Yakub Tri Handoko, Th.M.

Pendahuluan

            Peristiwa Yesus dicobai di padang gurun merupakan salah satu bagian kehidupan Yesus yang sangat penting. Hampir semua penulis kitab injil membahas hal ini (Mat 4:1-11; Mar 1:12-13; Luk 4:1-13), kecuali Yohanes. Penulis kitab Ibrani juga menyinggung tentang pencobaan Yesus (4:15), walaupun rujukan ini bukan hanya terbatas pada pencobaan di padang gurun.

            Pencobaan yang dialami Yesus tidak terpisahkan dari peristiwa sebelumnya, yaitu baptisan, karena dua peristiwa ini sama-sama berhubungan dengan status Yesus sebagai Anak Allah. Bapa memproklamasikan Yesus sebagai Anak-Nya (Luk 3:22//Mzm 2:7), sedangkan iblis menjadikan proklamasi tersebut sebagai sasaran serangan (Luk 4:3, 9 “jika Engkau Anak Allah…”). Bapa memproklamasikan Yesus sebagai Anak Allah yang menderita (Yes 42:1; 53:1-12), tetapi iblis berusaha menggoda Yesus untuk mengambil jalan yang tanpa penderitaan/salib.

            Khusus dalam Injil Lukas pencobaan yang dialami Yesus menunjukkan bahwa Dia adalah Adam kedua (band. Rom 5:12-21; 1Kor 15:45). Makna terlihat dari upaya Lukas menyisipkan silsilah Yesus dari Adam (3:23-38) di antara kisah baptisan (3:21-22) dan pencobaan (4:1-13). Lebih lagi, dalam silsilah ini Adam juga disebut sebagai Anak Allah (3:38), sama seperti Yesus sebelumnya juga disebut “Anak Allah” (3:22). Dengan kata lain, Yesus ditampilkan sebagai Adam terakhir, Anak Allah, yang berhasil menang atas pencobaan. Maksud ini sesuai dengan teologi Injil Lukas secara keseluruhan (juga Kisah Rasul) yang menekankan bahwa keselamatan juga untuk bangsa-bangsa non-Yahudi. Karena itu Lukas memulai dari Adam, bukan dari Abraham atau Musa.

Kemenangan Yesus dalam pencobaan jelas merupakan sesuatu yang luar biasa. Situasi Adam jauh lebih menguntungkan daripada Yesus, tetapi dia justru gagal dalam pencobaan. Adam boleh makan semua buah dalam Taman Eden, sedangkan Yesus tidak memiliki apa-apa yang dapat dimakan. Adam berada dalam keadaan kelimpahan makanan, sedangkan Yesus menderita lapar dan haus selama 40 hari. Adam berada di sebuah taman yang sangat indah, sedangkan Yesus berada di padang gurun yang gersang.

Setting (ayat 1-2)

            Keterlibatan Roh Kudus dalam peristiwa pencobaan sangat ditekankan oleh Lukas. Roh Kudus bukan hanya memimpin Yesus ke padang gurun (Luk 4:1; Mat 4:1; Mar 1:12), tetapi Roh Kudus sendiri memenuhi Yesus (Luk 4:1 “Yesus yang penuh dengan Roh Kudus”). Ungkapan “penuh Roh Kudus” ini secara konsisten muncul dalam tulisan Lukas, baik sebelum turunnya Roh Kudus di Hari Pentakosta (Luk 1:15, 41, 67; 4:1) maupun sesudahnya (Kis 4:8, 31; 7:55; 9:17; 11:24; 13:9). Dengan menyebut Yesus sebagai “penuh Roh Kudus” dan “dipipin oleh Roh Kudus” Lukas ingin menegaskan bahwa pencobaan yang dialami Yesus bukanlah karena Yesus mencari-cari pencobaan. Dia tidak mendatangi pencobaan (band. 22:40, 46), melainkan Dia harus menghadapi pencobaan itu.

