Yakub Tri Handoko, Th. M.

 

Pendahuluan

Kita cenderung untuk menganggap diri kita lebih baik/benar daripada orang lain. Kita juga merasa tidak nyaman jika harus bergaul dengan orang-orang yang menurut kita kurang baik. Ada banyak pertimbangan di balik sikap ini: takut dianggap jahat seperti orang-orang itu, takut diperlakukan secara tidak baik oleh orang-orang itu, merasa tidak pantas untuk bergaul dengan orang semcam itu, dsb.

Apakah sikap seperti ini bisa dibenarkan? Mari kita lihat bagaimana Yesus menyikapi orang-orang berdosa di sekeliling-Nya. Walaupun cerita ini dicatat di tiga injil (Mat 9:9-13//Mar 2:13-17//Luk 5:27-32), tetapi kita hanya akan menyoroti dari perspektif Injil Matius.

Analisa konteks

Pemunculan kisah ini (9:9-13) sesudah perikop tentang orang lumpuh yang disembuhkan (9:1-8) merupakan sebuah penempatan yang menarik. Kalau di perikop sebelumnya Yesus hanya memberikan pengampunan kepada orang berdosa (9:2), sekarang Ia memanggil dan menerima orang berdosa sebagai murid-Nya (9:9). Kalau di kisah sebelumnya orang berdosa yang datang kepada Yesus (9:2a), sekarang Yesus sendiri yang mendatangi orang berdosa (9:9). Sikap Yesus yang mau mengambil inisiatif untuk mendatangi orang berdosa ini bahkan menjadi inti dari bagian ini (bdk. 9:12-13).

Matius tidak menjelaskan secara detail posisi dari kantor pajaknya. Ia hanya memberi keterangan “setelah Yesus pergi dari situ” (9:9a). Lukas juga hanya memberi keterangan “ketika Yesus pergi ke luar” (5:27). Keterangan “dari situ” atau “pergi ke luar” sekilas tampaknya merujuk pada rumah tempat terjadinya mujizat kesembuhan untuk orang lumpuh (Mat 9:1-8//Luk 5:17-26). Jika kita menganggap bahwa Matius dan Lukas menggunakan Injil Markus sebagai sumbernya, maka kita sebaiknya melihat keterangan mereka berdua yang singkat sebagai upaya untuk memperpendek catatan Markus, karena posisi kantor memang bukanlah inti dari kisah ini. Berdasarkan penjelasan di Markus 2:13, kantor pajak tersebut tidak jauh dari pantai/danau. Hal ini sesuai dengan keterangan historis yang ada. Pada jaman itu kantor pajak didirikan di jalan besar yang strategis atau di pelabuhan/danau. Mengacu pada data Alkitab yang ada, kantor pajak yang dimaksud dalam kisah ini tampaknya terletak di tepi danau Galilea, karena danau ini dekat dengan Kapernaum dan menjadi perbatasan kekuasaan antara Herodes Filipus dan Herodes Antipas.

Dalam Matius 9:9-13 nama pemungut cukai adalah Matius, sedangkan dalam Markus 2:13-17 maupun Lukas 5:27-32 dipakai nama Lewi. Perbedaan nama ini telah menjadi sumber perdebatan di kalangan penafsir. Paling tidak ada 6 penjelasan berbeda yang ditawarkan (Davies & Allison, Matthew Vol. II, ICC, 98-99): (1) nama Matius dan Lewi merujuk pada orang yang sama; (2) karena orang yang dipanggil secara khusus oleh Yesus adalah rasul, maka penulis Injil Matius berusaha mengidentifikasi Lewi dengan salah satu murid Yesus. Pilihannya jatuh pada Matius; (3) karena Matius disebut sebagai pemungut cukai (Mat 10:3) dan Lewi dipanggil pada waktu bekerja di kantor pajak, maka penulis Injil Matius menduga Lewi adalah Matius; (4) nama “Matius” (Maqqaios) memiliki bunyi yang mirip dengan kata “murid” (maqhths) yang muncul sebanyak 3 kali di Matius 9:9-13; (5) nama Matius ditambahkan oleh seorang penyalin dengan tujuan untuk menciptakan kisah fiktif tentang penulis injil ini; (6) Matius dan Lewi adalah orang yang berbeda. Karena penulis Injil Matius dan komunitasnya hanya mengenal figur Matius, maka kisah ini ditulis untuk mengenang pemanggilan Matius saja.

