Tri Handoko, Th. M.

 

Kisah tentang Saul yang mencari pemanggil arwah di En-Dor merupakan kisah yang sangat terkenal. Melalui kisah ini nama daerah En-Dor menjadi umum di telinga orang Kristen, walaupun daerah ini dalam Alkitab hanya muncul tiga kali saja. Selain terkenal, kisah ini juga menjadi salah satu bagian Alkitab yang paling kontroversial. Sejak abad permulaan sampai sekarang para penafsir terus berdebat tentang identitas “roh Samuel” dalam kisah ini: apakah roh ini benar-benar roh Samuel atau sekedar tipu daya setan? Begitu peliknya masalah ini, sebagian penafsir bahkan tidak berani mengambil sikap.

Bagaimana sikap kita terhadap permasalahan ini? Makalah kali ini akan memaparkan berbagai argumen dari dua sisi, baik yang mendukung pandangan bahwa roh ini adalah roh jahat maupun yang mendukung roh dalam kisah ini adalah benar-benar roh Samuel. Sebelumnya, kita akan menyinggung secara umum tentang praktik pemanggilan arwah.

Pemanggilan arwah

Pemanggilan arwah orang mati disebut nekromensi (necromancy). Istilah ini berasal dari kata Yunani nekros (“orang mati”) dan manteia (“tindakan mengetahui masa depan secara ajaib”). Jadi, nekromensi adalah pemanggilan roh orang mati dengan tujuan untuk menyatakan masa depan secara ajaib atau mempengaruhi peristiwa-peristiwa (Webster’s New Collegiate Dictionary, 768).

Praktik nekromensi dalam Alkitab tidak terlalu banyak disinggung, apalagi dilakukan. Allah secara jelas dan keras melarang tindakan ini. Larangan ini merupakan sesuatu yang aneh jika dilihat dari perspektif bangsa-bangsa kuno waktu itu. Mereka tidak hanya mengijinkan dan mempraktikkan nekromensi, namun mereka bahkan menganggap praktik ini sebagai bagian integral dalam seluruh aspek kehidupan mereka. Para pemimpin bangsa Mesir, Babel, Yunani dan Romawi bahkan memanfaatkan jasa para pemanggil arwah sebelum mereka mengambil keputusan yang penting, terutama ketika mereka sedang menghadapi krisis (Yes 19:3).

Bangsa Israel dilarang mempraktikkan atau menggunakan jasa para pemanggil arwah, karena TUHAN adalah Allah mereka (Im 19:31). Nekromensi dan sejenisnya merpakan hal yang menjijikkan di mata Allah (Ul 18:10-12). Bangsa Israel seharusnya meminta petunjuk pada TUHAN, Allah mereka, dan bukan para roh orang mati (Yes 8:18).

Larangan di atas seringkali disertai dengan ancaman hukuman yang sangat berat. Mereka yang terlibat dalam praktik ini akan dilenyapkan dari tengah bangsanya (Im 20:6). Mereka harus dirajam dengan batu (Im 20:27). Walaupun diancam hukuman mati, tetapi beberapa raja justru mempraktikkan hal ini, misalnya Manasye (2Raj 21:6). Sebaliknya, beberapa raja yang mengadakan reformasi rohani menghapuskan praktik ini, misalnya Yosia (2Raj 23:24).

Roh jahat

Pandangan ini merupakan pandangan yang cukup populer di kalangan orang Kristen awam, walaupun hanya segelintir penafsir yang memegang pandangan ini. Mereka yang memegang pandangan ini telah memberikan beberapa argumen yang mereka anggap cukup kuat. Pertama, praktik nekromensi sangat dilarang oleh Allah, sehingga tidak mungkin Allah bekerja dengan mengutus Samuel melalui pemanggil arwah. Jika roh yang muncul di En-Dor benar-benar adalah roh Samuel, maka Allah telah bertindak tidak konsisten. Di satu sisi Allah melarang nekromensi, tetapi di sisi lain Dia justru menggunakan cara ini untuk menyampaikan kehendak-Nya.

