Yakub Tri Handoko,Th.M.

Pendahuluan

Peristiwa ini merupakan salah satu bagian dari serangkaian kisah penangkapan Paulus dan pengadilan terhadap dirinya. Setelah sebelumnya ia diadili oleh kepala pasukan (21:31-29) dan Mahkamah Agama (22:30-23:11), Paulus akhirnya dikirim kepada wali negeri Felix untuk diperiksa (23:23-24:27). Pemeriksaan kali ini jauh lebih resmi dan tertib daripada beberapa penyidikan sebelumnya. Baik para pendakwa (24:1-9) maupun Paulus (24:21) diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapat dengan tenang.

Dari proses penyidikan yang dicatat terlihat bahwa Paulus lebih unggul daripada pengacara Tertulus. Tuduhan yang ditujukan pada Paulus tidak disertai dengan bukti-bukti yang memadai (24:13, 19-20). Sebaliknya argumen yang diberikan Paulus justru menunjukkan bahwa Paulus tidak menimbulkan huru-hara (24:12), ajarannya berakar dari keagamaan Yahudi (24:14-15), bahkan ia sangat memperhatikan kesejahteraan bangsanya (24:17). Jika semua ini adalah benar, maka satu-satunya persoalan adalah berita tentang kebangkitan Yesus (24:21).

Felix akhirnya memutuskan untuk menangguhkan perkara itu sampai Klaudius Lisias datang ke Kaisarea (24:22). Fakta bahwa Lisias tidak pernah muncul lagi dalam cerita ini menunjukkan bahwa Felix memang tidak berniat melibatkan Lisias dalam perkara ini. Seandainya ia menunggu Lisias, maka waktu dua tahun (24:27) pasti sudah lebih daripada cukup untuk merealisasikan hal tersebut. Kelonggaran yang ia berikan kepada Paulus (24:23) semakin menguatkan dugaan bahwa ia memang tidak mendapati kesalahan dalam diri Paulus yang layak untuk dijatuhi hukuman mati atau penjara. Sikap ini sama dengan sikap yang diambil oleh Lisias (24:29).

Setelah proses pengadilan berlangsung (24:1-21) dan keputusan sementara diambil (24:22-23), Lukas mencatat sebuah percakapan menarik antara Felix, Drusila, dan Paulus. Dalam percakapan ini akan tampak bahwa Felix dan Dursila hanya memiliki rasa ingin yang besar tentang kekristenan, tetapi mereka sama sekali tidak mau menerapkan pengetahuan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ketika injil mengoreksi hidup mereka, mereka memilih untuk tidak mendengarkan injil lagi dan bersikeras pada kehidupan mereka yang jahat.

Rasa ingin tahu yang besar (ayat 24)

Panggilan kepada Paulus untuk menghadap Felix di bagian ini jelas bukan bagian dari proses pengadilan. Felix ingin mengetahui lebih lanjut tentang Jalan Tuhan yang diberitakan Paulus (24:24). Hal ini bukanlah sesuatu yang istimewa, karena Felix memang cukup menguasai masalah keagamaan Yahudi (24:22) dari isterinya Drusila yang merupakan orang Yahudi (anak perempuan Herodes Agrippa I yang membunuh Yakobus, Kis 12:1-2) maupun masalah kekristenan dari orang-orang Kristen yang sudah ada di Kaisarea (8:40; 9:30; 10:1, 24; 18:22; 21:8). Kehadiran Drusila dalam peristiwa ini  menyiratkan bahwa panggilan kepada Paulus ini sekaligus untuk memuaskan rasa ingin tahu Drusila. Beberapa penafsir bahkan menduga motivasi utama di balik pemanggilan hanyalah untuk memuaskan Drusila. Dugaan ini sangat beralasan, karena Felix sendiri sebenarnya sudah sangat mengenal ajaran kekristenan.

Paulus memanfaatkan kesempatan ini untuk menjelaskan tentang iman kepada Yesus Kristus. Sebutan “Yesus Kristus” di sini seringkali dipahami oleh para penafsir dalam arti “Yesus yang adalah Kristus”. Berita bahwa Yesus adalah Mesias (Kristus) merupakan inti berita yang disampaikan para rasul (3:20; 5:42; 17:3; 18:5; 20:21) dan merupakan sebuah isu relevan bagi orang-orang Yahudi yang sedang menantikan Mesias. Bagi para rasul dan gereja mula-mula tidak ada berita lain yang lebih penting selain berita tentang Yesus sebagai Mesias dan Tuhan.

