Yakub Tri Handoko, Th. M.

Pendahuluan

            Kisah ini merupakan sebuah peristiwa yang unik, karena sekalipun Yesus terkenal sebagai Pribadi yang penuh pengampunan tetapi para penulis kitab injil tidak banyak mencatat tentang tindakan Yesus yang secara eksplisit mengampuni orang berdosa. Kisah sejenis ini yang kita kenal dengan baik mungkin hanya kisah tentang perempuan yang berzinah (Yoh 7:53-8:11), tetapi berbagai salinan Alkitab yang kuno dan bisa dipercaya tidak memuat kisah ini. Pengampunan Yesus biasanya hanya kita ketahui secara implisit dari sikap-Nya yang mau menerima orang-orang berdosa (Luk 15:1-2).

Walaupun kisah tentang Yesus mengampuni dosa orang lumpuh ini unik, tetapi peristiwa ini juga sudah sangat terkenal karena dicatat oleh Matius (9:1-8), Markus (2:1-12) dan Lukas (5:17-26). Jika dibandingkan secara sekilas saja maka kita akan langsung menemukan bahwa catatan Matius lebih pendek daripada Markus maupun Lukas. Dalam hal ini Matius sengaja menghilangkan detil pendahuluan cerita tentang bagaimana orang lumpuh itu digotong oleh teman-temannya melalui atap rumah (bdk. Mar 2:1-4). Matius langsung menjelaskan bahwa si lumpuh sudah di depan Yesus. Peredaksian seperti ini sangat diperlukan oleh Matius karena dia ingin para pembaca menangkap inti cerita dengan ebih baik. Aktor utama dalam kisah ini bukan si lumpuh atau teman-temannya, tetapi Yesus sendiri. Inti dari kisah ini bukan kesembuhan dari si lumpuh, tetapi kuasa Yesus dalam memberi pengampunan. Yang mau disorot bukan iman si lumpuh dan teman-temannya, tetapi otoritas Yesus. Dengan penekanan seperti ini Matius menganggap detil di Markus 2:1-4 tidak teralu penting bagi tujuan penulisannya.

Setting (ayat 1)

            Pembagian perikop secara tradisional menganggap ayat 1 berkaitan dengan ayat 2-8, namun beberapa penafsir meyakini bahwa ayat 1 seharusnya merupakan penutup bagi kisah di pasal 8:28-33 (setelah Yesus diusir dari Gadara Ia kembali ke kota-Nya sendiri). Walaupun pendapat ini tampak menarik dan “lebih pas”, tetapi dari sisi karakteristik penulisan Matius hal ini sangat diragukan. Jika pasal 9:1 merupakan penutup dari pasal 8:28-33, maka kisah kesembuhan si lumpuh dimulai dari pasal 9:2 dengan frase kai idou (“dan lihatlah”). Dalam Injil Matius frase kai idou muncul sebanyak 28 kali, tetapi tidak ada satu pun yang menjadi awal dari sebuah kisah. Dalam banyak kasus frase kai idou justru terletak setelah penjelasan geografis atau pendahuluan singkat dari sebuah peristiwa (8:24, 29; 9:2, 10; 28:2). Dari karakteristik penulisan seperti ini kita diyakinkan bahwa Matius 9:1 memang menjadi pendahuluan yang pas bagi Matius 9:2-8.

            Jika penjelasan di atas diterima, maka ayat 1 sekaligus berfungsi sebagai transisi antara dua perikop (8:28-33 dan 9:2-8). Dengan kata lain, frase “sesudah itu” di awal ayat 1 merujuk balik pada peristiwa di 8:28-33 (penyembuhan si lumpuh terjadi sesudah Yesus diusir dari Gadara). Kita sulit untuk mengetahui mengapa pengusiran roh-roh jahat di Gadara diletakkan Matius sebelum peristiwa penyembuhan si lumpuh, sedangkan penulis injil lain meletakkannya dalam urutan yang sebaliknya (bdk. Mar 5:1-20; Luk 8:26-39). Karena tidak ada keterkaitan konsep yang penting antara dua kisah ini, pernedaam urutan bukanlah isu yang penting untuk diperdebatkan.

Di ayat 1 disebutkan bahwa Yesus kembali ke kota-Nya sendiri. Kota yang dimaksud di sini adalah Kapernaum (4:13), bukan Nazaret (bdk. 2:23). Kata “diam” (katoikew) di 4:13 bukan sekedar berkunjung secara singkat, namun tinggal untuk waktu yang lama.