Dari semua usulan di atas, yang pertama adalah yang paling tepat dan tidak terlalu mengada-ada. Kesamaan cerita dan urutan beberapa kisah sebelum maupun sesudah kisah pemanggilan Matius/Lewi di tiga injil menunjukkan bahwa dua nama ini adalah orang yang sama. Hal semacam ini bukanlah sesuatu yang aneh. Orang Yahudi biasa memiliki beberapa nama yang berbeda, misalnya Salomo = Yedija (2Sam 12:24-25), Simon = Kefas = Petrus (Yoh 1:42), Thomas = Didimus (Yoh 11:16), Saulus = Paulus (Kis 13:9).

Yesus menemui Matius di kantornya (telwnion). Kata ini merujuk pada kantor pajak untuk urusan masuk-keluar barang dagangan. Kita dapat menyamakan ini dengan kantor bea-cukai. Posisi Matius di telwnion membuktikan bahwa dia bukanlah kepala pajak. Seorang kepala pajak adalah orang non-Yahudi yang memegang kontrak pajak dengan penguasa sipil atas suatu propinsi/daerah. Kepala pajak dibantu oleh para pemungut pajak/cukai yang biasanya adalah orang-orang Yahudi.

Panggilan kudus untuk orang berdosa (ayat 9)

Dalam kisah ini diceritakan bahwa Yesuslah yang mendatangi Matius, bukan sebaliknya (bdk. Yoh 15:16). Hal ini penting untuk ditekankan karena inti dari Matius 9:9-13 adalah “Yesus datang untuk memanggil orang berdosa” (9:13). Setelah melihat Matius, Yesus mengajak dia untuk menjadi murid-Nya dan panggilan ini langsung ditanggapi secara positif oleh Matius.

Apakah Matius sebelumnya sudah pernah mendengar atau berjumpa dengan Yesus? Kita tidak tahu persis apakah mereka berdua pernah bertatap muka sebelumnya, tetapi Matius pasti sudah pernah mendengar kabar tentang Yesus. Injil Matius sendiri memberikan beberapa indikasi yang cukup jelas. Setelah Yesus dicobai, Ia tinggal di Kapernaum (4:13). Ketika suatu kali Ia pergi ke Kapernaum, seorang perwira di kota itu langsung menemui Dia untuk meminta tolong (8:5). Hal ini menunjukkan bahwa Yesus sudah sangat dikenal di kota itu. Peristiwa penyembuhan orang lumpuh di Kapernaum (9:1-8) membuat orang banyak takjub (9:8), sehingga sulit dipahami jika berita ini tidak tersiar di antara penduduk Kapernaum. Matius 11:23 menyiratkan bahwa Yesus banyak melakukan mujizat di kota Kapernaum. Semua ini mendukung dugaan bahwa berita tentang Yesus sudah sampai ke telinga Matius.

Ketika Yesus melihat Matius, Yesus memanggil, “ikutah Aku” (akolouqei moi). Bentuk present tense akolouqei (dari kata dasar akolouqew) menyiratkan tindakan yang terus-menerus. Yesus tidak mengajak Matius untuk mengambil cuti dan mencoba menjadi pengikut-Nya untuk sementara waktu. Dia menuntut pengiringan yang terus-menerus.

Matius langsung mengiyakan tawaran ini. Jika dibandingkan dengan beberapa orang yang tidak memahami tuntutan di balik keputusan ini maupun yang masih membutuhkan waktu untuk mengiyakan tawaran ini (8:18-22), respon Matius termasuk luar biasa. Ia jauh lebih baik daripada orang muda yang kaya yang gagal mengikuti Yesus (19:16-26). Walaupun ia tidak menambahkan “meninggalkan segala sesuatu…lalu mengikut Yesus” (Luk 5:28), tetapi para pembaca mula-mula yang memahami situasi kultural waktu itu pasti tidak akan gagal menangkap makna yang sama. Ketika Matius memutuskan meninggalkan pekerjaannya sebagai pemungut cukai, itu berarti bahwa ia harus kehilangan penghasilan yang besar. Ia telah meninggalkan segala sesuatu untuk Yesus (bdk. 19:27a).

