Yakub Tri Handoko, Th. M.

Istilah & pengertian “Tritunggal”

Istilah “Tritunggal” tidak ada di dalam Alkitab. Kata ini diadopsi dari istilah Inggris “trinity” (kependekan dari kata “triunity”). Pemunculan pertama kali dari kata ini harus ditelusuri sampai pada jaman Theophilus dari Antiokhia[1] atau Tertulianus.[2] Keduanya hidup pada waktu yang hampir bersamaan (Theophilus mati pada tahun 181 atau 188, sedangkan Tertulianus pada tahun 220). Kata “trinity” sendiri berasal dari bahasa Latin “trinite” atau “trinitas” yang berarti “keadaan menjadi tiga” (“the state of being threefold”).[3] Menurut Berkhof, istilah “trinity” tidak seekspresif kata Belanda “Drieeenheid”, karena kata “trinity” hanya menyiratkan keadaan menjadi tiga tanpa menekankan aspek kesatuan di antara ketiganya.[4]

Sekalipun istilah di atas tidak ditemukan dalam Alkitab, tetapi hal ini tidak berarti bahwa konsep tentang Tritunggal tidak diajarkan Alkitab. Jika kebenaran suatu konsep ditolak hanya gara-gara istilah yang mewakili konsep tersebut tidak terdapat dalam Alkitab, maka kita akan menciptakan masalah serius. Banyak istilah dalam teologi (iman) Kristen yang tidak ada di dalam Alkitab, misalnya ketidakbersalahan Alkitab (inerrancy). Kita perlu memahami bahwa istilah hanyalah cara untuk menjelaskan suatu konsep secara ringkas.

Apa yang dimaksud dengan “Tritunggal” (tiga tapi satu)? Tiga dalam hal apa? Satu dalam hal apa? Secara sederhana, istilah “Tritunggal” dapat didefinisikan “tiga pribadi ilahi (hypostasis) dalam satu hakekat (ousia)”.[5] Penjelasan yang lebih baku dirumuskan dalam Pengakuan Iman Konstantinopel sebagai berikut “kami percaya bahwa ada satu hakekat (ousia) dari Bapa dan Anak dan Roh Kudus dalam tiga kepribadian yang sempurna (hypostasis) atau tiga Pribadi yang sempurna (proswpois)”.[6] Penekanan pada rumusan ini sebenarnya lebih terletak pada kesatuan dan kesamaan hakekat (homoousios) yang dimiliki oleh ketiga pribadi dalam Tritunggal.

Sekilas penjelasan di atas cukup jelas untuk menerangkan Tritunggal. Kenyataan, istilah-istilah yang dipakai telah dipahami secara berbeda oleh orang yang berbeda. Sebagian menganggap dua istilah tersebut sama, sedangkan yang lain mencoba membedakannya, tetapi tidak berhasil memberikan pembedaan yang baku. Sebagian bahkan mencoba memakai istilah Yunani yang lain dari dua istilah teknis tersebut. Kesulitan ini semakin bertambah ketika orang ingin mengekspresikannya dalam bahasa yang lain, misalnya Latin dan Inggris.[7]

Inti kesimpangsiuran di atas sebenarnya lebih terletak pada pemahaman tentang “hakekat”. Apakah yang dimaksud dengan hakekat? Ada dua istilah yang sering diperdebatkan artinya, yaitu substansi dan esensi. Substansi biasanya dipahami lebih ke arah keberadaan dari sesuatu yang tidak berpribadi, sedangkan esensi mengarah pada pribadi. Substansi lebih bersifat fisik (materi), sedangkan esensi lebih bersifat spiritual. Terlepas dari apakah pembedaan seperti ini bisa diterima atau tidak, kita perlu menegaskan bahwa hakekat Allah pasti BUKAN berhubungan dengan materi. Allah adalah roh (Yoh 4:24; 2Kor 3:17-18), sehingga tidak relevan kalau kita membicarakan-Nya dalam konteks materi atau ruang (Yoh 4:21, 23; Kis 17:24).