Yesus mengampuni dosa si lumpuh (ayat 2)

            Seperti sudah disinggung di bagian awal, Matius langsung menceritakan orang lumpuh dan teman-temannya sudah ada di depan Yesus (ayat 2; bdk. Mar 2:1-4; Luk 5:17-19). Yesus lalu melihat iman mereka. Beberapa orang berpikir bahwa “mereka” di sini hanyalah teman-teman si lumpuh, tetapi dugaan ini tampaknya kurang tepat. Ucapan Yesus di ayat 2b yang ditujukan pada si lumpuh (“berkatalah Ia kepada orang lumpuh itu”) menyiratkan bahwa si lumpuh termasuk orang yang beriman. Terjemahan LAI:TB “percayalah” memang bisa memberi kesan bahwa si lumpuh belum percaya dan diperintahkan Yesus untuk percaya, namun kesan seperti ini tidak terlihat dari kata Yunani yang dipakai. Kata qarsei seharusnya diterjemahkan “kuatkanlah hatimu” (RSV/NASB/NIV). Di tempat lain kata ini ditujukan Yesus kepada perempuan yang beriman kepada-Nya (9:22) maupun para murid (14:27). Jadi, yang dilihat Yesus bukan hanya iman dari teman-teman si lumpuh tetapi yang terutama adalah iman si lumpuh itu sendiri.

             Walaupun yang beriman lebih dari satu orang tetapi perkataan Yesus hanya ditujukan pada si lumpuh. Dia mengatakan bahwa dosanya sudah diampuni. Terjemahan LAI:TB “sudah diampuni” menyiratkan kesan bahwa Yesus hanya sekedar menyatakan atau menguatkan hati si lumpuh bahwa dosa-dosanya yang dulu sudah diampuni Allah. Terjemahan seperti ini memiliki dua kesalahan serius. Pertama, salinan Alkitab yang lebih bisa dipercaya memakai kata afientai (bentuk present), bukan afewntai (bentuk lampau). Tidak heran, hampir semua versi Inggris memakai “your sins are forgiven”. Bentuk present menunjukkan bahwa pengampunan itu diberikan pada saat itu juga dan ole Yesus. Kedua, jika Yesus hanya sekedar menyatakan (bukan memberi) pengampunan, maka tindakan Yesus tidak mungkin dipandang sebagai penghujatan oleh ahli-ahli Taurat (bdk. ayat 3). Tindakan “menyatakan pengampunan” bisa dimiliki oleh setiap orang yang percaya (Yoh 20:23).

            Jawaban Yesus kepada si lumpuh mungkin sedikit mengagetkan kita, karena yang diminta si lumpuh adalah kesembuhan, bukan pengampunan. Bagi orang-orang Yahudi, mereka sudah mengetahui bahwa ada kaitan yang erat antara dosa dan penyakit. Secara ekstrim mereka bahkan menganggap setiap penyakit sebagai hukuman dosa (bdk. Yoh 1:1-3). Walaupun tidak semua penyakit diakibatkan oleh dosa tertentu (misalnya kasus Ayub), namun Alkitab memberikan data yang cukup tentang penyakit yang disebabkan oleh dosa tertentu (Yoh 5:14; 1Kor 11;29-30; Yak 5:15).

            Jawaban Yesus di ayat 2b sekaligus mengajarkan dua kebenaran teologis yang penting: (1) otoritas Yesus yang paling penting bukanlah sebagai Penyembuh, tetapi Pemberi Ampunan; Dia memang datang ke dunia terutama sebagai Penyelamat umat-Nya dari dosa (1:21); (2) masalah terbesar manusia adalah dosa [spiritual], bukan penyakit [fisik]. Dosalah yang menyebabkan berbagai penderitaan di dunia (bdk. Kej 1:31; 3:16-19). Ketika dosa nanti sepenuhnya dibereskan di surga, maka tidak ada lagi penderitaan di dunia ini (Why 21:4).

