Yakub Tri Handoko, Th.M.

Pendahuluan

            Penulis Kitab Ibrani banyak menyinggung tentang Yesus sebagai Imam Besar. Sebelumnya dia sudah menyebut Yesus sebagai imam besar yang menaruh belas-kasihan dan setia (2:17). Sebutan “Imam Besar” (dengan huruf kapital) yang ditujukan kepada Yesus dalam kitab ini secara keseluruhan muncul sebanyak 16 kali. Walaupun topik ini dibahas di berbagai tempat di Kitab Ibrani, namun kali ini kita hanya akan menyoroti pasal 4:14-16.

            Untuk memudahkan pemahaman, alur pemikiran penulis Kitab Ibrani dalam bagian ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Yesus adalah Imam Besar yang transenden (ayat 14a)

                        Respon: Kita memegang teguh pengakuan iman kita (ayat 14b)

Yesus adalah Imam Besar yang immanen (ayat 15)

                        Respon: Kita menghadap Allah dengan keberanian (ayat 16)

Yesus adalah Imam Besar yang transenden (ayat 14a)

            Istilah “transenden” dalam teologi merujuk pada sesuatu yang mulia, tinggi atau jauh melampaui manusia. Istilah ini seringkali dipakai untuk Allah sebagai Pribadi yang begitu mulia dan terpisah dari manusia. Yesus pun layak untuk disebut sebagai Imam Besar yang transenden. Ada tiga cara yang dipakai oleh penulis Kitab Ibrani dalam ayat 14a untuk melukiskan transendensi Yesus sebagai Imam Besar.

            Pertama, Yesus adalah Imam Besar Agung (arciereus megas). Penyebutan seperti ini di dalam Alkitab termasuk unik, karena tidak ada satu imam pun di dalam Alkitab yang disebut dengan dua keterangan “besar dan agung” sekaligus. Sebutan ganda seperti ini bahkan hanya diterapkan pada Yesus satu kali ini saja. Di tempat lain Yesus hanya disebut sebagai “Imam Besar” (5:1) atau “Imam Agung” (10:21). Dalam PL (LXX, Septuaginta) sebutan “imam agung” juga tidak pernah muncul. Sebutan ini hanya ditemukan dalam kitab Apokrifa (1Makabe 12:20; 14:20). Sebutan ganda tersebut berfungsi untuk memberi penekanan: Yesus adalah Imam Besar yang melebihi imam besar lain dari keturunan Harun!

            Mengapa Yesus disebut sebagai “Imam Besar Agung”? Karena dia adalah imam menurut peraturan Melkisedek (5:6). Berdasarkan hal ini Yesus bukan hanya seorang imam tetapi dia juga adalah seorang raja, sama seperti Melkisedek (Kej 14:18). Jabatan rangkap ini jelas unik. Dalam PL seorang imam besar tidak menjabat sebagai raja, begitu pula sebaliknya. Yang menarik, sebutan “imam besar agung” ternyata muncul di luar Alkitab dan juga dikenakan pada seorang yang menjabat sebagai imam besar sekaligus raja, yaitu Simon Makabe (1Makabe 13:42). Walaupun kita sulit menentukan apakah penulis Kitab Ibrani memikirkan 1Makabe 13:42 pada saat dia menyebut Yesus sebagai ”Imam Besar Agung”, tetapi konteks Ibrani 4:14 tampaknya mendukung ide tentang jabatan rangkap ini (lihat pembahasan selanjutnya di ayat 14b). Di tempat lain penulis Kitab Ibrani mengajarkan keunggulan keimaman Melkisedek atas Harun dari kisah Abraham (nenek moyang Harun) memberi persembahan kepada Melkisedek (7:1-17), namun di Ibrani 4:14 dia tidak menyinggung tentang hal itu. Keunggulan keimaman Yesus atas Harun lebih berhubungan dengan posisi Yesus sebagai Imam Besar dan Raja, sama seperti Melkisedek.

