Yakub Tri Handoko

Pendahuluan

            Surat 1 Petrus ditulis untuk orang-orang Kristen Yahudi yang berada di perantauan (1:1-2) di tengah-tengah bangsa kafir (2:12). Perantauan ini bukan hanya secara hurufiah, tetapi juga secara rohani (1:17 “selama kamu menumpang di dunia ini”). Di tengah situasi seperti ini, orang-orang Kristen yang merupakan golongan minoritas harus menghadapi berbagai macam tindakan yang tidak menyenangkan. Mereka dituduh (2:12, 15), difitnah (3:16; 4:4), bahkan diperlakukan secara tidak adil (3:9; 4:14). Dalam konteks inilah Petrus memberikan nasehat supaya mereka selalu siap sedia memberikan pertanggungjawaban iman dengan cara yang saleh (3:15-16).

            Di samping konteks secara umum ini, kita juga perlu memahami konteks khusus dari nasehat Petrus. Kata sambung “tetapi” (de) di awal 3:15 merupakan kontras terhadap nasehat di 3:13-14. Kalau sebelumnya Petrus mendorong jemaat agar tidak takut kepada manusia maupun penganiayaan, sekarang ia mengajarkan mereka untuk memberi jawaban iman dengan cara yang benar. Mengapa ia perlu membuat kontras seperti ini? Biasanya orang yang tidak pernah takut kepada siapapun, orang itu juga cenderung tidak hormat kepada orang lain. Petrus memberi nasehat yang seimbang: jangan takut (phobeō, 3:14) kepada manusia, tetapi tetap harus hormat (phobos, 3:15).

Menguduskan Kristus sebagai Tuhan (3:15a)

            Nasehat ini sekilas sulit untuk dipahami. Mengapa kita perlu menguduskan Kristus? Bukankah Kristus justru jauh lebih kudus daripada kita? Apakah kita bisa membuat Kristus menjadi lebih kudus? Kesulitan ini sangat dipengaruhi oleh konsep kita yang terlalu sempit tentang kekudusan. Kita hanya membatasi kekudusan dalam arti kesucian moral. Jika ini yang kita maksud, maka kita tidak perlu (dan tidak bisa serta tidak layak) menguduskan Kristus.

            Ungkapan “menguduskan Kristus” seharusnya dipahami sesuai dengan konteks 1 Petrus dan Yesaya 8 yang menjadi latar belakang kutipan Petrus. Seperti akan diuraikan berikut ini, menguduskan Kristus berarti takut dan hormat kepada-Nya. Kita memang tidak boleh takut kepada manusia (3:14), tetapi bukan kepada siapapun. Kristus harus tetap kita takuti. Dalam hal ini kita perlu memperhatikan keseluruhan ungkapan yang dipakai, yaitu “menguduskan Kristus sebagai Tuhan”.

            Tafsiran di atas juga mendapat dukungan dari teks PL yang dikutip Petrus. Beberapa alasan berikut meyakinkan kita bahwa Petrus sedang mengutip dari Yesaya 8:13. (1) ungkapan “kuduskanlah Kristus sebagai Tuhan” (kurion ton christon hagiasate, 1 Pet 3:15a) sangat mirip dengan Yesaya 8:13 (LXX, kurion auton hagiasate); (2) di 3:14 Petrus juga sudah mengutip dari Yesaya 8:12; (3) baik Yesaya 8:13-14 maupun 1 Petrus 3:14-15 sama-sama berbicara tentang ketakutan dan kekudusan; (4) situasi bangsa Yehuda pada jaman Yesaya sangat mirip dengan situasi penerima Surat 1 Petrus. Bangsa Yehuda sedang dikepung oleh dua bangsa lain (Israel dan Aram), sedangkan jemaat Petrus merupakan kelompok minoritas yang dijadikan sasaran beraga serangan oleh pihak kafir.

            Dari semua penjelasan di atas terlihat bahwa “menguduskan Kristus” mengandung makna “takut” atau “hormat” kepada Kristus sebagai Tuhan. Sebagaimana bangsa Yehuda dulu diperintahkan menguduskan TUHAN (YHWH) sebagai Pencipta yang harus dihormati, demikian pula kita mengakui ke-Tuhan Kristus sebagai Pencipta dan Penebus kita. Menguduskan berarti memisahkan. Allah terpisah dari kita. Dia sangat berbeda dengan kita yang hanyalah ciptaan saja.

            Petrus menambahkan bahwa tindakan menguduskan Kristus ini dilakukan “di dalam hatimu”. Beberapa penafsir menganggap bahwa kata “hati” (kardia) menekankan aspek internal dalam hidup kita. Walaupun di bagian lain Alkitab kardia memang kadangkala berfungsi seperti ini, tetapi dalam konteks 1 Petrus bukan itu yang dimaksud. Sebaliknya, Petrus sangat menekankan kehidupan konkrit setiap hari yang bisa dilihat oleh orang lain (bdk. 3:16-17; 2:12-13). Dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa kardia harus dipahami sebagai pusat kehidupan, bukan hanya aspek internal. Sebagai Tuhan, Kristus berhak mengatur seluruh aspek kehidupan kita. Tidak ada satu area pun yang bebas dari kedaulatan-Nya.

