Yakub Tri Handoko, Th. M.

Progresivitas wahyu Allah

Allah menyatakan diri-Nya secara progresif (Ibr 1:2). Ia tidak langsung memberitahukan kepada manusia di suatu jaman semua hal yang Ia ingin nyatakan. Bahkan para malaikat pun mengenal Allah dan karya-Nya secara progresif, sebagaimana dikatakan dalam 1Petrus 1:12 “…berita injil kepadamu, yaitu hal-hal yang ingin diketahui oleh para malaikat”. Salah satu contoh adalah tindakan Allah yang membuatkan pakaian dari kulit binatang untuk Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa (Kej 3:21). Tindakan ini menyiratkan bahwa [akibat] dosa harus ditutupi melalui sebuah kurban. Pada jaman Musa konsep ini semakin jelas dalam bentuk kurban pendamaian (Ul 30:10). Puncak dari konsep ini adalah Yesus Kristus yang menjadi “Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh 1:29, 36; 1Kor 5:7; 1Pet 1:19).

Ternyata yang progresif bukan hanya wahyu yang diberikan Allah, tetapi juga pemahaman (konsep) manusia terhadap wahyu tersebut. Titik tolak yang penting bagi perkembangan konsep ini adalah kehidupan dan karya Yesus Kristus di dunia. Apa yang dilakukan dan diajarkan oleh Yesus Kristus telah mengubah cara pandang orang-orang Yahudi Kristen abad ke-1 terhadap wahyu Allah sebelumnya. Dalam hal ini kita memiliki dua contoh yang konkrit, yaitu Apolos dan Paulus. Apolos adalah orang Yahudi yang bersimpati terhadap Jalan Tuhan dan mahir dalam kitab suci, tetapi dia belum memahami ajaran kekristenan secara benar. Setelah mendapat penjelasan dari Priskila dan Akwila, ia semakin yakin dan berani berdebat dengan orang-orang Yahudi lain untuk membuktikan dari kitab suci bahwa Yesus adalah Mesias (Kis 18:24-28). Pengalaman Paulus bahkan lebih dramatis daripada Apolos. Paulus sebelumnya berpikir bahwa tindakannya menganiaya orang-orang Kristen adalah tindakan yang benar, karena mereka adalah orang-orang yang disesatkan oleh Yesus. Setelah berjumpa sendiri dengan Yesus (Kis 9), dia mengalami pertobatan dan mengakui bahwa semua tindakannya yang dulu telah dia lakukan “tanpa pengetahuan” (1Tim 1:13). Sebagai gantinya, Paulus malah membuktikan bahwa berita injil berakar dari konsep kitab suci Perjanjian Lama (Rom 1:2; 3:21).

Pemaparan di atas menunjukkan bahwa wahyu (apa yang dinyatakan Allah) dan teologi (apa yang dipahami manusia terhadap wahyu Allah) mengalami perkembangan. Begitu pula dengan doktrin tentang Tritunggal. Allah telah menyatakan hal ini secara tersirat dalam Perjanjian Lama dan wahyu ini semakin jelas pada masa Perjanjian Baru. Pemahaman orang-orang Kristen pun mengalami perkembangan. Ketika murid-murid bersama dengan Yesus, mereka tidak langsung memahami bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah (band. Mat 16:16). Ketika Yesus bangkit dari kematian, murid-murid semakin mengerti bahwa Yesus adalah benar-benar Allah/Anak Allah (Yoh 20:28; Rom 1:4).[1]

Dalam makalah ini kita hanya akan menyelidiki data Perjanjian Lama yang kemungkinan besar telah menjadi petunjuk dan dasar bagi para penulis Perjanjian Baru dalam mengajarkan keilahian Yesus. Jika para rasul memang mengajarkan doktrin Tritunggal (untuk sementara kita hanya mengasumsi dulu bahwa doktrin ini diajarkan dalam Perjanjian Baru), maka kita berharap bahwa mereka memiliki dasar-dasar kitab suci yang memadai tentang hal itu. Tentu saja yang paling fundamental bagi mereka adalah bukti dari kehidupan, ajaran dan karya Yesus di dunia, namun hal ini tidak berarti bahwa mereka tidak memiliki dasar Alkitab. Mereka menggabungkan data kitab suci yang ada dan kehidupan Yesus yang mereka saksikan, sehingga dari kedua hal inilah mereka membangun konsep tentang Tritunggal.