            Para penerjemah berbeda pendapat tentang keterangan waktu “40 hari” dalam kisah ini. Apakah rentang waktu ini menjelaskan durasi pimpinan Roh Kudus (LAI:TB) atau dicobai iblis (KJV/NIV/NRSV)? Dengan kata lain, apakah pencobaan yang dialami Yesus terjadi selama 40 hari atau sesudahnya? Dari sisi tata bahasa Yunani, tense imperfect “dipimpin” menunjukkan tindakan yang terus-menerus di masa lampaui, sedangkan participle present “dicobai” mengindikasikan kejadian yang terjadi secara bersamaan dengan kata “dipimpin”. Dengan demikian, kita harus memahami bahwa pimpinan Roh Kudus dan pencobaan yang dialami Yesus terjadi selama 40 hari. Yesus tidak hanya dicobai 3 kali, tetapi terus-menerus selama 40 hari. Peristiwa di ayat 3-12 hanyalah puncak dari serangkaian upaya iblis untuk menjatuhkan Yesus.

Batu menjadi roti: tentang persandaran terhadap pemeliharaan Allah (ayat 3-4)

            Kalimat pengandaian “jika Engkau…” (ayat 3) dalam tata bahasa Yunani mengindikasikan bahwa yang diasumsikan adalah benar. Iblis sudah mengetahui bahwa Yesus adalah Anak Allah. Dia tidak pernah meragukan hal itu. Dia pasti tahu tentang peristiwa baptisan di mana Bapa memproklamasikan Yesus sebagai Anak-Nya. Catatan Alkitab yang lain juga menunjukkan bahwa iblis dan roh-roh jahat tahu identitas Yesus yang sebenarnya (8:28; Mar 3:11; 5:7).

            Iblis justru memanfaatkan hal tersebut untuk menjebak Yesus. Karena Yesus adalah Anak Allah, maka Ia memiliki kuasa untuk mengadakan mujizat mengubah batu menjadi roti. Yesus pun waktu itu dalam keadaan lapar, sehingga sah-sah saja apabila Dia menggunakan kuasa-Nya untuk mengatasi lapar itu. Iblis menggoda Yesus untuk tidak bersandar pada Allah dalam memenuhi kebutuhan-Nya.

            Sebagai respon terhadap iblis, Yesus mengutip firman Tuhan dari Ulangan 8:3. Berdasarkan konteks ayat ini, kita dapat melihat bahwa Allah sengaja membawa bangsa Israel ke dalam berbagai macam kesulitan dan kekurangan supaya mereka belajar bersandar pada firman Tuhan. Di tengah-tengah padang gurun yang tidak ada makanan, mereka tetap bisa makan manna yang disediakan oleh Allah. Berdasarkan firman Tuhan ini Yesus menolak untuk menyediakan makanan melalui usaha-Nya sendiri. Dia bukan hanya tahu firman Tuhan (“manusia hidup bukan dari roti tapi dari firman Tuhan”), tetapi Dia juga menghidupi firman itu. Sebagai Anak Allah Yesus perlu bergantung kepada Bapa-Nya, sekalipun Ia mampu mengubah batu menjadi roti. Di akhir pencobaan yang Yesus alami, Bapa sungguh-sungguh menyediakan makanan itu melalui para malaikat-Nya (Mat 4:11).

            Sikap Yesus dalam kisah ini menjadi teladan yang indah bagi kita. Kalau Yesus yang memiliki kuasa tidak terbatas saja mau bersandar pada Bapa-Nya dalam hal makanan (sesuatu yang sangat sepele!), apalagi kita yang tidak memiliki kuasa apapun. Bukankah kita perlu menyandarkan diri pada pemeliharaan Allah untuk setiap nasi yang kita butuhkan? Bukankah kita setiap hari perlu bertelut dan memohon “berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya?” (Mat 6:11).