Di samping itu, keputusan ini juga berarti mempertaruhkan masa depan. Menjadi seorang pemungut cukai adalah masalah posisi. Begitu ia meninggalkan posisi ini, maka orang lain dengan cepat akan mengisi kekosongan jabatan tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan murid-murid Yesus yang dulu berprofesi sebagai nelayan. Jika mereka mau kembali ke pekerjaan lama, mereka bisa langsung mendapatkannya kembali. Lebih jauh, jika Matius ternyata tidak kuat dalam mengikut Yesus, maka sangat kecil kemungkinan bagi dia untuk bisa mendapatkan pekerjaan yang baru. Sebagai seorang pemungut cukai ia pasti dibenci banyak orang Yahudi, sehingga tidak ada orang yang mau memperkerjakan dia (Leon Morris, The Gospel According to Matthew, PNTC, 220).

Sukacita atas panggilan (ayat 10)

Matius memang kehilangan banyak hal ketika ia memutuskan untuk mengikut Yesus, tetapi ia tidak bersedih. Bagi dia, mengikut Yesus merupakan hak istimewa yang jauh lebih berharga daripada memiliki seluruh harta dunia. Untuk mengungkapkan kebahagiaan ini, Matius mengadakan pesta.

LAI:TB menjelaskan bahwa pesta ini diadakan di rumah Matius (juga NIV). Versi yang lain memakai terjemahan yang lebih hurufiah tetapi kurang begitu jelas, yaitu “rumah itu” (the house). Dari sisi tata bahasa Yunani, rumah yang dimaksud sudah tertentu (ada artikel th di depan oikia), tetapi rumah siapa yang dimaksud? Ada tiga usulan: rumah Petrus, Yesus atau Matius. Argumen untuk usulan ke-1 sangat lemah. Walaupun rumah Petrus disebut secara eksplisit di 8:14, tetapi antara perikop ini dengan kisah yang sedang kita bahas sudah tersisipi banyak kisah lain yang menunjukkan perpindahan tempat. Usulan ke-2 didasarkan pada argumen berikut ini: (1) Matius sudah menyebutkan bahwa rumah Yesus ada di Kapernaum (4:13); (2) Matius sudah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus (9:9), jadi ia tidak mungkin kembali lagi ke rumahnya; (3) orang-orang Farisi (9:11) tidak mungkin ada di rumah pemungut cukai; (4) ungkapan “ketika Yesus makan…datanglah…” menyiratkan bahwa Yesus adalah tuan rumah; (5) jika Yesus sebagai tuan rumah, maka hal ini lebih sesuai dengan ucapan Yesus “aku datang…untuk memanggil…orang berdosa” (9:13). Semua argumen ini sebenarnya kurang begitu kuat: (1) walaupun rumah Yesus memang di Kapernaum, tetapi hal itu tidak meniadakan kemungkinan bahwa ia diundang makan oleh orang lain di kota tersebut; (2) yang langsung ditinggalkan Matius adalah pekerjaan dan kantornya (9:9), bukan rumahnya. Kita tidak boleh berpikiran bahwa Matius juga langsung menjual rumahnya. Petrus pun masih memiliki rumah (8:14), walaupun ia sudah mengikuti Yesus; (3) orang-orang Farisi hanya berdiri di luar rumah, sehingga hal ini tidak perlu mengherankan kita; (4) ungkapan ini hanya menunjukkan bahwa Yesus adalah tamu kehormatan dalam cerita ini (bdk. 23:6), bukan tuan rumah; (5) ucapan Yesus di ayat 13 tidak boleh dipahami secara hurufiah dalam arti “memanggil untuk berkumpul atau mengikuti pesta”.

Kini kita tertinggal dengan usulan ke-3. Usulan ini didukung oleh catatan Lukas yang sangat jelas. Lukas 5:29 “dan Lewi mengadakan perjamuan besar untuk Dia di rumahnya”. Dari sini terlihat jelas bahwa Yesus bukanlah tuan rumah. Ia hanya diundang oleh Lewi. Jika Yesus yang mengadakan pesta, berapa banyak uang yang Dia miliki untuk mengadakan pesta seperti ini (bdk. 17:24-27)? Kita perlu mengingat juga bahwa Yesus sering makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa (11:19); jika dalam pesta-pesta ini Yesus yang mengadakan, berapa banyak uang yang Dia miliki?

Jika usulan ke-3 di atas diterima, maka tindakan Matius di sini sesuai dengan ucapan Yesus di Matius 5:46 bahwa pemungut cukai mengasihi orang yang mengasihi mereka. “Kasih” ini sangat mungkin tercipta karena mereka adalah golongan minoritas dan sering dikucilkan oleh masyarakat Yahudi. Jumlah yang kecil dan tekanan dari luar seringkali justru menciptakan ikatan emosional yang kuat.