            Kedua, Yesus melintasi semua langit. Dalam kalimat Yunani sebenarnya tidak ada kata ”semua”. Penulis Kitab Ibrani hanya menyebut ”langit-langit”. Menurut tradisi Yahudi langit dibagi menjadi 7 tingkat, sedangkan menurut 2Korintus 12:2 Paulus diangkat sampai tingkat ke-3. Kita tidak bisa mengetahui dengan pasti berapa jumlah tingkatan langit. Paulus tidak menyatakan secara eksplisit bahwa tingkat ke-3 adalah yang tertinggi. Sebagian penafsir meyakini bahwa surga terdiri dari tiga tingkat. Sama seperti seorang imam besar di Hari Pendamaian berjalan dari halaman bait Allah à ruang kudus à ruang mahakudus, demikian pula Yesus telah melewati bumi à langit à kediaman Allah. Terlepas dari pandangan mana yang benar, tambahan ”semua” dalam terjemahan LAI:TB di Ibrani 4:14 tidak sepenuhnya salah, karena menurut Efesus 4:10 Yesus memang ”telah naik jauh lebih tinggi dari pada semua langit”.

            Ketika dikatakan bahwa Yesus telah melintasi semua langit, maka makna yang tersirat di balik frase ini adalah ”kekuasaan yang mutlak”. Yesus duduk di sebelah kanan Bapa sedangkan musuh-musuh-Nya dijadikan tumpuan kaki (Mzm 110:1). Penulis Kitab Ibrani beberapa kali mengutip teks ini (1:13; 8:1; 10:12-13). Dia juga mengutip Mazmur 110:4 (”Engkau adalah imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek”) berkali-kali (5:6; 6:20; 7:17, 21). Konteks Mazmur 110:1-7 memang membicarakan tentang Mesias yang menjadi imam menurut peraturan Melkisedek dan Ia akan mengalahkan semua musuh-Nya (Mzm 110:2, 5-7). Teks-teks dalam PB yang menyinggung tentang keberadaan Yesus di surga juga menekankan sisi kekuasaan-Nya atas segala sesuatu. Dia naik jauh lebih tinggi dari semua langit untuk memenuhkan segala sesuatu (Ef 4:14). Bapa mendudukkan Yesus di sebelah kanan-Nya supaya ”jauh lebih tinggi dari segala pemerintah dan penguasa dan kekuasaan dan kerajaan dan tiap-tiap nama yang dapat disebut, bukan hanya di dunia ini saja, melainkan juga di dunia yang akan datang” (Ef 1:20-21).

            Ketiga, Yesus adalah Anak Allah. Sebutan ”Anak Allah” di sini pasti berbeda dengan status orang percaya sebagai ”anak-anak Allah” (bdk. Yoh 1:12-13; Rom 8:15-16; Gal 4:6). Yesus adalah Anak Allah secara hakekat, bukan dari cara adopsi seperti kita. Dia memiliki hakekat keilahian sama seperti Bapa. Orang-orang Yahudi pernah mencoba merajam Yesus dengan batu karena dianggap menghujat ketika Ia mengatakan ”bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamakan diri-Nya dengan Allah” (Yoh 5:18). Imam besar Kayafas juga menganggap Yesus sebagai penghujat ketika Ia menegaskan bahwa Ia adalah Anak Allah yang datang dalam kemuliaan (Mat 26:63-65).

Respon: berpegang teguh pada pengakuan iman (ayat 14b)

            Transendensi Yesus sebagai Imam Besar bukan sekedar konsep teoritis yang abstrak. Konsep ini memiliki kaitan erat dengan kerohanian kita. Karena Imam Besar adalah agung, memiliki otoritas atas segala sesuatu dan Anak Allah, maka Ia sanggup memberi kita kekuatan untuk bertahan dalam situasi apapun. Berita ini jelas merupakan penghiburan besar bagi penerima Kitab Ibrani yang sedang menghadapi penganiayaan dan ajaran sesat dari pihak orang Yahudi (4:1, 11; 10:32-33, 39). Dalam situasi ditekan mereka mungkin saja akan putus harap dan lemah, namun mereka harus mengingat bahwa Imam Besar yang telah mendamaikan mereka dengan Allah adalah Imam Besar yang transenden.

            Berdasarkan konsep tentang transendensi Imam Besar ini, penulis Kitab Ibrani menasehatkan jemaat untuk tetap memegang teguh pengakuan iman mereka (ayat 14b). Kata ”berpegang teguh” dalam bahasa Yunani adalah kratew. Kata ini bukan sekedar menunjuk pada tindakan memegang yang sembarangan, misalnya meraba atau menyentuh, tetapi memegang dengan kuat. Kata ini bahkan dipakai juga untuk upaya menangkap seseorang dengan paksa (Mat 14:3). Berdasarkan makna seperti ini, tidak salah kalau LAI:TB maupun berbagai versi Inggris memahami kratew sebagai ”memegang teguh”.

