Yakub Tri Handoko, Th. M.

Tritunggal Dalam Perjanjian Baru

Kehadiran Yesus di dunia dengan semua yang Dia lakukan dan ajarkan telah memaksa para rasul dan jemaat mula-mula untuk memahami Perjanjian Lama dalam perspektif yang baru. Mula-mula mereka pasti tidak langsung menyadari keilahian Yesus. Seiring dengan interaksi mereka bersama Yesus mereka terus bergumul tentang identitas Yesus yang sebenarnya. Bagi mereka, apa yang dilakukan dan diajarkan oleh Yesus tampak sangat luar biasa. Sebagai contoh, di awal kebersamaan mereka dengan Yesus mereka menyaksikan Yesus meredakan angin dan danau dengan kuasa-Nya sendiri, sehingga memaksa mereka untuk bertanya, “Orang apakah Dia ini, sehingga angin dan danaupun taat kepada-Nya?” (Mat 8:27).

Siapakah Yesus di mata para pengikut-Nya? Ada tiga alternatif[1] yang pasti ada di benak mereka: (1) Yesus adalah manusia biasa; (2) Yesus adalah malaikat atau makhluk surgawi; (3) Yesus adalah Allah. Kita akan menyelidiki masing-masing alternatif ini berdasarkan tulisan para rasul.

Apakah Yesus adalah nabi/manusia biasa?

Baik penganut Trinitarian maupun non-Trinitarian (Unitarian maupun Saksi Yehuwah) mengakui bahwa Yesus bukan manusia biasa. Kehidupan-Nya dari awal sampai akhir membuktikan bahwa Dia bukan manusia biasa. Alkitab mencatat dengan jelas bahwa kelahiran Yesus adalah unik, karena itu Dia disebut Anak Allah (Mat 1:18, 20; Luk 1:35). Sebelum Dia lahir, Dia sudah ada, bahkan Dia ada sebelum segala sesuatu ada (Yoh 1:1-3; Yoh 8:58). Ketika Yesus masih anak-anak, pengetahuan-Nya tentang Alkitab melampaui kecerdasan para pemuka agama (Luk 2:46-47). Yesus sendiri pun sudah menyadari keilahian-Nya sejak Dia kanak-kanak (Luk 2:49).

Selama pelayanan-Nya Yesus menunjukkan bahwa Dia lebih dari sekedar manusia atau nabi biasa. Dia menghentikan angin ribut dengan kuasa-Nya sendiri (Mat 8:26-27). Dia membangkitkan orang mati dengan kuasa-Nya sendiri (Mar 5:35-43//Luk 8:49-56; Luk 7:11-17). Dia mengetahui apa yang ada dalam pikiran (Mat 8:3-4//Luk 5:21-22; Luk 6:7-8) atau hati manusia (Mat 22:18; Yoh 2:24-25). Dia lebih besar daripada tokoh-tokoh Alkitab: Yakub (Yoh 4:12-14), Musa (Yoh 6:32-35), Elia (Mat 17:1-9), dsb.

Apakah Yesus adalah malaikat atau makhluk surgawi?

Para rasul tampaknya tidak mengadopsi kemungkinan ini. Hal ini tampak dari data Alkitab berikut ini:

  • Yesus justru yang menciptakan malaikat dan sudah ada sebelum segala sesuatu ada (Yoh 1:3; Kol 1:16).
  • Yesus menerima sembah dari para rasul (Mat 14:33), sedangkan malaikat tidak mau menerima itu (Why 19:10; 22:8-9).
  • Para malaikat bahkan harus menyembah Dia (Ibr 1:6).
  • Yesus duduk di sebelah kanan Bapa (Mat 26:64//Mar 14:62//Luk 22:69; Rom 8:34; Kol 3:1; Ibr 1:3; 8:1; 12:2; 1Pet 3:22); suatu hak istimewa yang tidak disediakan untuk seorang malaikat pun (Ibr 1:13).
  • Selama inkarnasi Yesus di dunia, Dia disebut “untuk waktu yang singkat sedikit lebih rendah daripada malaikat-malaikat” (Ibr 2:7, 9).[2] Hal ini menyiratkan bahwa Dia secara hakekat lebih mulai daripada para malaikat, tetapi dalam kapasitasnya sebagai manusia, Dia lebih rendah daripada malaikat yang memang lebih kuat dan berkuasa daripada manusia (2Pet 2:11a).
  • Yang tidak kalah penting, Yesus tidak pernah disebut sebagai angelos (malaikat), padahal kata ini cukup sering muncul dalam Perjanjian Baru (lebih dari 150 kali).[3]

