Yakub Tri Handoko, Th.M.

Pendahuluan

Salah satu fase kehidupan Yesus yang penting tetapi kadangkala diabaikan banyak orang adalah peristiwa transfigurasi. Yang dimaksud transfigurasi adalah momen ketika Yesus berubah menjadi figur lain yang penuh kemuliaan di atas gunung di depan Petrus, Yakobus dan Yohanes. Peristiwa pemuliaan Yesus ini dicatat dalam Injil Matius (17:1-8), Markus (9:1-8) dan Lukas (9:28-36), sedangkan Injil Yohanes tidak memasukkan kisah ini sebab dari awal Yesus sudah ditampilkan sebagai sebagai pribadi yang mulia, yaitu sebagai Allah (Yoh 1:1).

Setting peristiwa

            Matius dan Markus mencatat bahwa peristiwa transfigurasi terjadi enam hari sesudah percakapan di Kaisarea Filipi (Mat 17:1; Mar 9:2), yaitu ketika Yesus membuka diri-Nya secara eksplisit sebagai Mesias yang menderita (Mat 16:13-28; Mar 8:27-38). Di sisi lain Lukas mencatat bahwa peristiwa ini terjadi kira-kira delapan hari sesudahnya (Luk 9:28). Sebenarnya ketiganya memaksudkan hal yang sama. ”Sesudah enam hari” berarti merujuk pada hari ketujuh, sedangkan ”kira-kira delapan hari” juga dapat merujuk durasi waktu yang sama. Dengan kata lain, mereka semua mencatat bahwa peristiwa ini terjadi seminggu sesudah peristiwa di Kaisarea Filipi, hanya saja Matius dan Markus memakai cara Yahudi sedangkan Lukas mengungkapkannya menurut budaya Yunani (D. A. Carson).

            Sebagian teolog mencoba memberi makna khusus terhadap catatan waktu ini. Beberapa menganggap bahwa enam hari ini adalah masa antara Hari Raya Pendamaian dan Hari Raya Tabernakel (Penahbisan Bait Allah), namun tidak ada bukti yang jelas bahwa Matius 16:21-17:8 terjadi di antara dua hari raya tersebut. Yang lain menghubungkan peristiwa ini dengan Keluaran 24:16 ketika Musa selama enam hari ada di gunung dan dilingkupi dengan kuasa Allah, namun enam hari dalam peristiwa ini adalah enam hari Musa melihat kemuliaan, bukan enam hari antara satu peristiwa dengan peristiwa lain, seperti dalam kasus transfigurasi. Tafsiran ini akan semakin terlihat dipaksakan apabila kita mengaitkan dengan catatan Lukas ”kira-kira delapan hari” (bukan enam hari!). Jadi, kita sebaiknya tidak menambahkan makna tertentu pada keterangan waktu ini. Tidak ada yang penting secara teologis dari pencatatan waktu ini.

            Setting lain yang perlu kita perhatikan adalah tempat. Matius mencatat bahwa peristiwa ini terjadi ”di sebuah gunung yang tinggi”. Gunung pasti tinggi, sehingga penambahan ”yang tinggi” mengindikasikan bahwa ketinggian gunung ini adalah di atas rata-rata. Mayoritas bapa gereja dan tour guide ke Israel meyakini bahwa gunung yang dimaksud adalah Gunung Tabor. Walaupun ini adalah pandangan tradisional sejak lama, tetapi hampir semua teolog modern menolak dugaan ini: (1) Gunung Tabor (< 600 m) termasuk sangat rendah untuk layak dikategorikan sebagai ”gunung yang tinggi”; (2) menurut Josephus, seorang sejarahwan Yahudi waktu itu, pada abad ke-1 di puncak Gunung Tabor dikelilingi tembok untuk benteng pertahanan; (3) posisi Gunung Tabor tidak sesuai dengan rute perjalanan Yesus dari Kaisarea Filipi (16:13) ke Kapernaum (17:24) lalu ke Yerusalem (band. 16:21), karena Gunung Tabor terletak antara Kapernaum dan Yerusalem. Jika tansfigurasi terjadi di gunung ini, maka Yesus telah melakukan perjalanan memutar dari Kaisarea Filipi –  Gunung Tabor – Kapernaum – Gunung Tabor – Yerusalem.