Bersiap sedia memberikan pertanggungjawaban iman (3:15b-16)

            Penerjemah LAI:TB memberikan tambahan “dan” di antara “menguduskan Kristus sebagai Tuhan di dalam hatimu” dengan “bersiap sedia memberikan pertanggungjawban iman”, seolah-olah dua hal ini adalah dua hal yang berbeda (juga KJV/NJB). Beberapa versi memilih untuk meletakkan titik untuk memisahkan dua nasehat tersebut (NIV/RSV/NRSV). Dala teks Yunani tidak ada kata sambung “dan” yang dipakai (NASB “but sanctify Christ as Lord in your hearts, always being ready”). Ketidakadaan kata sambung ini kemungkinan besar menyiratkan bahwa dua nasehat ini saling berkaitan. Maksudnya, orang yang “menguduskan Kristus” dengan sungguh-sungguh pasti akan siap memberikan pertanggungjawaban.

            Nasehat untuk selalu siap di segala waktu (lit. “selalu siap”, EV’s “always being ready”) merupakan sesuatu yang tidak berlebihan. Hal ini berkaitan dengan status orang percaya di dalam Kristus dan perspektif Akitab bahwa jaman akhir sudah dimulai. Sebagai orang yang percaya kepada Kristus, keselamatan dan kemuliaan kekal kita di surga sudah siap, karena Allah sudah melakukan semua untuk kita (1:5). Kristuspun sudah bersiap untuk datang sebagai Hakim (4:5). Mengingat akhir jaman sudah semakin dekat (1:13; 4:7), kita sudah sewajarnya untuk menyiapkan diri.

            Yang kita berikan kepada orang-orang lain adalah “pertanggungjawaban” (apologia, 3:16b). Kata inilah yang nantinya menjadi dasar dari istilah “apologetika” (studi khusus tentang bagaimana kita memberikan jawaban yang Alkitabiah dan logis kepada orang lain yang mempertanyakan atau menyerang kekristenan). Makna dalam kata apologia berbeda dengan konsep bahasa Inggris “apology” yang menyiratkan permintaan maaf atas sebuah kesalahan. Kata apologia juga tidak harus dipahami sebagai pembelaan akademis yang bersifat filosofis dan teknis. Apologia juga tidak seharusnya dibatasi pada konteks pembelaan secara legal di pengadilan. Surat 1 Petrus tidak memberikan petunjuk apapun tentang persoalan hukum (orang Kristen diseret ke pengadilan, dsb.). Sebaliknya, apologia ini diberikan pada “tiap-tiap orang yang mempertanyakan” (3:15b). Karena ditujukan pada “tiap orang”, maka kita sebaiknya memahami apologia dalam konteks yang lebih luas, baik konteks legal atau praktis, baik kepada pemerintah atau perorangan, baik kepada yang terelajar maupun tidak, dsb. Ungkapan “tiap-tiap orang” juga menyiratkan bahwa orang percaya harus bisa memahami pergumulan orang lain dan menerangkan kebenaran Kristiani dengan cara dan bahasa yang bisa dimengerti oleh mereka.

            Yang kita harus pertanggungjawabkan adalah “pengharapan”. Pengharapan merupakan karakteristik orang percaya. Sebagai orang percaya, kita hidup di dalam pengharapan yang pasti (1:3-5; Rom 5:3-5; Kol 1:5). Kalau kita tidak memiliki pengharapan, maka kita adalah orang yang malang (1 Kor 15:19) dan tidak berbeda dengan orang dunia yang tanpa pengharapan (Ef 2:12; 1 Tes 4:13). Keunikan ini perlu kita beritakan dan tunjukkan kepada orang lain.

            Jika kita mengamati seluruh nasehat di 3:15b-16 kita akan menemukan bahwa Petrus sebenarnya lebih menekankan cara daripada isi apologia. Isi apologia hanya diterangkan secara sekilas, sedangkan bagian lain dipakai untuk menerangkan bagaimana kita seharusnya memberikan apologia. Tujuan akhir dari semua ini (3:16b) bahkan adalah kesalehan kita yang dilihat oleh orang lain. Dengan kata lain kita bisa mengatakan bahwa sikap kita memiliki nilai penting yang sama dengan isi pembelaan kita. Kebenaran harus diberitakan dengan cara yang benar. Dua hal ini bukan pilihan, tetapi keharusan dan tidak ada substitusi (ganti) bagi salah satunya.