Kaum non-Trinitarian mengakui bahwa Yesus lebih tinggi daripada para malaikat, tetapi mereka menolak untuk mengakui Yesus sebagai Allah dalam kapasitas yang sama dengan Bapa. Sebagai gantinya, mereka mengusulkan bahwa Yesus adalah makhluk surgawi tertentu yang hakekat-Nya lebih rendah daripada Allah, tetapi lebih tinggi daripada semua malaikat. Beberapa secara eksplisit menganggap Yesus sebagai penghulu malaikat (Mikhael).[4]

Usulan pertama tidak akan kita bahas, karena terlalu spekulatif (mengada-ada). Alkitab tidak pernah mengajarkan keberadaan suatu pribadi khusus yang kemuliaannya terletak di antara Allah dan malaikat. Konsep seperti ini (biasa disebut “lesser god”) justru populer di kalangan filsuf Yunani yang mengadopsi paham dualisme. Menurut mereka, Allah adalah roh (baik), sehingga Dia tidak mungkin bersentuhan dengan manusia yang bersifat materi (jahat). Sebagai jalan keluar, Allah yang roh ini memercikkan hakekat keilahian-Nya menjadi Logos (dalam neo-platonisme) atau Demiurgos (dalam Gnosticisme). Jika pihak non-Trinitarian memilih solusi ini, maka ini merupakan sebuah ironi. Mereka seringkali menuduh pihak Trinitarian yang terpengaruh filsafat Yunani sehingga merumuskan doktrin Tritunggal yang tidak diajarkan dalam Alkitab, namun kenyataannya justru merekalah yang terpengaruh oleh pemikiran filsafat Yunani.

Usulan kedua – Yesus adalah penghulu malaikat [Mikhael] – akan kita bahas sekarang. Argumen pihak non-Trinitarian dinyatakan secara jelas dalam majalah Saksi Yehuwah yang terkenal, Menara Pengawal 4/15/1991 halaman 28, “Mengapa kami menyimpulkan bahwa Yesus adalah Penghulu Malaikat Mikhael?. Firman Allah menyebut hanya satu penghulu malaikat dan Firman Allah menyebut malaikat itu dalam hubungan dengan kebangkitan Yesus Kristus: ‘Tuhan sendiri akan turun dari surga dengan seruan panggilan, dengan suara penghulu malaikat dan dengan sangkakala Allah (1Tes 4:16). Di Yudas 9 kita menemukan bahwa nama penghulu malaikat ini adalah Mikhael”. Dari kutipan ini terlihat bahwa inti argumen terletak pada: (1) penghulu malaikat hanya ada satu; (2) penghulu malaikat ini akan datang kembali sesuai dengan 1Tesalonika 4:16.

Berdasarkan penyelidikan Alkitab yang teliti, kita harus menolak ide bahwa Yesus adalah penghulu malaikat. Kata Yunani arcangelos (penghulu malaikat) hanya muncul dua kali dalam Perjanjian Baru (1Tes 4:16; Yud 9). Meskipun kata arcangelos dalam dua ayat tersebut memang muncul dalam bentuk tunggal, tetapi dua ayat tersebut tidak menginformasikan apa-apa tentang jumlah penghulu malaikat di surga. Kita perlu bukti-bukti lain untuk memastikan bahwa penghulu malaikat hanya ada satu.

Penyelidikan seksama justru mengarah pada kemungkinan bahwa penghulu malaikat itu lebih dari satu. Pertama, dalam 1Tesalonika 4:16 kata arcangelos muncul tanpa artikel, sehingga kemugkinan besar menunjuk pada salah satu penghulu malaikat.[5] Mayoritas versi Inggris memang menerjemahkan arcangelos di ayat ini dengan ‘the archangel’, namun ini tidak sesuai dengan kalimat Yunani yang ada. Ayat ini seharusnya diterjemahkan “seorang penghulu malaikat”.[6]

Kedua, dalam tradisi Yahudi diajarkan bahwa penghulu malaikat jumlahnya lebih dari satu. F. F. Bruce, seorang ahli Perjanjian Baru, memberikan penjelasan yang bermanfaat dalam tafsirannya.

