Yakub Tri Handoko, Th. M.

Pendahuluan

            Peristiwa Yesus dibaptis oleh Yohanes merupakan kisah yang tidak asing bagi orang Kristen. Popularitas kisah ini ternyata tidak berarti bahwa semua orang Kristen memahami makna dari baptisan Yesus. Sejarah gereja mencatat bahwa orang-orang tertentu telah salah memahami peristiwa ini. Sebagian menganggap bahwa baptisan merupakan awal Yesus dijadikan sebagai Anak Allah. Anggapan ini jelas tidak sesuai dengan Lukas 1:32 yang mengajarkan bahwa bayi Yesus sudah disebut sebagai Anak Allah. Sebagian orang yang lain berpendapat bahwa baptisan ini memiliki makna pemberian kuasa. Artinya, pada peristiwa baptisan Roh Kudus mulai memberi Yesus kuasa sehingga Dia mampu mengadakan mujizat. Pendapat seperti ini tidak sesuai dengan Lukas 2:46-47 yang mengajarkan bahwa jauh sebelum Ia dibaptis Yesus sudah melakukan hal-hal yang ajaib.

            Di kalangan orang injili sendiri terdapat pandangan umum bahwa Yesus dibaptis sebagai simbol bahwa Dia mewakili orang-orang berdosa yang sebenarnya perlu dibaptis untuk pengampunan dosa. Walaupun pandangan ini cukup populer, namun tidak sesuai dengan makna baptisan Yesus. Pandangan ini mengasumsikan bahwa pengampunan dosa dapat dicapai melalui baptisan oleh Yohanes. Yesus memang mewakili kita, tetapi bukan pada saat baptisan. Dia mewakili kita di atas kayu salib ketika Ia menanggung hukuman dosa kita.

            Jadi, apa makna dari baptisan Yesus? Minggu ini kita akan bersama-sama mempelajari hal ini dari catatan Matius, sekalipun peristiwa ini juga dicatat dalam kitab-kitab injil yang lain. Berdasarkan teks yang ada, kita akan melihat bahwa makna baptisan Yesus terletak pada teladan ketaatan-Nya dan pengakuan Bapa atas diri-Nya.

Ketaatan Yesus (ayat 13-15)

            Matius memberikan beberapa petunjuk dalam teks yang membuktikan ketaatan Yesus. Pertama, Yesus datang dari jauh hanya untuk dibaptis (ayat 13). Di antara semua penulis kitab injil, hanya Matius yang menyatakan secara eksplisit bahwa Yesus datang dari propinsi Galilea (lebih tepatnya kota Nazaret, Mar 1:9) ke Sungai Yordan untuk dibaptis olehnya. Karena Sungai Yordan adalah sungai terpanjang di Palestina, maka kita kesulitan menentukan posisi persis dari baptisan Yesus. Bagaimanapun, kita memiliki petunjuk yang cukup untuk meyakini bahwa baptisan Yesus terjadi di propinsi Yudea. Dari mana kita tahu? Dari catatan Alkitab bahwa Yohanes Pembaptis melayani di padang gurun Yudea (Mat 3:1). Di samping itu, kepergian Yesus ke propinsi Galilea setelah Yohanes ditangkap (Mat 4:12) menyiratkan bahwa peangkapan itu terjadi di propinsi Yudea. Penjelasan ini menunjukkan bahwa Yesus harus menempuh perjalanan antar propinsi untuk dibaptis. Dia tidak melakukan pelayanan apapun selama di Yudea: setelah dibaptis Dia dibawa Roh ke padang gurun untuk dicobai iblis (Mat 4:1-11) dan setelah itu Dia langsung kembali ke Galilea (Mat 4:12-17).

            Kedua, Yesus bersedia dibaptis oleh Yohanes sekalipun Yesus lebih besar daripada Yohanes (ayat 14). Ketika Yesus ingin dibaptis, Yohanes menolak maksud itu. Kalau sebelumnya Yohanes sudah menolak para pemimpin agama Yahudi karena mereka menganggap ritual baptisan dapat memberi kelepasan dari hukuman tanpa perubahan hidup yang signifikan (Mat 3:7-10), sekarang dia menolak Yesus dengan alasan yang berbeda. Penolakan terhadap Yesus disertai dengan penekanan (dalam kalimat Yunani subjek “aku” bersifat menekankan). Yohanes seakan-akan ingin menegaskan bahwa “aku, akulah yang perlu dibaptis oleh-Mu”.

