Yakub Tri Handoko, Th. M.

Membicarakan tentang spiritualitas Reformed merupakan tugas yang sangat tidak mudah. Spiritualitas Reformed sangat kaya sekali. Ibarat sebuah gelas bersisi banyak yang disinari beragam warna, demikian pula dengan spiritualitas Reformed. Spiritualitas tidak hanya dibatasi pada ibadah, doa, mujizat atau moralitas belaka. Spiritualitas mencakup setiap detil kehidupan. Spiritualitas bukan hanya masalah praktis (doa, puasa, hidup baik), tetapi teologis juga (dasar spiritualitas yang teosentris).

Postmodernisme pun merupakan satu topik yang cukup luas. Pola pikir postmodern sudah sedemikian akrab bagi banyak orang, sehingga – disadari atau tidak – mereka telah diliputi oleh pola pikir ini. Semua bidang sudah disentuh oleh postmodern. Dalam kaitan dengan pembahasan kali ini, fokus pembahasan akan diarahkan pada spiritualitas postmodern.
Dua topik di atas – spritualitas Reformed dan spritualitas postmodernisme – akan coba dilihat secara bersamaan, walaupun ini bukan sebuah studi komparasi. Makalah ini dimaksudkan untuk melihat kekayaan spiritualitas Reformed dan bagaimana kekayaan itu dapat memperkaya orang-orang Kristen yang hidup di jaman postmodern. Melalui makalah ini diharapkan muncul sebuah pemahaman yang lebih komprehensif seputar spiritualitas Reformed dan bagaimana spiritualitas tersebut dapat menjawab tantangan di era postmodern.

Spiritualitas postmodern

Postmodernisme didasarkan pada satu filofosi: relativisme. Paham ini mengajarkan bahwa tidak ada kebenaran yang mutlak (absolut). Segala sesuatu adalah relatif. Dua kebenaran yang saling berkontradiksi pun dianggap dapat disandingkan bersama tanpa harus memilih salah satu dan membuang yang lain. Walaupun secara logis pandangan ini tidak bisa dibenarkan, namun para penganut postmodern tetap memegang teguh paham ini karena pada dasarnya mereka memang bukan tipikal orang yang berpikir logis. Cara berpikir mereka lebih ke arah pragmatis.
Relativisme ini membawa pengaruh yang tidak sedikit. Semua bidang sudah dirambah oleh relativisme: hukum, politik, seni, pendidikan, filsafat, teologi, kegerejaan, dsb. Pengaruh ini pun dengan mudah ditemukan dapat ditemukan dalam bidang spiritualitas. Sayangnya, spiritualitas Kristen pun ikut teracuni oleh relativisme. Apa saja bentuk spiritualitas postmodern yang relativis ini?

Pertama, spiritualitas yang tidak memiliki dasar kebenaran mutlak. Akibat dari relativisme adalah penolakan terhadap suatu dasar kebenaran yang mutlak, termasuk dalam hal spiritualitas. Ketika dasar kebenaran ditolak, maka yang disorot hanyalah bentuk luar dari spiritualitas. Hal ini bisa dipahami karena bentuk luar dari agama-agama yang ada cenderung sama sehingga bentuk luar inilah yang dijadikan “alat pemersatu.” Semua agama mengajarkan perbuatan baik; itu sudah cukup. Demikianlah kira-kira cara pandang orang postmodern. Dengan demikian, spiritualitas dalam era postmodern telah direduksi menjadi moralitas belaka.

Beberapa fenomena secara jelas mengarah ke sana. Berkembangnya SQ (Spiritual Quotient) merupakan salah satunya. Semua orang membicarakan spiritualitas versi SQ yang – jika dilihat dari perspektif Alkitab – tidak lebih daripada moralitas. Tidak jarang dalam diskusi Kristiani tentang SQ pun pembahasannya sama persis dengan SQ versi lain.

