Yakub Tri Handoko

Bagian ini termasuk dalam “Farewell Discourse” (khotbah/ajaran Yesus sebelum Ia berpisah dari murid-murid-Nya) dari pasal 13 sampai 17. Ini merupakan salah satu persiapan bagi murid-murid sebelum Yesus meninggalkan mereka. Yesus menyinggung tentang kepergianNya ke atas kayu salib dan kenaikan-Nya ke sorga yang segera akan terjadi dalam waktu dekat (13:31-33). Pemberitahuan ini disampaikan dalam bahasa “pemuliaan”, bukan tragedi. Setelah itu Ia memberikan perintah baru kepada murid-murid, yaitu supaya mereka saling mengasihi seperti Ia sendiri telah mengasihi mereka (13:34-35).

Salib dan kemuliaan (ayat 31-33)

Pembacaan sekilas sudah memadai untuk melihat kata kunci di bagian ini, yaitu kata kerja doxazō (“memuliakan”) yang muncul sebanyak 5 kali di ayat 31-32. Sesuai konteks pasal 13 hal ini harus dipahami dalam konteks penyaliban Yesus. Pernyataan Yesus di bagian ini didahului dengan frase “setelah Yudas pergi” (bdk. 13:26-30). Jadi, ketika Yesus mengatakan “sekarang Anak Manusia dipermuliakan…”, hal ini harus dihubungkan dengan tindakan Yudas.

Dalam tulisan Yohanes, penyaliban memang diungkapkan dalam kaitan dengan pemuliaan Yesus. Di 12:23-24 Yesus mengatakan bahwa sudah tiba saat-Nya Anak Manusia dimuliakan (ayat 23), setelah itu Ia menjelaskan hal ini dalam konteks kematian yang membawa banyak buah (ayat 24, bdk. ayat 27). Ia juga menyebut kematian di kayu salib sebagai momen ketika Ia ditinggikan dari atas bumi (12:31-32, 34). Jadi, jalan ke salib adalah jalan menuju kemuliaan. Cross and glory are two sides of one coin.

Gambaran salib seperti ini sangat berbeda dengan yang ada di kitab injil lain. Bagi Yohanes salib bukanlah tragedi. Salib adalah kemuliaan. Itulah sebabnya Yohanes tidak mencatat kisah tentang Yesus yang tidak kuat mengangkat kayu salib dan harus dibantu oleh Simon dari Kirene. Yohanes tidak menulis tentang ketakutan dan kesedihan Yesus di Taman Getsemani. Selama proses interogasi pun figur Yesus di Injil Yohanes jauh lebih aktif dan dominan (bdk. 18:2023) daripada figur Yesus di kitab lain yang cenderung pendiam. Tidak heran beberapa penafsir bahkan menganggap bahwa di Injil Yohanes Yesuslah yang sedang menginterogasi Pilatus, bukan sebaliknya.

Penyaliban ini secara eksplisit dinyatakan akan terjadi dalam waktu dekat. Beberapa kata dipakai untuk mengungkapkan hal ini, misalnya “sekarang” (ayat 31), “segera” (ayat 32), dan “seketika saja” (ayat 33). Walaupun murid-murid mungkin tidak memahami hal ini sepenuhnya (bdk. 13:36-38), namun kesegeraan tersebut akhirnya menjadi kenyataan mulai pasal 18.

Jika diamati secara seksama, pemuliaan yang dicatat di 13:31-33 bersifat mutual (resiprokal). Artinya, bukan hanya Yesus yang memuliakan Bapa, tetapi Bapa juga memuliakan Dia (bdk. 17:1). Kematian Yesus memang di satu sisi memuliakan Yesus (12:23), tetapi di sisi lain sekaligus memuliakan Bapa (12:28). Relasi ini paling jelas terlihat dalam doa Yesus di 17:4-5 “Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang

Engkau berikan kepada-Ku untuk melakukannya. Oleh sebab itu, ya Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.”

Salib membawa kemuliaan bagi Bapa. Sebagai gantinya, Bapa akan memuliakan Yesus dalam bentuk membangkitkan Dia dari kematian dan mengangkat-Nya ke sorga. Walaupun dalam Injil Yohanes Yesus memiliki kuasa untuk bangkit dengan kuasa-Nya sendiri (2:19, 21; 10:18) maupun pergi ke sorga (14:28; 20:17), namun tidak dapat disangkal bahwa pemuliaan yang diterima Yesus sangat berkaitan dengan kebangkitan dan kenaikan-Nya ke sorga (7:39; 12:16)

Kemuliaan Yesus dalam kematian, kebangkitan, maupun kenaikan-Nya ke sorga semakin mempertegas suatu kebenaran yang penting, yaitu seluruh hidup Kristus merupakan kemuliaan. Dia memiliki kemuliaan sejak kekekalan (17:5), karena Ia memang adalah Allah (1:1). Kemuliaan-Nya juga dinyatakan dalam zaman Perjanjian Lama ketika Yesaya mendapat penglihatan yang luar biasa (12:39-41; bdk. Yes 6:1-8). Inkarnasi Kristus juga menyatakan kemuliaan Allah (1:14). Berbagai mujizat yang Ia lakukan pun menunjukkan hal yang sama (2:11). Kini, baik salib, kebangkitan maupun kenaikan-Nya ke sorga menunjukkan kemuliaan juga (13:31-32).