            Mengapa Yohanes menolak untuk membaptis Yesus? Apakah dia sudah mengetahui bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang tali kasut-Nya pun dia tidak layak untuk membuka (Mat 3:11)? Berdasarkan Yohanes 1:31-34 terlihat bahwa sebelum peristiwa baptisan terjadi Yohanes tidak mengetahui hal tersebut. Kemungkinan besar Yohanes menolak membaptis Yesus karena dia sudah tahu dari orang tuanya bahwa Yesus lebih besar daripada dia. Kelahiran Yesus lebih ajaib daripada dia (Luk 1). Yesus sendiri sudah menunjukkan keistimewaan diri-Nya sejak kecil (Luk 2:41-52). Semua cerita ini pasti sudah diketahui oleh Yohanes sehingga dia merasa bahwa dirinyalah yang perlu dibaptis oleh Yesus, karena Yesus lebih besar daripada dia. Yohanes mengakui bahwa dia adalah orang berdosa sama seperti mereka yang telah ia baptiskan. Dia bukan hanya ingin dibaptis, tetapi perlu dibaptis (dalam kalimat Yunani “aku, aku memiliki kebutuhan”).

            Bagaimanapun Yohanes menolak, Yesus tetap bersikeras untuk dibaptis. Sikap ini merupakan teladan yang luar biasa. Jika Dia dibaptis dan Yohanes tidak pernah berusaha mencegah Dia, maka orang banyak akan memiliki pandangan bahwa Yohanes lebih besar daripada Dia. Lebih jauh, mereka juga mungkin menganggap Yesus sebagai orang berdosa sama seperti semua orang lan yang datang untuk dibaptis oleh Yohanes. Walaupun resiko yang harus ditanggung bisa sangat berat, Yesus tetap mau dibaptis oleh Yohanes.

            Ketiga, Yesus bersedia dibaptis karena ketaatan-Nya pada kehendak Bapa (ayat 15). Sebagai respon terhadap penolakan Yohanes, Yesus mengatakan, “biarlah hal itu terjadi” (LAI:TB). Dalam kalimat Yunani ada satu kata yang tidak diterjemahkan oleh penerjemah LAI, yaitu kata arti (“sekarang”; versi Inggris “at this time” [NASB] atau “now” [KJV/RSV/NIV]). Dari jawaban seperti kita dapat mengetahui bahwa Yesus tidak menolak apa yang disampaikan oleh Yohanes di ayat 14. Yesus memang tidak layak dibaptis oleh Yohanes, sebaliknya Yohaneslah yang perlu dibaptis oleh Yesus. Bagaimanapun, untuk saat itu baptisan itu harus dilakukan.

            Keharusan dari baptisan Yesus bukan karena Yesus adalah orang berdosa yang memerlukan baptisan. Baptisan ini diperlukan untuk menggenapi “seluruh kehendak Allah” (LAI:TB). Sesuai dengan kalimat Yunani yang dipakai, frase ini secara hurufiah berarti “seluruh kebenaran” (KJV/RSV/NIV/NASB). Penggunaan kata “seluruh” menunjukkan bahwa sikap ini bukan hanya berlaku pada saat peristiwa baptisan saja, tetapi juga dalam seluruh aspek kehidupan.

            Yang perlu memiliki sikap seperti ini bukan hanya Yesus, tetapi Yohanes juga, karena Yesus mengatakan, “sepatutnya kita menggenapi…”. Dari pihak Yohanes dia perlu belajar menaati Allah dengan cara membaptis siapa saja, baik orang berdosa kepada pertobatan maupun Mesias supaya Ia dinyatakan oleh Bapa (band. Yoh 1:31). Dari pihak Yesus, Dia harus menjalani baptisan karena Allah akan memakai momen baptisan untuk menyatakan identitas diri-Nya yang sebenarnya. Jadi, makna baptisan Yesus adalah ketaatan kepada seluruh kebenaran (baca: “kehendak Allah”).

