Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Pendahuluan

Salah satu momen paling krusial bagi Yesus adalah pergumulan di Getsemani. Pada momen kita dapat melihat betapa Yesus sangat bergumul dengan apa yang akan Dia hadapi. Dia sendiri menyatakan betapa beratnya pencobaan yang Dia alami kepada murid-murid-Nya. Walaupun peristiwa ini ditulis di 3 injil, namun kita hanya akan menyoroti dari sisi Markus 14:32-42.

Setting (ayat 32)

Kata ”Getsemani” berasal dari bahasa Ibrani gat semani yang berarti ”tempat pemerasan minyak [zaitun]”. Tempat ini terletak di daerah Bukit Zaitun (14:26). Walaupun ungkapan ”Taman Getsemani” tidak pernah muncul dalam Alkitab, namun dari Yohanes 18:1 kita mengetahui bahwa tempat Yesus bergumul adalah sebuah taman.
Dia dan murid-murid-Nya terbiasa pergi ke tempat itu (Luk 22:39). Tidak heran, Yudas dengan mudah memberitahu orang-orang Yahudi tentang keberadaan Yesus di Getsemani (Yoh 18:2). Dari sini terlihat bahwa kepergian Yesus di Getsemani bukanlah dalam upaya untuk melarikan diri. Kalau Dia ingin melarikan diri, maka Dia pasti akan mencari tempat yang tidak diketahui Yudas.

Pergumulan Yesus (ayat 33-34)

Yesus memang sering ke Getsemani (kemungkinan untuk berdoa atau mengajarkan sesuatu yang penting pada murid-murid-Nya), namun kedatangan-Nya kali ini sangat berbeda. Dia ke sana khusus untuk bergumul dan kali ini Dia bergumul dengan cara yang tidak biasanya. Ada sesuatu yang lain yang dirasakan Yesus ketika Dia ada di Getsemani. Hal ini ditunjukkan melalui kata “mulai” (erzato, ayat 33 ”Ia mulai sangat takut dan gentar”; LAI:TB tidak menerjemahkan kata ini).
Perasaan Yesus waktu itu diungkapkan melalui beberapa kata. Dia sangat takut (dari kata ekthambeo, ayat 33). Kata ini biasanya dipakai sebagai respon terhadap sesuatu yang tidak biasa (KJV/ASV menerjemahkan ”greatly/sore amazed”). Di pasal 16:5-6 kata ini digunakan untuk mengekspresikan keterkejutan atau ketakutan para perempuan yang melihat kebangkitan Yesus.
Dia juga ”gentar” (ayat 33). Terjemahan LAI:TB ”gentar” di sini kurang tepat. Kata Yunani ademoneo yang hanya muncul 3 kali dalam PB sebenarnya memiliki arti ”sangat susah” (Mat 26:37//Mar 14:33; Flp 2:26). Di Filipi 2:26 kata ademoneo dipakai untuk mengekspresikan kesusahan Epafroditus yang mendalam ketika ia tahu bahwa jemaat Filipi sudah mengetahui penyakit parah yang dia derita selama melayani Paulus di penjara.

Kata lain yang dipakai untuk menyatakan perasaan Yesus adalah ”sangat sedih” (perilupos, ayat 34). Di luar kisah pergumulan di Getsemani (Mat 26:38//Mar 14:34), kata ini dipakai untuk menggambarkan kesedihan Herodes yang harus memenggal kepala Yohanes Pembaptis gara-gara dia sudah terlanjur berjanji kepada anak peempuannya (Mar 6:26). Tindakan ini jelas tidak mudah bagi Herodes karena dia sebenarnya segan dan senang dengan Yohanes (Mar 6:20). Kata perilupos juga dipakai untuk kesedihan pemuda kaya yang ditantang Yesus untuk menjual seluruh hartanya dan dibagikan pada orang miskin (Luk 18:23). Bagi pemuda ini, harta adalah segala-galanya, karena itu kehilangan semua itu tentu saja sangat berat bagi dia.
Untuk memperjelas tingkat kesedihan yang dialami Yesus, kata perilupos diterangkan dengan kata ”sampai mati” (eos thanatou, ayat 34). Ungkapan ini dalam PB hanya muncul dalam kisah pergumulan Yesus di Getsemani (Mat 26:38//Mar 14:34), sedangkan dalam PL ungkapan ini dipakai untuk menggambarkan penyakit Hizkia yang sangat parah (2Taw 32:24; Yes 38:1; 39:1). Ungkapan ini juga digunakan ketika Yunus marah terhadap Allah karena pertobatan penduduk Niniwe (Yun 4:9). Ungkapan ”sampai mati” yang dipakai untuk kesedihan Yesus tidak berarti bahwa Yesus lebih memilih mati daripada menjalani semua penderitaan-Nya. Ungkapan ini juga tidak berarti bahwa kesediahan Yesus akan terus dibawa sampai mati. Ungkapan ini hanya menggambarkan kualitas kesedihan yang mendalam, sama artinya dengan ungkapan kita ”setengah mati”.