Walaupun dari perspektif Yesus salib merupakan kemuliaan – dan karena itu tidak perlu diratapi – namun Ia tetap memperhatikan situasi murid-murid-Nya. Dengan lembut Ia menyapa mereka dengan sapaan “anak-anak-Ku” (teknia, 13:33a). Sapaan ini hanya muncul sekali di Injil Yohanes dan tujuh kali dalam surat 1 Yohanes. Sapaan ini merupakan sapaan khas dari seorang rabi kepada muridnya atau sapaan khas dari seorang ayah kepada anggota keluarganya selama perayaan Paskah. Makna yang terkandung di dalamnya mengarah pada sebuah perasaan yang mendalam. Murid-murid Yesus dari sisi usia jelas bukan anak kecil lagi, tetapi dalam situasi khusus di pasal 13 Ia sengaja memakai sebutan ini untuk mengekspresikan betapa Ia mengasihi dan melindungi mereka. Beberapa versi dengan tepat memilih terjemahan “little children” (KJV/NASB/RSV).

Bagian selanjutnya dari 13:33b sedikit sulit untuk dipahami. Apakah murid-murid bisa atau tidak bisa pergi ke tempat yang akan dituju oleh Yesus? Sebagian penafsir berpendapat bahwa sama seperti orang-orang Yahudi yang tidak bisa pergi ke tempat Yesus pergi (7:3334; 8:21), demikian pula dengan murid-murid Yesus. Sebagian yang lain memegang pandangan sebaliknya. Ungkapan “ke tempat Aku pergi, tidak mungkin kamu datang” dipahami hanya ditujukan pada orang-orang Yahudi saja.

Kesulitan seperti di atas memang bisa dipahami. Yohanes beberapa kali memaksudkan makna ganda dalam suatu kata atau kalimat. Jika yang dimaksud “pergi” di 13:33 merujuk pada kematian di kayu salib saja, maka murid-murid memang tidak bisa ke sana. Walaupun Petrus pada akhirnya bisa mengikuti Yesus (13:26 “kelak”; 21:15-17, 19), namun kematiannya di kayu salib (menurut tradisi) tetap tidak bisa disamakan dengan kematian Yesus yang bersifat menyelamatkan. Jika “pergi” di sini mencakup “kenaikan ke sorga” (13:31-32; 14:28; 20:17), maka murid-murid Yesus bisa pergi ke sana (14:1-3). Bagaimanapun kita memahami pernyataan ini, Yesus secara jelas mengajarkan bahwa muridmurid berbeda dengan orang-orang Yahudi. Kalau orang-orang Yahudi akan mati di dalam dosa mereka (8:21) dengan dengan demikian tidak akan bertemu dengan Yesus, tetapi muridmurid Yesus akan tetap bersama dengan Dia di sorga (14:1-3).

Salib dan paradigma kasih (ayat 34-35)

Berdasarkan pemunculan tema yang sama di 15:9-16, sebagian penafsir menganggap bagian ini merupakan hasil peredaksian yang tidak tepat oleh pengikut Yohanes. Beberapa bahkan mengusulkan agar posisi 13:34-35 dipindah ke tempat lain yang dianggap lebih sesuai. Dugaan semacam ini terlalu spekulatif, memaksakan, dan seringkali menimbulkan masalah baru yang lebih besar daripada solusi yang ditawarkan. Penyelidikan yang teliti justru mengarah pada konklusi yang berbeda. Nasehat di 13:34-35 sangat cocok diberikan di bagian ini ketika Yesus sebentar lagi akan meninggalkan murid-murid-Nya (13:31-33). Mengingat Petrus masih belum memahami sepenuhnya bagian ini (13:36-38), Yesus lalu secara panjang lebar menjelaskan tentang kepergian-Nya (pasal 14).  Di pasal 15 Ia mengulang lagi perintah yang sama dengan ungkapan yang berbeda. Pengulangan semacam ini merupakan karakteristik penulisan Yohanes, baik dalam Injil Yohanes maupun Surat 1 Yohanes.

Apa yang diperintah Yesus di 13:34 merupakan perintah yang baru. Kebaruan ini memang ditekankan oleh Yesus, sebagaimana tampak dari posisi frase “perintah baru” yang diletakkan di awal kalimat (KJV “a new command I give unto you”, lihat juga NIV/RSV). Di tempat lain Yohanes juga menyinggung tentang perintah baru yang dalam taraf tertentu tidak baru (1Yoh 2:7-8).

