Yakub Tri Handoko, Th. M.

Pendahuluan

                Kisah Yesus membasuh kaki murid-murid-Nya hanya dicatat dalam Injil Yohanes. Peristiwa ini terjadi selama perjamuan malam terakhir (13:1, 4) sebelum Yesus ditangkap untuk disalibkan (18:1-12). Walaupun kisah ini hanya ada di Injil Yohanes, tetapi inti ajaran tentang kerendahhatian juga dicatat di kitab-kitab injil lain. Menurut Lukas 22 ketika Yesus sedang menikmati perjamuan terakhir dengan murid-murid-Nya dan memberitahukan bahwa salah satu di antara mereka akan menjadi pengkhianat (22:15-22; bdk. Yoh 2, 11, 21, 26-27), murid-murid itu justru mempersoalkan siapa yang terbesar di antara mereka. Lalu Yesus mengajarkan kerendahhatian melalui perbandingan antara kepemimpinan dunia dan Kristen (Luk 22:25-27). Dari penjelasan ini terlihat bahwa selama perjamuan malam terakhir Yesus sama-sama mengajarkan kerendahhatian, namun melalui beragam cara: perkataan (Luk 22:25-27) maupun tindakan langsung (Yoh 13:1-17). Tanpa bermaksud mengecilkan otoritas perkatan Yesus, tindakan-Nya membasuh kaki para murid jelas memberi kesan yang mendalam bagi semua orang: 12 murid maupun pengikut-Nya sepanjang jaman.

Kerendahhatian Yesus

                Tanpa memahami budaya kuno maupun menyelidiki teks dengan teliti kita masih bisa menangkap kesan kerendahhatian Yesus melalui pembasuhan kaki murid-murid yang Ia lakukan. Bagaimanapun, kerendahhatian ini akan menjadi semakin jelas apabila kita memperhatikan budaya kuno maupun cara Yohanes mengisahkan peristiwa ini. Apa saja yang menunjukkan kerendahhatian Yesus dalam kisah ini?

                Dalam budaya kuno pembasuhan kaki selalu dilakukan oleh orang posisinya lebih rendah daripada yang dibasuh. Palaing umum adalah budak membasuh kaki tuannya. Kadangkala ada cerita tentang murid membasuh kaki gurunya, isteri melakukan pada suami, dsb. Di Yohanes 13:1-17 kita menemukan kisah yang memberi gambaran sebaliknya: orang yang lebih tinggi membasuh kaki yang lebih rendah. Dalam hal ini Yesus bukan hanya ditampilkan sebagai Guru dan Tuhan (13:13-14), tetapi juga sebagai Allah yang mahatahu dan berdaulat. Dua kali dicatat bahwa Yesus tahu waktu-Nya sudah tiba (13:1a, 3). Walaupun pengetahuan seperti ini (bdk. 2:4; 7:30; 8:20; 12:23, 27; 16:32; 17:1) tidak secara otomatis membuktikan keilahian-Nya, tetapi bagian lain dari Injil Yohanes berkali-kali mengarah pada kesimpulan ini (1:48, 50; 4:17; 5:42; 6:61, 64; 13:1, 11; 18:4). Yesus bukan hanya mahatahu, tetapi Ia juga berdaulat. Ia sadar bahwa segala sesuatu telah diserahkan Bapa kepada-Nya (13:3; 3:35). Menariknya, setelah 13:3 (Yesus tahu segala sesuatu diserahkan kepada-Nya), 13:4 dimulai dengan kata sambung “lalu” dan seterusnya mengisahkan pembasuhan kaki (13:4-5). Dari penggunaan kata sambung “lalu” ini kita melihat dengan jelas bahwa pembasuhan ini dilakukan oleh Pribadi yang jauh lebih tinggi daripada mereka yang dibasuh.

                Waktu yang digunakan untuk pembasuhan dalam kisah ini juga menarik untuk dicermati, karena memperkuat kesan kerendahhatian itu. Pembasuhan biasanya dilakukan pada saat tamu-tamu baru saja tiba di rumah. Di Yohanes 13:1-17 pembasuhan dilakukan pada saat makan (13:2, 4). Ayat 4 di LAI:TB (“lalu bangunlah Yesus”) tidak terlalu jelas. Sesuai teks Yunani seharusnya diterjemahkan “lalu Yesus bangun dari perjamuan malam”. Dengan demikian apa yang dilakukan Yesus pasti tampak berlebihan dari sisi kultural; bukan hanya dilakuakn oleh pihak yang lebih tinggi, namun juga dilakukan pada momen yang tidak dituntut. Dengan kata lain, pembasuhan ini bukan keharusan, tetapi kerelaan Yesus.