            Sebagian teolog mengusulkan Gunung Hermon (2814 m) sebagai tempat transfigurasi. Sama seperti usulan pertama, usulan ini pun sulit untuk diterima: (1) Gunung Hermon terlalu dingin untuk didiami selama semalam (band. Luk 9:37), karena puncak gunung ini selalu bersalju di sepanjang waktu; (2) posisi Gunung Hermon malah lebih ke utara lagi dibandingkan Gunung Tabor, sehingga kalau transfigurasi terjadi gunung ini maka Yesus juga memutar dari Kaisarea Filipi – Gunung Hermon – Kaisarea Filipi – Kapernaum – Yerusalem; (3) menurut catatan Markus (Mar 9:14), ketika rombongan Yesus turun dari gunung mereka mendapati murid-murid lain sedang berdebat dengan para ahli Taurat. Sesuai tradisi waktu itu, kehadiran ahi Taurat di sekitar Gunung Hermon yang terletak jauh di utara Yerusalem tampaknya sangat janggal.

            Sebagian teolog sekarang mengusulkan Gunung Miron (1197 m) yang terletak di antara Kaisarea Filipi dan Kapernaum. Walaupun dari sisi ketinggian dan posisi gunung ini layak diperhitungkan sebagai alternatif, namun kita tidak dapat memberi argumen yang pasti. Kita sebaiknya mengikuti para penulis Alkitab yang sengaja tidak menjelaskan posisi detil dari gunung ini. Dari cara mereka menceritakan peristiwa ini terlihat bahwa identifikasi gunung ini tidak sepenting peristiwa yang terjadi di atasnya.

Makna transfigurasi

            Apa signifikansi peristiwa transfigurasi? Mengapa Yesus perlu menyatakan diri seperti ini? Ada beberapa petunjuk yang diberikan dalam teks tentang tujuan transfigurasi.

Transfigurasi menunjukkan bahwa Yesus adalah Mesias yang dijanjikan

            Dari sekian banyak tokoh Perjanjian Lama, hanya dua tokoh yang muncul dalam peristiwa transfigurasi, yaitu Musa dan Elia. Mengapa dua tokoh ini muncul? Sebagian orang berpendapat bahwa dua tokoh ini muncul karena mereka tidak pernah mengalami kematian. Tafsiran ini jelas tidak bisa diterima: (1) Musa benar-benar mengalami kematian (Ul 34:7); (2) Henokh tidak mengalami kematian (Kej 5:24), tetapi tidak muncul dalam peristiwa ini. Teolog lain berpendapat bahwa Musa dan Elia muncul karena keduanya sama-sama pernah mendapatkan wahyu dari Allah di atas gunung (Kel 19; 24; 1Raj 19). Tafsiran ini tampaknya kurang sesuai dengan transfigurasi: (1) para penulis kitab injil tidak terlalu menekankan pentingnya lokasi transfigurasi. Hal ini ditunjukkan dengan absennya keterangan tentang nama gunung tempat transfigurasi; (2) dalam transfigurasi Yesus tidak menerima wahyu apapun. Suara dari surga pun lebih ditujukan pada ketiga murid-Nya (Mat 17:5 ”dengarkanlah Dia!”); (3) ketika ada di gunung, Elia tidak mengalami perubahan penampilan seperti yang dialami Musa (Kel 34:29-30) maupun Yesus (Mat 17:1-8). Sebagian teolog lain mengusulkan kehadiran Musa dan Elia sebagai perwakilan/simbol dari kitab Taurat dan para nabi. Sama seperti usulan sebelumnya, tafsiran ini juga kurang memuaskan: (1) tidak ada bukti dari tulisan Yahudi apapun yang menempatkan Elia sebagai perwakilan dari semua nabi; (2) kitab Yahudi dibagi menjadi tiga kelompok besar, yaitu Taurat, para nabi dan tulisan-tulisan. Jika Musa mewakili kitab Taurat dan Elia mewakili kitab para nabi, lalu siapa yang mewakili tulisan-tulisan?