Kontroversi (ayat 3)

            Jawaban Yesus direspon secara negatif oleh para ahli Taurat. Mereka menganggap Yesus telah menghujat Allah. Respon ini membuktikan bahwa mereka menangkap maksud Yesus. Pengampunan yang diberikan Yesus tidak seperti pengampunan yang kita berikan kepada orang lain yang bersalah kepada kita (bdk. 6:12, 14-15). Kita memang bisa (dan harus) mengampuni orang lain yang bersalah kepada kita, tetapi kita tidak mungkin membereskan dosa orang itu kepada Allah. Kita harus ingat bahwa ketika seseorang berbuat salah kepada orang lain, orang itu juga berdosa kepada Allah (Luk 15:21). Aspek ini justru menjadi yang utama. Sebagai contoh, ketika Daud berzinah dengan Batsyeba dan membunuh Uria, dia berkata kepada Tuhan, “terhadap Engkau, terhadap Engkau sajalah aku telah berdosa dan melakukan apa yang Kauanggap jahat” (Mzm 51:6, bdk. 51:1-2). Dalam kasus si lumpuh, orang itu tidak bersalah kepada Yesus, bagaimana Yesus bisa memberi pengampunan kepadanya kecuali kalau Yesus memang memposisikan diri sebagai Allah?

            Dalam tulisan para rabi Yahudi, batasan “menghujat” memang tidak terlalu jelas. Tindakan ini biasanya berkaitan dengan pemakaian nama Allah untuk kepentingan yang salah. Apa yang dilakukan Yesus di Matius 9:3 tidak melibatkan penggunaan nama Allah tetapi tetap dikategorikan penghujatan oleh ahli Taurat. Mereka mungkin memiliki batasan yang lebih ketat daripada para rabi di kemudian hari.

            Matius tidak memberi penjelasan mengapa tindakan Yesus dalam mengampuni dianggap penghujatan. Penulis injil lain menambahkan “siapa yang dapat mengampuni dosa selain dari Allah sendiri?” (Mar 2:7b; Luk 5:21b). Matius sengaja menghilangkan tambahan ini karena dia menulis untuk orang-orang Yahudi yang pasti sudah tahu tentang kebenaran ini (Yes 43:25; 44:24), sedangkan Markus dan Lukas menulis untuk orang-orang non-Yahudi yang membutuhkan penjelasan seperti ini.

Jawaban Yesus (ayat 4-6)

            Yesus mengetahui apa yang dikatakan oleh para ahli Taurat. Beberapa penafsir menduga bahwa pengetahuan Yesus di sini bukanlah kuasa yang supranatural. Yesus mengetahui hal ini karena para ahli Taurat berbisik-bisik. Pendapat seperti ini jelas terlalu dipaksakan. Beberapa petunjuk dalam teks secara eksplisit mendukung bahwa kemahatahuan Yesus: “berkatalah…dalam hatinya” (ayat 3), “mengetahui pikiran mereka” (ayat 4a), “hal-hal yang jahat dalam hatimu” (ayat 4b). Di samping itu, jika para ahli Taurat berbisik-bisik, maka Yesus juga tidak akan tahu isi persis dari bisikan itu, kecuali Dia memag mahatahu.

            Setelah Yesus mengetahui hal itu, Dia memberikan dua respon. Pertama, Dia menegur ahli Taurat (ayat 4b). Di mata Yesus mereka telah memikirkan hal-hal yang jahat. Dari respon ini kita mengetahui bahwa konsep yang salah tentang Yesus merupakan kejahatan. Dalam hal ini ahli Taurat tidak mengakui bahwa Yesus adalah Allah yang berkuasa mengampuni dosa.

            Bentuk jamak “hal-hal yang jahat” sangat mungkin mengindikasikan bahwa pikiran ahli Taurat yang buruk tentang Yesus bukan hanya dalam kasus ini saja. Mereka sudah memiliki sikap a priori terhadap Dia. Apa saja yang mereka pikirkan tentang Yesus berasal dari sikap hati yang jahat. Mereka adalah seumpama pohon yang tidak baik yang tidak mungkin menghasilkan sesuatu yang baik (bdk. 7:15-20).