Kedua, Alkitab mengajarkan bahwa tidak ada hubungan antara orang mati dan orang hidup. Ketika anaknya mati, Daud berkata, “aku yang akan pergi kepadanya, tetapi ia tidak akan kembali kepadaku” (2Sam 12:23b). Dalam sebuah perumpamaan, Yesus mengajarkan bahwa roh orang yang sudah mati tidak dapat kembali ke dalam dunia orang hidup (Luk 16:27-31). Ayub 7:9 “orang yang telah turun ke dalam dunia orang mati tidak akan datang kembali”. Yesaya 26:14a “mereka sudah mati, tidak akan hidup pula, sudah menjadi arwah, tidak akan bangkit pula”.

Ketiga, Alkitab menegaskan bahwa iblis adalah penipu. Yohanes 8:44 “ia (iblis) adalah pendusta dan bapa segala dusta”. Iblis penuh dengan tipu muslihat (Kis 13:10). Ia juga licik (2Kor 11:3) dan dapat menyamar sebagai malaikat terang (2Kor 11:14). Berdasarkan hal ini, orang Kristen harus menggunakan seluruh senjata Allah supaya dapat bertahan melawan tipu daya iblis (Ef 6:11).

Keempat, Allah sudah tidak mau lagi menyatakan sesuatu kepada Saul (1Sam 28:6). Jika memang Allah tidak mau menjawab Saul melalui cara-cara yang ditetapkan Allah – misalnya melalui mimpi, Urim dan para nabi – mengapa Allah memilih cara yang terlarang (pemanggilan arwah) untuk berbicara kepada Saul? Dari pertimbangan konteks ini terlihat bahwa yang berbicara kepada Saul dalam kisah ini bukanlah roh Samuel, hamba-Nya.

Kelima, roh ini muncul dari dalam bumi (1Sam 28:13). Alkitab di tempat lain mengajarkan bahwa roh orang benar langsung kembali kepada Allah (Pkt 12:7). Penyamun di sebelah Yesus akan langsung berada di Firdaus setelah dia mati (Luk 23:43; band. 2Kor 12:4; Why 2:7). Paulus menggambarkan kematiannya sebagai keadaan bersama dengan Tuhan (Flp 1:23), padahal Tuhan duduk di sebelah kanan Allah Bapa di surga (Rom 8:34; Kol 3:1; Ibr 1:3). Kitab Wahyu juga beberapa kali mencatat tentang jiwa-jiwa orang benar yang berada di surga (6:9-10; 20:4).

Keenam, apa yang diucapakan “roh Samuel” ternyata tidak sepenuhnya terjadi. Saul dan anak-anaknya memang mati (1Sam 28:19; 31:2, 6-7), tetapi peristiwa menyedihkan ini tidak terjadi sehari sesudah Saul di Endor, padahal “roh Samuel” berkata “besok, engkau dan anak-anakmu sudah berada bersama dengan daku” (1Sam 28:19). Jika ucapan ini sungguh-sungguh berasal dari Tuhan melalui Samuel, maka waktu penggenapannya juga pasti tepat. Ketidaktepatan waktu penggenapan menunjukkan bahwa ucapan ini berasal dari roh setan.

Terakhir, setelah mati Saul akan berada bersama dengan “roh Samuel” (1Sam 28:19). Mempertimbangkan bahwa Samuel adalah orang benar yang pasti masuk ksurga sedangkan Saul adalah orang yang binasa, tidak mungkin keduanya berada di tempat yang sama setelah kematian. Jadi, “bersama aku” di ayat ini bukan merujuk pada roh Samuel.