Berdasarkan konteks yang ada, iman yang disampaikan Paulus juga pasti mencakup diskusi tentang kebangkitan orang mati (24:15, 21). Topik ini sebelumnya bahkan sudah disinggung pada waktu Paulus diadili Mahkamah Agama (23:6-8). Dugaan ini semakin diperkuat dengan ide tentang penghakiman terakhir di 24:25. Injil yang benar memang tidak dapat dipisahkan dari kebangkitan (17:31-32), terutama kebangkitan Kristus (1Kor 15:1-4). Injil adalah tentang Yesus Kristus yang bangkit (Rom 1:2-4). Tanpa kebangkitan maka iman kita akan menjadi percuma dan kita tetap berada di dalam dosa (1Kor 15:12-19).

Keterusterangan Paulus dalam memberitakan injil di depan Felix (24:24-25) oleh beberapa orang dianggap kontras dengan pembelaan Paulus sebelumnya (24:10-21). Dalam pembelaan di depan sidang Paulus tidak berani menyatakan injil secara gamblang. Ia hanya membicarakan Jalan Tuhan (24:14) dan kebangkitan orang mati secara umum (24:21). Di mata beberapa penafsir Paulus dianggap bertindak tidak konsisten.

Perbedaan di atas sebaiknya tidak terlalu dibesar-besarkan. Paulus bukan tipikal orang yang penakut. Ia dengan berani membantah imam besar (243:1-3). Tuhan pun secara khusus menampakkan diri kepadanya guna memberi semangat agar ia tidak usah takut memberitakan injil (23:11). “Ketidakjelasan” pemberitaan injil dalam pembelaan Paulus terkait dengan upaya Paulus untuk mengidentifikaskan dirinya sebagai orang Yahudi yang saleh (22:3-4; 23:6; 24:14-17). Hal ini sangat diperlukan untuk membuktikan bahwa tuduhan bangsa Yahudi adalah tidak berdasar. Paulus tetap memandang dirinya sebagai penyembah Allah yang benar sama seperti orang Yahudi lain, hanya saja ia memilih Jalan Tuhan (24:14; bdk. 9:2; 13:10; 18:25; 19:9, 23; 22:4, 5; 24:14, 22).

Keengganan untuk dihakimi oleh injil (ayat 25)

Walaupun dalam kisah ini status Paulus sebagai terdakwa, tetapi dalam percakapan dengan Felix Paulus justru menjadi pendakwa. Dengan otoritas injil ia menegur kesalahan Felix dan Drusila. Paulus tidak ingin berita injil hanya sebagai pemuas rasa ingin tahu Felix dan Drusila secara intelektual. Ia lebih memfokuskan pada aspek praktis dari injil, karena Felix sendiri sebenarnya sudah tahu tentang ajaran kekristenan (24:22). Dalam hal ini Paulus ingin mengajarkan bahwa injil bukanlah pergumulan intelektual semata-mata. Injil sangat berkaitan dengan kehidupan yang saleh di hadapan Allah.

Paulus membahas tentang kebenaran, penguasaan diri, dan penghakiman. Kebenaran (dikaiosynē) di sini terutama bukan merujuk pada status legal seseorang di hadapan Allah, seperti yang biasa ditemukan dalam surat Paulus (Rom 1:16). Kebenaran ini lebih mengarah pada sikap hidup yang sesuai dengan firman Tuhan (10:35; 13:10), walaupun ha ini pasti juga mencakup aspek status secara legal. Penguasaan diri (enkrateia) hanya muncul 3 kali dalam PB, sedangkan kata sifat dan kata sifatnya muncul di bagian lain (1Kor 7:9; 9:25; Tit 1:8). Enkrateia adalah salah satu buah Roh (Gal 5:23) dan tanda pertumbuhan rohani orang percaya (2Pet 1:6). Dari penggunaan ini terlihat bahwa penguasaan diri sejati bukan didapat dari disiplin anthroposentris gaya Stoa, tetapi pekerjaan spiritual dalam diri orang percaya. Penghakiman (krima) di sini merujuk pada penghakiman ilahi di Kisah Rasul 17:31 yang akan dilakukan dengan adil (dikaiosynē) melalui Yesus Kristus (bdk.  Yoh 16:8-11).