Fenomena lain adalah merebaknya kata-kata motivasi. Para motivator sekarang mulai naik daun. Dengan sejuta janji mereka meyakinkan banyak orang tentang kepastian keberhasilan (yang biasanya dipahami secara material semata-mata). Sayangnya, para motivator Kristen lupa untuk menggarami wilayah baru ini dengan prinsip teologi Kristen. Apa yang disampaikan tidak ada bedanya dengan kata-kata yang diucapkan oleh orang-orang non-Kristen. Radio Kristen tidak ketinggalan memberi ruang khusus bagi hal ini, walaupun banyak kata-kata motivasi yang muncul sebenarnya tidak memiliki naunsa Kristiani yang unik. Tanpa bermaksud mengabaikan prinsip “segala kebenaran adalah kebenaran Allah”, fenomena maraknya kata-kata motivasi ini paling tidak menjadi salah satu bukti betapa spiritualitas Kristen dalam banyak hal sudah teracuni dengan filosofi postmodern.

Situasi di atas diperparah dengan gerakan ekumenikal yang berusaha untuk mengingkari perbedaan esensial antar agama. Keunikan masig-masing agama coba untuk diminimalisasi (jika perlu dihilangkan sama sekali), padahal secara logis toleransi tanpa batas merupakan sebuah mitos. Kebersamaan bagi mereka dipahami sebagai kesamaan. Kesatuan dibatasi pada keseragaman. Tidak heran, ketika mereka mencari alat pemersatu antar agama, mereka menemukan perbuatan baik (moralitas) sebagai media yang tepat. Perbedaan esensial dalam taraf motivasi atau dasar moralitas diabaikan supaya kesamaan lebih mengemuka.

Kedua, spiritualitas yang bersifat subjektif dan pragmatis. Konsekuensi tak terelakkan dari relativisme di bidang agama adalah munculnya rasa keagamaan yang lebih didominasi oleh perasaan seseorang. Masyarakat postmodern tidak terlalu mempedulikan kebenaran dari suatu ajaran. Yang penting bagi mereka adalah ajaran tersebut mendatangkan perasaan nyaman dan kepuasan psikologis. “Today religion is not seen as a set of beliefs about what is real and what is not. Rather, religion is seen as a preference, a choice. We believe in what we like. We believe what we want to believe.”

Pola pikir yang pragmatis juga mengondisikan banyak orang untuk mementingkan hasil praktis dan instan dari ajaran yang mereka yakini. Kebenaran suatu ajaran diukur berdasarkan “buah” dari ajaran tersebut. Celakanya, yang dimaksud “buah” di sini seringkali hanya dibatasi pada kriteria-kriteria keberhasilan yang semu: jumlah pengikut, perasaan nyaman dari pengikut, keberhasilan materi, popularitas yang menanjak, dsb.
Spiritualitas postmodern di atas sekaligus berfungsi sebagai penjelasan mengapa dalam kekristenan sendiri aliran kharismatik (yang mementingkan kepuasan emosi) dan ekumenikal (yang meniadakan perbedaan esensial dan keunikan kekristenan) semakin mendapat tempat di hati banyak orang. Dua aliran ini dianggap mampu memenuhi kebutuhan spiritualitas masyakarat postmodern.

Apa yang salah dengan spiritualitas Reformed?

Apa yang sudah dipaparkan sebelumnya jelas memberikan ancaman bagi spiritualitas yang sejati. Spiritualitas semu tampak lebih dominan dan diminati banyak orang. Tanpa bermaksud mengingkari kerusakan natur manusia yang cenderung melawan kebenaran (Rom 1:18) maupun mengikuti gaya hidup guru palsu yang “menyenangkan telinga orang” (2Tim 4:2), sudah sepantasnya orang-orang Reformed bertanya pada diri sendiri: mengapa spiritualitas yang didasarkan pada teologi yang begitu konsisten dengan Alkitab justru kurang diminati? Mengapa spiritualitas sejati selama ini tidak mampu menunjukkan dirinya secara penuh dan dengan demikian akan menjadi alternatif kuat bagi masyarakat postmodern? Apa saja kekurangan spiritualitas dalam tradisi Reformed sehingga terkesan tidak mampu mengimbangi perkembangan spiritualitas yang semu?