Di ayat 10b ada satu kata Yunani yang tidak diterjemahkan dlam LAI:TB, yaitu idou (“lihatlah!”, bdk. KJV/ASV/RSV). Kata yang merupakan ekspresi favorit Matius ini (muncul 62x di Injil Matius) berguna untuk menunjukkan sesuatu yang penting atau menarik untuk diperhatikan. Tindakan Yesus makan bersama pemungut cukai dan orang berdosa merupakan hal yang menarik!

Kedua kelompok ini memang sering muncul bersama-sama. Dalam pemunculan mereka bahkan seringkali dipakai satu artikel saja untuk keduanya (9:11; 11:19; Luk 15:1-2), yang menunjukkan bahwa mereka dianggap sebagai satu kesatuan. Secara sosial mereka dianggap sama-sama memiliki pekerjaan yang haram (yang termasuk kategori “orang berdosa” adalah pelacur, penyamun, dsb.). Secara keagamaan mereka dipandang sebagai pelanggar hukum Allah dan tafsiran orang-orang Farisi. Mereka menempati posisi yang paling rendah dalam masyarakat Yahudi. Mereka bahkan seringkali diidentikkan dengan orang-orang yang tidak mengenal Allah (bdk. 5:46-47; 18:17).

Kontroversi muncul (ayat 11)

Tindakan Yesus di atas bagi Farisi merupakan sesuatu yang sulit untuk dipahami. Mereka tidak hanya bertanya, tetapi dalam pertanyaan itu tersirat protes terhadap apa yang dilakukan Yesus. Dari beberapa tulisan para rabi dapat disimpulkan bahwa tidak mungkin ada pergaulan antara orang Farisi dan pemungut cukai. Jika seorang pemungut cukai masuk ke suatu rumah, maka seluruh rumah itu dianggap telah menjadi najis. Demikian pula sebaliknya. Seorang Yahudi yang masuk ke rumah pemungut cukai akan dianggap najis.

Jika Yesus sekadar memberitakan firman Tuhan kepada para pemungut cukai dan orang berdosa, maka hal itu mungkin tidak terlalu dipermasalahkan oleh orang Farisi. Jika Yesus hanya masuk ke rumah mereka, maka hal itu hanya akan dipandang sebagai sebuah kenajisan. Yesus ternyata makan bersama mereka! Bagi masyarakat kuno, makan bersama lebih dari sekadar urusan perut. Makan bersama berarti merayakan sesuatu bersama-sama atau mengadakan pergaulan di antara mereka. Dalam konteks beragama waktu itu makan bersama dianggap sebagai bagian penting dalam ibadah (bdk. 1Kor 11:17-22). Jika Yesus mau makan bersama, maka Ia bisa dianggap sebagai sahabat mereka (11:19 “sahabat pemungut cukai dan orang berdosa”). Di mata Farisi tidak mungkin ada seorang pemimpin agama yang akan mengasosiasikan diri dengan pemungut cukai dan orang berdosa.

Ada beberapa alasan mengapa orang-orang Farisi (dan sebagian besar orang Yahudi) tidak akan mau ke rumah atau makan bersama pemungut cukai: (1) para pemungut cukai dianggap sebagai pengkhianat negara, karena sebagai orang Yahudi mereka justru membantu para penguasa kafir; (2) mereka dianggap najis karena bergaul dengan orang-orang non-Yahudi (paling tidak dengan kepala pajak yang pasti non-Yahudi). Selain itu, mereka juga masuk ke rumah orang lain yang non-Yahudi. Hal ini melanggar larangan yang ketat dalam tradisi Yahudi (bdk. Kis 10:28); (3) pekerjaan ini sangat rentan dengan kejahatan (korupsi, pemerasan, dsb., bdk. Luk 19:8); (4) hasil pekerjaan ini dianggap tidak halal. Menikmati makanan dari hasil pekerjaan ini sama saja dengan menyetujui pekerjaan haram ini; (5) para pemungut cukai kemungkinan besar tidak membayar perpuluhan. Jika seorang Farisi makan dari bagian perpuluhan ini, maka ia dianggap telah turut merampas milik Allah.

