Yakub Tri Handoko, M. Th.

Di pasal 14 ini Paulus sedang membahas tentang perselisihan antara golongan yang “kuat” dan “lemah” imannya. Inti pertengkaran terpusat pada persoalan makanan (14:2-3) dan hari tertentu (14:5-6). Para penafsir umumnya melihat masalah ini dalam kaitan dengan perbedaan etnis jemaat Roma. Mereka yang berlatarbelakang Yahudi masih tetap memegang praktek hidup yang lama seputar peraturan makanan dan hari Sabat, sedangkan yang lain menganggap dua hal ini tidak mengikat sama sekali. Menilik dari sikap Paulus yang fleksibel dalam masalah ini (14:6), kemungkinan besar praktek hidup tersebut hanya sekadar kebiasaan lama yang sulit ditinggalkan dan tidak melibatkan kesalahan konsep teologis yang penting.

Dalam perselisihan ini, masing-masing pihak saling menghakimi (14:3-4, 10). Paulus lalu memberikan dasar teologis yang penting mengapa tindakan menghakimi sesama adalah tidak tepat. Setiap orang Kristen memiliki tuan yang sama, yaitu Tuhan Yesus. Yang berhak menghakimi bukanlah orang lain (sesama hamba), tetapi Tuhan sendiri (14:4). Bahkan setiap orang nanti di akhir zaman harus memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan Yesus (14:10, 12).

Ayat 7-9 yang akan kita bahas sekarang berfungsi sebagai penjelasan tentang Ke-Tuhan Kristus atas hidup kita. Bagian ini menerangkan mengapa Kristus adalah Tuhan dalam hidup kita. Paulus menguraikan hal ini melalui penggunaan kata sambung “sebab” sebanyak 3x (ayat 7, 8, 9). Tiga kata “sebab” di sini tidak sejajar. Yang ke-1 menerangkan ayat di atasnya, yang ke-2 menerangkan yang ke-1, yang ke-3 menerangkan yang ke-2. Perhatikan struktur di bawah ini:

Melakukan apapun tidak apa-apa, yang penting dilakukan untuk Tuhan (ayat 6)
Sebab kita hidup dan mati bukan untuk diri kita sendiri (ayat 7)
Sebab hidup dan mati kita adalah untuk dan milik Tuhan (ayat 8)
Sebab Kristus sudah mati dan bangkit untuk menjadi Tuhan (ayat 9)

Kita hidup dan mati bukan untuk diri kita sendiri (ayat 7)

Ungkapan “tidak seorang pun” (oudeis) yang muncul dua kali di ayat ini berfungsi untuk memberikan penekanan bahwa baik yang “kuat” maupun yang “lemah” (14:1-2) adalah sama di mata Tuhan. Tidak seperti orang “kuat” yang menghina dan tidak mau menerima pihak yang “lemah” (14:1-2), Tuhan memperlakukan orang lemah secara sama (14:3b). Dengan demikian, kedua pihak tersebut juga wajib menganut perspektif dan cara hidup hidup yang sama.

Semua orang tidak boleh hidup untuk dirinya sendiri. Nasihat ini tampaknya perlu didengungkan terus-menerus dengan lebih keras, karena banyak orang Kristen bahkan terpengaruh dengan humanisme, yaitu sebuah ideologi yang menempatkan manusia sebagai pusat kehidupan, penentu segala sesuatu, dan tujuan dari hidup. Situasi ini sangat ironis. Hakekat sejati dari dosa adalah berpusat pada diri sendiri (the very essence of sin is selfcentredness), sedangkan orang Kristen sudah dibebaskan dari ikatan dosa. Hawa jatuh ke dalam dosa karena ia ingin menjadi sama seperti Allah yang berhak menentukan apa yang baik dan yang jahat (Kej 3:4-5). Manusia yang diciptakan menurut gambar dan rupa Allah ternyata masih belum puas dan ingin menjadi persis seperti Allah.

Yang menarik dari nasihat Paulus di sini adalah rujukan tentang kematian. Persoalan yang sedang dibahas di Roma 14 tidak ada yang behubungan secara langsung dengan kematian. Pasal ini membahas tentang bagaimana orang Kristen harus hidup. Pemunculan ide tentang kematian secara konsisten di ayat 7, 8, 9 memiliki dua fungsi: (1) menegaskan bahwa seluruh eksistensi orang Kristen, baik waktu hidup di dunia ini maupun di kekekalan nanti, diatur oleh prinsip yang satu dan yang sama. Tidak ada satu detik pun dalam hidup kita yang kita pakai untuk kepentingan kita sendiri; (2) mempersiapkan pembaca pada hari penghakiman (14:10b, 12).

