Yakub Tri Handoko, Th.M.

Ide tentang kasih Allah terkesan sudah menjadi sedemikian akrab bagi kita. Kita mungkin berpikir bahwa konsep ini sangat sederhana. JIka dicermati lebih mendalam, konsep ini jauh dari kata mudah. Donald A. Carson, alumnus Universitas Cambridge yang juga seorang pakar PB, menulis sebuah buku dengan judul The Difficult Doctrine of the Love of God. Wayne Grudem dalam buku Systematic Theology mengungkapkan bahwa kita bukan hanya tidak bisa memahami seluruh sifat/keberadaan Allah, tetapi kita juga tidak bisa memahami satu hal tentang Allah sepenuhnya.

Doa Paulus di Efesus 3:14-21 sekaligus mengajarkan keagungan kasih Kristus. Memahami kasih Kristus memang bukan sesuatu yang mudah. Kasih ini begitu sempurna dan melampaui segala pengetahuan, sehingga untuk memahaminya merupakan sebuah pergumulan spiritual, bukan hanya intelektual belaka.

Dalam teks ini Paulus menunjukkan sikapnya dalam berdoa, yaitu “sujud” (ayat 14a). Ia lalu menjelaskan obyek doanya, yaitu Bapa sebagai sumber segala keturunan (ayat 14b-15). Setelah itu ia menaikkan tiga isi doa yang ditandai dengan kata sambung hina (“supaya”) di ayat 16, 18, dan 19b. Bagian terakhir dari doa ini adalah sebuah pujian (doxology) kepada Allah (ayat 20-21).

Sikap dalam doa (ayat 14a)

Dari sisi tata bahasa Yunani, ayat 14 sebenarnya sangat terkait dengan ayat 1. Ada beberapa petunjuk bagi hal ini. Pertama, pemunculan frase “itulah sebabnya” (touto charin) di ayat 1 dan 14a. Kedua, kalimat Paulus di ayat 1 memang belum selesai (tidak ada kata kerja). Ia baru menjelaskan siapa dirinya, lalu dengan cepat berpindah untuk menerangkan hal-hal lain di ayat 2-13. Paulus baru melengkapi kalimat yang sempat terpotong itu di ayat 14. Dengan demikian kita bisa mengatakan bahwa ayat 2-13 merupakan anak kalimat yang sangat panjang. Hal ini tidak usah mengagetkan kita karena salah satu karakteristik Surat Efesus adalah penggunaan kalimat yang sangat panjang.

Pertimbangan tata bahasa di atas berguna untuk memahami apa yang dimaksud dengan “itu” (touto) dalam frase touto charin (ayat 1 maupun 14). Touto merujuk balik ke pasal 2, yaitu peruntuhan tembok yang membatasi orang-orang Yahudi dan Yunani oleh kuasa injil. Paulus tidak hanya puas dengan hal itu. Ia ingin agar jemaat terus bertumbuh dalam pengenalan yang benar tentang Allah. Itulah sebabnya (touto charin) ia sujud kepada Allah.

Kata “sujud” secara hurufiah berarti “menekuk lutut” (kamptō ta gonata). Penggunaan istilah ini pasti bukan tanpa alasan. Dalam tradisi Yahudi ada dua sikap doa yang paling umum, yaitu berdiri (Mar 11:25; Luk 18:11) atau berlutut (1Raj 8:24; Ez 9:5; Luk 22:41; Kis 21:5). Dalam Alkitab sikap bersujud memiliki makna tertentu. Sikap ini menunjukkan hormat atau ketundukan (Yes 45:23; bdk. Flp 2:11). Teks yang menarik untuk diperhatikana dalah Ezra 9:5, 15.  Dalam teks ini Ezra menjelaskan alasan ia berlutut: ia tidak tahan berdiri di hadapan Allah yang benar dan penuh kasih (ayat 15).

Obyek doa (ayat 14b-15)

Paulus menyebut Allah sebagai “Bapa”. Ini merupakan sebutan yang umum (7x dalam Surat Efesus). Yang tidak umum adalah keterangan di ayat 15. Bapa disebut sebagai “yang daripada-Nya semua turunan di sorga dan di bumi menerima namanya”. Apa yang dimaksud dengan “Bapa sebagai sumber segala keturunan” atau “menerima namanya”?

