Yakub Tri Handoko, M. Th.

Pendahuluan

Teks ini dapat dikatakan unik. Mengapa? Karena teks ini merupakan satu-satunya catatan Alkitab tentang kehidupan Yesus antara masa bayi sampai Dia memulai pelayanan-Nya. Tanpa teks ini kita tidak akan mengetahui dengan pasti apa yang dilakukan Yesus ketika Ia remaja.

Ketika Lukas – dalam bimbingan Roh Kudus – memutuskan untuk menuliskan kisah ini, dia pasti memiliki tujuan tertentu. Tujuan ini dapat kita lihat dari dua hal: (1) konteks dan (2) inti cerita. Dari sisi konteks, Lukas ingin menunjukkan bahwa Yesus mengalami pertumbuhan sama seperti anak-anak pada umumnya (2:40, 52). Dari sisi inti cerita (ayat 46-50), Lukas ingin menegaskan identitas Yesus yang ganda: anak Yusuf dan Anak Allah.

Keluarga yang saleh (ayat 41-43a)

Lukas memberikan beberapa petunjuk kepada para pembacanya untuk melihat bahwa orang tua Yesus adalah orang-orang yang saleh. Mereka menyunatkan Yesus tepat pada waktunya (ayat 21; band. Flp 3:5a) dan menyerahkan Dia ke bait Allah untuk pentahiran (ayat 22-24). Mereka secara rutin menghadiri Hari Raya Paskah (ayat 41 “tiap-tiap tahun”) untuk memperingati peristiwa di Keluaran 12:1-36. Maria mengikuti Paskah (ayat 41-42 “mereka”), walaupun tidak ada keharusan bagi perempuan untuk mengikuti Paskah di Yerusalem. Mereka sudah mengajak Yesus menghadiri perayaan Paskah pada usia 12 tahun (ayat 42), walaupun menurut tradisi waktu itu anak usia 12 tahun hanya perlu diajarkan tentang makna hari raya dan baru pada usia 13 tahun mereka ikut serta dalam perayaan. Mereka juga mengikuti seluruh rangkaian perayaan Paskah yang memakan waktu 7 hari (ayat 43 “sehabis hari-hari perayaan itu”), walaupun yang diwajibkan hanya 2 hari saja.

Problem (ayat 43-45)

Setelah mereka mengikuti perayaan Paskah, sebuah masalah terjadi. Orang tua Yesus tidak menyadari bahwa Yesus tertinggal di Yerusalem (ayat 43). Di ayat ini ada satu kata Yunani yang tidak diterjemahkan dalam LAI:TB, yaitu kata pais yang seharusnya diterjemahkan “anak laki-laki” (NIV/RSV/NASB “the boy Jesus”). Kata ini merupakan kata yang penting, karena Lukas ingin menunjukkan pertumbuhan Yesus (2:40, 52) dari bayi (brephos, 2:16), anak kecil (paidion, 2:40) sampai menjadi anak laki-laki (pais, 2:43).

Masalah ini baru diketahui oleh orang tua Yesus setelah satu hari mereka berjalan pulang (ayat 43-44). Bagi orang modern, kisah ini sekilas tampak sangat janggal. Bagaimanapun, jika kita mengetahui kebiasaan waktu itu, maka kita bisa memahami mengapa masalah ini dapat terjadi. Waktu itu orang-orang yang berziarah ke Yerusalem memiliki kebiasaan pergi dalam rombongan besar. Selain karena pertimbangan domisili yang sama, alasan utama mereka bepergian secara kelompok adalah berjaga-jaga dari serangan para penyamun yang memang sering mengintai di sekitar pegunungan (Mzm 121:1; Luk 10:30). Karena mereka pergi dalam rombonan besar, maka perjalanan dari Nazaret ke Yerusalem dan sebaliknya membutuhkan waktu sekitar 3-4 hari. Dalam rombongan besar ini anak-anak biasanya berada bersama anak-anak yang lain. Pada waktu sore hari tiba mereka harus berkumpul dengan orang tua masig-masing. Yusuf dan Maria mula-mula berpikir bahwa Yesus bersama dengan keluarga atau kenalan yang lain (ayat 44a).

Setelah mengetahui hal ini, mereka langsung kembali ke Yerusalem dan mencari Yesus di sana (ayat 45). Kata “mencari” di ayat ini memakai tense imperfect yang menyiratkan tindakan terus-menerus di masa lampau (LAI:TB “terus mencari”). Wajar jika mereka membutuhkan banyak waktu untuk menemukan Yesus di sebuah kota besar semacam Yerusalem.