                Jika kita mengetahui budaya kuno Yahudi waktu itu kita juga akan semakin terpesona dengan apa yang dilakukan Yesus. Apa yang dilakukan di 13:4-5 benar-benar menggambarkan Yesus sebagai budak. Ia menanggalkan jubah-Nya (LAI:TB). Terjemahan ini sayangnya kurang akurat. Bentuk jamak himatia seharusnya diterjemahkan “pakaian-pakaian”; jadi, bukan hanya jubah-Nya saja yang ditanggalkan. Mengikat pinggang juga menjadi gambaran umum dari budak yang siap melayani (Luk 17:8). Semua ini persis dengan gambaran umum tentang seorang budak yang melakukan pembasuhan. Yang lebih luar biasa adalah budaya waktu itu yang menyerahkan tugas pembasuhan kaki pada budak yang paling rendah. Para rabi mengajarkan bahwa budak Ibrani/Yahudi tidak pantas melakukan hal ini. Contoh paling jelas tentang betapa rendahnya mereka yang membasuh kaki dapat ditemukan di 1Samuel 25:41. Ketika Daud ingin mempersunting Abigail, perempuan ini mengungkapkan ketidaklayakan dirinya dengan ucapan “sesungguhnya, hambamu ini ingin menjadi budak yang membasuh kaki para hamba tuanku itu”. Ia bukan hanya ingin membasuh kaki Daud, tetapi hamba-hambanya juga.

Makna pembasuhan kaki

                Apa yang dilakukan Yesus adalah sesuatu yang membuktikan kerendahhatian-Nya yang agung. Walaupun demikian, jika suatu tindakan hanya dilakukan demi menunjukkan kerendahhatian, maka hal itu bukanlah sebuah kerendahhatian. Demikian pula dengan tindakan Yesus. Melalui pembasuhan kaki Yesus ingin mengajarkan tiga tertentu: (1) demonstrasi kasih yang sempurna (13:1-5); (2) simbol pembersihan dosa di kayu salib (13:6-11); (3) teladan hidup orang Kristen (13:12-17).

Demonstrasi kasih yang sempurna (13:1-5)

                Kisah di 13:1-17 tidak hanya dimulai dengan kemahatahuan Yesus, tetapi juga kasih-Nya. Kata “mengasihi” (agapaō) muncul dua kali di ayat 1. Yesus mengasihi murid-murid dan ingin mengasihi mereka “sampai kesudahannya” (13:1b). Kata “sampai kesudahannya” (eis telos) bisa menerangkan aspek waktu (“sampai terakhir atau mati”) maupun kualitas (“sampai tertinggi”). Dua aspek ini sama-sama didukung oleh konteks. Rujukan waktu “beralih dari dunia ini” (13:1) maupun “kembali pada Bapa” (13:3) secara jelas mengarah pada akhir hidup (kematian) Yesus, sehingga dengan demikian menyiratkan aspek waktu. Bagaimanapun, jika 13:6-11 memang mengarah pada salib (lihat pembahasan di bawah di bagian makna kedua), maka aspek kualitas juga tidak diabaikan oleh Yohanes. Kematian Yesus menunjukkan bahwa Ia rela menyarahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (10:15, 17-18) dan ini merupakan bukti yang yang terbesar (15:13 “tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang memberikan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya”). Sesuai dengan kebiasaan Yohanes yang sering memikirkan makna ganda dalam kitab injilnya, kita sebaiknya menggabungkan dua aspek dari eis telos di atas.

                Yang lebih menarik adalah bahwa pembasuhan ini juga dilakukan Yesus kepada Yudas Iskariot yang Ia tahu persis akan mengkhianati Dia (13:2, 11). Yesus tetap menunjukkan kasih kepada Yudas walaupun hati Yudas sudah diberikan kepada iblis (13:2). Kasih seperti ini jelas merupakan kasih yang sangat agung.

                Sebagaimana sudah disinggung di depan, pembasuhan kaki yang dilakukan Yesus bukanlah sebuah keharusan. Dari sisi budaya jelas tidak mungkin ada dorongan, karena sangat bertentangan dengan budaya waktu itu. Petrus pun heran dan menolak tindakan ini (13:6, 8). Lalu apa yang mendorong Yesus melakukan ini? KASIH! Kerendahhatian harus dimulai dari kasih. Tanpa kasih kerendahhatian adalah kesombongan dan kemunafikan.

