Yakub Tri Handoko, Th. M.

 

Pendahuluan

Dalam Injil Yohanes Yesus sering memberikan pernyataan diri dalam bentuk egw eimi (“Aku adalah…”). Ia adalah roti hidup (6:35, 48), terang dunia (8:12), kebangkitan dan hidup (11:25), jalan, kebenaran dan hidup (14:6), pokok anggur yang benar (15:1). Dalam Yohanes 10:11-15 Yesus menyatakan bahwa Ia adalah gembala yang baik, setelah sebelumnya Ia menyebut diri sebagai pintu kepada domba-domba (10:7).

Alur berpikir dalam bagian ini dengan mudah dapat ditelusuri. Pada ayat 11a Yesus memberikan deklarasi “Aku adalah gembala yang baik”. Sesudah itu Ia menjelaskan ciri-ciri dari gembala yang baik (ayat 11b-15): gembala yang baik menyerahkan nyawa bagi domba-domba (ayat 11b-13) dan mengenal mereka dengan baik (ayat 14-15). Penjelasan ini diperlukan karena ada banyak ciri dari gembala yang baik (bdk. Mazmur 23), namun Yesus tidak sedang membahas semuanya. Ia sedang memfokuskan pada dua aspek utama dari seorang gembala. Di samping itu, penjelasan ini diperlukan karena sebagian orang memiliki konsep sendiri tentang gembala yang baik, tetapi beum tentu konsep itu seperti yang dimaksud oleh Yesus.

Pernyataan: Akulah gembala yang baik (ayat 11a, 14a)

Ungkapan “gembala yang baik” dalam Yohanes 10:11-15 diulang sebanyak 3 kali. Pengulangan ini jelas menunjukkan penekanan. Yang ditekankan bukan hanya kata “gembala” atau “yang baik”, tetapi keduanya. Ketika Yesus menyatakan diri sebagai gembala, Ia sedang membandingkan diri-Nya dengan orang-orang lain yang bukan gembala, misalnya pencuri (ayat 1, 8, 10) atau orang upahan (ayat 12). Ketika Ia menyatakan diri sebagai gembala yang baik, Ia membandingkan diri dengan gembala lain yang tidak baik, yaitu gembala asing (ayat 5) atau para pemimpin Yahudi (ayat 26-27).

Apakah arti “baik” (kalos) dalam pernyataan Yesus ini? Alkitab versi Indonesia maupun Inggris memakai terjemahan yang bersifat umum, yaitu “baik”. Terjemahan ini tentu saja tidak banyak membantu untuk memahami makna yang sesungguhnya dari kata kalos. Kata ini memiliki arti yang sangat beragam, sehingga para penafsir pun mengusulkan pandangan yang berlainan pula. Ada yang menerjemahkan “indah”, “mulia”, “baik [dalam hal moralitas]”, “sesungguhnya”, dsb.

Sesuai dengan penjelasan Yesus di ayat 11b-15, kata kalos sebaiknya dipahami sebagai baik dalam arti yang sedikit luas: bukan hanya moralitas (ayat 11b-13), tetapi juga relasi (ayat 14-15). Baik atau tidaknya gembala dalam konteks ini dilihat dalam kaitan dengan apa yang dia lakukan kepada domba-dombanya. Penjelasan ini tidak berarti bahwa arti yang lain – misalnya “indah”, “mulia”, dsb – tidak dimiliki oleh Yesus. Ia jelas memiliki semua kriteria sebagai gembala yang baik, namun bukan hal-hal itu yang sedang ditekankan dalam bagian ini.

