Yakub Tri Handoko

Pendahuluan

Bagian ini merupakan nasehat Paulus kepada para hamba (budak) yang ada di antara jemaat Efesus. Pemberian nasehat secara langsung kepada para budak bukan hanya menunjukkan bahwa budak tersebut sudah menjadi orang percaya (Kristen), tetapi mereka benar-benar adalah tubuh Kristus yang diperlakukan secara sama. Sebagaimana para tuan mendapat nasehat dari Paulus (6:9), begitu pula para budak (6:5-8). Mereka juga diperlakukan sebagai penerima surat. Hal ini sedikit berbeda dengan situasi perbudakan modern yang dilakukan orang Amerika maupun Eropa dahulu. Walaupun sebagian budak mereka sudah menjadi Kristen, tetapi mereka tetap tidak diperlakukan sebagaimana saudara seiman yang lain. Mereka bahkan diperlakukan bukan sebagaimana manusia yang lain.

Apa yang dinasehatkan Paulus kepada jemaat sebenarnya juga ditujukan pada golongan masyarakat yang lain. Ketaatan yang berpusat pada Kristus yang diajarkan Paulus di sini (6:5-8) sama dengan ketundukan yang harus ditunjukkan oleh para isteri (6:22) maupun anak-anak (6:1). Para tuan bahkan diberi nasehat “perbuatlah demikian juga kepada mereka” (6:9). Yang berbeda hanyalah penerapan dari prinsip tersebut dalam sebuah konteks yang khusus, misalnya relasi suami-isteri, orang tua-anak, tuan-hamba.

Dalam bagian ini Paulus menasehati para budak untuk menaati tuan mereka. Paulus secara sengaja menyebut para tuan dengan “tuan-tuan di dunia”. Dalam bahasa Yunani kata yang dipakai adalah “menurut daging” (kata sarka, KJV “masters according to the flesh”). Keputusan mayoritas penafsir untuk menerjemahkan dengan “di dunia” memang tidak sepenuhnya salah, karena tuan-tuan di 6:5 selanjutnya dikontraskan dengan Tuhan kita “di sorga” (6:9).

Kontras antara tuan di dunia dan di sorga tidak berarti bahwa selama di dunia Tuhan bukanlah tuan kita. Sebaliknya, ketaatan kita kepada tuan di dunia harus muncul dari ketaatan kita kepada Tuan kita di sorga. Ungkapan seperti “sama seperti kepada Kristus” (6:5), “hamba Kristus” (6:6), “melakukan kehendak Allah” (6:6), “melayani Tuhan” (6:7) merupakan petunjuk yang sangat jelas bagi kebenaran di atas. Lebih jauh, jika ketaatan kita kepada para pemimpin tidak didasarkan pada ketaatan kepada Kristus, maka ketaatan itu justru sebagai bentuk disloyalitas kepada Kristus.

Sekilas nasehat Paulus pada para budak terlihat mubazir, karena tanpa diperintahkan Paulus pun semua budak, baik Kristen maupun non-Kristen – memang harus menaati tuan mereka. Apakah yang istimewa dari nasehat Paulus? Jika kita menyimak keseluruhan isi nasehat, kita akan menemukan bahwa penekanan Paulus memang bukan pada faktor ketaatan saja, tetapi jenis ketaatan seperti apa yang harus ditunjukkan (6:5-7) dan dasar eskhatologis dari ketaatan tersebut (6:8).

Jenis ketaatan (6:5)

Para budak harus menunjukkan ketaatan yang disertai dengan “takut dan gentar” (6:5a). Frase ini harus dipahami sebagai bentuk ungkapan. Makna yang diekspresikan bukanlah sesuatu yang negatif, seakan-akan para budak harus gemetar atau benar-benar takut dalam arti yang hurufiah. Frase ini beberapa kali muncul dalam PB dengan makna “hormat” (2 Kor. 7:15; Flp 2:12). Bahkan kata “takut” sebelumnya sudah muncul dalam konteks sikap isteri terhadap suami (5:33). Tidak salah jika beberapa versi Inggris memilih terjemahan “penuh hormat” (NLT/NJB “deep respect”).

Penggunaan frase “takut dan gentar” di PL juga memberikan nuansa tambahan dalam ungkapan ini.  Perasaan takut dan gentar bersumber dari Allah (Kej 9:2; Kel 15:16; Ul 2:25; Mzm 2:11; Yes 19:16). Allah adalah subyek yang menghasilkan perasaan ini, baik dari binatang kepada manusia maupun dalam relasi antar manusia.

Apa yang diajarkan Paulus di 6:5a merupakan kontras terhadap prinsip umum yang berlaku pada waktu itu. Para tuan memiliki prinsip “ketakutan menghasilkan loyalitas yang lebih besar”. Berbekal prinsip ini, para tuan cenderung bertindak sangat kejam kepada para budak supaya para budak menaati mereka. Dalam hal ini ketaatan yang dihasilkan jelas tidak seperti yang dimaksud Paulus di 6:5a.