Figur Yesus seperti di terangkan di atas tampak sangat berbeda dengan figur Yesus yang selama ini dikenal murid-murid-Nya. Dia dulu kelihatan sangat tegar, pnuh kuasa dan berani. Mengapa sekarang Dia tampak agak rapuh? Sebenarnya apakah yang ditakutkan oleh Yesus?
Kita tidak boleh berpikir bahwa Yesus takut dengan penderitaan fisik yang akan Dia alami. Mulai pasal 8:31-33 Dia memberitahu tentang penderitaan fisik yang akan Dia alami dari orang-orang Yahudi. Dia tidak takut. Dia bahkan dengan tegas memarahi Petrus yang berusaha menghalangi jalan penderitaan tersebut. Kita juga tidak boleh berpikir bahwa Yesus takut ditinggalkan oleh murid-murid-Nya. Di pasal 14:27-28 Dia bahkan sudah menubuatkan kegagalan semua murid dalam mengikut Dia, namun waktu itu Dia tidak sedih dan takut sama sekali.
Ketakutan Yesus harus dipahami dalam kaitan dengan cawan yang harus Dia minum. Dalam pemikiran Yahudi cawan seringkali melambangkan penderitaan sebagai akibat dari murka Allah. Dalam Wahyu 14:10; 15:7 dan 16:1 “cawan” digunakan untuk murka Allah di akhir jaman terhadap orang-orang yang tidak percaya. Dalam konteks pergumulan di Getsemani, murka Allah merujuk ke depan pada momen ketika Yesus ditinggalkan oleh Bapa (Mar 15:34). Keterpisahan dengan Bapa inilah yang menjadi inti dari hukuman dosa di neraka. Keterpisahan ini bersifat total, dalam arti tidak ada kemurahan Allah sama sekali. Dalam istilah Wahyu 14:10, ini adalah cawan anggur yang tanpa campuran. Ketika Yesus ditinggalkan Bapa di atas kayu salib, saat itulah Dia menanggung hukuman neraka bagi orang percaya.
Bagaimanapun kita tidak boleh memahami penderitaan rohani Yesus tersebut dalam kualitas yang sama dengan penderitaan rohani orang di neraka. Penderitaan Yesus jauh melampaui hal itu. Mengapa? Di neraka orang dihukum karena mereka emang bersalah, tetapi Yesus dihukum sebagai orang yang tidak melakukan kesalahan apapun. Bukankah lebih sulit menerima hukuman jika kita merasa tidak melakukan hal itu? Selain itu, di neraka orang hanya menanggung hukumannya sendiri-sendiri, sedangkan Yesus harus menanggung hukuman semua orang percaya. Betapa beratnya hukuman yang harus Dia tanggung!

Respon Yesus terhadap pergumulan (ayat 33-36)