Pernyataan “Aku adalah gembala yang baik” dalam bahasa Yunani memiliki makna yang lebih dalam daripada yang disiratkan dalam terjemahan LAI:TB. Ada beberapa aspek penekanan yang sulit untuk diterjemahkan ke dalam bahasa lain. Secara hurufiah ungkapan ini dapat diterjemahkan “Aku, Aku adalah gembala yang baik itu”. Penambahan kata egw (“Aku”) pada kata eimi (“Aku adalah”) menunjukkan penekanan dalam arti kontras dengan yang lain. Pemakaian artikel ho di depan kata gembala turut mempertegas makna ini. Artikel tersebut menunjukkan bahwa Yesus bukan sekadar seorang gembala, tetapi gembala itu. Dia bukan hanya satu di antara sekian banyak gembala yang baik, tetapi Ia adalah [datu-satunya] gembala yang baik itu.

Penekanan di atas sekilas mungkin bisa dipahami sebagai bentuk arogansi, karena Yesus tampaknya tidak menghiraukan eksistensi dari gembala-gembala lain yang tidak semuanya jahat. Bagaimana dengan para nabi atau raja yang baik yang pernah dipilih TUHAN untuk menggembalakan umat-Nya? Apakah mereka bukan gembala yang baik?

Kita harus melihat pernyataan Yesus di sini dalam konteks nubuat mesianis. Dalam tulisan para nabi TUHAN berkali-kali mencela para pemimpin agama Yahudi yang tidak menjalankan tugas sebagai gembala yang baik (Yer 10:21; 12:10; 23:1-4; Yeh 34; Zef 3:3; Zak 10:2-3; 11:4-17). Mereka hanya mencari keuntungan dari domba-domba mereka, sedangkan kesejahteraan dari domba itu tidak diperhatikan. Di tengah situasi seperti ini TUHAN menjanjikan seorang gembala dari keturunan Daud yang akan memerintah atas umat-Nya (Yer 23:1-5; Yeh 34:2, 23). Nubuat inilah yang digenapi oleh Yesus dan [memang] tidak mungkin digenapi oleh yang lain yang bukan mesianis. Berdasarkan latar belakang ini kita bisa mengerti bahwa pernyataan Yesus sama sekali bukan sebuah arogansi. Ini adalah sebuah deklarasi mutlak dari seorang mesias.

Ciri-ciri gembala yang baik (ayat 11b-15)

Yesus bukan hanya memberikan sebuah pernyataan, tetapi Ia kemudian menjelaskan karakteristik dari diri-Nya sebagai gembala yang baik. Seperti sudah disinggung sebelumnya, ada banyak ciri dari gembala yang baik, namun dalam bagian ini Yesus hanya menyebutkan dua saja, dan ini adalah yang terpenting.

Berkorban bagi domba-domba (ayat 11b-13)

Seorang gembala yang baik memberikan (tiqhmi) nyawanya bagi domba-dombanya (ayat 11b). Kata yang dipakai di sini lebih berarti “meletakkan”. Kata inilah yang sering dipakai oleh Yohanes (10:15, 17, 18; 13:37, 38). Kita mungkin sedikit terkejut dengan ungkapan Yesus bahwa gembala yang baik adalah yang menyerahkan nyawa bagi domba-domba. Bukankah seharusnya seorang gembala mempertaruhkan nyawa atau mengambil nyawa musuh-musuhnya (bdk. 1Sam 17:33-37)? Jika gembala mati, bagaimana dengan domba-dombanya? Bukankah kematian gembala menunjukkan bahwa ia tidak mampu melindungi domba-dombanya?

Sesuai dengan konteks yang ada, kematian gembala di sini tidak melambangkan kelemahan dari sang gembala. Ayat 11b tidak mengajarkan bahwa nyawa gembala itu diambil oleh orang lain. Sebaliknya, ia sendiri yang memberikan nyawanya. Di ayat 17-18 Yesus menerangkan hal ini sebagai tindakan sukarela yang justru menunjukkan kekuasaan-Nya. Dia berkuasa untuk memberikan nyawa dan mengambil kembali.