Teks-teks yang menyiratkan kejamakan dalam diri Allah

Perjanjian Lama menegaskan kepercayaan terhadap satu Allah (monoteisme) secara kuat. Konsep ini bahkan bukan sekedar henoteisme yang mengakui satu Allah yang paling tinggi dan beberapa allah lain (Ul 4:35, 39; 1Sam 2:1; 1Raj 8:60; Yes 45:5-6, 14, 18, 21-22; 46:9; Yl 2:27). Konsep ini meniadakan allah-allah lain. Ulangan 6:4 “TUHAN itu Allah kita; TUHAN itu esa” bahkan menjadi teks yang paling sentral dalam seluruh Perjanjian Lama.

Menariknya, sekalipun semua teks di atas menekankan monoteisme, tetapi ada teks-teks lain yang menyiratkan ide bahwa di dalam diri Allah yang esa terdapat kejamakan. Teks-teks tersebut adalah sebagai berikut:

  • Kejadian 1:26 “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita
  • Kejadian 3:22 “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat”
  • Kejadian 11:7 “Baiklah Kita turun dan mengacaubalaukan di sana bahasa mereka, sehingga mereka tidak mengerti lagi bahasa masing-masing”
  • Yesaya 6:8 “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” (kata “Aku” di sini seharusnya “Kami”).[2]

Banyak cara sudah diusulkan oleh para penafsir untuk menjelaskan fenomena kejamakan dalam teks-teks di atas. Victor P. Hamilton memaparkan enam penafsiran, masing-masing: (1) Allah dan allah-allah lain [politeisme]; (2) Allah dan para malaikat; (3) Allah dan ciptaan yang sudah diciptakan sebelumnya (4) jamak kemuliaan [plural of majesty]; (5) Allah berbicara kepada diri-Nya sendiri [plural of deliberation]; (6) kejamakan dalam diri Allah yang kelak semakin jelas dalam bentuk doktrin Tritunggal.[3] Di antara semua usulan ini, nomer 1 tidak perlu dibahas karena jelas-jelas bertentangan dengan ajaran Alkitab. Nomer 3 juga tidak akan kita bahas karena hanya berkaitan dengan Kejadian 1:26 dan tidak dapat diaplikasikan pada teks-teks lain. Nomer 4 akan kita singgung dalam pembahasan selanjutnya pada waktu membahas tentang kata Elohim. Jadi, dalam bagian ini kita hanya akan membahas usulan nomer 2, 5 dan 6.

Allah dan para malaikat

Penafsiran yang paling populer adalah menganggap kejamakan tersebut berkaitan dengan Allah dan para penghuni surga (malaikat). Pandangan ini dianut oleh para rabi Yahudi dan para penganut non-Trinitarian. Walaupun pandangan ini cukup populer, namun pandangan ini memiliki beberapa keberatan serius. Dalam Kejadian 1:26 kata “Kita” tidak mungkin merujuk pada Allah dan para malaikat, karena di ayat 27 dituliskan bahwa manusia diciptakan menurut gambar Allah (tunggal), bukan menurut gambar Allah dan malaikat (“Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka”).[4] Hal ini konsisten dengan bagian Alkitab lain yang menegaskan bahwa manusia adalah gambar Allah (Kej 5:1-2; 9:6). Alkitab tidak pernah sekalipun menyebut manusia sebagai gambar malaikat. Di samping itu, jika jamak di Kejadian 1:26 dipahami sebagai “Allah + malaikat”, maka manusia adalah ciptaan Allah dan malaikat. Ide seperti ini jelas tidak pernah diajarkan dalam Alkitab.

Dalam kaitan dengan Kejadian 11:7, Allah secara langsung mengacau-balaukan bahasa para pembuat menara Babel tanpa melibatkan peran malaikat sama sekali (ayat 8-9 “diserakkan TUHAN…dikacau-balaukan TUHAN”). Dalam kisah ini kata “malaikat” bahkan tidak muncul sama sekali, baik secara tersirat maupun eksplisit.