Terlepas dari ambiguitas arti dari masing-masing istilah yang dipakai, doktrin Tritunggal dapat diterangkan sebagai berikut:

  • Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah setara dalam hakekat Di antara ketiganya, tidak ada yang hakekatnya lebih tinggi atau lebih rendah.
  • Ketiganya tidak hanya memiliki hakekat yang setara, tetapi juga hakekat yang satu. Tritunggal tidak mengajarkan adanya “tiga atau banyak Allah yang bersatu” (tritheisme/politheisme).
  • Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah pribadi yang berbeda. Hal ini terlihat dengan jelas pada waktu peristiwa baptisan Yesus (Mat 3:16-17) dan teks-teks lain yang menunjukkan adanya komunikasi antara Bapa dan Anak (Yoh 11:41-42).
  • Ketiga Pribadi dalam Tritunggal adalah satu Allah dan satu-satunya Allah yang benar. Walaupun dalam dunia ini banyak yang disebut atau dianggap allah, tetapi bagi kita hanya ada satu Allah (Ul 6:4; Kel 20:3; 1Kor 8:5; Gal 4:8 “kamu memperhambakan diri kepada allah-allah yang pada hakekatnya [fusis] bukan allah).

Penggunaan ilustrasi untuk menjelaskan Tritunggal

Banyak orang mencoba menjelaskan pengertian Tritunggal di atas melalui beragam ilustrasi dari alam atau kehidupan sehari-hari. Walaupun sudah banyak usaha dilakukan, namun tidak ada satu pun yang berhasil menerangkan dengan memuaskan. Hal ini dapat dipahami karena ilustrasi memang selalu bersifat defektif (tidak sempurna), apalagi dalam hal ini yang diterangkan adalah konsep yang sulit dipahami tentang Allah yang tidak terbatas. Wayne Grudem[8] dan Millard J. Erickson[9] memberikan penjelasan yang bermanfaat untuk mengetahui kelemahan serius dari beberapa ilustrasi yang biasanya dipakai untuk menjelaskan Tritunggal.

  • Daun semanggi.

Daun semanggi adalah daun yang cukup unik, karena dalam satu tangkai daun (clover) terdapat tiga daun (leaf). Walaupun ilustrasi ini menarik, tetapi memiliki beberapa kelemahan serius, Setiap daun hanya merupakan bagian dari tangkai daun dan satu daun tidak dapat dikatakan sebagai seluruh tangkai daun, padahal dalam doktrin Tritunggal masing-masing Pribadi adalah Allah seutuhnya (fully God). Kelemahan lain adalah sifat tangkai daun yang tidak berpribadi (impersonal), sedangkan dalam Tritunggal terdapat tiga Pribadi yang berbeda.

  • Pohon dengan tiga bagiannya: akar, batang dan cabang.

Sama seperti ilustrasi sebelumnya, kelemahan ilustrasi ini terletak pada fakta bahwa satu bagian saja tidak dikatakan sebagai sebuah pohon (dapatkah kita menyebut akar sebagai pohon?). Ilustrasi ini juga sifatnya tidak berpribadi. Di samping itu, masing-masing bagian dari pohon (akar, batang, cabang) memiliki sifat/karakteristik yang berbeda, sedangkan dalam Tritunggal masing-masing Pribadi memiliki semua sifat keilahian yang sama dan setara.

  • Tiga bentuk air: uap, air dan es.

Ini merupakan salah satu ilustrasi yang cukup populer. Sayangnya, ilustrasi ini pun memiliki kelemahan. Materi yang ada tidak pernah berada bersama-sama dalam bentuk yang berbeda pada waktu yang sama, padahal dalam Tritunggal ketiga Pribadi selalu berada dalam kesatuan tanpa menghilangkan perbedaan pribadi. Di samping itu, masing-masing bentuk (upa, air dan es) memiliki sifat dan karakteristik yang berbeda. Sifat ilustrasi ini yang tidak berpribadi juga menjadi tambahan kelemahan dari ilustrasi ini.

  • Orang dengan tiga peran berbeda.

Di kalangan orang Kristen awam, ilustrasi ini sangat digemari. Tritunggal digambarkan sebagai seorang ayah yang berprofesi sebagai petani, kepala polisi di kota sekaligus penatua di gereja. Ia memainkan peranan yang berbeda pada waktu yang berbeda, tetapi ia tetap satu orang. Bagaimanapun, ilustrasi ini memiliki kelemahan fatal, yaitu mengajarkan adanya satu pribadi yang mengerjakan tiga fungsi, padahal dalam Tritunggal ada tiga Pribadi yang saling berinteraksi satu dengan yang lainnya.