Apa yang dilakukan Yesus ketika Dia menghadapi pergumulan yang berat? Yang pertama Dia berbagi pergumulan dengan murid-murid-Nya (ayat 33-34). Dia sengaja membawa tiga murid yang dekat dengan supaya mereka mengetahui apa yang Dia rasakan waktu itu. Dia mengungkapkan kesedihan dan ketakutan-Nya kepada mereka (ayat 34a). Dia tidak malu mengungkapkan semuanya ini.
Dia bahkan meminta mereka berdoa dan berjaga-jaga (ayat 34b). Sekilas bagian ini tampak sebagai sebuah perintah untuk kebaikan murid-murid sendiri (mereka perlu berdoa bagi diri mereka sendiri). Jika kita bandingkan dengan kata ”dengan Aku” di Matius 26:38 kita akan mengetahui bahwa tindakan doa dan berjaga-jaga yang harus dilakukan murid-murid bukan hanya untuk kepentingan mereka tetapi juga untuk Yesus. Apakah aneh kalau Yesus minta untuk didoakan? Rasanya tidak! Di Lukas 22:43 seorang malaikat dari surga pun datang untuk memberi Yesus kekuatan. Dia benar-benar dalam kondisi yang sagat perlu untuk ditopang semua pihak, termasuk oleh murid-murid-Nya.
Yesus tidak hanya memberitahukan pergumulan-Nya kepada murid-murid, namun – yang lebih penting – Dia memberitahukan hal itu kepada Bapa-Nya dalam doa (ayat 35-36). Doa ini bersifat pribadi, sebagaimana tampak dari keterangan ”maju sedikit” (ayat 35a). Hal ini mengajarkan bahwa doa bersama – sekalipun dalam konteks berbagi beban – tidak pernah meniadakan pentingnya doa pribadi kepada Allah.
Ketika Yesus berdoa, ”merebahkan diri”, yang secara hurufiah berrarti ”melemparkan diri ke bawah” (4:4-8; 5:22; 9:20; 13:25). Dalam tradisi Yahudi posisi doa seperti ini biasanya menunjukkan penderitaan yang luar biasa (band. Bil 16:22). Dari keterangan Alkitab ini kita mengetahui bahwa gambar Yesus yang sedang berlutut di sebuah batu ketika Dia bergumul di Getsemani adalah sebuah penggambaran yang salah. Dia tidak sedang berlutut, tetapi merebahkan diri ke tanah.

Yang paling penting dari doa Yesus bukanlah tempat, teman berdoa maupun sikap tubuh dalam berdoa. Yang paling penting adalah konsep Yesus tentang doa. Ada dua konsep doa yang diajarkan Yesus di sini. Pertama, doa berarti mempercayai kuasa Allah (ayat 36a). Dia meyakini bahwa tidak ada yang mustahil (lit. ”segala sesuatu adalah mungkin”) bagi Bapa.
Kedua, doa berarti mempercayakan diri pada rencana Bapa (ayat 36b). Yesus memang memiliki keinginan, tetapi Dia tidak mau memaksakan keinginan ini pada Bapa-Nya. Sekalipun Bapa dapat melakukan segala sesuatu, hal itu tidak berarti bahwa Dia mau melakukan hal tersebut. Mempercayai kuasa Allah memang penting, namun yang lebih penting daripada itu adalah mempercayai kedaulatan-Nya. Mempercayai kuasa Allah memang mudah karena kuasa itu telah dinyatakan dengan begitu jelas, namun mempercayakan otoritas Allah atas hidup kita bukanlah sesuatu yang gampang. Kita lebih mudah meyakini bahwa Allah mampu melakukan apa yang kita mau daripada meyakini bahwa rencana-Nya adalah yang terindah sekalipun hal itu menyakitkan bagi kita.
Dari doa Yesus ini kita dapat mengambil beberapa pelajaran rohani:
1. Doa bukan sekedar memberitahu, tapi mencari tahu (band. Mat 6:8, 10)
2. Doa bukan memaksa Allah menunjukkan kuasa-Nya tapi menyandarkan diri pada rencana-Nya yang sempurna
3. Doa bukan mencari kuasa untuk melakukan apa yang kita mau tapi mencari kekuatan untuk menundukkan kemauan kita (band. 15:32; Mat 26:53)
Apakah ketika Yesus takut dan berdoa agar cawan itu diambil dari-Nya merupakan sebuah dosa karena Dia memiliki keinginan yang bertentangan dengan keinginan Bapa? Jawabannya adalah ”tidak”. Yang Yesus takutkan adalah murka Allah; ketakutan seperti ini jelas tidak berdosa. Setiap orang harus takut terhadap murka Allah. 1Yoh 4:17-18 dalam hal ini tidak dapat diterapkan pada Yesus karena berbeda konteks. Di teks ini orang yang sudah percaya (sudah diselamatkan) tidak boleh takut terhadap hukuman di akhir jaman, karena sudah pasti tidak akan dihukum. Kalau dalam kasus Yesus, Dia memang menanggung murka Allah yang mengerikan itu. Selain itu, dalam doa-Nya Yesus lebih memilih untuk menaati kehendak Bapa daripada kehendak-Nya sendiri. Hal ini jelas bukan sebuah dosa.