Dalam konteks Yesaya 6:8, TUHAN dan malaikat (serafim) memang hadir bersama-sama (ayat 1-2). Bagaimanapun, keduanya dibedakan dengan jelas dalam kisah ini. Serafim digambarkan hanya menyembah Allah (ayat 2-3) dan menyentuhkan bara ke mulut Yesaya (ayat 6-7). Perkataan di ayat 8 secara jelas disebut sebagai “suara TUHAN” (ayat 8). Lebih jauh, kita juga perlu memahami kesejajaran antara frase “siapakah yang mau Kuutus” dengan “siapakah yang pergi untuk Kami” di ayat ini. Jika yang mengutus adalah TUHAN, maka yang diutus juga pasti pergi untuk TUHAN.

Allah berbicara dengan diri-Nya sendiri

Usulan ini dikenal dengan nama plural of deliberation. Salah satu penafsir besar yang mengadopsi pandangan ini adalah C. Westermann.[5] Menurut pandangan ini, bentuk jamak dalam teks-teks di atas hanyalah sebuah gaya bahasa. Allah sedang berbicara pada diri-Nya sendiri, tanpa menyiratkan ide tentang kejamakan. Daud pernah menggabungkan ide ketunggalan dan kejamakan ini pada saat dia berbicara kepada dirinya sendiri di 2Samuel 24:14 “sangat susah hatiku (tunggal), biarlah kiranya kita (jamak) jatuh ke dalam tangan TUHAN, sebab besar kasih sayang-Nya; tetapi janganlah aku jatuh ke dalam tangan manusia”. Dalam kehidupan sehari-hari pun kita sering berbicara dengan diri kita sendiri.

Usulan di atas sangat menarik. Walaupun demikian, usulan ini tidak memiliki argumen yang meyakinkan. Tidak ada bukti bahwa bentuk jamak berarti Allah sedang berbicara kepada diri-Nya sendiri. Sebaliknya, kitab Kejadian justru memberikan contoh eksplisit Allah berbicara kepada diri-Nya sendiri, tetapi bentuk yang dipakai di sana adalah tunggal, bukan jamak. Kejadian 18:17 “Apakah Aku akan menyembunyikan kepada Abraham apa yang hendak Kulakukan ini?”.

Rujukan tentang Allah Tritunggal

Pandangan ini adalah pandangan Kristen tradisional yang dipegang bapa-bapa gereja awal.[6] Walaupun sebagian orang menganggap usulan ini terlalu dogmatis, namun usulan ini justru didukung oleh konteks Kejadian 1:26 dan merupakan penjelasan yang paling konsisten terhadap seluruh teks yang memuat kejamakan dalam diri Allah. Seluruh teks yang ada memang tidak menjelaskan pribadi Allah yang berjumlah tiga, tetapi semuanya menyiratkan bahwa ada kejamakan dalam ketunggalan Allah.

Dalam Kejadian 1:26-27 kejamakan dalam ketunggalan Allah dapat dilihat dalam diri manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya. Sebagai gambar Allah, manusia menyiratkan sesuatu tentang Allah,[7] sekalipun tidak bisa secara lengkap dan sempurna. Ayat 27 “Maka Allah menciptakan manusia itu (tunggal) menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia (tunggal); laki-laki dan perempuan (jamak) diciptakan-Nya mereka (jamak)”. Kejamakan dan ketunggalan manusia juga dapat dilihat di Kejadian 2:24. Hawa diberikan kepada Adam supaya keduanya menjadi satu. Sebagaimana dalam diri gambar Allah terdapat kejamakan dalam ketunggalan, maka demikian pula dalam diri Allah sendiri. Menariknya, kata “satu” (ehad) di Kejadian 2:24 adalah kata Ibrani yang sama yang dipakai di Ulangan 6:4 “TUHAN itu esa (ehad)”.

Teks-teks yang menunjukkan adanya dua Pribadi yang sama-sama disebut “Allah” atau “Tuhan”.           

Ada beberapa teks yang termasuk ke dalam kategori ini. Pertama, Mazmur 45:6-7 “Takhtamu kepunyaan Allah, tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaanmu adalah tongkat kebenaran. Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu Allah, Allahmu, telah mengurapi engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutumu”. Terjemahan LAI:TB “tahtamu kepunyaan Allah” tidak tepat, karena secara hurufiah seharusnya “tahta-Mu ya Allah” (LXX/KJV/NIV/NASB “Thy/Your throne, O God”). Terjemahan ini didukung oleh Ibrani 1:8 yang menganggap perkataan ini sebagai perkataan Bapa yang ditujukan kepada Yesus.[8] Pemegang tahta di sini tidak mungkin sekedar manusia biasanya, karena tahta-Nya bersifat kekal. Jika ini diterima, maka ada dua Pribadi Allah di sini: yang memegang tahta dan yang mengurapi dengan minyak.