Salah satu kekurangan spiritualitas Reformed (juga kalangan injili secara umum) terletak pada relevansi. Orang-orang Reformed cenderung terjebak pada diskusi logis-filosofis daripada isu-isu praktis yang sedang digumulkan banyak orang. Fokus perhatian diarahkan pada hal-hal metafisik yang kurang membumi. Relasi yang personal dengan Allah cenderung dibatasi pada pergumulan intelektual belaka. Ruang untuk pertemuan pribadi dan subjektif dengan Allah makin lama makin sempit. Alister McGrath mengatakan, “And what has attracted these people away from evangelicalism?…they felt that evangelicalism offered relatively little help to those who were trying to deepen their understanding of God and to develop approaches to prayer and meditation that would enrich their faith and sustain them in Christian life.”

Kekurangan yang lain adalah gejala intelektualisme. Sebagian orang Reformed mengukur spiritualitas berdasarkan tingkat pengetahuan seseorang tentang doktrin maupun Alkitab. Kriteria ini diperlakukan sebagai kriteria utama. Tidak jarang pengetahuan doktrinal yang begitu banyak dipakai sebagai perisai untuk menutupi kehidupan rohani yang kering.
Kecenderungan di atas sebenarnya dapat dipahami (walaupun kecenderungan tersebut tetap merupakan sebuah kesalahan fatal). Teologi Reformed memang satu-satunya yang memberikan jawaban logis dalam banyak hal. James M. Boice, salah seorang teolog Reformed kontemporer, pernah menerangkan hal ini sebagai berikut:
The very nature of the Reformed system of doctrine, which tends to put reality together and thus make sense of life as other systems of theology do not, tends to produce lovers of theology for its own sake and thus persons detached from life and perhaps even detached from vital fellowship with the God they speak about theologically…it is not without justification that many Reformed people are seen as dry, ivory-tower intellectuals (or pseudo-intellectuals) out of touch with contemporary needs

Mengingat kekristenan Reformed menawarkan apa yang disebut Cornelius Van Til sebagai “an absolutely comprehensive interpretation of human experience…the only true interpretation of human experience,” maka tidak heran para peminat teologi ini memang adalah orang-orang yang secara intelektual mumpuni. Dari awal ketertarikan mereka terhadap Teologi Reformed memang dimulai dari ketertarikan secara intelektual. Akhirnya, jika tidak diwaspadai, kelebihan ini justru menjadi kelemahan dalam tradisi Reformed.

Menjembatani jurang yang ada

Kekuatan Teologi Reformed terletak pada konsistensi dan ketahanan terhadap berbagai macam ujian. Dari para rasul, bapa-bapa gereja awal (terutama Agustinus), Calvin, Puritan sampai sekarang Teologi Reformed tetap tidak lekang oleh jaman. Bagaimanapun, kekuatan ini jangan sampai menjadi titik kelemahan. Tidak lekang oleh jaman tidak berarti harus tidak peka terhadap jaman. Sebuah peringatan indah yang perlu disimak adalah “But any faith which claims to be timeless is simply unaware of its own contextual character, and in seeking to transcend (even escape) the problems of the present many Christians simply enshrine and absolutize some supposed golden age in the historical past.”

Dalam konteks postmodernisme yang sangat pragmatis, orang-orang Reformed perlu memberikan perhatian lebih memadai terhadap aspek spiritualitas yang lebih personal. Relevansi kekristenan harus mendapat pengamatan yang lebih serius. Jika Alkitab adalah firman Allah untuk sepanjang jaman, maka pada dirinya sendirinya Alkitab pasti sudah relevan. Tugas orang Kristen hanyalah mengedepankan hal itu supaya tidak tertutupi oleh hal-hal lain yang justru kurang esensial. McGrath memberi nasehat bijaksana sebagai berikut: “No longer was it adequate to define Christian faith and practice in purely external terms, such as attending church and receiving sacraments. Instead, faith must be made relevant and real to the private experiential world of individuals. The subject reality of faith became popular issue, as it never had before.”

Semangat jaman postmodern yang sangat menekankan pengalaman subjektif dengan apa yang disebut “Allah” sebenarnya tidak terlalu negatif seperti yang dipikirkan banyak orang. Poin ini justru memberikan peluang bagi orang-orang Reformed. Fenomena tersebut memberikan petunjuk yang jelas bahwa mereka merasakan kekosongan dalam hati mereka. “Central to the intensity of contemporary interest in the spiritual life is the desire for personal religious experience. Many people have become serious in their search for a living and vital relationship with God because they feel empty.”