Penggunaan kata “keturunan” (patria) membentuk permainan kata dengan kata “bapa” (patera). Dalam tradisi Yahudi konsep tentang bapa memang sangat berkaitan dengan sumber. Segala sesuatu dalam taraf tertentu dapat dipahami sebagai keturunan Allah. Konsep ini bahkan bisa ditemukan dalam filsafat kafir juga (Kis 17:28-29).

Sebagian teolog memahami “keturunan di sorga dan di bumi” sebagai satu keluarga, yaitu orang-orang percaya yang sudah mati (di sorga) dan yang masih hidup (di bumi). Penafsiran ini tidak memiliki dasar yang kuat. Kita sebaiknya memahami ungkapan ini secara lebih luas sebagai rujukan pada setiap makhluk di sorga (malaikat) maupun di bumi (manusia). Ada beberapa alasan bagi pandangan ini:

  1. Frase pasa patria (LAI:TB “semua keturunan”, juga NIV/KJV) seharusnya diterjemahkan “setiap keturunan” (ESV/NASB/RSV/NRSV), karena frase ini berbentuk tunggal. Jika ini diterima, maka Paulus sedang memaksudkan setiap makhluk secara individu (tunggal), bukan hanya secara kelompok (jamak).
  2. Tradisi rabi Yahudi membagi semua makhluk dalam kategori higher family (malaikat di sorga) dan lower family (manusia).
  3. Terjemahan LAI:TB “semua keturunan” (NIV/KJV) mengasumsikan keberadaan artikel di depan kata patria, padahal dalam teks Yunani tidak ada artikel.
  4. Paulus sebelumnya sudah membicarakan tentang sorga dalam kaitan dengan para malaikat (1:21).

Frase “menerima namanya” (onomazetai) secara hurufiah berarti “diberi nama”. Dalam Alkitab pemberian nama menunjukkan otoritas si pemberi. Salah satu contoh adalah otoritas manusia atas seluruh binatang (Kej 1:26, 28) yang ditunjukkan melalui pemberian nama kepada setiap binatang (Kej 2:20).

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa Bapa adalah sumber dari semua mahkluk dan pemegang otoritas atas mereka semua. Dengan kata lain, Paulus sedang menekankan kekuasaan Allah melalui sebutan ini. Penekanan seperti ini sangat penting, karena ia nanti akan memohon kekuatan Allah atas jemaat Efesus (3:16-17a). Konsep tentang kuasa Allah ini juga muncul kembali di bagian doxology (3:20).

Isi doa (ayat 16-19)

Dalam teks Yunani kata sambung hina (“supaya”) muncul 3 kali (ayat 16, 18, 19b). Kata ini menerangkan “aku menekuk lutut” di ayat 14a. LAI:TB dengan bijaksana membantu para pembaca menangkap hal ini dengan cara memberi tambahan “aku berdoa supaya”, walaupun kata “aku berdoa” tidak ada dalam teks Yunani.

Supaya kita dikuatkan Allah (ayat 16-17a)

Doa ini merupakan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh jemaat Efesus. Mereka terlihat sedang dalam keadaan takut atau tawar hati melihat kesesakan yang dialami Paulus (3:13). Menariknya, walaupun Paulus yang sedang mengalami kesesakan dan palng membutuhkan kekuatan Allah, ia justru berdoa bagi jemaat.

Dari cara Paulus berdoa tampak bahwa ia memberi penekanan khusus pada hal ini. Ia memakai ungkapan “dikuatkan dalam kuasa” (dunamei krataiōthēnai, LAI:TB “menguatkan dan meneguhkan”). Tanpa tambahan “dalam kuasa” sebenarnya artinya sudah jelas, namun Paulus tetap menambahkan kata ini sebagai bentuk penekanan. Selanjutnya, kekuatan ini diberikan “menurut kekayaan kemuliaan-Nya” (ayat 16a; bdk. Rom 9:23). Ide tentang kekuatan dan kemuliaan memang sangat erat (Rom 6:4; Kol 1:11). Ketika Allah menunjukkan kuasa-Nya, orang melihat kemuliaan-Nya. Begitu pula ketika Ia menyatakan kemuliaan-Nya, Ia biasanya menggunakan cara-cara yang sekaligus membuktikan kekuatanNya. Seandainya Allah menguatkan kita menurut kemuliaan-Nya saja, hal itu sudah lebih daripada cukup. Bagaimanapun, Paulus menegaskan bahwa pemberian kekuatan ini menurut kekayaan kemuliaan-Nya. Betapa besarnya kekuatan yang Ia berikan!