Kedua, Mazmur 110:1 “Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN kepada tuanku: “Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu”. Dalam Matius 22:41-46 Yesus mengutip ayat ini untuk menunjukkan bahwa Mesias bukan hanya sekedar anak Daud, tetapi juga tuan(Tuhan)nya. Penjelasan ini membuat orang-orang Farisi tidak berkutik dan harus mengakui bahwa mesias adalah Pribadi ilahi dan ada kejamakan dalam diri Allah (Mat 22:46). Ketidakmampuan mereka menyanggah ucapan Yesus dapat dipahami, karena dalam konteks hidup Daud tidak ada manusia yang lebih tinggi daripada dia. Pribadi yang disebut Daud sebagai “tuanku” di ayat ini pasti bukan manusia, karena Daud adalah pemimpin yang tertinggi. Selain itu, siapa di antara manusia atau malaikat yang layak duduk di sebelah kanan Allah selain Dia yang sungguh-sungguh adalah Allah?[9] Di antara semua teks Alkitab yang mencatat bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Allah (Mat 26:64//Mar 14:62//Luk 22:69; Rom 8:34; Kol 3:1; Ibr 1:3), Matius 26:64 (juga Mar 14:62//Luk 22:69) perlu diperhatikan secara lebih seksama. Pernyataan Yesus bahwa Dia akan duduk di sebelah kanan Allah langsung dipahami oleh orang-orang Yahudi sebagai bentuk penghujatan (Mat 26:65//Mar 14:63-64), karena Dia mengklaim diri sebagai Anak Allah (Luk 22:70-71). Seandainya pemahaman orang Yahudi ini salah, maka Yesus memiliki kesempatan untuk mengoreksi hal itu sehingga Dia terbebas dari hukuman mati.[10]

Ketiga, Yesaya 48:16  “Mendekatlah kepada-Ku, dengarlah ini: Dari dahulu tidak pernah Aku berkata dengan sembunyi dan pada waktu hal itu terjadi Aku ada di situ.” Dan sekarang, Tuhan ALLAH mengutus aku dengan Roh-Nya”. Berdasarkan konteks (terutama ayat 3 “firman TUHAN”) terlihat bahwa pembicara dalam ayat ini (“Aku”) adalah TUHAN (Yahweh), tetapi di ayat 16 TUHAN diutus oleh Tuhan ALLAH (Adonay Yahweh). Di samping itu, jika ayat ini diterjemahkan secara tepat, ayat ini sekaligus memberi indikasi perbedaan pribadi antara Tuhan ALLAH, TUHAN dan Roh-Nya. Terjemahan LAI:TB “mengutus Aku dengan Roh-Nya” (juga NIV) secara tata bahasa tidak dapat dibenarkan. Antara kata “Aku” dan “Roh-Nya” dihubungkan dengan kata sambung we yang seharusnya diterjemahkan “dan”, karena arti ini adalah arti yang paling umum. Jika Yesaya ingin menulis “Aku dengan Roh-Nya”, maka ia akan memakai kata sambung ’im yang berarti “dengan”. Baik ASV, NASB maupun RSV menerjemahkan ayat ini dengan “mengutus Aku dan Roh-Nya”.[11] Jika ini diterima, maka ayat ini sangat mungkin menyiratkan kepribadian Roh Allah, karena dalam konteks ini yang diutus ada dua dan kalau salah satunya adalah berpribadi (“Aku”), kita bisa menafsirkan bahwa yang satunya juga berpribadi.