Problem selesai, problem baru muncul (ayat 46-50)

Akhirnya orang tua Yesus berhasil menemukan Dia setelah tiga hari (ayat 46a). Beberapa penafsir berpendapat bahwa “tiga hari” di ayat ini menjelaskan lamanya orang tua Yesus mencari-cari di Yerusalem. Bagaimanapun, sebagian besar penafsir melihat “tiga hari” di sini dihitung sejak kepulangan mereka dari Yerusalem (1 hari perjalanan pulang + 1 hari perjalanan balik ke Yerusalem + 1 hari mencari Yesus di Yerusalem).

Pada waktu mereka menemukan Yesus, Dia sedang berperilaku sebagai seorang murid. Dia sedang duduk, mendengarkan, mengajukan pertanyaan dan memberikan jawaban (ayat 46b, 47b). Semua tindakan ini merupakan pola belajar para pengikut rabi pada waktu itu. Jika kita membandingkan apa yang dilakukan Yesus di sini dengan apa yang Dia lakukan di kemudian hari, kita dapat melihat sebuah ironi yang jelas: ketika kecil Yesus dalam posisi murid, tetapi di kemudian hari Dia memberikan pertanyaan yang tidak dapat dijawab oleh para pemka agama (20:4-7) maupun memberikan jawaban yang tidak dapat dibantah oleh mereka (20:2226).

Walaupun Yesus adalah seorang murid, namun Dia bukanlah murid yang sembarangan. Para alim-ulama (lit. “guru-guru”) pun sangat heran terhadap Dia (ayat 47). Kata “sangat heran” (existemi) merupakan kata yang menggambarkan kualitas keheranan yang luar biasa. Dalam tulisan Lukas kata ini biasa dipakai untuk respon orang terhadap suatu peristiwa yang sangat luar biasa, misalnya orang mati dibangkitkan (8:56), orang dapat berbicara dalam bahasa lain tanpa belajar (Kis 2:7, 12), orang mengadakan berbagai macam mujizat (Kis 8:13) dan kegigihan Paulus dalam pekebaran injil padahal dia dulu justru menganiaya orang-orang Kristen (9:21).

Objek keheranan mereka adalah kecerdasan dan jawaban-jawaban Yesus (ayat 47b). Terjemahan “kecerdasan” di sini kurang tepat, karena lebih mengarah pada kemampuan intelektual (IQ), padahal kata Yunani synesei dalam Alkitab seringkali dipakai dalam arti “pemahaman” (Yes 11:2; 1Taw 22:12; 1Kor 1:19; Ef 3:4; Kol 1:9; 2:2; 2Tim 2:7; versi Inggris “understanding”). Jawaban-jawaban yang diberikan Yesus menunjukkan bahwa Dia sangat menguasai kitab suci. Kalau sampai guru-guru agama pun dibuat sangat heran, berarti jawaban Yesus benar-benar luar biasa.

Ternyata yang heran bukan hanya guru-guru agama. Orang tua Yesus pun juga heran (ayat 48a). Kali ini kata Yunani yang dipakai bukan existemi, tetapi ekplesso. Kata ini seringkali dipakai untuk rasa takjub terhadap suatu ajaran (Mat 7:28; 13:54; 19:25; 22:33; Mar 1:2; 6:2; 7:37; 10:26; 11:18; Luk 4:32; 9:43; Kis 13:12). Dari arti ini terlihat bahwa rasa heran yang meliputi orang tua Yesus berbeda dengan rasa heran dalam diri guru-guru agama.

Orang tua bukan hanya heran, namun mereka juga menegur Dia. Hal ini terlihat dari kalimat “mengapa engkau berbuat demikian kepada kami?” (ayat 48) yang merupakan ungkapan umum dalam masyarakat Yahudi untuk menyampaikan teguran atau kekesalan (band. Kej 20:9; 12:18; 26:10; Kel 14:11; Bil 23:11; Hak 15:11). Mereka lalu mengutarakan kecemasan mereka kepada Yesus. Kata “cemas” (odunao) dalam Perjanjian Baru hanya dipakai oleh Lukas. Makna dari kata ini bukan sekedar cemas, tetapi juga disertai rasa sakit atau kehilangan yang luar biasa (Luk 16:24-25; Kis 20:38).

Jawaban yang diberikan Yesus di ayat 49 menimbulkan masalah baru. Jawaban ini sekilas menampilkan sosok Yesus sebagai seorang anak yang kasar dan tidak tahu berterima kasih kepada orang tua-Nya. Yesus memakai sebuah pertanyaan retoris yang bersifat menegaskan bahwa mereka seharusnya tahu bahwa Yesus harus berada di rumah Bapa-Nya. Kata “rumah” sebenarnya tidak ada dalam teks aslinya. Teks Yunani hanya menuliskan “aku harus berada di …[milik] Bapa-Ku”. Karena Yesus sedang berada di bait Allah, maka sangat wajar apabila yang dimaksudkan Yesus adalah rumah Bapa-Nya. Yesus bukan hanya sedang berada di rumah Bapa, tetapi Dia memang harus berada dalam rumah Bapa. Kata “harus” (dei) dalam Injil Lukas muncul berkali-kali dan harus dipahami sebagai keharusan secara teologis dalam konteks misi Yesus di dunia. Artinya, apapun yang dilakukan oleh Yesus selama di dunia merupakan keharusan jika dilihat dari kacamata rencana penebusan Allah (4:43; 9:22; 13:33; 17:25; 19:5; 22:37; 24:7; 24:26; 24:44).