Kita juga perlu memperhatikan kalimat selanjutnya di ayat 11b, yaitu “bagi domba-dombanya”. Dalam Injil Yohanes kata “bagi” (hyper) dipakai berkali-kali dan memiliki makna penggantian (substitusi, 6:51; 10:11, 15; 11:50; 17:19; 18:14). Pemberian nyawa dari gembala bukan tanda kelemahan atau bahaya bagi domba-domba. Sebaliknya, hal itu dilakukan untuk mereka. Gambaran yang dimaksud adalah gembala sendiri yang dimakan/dibunuh oleh binatang buas, sehingga domba-dombanya bebas dari keganasan binatang itu. Inilah yang dilakukan oleh Yesus. Ia bukan hanya gembala, tetapi sekaligus Anak Domba Allah (1:29, 36). Sebagai gembala, Ia telah “mendombakan” diri-Nya bagi kita.

Apa yang diucapkan Yesus di Yohanes 10:11b di kemudian hari Ia perjelas lagi. Menjelang Ia ditangkap, Ia memberitahukan murid-murid-Nya bahwa mereka akan tercerai-berai (16:32). Berdasarkan Markus 14:27 kita mengetahui bahwa semua murid (domba) tercerai-berai karena gembala mereka telah dipukul. Ya, Yesus mati karena kita. Ia menjadi domba yang disembelih untuk menyelamatkan kita, kawanan domba-Nya (Yes 53:7)!

Tindakan sukarela yang Yesus lakukan merupakan sesuatu yang sangat sulit. Ketika kita memiliki kuasa untuk melawan musuh kita, maka kita cenderung mengalami kesulitan untuk mengalah. Jauh lebih mudah bagi kita untuk menggunakan kekuatan itu dan menghabisi musuh-musuh kita. Yesus memilih sebaliknya dan ini tindakan yang luar biasa. Jika musuh-musuh-Nya mati dan Ia sendiri mempertahankan hidup-Nya, maka domba-dombanya akan ikut mati. Jika Ia memilih untuk mati, maka domba-doba-Nya akan hidup.

Apa yang dilakukan Yesus di sini sangat berbeda dengan yang dilakukan oleh seorang upahan (ayat 12-13). Orang upahan ini tidak disebut sebagai “gembala upahan”. Ia bukan seorang gembala (ayat 12 “seorang upahan yang bukan gembala…”). Ia tentu saja bukan pemilik dari domba-domba itu. Sebagai seorang upahan, ia tidak mau bertarung melawan binatang-binatang buas, apalagi menjadi korban dalam pertarungan tersebut. Menurut ajaran Alkitab, seorang upahan tidak boleh diminta menggantikan domba yang dimakan oleh binatang buas. Dia hanya perlu membawa bangkai domba itu sebagai bukti kepada majikannya (Kel 22:13). Dalam tradisi Yahudi – sebagaimana disinggung dalam Mishnah – diajarkan bahwa hal itu hanya berlaku jika serigala yang menyerang kawanan domba itu berjumlah lebih dari satu. Jika hanya satu serigala yang menyerang, maka kematian domba akan menjadi tanggung-jawab orang upahan.

Dalam Yohanes 10:13 Yesus menjelaskan alasan mengapa orang upahan tersebut lari (bdk. kata sambung “karena” di ayat ini). Ia lari bukan karena ia takut, tidak memiliki senjata atau tidak bisa bertarung. Ia lari karena ia adalah orang upahan dan tidak memperhatikan domba-domba itu (ayat 13). Dengan kata lain, ia memang tidak mau mengorbankan dirinya demi keselamatan domba-domba. Perhatiannya hanyalah pada masalah upah. Yang penting bagi dia adalah uang, bukan domba. Ia hanya mau mendapatkan sesuatu dari domba-domba tetapi tidak mau memberikan apapun bagi mereka.

Mengenal domba-doba (ayat 14-15)

Ciri kedua dari gembala yang baik adalah mengenal domba-domba (ayat 14). Pengenalan yang intim antara gembala dan domba sudah dibahas sebelumnya di ayat 3b-5. Gembala yang baik mengenal nama setiap dombanya (ayat 3) dan begitu sebaliknya (ayat 4). Domba tidak mau mendengarkan suara asing yang bukan suara dari gembalanya sendiri (ayat 5).