Keempat, Hosea 1:7 “Tetapi Aku akan menyayangi kaum Yehuda dan menyelamatkan mereka demi TUHAN, Allah mereka”. Dari ayat 6 kita mengetahui bahwa yang berbicara di sini adalah TUHAN (lihat juga ayat 9). Di ayat 7 TUHAN berkata bahwa Ia akan menyayangi dan menyelamatkan bangsa Yehuda demi TUHAN, Allah mereka. Jika tidak ada dua Pribadi di ayat ini, maka TUHAN akan berkata “demi Aku, TUHAN, Allah mereka” (band. Yeh 34:30 “mereka akan mengetahui bahwa Aku, TUHAN, Allah mereka…”) atau ungkapan lain yang mirip dengan itu (band. Kel 20:5; Im 19:2; 21:8; Bil 12:6; 14:35; Ul 5:9; Yes 49:26).

Terakhir, Maleakhi 3:1 “Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan (Adonay) yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman TUHAN semesta alam“. Dalam ayat ini dibedakan antara Tuhan yang akan dicari umat-Nya (yang diutus) dengan TUHAN semesta alam.(yang mengutus). Keduanya disebut sebagai Tuhan, walaupun kata yang dipakai berbeda (Adonay dan Yahweh).[12]

Teks-teks yang menunjukkan bahwa Malaikat adalah TUHAN atau Allah sendiri tetapi Malaikat Tuhan kadangkala dibedakan dari TUHAN

Pemunculan “Malaikat TUHAN” telah menimbulkan perdebatan yang hangat dan panjang di kalangan para penafsir. Fokus perdebatan terdapat pada identitas dari Malaikat TUHAN. Apakah Malaikat TUHAN hanya sekedar malaikat biasa yang memegang posisi khusus atau Dia adalah Allah sendiri? Beberapa teks membedakan Malaikat TUHAN dengan TUHAN, tetapi di teks-teks lain keduanya dianggap identik.

Berikut ini adalah kumpulan teks yang menyiratkan bahwa Malaikat TUHAN adalah TUHAN atau Allah sendiri.

  • Kejadian 16:7-13

Dalam kisah ini Malaikat TUHAN memberikan janji yang di dalam Alkitab hanya diucapkan oleh Allah (ayat 10). Selanjutnya penulis kitab Kejadian menyebut Malaikat TUHAN itu sebagai TUHAN (ayat 13a). Hagar sendiri menyebut Dia sebagai “Allah yang melihat” (ayat 13b). Menariknya, meskipun Malaikat TUHAN diidentikkan dengan TUHAN atau Allah, Dia memakai kata bentuk kata ganti orang ketiga tunggal untuk TUHAN (ayat 11b).

  • Kejadian 22:11-12

Di ayat 11-12 dikatakan bahwa Abraham tidak segan-segan memberikan anaknya kepada Malaikat TUHAN (“Aku” di ayat 12 jelas merujuk pada Malaikat TUHAN di ayat 11), padahal yang meminta anaknya adalah Allah (ayat 1-2). Selanjutnya di ayat 15-16 Malaikat TUHAN bersumpah demi diri-Nya sendiri dan menyebut sumpah ini sebagai firman TUHAN. Isi sumpahnya pun sesuai dengan sumpah yang diucapkan TUHAN sebelumnya (Kej 12:1-3; 13:16; 15:5).

  • Kejadian 31:11-13

Dalam kisah ini Malaikat Allah (ayat 11) memperkenalkan diri sebagai Allah yang di Betel (ayat 12) yang pernah menjumpai Yakub sebelumnya (Kej 28:13-19). Dalam perjumpaan di pasal 28 Allah memperkenalkan diri sebagai TUHAN, Allah nenek moyang Yakub (ayat 13). Jika dua kisah itu digabungkan, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa Malaikat Tuhan di Kejadian 31:11-13 adalah TUHAN di Kejadian 28:13-19.

  • Keluaran 3:2, 6

Malaikat TUHAN dalam cerita ini (ayat 2) disebut sebagai TUHAN dan Allah (ayat 4). Selanjutnya Ia memeprkenalkan diri sebagai Allah Abraham, Ishak dan Yakub (ayat 6a), sehingga Musa takut melihat Dia (ayat 6b). Di ayat 7 Malaikat TUHAN ini disebut sebagai TUHAN (ayat 7a).

  • Bilangan 22:35, 38

Malaikat TUHAN berpesan kepada Bileam bahwa hanya perkataan yang Dia taruh dalam mulut Bileam saja yang boleh diucapkan (ayat 35). Di ayat 38 Bileam menyebut Malaikat TUHAN itu sebagai Allah.