Respon murid-murid (ayat 37-40)

Setelah Yesus selesai berdoa, Dia kembali kepada murid-murid-Nya dan mendapati mereka sedang tertidur (ayat 37a). Yesus lalu menegur Petrus atas kegagalannya berjaga-jaga selama 1 jam (ayat 37b). Teguran yang hanya ditujukan pada Petrus ini cukup menarik perhatian, karena yang tertidur bukan hanya Petrus. Apakah Petrus yang mengajak atau memimpin murid-murid lain untuk tidur? Rasanya tidak! Teguran ini mungkin dimaksudkan Yesus sebagai penegasan terhadap kegagalan Petrus dalam mengikut Yesus: jangankan memberikan hidupnya untuk Yesus (ayat 29-31), berjaga-jaga 1 jam pun Petrus ternyata tidak sanggup.
Karena murid-murid gagal melihat teladan nyata tentang bertekun dalam doa yang ditunjukkan oleh Yesus – misalnya Dia berdoa dengan sungguh-sungguh selama 1 jam – maka Yesus memakai momen kegagalan itu untuk mengajarkan pentingnya berdoa. Dengan berdoa berarti kita telah menjauhkan diri dari pencobaan. Sebaliknya, orang yang tidak berdoa adalah mereka yang jatuh ke dalam pencobaan (ayat 38a). Kata ”jatuh” di sini lebih tepat diartikan ”[dengan sengaja] mendatangi”. Dalam doa kita dapat memohon agar Bapa melepaskan kita dari si jahat (Mat 6:13a). Konsep seperti ini tidak bertentangan dengan Yakobus 1:2, karena yang dimaksud Yakobus adalah ”ujian” (bukan ”pencobaan”) dan kata ”jatuh” di situ berarti ”tidak sengaja jatuh”.
Berdoa juga berarti bahwa kita terus menguatkan roh kita untuk mengontrol kelemahan daging (ayat 38b). Apa yang Yesus katakan di sini merupakan sebuah rahasia yang indah: daging yang lemah seringkali membuat kita tidak berdoa, tetapi kita justru harus berdoa agar kelemahan ini dikuasai. Kegagalan murid-murid dalam berdoa menyebabkan mereka gagal menguasai daging mereka. Mereka tidak kuasa menahan kondisi fisik mereka dan akhirnya tertidur lagi (ayat 40-41a).

Hasil yang berbeda (ayat 41-42)

Cara meresponi pergumulan yang berbeda antara Yesus dan murid-murid pada akhirnya juga membawa hasil yang berbeda. Yesus menjadi lebih siap dengan apa yang sebelumnya Dia takutkan. Dia tahu bahwa “saat itu sudah tiba” (ayat 41) dan tidak dapat dielakkan (band. ayat 35b). Dia memberitahukan ha ini kepada murid-murid-Nya dengan seruan “lihatlah” (ayat 41). Dia bahkan mengajak murid-murid-Nya “pergi” (ayat 42) untuk menyongsong apa yang memang harus Dia hadapi. Dia tidak lagi berpikir untuk menyelamatkan diri dari hal itu.
Di sisi lain, murid-murid yang tetap tertidur diberitahu oleh Yesus bahwa istirahat mereka “sudah cukup” (ayat 42). Terlepas dari apakah ayat 42a harus dipahami sebagai perintah yang ironis (LAI:TB/KJV/ASV) atau sebuah pertanyaan retoris (RSV/NASB/NIV), pernyataan ini tetap menunjukkan bahwa tidak ada lagi waktu bagi mruid-murid untuk berdoa dan berjaga-jaga. Mereka telah menghabiskan waktu secara percuma dan dalam cerita selanjutnya kita mengetahui bahwa mereka akhirnya gagal menghadapi pencobaan. Mereka semua meninggalkan Yesus.

Leave a Reply