Kekosongan seperti ini berkaitan dengan hakekat manusia. Dalam diri manusia terdapat kerinduan yang sangat mendalam terhadap perjumpamaan pribadi dengan Allah sebagai Pencipta. McGrath dalam bukunya yang lain mengatakan:
We are made in the image of God. We have an inbuilt capacity – ideed, an inbuilt need – to relate to God. Nothing that is transitory can ever fill this need. To fail to relate to God is to fail to be completely human. To be filled is to be filed by God. Nothing that is not God can ever hope to take the place of God. And yet, because of the fallenness of human nature, there is a natural tendency to try to make other things fulfill this need. Created things are substituted for God, and they do not satisfy.

Kekosongan rohani ini mendapat perhatian yang serius dalam teologi Calvin. Setelah menjelaskan relasi antara pengetahuan Allah dan manusia (Buku I pasal 1) maupun hakekat dari pengetahuan Allah ini (Buku I pasal 2), Calvin selanjutnya meletakkan kekosongan rohani ini di bagian paling awal sebagai salah satu cara manusia dapat mengenal Allah. Cara pengungkapannya pun sangat tegas. Ia menulis:
That there exists in the human minds and indeed by natural instinct, some sense of deity, we hold to be beyond dispute, since God himself, to prevent any man from pretending ignorance, has endued all men with some idea of his Godhead, the memory of which he constantly renews and occasionally enlarges, that all to a man being aware that there is a God, and that he is their Maker, may be condemned by their own conscience when they neither worship him nor consecrate their lives to his service.

Sebagian orang Reformed kurang menekankan hal ini karena kuatir bahwa konsep ini terlalu berbau skolastik. Kekuatiran ini sangat disayangkan karena penekanan Calvin berbeda dengan teolog skolastik. Calvin lebih menyoroti aspek praktis dari apa yang disebut sensus divinitatis ini. “Calvin’s interests in the divinitatis sensus are not primarily scholastic. Instead of exploring what this innate sense is, he is going to focus on what it does or what functions it serves. Calvin thus remains consistent with his previous disavowal of all theologically speculative enterprise.”

Contoh paling terkenal tentang hal ini adalah bapa gereja Agustinus. Ia telah mencoba berbagai cara untuk mencapai kebahagiaan sejati. Ia mencoba ilmu retorika yang waktu itu menjadi primadona ilmu. Ia pun tidak ketinggalan mencari kepuasan dalam filsafat mistis Manikheanisme. Kehidupan bebas pun ia jalani hanya demi mengisi kekosongan dalam dirinya. Di akhir pergumulan ini ia mengutarakan sebuah ungkapan yang sekarang menjadi sangat terkenal, “You have made us for yourself, and our hearts are restless until they rest in you.” (Conf. I.i.1).
Dari semua penjelasan di atas terlihat bahwa postmodernisme tidaklah seburuk yang diduga banyak orang, seolah-olah Allah tidak sanggup lagi mengontrol semua kebusukan yang sedang berlangsung. Allah tetap mengatur setiap jaman dan mengerjakan kebaikan di dalamnya (Rom 8:28). Apa yang terjadi justru menunjukkan kebenaran Alkitab. Manusia postmodern sedang berusaha mengisi kekosongan dengan hal-hal yang semu dan tidak mungkin memuaskan mereka, misalnya manipulasi psikologis, motivasi emosional dan meditasi panteistik. Allah justru telah menawan mereka dalam kekosongan supaya hati mereka disiapkan bagi injil yang mengubahkan dan memberi damai sejahtera.

Apakah spiritualitas Reformed mampu menawarkan spiritualitas yang relevan dengan situasi di atas? Apakah Teologi Reformed hanya melulu sebuah pergumulan intelektual yang teoritis tentang hal-hal yang abstrak dan metafisik? Sama sekali tidak! Dalam pembahasan selanjutnya kita akan melihat sisi praktis dari spiritualitas Reformed.