Sekilas kita mungkin akan heran dengan frase “mati untuk dirinya sendiri”. Kita dengan mudah bisa memahami “hidup untuk diri sendiri” (banyak contoh di sekitar kita), namun apa arti “mati untuk dirinya sendiri”? Apakah ada orang yang mati demi dirinya sendiri? Ternyata banyak. Berbagai tindakan yang tampaknya heroik tidak selamanya muncul dari motivasi yang benar (untuk kepentingan orang lain). Paulus bahkan mengingatkan tentang orang-orang yang mau mengorbankan segala yang ia punya, bahkan tubuhnya sendiri, tetapi dengan motivasi yang keliru (1Kor 13:3). Ketika tindakan heroik dilakukan untuk kepentingan sendiri (menunjukkan keberanian, kekuatan, dsb), maka tindakan itu tidak beda dengan tindakan egoisme.

Begitu pula dengan tindakan bunuh diri. Pada hakekatnya tindakan ini adalah sebuah egoisme. Orang yang bunuh diri ingin memberikan kenyamanan (palsu) untuk dirinya. Ia tidak ingin menanggung malu maupun menderita, karena dua hal ini tidak menyenangkan bagi dirinya. Dengan demikian pada dasarnya dia telah memperalat kematian bagi kepentingan diri sendiri.

Pada zaman Paulus pun ada sebagian orang yang menganggap diri berkuasa atas hidup dan kematian mereka. Para penganut filsafat Stoa sangat dikenal sebagai orang-orang yang sangat anthroposentris (berpusat pada manusia/diri sendiri). Kebahagian maupun kesedihan ditentukan oleh cara pikir dan disiplin masing-masing orang. Mereka bahkan berpikir bahwa mereka memiliki hak untuk menentukan cara dan waktu kematian (Leon Morris).

Hidup dan mati kita adalah untuk dan milik Tuhan (ayat 8)

Ayat ini memuat kata “Tuhan” sebanyak tiga kali. Hal ini menyiratkan sebuah penegasan: Tuhan adalah pusat dan segala-galanya dalam hidup orang percaya. Jika kita perhatikan dengan seksama, maka kita akan menemukan bahwa Paulus di ayat ini mengajarkan dua hal yang berbeda (walaupun sangat berkaitan): ayat 8a berbicara tentang hidup-mati untuk Tuhan, sedangkan ayat 8b tentang hidup-mati milik Tuhan. Bagian pertama tentang tujuan hidup, sedangkan yang kedua tentang kepemilikan hidup.

Konsep “hidup untuk Tuhan” dalam teologi Paulus bukan sekadar slogan Kristiani yang tanpa makna. Konsep ini menuntut praktek hidup secara praktis dan mendetil. Jika kita hidup untuk Tuhan (14:8a), maka apa pun yang kita lakukan harus dilakukan untuk kemuliaan-Nya.
Bahkan ketika kita tidak melakukan apa pun, hal ini pun harus untuk kemuliaan-Nya (14:6). Di tempat lain Paulus bahkan mengajarkan bahwa makan, minum, atau apa pun juga, harus memuliakan Tuhan (1Kor 10:31).

Ketika seseorang gagal memuliakan Tuhan dalam setiap aspek kehidupannya, maka orang itu telah melakukan dua kesalahan sekaligus. Pertama, ia telah menyembah berhala. Paulus sebelumnya sudah menyinggung tentang penyembahan berhala (Rom 1:18-31). Inti dari dosa ini adalah “menyembah ciptaan dengan melupakan Pencipta-Nya yang harus dipuji selamanya” (1:25). Ketika kita gagal memberi hidup kepada Tuhan, maka kita pasti akan memberikannya kepada yang lain, entah itu diri kita sendiri, iblis, atau orang lain. Tidak ada netralitas dalam kekristenan (Mat 6:24; 12:30).

Kedua, ia tidak memenuhi tujuan hidup yang sejati. Segala sesuatu diciptakan oleh dan untuk Allah (Rom 11:36). Katekismus Singkat Westminster dimulai dengan pertanyaan “apakah tujuan utama manusia?” (what is the chief end of men?). Jawaban yang diberikan adalah “untuk memuliakan Allah dan menikmati Dia selama-lamanya” (to glorify God dan to enjoy Him forever). Jika hidup kita tidak dipakai untuk memuliakan Allah, maka kita kehilangan alasan mendasar mengapa kita ada di dunia ini. Di samping itu, kita juga tidak akan mendapatkan kenikmatan yang sejati dalam hidup ini. Kenikmatan sejati akan kita rasakan ketika kita memuliakan Allah. Memuliakan dan menikmati Allah bukan dua hal yang terpisah (pertanyaan yang diberikan berbentuk tunggal: what is the chief end of men).