Kekuatan yang dimaksud di sini bukanlah kuasa untuk mengubah situasi kita. Kekuatan ini adalah kekuatan yang bersifat internal. Kekuatan ini diberikan melalui Roh Kudus dalam batin kita (ayat 16b). Pemberian kuasa secara internal ini juga dipertegas lagi di ayat 17a bahwa Kristus diam di dalam hati kita. Dalam bagian doksologi kuasa ini dijelaskan bekerja di dalam kita (ayat 20). Dari semua penjelasan ini kita dapat melihat bahwa manusia lahiriah atau situasi kita bisa tetap buruk, namun manusia batiniah kita tetap diperbarui (2Kor 4:16; Kol 3:10).

Dari ungkapan Paulus di ayat 16-17a terlihat bahwa kuasa ilahi dalam diri kita dikerjakan melalui Roh Kudus dan Kristus. Kaitan antara Roh Kudus dan kuasa sudah sedemikian jelas, karena Roh Kudusah yang memberikan kuasa (Kis 1:8; Rom. 1:4; 15:19; 1Kor.2:4; 1 Tes 1:5). Dalam kaitan dengan Kristus, kata “diam” (katoikeō) di sini lebih tegas daripada paroikeō (“singgah”). Kata katoikeō menyiratkan permanensi. Jadi, kehadiran Roh Kudus dan Kristus dalam diri kita ibarat koin dengan dua sisi yang saling melengkapi. Konsep ini sekaligus menegaskan peranan Allah Tritunggal dalam menguatkan kita: Bapa memberi kekuatan melalui Roh Kudus dan Kristus.

Supaya kita memahami dan mengenal kasih Kristus (ayat 17b-19a)

Sebelum membahas bagian ini, kita perlu menentukan lebih dahulu apakah ayat 17b (“kamu berakar dan berdasar dalam kasih”) terkait dengan bagian sebelumnya (ayat 16-17a) atau sesudahnya (ayat 18-19a). Pilihan ke-1 diambil oleh penerjemah LAI:TB dan NRSV, sedangkan yang ke-2 diadopsi NIV, NASB, dan KJV. Dari dua pilihan ini, yang terakhir tampak lebih kuat. Ayat 17b berbicara tentang kasih Kristus, sehingga tidak terlalu cocok jika dikaitkan dengan pembahasan sebelumnya tentang kekuatan Allah. Sebaliknya, tema ini sangat sesuai dengan ayat 18-19a yang memfokuskan pada kasih Kristus.  Jika hal ini diterima, maka kita bisa melihat penekanan Paulus di ayat 17b-19a, karena ayat 17b dimulai dengan “dalam kasih” (lit. “dalam kasih kamu telah dibangun dan telah didasarkan).

Doa Paulus adalah supaya jemaat Efesus dan semua orang kudus dapat memahami dan mengenal kasih Kristus. Kata “dapat” yang dipakai di ayat 18a adalah exischysēte, yang secara hurufiah berarti “dimampukan”. Kata ini jelas berhubungan erat dengan ide tentang kekuatan Allah di ayat 16-17a. Dari sini kita bisa menarik konklusi bahwa salah satu tujuan pemberian kuasa di bagian sebelumnya adalah memampukan jemaat memahami kasih Kristus.

Tindakan “memahami” (ayat 18) atau “mengenal” (ayat 19a) tidak boleh dipahami sebagai pergumulan intelektual belaka. Ada beberapa petunjuk yang mengarah pada pandangan ini: (1) kasih Kristus melampaui segala pengetahuan (ayat 19a); (2) pemahaman ini hanya dimungkinkan melalui doa; (3) pemahaman ini terkait dengan diakarkan dan dibangun di dalam kasih (ayat 17b); (4) kata “mengenal” dalam Alkitab seringkali mengandung makna yang lebih daripada sekadar persepsi intelektual.

Paulus menggambarkan kasih seperti bentuk kubus (panjang, lebar, tinggi, dalam). Gambaran seperti ini sudah akrab bagi penerima surat, karena kubus memang seringkali menunjukkan ide kesempurnaan. Ruang mahakudus berukuran 20 x 20 hasta (2 Taw 3:8). Sorga juga digambarkan sebagai sebuah kota berbentuk kubus (Why 21:16-17). Terlepas dari isu apakah Paulus sedang memikirkan kesempurnaan bait Allah atau sorga, makna yang disiratkan sudah jelas: kasih Kristus melampaui semua perhitungan geometri manusia.