Simbol pembersihan dosa di kayu salib (13:6-11)

                Kisah pembasuhan kaki sangat sarat dengan nuansa penebusan Kristus: peristiwa ini terjadi pada masa perayaan Paskah (13:1); secara khusus kisah ini dihubungkan dengan kemahatahuan Yesus bahwa waktu untuk kembali kepada Bapa sudah di depan mata (13:1, 3); posisi Yudas sebagai pengkhianat pun tidak lupa disisipkan (13:2) untuk memperkuat nuansa ini; kata “menanggalkan” (tithēmi, 13:4) adalah kata yang sama dipakai untuk Yesus menyerahkan (tithēmi) nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (10:17-18). Bagaimanapun, petunjuk paling eksplisit tentang kematian Kristus di kayu salib yang disimbolkan melalui pembasuhan kaki ini terdapat pada bagian percakapan antara Yesus dan Petrus (13:6-11).

                Ketika Yesus sampai pada kaki Petrus, sang murid menolak dengan tegas (13:6, 8). Dalam kalimat Yunani penolakan Petrus tampak sangat tegas. Kata “engkau” dan “aku” dalam pertanyaan di ayat 6 diletakkan di bagian awal, seolah-olah ingin mengontraskan posisi Yesus dan Petrus. Di ayat 8a Petrus secara eksplisit menolak ini dengan memakai kata “tidak” sebanyak dua kali (ou mē) untuk memberi penekanan. Ketidakmengertian dan penolakannya inilah yang dijadikan sarana untuk mengarahkan murid-murid lain bahwa tindakan pembasuhan kaki memiliki makna yang jauh lebih dalam. Sama seperti air yang dipakai dalam pembasuhan ini membersihkan kaki murid-murid, demikian pula “air dan darah” yang keluar dari tubuh Yesus di kayu salib (19:34; bdk. 1Yoh 5:6) menyucikan seluruh kehidupan pengikut Yesus. Makna ganda seperti ini merupakan sarana pengajaran yang umum ditemui dalam Injil Yohanes, misalnya air à air hidup (Yoh 4), roti à roti hidup (Yoh 6), dsb.

                Berikut ini adalah beberapa petunjuk yang mengarah pada penebusan Kristus di kayu salib. Perkataan Yesus di 13:7 bahwa murid-Nya akan mengerti kelak (bukan sekarang) jelas merujuk pada momen Yesus dimuliakan di kayu salib, karena perkataan semacam ini sudah dipakai sebelumnya dengan makna yang sama (2:22; 12:16). Secara khusus, ide tentang “sekarang – nanti” juga diucapkan Yesus kepada Petrus ketika Ia menceritakan kematian-Nya (13:36).

                Perkataan Yesus di 13:8b mungkin memberikan petunjuk yang paling jelas. Yesus mengatakan bahwa kalau Petrus tidak dibasuh kakinya, maka Petrus tidak akan mendapat bagian di dalam Dia. Kata “mengambil bagian” (echō meros) memiliki arti “mewarisi” (Luk 15:12) dan Yohanes di tulisan lain memakai kata ini dalam konteks mewarisi janji-berkat rohani di akhir jaman (Why 20:6). Penggunaan di 13:8b sangat mungkin merujuk pada jaminan tempat di surga yang disediakan Yesus ketika Ia kembali ke surga (14:1-3). Dari kalimat ini terlihat bahwa pembasuhan kaki lebih daripada sekadar pembersihan secara fisik. Yesus tidak mungkin mengajarkan bahwa semua berkat rohani di surga bisa didapat melalui pembersihan kaki. Pembersiahan kaki di sini menunjuk pada pembersihan lain yang lebih penting.

                Petunjuk lain didapat dari perkataan Yesus di 13:10. Bagian ini agak sulit dipahami karena Yesus mengucapkannya dengan dua makna sekaligus: kultural dan teologi. Secara kultural orang-orang kuno yang mau pergi ke perjamuan/rumah orang lain memang sudah harus mandi dahulu di rumah masing-masing. Tuan rumah yang mengadakan perjamuan hanya menyediakan budak-budak untuk membasuh kaki para tamu. Jadi, siapa yang sudah mandi maka ia tidak perlu dibersihkan seluruhnya.

                Dari sisi teologis, Yesus memaksudkan dua macam pembersihan yang harus ada, yaitu pembersihan melalui  firman dan penebusan Kristus. Yang satu tidak menggantikan yang lain. Dua-duanya bukanlah pilihan, melainkan keharusan. Dua macam pembersihan ini dapat diketahui dari pemunculan kata katharos (“bersih”) yang dalam Injil Yohanes hanya muncul di 13:10-11 dan 15:3 (“kamu memang sudah bersih karena firman yang Kukatakan kepadamu”). Murid-murid perlu dibersihkan dosanya melalui kurban Kristus di kayu salib supaya mereka selamat (13:8, 10), tetapi mereka tetap harus dibersihkan terus melalui firman supaya mereka berbuah (15:1-5). Pembersihan kaki yang dilakukan Yesus hanya terjadi sekali untuk selamanya, tetapi murid-murid sampai kapan pun tetap harus mandi berulang-ulang. Demikian pula dengan penebusan Kristus yang hanya dilakukan sekali untuk selamanya (Rom 6:10; Ibr 7:27; 9:12; 10:2, 10), tetapi pembersihan melalui firman harus terus-menerus dilakukan.

