Yakub Tri Handoko, Th. M.

Pendahuluan

Istilah “inkarnasi” (incarnation) berasal dari bahasa Latin “incarnatus” yang terdiri dari dua kata: in = “dalam” dan carn atau caro = daging. Dari penjelasan ini terlihat bahwa secara hurufiah kata “inkarnasi” berarti “masuk ke dalam daging”. Dalam dunia teologi kata ini dipakai untuk merujuk pada peristiwa “Allah menjelma menjadi daging (manusia)”.

Apakah sebelum menjadi manusia Yesus sudah ada (eksis)? Siapakah Yesus sebelum inkarnasi? Bagaimana sifat dan keadaan-Nya sebelum inkarnasi? Alkitab memberikan beberapa petunjuk. Dalam kotbah kali ini kita hanya akan membahas dari Injil Yohanes 1:1-3.

Yesus sebagai Firman (Logos)

Alkitab mencatat beragam sebutan untuk Yesus. Salah satu sebutan yang unik adalah Yesus sebagai Firman. Sebutan ini hanya kita jumpai dalam Injil Yohanes dan hanya dalam bagian prolog-nya saja. Di luar itu, kata logos memang sering muncul, tetapi bukan sebagai sebutan untuk Yesus.

Apa arti sebutan “Logos” yang diterapkan pada Yesus di Yohanes 1:1-18? Para penafsir memberikan jawaban yang berbeda. Sebagian menganggap bahwa sebutan “Logos” diadopsi dari konsep filsafat Yunani. Hampir setiap aliran filsafat waktu itu memiliki konsep tentang “Logos”, yang biasanya dipahami sebagai kekuatan ilahi yang abstrak dan tidak berpribadi. Dalam beberapa aliran, Logos dianggap sebagai zat ilahi tetapi bukan allah.

Sebagian orang menganggap bahwa Yesus sebagai “Logos” identik dengan firman Allah. Yesus adalah “kata-kata yang keluar dari mulut Allah”. Seorang pengkotbah bahkan pernah mengatakan bahwa yang berinkarnasi bukanlah Allah, tetapi hanya kata-kata-Nya saja. Firman Allah itulah yang menjelma menjadi manusia.

Dua pandangan di atas tidak sesuai dengan cara Yohanes menampilkan “Logos” dalam pasal 1:1-18. Nuansa Yahudi yang kental dalam perikop ini (rujukan pada penciptaan, ayat 3-5; Taurat dan Musa, ayat 17) secara otomatis melemahkan pendapat para penafsir yang berusaha mencari makna dari filsafat Yunani. Yesus juga bukan sekedar “kata-kata Allah” yang tidak berpribadi: Ia bersama-sama dengan Allah (ayat 1), mencipta (ayat 3-5), datang kepada milik kepunyaan-Nya (ayat 9-11), memberi kuasa menjadi anak-anak Allah (ayat 1213), menjadi manusia (ayat 14), memberikan kasih karunia (ayat 16-17), menyatakan siapa Allah yang sesungguhnya (ayat 18).

Sebutan “Logos” harus dipahami sebagai gambaran tentang kesamaan fungsi antara Yesus dan firman Allah dalam Perjanjian Lama. Sebagaimana firman Allah adalah instrumen dalam penciptaan (Kej 1), Yesus sebagai “Logos” juga menjadi instrumen penciptaan fisik (ayat 35) maupun rohani (ayat 12-13). Sebagaimana firman Allah dahulu menyatakan tentang diri Allah, Yesus juga menyatakan kemuliaan Allah (ayat 14) dan pribadi Allah yang sebenarnya (ayat 18). Jadi, Yesus BUKAN kata-kata Allah. Yesus (terutama inkarnasinya) memiliki fungsi seperti firman Allah.