Sebagian orang mungkin akan protes dengan konsep di atas. Konsep di atas seakan-akan menempatkan Tuhan Yesus sebagai Pribadi yang sewenang-wenang. Mengapa kita harus hidup untuk Dia? Ayat 8b memberi jawaban tegas: karena hidup dan mati kita adalah milik Tuhan! Dia adalah pemilik (owner), kita hanyalah penatalayan (steward). Melalui bagian ini Paulus hendak mengajarkan bahwa kehidupan tidak boleh dipahami dalam konteks ownership (kepemilikan), namun penatalayanan (stewardship). Karena itu, pada hari terakhir nanti kita harus memberi pertanggungjawaban kepada Tuhan yang sudah mempercayakan hidup tersebut (14:10b, 14).

Ketika Paulus mengajarkan tentang kepemilikan hidu, maka Ia bukan sedang memandang dari perspektif penciptaan belaka. Dari sisi Tuhan Yesus sebagai Pencipta (Yoh 1:3; Kol 1:16), semua manusia adalah milik-Nya. Roma 14:8b menyinggung hal yang lebih khusus daripada itu. Kepemilikan ini berkaitan dengan konsep penebusan (14:9; bdk. 1Kor 6:19b-20; Ef 1:14). Kita yang dulu menjadi budak dosa, sekarang telah dibeli dengan darah yang mahal supaya kita hidup bagi Allah (1Pet 1:18-19) dan bukan untuk manusia (1Kor 7:23). Kepemilikan hidup menentukan tujuan hidup.

Kepemilikan hidup oleh Tuhan Yesus juga menentukan kebahagiaan hidup. Konsep ini bukan sesuatu yang menakutkan, tetapi justru menghibur. Sebagai budak Tuhan, kita akan dijaga oleh-Nya, sehingga kita akan terus berdiri (14:4). Para perumus Katekismus Heidelberg sangat memahami hal ini. Dalam katekismus ini pertanyaan ke-1 adalah “apakah penghiburanmu satu-satunya dalam kehidupan dan kematian?” (what is your only comfort in life and death?). Jawaban di bagian awal yang diberikan adalah “bahwa aku bukanlah milikku sendiri, tetapi milik Juruselamatku yang setia, baik tubuh dan jiwa, baik kdalam kehidupan dan kematian” (that I am not my own, but belong with body and soul, both in life and death, to my faithful Saviour Jesus Christ). Ini bukan hanya penghiburan nomer satu atau salah satu penghiburan, melainkan satu-satunya penghiburan sejati (only comfort).

Keseluruhan Roma 14:8 memberikan perspektif yang luar biasa tentang kehidupan dan kematian. Ayat ini merupakan jaminan bahwa kita tidak akan terpisah dari kasih Kristus, baik di dunia ini maupun di dunia yang akan datang (Rom 8:28-29). Ayat ini juga mengajarkan bahwa hidup adalah memberi buah bagi Tuhan, sedangkan mati adalah bersama Tuhan (Flp 1:21-24). Orang Kristen tidak boleh mengikuti pesimisme dunia (“mati segan hidup tak mau”). Kita tidak perlu kuatir dengan kematian, baik waktu maupun cara kematian. John Calvin menulis, “If He lengthens our life in the midst of continual sorrow and weariness, we are not to seek to depart before our time. But if He should suddenly recall us in the prime of our life, we must always be ready for our departure.” James M. Boice juga menyinggung tentang cara kematian dalam kalimat berikut, “One thing ‘dying to the Lord’ means is that the way in which we are called to die is from God and therefore we can trust the manner of our deaths to Him.”

Tuhan Yesus telah mati dan bangkit untuk menjadi Tuhan (ayat 9)

Frase “sebab untuk itulah” (eis touto gar) dalam terjemahan LAI:TB memberi kesan bahwa yang dimaksud “itu” adalah bagian sebelumnya (ayat 7-8). Sesuai dengan teks Yunani, kita sebaiknya menerjemahkan touto dengan “ini” (semua versi Inggris) dan terjemahan ini sekaligus menyiratkan bahwa touto merujuk pada bagian sesudahnya (ayat 9b). Dengan kata lain tujuan dari Yesus mati dan hidup kembali (ayat 9a) adalah “supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati maupun orang-orang hidup” (ayat 9b).

Seperti sudah disinggung di ayat 8, Paulus sedang membicarakan kehidupan dan kematian dalam konteks penebusan. Prinsip yang diajarkan hanya berlaku bagi orang-orang Kristen (bdk. 14:7 “tidak seorang pun di antara kita”). Kematian dan kebangkitan Yesus membawa banyak implikasi bagi kehidupan orang Kristen. Yang paling penting, melalui kematian dan kebangkitan-Nya Tuhan Yesus menjadi Tuhan atas hidup kita (ayat 9). Penebusan telah mengubah tujuan hidup kita (2Kor 5:15; Flp 1:21-24). Penebusan juga memberi tempat bagi Kristus sebagai pengendali hidup (Gal 2:20).