Berikut ini adalah beberapa teks yang menyiratkan bahwa Malaikat TUHAN berbeda dengan TUHAN atau Allah.

  • Keluaran 23:20; 32:34

Dalam teks ini TUHAN Allah mengatakan bahwa Dia akan mengutus malaikat-Nya. Nama-Nya akan ada di dalam malaikat tersebut (Kel 23:21), sehingga semua bangsa Israel harus menaati dia.

  • Hakim-hakim 13:3-21

Dalam kisah ini Manoah mula-mula memahami Malaikat TUHAN hanya sebagai abdi Allah yang menyerupai malaikat (ayat 6). Dalam doanya di ayat 8 dia menyadari bahwa abdi Allah yang menyerupai malaikat itu berbeda dengan TUHAN. Selanjutnya dia ingin menjamu abdi Allah ini sebagai seorang tamu istimewa (ayat 15), tetapi abdi Allah yang tidak lain adalah Malaikat TUHAN ini meminta kurban bakaran yang hanya dipersembahkan kepada Allah (16). Penulis kitab Hakim-hakim mencatat bahwa Manoah tidak menyadari bahwa abdi Allah itu adalah Malaikat TUHAN (ayat 16b). Malaikat TUHAN selanjutnya menjelaskan bahwa nama-Nya adalah ajaib (ayat 18). Ketika Malaikat TUHAN menikmati kurban bakaran mereka – dengan demikian menyamakan diri sebagai Allah – mengertilah Manoah bahwa “abdi Allah” itu tidak lain adalah Malaikat TUHAN, TUHAN sendiri (ayat 20-21).

  • Zakaria 1:12

Malaikat TUHAN sedang bercakap-cakap dengan TUHAN; dengan demikian keduanya pasti merupakan dua Pribadi yang berbeda (band. 3:1-2; 12:8).

Identifikasi Malaikat TUHAN sebagai TUHAN/Allah akan menjadi semakin jelas apabila kita membandingkan ucapan-Nya dengan ucapan malaikat, misalnya ucapan Malaikat Gabriel di Daniel 8-12. Dalam bagian ini Gabriel tidak pernah memakai bentuk kata ganti orang pertama tunggal untuk Allah. TUHAN selalu disebut dalam kata ganti orang ketiga. Dia juga tidak menyebut.orang Israel sebagai “umatku”.

Elohim

Para penganut Trinitarian menganggap bahwa bentuk jamak ’im pada kata Elohim turut memberikan indikasi ke arah kejamakan dalam diri Allah. Para penulis Alkitab bisa saja menyebut Allah dalam bentuk tunggal (Eloah). Lebih jauh, kejamakan ini seringkali diikuti oleh kata kerja bentuk tunggal yang menyiratkan bahwa di dalam kejamakan Allah terdapat ketunggalan-Nya.

Konsep di atas mendapat sanggahan dari pihak non-Trinitarian. Mereka berpendapat bahwa bentuk jamak di sini harus dipahami sebagai bentuk jamak kemuliaan (plural of majesty). Mereka memakai bentuk jamak samayim (langit) sebagai dukungan bahwa kejamakan ini untuk merujuk pada hal-hal yang dianggap mulia. Jadi, kejamakan ini lebih dipahami sebagai indikasi kemuliaan atau intensitas daripada kejamakan dalam natur Allah.[13]

Dewasa ini konsep tentang “jamak kemuliaan” mulai ditinggalkan oleh para sarjana. Mereka mendapati beberapa inkonsistensi dan kelemahan serius dari pendapat ini. Konsep ini merupakan pemaksaan cara pikir modern ke dalam teks Alkitab.

  • Para raja Israel maupun Yehuda semuanya disebut dalam bentuk tunggal.[14]
  • Jamak kemuliaan hanya berkaitan dengan kata benda,[15] tetapi kata Elohim seringkali justru berkaitan dengan kata kerja atau kata ganti (Kej 1:26; 3:22; 11:7; Yes 6:8).[16]
  • Pada saat ‘elohim dikenakan pada pribadi lain di luar diri Allah yang benar, maka kata ini selalu diikuti kata kerja jamak (1Raj 19:2; 20:10; 2Raj 19:12; Yes 37:12; Yer 10:11).

[1] Dalam bab-bab selanjutnya kita akan membahas dan membuktikan bahwa sebutan “Anak Allah” sama saja dengan klaim sebagai Allah.