Spiritualitas Reformed: aspek eksistensial

Istilah “eksistensial” memiliki beragam arti dan dipahami dalam banyak cara. Tidak jarang makna yang dipetik dari istilah ini cenderung negatif, karena cenderung diidentikkan dengan para teolog eksistensial di era Pencerahan yang mengedepankan otonomi manusia maupun pengalaman subjektif manusia yang tidak terkontrol oleh kebenaran yang objektif. Dalam makalah ini istilah “eksistensial” dipahami secara netral dalam kaitan dengan pengalaman seseorang bersama Allah.

Bagian ini akan menunjukkan bahwa spiritualitas Reformed seharusnya tidak kering seperti yang dituduhkan banyak orang. Spiritualitas Reformed lebih dari sekadar kumpulan proposisi teologis-filosofis tentang Allah. Dalam tradisi Reformed spiritualitas tidak boleh diidentikkan dengan pengetahuan teoritis. Kenyataannya, salah satu karakteristik dari Teologi Reformed bahkan adalah “theology as a practical science.”

Memaparkan spiritualitas Reformed secara komprehensif merupakan tugas yang sangat berat dan tidak mungkin tercapai dalam satu kali ceramah. Beranjak dari pertimbangan ini, maka pembahasan aspek eksistensial dalam spiritualitas Reformed hanya akan dilihat dari tiga perwakilan saja: John Calvin, Katekismus Heidelberg dan J. I. Packer. Pembatasan ini tidak berarti pengabaian terhadap tokoh atau dokumen yang lain. Dalam ruang dan waktu yang terbatas ini seleksi bagaimanapun tetap harus dilakukan dan semoga pemilihan ini tidak mengecewakan.
Dalam tulisan John Calvin, spiritualitas lebih mengarah pada relasi dengan Allah daripada pengetahuan teoritis tentang Dia. Menguasai teologi sangat berbeda dengan mengenal Allah secara pribadi. Walaupun Calvin diakui sepanjang jaman sebagai seorang teolog yang sangat brilian, tetapi ia tetap meletakkan relasi dengan Tuhan sebagai prioritas tertinggi. Farncois Wendel, salah seorang pakar terkemuka dalam studi tentang Calvin, mengatakan, “What interests Calvin is not an abstract knowledge of God such as we might deduce from philosophy; on the contrary, it is a knowledge of what he is in relation to ourselves, the knowledge which, as Luther also taught, brings us to love and fear God and render him thanks for his benefits.”

Konsep di atas diungkapkan secara eksplisit oleh Calvin dalam karya monumentalnya, Institutes of the Christian Religion. Di bagian pengantar buku ini yang ditujukan pada Raja Francis I, Calvin menjelaskan tujuan penulisan karyanya ini sebagai berikut: “my intention was only to furnish a kind of rudiments, by which those who feel some interest in religion might be trained to true godliness.”

Walaupun Calvin sangat menekankan aspek praktis dalam spiritualitas, namun ia sangat berbeda dengan para penganut spiritualitas postmodern yang sangat subjektif dan tidak memiliki dasar objektif yang mutak. Kesalehan (pietas) menurut Calvin didasarkan pada kebenaran objektif yang sangat esensial. Spiritualitasn bukanlah bersumber dari praktik-praktik keagamaan yang superfisial. Kerohanian bukanlah mengikuti tatanan moralitas tertentu. Dasar dari segala kerohanian sejati adalah persekutuan mistis (mystical union) dengan Kristus. Seluruh orang percaya telah dipersatukan begitu rupa dengan Kristus sehingga apa yang dilakukan Kristus dapat dinikmati oleh orang percaya. David Willis-Watkins, seperti dikutip oleh Joel R. Beeke, menandaskan pentingnya persatuan ini dalam ungkapan berikut ini: “Calvin’s doctrine of union with Christ is one of the most consistently influential features of his theology and ethics, if not the single most imortant teaching that animates the whole of his thought and his personal life.”