            Di samping harus memegang teguh, jemaat juga harus terus-menerus memegang teguh. Kata ”berpegang teguh” di ayat ini memakai present tense yang menyiratkan tindakan terus-menerus. Kita seringkali mampu berpegang teguh tetapi hanya untuk sementara waktu. Tuhan ingin agar kita secara konsisten berpegang teguh.

            Yang kita pegang teguh adalah ”pengakuan iman kita”. Dalam kalimat Yunani sebenarnya tidak ada tambahan ”iman”. Kata yang dipakai adalah homologia, yang secara hurufiah berarti ”perkataan yang sama”. Jadi, homologia merujuk pada sesuatu yang diakui bersama-sama. Penerjemah LAI:TB dan NIV memahami pengakuan ini sebagai pengakuan iman, sedangkan penerjemah lain memilih untuk menerjemahkan apa adanya. Dalam Kitab Ibrani kata homologia tidak selalu dikaitkan dengan iman. Kata ini bisa berhubungan dengan Yesus (3:1) maupun pengharapan (10:23). Bertitik tolak dari hal ini, kita sebaiknya tidak membatasi homologia hanya pengakuan iman, seolah-olah pengakuan ini sifatnya hanya sekedar doktrinal (teoritis). Apapun yang diajarkan Alkitab dan kita akui bersama sebagai orang percaya harus tetap kita pegang teguh, apapun keadaan kita sekarang. Kita mungkin berada dalam pergumulan yang berat, kebingungan, keputusasaan dan penderitaan, tetapi kita harus tetap teguh karena Imam Besar kita adalah transenden. Dia sanggup menolong kita.

Yesus adalah Imam Besar yang immanen (ayat 15)

            Seseorang yang berada pada posisi yang sangat tinggi biasanya cenderung tidak bisa memahami orang lain di posisi yang lebih rendah. Tidak demikian halnya dengan Yesus. Dia memang transenden (ayat 14a), tetapi Dia juga dekat immanen. Dia dekat dengan umat-Nya. Keseimbangan antara yang transenden dan immanen ini merupakan saah satu karakteristik kekristenan (agama lain biasanya hanya menekankan satu sisi, entah transendesni atau imanensi Allah saja). Sama seperti Bapa kita di surga (Mat 6:9) adalah transenden (“di surga”) dan imanen (“Bapa kami”), demikian pula dengan Imam Besar kita.

            Imanensi Yesus dinyatakan secara jelas melalui banyak cara di ayat 15. Penulis Kitab Ibrani sengaja meletakkan kata ”bukan” (ou) di awal kalimat untuk menekankan, seolah-olah dia ingin berseru, ”BUKAN!, Dia bukan Imam Besar yang tidak dapat merasakan kelemahan kita!”. Merasakan kelemahan orang lain yang diwakili oleh imam besar merupakan persyaratan penting bagi seorang imam besar. Ibrani 5:2 mengajarkan bahwa seorang imam besar ”harus dapat mengerti orang-orang yang jahil dan orang-orang yang sesat, karena ia sendiri penuh dengan kelemahan”.

            Berbagai bahasa Inggris memakai kata ”bersimpati” (RSV/NASB/NIV) atau ”disentuh dengan perasaan” (KJV/ASV) untuk menerjemahkan kata Yunani sympaqew di ayat 15. Terjemahan ini kurang tepat. Kata sympaqew seharusnya dipahami sebagai tindakan ”merasakan/menderita bersama-sama”. Yesus bukan sekedar memahami kelemahan kita dari surga, tetapi Dia pernah mengalami semuanya itu (ayat 15b). Di Ibrani 10:34 kata ini dipakai dalam arti ”turut mengambil bagian” dalam sebuah penderitaan. Hal ini jelas lebih daripada sekedar bersimpati menurut padangan umum sekarang ini.