  • Kesatuan pikiran, emosi dan kehendak.

Ilustrasi ini memiliki beberapa kelemahan: masing-masing elemen tidak dapat disebut sebagai seluruh pribadi dari seseorang; ketiganya juga memiliki esensi dan karakteristik yang berbeda-beda. Di samping itu, di antara ketiganya kadangkala ada ketidakharmonisan tindakan, misalnya pada saat seorang miskin mencuri ia mungkin menyetujui bahwa tindakan itu diperlukan, tetapi dalam dirinya pasti ada gejolak perasaan karena tindakan itu sebenarnya tidak ia inginkan. Hal ini sangat berbeda dengan relasi dalam Tritunggal yang selalu harmonis.

  • Telur yang terdiri dari cangkang, putih telur dan kuning telur.

Kelemahan ilustrasi ini antara lain: masing-masing elemen memiliki bahan dan karakteristik yang berbeda; masing-masing juga terpisah (tidak dapat bersatu); masing-masing bagian tidak dapat dikatakan sebagai sebuah telur tanpa bagian-bagian yang lain; ilustrasi ini sifatnya tidak berpribadi.

  • Celana panjang.

Apakah sebuah celana panjang itu satu atau dua? Di bagian atas satu, di bagian bawah dua. Seperti itulah kira-kira yang ingin disampaikan dalam ilustrasi ini. Sama seperti yang lain, ilustrasi ini juga tidak lepas dari kelemahan. Yang pasti, ilustrasi ini sifatnya tidak berpribadi. Selain itu, bagian bawah yang terdiri dari dua alur benar-benar identik dari sisi bahan maupun bentuk. Yang terakhir, jika masing-masing bagian kita potong, apakah kita masih dapat mengatakan bahwa bagian itu adalah sebuah celana panjang?

  • Dua orang kembar.

Orang kembar sekilas tampak sebagai ilustrasi yang cukup layak. Dalam taraf tertentu, dua orang kembar memiliki esensi yang sama dan terdiri dari kombinasi genetika yang sama pula. Jika dilakukan tranplantasi organ, masing-masing dapat menerima organ yang lainnya tanpa ada penolakan. Uniknya, keduanya juga memiliki kepribadian yang berbeda. Mereka memiliki pasangan hidup yang berbeda.

Apa kelemahan dari ilustrasi ini? Tidak ada dua orang kembar yang benar-benar identik! Di antara dua orang kembar pasti ada keunikan khusus dalam fisik masing-masing. Kelemahan lain berhubungan dengan kesatuan pikiran dan kehendak. Tiga Pribadi dalam Tritungal memang berbeda, tetapi mereka selalu memiliki pikiran dan kehendak yang sama, sedangkan dua orang kembar seringkali memiliki kecenderungan dan pilihan yang berbeda.

  • Matahari: substansi, sinar dan panas.

Ilustrasi ini tidak disinggung oleh Grudem maupun Erickson, tetapi kita perlu membahasnya karena ini sudah dipakai sejak abad permulaan. Athanasius mungkin adalah orang yang pertama kali memberi ide dan mempopulerkan ini. Menurut ilustrasi ini, substansi matahari, sinar dan panas yang dihasilkan berbeda-beda, tetapi semua tetap satu, yaitu matahari. Orang tidak dapat memisahkan matahari dari sinar maupun panasnya.

Walaupun ilustrasi ini cukup baik, tetapi tetap mengandung kelemahan. Pertama, ilustrasi ini sifatnya tidak berpribadi. Kedua, sinar dan panas dalam ilustrasi ini sifatnya tidak kekal, karena dihasilkan oleh substansi matahari. Ketiga, ketiga elemen yang ada memiliki esensi yang berbeda: esensi dari materi matahari berbeda dengan sinar, begitu pula dengan panas yang ditimbulkan.

Apa yang dapat kita simpulkan dari semua ilustrasi tersebut di atas? Kita perlu menyadari bahwa tidak ada satu pun ilustrasi yang layak untuk menggambarkan doktrin Tritunggal. Sebagian terlalu menekankan kesatuan, tetapi melupakan perbedaan yang ada. Sebagian hanya menekankan perbedaan tetapi gagal menjelaskan kesatuan hakekat yang ada. Khusus untuk ilustrasi yang diambil dari dunia fisik (benda-benda), semuanya menyiratkan konsep yang tidak berpribadi.