Ini meragukan jikalau kita berpikir tentang [hanya] satu penghulu malaikat malaikat di sini, apakah itu Mikhael atau yang lainnya…Tradisi Yahudi mengenal tujuh penghulu malaikat, “tujuh malaikat yang membawa doa-doa orang-orang kudus dan berdiri di hadapan hadirat yang Mahakudus” (Tob 12:15; cf. Wah 8:2). Dalam 1Enoch 20:1-7 (Yunani) mereka disebut sebagai avrcaggeloi (para penghulu malaikat) dan nama-nama mereka ditulis Uriel, Raphael, Raguel, Michael, Sariel, Gabriel dan Remiel (Penghulu malaikat di 4Ezra 4:36 mungkin harus dilihat sebagai Remiel).[7]

Kita memang tidak boleh menjadikan tradisi Yahudi sebagai standar kebenaran, namun kita tetap perlu merenungkan bahwa kalau orang-orang Yahudi waktu itu menganggap penghulu malaikat itu adalah jamak, dari mana para rasul – yang juga adalah orang Yahudi – memiliki ide bahwa penghulu malaikat itu hanya ada satu? Dari mana mereka mendapat ide bahwa penghulu malaikat ini adalah Yesus?

Ketiga, Perjanjian Lama secara jelas menyebut Mikhael sebagai salah satu penghulu malaikat. David A. Reed menulis, “walaupun ia adalah satu-satunya penghulu malaikat yang [namanya] disebut dalam Kitab Suci, Mikhael ditunjukkan sebagai ‘salah satu pangeran-pangeran terkemuka’ (Dan 10:13, huruf miring ditambahkan).[8] Hampir semua versi dengan tepat menerjemahkan frase Ibrani ‘ahad hasarim di ayat ini dengan “one of the chief princes” (KJV/NKJV/ASV/NIV/RSV/NASB). Ironisnya, terjemahan Alkitab resmi Saksi Yehuwah – Terjemahan Dunia Baru – juga menerjemahkan ungkapan ini dengan makna yang sama.

Sehubungan dengan pengidentifikasian Yesus sebagai penghulu malaikat berdasarkan 1Tesalonika 4:16, tafsiran ini sangat tidak logis dan tidak sesuai konteks. Seandainya frase ‘[turun] dengan suara penghulu malaikat’ berarti Yesus sama dengan penghulu malaikat, apakah kaum non-Trinitarian mau mengakui bahwa frase ‘[turun] dengan sangkakala Allah’ berarti Yesus sama dengan Allah?[9] Lihatlah struktur kalimat berikut ini yang dibuat berdasarkan struktur kalimat dalam bahasa aslinya:

Dan Tuhan sendiri

                                                dalam seruan perintah

                                                dalam suara penghulu malaikat

                                                dalam sangkakala Allah

                                akan turun dari surga

Argumen lain untuk membuktikan bahwa Yesus bukan penghulu malaikat Mikhael dapat dilihat dari perbedaan sikap keduanya dalam penghakiman, khususnya yang berhubungan dengan iblis. Mikhael tidak berani menghukum Iblis – ia hanya menghardik dengan nama Tuhan (Yud 1:)  – tetapi ini berbeda dengan Yesus. Yesus berkali-kali menghardik setan dengan kuasa-Nya sendiri (Mar 1:25; 5:7; 9:25; Mat 17:18; Luk 4:35; 9:42).[10]

Terakhir, Alkitab memberikan bukti yang eksplisit bahwa Yesus berbeda dengan Mikhael. Dalam Wahyu 12:1-9 Yesus ditampilkan sebagai Anak dari seorang perempuan yang sedang berusaha dibunuh oleh naga (ayat 4b-5), sedangkan Mikhael adalah pemimpin para malaikat yang memerangi dan mengalahkan naga tersebut (ayat 7-9). Beberapa orang mungkin tergoda untuk melihat ayat 1-9 sebagai dua cerita yang terpisah (seperti disiratkan dalam pembagian perikop LAI:TB), namun keterkaitan antara dua perikop ini sudah merupakan pendapat umum di kalangan para penafsir. Hal ini didukung oleh kata sambung “maka” dan penyebutan “naga itu” di ayat 7.

Apakah Yesus adalah Allah?