            Tafsiran paling tepat adalah yang memandang kehadiran Musa dan Elia sebagai konfirmasi kedatangan Mesias. TUHAN pernah berjanji bahwa Dia akan membangkitkan seorang nabi di akhir jaman yang sama seperti Musa (Ul 18:15, 18). Dalam perkembangan selanjutnya, janji ini dipahami sebagai salah satu nubuat tentang datangnya mesias. Kedatangan mesias sendiri di tempat lain dinubuatkan akan didahului dengan Elia akhir jaman (Mal 3:1; 4:5-6). Yang dimaksud Elia yang akan datang ini adalah Yohanes Pembaptis (Mat 17:10-13; band. 11:10-14; Luk 1:17).

            Tafsiran di atas juga didukung oleh konteks Matius 16-17. Sebelum transfigurasi Yesus berbicara tentang identitas diri-Nya sebagai mesias (Mat 16:13-20). Selanjutnya Dia menjelaskan tentang mesias yang menderita dan syarat-syarat mengikuti Dia (Mat 16:21-26). Di akhir pembicaraan ini Yesus menyinggung tentang kemuliaan-Nya sebagai Anak Manusia yang menggenapi nubuat mesianis di Daniel 7:13-14 (Mat 16:27-28). Ucapan Allah dari surga di Matius 17:5 pun turut mengingatkan kita kembali tentang peristiwa baptisan (Mat 3:13-17) ketika Bapa memproklamasikan Yesus sebagai penggenap nubuat di Mazmur 2:7 dan Yesaya 42:1. Semua petunjuk ini meyakinkan kita bahwa transfigurasi memang dimaksudkan untuk membuktikan bahwa Yesus adaah mesias yang dijanjikan.

Transfigurasi menunjukkan bahwa Yesus melebihi Musa maupun Elia

            Dari cara penulisan kisah transfigurasi kita dengan mudah dapat melihat bahwa Yesus bkan sekedar seorang nabi akhir jaman. Dia jauh melebihi Musa maupun Elia (terutama Musa). Poin ini sangat signifikan bagi murid-murid yang terbiasa menganggap Musa sebagai nabi yang terbesar dalam sejarah bangsa Israel.

            Bagaimana superioritas Yesus ditunjukkan melalui transfigurasi? Pertama, kalau Musa hanya sekedar memantulkan kemuliaan Allah setelah bercakap-cakap dengan Dia (Kel 34:29-30), maka Yesus berubah rupa sendiri (Mat 17:2), bahkan sebelum Allah menyatakan diri-Nya (Mat 17:5). Kedua, ucapan Allah di ayat 5 terfokus pada diri Yesus saja. Dengan kata lain, hanya Yesuslah Anak yang dikasihi; hanya Yesuslah yang berkenan di hati Allah; hanya Yesuslah yang harus didengarkan. Tentu saja ini tidak berarti bahwa semua firman Allah melalui Musa dan Elia harus dilupakan. Hal ini menunjukkan bahwa Yesus adalah wahyu yang tertinggi (Yoh 1:18; Ibr 1:1-2). Ketiga, menghilangnya Musa dan Elia di akhir transfigurasi menunjukkan bahwa kehadiran mereka berdua hanya untuk melayani Yesus, yaitu menunjukkan siapa diri-Nya yang sebenarnya. Sebagai fokus dari kisah ini Yesus jelas lebih penting daripada mereka berdua.