Karena tidak ada ilustrasi yang memadai, beberapa teolog mencoba menerangkan doktrin Tritunggal melalui penggunaan gambar segitiga dengan masing-masing titik pertemuan diberi nama “Bapa”, “Anak” dan “Roh Kudus”. Di bagian sisi luar segitiga masing-masing diberi tanda ≠ untuk menunjukkan bahwa pribadi Bapa tidak sama dengan Anak, Anak tidak sama dengan Roh Kudus dan Roh Kudus tidak sama dengan Bapa. Di bagian dalam segitiga ditarik garis dari tiap sudut ke arah tengah dan diberi nama “Allah” untuk menunjukkan bahwa baik Bapa, Anak maupun Roh kudus adalah Allah yang satu yang yang sama dalam hakekatnya.

Walaupun penggambaran ini relatif lebih aman (tidak ada kelemahan serius) dalam menjelaskan Tritunggal, namun harus diakui bahwa manfaat yang diberikan tidak terlalu banyak. Apa yang disampaikan dalam gambar di atas tidak lebih banyak dan jelas daripada yang disampaikan melalui definisi Tritunggal. Intinya, gambar di atas tidak menambah apapun pada pemahaman kita tentang “pribadi” maupun “hakekat” dalam diskusi Tritunggal.

Tritunggal sebagai sebuah misteri ilahi

Dalam dunia teologi dikenal sebuah ungkapan “Allah dapat dikenal (knowable), tetapi tidak dapat dipahami (incomprehensible)”. Ungkapan ini tampaknya sangat tepat untuk menggambarkan pengetahuan kita tentang Allah. Di satu sisi Alkitab memberikan banyak bukti bahwa Allah dapat dikenal. Allah menuntut umat-Nya untuk mengenal Dia (Yer 9:23-24; 31:34). Mereka yang tidak mengenal Allah bahkan akan mengalami kebinasaan (Hos 4:6). Dari proses pengenalan inilah kita dapat mengetehui bahwa Allah adalah roh (Yoh 4:24), kasih (1Yoh 4:8), terang (1Yoh 1:5), benar (Ul 32:4; Rom 3:26), setia (1Kor 1:9; 1Tes 5:24), dsb.

Di sisi lain, Alkitab juga secara eksplisit menyatakan bahwa tidak ada seorang manusia pun yang dapat memahami Allah. Pemazmur berkata bahwa kebesaran Allah tidak terselidiki (Mzm 145:3; LAI:TB “tidak terduga”). Pemikiran Allah tidak terbatas (Mzm 147:5). Pengetahuan tentang Allah sangat tinggi dan tidak mungkin dicapai oleh manusia yang terbatas (Mzm 139:6). Paulus yang sangat pandai pun mengakui, “O, alangkah dalamnya kekayaan, hikmat dan pengetahuan Allah! Sungguh tak terselidiki keputusan-keputusan-Nya dan sungguh tak terselami jalan-jalan-Nya!” (Rom 11:33). Kita bukan hanya tidak mampu memahami Allah, kita bahkan tidak pernah bisa memahami karya dan rencana-Nya (Ay 26:14; Yes 55:9). Kalau wahyu-Nya saja kita tidak mampu memahami, apalagi esensi dari Allah itu sendiri! Hanya Roh Allah yang dapat mengetahui hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah (1Kor 2:10-11).

Penjelasan di atas akan membantu kita untuk melihat bahwa doktrin Tritunggal adalah salah satu dari sekian banyak wahyu Allah di dalam Alkitab yang kita tidak akan pernah mampu memahaminya secara tuntas. Otak kita terlalu kecil untuk mencoba memahami Allah yang sedemikian besar. Bapa gereja Gregory yang dijuluki Sang Teolog memberikan nasehat yang terkenal sehubungan dengan penyelidikan kita tentang doktrin Tritunggal. Ia berkata, “cobalah untuk memahaminya, maka engkau akan kehilangan ingatanmu (gila); cobalah untuk menolaknya, maka engkau akan kehilangan jiwamu (binasa)”. John Frame, seorang teolog dan apologet modern yang hebat, berkata, “kita harus mengingatkan diri kita dari waktu ke waktu bahwa ini hanyalah sebuah pandangan sekilas. Allah telah menahan banyak hal dalam bidang ini yang kita mungkin ingin ketahui”[10]