Roh Samuel

Para penafsir umumnya memegang pandangan ini. Pertama, yang mengatakan bahwa roh itu sebagai roh Samuel adalah penulis kitab 1Samuel sendiri. Argumen ini merupakan bukti yang paling kuat. Jika kita membagi kisah ini menjadi narasi dan percakapan, maka kita akan menemukan bahwa penyebutan “roh Samuel” dalam kisah ini bukan hanya terletak pada bagian percakapan (oleh tokoh dalam cerita), tetapi juga dalam bagian narasi (oleh penulis kisah ini). Di ayat 15b memang Saul yang menebak bahwa roh itu Samuel dan tebakan ini mungkin saja salah. Bagaimanapun, di dalam bagian narasi, penulis kitab 1Samuel sendiri menyatakan dengan jelas bahwa roh itu memang roh Samuel. Ayat 12 “ketika perempuan itu melihat Samuel…”. Ayat 15 “sesudah itu berbicaralah Samuel kepada Saul”. Ayat 6 “lalu berbicaralah Samuel”. Ayat 20 “…ia sangat ketakutan oleh karena perkataan Samuel itu”.

Jika yang dilihat Saul ternyata hanyalah roh yang menyerupai Samuel, mengapa penulis kitab 1Samuel justru mengatakan “maka tahulah Saul bahwa itulah Samuel”? Bukankah ia sebaliknya akan menyatakan dengan jelas bahwa Saul telah tertipu? Mengapa dia tidak mengubah ayat 12 “ketika perempuan itu melihat Samuel” menjadi “ketika perempuan itu melihat roh yang mirip/menyerupai Samuel” sehingga para pembacanya dengan jelas dapat melihat bahwa roh ini memang adalah roh setan? Seandainya roh ini adalah setan, bukankah penulis akan menyatakannya dengan jelas supaya para pembaca tahu bahwa roh orang mati tidak dapat dipanggil kembali?

Kedua, penyebutan nama TUHAN (yhwh) oleh roh Samuel di ayat 16-19. Penyebutan seperti ini sangat penting untuk diperhatikan, karena Saul sendiri hanya memakai sebutan “Allah” (‘elohim) yang lebih umum (ayat 15), walaupun di ayat 10 Saul memakai nama TUHAN. Pemunculan nama diri “TUHAN” sebanyak 7 kali di ayat 16-19 juga sangat signifikan karena menekankan kesempurnaan dari apa yang akan Dia lakukan. Jika roh Samuel di sini adalah roh setan, mungkinkah dia berani menyebut nama TUHAN yang kudus? Argumen ini akan tampak lebih kuat jika kita menyadari bahwa nama TUHAN yang muncul 5321 kali dalam PL tidak pernah muncul dari mulut iblis. Iblis hanya menyebut nama “Allah” (‘elohim) yang umum (Kej 3:1-5).

Ketiga, apa yang diucapkan oleh Samuel di ayat 16-19 sesuai dengan perkataan Samuel ketika dia masih hidup. Ayat 17 “TUHAN telah mengoyakkan kerajaan dari tanganmu dan telah memberikannya kepada orang lain, kepada Daud” memiliki kesamaan verbal yang sangat signifikan dengan pasal 15:28 “TUHAN telah mengoyakkan dari padamu jabatan raja atas Israel pada hari ini dan telah memberikannya kepada orang lain yang lebih baik dari padamu”. Penghukuman dari Allah yang berupa kekalahan Saul dan rakyatnya (1Sam 28:19) sesuai dengan peringatan Samuel di pasal 12:25 bahwa jika mereka berbuat jahat maka Tuhan akan melenyapkan raja dan bangsa Israel. Lebih jauh, kita perlu memperhatikan bahwa ucapan roh Samuel di ayat 16-19 berisi teguran kepada Saul karena dia tidak taat kepada Allah (band. 1Sam 15:19, 22). Jika yang sedang berbicara dengan Saul di sini adalah roh setan, mungkinkah dia justru menegur kesalahan Saul karena tidak menaati Allah?