Kasih ini bukan hanya sempurna (ayat 18), tetapi juga melampaui segala pengetahuan (ayat 19a). Keterangan ini menjelaskan mengapa untuk memahami kasih Kristus Paulus perlu berdoa. Kasih ini begitu besar dan tidak mungkin dipahami  dengan akal manusia yang sangat terbatas.

Pembahasan tentang kasih memang sangat diperlukan oleh jemaat Efesus yang sedang kuatir dengan kesesakan Paulus. Ketika penderitaan terjadi pada orang benar, kita kadangkala mempertanyakan kasih Allah. Melalui doa ini Paulus mengajarkan bahwa ketika kita tidak memahami kasih Allah, itu bukan disebabkan ketidakadaan kasih itu, namun kesempurnaan dari kasih tersebut yang melampaui pikiran kita.

Supaya kita dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah (ayat 19b)

Pembacaan sekilas sudah cukup untuk menunjukkan penekanan Paulus dalam bagian ini. Akar kata “penuh” diulang dua kali. Paulus juga menambahkan kata “seluruh”. Seandainya kita dipenuhi dengan sedikit saja dari diri Allah, maka hal itu sudah lebih dari cukup. Kenyataannya, kita dipenuhi dengan kepenuhan Allah, bahkan seluruh kepenuhan-Nya!

Dalam bagian sebelumnya Paulus sudah menyatakan bahwa jemaat adalah kepenuhan Kristus (1:23). Apa maksud dipenuhi dengan kepenuhan Allah? Ungkapan ini jelas tidak boleh dipahami secara spasial atau material, sebab Allah adalah Roh (Yoh 4:24). Di bagian selanjutnya Paulus meberikan petunjuk untuk memahami konsep ini. Efesus 4:13 memakai ungkapan ini lagi dan mengaitkannya dengan pertumbuhan rohani yang komprehensif (iman, pengetahuan, kedewasaan, tingkat pertumbuhan). Dari teks ini terlihat bahwa kepenuhan Allah berbicara tentang kesempurnaan.

Doksologi (ayat 20-21)

Dalam tradisi doa Yahudi di sinagog (rumah ibadat orang Yahudi), sebuah doa biasanya diakhiri dengan pemberian ujian/kemuliaan kepada Allah (doksologi). Bagaimanapun, posisi pemunculan doksologi di ayat 20-21 cukup menarik perhatian, karena  doksologi biasanya diletakkan di akhir sebuah surat. Efesus 3:20-21 merupakan salah satu dari beberapa doksologi yang Paulus letakkan bukan di akhir surat (bdk. Rom 1:25; 11:36). Ketika Paulus mengakhiri sebuah pembahasan dengan doksologi (walaupun bukan di akhir surat), itu berarti bahwa ia sedang terdorong oleh emosi yang kuat tentang Allah. Di Efesus 3:20-21 ia begitu dikuasai oleh konsep yang luar biasa tentang kekuatan Allah yang sangat besar, kasih Kristus yang sempurna, dan kepenuhan Allah yang melimpah dalam diri orang percaya, sehingga ia tidak tahan untuk tidak memberikan pujian kepada Allah.

Dalam bagian doksologi Paulus menyinggung beberapa ide yang sudah ia utarakan dalam doanya, yaitu kuasa Allah yang besar (3:15-16, 20), kuasa yang ada dalam diri orang percaya (3:16, 20), dan kesatuan antara Kristus dan jemaat (3:17a, 21). Tiga konsep ini bahkan juga muncul  di bagian lain dalam surat ini: pemberian  Allah yang besar  (1:18, 19; 2:7; 3:19), kuasa untuk orang percaya (1:19; 3:7, 16, 18), kesatuan Kristus-jemaat (1:22, 23; 3:10).

Walaupun doa Paulus sudah begitu indah dan berbobot, namun pemberian Allah tetap melebihi doa tersebut (ayat 20). Walaupun Paulus sudah memikirkan dengan matang apa saja yang diperlukan oleh jemaat Efesus, tetapi Allah memberikan lebih dari apa yang ada dalam pikiran Paulus. Secara khusus hal ini sangat diperlukan mengingat kasih Kristus memang melebihi pengetahuan manusia. Semua pemberian yang melimpah ini terutama bukan untuk kepentingan orang percaya, tetapi untuk kemuliaan Allah. Kemuliaan ini tercermin dalam kesatuan jemaat dan Kristus. #

Leave a Reply