Yesus sebelum inkarnasi

Yohanes 1:1-3 menjelaskan beberapa hal tentang Yesus sebelum Dia menjadi manusia. Teks ini bukan hanya mengajarkan bahwa Yesus ada, tetapi juga memaparkan bagaimana keadaan tersebut. Bagaimana Yesus sebelum inkarnasi?

Dia ada sejak kekal (ayat 1a)

Kata “pada mulanya” di ayat 1a langsung mengingatkan kita pada Kejadian 1:1 (“pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”). Ungkapan Yunani yang dipakai di Yohanes 1:1 juga sama persis dengan yang ada di Kejadian 1:1 (LXX), yaitu en arche. Kesamaan ini menyiratkan bahwa yang dimaksud “pada mulanya” adalah “sebelum ada segala sesuatu”. Makna ini dipertegas di ayat 3 yang menyatakan bahwa Firman ini justru yang menjadikan segala sesuatu. Sebelum segala sesuatu ada, Firman sudah ada.

Tense imperfect yang dipakai untuk kata “adalah” (en) menyiratkan bahwa Firman ini pada jaman dahulu (sebelum segala sesuatu ada) terus-menerus ada. Dalam bahasa yang lebih populer, Firman ini kekal. Tidak pernah di suatu waktu Dia tidak ada.

Untuk mempertegas maksud di atas, Yohanes sengaja memilih kata dasar eimi (“ada”), bukan ginomai (“menjadi ada”). Jika dia memakai ginomai, maka Firman itu tidak kekal. Firman itu dulu pernah tidak ada dan pada suatu waktu menjadi ada. Kehati-hatian Yohanes dalam menghindari kata ginomai untuk keberadaan Yesus dalam kekekalan akan menjadi semakin jelas apabila kita mengetahui bahwa kata ginomai dalam Yohanes 1:1-18 hanya dipakai untuk keberadaan dunia (ayat 3, 10), Yohanes Pembaptis (ayat 6), inkarnasi Yesus (ayat 14), pelayanan Yesus di dunia (ayat 15) dan kasih karunia yang menyertai-Nya (ayat 17).

Salah satu contoh yang paling jelas tentang perbedaan antara “ada” dan “menjadi ada” adalah Yohanes 8:58. Dalam ayat ini Yesus berkata, “sebelum Abraham jadi (ginomai), Aku telah ada (eimi)”. Tense present yang dipakai dalam frase “Aku telah ada” (seharusnya “Aku terusmenerus ada”) semakin mempertegas kekekalan Yesus. Dia bukan hanya sudah ada sebelum Abraham lahir, tetapi Dia terus-menerus ada, baik sebelum Abraham maupun sesudahnya.

Dia bersama-sama dengan Bapa (ayat 1b, 2)

Ayat 1b secara hurufiah berarti “Firman ini pada jaman dahulu terus-menerus bersama-sama dengan Allah itu”. “Allah” di frase ini jelas merujuk pada Allah Bapa. Dengan demikian, ayat 1b menunjukkan kebersamaan antara Firman dan Bapa. Kebersamaan ini sekaligus membuktikan bahwa Firman dan Bapa adalah dua pribadi yang berbeda (walaupun secara hakekat satu, yaitu Allah, ayat 1c).

Pengulangan di ayat 2 (“Ia pada mulanya bersama-sama dengan Allah”) memberi petunjuk bahwa Yohanes ingin menekankan kebersamaan ini. Firman dan Bapa tidak hanya bersamasama, tetapi juga intim. Keintiman ini diajarkan melalui beberapa cara.

Pertama, tense imperfect yang dipakai mengindikasikan kesatuan yang terus-menerus dalam kekekalan masa lampau. Di tempat lain Yohanes menjelaskan bahwa Yesus memiliki kemuliaan bersama Bapa sebelum dunia ada (Yoh 17:5; terjemahan LAI:TB “di hadapan” kurang tepat). Keduanya saling mengasihi sebelum dunia ada (Yoh 17:24).