            Kedua, Yesus membuktikan otoritasnya dalam memberi pengampunan (ayat 5-6). Jawaban Yesus di ayat 5 sekilas sulit dipahami. Apakah maksud pertanyaan “Manakah lebih mudah, mengatakan: Dosamu sudah diampuni, atau mengatakan: Bangunlah dan berjalanlah?”. Dari sisi Yesus (sebagai Allah), keduanya sama-sama mudah. Dari sisi ahli Taurat, menyembuhkan orang lumpuh lebih sulit daripada mengampuni. Menurut mereka, tindakan Yesus dalam mengampuni tidak bisa dibuktikan kebenarannya (tidak ada bukti konkrit apa orang itu sungguh-sungguh diampuni atau Yesus berhak memberikan pengampunan), jadi perkataan “dosamu diampuni” dianggap “asal ngomong saja”. Pemikiran seperti ini sangat ironis, karena kenyataannya mengampuni justru lebih sulit daripada menyembuhkan: yang bisa mengampuni hanya Allah, tetapi menyembuhkan bisa dilakukan oleh Allah, iblis atau manusia.

            Karena ahli Taurat menganggap menyembuhkan orang lumpuh lebih sulit daripada mengampuni, maka Yesus melakukan penyembuhan untuk membuktikan (ayat 6 “supaya kamu tahu….”) bahwa Dia punya hak juga untuk mengampuni. Selain itu, jika Yesus memang telah menghujat Allah, maka Allah pasti tidak akan mendengarkan perkataan Yesus (Yoh 9:31), sehingga tidak mungkin terjadi kesembuhan.

Sikap Yesus ini berkontradiksi dengan pandangan Saksi Yehuwah dan Unitarian yang menganggap ahli Taurat sudah salah memahami Yesus: ahli Taurat mengira Yesus memposisikan diri sebagai Allah padahal sebetulnya tidak begitu. Ayat 6 justru menunjukkan bahwa Yesus membuktikan otoritasnya dalam memberi pengampunan. Dia tidak menyalahkan pandangan ahli Taurat yang menganggap bahwa Dia mengampuni dosa si lumpuh. Dia hanya mengoreksi pikiran mereka yang memandang tindakan pengampunan itu sebagai penghujatan.

            Terjemahan LAI:TB “berkuasa” (ayat 6) kurang begitu tepat. Kata Yunani yang dipakai adalah exousia (“otoritas”), bukan dynamis (“kuasa”). Terjemahan “kuasa” bisa menimbulkan kesan suatu kemampuan tertentu, tetapi “otoritas” lebih berkaitan dengan wewenang atau hak secara hukum maupun faktual. Yesus sebenarnya tidak harus membuktikan otoritasnya, karena diakui atau tidak Dia tetap memiliki hal itu. Dalam kasus di Matius 9:1-8 Dia memilih untuk memberi bukti, meskipun Dia tidak selalu memenuhi tuntutan bukti dari pihak orang Yahudi (12:39).

            Keterangan “di dunia” di ayat 6 telah menimbulkan perbedaan pendapat di antara penafsir. Sebagian memandang “di dunia” dalam arti tidak ada seorang manusia pun yang pernah hidup yang memiliki otoritas seperti itu. Yang lain berpikir bahwa “di dunia” merupakan kontras terhadap “di surga”; maksudnya, Yesus sudah memiliki otoritas pengampunan bahkan sebelum Dia naik ke surga. Yang paling tepat adalah menafsirkan “di dunia” sebagai petunjuk bahwa selama inkarnasi pun Yesus tetaplah Allah yang berhak mengampuni dosa. Hak ini bukan hanya dimiliki-Nya sebelum atau sesudah inkarnasi, namun juga selama inkarnasi.

Penutup (ayat 7-8)

            Kisah ini ditutup dengan dua hal. Ayat 7 menceritakan hasil yang diterima oleh si lumpuh. Dia bisa mengangkat tempat tidurnya sendiri dan pulang ke rumahnya. Dia mendapatkan lebih dari yang dia minta. Dia menerima kesembuhan dan pengampunan. Dia mendatangi Yesus dengan motivasi yang tidak sempurna, tetapi daam anugerah-Nya Yesus mengarahkan orang ini dan memberi apa yang paling dia perlukan.

Di ayat 8 orang banyak menjadi takut dan memuliakan Allah. Apa yang dilakukan Yesus bukan hanya untuk diri-Nya sendiri. Semua mujizat yang Dia lakukan merupakan sarana untuk membawa orang bertemu dengan Allah. Allah memang tidak selalu memakai mujizat untuk membawa orang kepada-Nya, namun Dia kadangkala memakai hal itu dalam kasus-kasus tertentu. Yang paling penting kita harus mengingat bahwa mujizat tidak boleh menggantikan posisi Allah. Mujizat justru seharusnya membawa orang pada ketundukan dan penyembahan kepada Allah.

Leave a Reply