Jika Yesus bukan manusia biasa, bukan malaikat, bukan penghulu malaikat dan bukan pula makhluk surgawi khusus yang berada di antara Allah dan malaikat, lalu siapakah Yesus itu? Satu-satunya alternatif yang tertinggal adalah Yesus sebagai Allah. Dalam bagian ini kita memang tidak membahas bukti-bukti bahwa Yesus adalah Allah (topik ini akan dibahas tersendiri di bab-bab selanjutnya), namun kita memiliki alasan kuat untuk mengasumsikan bahwa para rasul sedikit demi sedikit mulai sampai pada pengakuan bahwa Yesus adalah Allah. Contoh yang paling indah dapat dilihat dari pengakuan Tomas bahwa Yesus adalah Allah dan Tuhan (Yoh 20:28).[11] Pengakuan terhadap keilahian Yesus ini bukan sekedar didasarkan pada kehidupan Yesus, tetapi juga dukungan yang melimpah dari Perjanjian Lama. Hal ini tersirat dari kebiasaan mereka yang “bertekun dalam pengajaran rasul-rasul” (Kis 2:42) dan “penyelidikan kitab suci” (Kis 17:11; 18:28). Yesus memang titik tolak dalam memahami Perjanjian Lama, tetapi hal itu tidak berarti bahwa Perjanjian Lama telah dipaksa sedemikian rupa oleh Yesus dan para rasul agar sesuai dengan kehidupan dan pelayanan Yesus.

Ketika para rasul dan gereja mula-mula sudah sampai pada kesimpulan bahwa Yesus adalah Allah, mereka selanjutnya pasti bergumul dengan isu ketunggalan Allah yang menjadi ciri khas ajaran Perjanjian Lama (Ul 6:4). Jika Yesus adalah Allah dalam arti yang sesungguhnya, maka Dia berhak mendapatkan penyembahan dari umat-Nya. Persoalannya, mereka dari dulu sudah diajarkan untuk tidak memiliki allah lain selain TUHAN (Ul 20:3-5). Jika Yesus adalah “Allah” dalam pengertian lain,[12] maka Dia tidak layak untuk disetarakan dengan Allah yang benar maupun menerima penyembahan dari kita. Yesaya 42:8 “Aku ini TUHAN, itulah nama-Ku; Aku tidak akan memberikan kemuliaan-Ku kepada yang lain atau kemasyhuran-Ku kepada patung” (48:11). Yesaya 40:18 “Jadi dengan siapakah hendak kamu samakan Allah dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?” (40:25).

Bagaimana para rasul mengharmonisasikan keilahian Yesus dengan konsep monoteisme Yahudi yang sedemikian ketat? Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita perlu mengetahui bahwa tidak ada satu pun penulis Perjanjian Baru yang memberikan penjelasan secara khusus dan sistematis tentang doktrin Tritunggal. Hal ini cukup menarik untuk diperhatikan karena para rasul bersusah-payah dan berkali-kali membicarakan doktrin ini secara panjang lebar dan khusus, misalnya tentang pembenaran oleh iman (Rom 1-5; keseluruhan kitab Galatia), inkarnasi Yesus (1Yoh 5), dsb. Apa yang menyebabkan mereka tidak merasa perlu untuk membahas doktrin Tritunggal secara lebih khusus? Jawabannya adalah mereka sudah menerima keilahian Yesus secara penuh, paling tidak pada saat kebangkitan-Nya (sama seperti Tomas)! Jika tidak demikian, maka mereka pasti akan terus mempersoalkan identitas Yesus yang “tidak jelas”. John Frame mengatakan bahwa mereka tidak berusaha menjelaskan doktrin Tritunggal secara sistematis, karena doktrin ini memang tidak kontroversial pada masa awal kekristenan.[13] Doktrin ini baru menjadi isu hangat dan membutuhkan penjelasan pada abad ke-2 M setelah para bidat mempermasalahkan kesatuan antara ketiga Pribadi dalam Tritunggal.

Dari keyakinan di atas tidak salah kalau kita menegaskan bahwa doktrin Tritunggal diajarkan di semua bagian Perjanjian Baru; atau, meminjam istilah B. B. Warfield, “seluruh kitab memiliki inti yang bersifat Trinitarian”.[14] Dalam bagian ini kita hanya memfokuskan pada pemunculan Allah Tritunggal secara bersamaan dalam suatu konteks.[15]