Tiga hal tersebut disinggung Paulus sangat menegur Felix maupun Drusila. Catatan historis dari penulis Yahudi maupun Romawi menunjukkan bahwa mereka bukanlah orang yang menghargai tiga hal ini. Felix membujuk Drusila untuk meninggalkan suaminya yang bernama Azizus, seorang raja di sebuah negara kecil di Siria, dengan menggunakan jasa seorang penyihir Yahudi bernama Simon/Atomos. Felix sangat tergoda oleh kecantikan Drusila yang digambarkan Josefus dengan kalimat “ia sungguh-sungguh melebihi semua perempuan lain dalam hal kecantikan”. Di sisi lain Drusila sangat tergoda dengan jabatan yang tinggi dan kekayaan yang melimpah dari Felix. Tacitus, seorang penulis Romawi yang terkenal, menyebut Felix sebagai seorang yang memiliki kuasa seperti raja tetapi sikap seperti hamba. Felix sangat dikuasai oleh sikap yang kejam dan penuh hawa nafsu. Felix mendapat dukungan dari Pallas, saudaranya yang memiliki pengaruh besar di pengadilan/pemerintahan Romawi karena kedekatanna dengan kaisar dan posisinya yang penting di kekaisaran. Suetonius, penulis Romaw kuno yang lain, memberikan informasi bahwa Drusila adalah isteri ke-3 Felix. Walaupun memperisteri perempuan dari penduduk setempat sebenarnya merupakan larangan bagi wali negeri, tetapi Felix tetap tidak peduli (mungkin ia mendapat jaminan dari Pallas). Semua catatan ini (termasuk sikap Felix yang mengharapkan suap di Kisah Rasul 24:26) merupakan bukti yang sangat kuat bahwa Felix memang sungguh-sungguh bermasalah dengan kebenaran, penguasaan diri, dan penghakiman.

Keadaan Felix yang penuh dosa dan teguran Paulus yang keras membuat Felix sangat takut. Sayangnya, Felix justru memilih untuk menghindari kebenaran. Sama seperti Pilatus (Yoh 18:38), Festus (Kis 26:24), maupun Agripa (Kis 26:28), Felix tidak mau menerima dan menghidupi kebenaran. Sama seperti Herodes yang hanya senang mendengarkan khotbah Yohanes Pembaptis tetapi akhirnya memilih untuk menuruti hawa nafsu isterinya (Mar 6:19-20), Felix pun akhirnya menolak untuk mendengarkan khotbah Paulus. Alasan di balik penolakan ini mirip dengan orang-orang Atena yang menolak khotbah Paulus (bdk. 17:32 “lain kali saja kami mendengarkan engkau”).

Bagaimana dengan Drusila? Alkitab tidak memberikan petunjuk apapun tentang hal ini. Dia tampaknya tidak tertarik lagi dengan khotbah Paulus. Ini tersirat dari ketidakadaan catatan bahwa ia memanggil Paulus lagi. Keengganan Drusila untuk menerima injil secara positif bukanlah sesuatu yang tidak bisa diduga sebelumnya. Kakek dan ayahnya adalah penentang kekristenan. Ia sendiri di satu sisi tampak sebagai penganut agama Yahudi yang taat (menuntut calon suami pertama yang bernama Epifanes untuk disunat; ketika Epifanes menolak hal ini, maka pernikahan dibatalkan), ia tidak segan-segan menabrak tradisi Yudaisme tentang pernikahan ketika ia meninggalkan Azizus demi Felix.

Hati yang makin keras (ayat 26)

Ucapan Felix “apabila ada kesempatan baik, aku akan menyuruh memanggil engkau” (24:25) sekilas ditepati. Felix sering memanggil Paulus bercakap-cakap dengan dia (24:26). Bagaimanapun, dalam percakapan ini tidak disebutkan bahwa ia membicarakan tentang iman kepada Yesus Kristus. Sebaliknya, ia memanfaatkan hal tersebut untuk mengharapkan suap dari Paulus. Ia mungkin berpikir bahwa sebagai pembawa bantuan untuk orang-orang Yahudi di Yerusalem (24:17) Paulus pasti memiliki akses yang besar untuk mendapatkan uang. Ia juga mungkin berpikir bahwa pemenjaraan Paulus yang sangat longgar di 24:23 sehingga para sahabat bisa datang sebagai kesempatan besar bagi Paulus untuk memperoleh bantuan materi dari mereka (27:3).

Sikap Felix ini menunjukkan betapa bobrok moralitas Felix. Pertama, ia sebenarnya sudah menyadari bahwa Paulus berada dalam posisi tidak bersalah selama proses pengadilan (24:22-23), namun ia sengaja tidak mau membebaskan Paulus secara langsung karena ia ingin mendapatkan keuntungan dari pembebasan itu. Kedua, penyuapan merupakan tindakan yang dilarang oleh hukum Romawi. Felix empraktekkan apa yang sudah menjadi kebiasaan umum waktu itu. Propertius, dalam tulisannya Elegies 3.13.48–50, mengatakan, “Kesalehan dikalahkan dan semua manusia menyembah emas. Emas telah menghapuskan iman, emas telah membuat keadilan bisa dibeli dan dijual, emas memerintah atas hokum.” Ketiga, Felix sudah menerima teguran dari Paulus tentang kebenaran, penguasaan diri dan pengadilan yang akan datang, tetapi ia justru lebih memilih untuk dikuasai oleh ketamakannya terhadap uang daripada kebenaran. Usaha Felix untuk memanggil Paulus sesering mungkin dan dalam rentang waktu dua tahun membuktikan betapa ia memang sangat dikuasai oleh nafsu ketamakan. Keempat, ia seharusnya memiliki banyak waktu untuk mendengarkan khotbah Paulus lagi, namun ia sengaja tidak mau memanfaatkan kesempatan itu, bahkan menggunakannya untuk kepentingan lain yang sangat rendah.