Jawaban yang meneduhkan orang berdosa tetapi memanaskan “orang benar” (ayat 12-13)

Setelah mendengar protes dari orang-orang Farisi, Yesus memberikan jawaban yang menjelaskan mengapa Ia mau melakukan hal tersebut. Ia mengatakan “bukan orang benar memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (9:12). Ungkapan ini bukan berarti bahwa orang-orang Farisi termasuk kategori yang sehat. Matius mencatat beberapa perkataan Yesus yang menunjukkan bahwa orang Farisi sakit secara rohani. Matius 5:20 “jika hidup keagamaanmu tidak lebih baik daripada orang-orang Farisi dan ahli Taurat, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah”. Mereka hanya bisa menemukan kesalahan orang lain tetapi kesalahan mereka sendiri yang lebih besar tidak terlihat (Mat 7:1-5). Beragam kecaman Yesus yang keras terhadap orang-orang Farisi di Matius 23 menunjukkan betapa buruknya mereka di mata Yesus.

Perkataan Yesus di Matius 9:12 justru merupakan teguran kepada orang Farisi. Walaupun Yesus dan orang Farisi sama-sama melihat pemungut cukai dan orang berdosa sebagai orang sakit, tetapi keduanya memiliki respon yang berbeda. Yesus mau mendatangi mereka yang berdosa, sama seperti seorang tabib mendatangi orang yang sakit. Di sisi lain, orang-orang Farisi malah membiarkan orang sakit tersebut menuju kematian. Mereka tidak mau memberi pertolongan apapun!

Yesus lalu meminta mereka menyelidiki suatu teks (9:13). Ungkapan “pergilah dan pelajarilah” (poreuqentes maqete) bukanlah sebuah pengusiran secara halus. Ungkapan ini merupakan ungkapan umum dalam tradisi kerabian Yahudi yang dipakai apabila seorang rabi meminta muridnya untuk meneliti suatu teks secara lebih mendalam atau mendetail. Orang Farisi yang lebih berpijak pada tradisi mereka sendiri (bdk. 15:3) sekarang diperintahkan untuk menguji tradisi itu berdasarkan firman Tuhan.

Teks yang dikutip adalah dari Hosea 6:6. Sesuai konteks Hosea waktu itu, bangsa Israel memang masih menjalankan praktik keagamaan mereka, tetapi mereka melupakan apa yang paling penting, yaitu belas-kasihan, padahal atas dasar belas kasihan pula Allah terus-menerus mau menerima bangsa Israel yang berdosa. Mereka tampaknya mengasihi Allah namun mereka tidak mengasihi sesamanya. Mereka melakukan berbagai tindakan kekejaman, bahkan para rohaniwan mereka diibaratkan seperti penyamun (Hos 6:8-9). Mereka seakan-akan mengasihi Allah tetapi tidak mengasihi sesamanya. Hal semacam ini jelas tidak masuk akal. Hukum kasih secara vertikal dan horizontal tidak mungkin dipisahkan dan menjadi inti dari seluruh perintah Allah (Mat 22:37-40). Jika kita mengaku mengasihi Allah tetapi tidak mengasihi sesama, maka kita adalah pendusta (1Yoh 4:20).

Dengan mengutip Hosea 6:6 Yesus sebenarnya sedang menyamakan orang-orang Farisi dengan bangsa Israel pada jaman Hosea. Mereka tampak “beribadah”, namun melupakan hal terpenting dalam ibadah. Matius 23 secara khusus menyebutkan perbuatan orang-orang Farisi yang tidak mengasihi sesama. Mereka menelan rumah janda-janda (23:14). Mereka mengabaikan keadilan, belas-kasihan dan kesetiaan (23:23). Tindakan mereka yang tidak mau menjangkau orang-orang berdosa merupakan bukti lain bahwa mereka tidak memiliki kasih terhadap sesamanya.

Sikap di atas sangat berbeda dengan Yesus. Ia datang untuk memanggil orang berdosa (9:13b). Sejak inkarnasi ke dalam dunia Ia dinamai Yesus sebab “Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (1:21b). Dia datang bukan untuk dilayani, melainkan melayani dan memberikan nyawa bagi orang-orang berdosa (20:28). Ia datang ke dalam dunia untuk menyelamatkan orang berdosa (1Tim 1:15). Kesadaran terhadap misi inilah yang membuat Yesus tidak risih bergaul dengan orang berdosa. Dia mau menjangkau mereka, sekalipun kredibilitasnya sebagai guru rohani mungkin dipertanyakan dan Dia sendiri menerima kritikan yang keras dari banyak orang.

Leave a Reply