Yakub Tri Handoko, Th. M.

Pendahuluan

            Apakah kita pernah mendengar ungkapan “segala kebenaran adalah kebenaran Allah”? Ya, ungkapan ini telah menjadi salah satu ciri khas dalam Teologi Reformed. Allah bukan hanya meletakkan kebenaran-Nya di kitab suci (scripture), tetapi juga di alam (nature). Salah satunya dapat kita lihat dalam semua kebudayaan di dunia ini. Walaupun banyak aspek telah tercemar oleh dosa, namun kita masih dapat melihat sisa-sisa kebenaran yang Tuhan telah letakkan di dalamnya. Tugas kita adalah menghargai sisa-sisa ini dan menjadikannya sebagai jembatan penginjilan untuk mengubah budaya tersebut, karena Tuhan adalah dan harus menjadi Tuhan atas kebudayaan.

            Bagaimana memberitakan injil dalam suat budaya yang berbeda dengan kita? Hari ini kita akan mempelajari hal ini bersama-sama berdasarkan pola penginjilan Paulus di Atena (Kis 17:22-32).

Kita menghargai pencarian orang terhadap Allah (ayat 22)

            Walaupun hati Paulus sangat terprovokasi (ayat 16) dan sebagai orang Yahudi dia melihat penyembahan berhala sebagai tindakan yang paling menjijikkan di mata Tuhan, Paulus tidak serta merta mencela ibadah orang Atena. Dia menilai orang Atena sebagai orang yang beribadah (deisidaimwn). Walaupun kata ini dapat berarti negatif (menyembah roh-roh jahat) atau positif (beribadah kepada para dewa), tetapi konteks tampaknya lebih mendukung arti yang terakhir. Dari ayat 22-28 Paulus masih bersikap positif terhadap ajaran mereka. Ketika membahas tentang allah yang tidak dikenal pun Paulus justru menyatakan bahwa dia ingin memperkenalkan identitas dari allah tersebut (ayat 23b).

Kesalehan penduduk Atena sangat kentara di mata Paulus sehingga dia memberi tambahan penjelasan “di dalam segala hal”. Apa yang dikatakan Paulus sesuai dengan gambaran umum tentang penduduk Atena. Perkataan Paulus di ayat 22 bukanlah sebuah basa-basi (apalagi kebohongan) maupun persetujuan terhadap tindakan tersebut. Paulus hanya bersimpati dengan upaya keagamaan mereka yang berusaha mencari allah. Hal ini tidak boleh terlalu dibesar-besarkan, karena semua manusia berasal dari Allah dan diberi kerinduan untuk mencari Dia (band. ayat  28; Kej 2:7). Dalam istilah teologi, potensi ini disebut rasa keilahian (sense of divinity/sensus divinitatis) atau benih kegamaan (logos permatikos/semen religiae). Sikap akomodatif terhadap pandangan lain yang ditunjukkan Paulus dalam kisah ini akan terlihat lebih jelas apabila dihubungkan dengan sikap Paulus sehari-hari yang cenderung berbicara dengan keras, tegas dan apa adanya (band. Gal 2:11).

Kita memakai tempat pijakan yang sama (ayat 23-29)

Setelah memberikan pujian terhadap kesalehan mereka, Paulus tidak memulai kotbahnya dengan kutipan Perjanjian Lama maupun sejarah pewahyuan Allah dari jaman patriakh sampai Yesus seperti yang dia lakukan di rumah ibadat Antiokh (13:16-41). Menggunakan kitab suci kepada orang yang tidak mengakui otoritas kitab suci bukanlah cara penginjilan yang efektif. Sebaliknya, Paulus menggunakan keberadaan sebuah altar dengan tulisan “kepada Allah yang tidak dikenal” (ayat 23a). Di antara banyak barang pemujaan yang ada, Paulus memilih satu (jenis) altar tertentu sebagai jembatan penginjilan. Paulus sekali lagi tidak langsung mencela keberadaan altar tersebut. Dia justru ingin menjelaskan siapa allah yang tidak dikenal ini. Apa yang dia lakukan di sini merupakan salah satu contoh konkret dari prinsip misi Paulus untuk “menjadi segala-galanya bagis emua orang” (1Kor 9:20-22).

Berdasarkan tujuan di ayat 23b – menunjukkan siapa allah yang tidak dikenal itu – Paulus selanjutnya menyampaikan penjelasan yang sangat filosofis di ayat 24-28. Dalam penjelasan ini terdapat beberapa kesamaan konsep dengan ajaran kafir, tetapi juga terselip beberapa kritikan logis terhadap ajaran mereka. Untuk mempermudah penjelasan, ayat 24-28 akan dibagi menjadi dua bagian:

  • Allah yang tidak terbatas (ayat 24-25)

Paulus memulai pembuktian tentang “allah yang tidak dikenal” dengan cara mendefinisikan ulang hakekat allah. Terlepas dari keberagaman konsep manusia tentang allah, “allah” tetaplah suatu pribadi yang diasumsikan sebagai pencipta dari segala sesuatu (ayat 24a). Sebagai pencipta segala sesuatu, allah pasti lebih besar dari apapun yang dia ciptakan atau manusia buat. Jika ini diterima, maka secara logis allah tidak mungkin tinggal di dalam buatan tangan manusia (ayat 24b).