Pertama, Matius 28:19. D. A. Carson mengingatkan kita bahwa pemunculan nama Bapa, Anak dan Roh Kudus secara bersamaan di ayat ini pada dirinya sendiri tidak membuktikan doktrin Tritunggal. Dia lalu memberikan contoh di 1Timotius 5:21 yang memuat “Allah, Yesus Kristus dan malaikat-malaikat pilihan-Nya”, namun ketiganya tidak setara.[16] Kita juga tidak boleh berpikir bahwa “dibaptis ke dalam nama…” menunjukkan pemilik nama tersebut adalah Allah, karena dalam 1Korintus 10:2 disebutkan “semua dibaptis ke Musa dalam awan dan laut” (lihat semua versi Inggris). Bagaimanapun, ayat ini tetap Trinitarian. Inti dari argumen terletak pada bentuk tunggal dari kata onoma (“nama”). Pemakaian bentuk tunggal ini jelas menyiratkan kesatuan antara Bapa, Anak dan Roh Kudus. Dari bentuk tunggal ini paling tidak kita dapat melihat kesetaraan atau kesatuan antara tiga Pribadi dalam Tritunggal.

Frans Donald menolak nuansa Trinitarian dalam ayat ini dengan memberikan dua argumen: (1) tidak ada kata “Allah” yang muncul di depan kata Bapa, Anak dan Roh Kudus; (2) penyebutan “Bapa, Anak dan Roh Kudus” harus dipahami dalam arti keselamatan harus melalui pengenalan Bapa sebagai satu-satunya Allah yang benar (Yoh 17:3), Yesus sebagai yang diutus Bapa dan Roh Kudus yang membimbing.[17]

Sanggahan ini didasarkan pada asumsi logis yang salah dan tidak konsisten. Jika tidak ada kata “Allah” di depan Anak dan Roh Kudus berarti mereka bukanlah Allah, bagaimana dengan kasus Bapa? Bukankah dalam ayat ini pun Bapa tidak disebut memakai kata “Allah”? Bagaimana dengan teks-teks lain yang memuat kata “Bapa” tanpa kata “Allah” di depannya?[18] Jika tiga nama di ayat ini disebut karena keterkaitan atau peranan mereka dalam keselamatan, mengapa Matius tidak menambahkan kata “para rasul” atau “para pemberita injil”? Bukankah mereka juga berperan dalam keselamatan seseorang? Paulus bahkan menolak bahwa jemaat Korintus dibaptis dalam nama-Nya (1Kor 1:13).

Kedua, 1Korintus 12:4-6. Dalam teks ini Paulus menyatakan bahwa karunia bersumber dari Roh Kudus, pelayanan dari Tuhan dan perbuatan ajaib dari Allah (Bapa). Dilihat dari konteks yang ada, teks ini secara eksplisit menyiratkan konsep Tritunggal (walaupun dalam bagian ini Paulus tidak sedang membicarakan tentang Tritunggal secara khusus). Para penafsir sepakat bahwa kata “karunia”, “pelayanan” dan “perbuatan ajaib” bukanlah tiga hal yang berbeda dan secara eksklusif hanya berasal dari salah satu Pribadi yang disebut dalam ayat 4-6. Sebagai bukti, di ayat 9-10 disebutkan bahwa penyembuhan dan mujizat diberikan oleh Roh Kudus (padahal dua hal ini “seharusnya” masuk kategori perbuatan ajaib di ayat 6). Selain itu, baik Allah maupun Roh Kudus adalah sama-sama subjek dari kata kerja “mengerjakan” di ayat 6 dan 11.[19] Kebenaran penjelasan ini akan semakin terlihat apabila menyadari bahwa ayat 4-6 ditulis dalam gaya bahasa yang sejajar (paralel). Jika kata benda “karunia”, “pelayanan” dan “perbuatan ajaib” merujuk pada hal yang sama/sejajar (atau paling tidak saling berkaitan), bukankah teks ini sangat jelas mengindikasikan kesatuan antara Bapa, Anak dan Roh Kudus?

Ketiga, Efesus 4:4-6. Teks ini menyiratkan makna yang sama dengan 1Korintus 12:4-6. Kita tidak boleh mengotak-kotakkan apa yang ditulis di ayat ini, misalnya kesatuan tubuh hanya berkaitan dengan Roh Kudus saja. Orang-orang percaya di tempat lain justru disebut sebagai tubuh Kristus (1Kor 12:27). Demikian pula baptisan tidak boleh hanya dikaitkan dengan Yesus, tetapi juga dengan Bapa dan Roh Kudus (Mat 28:19; 1Kor 12:13). Konteks Efesus 4:1-6 justru menekankan kesatuan orang percaya yang terletak pada kesatuan dalam diri Roh Kudus, Tuhan Yesus dan Allah Bapa. Walaupun Paulus dalam teks ini tidak menyatakan secara eksplisit bahwa ketiga-Nya adalah satu hakekat, namun kesatuan seperti itu kemungkinan besar ada dalam pikiran Paulus ketika dia menulis bagian ini.