Ke-Tuhan Kristus yang diperoleh sesudah kebangkitan-Nya sekilas bisa menimbulkan masalah. Konsep ini seolah-olah mengajarkan bahwa sebelum kebangkitan Yesus bukanlah Tuhan. Untuk menghindari kesalahpahaman seperti ini, kita perlu memeprhatikan konteks Roma 14:7-9. Paulus tidak sedang membicarakan relasi semua orang dengan Allah, tetapi khusus antara orang Kristen dengan Tuhan Yesus. Paulus lebih menyoroti ke-Tuhanan yang khusus dari perspektif penebusan, bukan ke-Tuhan secara umum.

Di samping itu, kita perlu mengerti bahwa ke-Tuhanan Yesus Kristus setelah kebangkitan merupakan ajaran yang konsisten di dalam Alkitab (Kis 2:36; Rom 8:34; Flp 2:9-11). Para rasul tidak pernah memiliki masalah dengan konsep ini. Di mata mereka, kebangkitan memang penegasan tentang keilahian Yesus (Rom 1:3-4).

Dua konsep yang saling melengkapi di atas hampir mirip dengan konsep kerajaan Allah di bumi. Di satu sisi Allah adalah yang empunya seluruh bumi (Kej 24:3; Kel 19:5), tetapi iblis juga memiliki dunia dalam arti yang lain (Mat 4:8-9; Yoh 12:31; 16:11). Allah adalah Raja atas seluruh bumi (Yes 6:5; 44:6), tetapi Kerajaan Allah baru datang melalui pelayanan Yesus (Mat 12:28).

Di bagian akhir ayat 9b Paulus menyebutkan “orang-orang mati” di depan “orang-orang hidup”. Urutan seperti ini memang unik, karena biasanya urutan yang ada adalah “orang hidup orang mati” (bdk. Matt 22:32; Kis 10:42; 2Tim 4:1; 1Pet 4:5). Sebagian penafsir memahami perubahan urutan ini sebagai kesejajaran dengan karya penebusan Kristus di ayat 9a (“mati hidup kembali”). Kita sebaiknya menolak tafsiran ini. Perubahan urutan ini dimaksudkan sebagai bentuk penegasan: bahkan atas orang-orang mati! Kita sudah melihat di ayat 7-9 bahwa Paulus secara sengaja menyinggung tentang kematian (walaupun konteks tidak menuntut demikian) sebagai penegasan bahwa seluruh eksistensi kita tetap berkaitan dengan Kristus. Di bagian akhir ini ia mempertegas dengan cara yang unik: ia menyebutkan orang-orang mati terlebih dahulu.

Jika ke-Tuhanan Kristus memang bersifat kekal (sampai kita di surga kelak), maka surga akan menjadi tempat yang mengerikan bagi orang-orang “Kristen” yang selama hidup di dunia ini merasa terganggu dan terbatasi dengan ke-Tuhanan Kristus. Dengan kalimat yang lebih jelas, mereka yang tidak mengakui ke-Tuhanan Kristus di dalam hidupnya, pasti tidak akan berada di surga. Iman kepada Yesus mencakup ketaatan kepada-Nya sebagai Tuhan.

Konsep ini tidak berkontradiksi dengan keselamatan melalui iman. Iman dalam Alkitab tidak pernah semata-mata sebuah persetujuan intelektual belaka. Iman yang benar pasti terbukti melalui perbuatan (Yak 2:14-26).

Seseorang pernah mengatakan bahwa mengakui ke-Tuhanan Kristus atas alam semesta adalah mudah, karena konsep ini hanya memberikan penghiburan bagi kita . Yang sulit adalah mengakui ke-Tuhanan Kristus atas hidup kita, karena konsep ini bukan hanya memberikan penghiburan (kita akan dijaga), tetapi juga peringatan keras (kita harus taat dalam setiap aspek kehidupan kita, tidak boleh menghakimi orang lain, dan bersiap-siap memberi pertanggungjawaban kepada-Nya). Sebagai orang Kristen, justru ke-Tuhanan dalam konteks penebusan inilah yang menjadikan hidup kita begitu unik. Pendeknya, penebusan telah mengubah perspektif kita tentang kehidupan dan kematian. Kita hidup-mati bukan untuk kita. Hidup dan mati kita adalah untuk dan milik Tuhan. Soli Deo Gloria. #

Leave a Reply