Kedua, Yesus digambarkan berada “di pangkuan Bapa” (Yoh 1:18). Frase eis ton kolpon patros seharusnya berarti “di dada Bapa” (KJV/RSV/NASB “in the bosom of the Father”). Gambaran ini sama dengan yang dipakai di pasal 13:23 untuk menunjukkan keintiman antara

Yesus dan murid yang dikasihi-Nya. Terjemahan “bersandar kepada-Nya, di sebelah kananNya” kurang tepat menggambarkan kalimat Yunani yang ada. Secara hurufiah ayat ini berarti “bersandar di dada Yesus” (RSV “was lying close to the breast of Jesus”).

Dia adalah Allah (ayat 1c)

Keilahian Yesus selalu menjadi kontroversi sepanjang jaman. Sebagian menganggap Yesus adalah manusia yang dianggap “allah” oleh para pengikut-Nya. Sebagian meyakini bahwa Yesus baru menjadi Allah ketika Dia dibaptis atau bangkit dari kematian. Sebagian mengakui Yesus sebagai Allah, tetapi dengan kualitas keilahian yang berbeda dengan Bapa. Semua pandangan ini bertentangan dengan kalimat sederhana yang sangat to the point yang ditulis Yohanes “Firman itu pada jaman dahulu terus-menerus adalah Allah” (Yoh 1:1c).

Para pengikut Unitarianisme dan Saksi Yehuwah berusaha mengaburkan arti yang sudah jelas di atas dengan memberikan beberapa usulan:

  • Yesus bersifat ilahi.

Sanggahan ini dengan mudah dipatahkan dengan menunjukkan bahwa para penulis Alkitab mengetahui perbedaan kata Yunani untuk “Allah” (theos) dan “ilahi” (theios). Jika Yohanes memaksudkan Yesus hanya bersifat ilahi, maka Dia akan memakai kata sifat theios (Kis 17:29; 2Pet 1:3-4), bukan kata benda theos.

  • Yesus adalah makhluk sorgawi.

Sama seperti poin pertama, sanggahan ini tidak dapat dibenarkan. Jika Yohanes ingin menyebut Yesus sebagai makhluk sorgawi, maka dia akan memakai kata ho epouranios. Di samping itu, dalam Yohanes 1:1 kata theos muncul dua kali untuk Bapa dan Firman. Jika theos muncul di ayat yang sama, atas dasar apa kita membedakan arti kata theos yang pertama dan kedua?

  • Yesus adalah sebuah allah.

Sanggahan ini didasarkan pada pendapat bahwa di depan kata theos di ayat 1c tidak ada artikel. Menurut penganut Unitarianisme dan Saksi Yehuwah, ketidakadaan artikel ini membuktikan bahwa Yesus hanya sebuah allah. Jadi, mereka menuntut ayat 1c harus diterjemahkan “Firman itu adalah sebuah allah”.

Ada beberapa cara untuk mematahkan sanggahan ini:

  • Struktur kalimat “X adalah Y” dalam tata bahasa Yunani disebut predicate nominative. Struktur seperti ini secara tata bahasa memang hanya membutuhkan satu artikel yang akan diletakkan di depan kata benda yang menjadi subjek pertama. Dalam kasus Yohanes 1:1c, artikel diletakkan di depan kata logos, karena dari ayat 1a memang subjeknya adalah logos.
  • Penambahan artikel di depan kata theos di ayat 1c justru akan menimbulkan kebingungan logis dan teologis. Penambahan ini akan membuat ayat 1c menjadi “Firman itu adalah Allah itu”. “Itu” di sini akan membawa pada gagasan bahwa

Firman identik dengan Allah di ayat 1b (Bapa). Kesan ini jelas tidak logis. Kalau Firman bersama-sama dengan Bapa, maka keduanya pasti bukan satu pribadi (kebersamaan menuntut keberadaan lebih dari satu pribadi).