Dari penjelasan di atas kita dapat melihat bahwa seandainya roh itu adalah setan, kita sulit memahami tujuan dia mengatakan hal-hal di ayat 16-19. Bukankah teguran yang keras ini justru bisa membuat Saul bertobat dan setan akhirnya kehilangan seorang pengikut? Apakah keuntungan yang didapat setan dengan menyampaikan hal-hal yang sesuai dengan firman Tuhan? Apa yang dicatat di ayat 16-19 sangat berbeda dengan kebiasaan iblis di bagian lain Alkitab. Iblis secara konsisten ditampilkan sebagai pribadi yang suka memutarbalikkan firman Tuhan (Kej 3:1-5), membuat orang jatuh ke dalam dosa (Ay 1:6-12; 2:1-6), membinasakan (Mat 17:15, 18; Mar 9:22) dan menipu (Yoh 8:44; 2Kor 11:3, 14; Ef 6:11).

Keempat, jika roh Samuel di kisah ini adalah roh setan, maka dia kemungkinan besar akan memberitakan berita kedamaian yang palsu, sebagaimana dilakukan oleh para nabi palsu pada jaman sebelum pembuangan. Salah satu perbedaan antara nabi palsu dan nabi Tuhan terletak pada isi nubuat mereka terhadap raja yang jahat. Nabi Tuhan tidak menubuatkan yang enak-enak untuk raja yang jahat (1Raj 22:8), sedangkan nabi palsu melakukan sebaliknya (1Raj 22:13; Yer 6:13-14; 8:10-11; 14:13-14). Contoh yang paling jelas adalah pertentangan antara nabi Yeremia dan Hananya (Yer 28:1-17). Jika roh Samuel yang menemui Saul adalah roh setan, maka dia akan menubuatkan hal yang baik kepada Saul padahal nubuat itu akan berakhir dengan kebinasaan.

Konklusi

Dari dua pandangan di atas, pandangan terakhir tampaknya memiliki argumen yang sangat kuat. Sebaliknya, argumen yang dipaparkan oleh mereka yang memegang pandangan pertama ternyata tidak semuanya memiliki bobot yang meyakinkan. Berikut ini adalah beberapa jawaban terhadap argumen yang mereka berikan.

Pertama, pemunculan roh Samuel tidak disebabkan oleh aktivitas pemanggilan arwah. Hal ini terlihat dari kekagetan perempuan ini (ayat 12). Jika roh Samuel ini adalah roh setan dan muncul karena dia panggil, mengapa perempuan ini justru mengalami kekagetan yang luar biasa? Dalam praktik nekromensi pada umumnya, sang pemanggil arwah biasanya langsung mengalami keadaan tidak sadar (trans) ketika roh yang dipanggil datang. Ini tidak terjadi pada perempuan ini. Dia masih dapat berkomunikasi dengan Saul (ayat 13-14). Perempuan ini pun mulanya tidak mengetahui bahwa roh ilahi yang dia lihat adalah roh Samuel. Dia hanya menggambarkan yang dia lihat sebagai sesuatu yang ilahi (ayat 13). Saul sendirilah yang mengambil kesimpulan bahwa yang dilihat perempuan ini adalah Samuel (ayat 14b). Setelah Saul mengetahui hal ini, terjadilah percakapan antara Saul dan Samuel tanpa melibatkan perempuan tersebut. Semua petunjuk ini menyiratkan bahwa pemunculan Samuel bukan karena aktivitas mistis pemanggilan arwah. Allah dalam kedaulatan-Nya telah memerintahkan Samuel untuk kembali. Jika pemunculan ini memang atas perintah Allah, maka tidak ada yang salah dengan tindakan ini.

Sebagian orang beranggapan bahwa “roh Samuel” (yang dipercayai sebagai setan) muncul selama proses ritual. Beberapa indikasi dalam teks tampaknya mendukung adanya proses ritual tersebut. Di ayat 15 roh Samuel menegur Saul karena telah memanggil dia muncul kembali. Di ayat 21 perempuan En-Dor menyatakan bahwa dia telah mempertaruhkan nyawa untuk mendengarkan Saul. Dua ayat ini menyiratkan bahwa pemunculan Samuel adalah karena ritual pemanggilan arwah.