Ucapan Paulus di ayat 24 memiliki kesamaan dengan pandangan kafir waktu itu. Euripides (abad ke-5 SM) mengajarkan bahwa tidak ada rumah buatan manusia yang dapat membungkus bentuk ilahi allah di dalam dinding-dindingnya. Cicero (abad ke-1 SM) menganggap gambar Ceres di Sisilia layak untuk disembah karena dianggap bukan buatan manusia, tetapi jatuh langsung dari langit. Kesamaan ini tidak berarti bahwa Paulus mengadopsi pandangan kafir. Perjanjian Lama sudah mengajarkan konsep yang sama jauh sebelumnya (1Raj 8:27; Yes 66:1-2). Hanya saja, Paulus tidak perlu menyatakan bahwa apa yang dia katakan diambil dari kitab suci Yahudi.

Selain tidak dapat dibatasi oleh tempat buatan manusia, sebagai Pencipta allah juga tidak membutuhkan apa-apa (ayat 25). Dia sudah sempurna sekalipun tanpa ibadah manusia. Ibadah yang dilakukan manusia tidak menambah apapun dalam diri allah. Ibadah merupakan keharusan bagi manusia (band. ayat 27, 30). Walaupun secara logis konsep ini dapat dipahami dengan mudah, namun banyak orang waktu itu justru memiliki konsep yang terbalik. Mereka berpikir bahwa allah membutuhkan ibadah manusia. Manusia diciptakan untuk memenuhi apa yang kurang dalam diri allah.

  • Allah sebagai sumber dari keberadaan manusia (ayat 26-28)

Sebagai pribadi yang tidak terbatas dan tidak dapat dibatasi oleh manusia, allah justru adalah sumber dari semua manusia. Berbeda dengan keyakinan penduduk Atena yang menganggap diri superior daripada orang lain karena termasuk dalam etnis Attic, Paulus menyatakan bahwa semua manusia memiliki asal yang sama, yaitu berasal dari allah. Allah bahkan berdaulat untuk menempatkan semua manusia pada waktu dan tempat yang tertentu (ayat 26).

Untuk mendukung pernyataannya, Paulus secara eksplisit mengutip perkataan para pujangga terkenal waktu itu (ayat 28-29). Ia mengutip Epimenides (abad ke-6 SM) yang mengajarkan bahwa di dalam Zeus manusia hidup, bergerak dan berada (band. ayat 28a). Ia juga mengutip syair Aratus (abad ke-4 SM) yang menyatakan bahwa semua manusia adalah keturunan Zeus. Paulus berhati-hati untuk tidak menggunakan nama Zeus, karena ini adalah nama diri. Paulus hanya memakai sebutan “allah” (qeos)  yang lebih umum (qeos bukan nama diri melainkan sebutan untuk keberadaan yang adikodrati).

Penggunaan kutipan di atas tidak berarti bahwa ide tersebut murni didapat Paulus dari konsep kafir. Alkitab beberapa kali menjelaskan bahwa Allah adalah sumber dari keberadaan manusia. Lukas 3:38 bahkan menyiratkan ide bahwa semua manusia adalah keturunan Allah.

Dengan menunjukkan dua konsep di atas, Paulus ingin mengajarkan dua hal penting. Pertama, semua manusia harus kembali kepada Allah sebagai sumber eksistensi mereka (ayat 27, 30). Kedua, manusia tidak boleh memahami keadaan ilahi mereka sebagai keturunan allah secara materialistik. Kalau allah tidak dibatasi oleh tempat dan manusia berasal dari allah, maka manusia tidak boleh memahami relasi mereka dengan allah secara materialistik (ayat 29). Manusia memang perlu mencari dan menemukan allah, tetapi cara menemukan ini bukan secara materialistik. Manusia tidak perlu menggambarkan Allah dengan patung, karena manusia sendiri sebenarnya adalah “patung-patung” Allah yang jauh lebih sempurna. Patung adalah buatan manusia, sedangkan manusia adalah buatan Allah.

Kita memberitakan injil yang benar (ayat 30-32)

  Kalau semua manusia harus kembali pada allah dan cara yang dipakai tidak boleh secara materialistik, lalu bagaimana cara manusia dapat menemukan allah yang tidak dikenal ini? Di ayat 30-31 Paulus mulai memberitakan jalan ke arah tersebut. Pertama-tama dia secara tegas menyatakan dalam progresivitas wahyu Allah, masa pencarian manusia terhadap Allah dengan menggunakan ibadah yang materialistik adalah masa kebodohan (ayat 30a). Terjemahan LAI:TB “kebodohan” di sini sedikit lebih keras daripada makna yang terkandung dalam kata Yunani agnoia. Hampir semua versi Inggris menerjemahkan agnoia dengan “pengabaian” atau “ketidaktahuan” (ignorance).