Menyembah iblis: tentang ketaatan kepada Allah (ayat 5-8)

            Urutan pencobaan ke-2 dan ke-3 di Injil Lukas sedikit berbeda dengan di Injil Matius. Para teolog biasanya berpendapat bahwa Lukas sengaja mengubah urutan pencobaan ini. Dia bermaksud meletakkan pencobaan di bait Allah di ururtan terakhir sebagai klimaks dari rangkaian pencobaan ini. Hal ini dilakukan Lukas karena dia memang sangat menekankan bait Allah (Yerusalem). Injil Lukas dimulai (1:6-23) dan diakhiri (24:52-53) di bait Allah. Kisah Rasul pun ditulis untuk menunjukkan bahwa keselamatan universal dimulai dari Yerusalem (1:8).

            Sebagian orang ingin mengetahui seberapa tinggi tempat Yesus dan iblis berada sehingga mereka dapat melihat seluruh kerajaan dunia. Keingintahuan seperti ini sebenarnya tidak diperlukan karena beberapa alasan: (1) mayoritas teolog meyakini bahwa peristiwa pencobaan terjadi dalam dunia roh; (2) apa yang dilihat Yesus dan iblis sifatnya tidak permanen (ayat 5 “dalam sekejap mata”); (3) kata “dunia” [oikumene] sebelumnya dipakai dalam arti kerajaan Romawi (2:1).

            Dalam pencobaan ke-2 ini iblis menggoda Yesus dengan menggunakan strategi yang yang lain. Ayat 5 menginformasikan bahwa dalam sekejap iblis memperlihatkan kerajaan dunia kepada Yesus. Apakah “dalam sekejap” di sini menunjukkan bahwa sebelumnya Yesus tidak melihat, tetapi tiba-tiba iblis memperlihatkan hal itu (LAI:TB/NIV) atau iblis memperlihatkan kerajaan dunia selama waktu yang sangat pendek sekali (KJV/NASB/RSV)? Berdasarkan struktur kalimat Yunani – dalam sekejap terletak di akhir kalimat – kita sebaiknya memilih alternatif yang terakhir. Iblis hanya memperlihatkan semua keindahan dunia selama waktu yang pendek supaya Yesus tergoda untuk menikmatinya lebih lama dengan cara memiliki semua itu.

            Iblis juga memberikan penekanan pada tawaran yang dia ajukan. Dalam bahasa Yunani, perkataan iblis di ayat 6 dimulai dengan kata “kepadamu”, seolah-olah iblis ingin menekankan bahwa tawaran ini eksklusif hanya untuk Yesus. Selain itu iblis juga menawarkan kuasa yang sifatnya universal (ayat 6 “semua kuasa itu”). Dia bahkan menegaskan bahwa dia berhak memberikan kepada siapa saja yang dia kehendaki (ayat 6b). Tawaran seperti ini jelas sangat menggiurkan.

            Pertanyaan yang sering diajukan orang sehubungan dengan pencobaan ini adalah “apakah iblis sungguh-sungguh mampu memberikan apa yang dia tawarkan?”. Kita pertama-tama harus mengakui bahwa iblis memiliki kuasa dalam taraf tertentu. Alkitab berkali-kali menunjukkan hal ini dengan cara menyebut iblis sebagai allah jaman ini, penguasa dunia ini, pemerintah-pemerintah spiritual, dsb (Yoh 12:31; 14:30; 16:11; Ef 2:2; 1Yoh 5:19; Rom 8:18-30; 2Kor 4:4; 1Yoh 5:19; Why 13:2). Bagaimanapun kita tidak boleh melupakan bahwa seluruh bumi tetap adalah milik Allah (Mzm 50:12). Iblis tidak memiliki otoritas mutlak atas seluruh bumi, apalagi atas Yesus. Otoritas Yesus dalam menghardik iblis (Mat 4:10) dan mengusir roh-roh jahat (Luk 4:31-37; 8:26-39) membuktikan bahwa Yesus memiliki otoritas yang lebih besar daripada iblis.