Jika diselidiki dengan cermat, ayat 15 tidak secara eksplisit menyatakan bahwa roh Samuel muncul karena ritual mistis. Kita perlu memahami bahwa meskipun Saul memang memanggil Samuel (ayat 11, 15b), tetapi yang bertindak secara langsung adalah perempuan En-Dor (ayat 11 “siapakah yang harus kupanggil supaya datang kepadamu?”). Jika “roh Samuel” merasa terganggu, dia seharusnya menujukan teguran kepada perempuan itu. Di samping itu, Allah bisa saja memunculkan roh Samuel karena tindakan Saul yang mencari petunjuk dari arwah sudah keterlaluan. Dalam hal ini kemunculan roh Samuel tetap bisa dianggap sebagai gangguan dari Saul. Berkaitan dengan ungkapan “terganggu”, hal ini tidak harus dipahami sebagai bentuk keterpaksaan roh Samuel akibat ritual pemanggilan arwah. Orang yang sudah mati di dalam Tuhan berada dalam keadaan istirahat dari segala jerih-lelah selama di dunia (Dan 12:13; Why 6:11; 14:13), sehingga kehadiran roh Samuel lagi ke bumi – sekalipun ini adalah perintah Allah untuk menegur Saul – merupakan “gangguan” terhadap istirahat yang sedang dia nikmati.

Ayat 21 juga tidak secara eksplisit membuktikan bahwa kehadiran roh Samuel adalah karena proses ritual pemanggilan arwah, walaupun kemungkinan ke arah sana memang ada. Kita perlu memahami bahwa proses percakapan antara perempuan En-Dor dan Saul di ayat 11 sudah dapat dikategorikan sebagai persetujuan perempuan tersebut untuk mulai memanggil arwah. Tindakan ini sudah cukup untuk membahayakan nyawa perempuan ini. Sekalipun kita memahami ayat 21 sebagai bukti bahwa perempuan ini telah mengadakan ritual, hal itu tetap tidak membuktikan bahwa pemunculan Samuel adalah akibat dari aktivitas ini. Ada serangkaian tahapan dalam ritual pemanggilan arwah. Roh Samuel bisa saja muncul selama proses ritual, tetapi bukan karena ritual pemanggilan itu sendiri. Roh Samuel bisa saja muncul selama persiapan atau pendahuluan ritual.

Seandainya roh Samuel datang ketika proses pemanggilan arwah berlangsung, apakah hal ini merupakan masalah yang serius? Menurut saya tidak, sejauh pemunculan roh Samuel ini bukan karena kekuatan gaib perempuan ini, tetapi karena perintah Allah yang khusus. Perempuan ini mungkin saja sedang membodohi Saul dengan cara memanggil arwah Samuel (padahal dia memanggil setan), tetapi Allah berintervensi langsung dalam momen ini dan memunculkan Samuel. Dengan kata lain, sekalipun cara yang dipakai adalah salah, namun dalam kedaulatan Allah hal itu telah dipakai untuk mendatangkan kebaikan. Hal seperti ini konsisten dengan banyak contoh Alkitab tentang Allah yang berdaulat yang berkenan “memakai” hal-hal yang berdosa untuk menggenapi rencana-Nya. Kejahatan saudara-saudara Yusuf telah dipakai Allah untuk mendatangkan kebaikan (Kej 50:20 “Allah mereka-rekakan yang baik”; band. 45:5, 7 “Allah menyuruh aku mendahului kamu”). Allah mengijinkan roh dusta untuk menggenapi rencana-Nya terhadap Ahab (1Raj 22:20-23). Allah memakai bangsa Babel yang kejam untuk menghukum bangsa Yehuda (Hab 1:6). Herodes, Pontius Pilatus dan bangsa Yahudi telah menyalibkan Yesus untuk menggenapi rencana kekal Allah (Kis 4:28). Allah memakai utusan iblis untuk mengajar Paulus supaya rendah hati dan memahami kasih karunia Allah (2Kor 12:7-9).