            Imam Besar Yesus turut merasakan kelemahan-kelemahan kita. Kata asqeneia dalam Alkitab dapat merujuk pada segala macam jenis kelemahan, dari kelemahan fisik (Luk 5:15; Ibr 11:34), mental (1Kor 2:3) maupun rohani (Rom 6:19). Bentuk jamak yang dipakai semakin mempertegas bahwa Yesus bukan hanya merasakan satu kelemahan, tetapi semua kelemahan manusiawi kita.

            Mengapa Dia bisa merasakan semua kelemahan kita? Ayat 15b menjelaskan bahwa sama seperti kita, Dia telah dicobai. Ada frase Yunani yang menerangkan ”dicobai” yang tidak diterjemahkan dalam LAI:TB padahal frase ini sangat penting, yaitu kata panta (”dalam segala hal”). Versi Inggris menerjemahkan frase ini secara beragam: ”in every way” (NIV), ”in all points” (KJV/ASV), ”in all things” (NASB) dan “in every respect” (RSV). Dari beragam terjemahan ini terlihat bahwa para penafsir ingin lebih spesifik menyatakan apakah Yesus dicobai dalam segala cara, di setiap titik dalam kehidupan-Nya atau dalam segala hal. Kita sulit menentukan makna mana yang paling tepat. Dari kitab-kitab injil kita mengetahui bahwa Yesus bukan hanya sekali mengalami pencobaan. Ketika iblis kalah di padang gurun, dia mencari waktu yang baik (Luk 4:13b). Sebelum Yesus ditangkap Dia berkata kepada murid-murid-Nya “kamulah yang tetap tinggal bersama-sama dengan Aku dalam segala pencobaan yang Aku alami” (Luk 22:28). Dia dicobai dalam hal kebutuhan pokok (misalnya makanan, Mat 4:1-2//Luk 4:1-2), jabatan (Yoh 6:15), materi (Mat 4:8-9), dsb. Pendeknya, jenis pencobaan maupun penderitaan apapun yang kita alami, Dia telah melalui semua itu.

Dia bahkan tidak hanya mengalami semua itu dahulu di masa inakrnasi, tetapi Dia sampai sekarang pun menderita bersama kita. Contoh yang paling jelas adalah ketika gereja mula-mula mengalami penganiayaan. Tuhan menemui Saulus secara langsung dan memperkenalkan diri sebagai “Akulah Yesus, yang kau aniaya itu” (Kis 9:4). Dia bukan hanya pernah, tetapi masih terus merasakan kelemahan kita.

            Satu-satunya perbedaan antara Dia dengan kita adalah dalam hal dosa (ayat 15b). Walaupun dalam segala hal Dia harus disamakan dengan kita (2:17a; bdk. Rom 8:3), namun Dia tetap berbeda dalam hal dosa. Dia memang telah dicobai sehingga Dia dapat menolong mereka yang dicobai (2:18), tetapi Dia tidak pernah berbuat dosa.

            Sebagian orang tidak terlalu menganggap hal ini istimewa. Mereka berpendapat bahwa ketidakberdosaan Yesus merupakan sesuatu yang otomatis dan tidak diusahakan, karena Yesus adalah Allah dan Dia sudah direncanakan sejak kekal untuk menjadi Penebus, sedangkan rencana Allah tidak mungkin gagal (Ay 42:2). Benar! Yesus tidak mungkin berbuat dosa, namun hal ini tidak berarti bahwa ketidakberdosaan-Nya diraih tanpa usaha keras. Hidup-Nya dipenuhi dengan tangisan dan keluhan kepada Allah (Ibr 5:7). Sekalipun Dia adalah Anak, tetapi Dia telah belajar untuk taat (Ibr 5:8).

            Seorang penafsir dengan tepat menjelaskan ini dalam konteks sebuah pertandingan tinju. Seorang yang mampu bertahan sampai kesudahannya berarti telah merasakan semua kekuatan musuhnya. Dia menang bukan karena tidak bisa dipukul atau tidak dapat merasakan sakit. Dia menang karena dia mampu bertahan dalam penderitaan. Seperti itulah yang dialami Yesus. Dia mengalami seluruh kekuatan iblis yang terus menggoda-Nya. Dalam pergumulan kita melawan dosa kita belum sampai mencucurkan darah (Ibr 12:4). Kita begitu mudah jatuh, sehingga iblis tidak perlu mengeluarkan seluruh kekuatannya. Kita belum menghadapi pencobaan seperti yang dialami Yesus.