            Inti dari pencobaan yang kedua ini adalah godaan kepada Yesus agar Dia mencari kuasa dengan usaha-Nya sendiri. Iblis menawarkan agar Yesus tidak perlu menaati Bapa-Nya hanya untuk mendapatkan kuasa. Yesus menolak tawaran ini karena Dia tahu bahwa yang berhak memberikan segala kuasa itu kepada-Nya hanyalah Bapa (Luk 10:22; 22:29; band. Dan 7:14). Dia juga mengetahui bahwa semua ini akan terjadi melalui jalan penderitaan, bukan jalan kemudahan yang ditawarkan iblis (band. Flp 2:6-11).

            Sebagai respon terhadap iblis, Yesus sekali lagi menggunakan firman Tuhan, yaitu Ulangan 6:13. Dalam teks ini Allah memperingatkan bangsa Israel agar tidak melupakan Dia  ketika       mereka sudah mendapatkan semua yang baik di tanah Kanaan (Ul 6:10-12). Allah tahu bahwa kemapanan dan kenyamanan hidup di dunia seringkali menggoda manusia untuk tidak menyembah Allah. Iblis juga mengetahui hal ini dan karena itu Dia berusaha memberi kenikmatan duniawi kepada Yesus agar Yesus lupa kepada Alah-Nya. Betapapun menariknya tawaran ini, Yesus tidak tergoyahkan. Sebagai Anak Allah Dia sadar bahwa kedatangan-Nya ke dunia adalah untuk menggenapi semua rencana Bapa-Nya, termasuk melalui jalan penderitaan.

Terjun dari bubungan bait Allah: menguji pemeliharaan Allah (ayat 9-12)

            Kita tida bisa mengetahui secara pasti posisi Yesus di bait Allah ketika Ia disuruh terjun oleh iblis, karena kata “bubungan” sangat ambigu. Di bait Allah ada beberapa tempat yang dapat dikategorikan sebagai bubungan. Walaupun kita tidak tahu secara pasti, namun kita dapat meyakini bahwa tempat ini cukup tinggi untuk membuat orang yang terjatuh bisa mati hancur. Jika tidak demikian maka pencobaan iblis yang terakhir ini tidak akan memiliki arti apapun. Jika posisi persis terjadinya pencobaan ini sama dengan posisi dijatuhkannya Yakobus, saudara Yakobus, maka kita mendapat bukti konkrit bahwa siapa saja yang jatuh dari ketinggian bubungan bait Allah akan mengalami kematian.

            Setelah iblis ggal dalam dua upaya pencobaan terdahulu, Dia sekarang mencoba yang ketiga. Dia memerintah Yesus untuk menjatuhkan diri dari bait Allah. Iblis ingin supaya Yesus menguji pemeliharaan Allah atas hidup-Nya. Sebagai Anak Allah (ayat 9), Yesus pasti akan dipelihara oleh Allah. Iblis ingin agar Yesus menuntut Allah membuktikan hal itu.

            Mengapa iblis memilih tempat di bait Allah? Mengapa dia tidak melakukan itu di gunung saja supaya lebih tinggi dan tidak perlu repot-repot berpindah pindah? Sebagian teolog berpendapat bahwa hal ini dilakukan oleh iblis karena di bait Allah pasti ada banyak orang yang akan melihat hal itu dan terpesona, dengan demikian Yesus akan lebih tergoda untuk membuktikan hal itu. Pendapat ini tampaknya tidak tepat: (1) dalam dua pencobaan sebelumnya Yesus sendirian dengan iblis, sehingga dalam pencobaan kali ini pun tampaknya mereka hanya berdua saja; (2) inti dari pencobaan ini bukan mencari popularitas dari manusia, tetapi menguji pemeliharan/janji Allah. Pemilihan bait Allah sebagai lokasi sangat mungkin berkaitan dengan konsep umum waktu itu bahwa Allah hadir secara khusus di bait-Nya. Kalau janji Allah di Mazmur 91:11-12 berlaku untuk semua orang benar di segala tempat, apalagi untuk Anak Allah di bait Allah! Allah pasti akan menopang Yesus.