Kebenaran di atas tidak berarti bahwa doktrin Tritunggal adalah konsep yang tidak rasional. Allah tidak mungkin memberikan kebenaran yang bertentangan dengan rasio. Dari sisi hukum logika, definisi Tritunggal tetap konsisten dengan rasio. Pernyataan “tiga dalam pribadi dan satu dalam hakekat” tidak berkontradiksi dengan prinsip Hukum Identitas (A tidak dapat menjadi non-A pada saat dan hubungan yang sama). Yang sedang dibandingkan adalah dua hal yang berbeda (pribadi dan hakekat), sehingga tidak ada yang salah jika kita mengatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi sekaligus satu hakekat.[11]

Pembelaan secara logis terhadap doktrin Tritunggal bahkan dapat kita lihat dari pergumulan bapa-bapa gereja awal. Sebagian bahkan sempat terjebak pada pemikiran filsafat Yunani untuk menjelaskan Tritunggal. Sebagian yang lain tetap mendasarkan logika mereka pada Alkitab. Salah satunya adalah bapa gereja Agustinus (abad ke-4) yang menjelaskan Tritunggal melalui inferensi logis dari sifat Allah yang mahakasih.[12] Dalam buku The City of God Agustinus memulai argumennya dari pemikiran Alkitab bahwa Allah adalah kasih (band. 1Yoh 4:8, 16). Sebagai Pribadi yang penuh kasih, Allah pasti berbagi kasih. Bagaimana sifat ini diekspresikan Allah ketika belum ada apapun di alam semesta ini? Allah mengekspresikannya dalam relasi Tritunggal! Dalam relasi inilah kita dapat melihat subjek yang mengasihi, objek yang dikasihi dan kasih yang mempersatukan keduanya. Hal ini sesuai dengan ajaran Alkitab bahwa sejak kekekalan Bapa dan Anak memiliki relasi yang intim dan saling mengasihi (Yoh 1:1-2, 18; 17:24).

Apa yang disampaikan oleh Agustinus di atas memang tidak langsung membuat perdebatan tentang Tritunggal berhenti. Sebagian orang mungkin akan tetap menolak doktrin Tritunggal maupun penjelasan Agustinus Bagaimanapun, penjelasan di atas berguna sebagai salah satu contoh bahwa doktrin ini bukan tidak masuk akal (irrational). Doktrin ini hanya melampaui akal (trans-rational).

[1] William G. T. Shedd, Dogmatic Theology (3rd ed.; ed. by Alan W. Gomes; Phillipsburg: P&R Publishing, 2003), 229.

[2] Louis Berkhof, Systematic Theology: New Combined Edition (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1996), 82.

[3] Webster’s New Collegiate Dictionary: A Merriam Webster (Springfield: G & C Merriam Company, 1973), 1250.

[4] Systematic, 84.

[5] Baik kata hypostasis maupun ousia muncul dalam Alkitab (Luk 15:12-13 “bagian/harta”; Ibr 1:3 “wujud”), namun arti yang dimaksud sedikit berbeda dengan yang ada dalam pikiran para perumus doktrin Tritunggal. Dalam tulisan-tulisan non-Alkitab, arti dua kata tersebut kadangkala sulit dibedakan (lihat Liddel-Scott Lexicon).

[6] Robert Letham, The Holy Trinity: In Scripture, History, Theology, and Worship (Phillipsburg: P&R Publishing, 2004), 174.

[7] Untuk penjelasan yang cukup ringkas tetapi berguna tentang masalah ini, lihat Shedd, Dogmatic, 230-240.

[8] Systematic Theology: An Introduction to Biblical Doctrine (Nottingham: Inter-Varsity Press, 1994), 240-241.

[9] Christian Theology (2nd. Ed.; Grand Rapids: BakerBooks, 1998), 364-367.

[10] John Frame, The Doctrine of God (Phillipsburg: P&R Publishing, 2002), 621.

[11] Shedd, Dogmatic, 219, 230.

[12] Lihat Erickson, Christian Theology, 365.

Leave a Reply