Respon: mendekat kepada Allah dengan berani (ayat 16)

            Konsep tentang Yesus sebagai Imam Besar yang turut merasakan kelemahan kita membawa pengaruh konkrit dalam kehidupan rohani sehari-hari. Karena Dia telah menjadi Imam Besar yang mendamaikan kita dengan Allah, maka kita bisa menghadap Allah dengan berani. Hal ini sangat luar biasa bagi orang-orang Yahudi Kristen waktu itu. Dalam PL umat Israel tidak bisa langsung menghadap Allah. Mereka diwakili oleh imam atau imam besar. Sekarang kita semua bisa langsung menghadap Allah tanpa perantaraan siapapun selain Yesus, Imam Besar kita. Kita tidak perlu berdoa kepada maupun melalui Maria atau “orang kudus” lainnya. Ayat 16a dengan jelas mengajarkan, “marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri tahta kasih karunia”.

            Akses kepada Allah yang telah dibuka sekali untuk selamanya ini (bdk. Ibr 9:12, 26; 10:2) harus kita hargai dengan cara terus-menerus mendekat kepada Allah. Bentuk present tense yang dipakai untuk kata “menghampiri” di ayat 16a menunjukkan bahwa kita tidak seharusnya datang sekali-sekali saja atau ketika kita membutuhkan Allah. Kita harus terus-menerus menghampiri Allah.

            Ketika kita datang, kita tidak perlu datang dengan ketakutan seperti orang hukuman. Kita datang dengan keberanian (parrhsia). Kata ini pada jaman dulu dipakai dalam konteks pertemuan penduduk kota, di mana seorang warga negara berhak mengemukakan pendapatnya dengan berani. Seorang budak tidak memiliki hak seperti ini. Begitu pula dengan orang Kristen. Kita adalah warga negara surga (Flp 3:20a) dan bukan sebagai budak lagi (Yoh 15:15). Kita memiliki hak untuk mendekati Allah dengan penuh keberanian. Tentu saja kita harus takut dalam arti hormat, tetapi bukan takut karena akan dihukum.

            Di ayat 16 ini penulis Kitab Ibrani tidak memakai kata “Allah”. Sebaliknya, dia memakai kata “tahta kasih karunia” (bdk. 10:19). Yang dimaksud di sini pasti adalah tahta Allah. Penulis hanya ingin menekankan aspek kehadiran Allah. Ungkapan “tahta kasih karunia” mengindikasikan kekuatan/kuasa/otoritas Allah (“tahta”) dan kasih-Nya (“kasih karunia”). Dua hal ini sangat dibutuhkan bagi jemaat yang sedang mengalami penderitaan dan tantangan.

            Karena ide tentang tahta atau kekuasaan sudah dibahas secara jelas di ayat 14, ayat 16b lebih menyoroti sisi kasih-karunia. Ketika orang percaya menghampiri tahta kasih-karunia, maka mereka akan menemukan dua hal: rahmat dan kasih-karunia. Rahmat (eleos) berkaitan dengan pengampunan Allah atas dosa-dosa kita, sedangkan kasih karunia (caris) bersifat lebih luas (dalam konteks ini tampaknya berhubungan dengan kekuatan pada waktu menghadapi penderitaan). Baik eleos maupun caris sama-sama kita butuhkan di tengah pergumulan kita. Kita sering jatuh dalam dosa ketika dicobai, sehingga kita membutuhkan eleos. Begitu pula kita sering lemah, sehingga membutuhkan caris-Nya dalam bentuk kekuatan.

Keduanya ini adalah petolongan yang diberikan pada waktu kita butuhkan (ayat 16b “pertolongan kita pada waktunya”. Allah memang tidak menghilangkan penderitaan kita atau membuat kita secara otomatis menjadi kebal terhadap penderitaan. Dia tetap meletakkan kita dalam penderitaan, tetapi hal ini bukan berarti Dia tidak mengasihi kita. Imam Besar kita turut merasakan apapun yang kita derita dan di tahta Allah tersedia rahmat dan kasih-karunia yang melimpah. Kapanpun kita membutuhkannya, kita tinggal datang ke tahta itu dan selalu akan menemukannya. Karena itu, mari kita terus-menerus datang kepada-Nya dalam doa kita! Amien.

 

Leave a Reply