Keempat, teks-teks tertentu yang menunjukkan bahwa berkat rohani berasal dari Allah Tritunggal atau paling tidak dari dua Pribadi di antara Tritunggal. Hal ini sering kita jumpai pada pembukaan surat para rasul yang dimulai dengan ungkapan seperti “kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan Tuhan Yesus” (1Kor 1:3; 2Kor 1:2; Gal 1:3; Ef 1:3; 6:23-24; 1Tes 1:1; 2Tes 1:2; 1Tim 1:2; 2Tim 1:2; Tit 1:4). Dalam 2Korintus 13:14 Paulus bahkan menyebutkan ketiga Pribadi dalam Tritunggal.

Kumpulan teks tadi memang tidak secara eksplisit mengatakan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah satu hakekat. Bagaimanapun, kita patut memperhatikan bahwa ketiga-Nya merupakan sumber berkat. Banyak ayat menunjukkan bahwa posisi Bapa dan Anak adalah sama, yaitu sebagai pemberi/sumber berkat (bukan sekedar Bapa sebagai sumber dan Anak/Roh Kudus sebagai instrumen). Contoh: salam pembukaan di surat kiriman sering dimulai dengan “kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah Bapa dan dari Tuhan Yesus Kristus”. Bagaimana dua/tiga Pribadi bisa sama-sama menjadi sumber berkat jika ketiganya tidak memiliki kesatuan dan kesejajaran?

Khusus untuk 2Korintus 13:14, kita perlu menegaskan bahwa “kasih karunia/anugerah” (caris), “kasih” (agaph) dan “persekutuan” (koinwnia) tidak secara eksklusif muncul dari masing-masing Pribadi dalam Tritunggal. Caris sering dikaitkan dengan Bapa (Luk 1:30; Luk 2:40, 52; Kis 7:46; 11:23; 13:43; Rom 5:15), agaph juga sering dikaitkan dengan Anak (Yoh 13:34; 15:12; Why 3:9), begitu pula koinwnia tidak selalu berhubungan dengan Roh Kudus saja (1Kor 1:9; 10:16; 1Yoh 1:6). Semua ayat ini membuktikan adanya kesatuan yang luar biasa antara Bapa, Anak dan Roh Kudus, sehingga berkat rohani yang sama dapat muncul secara bersamaan dari ketiga-Nya. Jika tidak ada kesatuan atau kesejajaran antara ketiga-Nya, bagaimana semua ini dapat dijelaskan?

Terakhir, teks-teks tertentu yang menyebut Bapa, Yesus dan Roh Kudus secara bergantian seolah-olah tidak ada perbedaan antara ketiganya atau paling tidak menunjukkan kesatuan antara ketiganya. Yang termasuk kategori ini adalah Kisah Rasul 16:6-10. Dalam bagian ini tampak bahwa perjalanan misi Paulus dipimpin oleh Roh Kudus (ayat 6), Roh Yesus (ayat 7) dan Allah (ayat 10). Perubahan penyebutan seperti ini bukan sekedar gaya penulisan, tetapi juga ekspresi spontan gereja mula-mula yang menunjukkan embrio iman yang bersifat trinitarian.[20]

Ayat lain yang penting untuk diperhatikan adalah 1Korintus 2:10-16. Di konteks ini Paulus sedang membicarakan tentang rahasia manusia dapat mengerti pikiran Allah, yaitu melalui Roh Kudus (ayat 10-11). Di ayat 16 Paulus menutup diskusi ini dengan pertanyaan “siapa yang dapat mengetahui pikiran Tuhan?”. Pertanyaan ini merupakan kutipan dari Yesaya 40:13 menurut LXX.[21] Dalam teks Ibrani, sebutan yang dipakai bukan “Tuhan” tetapi “Roh TUHAN”. Dari sini terlihat bahwa bagi penerjemah LXX dan Paulus, sebutan “Roh TUHAN” sama dengan “TUHAN”.[22] Menariknya, setelah Paulus menyamakan “Allah” di 1Korintus 2:10-11 dengan “Roh TUHAN” (teks Ibrani) maupun “TUHAN” (LXX), dia justru menutup pembahasan dengan pernyataan tegas: “kami memiliki pikiran Krisus”. Menurut Gordon Fee, cara penyebutan seperti ini mengindikasikan keyakinan yang kuat terhadap doktrin Tritunggal, sekalipun 1Korintus 2:6-16 tidak secara khusus berbicara tentang Tritunggal.