Penjelasan di atas tidak berarti bahwa Allah berkompromi dengan dosa maupun tidak konsisten dengan firman-Nya. Allah tidak pernah terlibat langsung dalam tindakan dosa (Dia bukan pelaku dan pencipta dosa). Allah tetap menganggap tindakan-tindakan manusia yang salah yang Dia pakai sebagai tindakan kejahatan (Kej 50:20; Yes 14:22). Penjelasan ini hanya menunjukkan bahwa Allah berdaulat untuk bekerja melalui keberdosaan manusia tanpa membuat diri-Nya sendiri berdosa atau melanggar firman-Nya. Dalam kasus pemunculan roh Samuel di En-Dor, kita sudah membahas bahwa hal ini bukan disebabkan oleh pemanggilan arwah. Pemunculan ini adalah perintah Allah yang berhak bekerja dalam konteks seperti itu.

Kedua, Alkitab memberikan beberapa contoh tentang orang mati yang dapat muncul kembali. Pada saat Yesus mati di kayu salib, kuburan terbuka dan orang-orang kudus menampakkan diri ke kota Yerusalem (Mat 27:52-53). Yesus pun menampakkan diri kepada murid-murid-Nya setelah Dia bangkit. Kita mungkin menganggap bahwa peristiwa-peristiwa ini melibatkan tubuh kebangkitan (Luk 24:49), sedangkan penampakan Samuel di En-Dor agak berbeda karena hanya rohnya saja yang muncul. Bagaimanapun, pemunculan Musa dan Elia di gunung di depan Petrus, Yakobus dan Yohanes tampaknya tidak melibatkan tubuh kebangkitan. Dalam peristiwa ini Musa dan Elia juga bercakap-cakap dengan Yesus (Mat 17:3//Mar 9:4//Luk 9:30).

Penjelasan ini tidak boleh dipahami sebagai dukungan terhadap nekromensi. Apa yang muncul dari upaya nekromensi bukanlah roh orang mati, tetapi roh jahat yang mengambil rupa dan suara dari orang mati yang sedang dipanggil. Kita tetap meyakini bahwa tidak ada hubungan antara orang mati dan orang hidup (Ay 7:9; Yes 26:15a). Walaupun demikian, jika Tuhan menghendaki, Dia dapat membawa kembali orang yang sudah mati untuk tujuan tertentu. Manusia atau setan tidak mampu melakukan hal ini. Dalam kasus roh Samuel di En-Dor, jika pemunculan Samuel memang bukan disebabkan pemanggilan arwah, maka kasus ini tidak bertentangan dengan ajaran Alkitab tentang ketidakadaan hubungan antara orang hidup dan orang mati.

Ketiga, dalam kasus pemunculan Samuel di En-Dor tampaknya tidak ada tipu daya dari iblis. Apa yang diucapkan oleh roh Samuel sesuai dengan firman Allah. Berkaitan dengan waktu penggenapan yang sekilas tidak tepat, kita harus memahami bahwa penulisan kisah di dalam Alkitab memang tidak selalu kronologis seperti peristiwa aslinya. Dalam peristiwa asli, 1Samuel 28 terjadi sebelum 1Samuel 31. Saul dan anak-anaknya memang mati sehari sesudah peristiwa di En-Dor. Keputusan penulis kitab 1Samuel untuk meletakkan pasal 29-30 di tengah dua peristiwa di atas berguna untuk memberikan gambaran yang kontras antara nasib Saul dan Daud. Dalam peristiwa aslinya, apa yang dialami Saul dan Daud terjadi pada waktu yang hampir bersamaan di tempat yang berbeda.