[2] KJV/ASV/RSV/NASB/NIV semua menerjemahkan pertanyaan TUHAN dalam ayat ini dengan “Whom shall I send? And who will go for us?”.

[3] The Book of Genesis Chapter 1-17 (NICOT; Grand Rapids: Eerdmans, 1990), 133-134.

[4] John Sailhamer, “Genesis”, Expositor’s Bible Commentary Vol. II, electronic edition.

[5] Genesis, 3 vols (trans. by J. J. Scullion; Minneapolis: Augsburg, 1984-1986), 1:145.

[6] Lihat Keil and Delitzsch, Old Testament Commentaries (Grand Rapids: Associated Publishers and Authors, n. d.), 1:48.

[7] K. Barth, Church Dogmatics [New York: Scribner, 1956], 3/1, 195; Sailhamer, Genesis.

[8] Penyelidikan tentang Ibrani 1:8 sebagai dukungan terhadap keilahian Yesus akan dibahas tersendiri secara detil di bab-bab selanjutnya. Dalam bab ini saya hanya menunjukkan bahwa ada lebih dari satu pribadi yang disebut sebagai “Allah”.

[9] Wayne Grudem, Systematic Theology (Nottingham: InterVarsity Press, 1994), 228.

[10] Millard J. Erickson, Christian Theology (2nd ed., Grand Rapids: BakerBooks, 1998), 703.

[11] Penerjemah KJV dan NKJV memilih terjemahan “Tuhan ALLAH dan Roh-Nya mengutus Aku”. Terjemahan ini secara tata bahasa mungkin, tetapi dari sisi struktur kalimat yang ada terjemahan ini tampak janggal. Dalam kalimat Ibrani, susunan kata yang muncul adalah: Adonay Yahweh mengutus Aku dan Roh-Nya. Jika yang mengutus adalah Tuhan ALLAH dan Roh-Nya, maka kata “Roh-Nya” (weruho) harus diletakkan sebelum kata “mengutus Aku”. Selain itu, dalam Alkitab Roh Allah selalu berada dalam posisi diutus, bukan pengutus. Lihat Geoffrey W. Grogan, “Isaiah”, Expositor’s Bible Commentary Vol. VI, electronic edition..

[12] Kita perlu mengetahui bahwa orang-orang Yahudi melafalkan kata YHWH dengan Adonay supaya tidak beresiko menyebut nama TUHAN dengan sembarangan (band. Kel 20:7). Walaupun kata adonay dapat dipakai untuk manusia (Kej 18:12; Kej 40:1; 42:10) atau malaikat (Kej 19:2), namun kata ini juga sering dipakai untuk Allah. Keluaran 34:23 memakai “Adonay YHWH Elohim” bersamaan. Ulangan 10:17 TUHAN disebut “Tuhan segala Tuhan”. Mazmur 8:2 memakai sebutan YHWH Adonay kita. Lihat Robert L. Alden, “’adon”, Theological Wordbook of the Old Testament (ed. by R. Laird Harris, et al., Chicago: Moody Press, 1980), 12-13.

[13] Misalnya Walter Eichrodt, Theology of the Old Testament (Philadelphia: Westminster Press, 1961), 187; Bromiley, Geoffrey W. The International Standard Bible Encyclopedia, Revised, Vol. 2 (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans, 1988; 2002), 505-506.

[14] G. A. F. Knight, A Biblical Approach to the Doctrine of the Trinity (Edinburgh: Oliver & Boyd, 1953), 20. Dikutip oleh Erickson, Christian Theology, 353-354.

[15] Kata benda yang termasuk jamak kemuliaan adalah Mzm 149:2 “Yang menjadikannya” di ayat ini berbentuk jamak; Pkt 12:1 “Pencipta” di ayat ini berbentuk jamak; Yes 54:5 “Yang menjadikan” jugaberbentuk jamak. Robert Reymond, A New Systematic Theology of the Christian Faith (2nd ed., Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1998), 209.

[16] Hampir semua sarjana yang menolak jamak kemuliaan mendasarkan pandangan mereka pada riset yang dilakukan oleh P. Jouon dalam bukunya Grammaire de l’Hebreu biblique, misalnya Hamilton, 133.

Leave a Reply