Pernyataan Bapa (ayat 16-17)

            Kata “segera” di ayat 16 dapat menerangkan kata “dibaptis” (NIV), “keluar dari Allah” (LAI:TB/KJV/NASB) atau “langit terbuka” (NRSV). Manapun pilihan yang tepat, makna yang tersirat tetap sama, yaitu peristiwa baptisan Yesus berkaitan dengan langit terbuka. Dua peristiwa ini saling berkaitan (ayat 16b LAI:TB/NIV “dan pada waktu itu juga”). Untuk mempertegas kaitan antara dua peristiwa ini, Matius memakai kata “lihatlah” (idou) yang biasa dipakai untuk menuntut perhatian orang terhadap hal yang sangat penting (LAI:TB tidak menerjemahkan kata ini). Dalam konsep berpikir orang Yahudi terbukanya langit menunjukkan bahwa Allah ingin menyatakan diri-Nya secara khusus (Yes 64:1; Yeh 1:1; band. Kis 7:56; Why 4:1; 19:11). Allah ingin membuka diri kepada manusia di bumi.

            Peristiwa ajaib lain yang terjadi adalah munculnya Roh Kudus dalam bentuk burung merpati (ayat 16c). Dari kalimat yang dipakai terlihat bahwa Roh Kudus tidak menjelma menjadi burung merpati. Dia hanya menampakkan diri seperti burung merpati. Gambaran ini tidak pernah dijumpai dalam Perjanjian Lama. Gambaran Roh Kudus sebagai burung merpati sangat mungkin dimulai pada waktu peristiwa baptisan. Yohanes sendiri mungkin mengetahui bahwa bentuk seperti burung merpati tersebut adalah Roh Kudus karena penampakan itu disertai peristiwa-peristiwa yang luar biasa (band. Yoh 1:32-33).

            Selain terbukanya langit dan turunnya Roh Kudus, baptisan Yesus juga ditandai dengan pengakuan dari langit oleh Bapa (ayat 17). Matius memakai “inilah Anak-Ku…” (lebih ditujukan pada orang banyak), sedangkan Markus dan Lukas memakai “Engkaulah Anak-Ku..” (ditujukan pada Yesus). Bagian awal dari pernyataan Bapa ini (“Inilah Anak-Ku yang Kukasihi”) merupakan kutipan dari Mazmur 2:7, sedangkan bagian selanjutnya (“kepada-Nya Aku berkenan”) diambil dari Yesaya 42:1. Turunnya Roh Kudus juga semakin memperkuat hubungan antara pernyataan ini dengan Yesaya 42:1 (ayat 1b “Aku telah menaruh Roh-Ku ke atasnya, supaya ia menyatakan hukum kepada bangsa-bangsa”). Dua teks Perjanjian Lama yang dikutip merupakan teks yang dipahami orang Yahudi sebagai teks-teks mesianis. Dengan demikian, pernyataan Bapa merupakan proklamasi di depan banyak orang bahwa Yesus adalah Mesias yang dinubuatkan dalam kitab suci.

            Melalui dua teks itu kita dapat mengetahui mesias seperti apa yang sedang datang. Dia adalah keturunan Raja Daud (Mazmur 2 adalah mazmur raja) dan mesias yang menderita dalam kitab Yesaya (terutama pasal 53). Kesediaan Yesus untuk dibaptis berarti Dia sudah siap menjadi mesias yang menderita. Tidak heran ketika iblis menawarkan banyak jalan yang mudah kepada-Nya, Dia menolak semu atawaran itu (Mat 4:1-11) karena Dia tahu bahwa Dia adalah mesias yang menderita. Dalam sebuah pembicaraan dengan murid-murid-Nya Yesus juga pernah menyamakan baptisan dengan cawan penderitaan yang harus Dia minum (Mar 10:38-39). Proklamasi dari Bapa sekaligus memberikan peneguhan bahwa nubuat Yohanes di Matius 3:11-12 sudah digenapi (kaitan ini akan lebih kentara apabila kita memperhatikan kata sambung “maka” di awal ayat 13 yang menyiratkan bahwa Yesus dibaptis untuk menggenapi nubuat tersebut).

Leave a Reply