Teladan hidup orang Kristen (13:12-17)

                Setelah Yesus selesai melakukan pembasuhan, Ia menanaykan arti dari tindakan itu kepada murid-murid-Nya (13:12). Sebelum mereka menjawab, Ia langsung menjelaskan artinya kepada mereka. Semua berkaitan dengan pengakuan murid-murid kepada Yesus sebagai Guru dan Tuhan (13:13-15). Yesus tidak hanya menerima pengakuan ini (13:13), namun Ia juga menjelaskan konsekuensi dari pengakuan tersebut (13:14). Pengakuan ini menuntut keteladanan. Sebagaimana Yesus sebagai Guru dan Tuhan mau membasuh kaki mereka, demikian pula mereka wajib saling membasuh kaki (13:14-15). Poin ini penting untuk ditekankan oleh Yesus. Jika seorang murid memandang murid lain, maka ia akan mendapati temannya itu tidak pantas untuk dibasuh kakinya. Sebaliknya, jika ia memandang kepada Yesus saja sebagai Guru dan Tuhan – bukan memandang orang yang akan dibasuh – maka ia selalu memiliki alasan yang cukup untuk rendah hati dan mulai membasuh kaki sesamanya. Nasehat ini telah mendorong gereja mula-mula melakukan pembasuhan kaki secara hurufiah (1Tim 5:10).

                Apakah perintah Yesus di sini mudah atau sulit? Sulit untuk menjawab. Di satu sisi, perintah ini tidak sulit karena kita hanya dituntut untuk membasuh kaki sesama kita yang statusnya sama dengan kita. Pembasuhan yang dilakukan Yesus sangat luar biasa karena dilakukan oleh pihak yang tinggi kepada pihak yang lebih rendah daripada dirinya. Kalau nasehat Yesus kepada kita tidak sesulit demikian. Kita hanya dituntut membasuh orang lain yang sama [rendahnya] dengan kita. Kalau Allah yang mahatahu dan berdaulat mau membasuh kaki orang berdosa, masakan orang berdosa merasa dir terlalu tinggi untuk membasuh kaki orang berdosa lainnya?

                Di sisi lain, perintah di 13:14-15 memang sulit. Akan menjadi sangat mudah bagi kita apabila Yesus memerintahkan kita untuk membasuh kaki-Nya. Kita mungkin dengan senang hati akan melakukan itu. Perintah untuk membasuh kaki sesama jelas tidak mudah karena kedagingan kita seringkali mendorong kita untuk berada di atas orang lain. Dihormati lebih nikmat daripada direndahkan. Memimpin lebih enak daripada melayani. Itulah kedagingan kita.

                Mengingat nasehat ini sulit bagi murid-murid, Yesus memberikan dorongan kepada mereka. Ia meyakinkan bahwa tuntutan ini tidak lebih besar daripada yang dilakukan Yesus (13:16). Kenyataannya bahkan lebih mudah. Selain itu, Yesus pun memberikan berkat kepada yang melakukan (13:17). Terjemahan LAI:TB (KJV) “berbahagialah” kurang begitu tepat, sekalipun kata makarios memang bisa mengandung makna “berbahagia”. Terjemahan yang lebih tepat adalah “diberkatilah”. Hampir semua versi Inggris mengambil makna ini. Kata “berbahagia” menimbulkan kesan subjektif dan bergantung pada perasan. Kata “diberkati” memiliki kesan objektif dan bergantung pada Allah.

Membasuh kaki orang lain jelas tidak mungkin menimbulkan kebahagiaan spontan dalam diri kita, karena kedagingan kita pasti akan memberontak. Bagaimanapun, terlepas dari apa pun perasaan kita, kita tetap diberkati oleh Allah. Supaya lebih tepat, fakta bahwa kita diberkati oleh Tuhan seharusnya akan membawa kebahagiaan tersendiri bagi kita. Secara kedagingan kita merasa sakit, tetapi secara rohani kita bersukacita.

Berkat di 13:17 tidak diberikan kepada sembarang orang. Berkat ini bukan untuk mereka yang tahu, melainkan “tahu + melakukan”. Kalimat Yunani yang dipakai di ayat ini sangat berkesan, “jikalau kamu tahu semua ini, maka berbahagialah kamu, jika kamu melakukannya”. Yesus tidak berhenti di tengah kalimat, tetapi Ia meneruskan sampai akhir (bdk. 12:47-48). Mengetahui dan melakukan itulah sumber berkat rohani yang sejati. Tuhan memberkati kita. Soli Deo Gloria.

Leave a Reply