Transfigurasi menunjukan bahwa Yesus adalah mesias yang menderita sekaligus mulia

            Kita tidak boleh melupakan konteks dari kisah transfigurasi. Sebelum peristiwa ini Yesus sudah menubuatkan bahwa Dia harus menderita di Yerusalem (Mat 16:21). Berita ini sulit dimengerti oleh murid-murid sehingga mereka menolak ide tentang mesias yang menderita (Mat 16:22-23). Dalam konteks seperti inilah Yesus menunjukkan diri-Nya yang sebenarnya di depan murid-murid. Lukas bahkan secara khusus mencatat isi pembicaraan Yesus dengan Musa dan Elia, yaitu seputar penderitaan di Yerusalem (Luk 9:31). Transfigurasi mengajarkan bahwa penderitaan dan kehinaan yang dilalui Yesus tidak meniadakan kemuliaan-Nya. Sebaliknya, hal itu justru merupakan jalan ke arah kemuliaan.

            Petunjuk lain tentang hal ini terdapat dalam kisah transfigurasi sendiri. Dalam kisah ini Allah sekali lagi menegaskan bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang terkasih (Mzm 2:7) dan objek perkenanan Allah (Yes 42:1). Sebagai mesias yang dinubuatkan oleh Yesaya, Yesus adalah mesias yang menderita (Yes 53). Setelah turun dari gunung, Yesus menghubungkan transfigurasi dengan kebangkitan-Nya dari kematian (Mat 17:9). Jadi, seluruh peristiwa transfigurasi mengarah pada penderitaan Yesus.

Respon kita terhadap transfigurasi

            Ketika identitas Yesus dinyatakan secara dalam transfigurasi, hal itu tentu bukan tanpa alasan. Kisah ini bukan sekedar pamer kemuliaan atau pembuktian sesuat. Ada ha-hal tertentu yang diharapkan sebagai respon dari murid-murid dan kita. Bagaimana kita seharusnya meresponi penyataan Yesus di atas gunung?

Kita tidak perlu takut menderita karena ada kemuliaan yang menyertai kita

            Seperti sudah disinggung sebelumnya, transfigurasi merupakan penggenapan dari ucapan Yesus bahwa di antara murid-murid-Nya ada yang tidak akan mati sebelum melihat Anak Manusia datang dalam kemuliaan-Nya sebagai raja (Mat 16:28). Kemuliaan Anak Manusia ini sendiri sangat berkaitan dengan ayat 27 tentang kedatangan Anak Manusia di akhir jaman untuk menghakimi setiap orang. Jadi, transfigurasi harus dilihat sebagai ”cicipan” dari apa yang akan terjadi di akhir jaman, yaitu Yesus datang dalam kemuliaan-Nya.

            Lebih jah kita perlu menyelidiki mengapa Yesus perlu membicarakan tentang kemuliaan-Nya? Sesuai konteks kita mengetahui bahwa hal ini merupakan bagian dari kotbah Yesus tentang syarat-syarat mengikuti Dia (Mat 16:24-27). Syarat ini membahas tentang kesediaan murid-murid untuk menderita dan mati bagi Kristus. Mereka tidak perlu takut atau kuatir terhadap penderitaan di dunia ini. Semua itu tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang nanti akan mereka nikmati bersama Yesus (band. 2Kor 4:17).

            Demikian pula dengan kita. Walaupun Yesus belum datang dalam kemuliaan-Nya yang agung di akhir jaman, namun Dia telah memberi bukti tentang hal itu melalui transfigurasi. Yesus telah memberi kepastian kepada murid-murid karena kita cenderung ”menikmati” dunia ini dan begitu terpikat kepadanya. Kita lupa bahwa hidup kita harus diarahkan pada kemuliaan yang nanti kita nikmati di surga. Oritentasi hidup seperti ini akan memampukan kita untuk berani menderita bagi Kristus selama di dunia.

Kita menghargai kehadiran Yesus dalam kemuliaan-Nya

            Ketika murid-murid melihat kemuliaan Yesus mereka langsung meresponi dengan perkataan ”betapa bahagia kami berada di tempat ini!” (Mat 17:4a). Hampir semua versi menerjemahkan bagian ini dengan ”adalah baik bagi kami untuk berada di tempat ini”. Mereka bahkan ingin mendirikan kemah bagi Yesus, Musa dan Elia supaya kehadiran mereka bertiga dalam kemuliaan lebih permanen. Seandainya pendirian ”kemah” di sini berhubungan dengan Hari Raya Tabernakel, maka hal itu semakin memperjelas maksud murid-murid: mereka ingin agar tiga tokoh tersebut tinggal dalam konteks ibadah, sama seperti kehadiran Allah di bait Allah.