            Dari hal ini kita dapat melihat bahwa iblis sedikit mengubah strateginya. Sekarang dia juga mengutip firman Tuhan, tetapi dia menafsirkan dan mengaplikasikan firman itu secara sembarangan. Apa yang dilakukan iblis menjadi pelajaran bagi kita bahwa tidak semua orang yang memakai firman Tuhan dapat disebut Alkitabiah. Para bidat juga memakai firman Tuhan, tetapi dimanipulasi sedemikian sesuai pikiran mereka.

            Sebagai respon terhadap iblis, Yesus tetap menggunakan firman Tuhan. Dia memakai Ulangan 6:16. Teks ini berisi peringatan Allah kepada bangsa Israel agar tidak mencobai Tuhan. Apa maksud “mencobai Tuhan”? Bangsa Israel sudah tahu bahwa Allah berkuasa untuk menggenapi janji-Nya. Dia sudah elakukan banyak hal besar di depan mata mereka, namun mereka menganggap hal itu belum cukup. Mereka menuntut Allah untuk membuktikan hal-hal tersebut setiap kali mereka dalam kesulitan.

Yesus tidak mau mengikuti cara-cara bangsa Israel. Bagi Dia, janji Allah pasti akan digenapi. Dia tidak perlu menuntut Allah untuk membuktikan itu. Dengan kata lain, Dia percaya pada pemeliharan Allah! Sikap Yesus ini menjadi teladan yang indah bagi kita. Berapa kali kita menuntut Allah untuk membuktikan sesuatu baru kita mau percaya kepada-Nya? Berapa kali kita meragukan kasih, kuasa dan pemeliharaan-Nya atas hidup kita?

Iblis menyingkir (ayat 13)

            Terjemahan ayat 13a di LAI:TB maupun NIV (“all this tempting”) menyiratkan bahwa pencobaan Yesus hanya terbatas pada tiga pencobaan di ayat 3-12. Makna ini akan sedikit berbeda apabila kita membandingkan dengan terjemahan hurufiah ayat 13a “setelah iblis mengakhiri setiap pencobaan” (NASB/RSV). Terjemahan ini membuka kemungkinan bahwa ayat 13 merupakan penutup dari serangkaian pencobaan yang dialami Yesus selama 40 hari (bukan hanya setelah hari ke-40 saja).

            Lukas mencatat bahwa semua pencoban ini bukanlah akhir dari upaya iblis. Iblis masih mencari waktu yang tepat (ayat 13b) untuk mencobai Yesus lagi. Waktu yang tepat ini bukan merujuk pada kisah seputar penyaliban, misalnya Lukas 22:3. Iblis tidak pernah berhenti mencobai Yesus. Beberapa kali konfrontasi yang Yesus adakan dengan roh-roh jahat (4:33-37; 8:12; 9:38-42; 10:17-18; 11:14-22; 13:11-17) menunjukkan bahwa Dia selalu menghadapi serangan iblis. Menjelang penangkapan-Nya Yesus bahkan berkata kepada murid-murid “kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami” (Luk 22:28). Ibrani 4:15b secara hurufiah berbunyi “yang telah dicobai dalam setiap hal/cara” (KJV/RSV/NASB/NIV). Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa keseluruhan hidup Yesus adalah peperangan rohani dengan iblis. Walaupun iblis selalu menggoda Dia da mencari waktu yang baik, tetapi iblis tidak pernah bisa mendapatkan waktu yang baik. Yesus selalu berjaga-jaga dan menang ketika dicobai.

Leave a Reply