            Ada tiga cara memberikan apologia yang baik. Pertama, dengan lemah-lembut (prautēs). Kelemahlembutan tidak berarti kelemahan. Kata prautēs justru menyiratkan kekuatan. Kekuatan yang sebenarnya adalah kekuatan untuk menguasai kekuatan tersebut (bukan kita yang dikuasai oleh kekuatan). Lemah-lembut merujuk pada sikap yang bersedia mengakomodasi kelemahan orang lain. Sikap ini secara khusus diperlukan pada sat kita mengoreksi kesalahan orang lain (Gal 6:1) atau membimbing orang yang suka melawan (2Tim 2:24-25). Alkitab mengajarkan bahwa perkataan yang lemah-lembut akan meredakan pertengkaran (Ams 15:1).

            Kedua, dengan hormat (phobos). Kata ini bisa berarti “takut” atau “hormat”. Para penafsir memperdebatkan arti kata phobos di 3:15 ini. Apakah kata ini memiliki arti yang sama dengan “takut” di 3:14 atau haruskah kita menafsirkannya sebagai “hormat”? Bagi beberapa orang, phobos dianggap tidak mungkin berarti “takut”, karena sebelumnya Petrus sudah menasehatkan para pembaca untuk tidak takut kepada manusia. Bertolak dari hal ini mereka mengusulkan terjemahan “hormat”. Di sisi lain, sebagian orang tetap mempertahankan “takut” tetapi menujukan rasa takut ini kepada Tuhan, bukan manusia.

            Di antara dua alternatif di atas, manakah yang lebih sesuai dengan maksud penulis? Seandainya sikap lemah-lembut (3:15c) dan hati nurani yang murni (3:16a) ditujukan pada manusia, maka kata phobos pun seharusnya ditujukan pada manusia. Karena sebelumnya kita tidak boleh takut kepada manusia (3:14), maka phobos di 3:15c seharusnya diterjemahkan “hormat”. Hal ini tidak perlu mengagetkan kita, karena Petrus dalam nasehatnya memang pernah memakai kata phobos yang ditujukan pada manusia (2:18; 3:2). Sikap phobos kepada manusia tidak bertentangan dengan nasehat di 3:14, selama sikap phobos itu didasarkan pada phobos kepada Allah. Dalam hal ini 2:13a bisa memberikan penjelasan yang gamblang, “Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia”.

            Ketiga, dengan hati nurani yang murni (syneidēsin agathēn). Secara hurufiah frase yang dipakai di sini berarti “memiliki hati nurani yang baik”. Setiap orang Kristen sepatutnya memiliki hati nurani yang baik, karena hal itu bisa kita mohon dari Tuhan (3:21). Kata ini harus dipahami sebagai lawan dari kemunafikan. Sebagai kelompok minoritas yang sedang diperlukan secara tidak adil dan tidak baik, sulit bagi orang percaya untuk menyatakan sikap lemah-lembut dan hormat yang keluar dari dasar hati yang paling dalam. Kita cenderung memiliki sikap itu karena kita memang terpaksa melakukannya; kita tidak memiliki kekuatan untuk membalas dan kita memang didesak oleh situasi. Terhadap bahaya ini Petrus mengajarkan agar mereka memiliki hati nurani yang baik. Apa yang dilakukan benar-benar berasal dari hati yang sudah diserahkan kepada Kristus sebagai Tuhan (3:15a).

Hasil (3:16b)

            Apakah frase “supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu” (3:16c) menerangkan menguduskan Kristus (3:15a) atau memberikan apologia dengan cara yang benar (3:15b)? Kita sebaiknya mengaitkan ini dengan seluruh nasehat di 3:15-16b. Pemunculan “Kristus” di 3:16c mengingatkan kita pada “menguduskan Kristus” (3:15a). Kata “hati nurani” (syneidēsin) pun sangat berkaitan dengan “hati” (kardia). Di tempat lain Petrus juga menyinggung tentang kesalehan hidup yang menjadi teladan bagi orang lain (2:12-13), walaupun ia tidak mengaitkannya dengan apologia. Dari sini kita bisa mengatakan bahwa Tuhan bisa melawat orang lain bukan hanya melalui perkataan dan cara menyatakannya, tetapi keseluruhan hidup kita yang menguduskan Kristus dalam seluruh hidup kita.

            Konsep tentang “malu” di 3:16c harus dipahami terutama bukan pada aspek perasaan. Secara sosiologis (konsep kehormatan dan rasa malu dalam budaya Romawi), malu berkaitan dengan status yang rendah, bukan perasaan malu. Secara teologis pun “malu” sering dihubungkan dengan status orang percaya yang akan ditinggikan oleh Allah (Yer 17:13). Siapa yang berharap kepada Allah tidak akan dipermalukan (Rom 5:5a lit. “pengharapan tidak memalukan”). Sebaliknya, orang yang meninggalkan Tuhan akan dipermalukan (Yes 20:5). Dalam kaitan dengan 1 Petrus 3:16c, hal ini berarti bahwa Tuhan bisa saja mengubah orang lain yang bersikap negatif kepada kita justru nanti akan berpihak kepada kita (2:12-13). Semua ini akan terjadi apabila kita menguduskan Kristus dalam hati kita dan memberikan apologia dengan cara yang benar. Amin. Soli Deo Gloria.

Leave a Reply