            Dari catatan Alkitab kita mengetahui bahwa ucapan Petrus di atas memang tidak semuanya tepat. Dia megucapkan itu dalam ketakutannya (Mar 9:6; Luk 9:33b). Allah pun memotong perkataan Petrus (Mat 17:5 ”tiba-tiba ketika dia sedang berbicara…”) sebagai tanda bahwa apa yang diucapkannya tidak tepat. Bagaimanapun, kita harus memahami dengan benar bentuk kesalahan dalam ucapan Petrus. Kesalahan ini bukan terletak pada keinginan Petrus untuk terus-menerus bersekutu dengan Yesus dalam kemuliaan-Nya. Kesalahan Petrus adalah dia tidak mengetahui bahwa kemuliaan itu harus dinikmati dengan cara turun dari gunung dan berjalan menuju Yerusalem (band. 16:21), bukan ”berada di sini” (di gunung).

            Sekarang Yesus sudah dimuliakan di surga, namun Dia sendiri telah berjanji akan hadir setiap kali orang percaya berkumpul dalam nama-Nya (Mat 18:20). Kehadiran ini pasti melibatkan kemuliaan-Nya. Apakah kita selama ini telah menunjukkan kerinduan yang dalam sama seperti Petrus bahwa kita ingin bersama dengan Yesus dalam kemuliaan-Nya selama mungkin?

Kita menghormati kemuliaan Yesus dengan cara menaati Dia

            Transfigurasi merupakan konfirmasi dari pihak Allah bahwa Yesus benar-benar adalah mesias yang menderita. Hal ini perlu dilakukan oleh Allah untuk memperjelas kesalahan murid-murid. Kalau di Matius 16:22-23 Yesus sudah menegur Petrus, sekarang Bapa juga langsung menegur Petrus. Bapa berkata dalam keagungan-Nya yang dinyatakan melalui awan yang terang, ”dengarkanlah Dia!” (Mat 17:5b). Suara inilah yang membuat murid-murid langsung bergetar. Ayat 6a ”mendengar itu tersungkurlah murid-murid…”. Mereka tersungkur terutama bukan karena awan yang terang; bukan karena pernyataan Bapa bahwa Yesus adalah Anak-Nya yang terkasih dan Dia perkenan (ayat 5a), karena waktu peristiwa baptisan pernyataan itu sudah diucapkan dan murid-murid tidak ada yang tersungkur. Mereka tersungkur karena Bapa menegur mereka. Sebelumnya mereka mencoba mengatur Yesus dan menghalangi perjalanan Yesus menuju salib (Mat 16:22-23). Dalam transfigurasi Bapa menegur mereka dengan sangat keras bahwa merekalah yang harus mendengarkan Yesus, bukan sebaliknya! Mereka harus menerima dan menaati apa yang Yesus sampaikan, bukan keinginan hati mereka sendiri!

            Kegentaran murid-murid dinyatakan secara jelas oleh penulis Alkitab. Mereka langsung tersungkur (ayat 6a, lit. ”menelungkupkan wajah ke tanah”). Mereka juga sangat ketakutan (ayat 6b, lit. ”takut dengan sangat”). Mereka terus-menerus berada dalam posisi seperti ini sampai-sampai Yesus merasa perlu untuk menyentuh dan menghibur mereka (ayat 7). Sentuhan ini jelas menyiratkan betapa mereka sangat ketakutan dan membutuhkan lebih dari sekedar perkataan penghiburan. Mereka juga tidak berani ”mengangkat wajah” (ayat 8a, lit. ”mengangkat mata”). Mereka benar-benar telah dibuat takluk oleh Allah. Semua kegentaran ini tentu tidak akan ada artinya kalau mereka tidak mendengarkan Yesus.

Leave a Reply