Teks yang bermasalah: 1Yohanes 5:7b-8a

Ayat ini terdapat dalam LAI:TB dan KJV/NKJV, tetapi tidak ada dalam mayoritas versi Inggris yang baru (RSV/NIV/NASB). Seandainya teks ini asli, maka ayat ini bisa menjadi salah satu ayat penting dalam membela doktrin Tritunggal. Kenyataannya, ayat ini hampir dapat dipastikan tidak ada dalam naskah asli Alkitab yang ditulis oleh Rasul Yohanes. Ayat ini merupakan gubahan atau tambahan dari penyalin Alkitab beberapa abad setelah surat 1Yohanes ditulis.

Beberapa argumen yang mendukung hal ini antara lain:[23]

  • Ayat 7b-8a hanya ditemukan dalam 8 salinan. Empat di antaranya meletakkan ayat ini di bagian margin sebagai indikasi bahwa ayat ini adalah tambahan.
  • Dari gaya bahasa yang dipakai terlihat bahwa penambahan ini didasarkan pada terjemahan bahasa Latin Vulgata.
  • Di antara salinan yang memiliki ayat ini, semua salinan tersebut berasal dari abad ke-10 ke atas.
  • Ayat ini tidak pernah dikutip oleh satu bapa gereja pun, padahal kalau mereka mengetahui ada ayat ini mereka pasti akan memakainya dalam kontroversi seputar doktrin Tritunggal. Kalau mereka tidak memakai ayat ini, hal itu memberi indikasi yang jelas bahwa pada jaman mereka ayat ini memang belum ada.
  • Ayat ini tidak ditemukan dalam berbagai terjemahan kuno Alkitab.
  • Jika ayat ini memang ada di naskah aslinya, sulit dimengerti mengapa begitu banyak penyalin, penerjemah dan bapa-bapa gereja tidak mengetahui keberadaan ayat ini. Seandainya mereka mengetahui ayat ini tetapi sengaja tidak memakai atau bahkan menghilangkan ayat ini, sulit dipahami mengapa mereka melakukan hal itu. Lebih masuk akal jika kita berpikir bahwa penyalinan di kemudian hari menambahkan ayat ini daripada berpikir sebaliknya.
  • Ayat ini membuat alur berpikir dan struktur kalimat di ayat 7a ke ayat 8b menjadi terputus.

[1] Sebenarnya masih ada dua alternatif lain, tetapi dua hal ini tidak mungkin sesuai untuk Yesus, yaitu Yesus sebagai iblis (ini penghujatan serius!) dan Yesus sebagai binatang (ini tidak kalah merendahkan Yesus!).

[2] Lebih rendah daripada malaikat bukan berarti bahwa Dia meninggalkan keilahian-Nya selama inkarnasi (band. bentuk present tense “[berada] dalam rupa Allah” di Flp 2:6).

[3] Satu-satunya ayat yang menyebut Yesus sebagai malaikat adalah dalam terjemahan LXX (Spetuaginta) Maleakhi 3:1 di mana mesias yang dijanjikan disebut Malaikat Perjanjian (ho angelos ths diaqhkhs).

[4] Misalnya Saksi Yehuwah yang meyakini bahwa Yesus adalah penghulu malaikat Mikhael  (WT 11/1879, 48; lihat juga WT 2/15/1979, 31; WT 12/15/1984, 29; WT 2/1/1991, 17). Mereka berpendapat bahwa nama ‘Mikhael’ adalah nama Yesus Kristus sebelum ia meinggalkan surga dan setelah ia kembali ke surga (WT 5/15/1969, 307).

[5] Bandingkan A. Robertson, Word Picture in the New Testament. Vol. V c1932, Vol. VI c1933 by Sunday School Board of the Southern Baptist Convention. Oak Harbor: Logos Research System, 1997.

[6] New King James Version dan Young Literal Translation menerjemahkan dengan “an archangel” atau “a chief messenger”. Suatu kata yang tidak memiliki artikel memang tidak secara otomatis menyiratkan bahwa jumlahnya lebih dari satu. Beberapa benda sudah sedemikian popular sehingga dengan atau tanpa artikel pun orang tetap akan tahu benda yang dimaksud. Bagaimanapun, penggunaan kata arcangelos tanpa artikel di ayat ini tetap signifikan jika digabung dengan bukti-bukti lain.