  • Dalam Yohanes 20:28 penyebutan Yesus sebagai theos disertai dengan artikel (ho theos).
  • Dalam Perjanjian Baru ada lebih dari 200 kali kata theos muncul tanpa artikel, walaupun dari sisi konteks sudah jelas bahwa yang dimaksud adalah Bapa. Jika setiap kata theos yang muncul tanpa artikel diterjemahkan “sebuah allah”, maka Bapa juga adalah “sebuah allah”. Di Yohanes 1:1-18 sendiri kata theos yang merujuk pada Bapa seringkali tidak disertai artikel (ayat 6, 12, 13, 18).

Sanggahan-sanggahan di atas sebenarnya terlalu dipaksakan. Arti Yohanes 1:1c sudah sangat jelas. Yohanes sendiri menutup pendahuluan injilnya dengan kalimat yang tidak kalah jelasnya menyatakan keilahian Yesus. Ayat 18 “tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah, tetapi Anak Tunggal Allah, yang berada di pangkuan Bapa, Dialah yang menyatakanNya”. Dalam salinan Alkitab yang lebih tua dan lebih bisa dipercaya, kata “Anak Tunggal Allah” tidak ada di ayat ini. Kata yang dipakai adalah “Allah yang tunggal” (NIV “God, the One and Only”). Dari sisi konteks, hal ini sesuai dengan ayat 1c. Dengan demikian, Yohanes 1:1-18 berbentuk inclusio (awal dan akhir sama) yang menyatakan bahwa Yesus adalah Allah yang sejati.

Dia menciptakan segala sesuatu (ayat 3)

Ayat ini mengajarkan bahwa dalam penciptaan tidak hanya Bapa saja yang terlibat. Yesus juga terlibat dalam penciptaan. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia (Kol 1:15) dan ditopang oleh Dia (Ibr 1:3). Baik Bapa, Yesus maupun Roh Kudus (Kej 1:2) secara aktif bersama-sama menciptakan alam semesta.

Dalam Yohanes 1:3 kita dapat melihat saling ketergantungan antara Bapa dan Anak. Yesus ditampilkan sebagai instrumen penciptaan (ayat 3a “segala sesuatu dijadikan oleh [lit. “melalui”] Dia”; band. Ibrani 1:2 “oleh Dia Allah telah menjadikan alam semesta”). Dalam posisi sebagai instrumen, Yesus bergantung kepada Bapa. Di sisi lain, Bapa juga bergantung pada Yesus. Yesus bukan sekedar sembarang instrumen. Ayat 3b secara tegas menyatakan bahwa “tanpa Dia tidak ada suatu pun yang jadi dari segala yang telah dijadikan”. Bapa memang mahakuasa, tetapi tanpa Yesus dunia ini tidak akan jadi. Saling ketergantungan ini diungkapkan Yesus dalam kalimat “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diri-Nya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak” (Yoh 5:19).

Kebersamaan Bapa dan Yesus dalam penciptaan merupakan konsep yang mungkin sangat mengagetkan orang-orang Yahudi. Mereka sejak dulu diajar bahwa alam semesta hanya diciptakan oleh Allah saja. Dalam Yesaya 44:24 TUHAN (Yahweh) pernah berkata, “Akulah TUHAN, yang menjadikan segala sesuatu, yang seorang diri membentangkan langit, yang menghamparkan bumi siapakah yang mendampingi Aku?” (Yes 44:24). Ketika TUHAN menantang illah-illah palsu yang disembah umat-Nya, Dia berkata, “Para allah yang tidak menjadikan langit dan bumi akan lenyap dari bumi dan dari kolong langit ini.” (Yer 10:11). Jika para penulis Alkitab menyebut Yesus sebagai pencipta alam semesta (bersama dengan Bapa), maka maksud mereka sudah jelas: Yesus adalah Allah dalam arti yang sesungguhnya. #

Leave a Reply