Jenis ketaatan lain yang dituntut Paulus adalah ketaatan yang disertai ketulusan hati, seperti kepada Tuhan (6:5b). Dalam bahasa Yunani kata yang dipakai untuk “ketulusan hati” adalah “singleness of heart” (ASV/KJV/NRSV). Kata ini menyiratkan sikap hati yang tidak mendua. Apa yang dilakukan sama dengan yang ada di dalam hati. Bukan hanya itu saja, sikap yang ditunjukkan pun selalu sama di segala waktu dan tempat, karena bersumber dari hati yang satu pula. Walaupun tuan di bumi tidak selalu bisa melihat apa yang dilakukan (6:6a), tetapi ada Tuan di sorga yang selalu mengawasi dan siap menghakimi kita (6:9).

Dua jenis ketaatan di atas selanjutnya diberi tambahan “seperti kepada Kristus” (LAI:TB “sama seperti kamu taat kepada Kristus”). Tambahan ini menunjukkan bahwa hormat dan ketulusan harus berpusat kepada Kristus. Konsep kristosentris ini nanti akan ditekankan berulang-ulang (6:6, 7, 8). Dalam suratnya yang lain Paulus mengajarkan agar segala sesuatu yang kita lakukan atau katakan, bahkan untuk urusan yang tampaknya sepele sekalipun, semua harus dilakukan demi Kristus (Kol 3:17; 1 Kor 10:31).

Konsep ini mengajarkan kepada kita dua hal penting tentang ketaatan: (1) tidak ada pemisahan antara bidang kehidupan yang rohani (sakral) dan jasmani (sekular). Segala sesuatu adalah rohani, karena dilakukan sebagai bentuk ketaatan kepada Kristus; (2) ketaatan kepada tuan bersifat inklusif (1 Pet 2:18; Kol 3:22-25), tetapi sejauh tidak berkontradiksi dengan ketaatan kepada Kristus. Dalam segala sesuatu dan kepada setiap tuan/pemimpin kita memang harus tunduk, bahkan kepada yang begis sekalipun, namun ketaatan itu tidak boleh bertentangan dengan kehendak Kristus.

Penjelasan (6:6-7)

Bagian ini merupakan uraian detil dan praktis tentang “hormat dan tulus hati” di 6:5. Apa yang dimaksud dengan hormat dan tulus hati seperti kepada Kristus? Pertama, ketaatan tidak boleh hanya dilakukan di depan mata tuan atau pemimpin kita (6:6a). Secara hurufiah perintah ini berbunyi “bukan dengan cara pelayanan-mata sebagai penyenang manusia” (NASB “not by way of eye-service, as men-pleasers”. Nasehat yang sama juga disampaikan Paulus kepada para budak dalam Surat Kolose (3:22). Maksudnya, kita tidak boleh melakukan ketaatan sekadar di depan tuan/pemimpin kita untuk menyenangkan hati mereka.

Sekilas larangan untuk menyenangkan tuan di sini berkontradiksi dengan nasehat sebeumnya untuk menaati mereka. Bukankah pada saat kita menaati mereka kita menyenangkan hati mereka? Apakah yang salah dalam upaya kita menyenangkan para pemimpin?

Hal ini sebaiknya dipahami dalam dua sisi. Berdasarkan konteks yang ada, tindakan menyenangkan ini hanya dilakukan di depan mata para tuan (ophthalmodouleia). Tindakan seperti ini jelas tidak menunjukkan ketulusan hati di 6:5. Dalam tulisan Yunani sekuler waktu itu, kata “penyenang manusia” (anthrōpareskos) diterapkan juga pada para budak yang hanya menunjukkan ketaatan pada waktu tuan mereka ada. Berdasarkan penggunaan kata ini di PL (Mzm 53:6 LXX, “para pengepung” = “para penyenang manusia”) dan apokrifa (Keb. Sol. 4:7, 8, 19) terlihat bahwa tindakan menyenangkan ini bermakna negatif, karena mengorbankan Allah atau prinsip kebenaran. Paulus dalam pelayanannya sangat menentang sikap ini (Gal 1:10; 1 Tes 2:4). Ia bahkan mengatakan bahwa kalau ia menyenangkan manusia (dengan mengorbankan kebenaran Injil), maka ia bukanlah hamba Allah.

Kedua, ketaatan harus dilakukan dengan kesadaran bahwa kita adalah hamba Kristus yang dengan segenap hati melakukan kehendak Allah (6:6b). Sebutan “hamba Kristus” ini merupakan status teologis. Di tempat lain Paulus mengajarkan bahwa semua orang adalah hamba Tuhan (1 Kor 7:22), entah orang itu budak atau orang bebas. Bertolak dari kebenaran ini Paulus memperingatkan kepada tuan-tuan untuk berhati-hati memperlakukan budak mereka, karena baik tuan maupun budak memiliki Tuan yang sama di sorga (6:9 “Tuhan mereka dan Tuhan kamu ada di sorga”).