Apa yang dilakukan Felix merupakan peringatan bagi setiap orang yang menolak kebenaran. Ketika orang berdosa menolak teguran firman Allah, maka hatinya akan semakin bebal. Ia akan melakukan hal-hal yang lebih parah lagi. Ini merupakan salah satu paradoks dalam kekristenan. Ketika manusia memilih untuk mengikatkan diri pada firman Tuhan ia akan mendapatkan kebebasan yang sejati (Yoh 8:31-32); sebaliknya, manusia yang memilih kebebasannya sendiri akan terikat dengan dosa tersebut.

Jabatan yang diambil (ayat 27)

Ayat ini memiliki beberapa fungsi sekaligus. Pertama, catatan ini menyiratkan konsekuensi yang diterima oleh Felix. Pada akhir pemerintahan Felix terjadi kerusuhan etnis yang sangat besar antara orang Yahudi dan non-Yahudi. Bangsa Yahudi menganggap Kota Kaisarea merupakan miliki Yahudi karena faktor geografis (terletak di wilayah Israel) dan historis (dibangun oleh Herodes), namun bangsa lain ingin mempertahankan identitas Kaisarea yang sejak dulu memang sudah bernuansa Yunani. Kerusuhan ini makin melebar sehingga menimbulkan kekuatiran kaisar. Atas desakan orang-orang Yahudi Felix akhirnya diturunkan dari kekuasaan. Orang yang selama ini menyalahgunakan jabatan sekarang harus menghadapi hukuman Tuhan bahwa jabatan itu diambil darinya. Begitulah yang akan dilakukan Tuhan kepada kita. Jika ada sesuatu yang menghalangi loyalitas kita kepada-Nya Tuhan tidak segan-segan mengambil itu, sekalipun hal itu adalah barang yang paling berharga bagi kita. Bangsa Israel dahulu juga pernah belajar tentang hal ini. Ketidaktaatan mereka membuat Tuhan tidak segan-segan membuang mereka dari tanah perjanjian, bahkan bait Allah sebagai tempat kediaman-Nya pun diserahkan kepada bangsa Babel untuk dihancurkan. Semua ini hanya untuk satu tujuan: umat Allah belajar arti sebuah ketaatan.

Ayat 27 juga berfungsi untuk menyiratkan keteguhan hati Paulus dalam menjaga kesalehan (bdk. 24:16). Walaupun ia terus-menerus digoda selama 2 tahun, tetapi ia tetap tidak mau memberikan suap. Ia mungkin menyadari bahwa proses pengadilan yang ia jalani pasti akan membawa dia sampai ke Roma, seerti yang sudah dinyatakan oleh Tuhan kepadanya (23:11). Semua berada di dalam kontrol Allah.

Alasan lain di baik penolakan ini berhubungan dengan integritas hidup sebagai pemberita injil. Walaupun mempertahankan integritas berarti ia tidak bisa memberitakan injil dengan leluasa, namun Paulus tetap menganggap bahwa menghidupi injil adalah jauh lebih penting daripada memberitakannya. Bagi Paulus injil bukanlah percakapan filosofis, tetapi kuasa yang membenarkan orang berdosa di hadapan Allah (Rom 1:16). Jika injil yang ia beritakan mencakup kebenaran, penguasaan diri, dan penghakiman, bagaimana mungkin Paulus sebagai pemberita injil justru melakukan suap yang sangat bertentangan dengan injil?

Fungsi terakhir dari ayat 27 adalah mempersiapkan pembaca untuk mengikuti kisah penangkapan Paulus selanjutnya. Kita diperlihatkan sebuah babak baru yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan sebelumnya. Kalau Felix lebih memilih uang daripada kebenaran, maka Festus lebih memilih jabatan daripada kebenaran. Ia berusaha mengambil hati orang-orang Yahudi supaya jabatannya aman.

Aplikasi

Bagaimana dengan kita sekarang? Apakah kita sudah mengalami kuasa kebangkitan Kristus yang mengalahkan dosa? Apakah kita selama ini memilih untuk mengeraskan hati ketika mendapat teguran dari injil? Jika kita menolak kebenaran, maka kita akan semakin diperbudak oleh ketidakbenaran. Sebaliknya, jika kita berpaut pada kebenaran, maka kebenaran itu akan membebaskan kita dan memampukan kita untuk memang melawan prinsip dunia yang melawan Allah. Injil yang berisi kematian dan kebangkitan Yesus adalah kekuatan Allah yang membenarkan, menyelamatkan, dan menguatkan kita. Soli Deo Gloria.

Leave a Reply