Keempat, sikap Tuhan yang mau menyatakan kehendak-Nya melalui Samuel tidak bertentangan dengan sikap Tuhan sebelumnya yang tidak mau menjawab Saul. Kita perlu mengetahui bahwa Saul tidak pernah sungguh-sungguh mencari Tuhan. 1Tawarikh 10:13 menyatakan bahwa Saul tidak mencari Tuhan. Pencarian Saul terhadap Tuhan di 1Samuel 28:6 bukanlah pencarian yang sungguh-sungguh. Saul tidak mencari kehendak Tuhan, tetapi dia memaksakan rencananya sendiri kepada Tuhan (band. 1Sam 14:36-37). Ketika Saul semakin berdosa dengan cara mencari pemanggil arwah, Tuhan meresponi ini dengan memberitakan hukuman melalui roh Samuel.

Kita mungkin bertanya “mengapa Allah tidak menjawab Saul melalui cara-cara yang lebih lazim?”. Pembacaan yang teliti menunjukkan bahwa cara-cara itu telah menjadi barang langka bagi Saul. Dia telah membunuh 85 imam di Nob (1Sam 22). Salah satu imam yang terlepas dari maut – yaitu Abiathar (22:6-23) – membawa baju efod yang berisi Urim dan Tumim (23:6). Karena Abiathar bersama-sama dengan Daud, maka kepada Daudlah Tuhan seringkali berbicara melalui Urim (1Sam 22:10; 23:2, 4; 30:7-8; 2 Sam 2:1; 5:23). Di samping itu, Samuel sudah mati (1Sam 28:3), sehingga tidak ada nabi yang dapat memberitahukan kehendak Tuhan kepada umat-Nya.

Kelima, posisi Samuel yang muncul dari dalam bumi merupakan ungkapan yang umum untuk orang yang sudah mati. Baik orang benar maupun orang fasik akan turun ke dalam dunia orang mati (Kej 42:38; 44:29, 31; Bil 16:30; Ay 7:9; 17:16; 21:13; Mzm 31:18; Yeh 32:27). Kata “bumi” (eres) sendiri memang kadangkala dipakai untuk menunjuk pada tempat orang yang sudah mati, baik orang benar maupun tidak benar (Ay 10:21, 22). Kata ini tidak selalu bermakna negatif (Yes 44:23). Di samping itu, istilah “naik/muncul dari bawah” merupakan istilah teknis (terminus technicus) dalam konteks nekromensi: semua kata “muncul” di 1Samuel 28:8, 11, 13, 14 dan 15 mengindikasikan arah dari bawah ke atas (bringing up someone).

Terakhir, nubuat Samuel bahwa Saul akan bersama dengan dia tidak menunjukkan bahwa Saul akan bersama dengan dia di surga. Ungkapan ini hanya mengindikasikan bahwa Saul akan turun ke dalam dunia orang mati, tanpa menyiratkan apakah orang mati tersebut akan dihukum atau menerima hidup kekal. Jika “bersama Samuel” dipahami “bersama roh jahat di neraka”, maka hal ini tidak sesuai dengan nasib Yonatan yang tergolong orang baik maupun penduduk Israel lain yang mati dalam peperangan, karena mereka juga berada di tempat yang sama dengan Saul (28:19 “engkau dan anak-anakmu sudah bersama dengan aku”; band. 31:2).

Penutup

Roh yang menampakkan kepada Saul memang roh Samuel. Dalam kedaulatan-Nya, Allah memunculkan Samuel lagi untuk menyatakan peringatan yang terakhir kepada Saul. Samuel muncul bukan karena dipanggil oleh perempuan pemanggil arwah. Karena itu, kita harus sangat berhati-hati dengan segala upaya pemanggilan arwah atau pemunculan orang mati. Semua ini adalah tipu daya setan. Orang mati tidak dapat muncul lagi, kecuali Tuhan yang melakukan dan dimaksudkan untuk tujuan tertentu yang khusus. Karena kita sudah memiliki firman Allah yang memadai, yaitu Alkitab, kita dengan yakin dapat mengatakan bahwa Allah tidak mungkin memakai roh orang mati untuk memberitahu kita sesuatu. Alkitab sudah cukup untuk membimbing kita ke dalam seluruh kebenaran (2Tim 3:16).

Leave a Reply