Walaupun apa yang dilakukan penduduk Atena merupakan bentuk keagamaan, namun hal itu bukanlah ibadah yang benar. Itu adalah bentuk ketidaktahuan manusia terhadap ibadah yang benar. Paulus menjelaskan bahwa Allah sengaja membiarkan masa ketidaktahuan ini selama beberapa waktu (band. Kis 14:16; Rom 3:25) karena Allah lebih menghendaki pertobatan daripada penghukuman (2Pet 3:9). Meskipun demikian, Paulus tetap tidak lupa memberitakan penghukuman (band. ayat 31). Jadi, dua aspek dari sifat Allah – yaitu kasih dan keadilan – harus tetap diberitakan secara seimbang.

 Di ayat 31 Paulus menjelaskan bagaimana manusia dapat berjumpa dengan Allah yang benar. Manusia tidak akan dapat menemukan Allah melalui usaha mereka, sekalipun manusia memang diharapkan mencari dan menemukan Allah (band. ayat 27). Manusia hanya dapat menemukan Allah apabila Allah yang mengambil inisitiatif untuk menentukan hari, menghakimi melalui seorang yang sudah dipilih-Nya dan memberikan bukti yang cukup bagi hal tersebut. Semua ini dilakukan Allah melalui Yesus Kristus dengan cara membangkitkan Dia dari antara orang mati.

Bagi orang Atena berita kebangkitan seperti ini adalah hal yang tidak masuk akal. Aeschylus (abad ke-4 SM) mengajarkan bahwa ketika tanah menerima darah manusia, tidak akan ada kebangkitan. Para filsuf Epikurian mengajarkan “jangan takut kepada kematian karena ketika kita hidup kita tidak akan mati dan ketika kita mati kita tidak akan hidup”. Dengan pola pikir seperti ini, mayoritas orang secara sarkastik mengejek berita kebangkitan, sementara yang lain lebih sopan dengan menolak secara halus (ayat 32).

Contoh aplikasi dari prinsip di atas

            Mengingat hari ini adalah perayaan Imlek, maka saya akan memberikan contoh aplikasi dalam konteks budaya Tionghoa. Kita akan melihat bahwa kebudayaan Tiongkok kuno sebenarnya berasal dari tradisi Alkitab. Poin ini sangat efektif dijadikan jembatan penginjilan karena orang-orang Tionghoa biasanya menolak injil karena dianggap sebagai “agama baru”.

            Ada dua hal yang akan kita pelajari. Pertama, tradisi kurban kuno yang dikenal dengan nama “Persembahan Perbatasan” (Border Sacrifice). Tradisi yang semula dilakukan di Gunung Tai (propinsi Shandong) ini sudah ada sebelum jaman Musa. Pada abad ke-15 M, tradisi ini dipindah ke Beijing (Kuil Surga). Dalam tradisi ini dijelaskan bahwa setiap kaisar yang hidupnya benar dipercaya untuk mempersembahkan kurban berupa domba yang sempurna kepada ShangDi. Apa yang ada dalam tradisi ini sangat mirip dengan konsep Yahweh (TUHAN) atau kurban dalam Perjanjian Lama.

  • ShangDi adalah pencipta alam semesta (Kej 1:1)
  • Urutan penciptaan: langit – bumi – makhluk hidup – laki-laki & perempuan (Kej 1:1-27)
  • ShangDi adalah kudus dan menuntut standar moral yang tinggi (Im 19:2)
  • Komunikasi antara ShangDi dan umat-Nya adalah melalui kaisar yang merangkap sebagai imam (band. Melkisedek, Kej 14:18).
  • ShangDi adalah roh, karena itu tidak boleh ada patung berhala untuk merepresentasikan Dia (Kel 20:3-4)
  • ShangDi menginginkan persembahan binatang yang sempurna, terutama domba dan banteng (Kej 22:7-8; Kel 29:18)

Kedua, sejarah piktograf. Huruf Mandarin dahulu berupa gambar (pictograph). Jika ada satu gambar disebut wen, sedangkan jika dua atau lebih gambar digabung jadi satu disebut zi. Penyelidikan modern menunjukkan bahwa beberapa huruf Mandarin (zi) menyiratkan konsep penciptaan.

  • Kata “kapal” terdiri dari tiga wen; masing-masing perahu + delapan + mulut (orang). Gambaran ini mirip kisah Nuh dan keluarganya (8 orang) yang selamat dari air bah
  • Kata “mengingini” = dua pohon + wanita (Kej 2:9, 16)
  • Kata “mencipta” = berkata + debu tanah + kehidupan + bergerak/hidup (Kej 2:7)
  • Kata “dilarang” = dua pohon + Allah (Kej 2:16; 3:24)
  • Kata “taman” = debu tanah + nafas + dua orang + batasan/kurungan

Leave a Reply