Dalam perkembangan selanjutnya aspek eksistensial dalam spiritualitas Reformed tetap dipertahankan. Yang menarik adalah cara Katekismus Heidelberg dimulai. Dalam diskusi teologi di tradisi Reformed, topik pertama yang sering diulas biasanya adalah tentang Allah atau Alkitab. Hal yang berbeda dapat ditemukan di Katekismus Heidelberg. Katekismus ini dimulai dengan topik yang berkaitan dengan manusia dan langsung menyentuh kebutuhan terbesar dalam hidup manusia. Pertanyaan ke-1 berhubungan dengan penghiburan satu-satunya bagi manusia selama hidup di dunia ini dan yang akan datang.

Keputusan untuk memulai katekismus dengan cara seperti ini jelas bukan suatu kebetulan. Posisi pertanyaan ini menyiratkan bahwa para perumus Katekismus Heidelberg memandang teologi sebagai sentuhan praktis bagi kebutuhan riil manusia. Katekismus ini bukan hanya berusaha menyampaikan suatu pengetahuan, tetapi memenuhi sebuah kebutuhan. Herman Hoeksema dalam tafsiran klasiknya tentang Katekismus Heidelberg mengatakan:

Man is more than mere intellect, mind or reason. He is also a volitional being. He has a will, emotions, desires, imagination, feelings. He is a being with ‘herat and mind and soul and strength’. And comfort concerns the whole man…faith is more than knowledge, it is also confidence. Religion is more than doctrine, it is life and joy. And comfort is more than a mere decision of the mind, it is also a determination of the will, affecting all the desires and emotions.

Pada jaman modern ini spiritualitas Reformed yang membumi tetap mendapat perhatian utama. Salah satu diungkapkan oleh J. I. Packer, seorang tokoh Reformed modern dalam bukunya yang sangat terkenal yang berjudul Knowing God. Dalam karyanya ini Packer menegaskan keterkaitan yang tepat antara doktrin dan spiritualitas. Menurut dia spiritualitas tidak dapat dibatasi ata diidentikkan dengan pengetahuan teologi yang mendalam, walaupun pengetahuan doktrinal tetap diperlukan bagi spiritualitas yang sejati. Ia mengungkapkan, “there can be no spiritual health without doctrinal knowledge; but it is equally true that there can be no spiritual health with it, if it is sought for the wrong purpose and valued by the wrong standard. In this way, doctrinal study really can become a danger to spiritual life.”

Di bagian selanjutnya Packer juga memberikan nasehat praktis tentang bagaimana orang Kristen dapat meningkatkan spiritualitas mereka: dari sekadar tahu tentang Allah menjadi benar-benar mengalami Allah secara pribadi; dari sebuah pengetahuan teologis yang teoritis menjadi devosi praktis yang mendekatkan orang percaya dengan Allah. “It is that we turn each truth that we learn about God into matter of for meditation before God, leading to prayer and praise to God”. Jika ini dilakukan secara konsisten, maka orang-orang Reformed akan terhindar dari gejala intelektualisme.

Konklusi

Tanpa bermaksud menjadikan aliran kharismatik sebagai seteru dalam Kerajaan Allah, aliran Reformed seharusnya bisa melakukan lebih banyak hal lagi dibandingkan aliran kharismatik. Kalau kharismatik mencoba menjangkau dan mengisi kekosongan jiwa orang-orang postmodern dengan menawarkan spiritualitas yang sangat praktis tetapi kurang mendasar, maka tradisi Reformed seyogyanya mampu menawarkan kedua hal tersebut.

Problem yang dihadapi orang-orang Reformed bukanlah kekeliruan atau keseimbangan. Kelemahan terbesar hanya terletak pada upaya relevansi yang kurang optimal. Orang-orang Reformed terlalu terkungkung dengan mainan baru berupa pergumulan intelektual yang mendalam. Kita lupa melihat sesuatu yang esensial di balik semua diskusi logis tersebut: spiritualitas yang membumi. Kehidupan doa yang teratur, ibadah yang menekankan perjumpamaan pribadi dengan Allah, firman Tuhan yang mampu menjawab kebutuhan jaman dan sentuhan-sentuhan emosi yang wajar dan tepat merupakan hal-hal yang perlu digali ulang dari warisan tradisi spiritalitas Reformed yang sangat konsisten dan seimbang. Theology is taught by God, teaches of God, and leads to God. Soli Deo Gloria.

Leave a Reply