[7] Word Biblical Commentary Vol. 45: 1 and 2 Thessalonians (electronic ed.). Logos Library System. Dallas: Word Incorporated.

[8] Answering Jehovah’s Witnesses: Subject by subject (electronic ed.). Grand Rapids: Baker Book House, 1997, c1996.

[9] Ibid.

[10] Andhika Gunawan, Draft Hasil Research tentang Saksi-saksi Yehuwa (Diktat Kuliah ‘Bidat dan Aliran’ STT Injili Abdi Allah, tidak diterbitkan), 40-41. Kaum non-Trinitarian biasanya memakai ayat-ayat tertentu seperti Zakaria 3:2 untuk menunjukkan bahwa Malaikat TUHAN – yang dipercaya kaum Trinitarian sebagai Allah/Yesus – juga tidak berani menghardik Setan. Sanggahan ini didasarkan pada terjemahan LAI:TB yang tidak tepat. Di ayat 2a kata “Malaikat TUHAN” tidak muncul. Dalam teks Ibrani yang muncul adalah kata “TUHAN” (band. semua versi Inggris memakai “Jehovah” [ASV/YLT] atau “LORD” [KJV/NKJV/RSV/NASB/NIV]). Jika ini diterima, maka ucapan di ayat 2 tidak boleh ditafsirkan sebagai ketidakberanian TUHAN untuk menghardik setan.

[11] Kelompok non-Trinitarian mencoba menafsirkan ayat ini sedemikian rupa agar mengaburkan konsep keilahian Yesus. Mereka memberikan beberapa argument yang terlalu dipaksakan dan mengada-ada. Lihat pembahasan detil tentang ayat ini di bab-bab selanjutnya.

[12] Kelompok non-trinitarian menganggap bahwa kata “allah” (qeos) yang diterapkan pada Yesus memiliki makna yang berbeda dengan kata qeos yang dipakai untuk Bapa. Mereka mendasarkan pendapat mereka pada penggunaan kata ‘elohim (Ibrani) atau qeos (Yunani) yang dalam Alkitab tidak selalu merujuk pada Allah yang benar. Kata itu dapat dipakai untuk allah kafir (Kel 15:11; Bil 33:4; Hak 10:6), dewa-dewa (Kej 35:4; Im 19:4; Kis 7:43; 14:13; 19:26), iblis (2Kor 4:4), malaikat atau makhluk surgawi (KJV/NKJV/NIV Mzm 8:6; Ibr 2:7), roh tertentu (1Sam 28:13) atau manusia (Kel 7:1).

[13] The Doctrine of God (Phillipsburg: P&R Publishing, 2002), 639.

[14] “Biblical Doctrine of the Trinity”, Biblical Doctrines (Grand Rapids: Baker, 1981), 143.

[15] Dalam bagian ini kita hanya akan melihat pemunculan Bapa, Anak dan Roh Kudus dalam kesejajaran yang bersifat umum. Tentang apakah kesatuan dan kesejajaran di antara ketiga-Nya merupakan kesatuan hakekat akan dibahas secara khusus dalam bab-bab selanjutnya.

[16] “Matthew”, Expositor’s Bible Commentary Vol. VIII, electronic edition.

[17] Menjawab Doktrin Tritunggal (cetakan ke-3; tt:, Borobudur Indonesia Publishing, 2007), 27-28.

[18] Frase “Allah Bapa” hanya muncul kurang dari 30 kali dalam Alkitab. Pemunculan terbanyak justru kata Bapa yang tidak memakai kata “Allah” di depannya.

[19] Gordon D. Fee, The First Epistle to the Corinthians, NICNT (Grand Rapids: Wm. B. Eerdmans Publishing Company, 1987), 587.

[20] Expositor’s Bible Commentary, electronic edition.

[21] LXX tis egnw noun kyriou kai tis autou symboulos egeneto hos symbiba auton. 1Korintus 2:16a memakai tis gar egnw noun kyriou symbibasei auton.

[22] Hal ini mendapat dukungan dari teks Ibrani Yesaya 40:13-14 yang memakai dua sebutan itu secara bergantian

[23] Bruce M. Metzger, A Textual Commentary on the Greek New Testament (2nd. ed.; Stuttgart: Deutsche Bibelgesellschaft, 1998), 647-649.

Leave a Reply