Apa maksud dari “perintah baru” di sini? Yesus jelas tidak sedang merendahkan perintah Perjanjian Lama untuk mengasihi orang lain seperti diri sendiri (Im 19:18). Perintah Allah tetap bernilai kekal (bdk. Mat 5:17-19). Yesus hanya memperjelas makna sebenarnya dari perintah untuk mengasihi sesama.

Kebaruan ini harus dipahami dalam dua aspek. Pertama, kualifikasi kasih yang dituntut adalah “seperti Yesus mengasihi murid-murid” (13:34). Mengasihi seperti yang Yesus lakukan berarti menunjukkan kesetiaan (13:1 “sekarang Ia mengasihi mereka sampai kepada kesudahannya”). Kasih ini juga melibatkan sikap rendah hati untuk melayani orang lain (13:3-4). Kasih ini juga siap menerima kegagalan orang lain (13:36-38). Lebih dari semua itu, mengasihi seperti Yesus berarti rela berkorban bagi orang lain (15:12-13).

Kedua, kasih ini berkaitan dengan posisi murid-murid sebagai umat perjanjian yang baru. Penolakan bangsa Yahudi terhadap Yesus dan penerimaan orang-orang Yunani di pasal sebelumnya (12:20-22, 37-43) merupakan transisi yang sempurna bagi pembentukan umat yang baru. Konteks ucapan ini pada saat perjamuan untuk merayakan Paskah merupakan petunjuk yang perlu diperhatikan. Sebagaimana Paskah pertama di Perjanjian Lama dahulu merupakan tanda kelahiran umat Allah (Kel 12:11-14), demikian pula dengan Paskah yang sedang dirayakan Yesus dan murid-murid-Nya merupakan tanda kelahiran umat yang baru. Sebagai Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia (1:29, 36), darah-Nya menjadi tanda perjanjian yang baru (Luk 22:20; 1Kor 11:25).

Yohanes 13:35 merupakan penegasan bagi posisi murid-murid sebagai umat Allah yang baru. Perintah untuk mengasihi di teks ini bukan ditujukan pada semua orang, tetapi khusus di antara murid Tuhan (bdk. pengulangan “saling mengasihi” sebanyak 3x di ayat 34-35). Sebagaimana umat Allah di Perjanjian Lama harus memiliki gaya hidup tertentu yang berbeda dengan bangsa lain, demikian pula murid-murid harus membuktikan bahwa mereka berbeda dengan orang dunia. Semua orang harus tahu (13:35a) bahwa mereka merupakan komunitas yang khusus.

Penekanan pada kekhususan status murid-murid sebagai umat Allah yang baru ini disiratkan melalui peletakan kata “[milik]-Ku” (emoi) di bagian awal ayat 35b (lit. “bahwa milik-Ku murid-murid kamu adalah”). Di bagian sebelumnya Yesus memang sudah mengajarkan bahwa pengakuan terhadap diri-Nya sebagai Guru dan Tuhan menuntut gaya hidup yang sesuai dengan hidup Yesus (13:13-15; bdk. 1Yoh 3:23; 4:7-8, 11-12, 19). Dalam konteks kuno waktu itu yang cukup akrab dengan berbagai pola pemuridan, baik di kalangan para rabi Yahudi maupun filsuf Yunani, karakteristik suatu komunitas memegang peranan yang penting. Sebagai para pengikut Yesus, murid-murid dituntut membuktikan karakteristik mereka dengan cara meniru kehidupan dari Guru mereka.

Aplikasi

Kemampuan kita untuk mengasihi orang lain sangat dipengaruhi oleh pengalaman kita terhadap kasih Kristus. Jika kita memahami betapa besarnya kasih Kristus kepada kita, maka kita akan mampu membagi kasih yang besar tersebut kepada orang lain. Untuk memahami kebesaran dari kasih itu, kita perlu menyadari betapa berdosanya diri kita. Orang yang paling mengerti keberdosaannya yang sangat serius di hadapan Allah yang kudus adalah orang yang paling mengerti betapa besarnya kasih yang menutupi dosa itu. Dengan berbagi kasih Kristus kepada sesama, kita sedang menunjukkan siapakah Guru Agung dan Tuhan kita.

Jika kasih merupakan tanda khusus (Yoh 13:35) dan hal terbesar dalam kekristenan (Mat 5:23-24; 1Kor 13), orang-orang Kristen harus belajar meletakkan kasih di atas segalanya. Jangan sampai kita mengorbankan kasih demi hal-hal yang tidak penting. Apapun yang terjadi, kasih harus diprioritaskan lebih daripada aktivitas lain di pelayanan maupun karunia rohani tertentu. Soli Deo Gloria. #

Leave a Reply