Jawaban Yesus di ayat 49 menunjukkan bahwa Dia bukan hanya anak Yusuf (band. ayat 48b “bapamu”), tetapi Dia juga Anak Allah (band. 1:32). Allah adalah Bapa-Nya, karena itu Ia harus berada dalam rumah Bapa-Nya. Jika Yesus memang Anak Allah, seharusnya Yusuf dan Maria sudah tahu bahwa sebagai Anak Allah Yesus sangat wajar bila berada di dalam rumah Allah. Ternyata, jawaban ini tidak dapat dimengerti oleh Yusuf dan Maria (ayat 50). Bukan berarti mereka tidak mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah (band. 1:32), tetapi mereka tidak dapat menangkap perkataan di ayat 49 bahwa sebagai Anak Allah Yesus harus berada di dalam rumah Bapa-Nya.

Resolusi (ayat 51-52)

Gambaran tentang Yesus sebagai anak yang kasar dan tidak tahu berterima kasih kepada orang tua yang tersirat dari jawaban Yesus di ayat 49 akhirnya sirna. Sekalipun Yesus sadar bahwa Dia adalah Anak Allah Yang Mahatinggi, namun Dia bersedia pulang bersama mereka. Bukan hanya itu, Dia juga tetap berada dalam asuhan mereka (ayat 51a). Terjemahan “asuhan” tampak kurang tegas. Kata Yunani hupotasso sebenarnya berarti ketundukan.

Sebagian versi Inggris menerjemahkan kata ini dengan “ketaatan” (NIV/RSV), sedangkan yang lain memilih “ketundukan” (KJV/ASV/NASB).

Ketundukan Yesus semakin dipertegas melalui bentuk tense imperfect pada kata “berada”. Tense ini menyiratkan bahwa Yesus pada masa lampau terus-menerus berada dalam ketundukan kepada orang tua-Nya. Dia bukan hanya menurut ketika diajak pulang ke Nazaret, tetapi Dia terus-menerus menuruti mereka sampai akhirnya Dia menjadi dewasa dan memulai pelayanan-Nya pada usia 30 tahun (Luk 3:23).

Apa yang dilakukan Yesus menimbulkan kesan yang mendalam bagi Maria (ayat 51b). Maria menyimpan hal-hal itu di dalam hatinya. Kata Yunani diatereo hanya muncul dua kali dalam Perjanjian Baru dan hanya dipakai dalam tulisan Lukas. Kata ini lebih bermakna “memelihara” (Kis 15:29) daripada “menyimpan”. Tense imperfect yang dipakai menunjukkan bahwa Maria pada masa lampau terus-menerus memelihara hal-hal itu. Bentuk jamak “hal-hal itu” juga menyiratkan bahwa Maria bukan hanya heran dengan tindakan Yesus di ayat 51a, tetapi juga di ayat 46-49. Tindakan Maria di sini sama dengan tindakannya di pasal 2:19 ketika para gembala menceritakan segala keajaiban yang mereka dengar dari malaikat.

Lukas selanjutnya memberitahu kita bahwa Yesus juga mengalami pertumbuhan seperti anak pada umumnya. Bedasarkan konteks, Lukas tampaknya ingin menonjolkan kelebihan Yesus dibandingkan dengan Yohanes Pembaptis: (1) pertumbuhan Yohanes hanya dicatat sekali (1:80), sedangkan Yesus dicatat dua kali (1:40, 52); (2) pertumbuhan Yohanes hanya mencakup fisik dan roh, sedangkan Yesus mencakup fisik, hikmat dan perkenanan Allah maupun manusia.

Terjemahan LAI:TB di ayat 52 sedikit kurang sesuai dengan teks asli. Dalam struktur kalimat Yunaninya, kata “bertambah besar” (prokopto) diterangkan dengan tiga kata benda yang menjelaskan aspek perkembangannya, yaitu “hikmat”, “fisik” (band. 19:3) dan “perkenanan Allah dan manusia”. Sebagai Anak Allah, Yesus pasti mengetahui segala sesuatu dan pasti diperkenan oleh Allah, tetapi sebagai manusia Dia tetap perlu terus bertumbuh dalam hal-hal ini. Dia yang tidak terbatas mau menjadi manusia yang terbatas. Dia yang sempurna mau menjadi manusia yang perlu pertumbuhan. #

Leave a Reply