Kata “dengan segenap hati” secara hurufiah berarti “keluar dari jiwa” (ek psychēs). Kata “jiwa” (psychē, 6:6b) maupun “hati” (kardia, 6:5) dalam Alkitab seringkali memiliki makna yang tumpang-tindih, bahkan cenderung sinonim. Penggunaan dua kata ini sekaligus dalam konteks yang sama menyiratkan sebuah penekanan. Penggunaan ini menegaskan dorongan internal yang melandasi tindakan ketaatan. Ketaatan terutama bukan tuntutan atau paksaan dari luar, namun buah dari hati dan jiwa yang berpusat kepada Allah.

Ketika Paulus menyamakan ketaatan kepada tuan di bumi dengan “melakukan kehendak Allah”, ia sebenarnya sedang memberikan penilaian yang luar biasa tinggi terhadap ketaatan. Dalam Surat Efesus ia sering membicarakan tentang kehendak Allah (to thelēma tou theou). Kehendak ini sudah ada sejak kekekalan dan direalisasikan di dalam Kristus (1:5, 9, 11). Mengingat keberadaan orang Kristen merupakan realisasi dari kehendak Allah yang sempurna sejak kekekalan, maka orang percaya harus terus-menerus berusaha untuk menemukan kehendak Allah dalam hidup mereka (5:10, 17). Nah, salah satu yang bisa dilakukan adalah menaati para tuan. Dengan demikian kita dapat melihat bahwa ketaatan kepada para tuan memiliki nilai teologis yang sangat agung sebagai penggenapan dari kehendak Allah yang kekal dan sempurna.

Ketiga, ketaatan harus dilakukan dengan penuh kerelaan seperti melayani Tuhan (6:7).

Terjemahan “rela” di ayat ini memiliki makna yang tidak sekuat kata Yunani eunoia yang dipakai (6:7a). Kata ini seharusnya diterjemahkan “antusias” (NRSV/NET/NLT “enthusiasm”). Memiliki ketaatan yang penuh kerelaan saja sudah sangat berat bagi sebagian besar budak waktu itu, terutama apabila mereka memiliki tuan yang bengis. Bagaimanapun, tuntutan Alkitab lebih daripada sekadar rela. Ketaatan ini harus penuh antusias.

Antusiasme dalam melayani tuan ini berikutnya disejajarkan dengan pelayanan kita kepada Kristus Yesus (6:7b). Ketika kita melayani Tuhan, maka secara manusia tidak ada paksaan untuk melakukan itu. Kita mengerjakan pelayanan tersebut karena kita menyadari bahwa Kristus sudah mati bagi kita di kayu salib, sehingga kita pun wajib memberikan seluruh hidup kepada-Nya. Motvasi pelayanan seperti inilah yang membuat orang lain melayani dengan penuh gairah.

Apa yang kita lakukan kepada tuan sebenarnya lebih merupakan apa yang kita lakukan bagi Kristus. Ketaatan kita terutama bukan untuk kepentingan tuan/pemimpin kita, namun untuk kepentingan Kristus. Dengan kesadaran ini kita pasti akan mampu menunjukkan ketaatan yang tanpa paksaan atau ancaman, melainkan ketaatan yang penuh antusiasme.

Dasar ketaatan (6:8)

Dalam bagian ini Paulus lebih menyoroti prinsip umum yang berlaku untuk semua orang, sekalipun fokus nasehat tetap pada para budak. Prinsip yang mau diajarkan berlaku untuk “setiap orang” (hekastos). Dalam hal ini, yang dimaksud semua orang adalah “baik hamba maupun orang merdeka” (eite doulos eite eleutheros). Di hadapan Kristus segala perbedaan status sosial menjadi tidak relevan lagi, karena semua manusia adalah sama-sama berdosa dan sama-sama ditebus dengan darah Kristus (Gal 3:28; Kol 3:11). Hal ini memang tidak berarti perbedaan status sosial ditiadakan. Paulus juga tidak memiliki otoritas atau kuasa untuk menghapuskan perbudakan. Hirarki sosial memang tetap ada, tetapi diubah sesuai kebenaran Kristus; bukan perbudakan, tetapi kepemimpinan Kristiani.

Cara Paulus mengaitkan ketaatan ini dengan penghakiman di akhir jaman (6:8; Kol 3:24a) merupakan sesuatu yang sangat menarik. Beberapa tulisan kuno mengindikasikan bahwa sebagian budak berusaha menyenangkan hati tuan mereka melalui ketaatan dengan harapan bahwa mereka akan mendapatkan makanan dan pakaian yang lebih baik, bahkan dibebaskan dari status sebagai budak. Semua ini adalah upah yang jasmaniah dan sementara. Upah ini pun juga tidak bersifat pasti, tergantung pada kebaikan hati masing-masing tuan.

Berbeda dengan hal tersebut, Paulus menekankan upah eskhatologis sebagai motivasi ketaatan. Apapun yang kita lakukan, dalam kapasitas kita sebagai apapun, tetap akan diperhitungkan Tuhan di penghakiman terakhir. Jika kita melakukan semua dengan penuh ketaatan sesuai tuntutan firman Tuhan, maka kita pasti akan mendapatkan upah rohani yang kekal dari Allah. Sebaliknya, apabila kita gagal menunjukkan ketaatan, maka kita pun harus mempertanggungjawabkan hal itu di depan tahta penghakiman Kristus. #

Leave a Reply