Apa yang diungkapkan Yesus di sini berangkat dari kultur penggembalaan Yahudi yang unik. Gembala sangat mengenal setiap domba, begitu pula sebaliknya. Hal ini sangat diperlukan karena suatu kawanan sangat mungkin akan berjumpa dengan kawanan yang lain. Ketika semua domba itu berkumpul bersama untuk makan, minum atau bermain-main tentu akan sulit bagi seorang gembala untuk memisahkan domba-dombanya dari kawanan yang lain. Hal ini, ternyata, tidak berlaku di Israel. Masing-masing gembala memiliki suara atau bunyi yang khas yang hanya dikenali oleh domba-dombanya. Ia hanya perlu berjalan di tengah kerumunan domba atau menunggu di luar kerumuman itu dan mengeluarkan bunyi yang khas tersebut, maka domba-dombanya pasti akan mengenal dan mengikuti dia. Pedeknya, ada relasi yang unik antara satu gembala dengan domba-dombanya.

Untuk memperjelas maksud di ayat 14, Yesus lalu menggambarkan pengenalan itu seperti pengenalan Bapa terhadap diri-Nya, dan sebaliknya. Sebagian orang mungkin akan melihat kesamaan ini dalam arti kualitas (tingkat) pengenalan. Mereka meyakini bahwa orang percaya dapat mengenal Bapa sebagaimana Yesus mengenal Bapa.

Angapan di atas sudah pasti tidak dapat dibenarkan. Injil Yohanes berkali-kali menandaskan keunikan pengenalan antara Bapa-Yesus. Tidak ada seorang pun yang melihat Bapa, kecuali Anak (1:18). Relasi Bapa-Anak sudah terjadi seak kekekalan (1:1; 17:5, 24). Kesejajaran dan kesatan antara Bapa-Anak juga sangat unik sehingga tidak mungkin dibagi dengan makhluk lain (10:30; bdk. 5:19-20; 7:29; 8:19, 55; 14:7, 31; 17:23, 25).

Jika yang dimaksud Yesus bukan tingkat atau kualitas pengenalan, lalu apa? Yang ditekankan di sini adalah aspek resiprokal (“saling”). Sebagaimana Bapa-Yesus saling mengenal, demikian pula Yesus-kita. Aspek ini mendapat dukungan dari konteks. Ayat 3b-4 bukan hanya mengajarkan pengenalan gembala terhadap domba-dombanya (ayat 3b), tetapi juga pengenalan domba-domba terhadap seorang gembala (ayat 4). Di ayat 16 orang-orang yang percaya pada pemberitaan para rasul juga akan digembalakan oleh Yesus dan mereka pun akan mengenal suara-Nya. Di ayat 27 Yesus mengatakan, “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka”.

Aplikasi

Posisi Yesus sebagai gembala yang baik memang unik dan tidak bisa diisi oleh siapa pun juga. Dia adalah mesias keturunan Daud yang dipilih Allah untuk menggembalakan umat-Nya. Bagaimanapun, apa yang dilakukan Yesus tetap menjadi teladan bagi kita, terutama bagi kita yang dipercaya untuk menggembalakan domba-domba-Nya, entah itu anak-anak, murid-murid, karyawan, staf maupun jemaat. Kita harus menggembalakan dengan cara seperti Gembala Agung kita telah ajarkan (Ibr 13:20; 1Pet 5:4).

Gembala yang baik mau berkorban bagi domba-domba, bukan mengorbankan domba-domba demi nama baik gembala. Gembala yang baik mengenal setiap dombanya, bukan hanya domba-domba tertentu yang bersikap manis kepada kita. Kiranya TUHAN menolong kita menjadi gembala-gembala kecil yang baik.

 

 

Leave a Reply