Yakub Tri Handoko, Th. M.

Pendahuluan

            Matius 10 mencatat tentang pengutusan murid-murid (10:1-10). Yesus sebelumnya sudah memberitahu beragam respon yang akan mereka terima selama pelayanan, termasuk kemungkinan untuk ditolak (10:14). Setelah itu Yesus banyak menjelaskan tentang penolakan dan penganiayaan yang akan mereka terima (10:15-42). Contoh konkrit tentang pemberita kerajaan Allah yang ditolak – bahkan dipenjara – adalah Yohanes Pembaptis (11:1-15, 18).

            Ternyata, Yesus sendiri pun mengalami penolakan (11:19). Ia bukan saja membicarakan, tetapi Ia sudah mengalami sendiri. Penolakan yang Dia terima bahkan lebih ironis. Di kota-kota yang Ia paling banyak mengadakan mujizat, di situ Ia justru ditolak (11:20). Betapa kerasnya penduduk di kota-kota itu digambarkan dengan dalam sebuah pengandaian: jika mujizat tersebut dilakukan di kota-kota lain yang menurut ukuran waktu itu sangat jahat, penduduknya mungkin akan bertobat (11:21, 23).

            Bagaimana Yesus meresponi semua penolakan ini? Selain memberikan kecaman terhadap orang-orang yang menolak Dia (11:20-24), Yesus juga berdoa (11:25-26). Sebagaimana murid-murid yang Ia utus memberi laporan tentang hasil pelayanan mereka, demikian pula Yesus “melaporkan” hasil pelayanan kepada Allah yang mengutus-Nya. Dalam doa ini kita dapat mempelajari bagaimana Yesus memandang penolakan yang Ia alami.

Yesus bersyukur kepada Allah (ayat 25a)

            Ayat 25 dimulai dengan kata “pada waktu itu” (en ekeinw tw kairw). Frase ini dalam Injil Matius merupakan penghubung antar perikop yang secara historis tidak terlalu berkaitan, tetapi secara topikal atau tematis sangat terkait. Hal ini sangat mudah dipahami karena tidak semua ucapan dan tindakan Yesus ditulis dalam Alkitab (bdk. Yoh 20:30-31; 21:25; Kis 20:35). Ketika seorang penulis memutuskan untuk mengambil beberapa peristiwa, maka peristiwa-peristiwa itu secara historis tidak selau berkaitan. Bagaimanapun, penulis pasti memiliki alasan yang kuat mengapa ia menggabungkan dua atau tiga peristiwa yang ada. Inilah yang disebut dengan keterkaitan secara topikal atau tematis.

            Sesuai konteks Matius 11, frase “pada waktu itu” di ayat 25 merujuk pada penolakan yang Yesus alami, baik di ayat 16-19 maupun ayat 20-24. Dalam cerita yang paralel di Lukas 10, doa Yesus (Luk 10:21) didahului dengan laporan keberhasilan pelayanan para murid (Luk 10:17-20). Kalau Lukas lebih menyoroti keberhasilan, Matius lebih tertarik dengan “kegagalan”. Jadi, doa Yesus di Matius 11:25-26 harus dilihat sebagai respon terhadap penolakan yang Ia alami sebelumnya.

            Setelah frase “pada waktu itu” Matius menuliskan “berkatalah Yesus”. Versi Inggris menerjemahkan bagian ini secara berbeda. Sebagian memilih “Yesus menjawab” (KJV/NASB), yang lain “Yesus berkata” (NIV) atau “Yesus mendeklarasikan” (RSV). Perbedaan ini dipicu oleh kalimat Yunani yang ada. Dalam teks Yunani, selain kata “berkata” (eipen) juga ada kata “menjawab” (apokriqeis). Dari sisi tata bahasa, apokriqeis pasti hanyalah pelengkap (participle) yang menjelaskan kata eipen, tetapi hubungan antara keduanya sulit ditentukan. Semua versi Inggris tampaknya menganggap bahwa dua kata tersebut hanya perlu diterjemahan ke dalam satu kata, entah “berkata”, “menjawab” atau “mendeklarasikan”. Anggapan ini dapat dibenarkan karena ucapan Yesus di ayat 25 memang tidak didahului oleh pertanyaan dari pihak lain. Di samping itu, penggunaan gaya bahasa Matius dalam kasus ini merupakan gaya bahasa semitisme. Participle apokriqeis bersifat pengulangan yang secara makna tidak diperlukan, tetapi itu merupakan kebiasaan orang Yahudi.

            Isi doa Yesus adalah “Aku bersyukur” (exomologoumai). Terjemahan “bersyukur” (KJV/RSV/LAI:TB) untuk kata dasar exomologew sebenarnya kurang tepat. Jika Matius memaksudkan “bersyukur”, maka ia mungkin akan memakai kata yang lebih umum, yaitu eucaristw. Dalam exomologew memiliki arti “mengakui” (bdk. Mat 3:6; Mar 1:5; Kis 19:18; Flp 2:11; Yak 5:16) atau “menyetujui” (Luk 22:6). Jika ditujukan pada Allah, kata ini bisa memiliki makna yang sama dengan “memuliakan” (Rom 14:11; 15:9). Tidak heran, beberapa versi memilih untuk menerjemahkan exomologew di Matius 11:25 dengan kata “memuji” (NIV/NASB). Pujian pada hakekatnya memang sebuah pengakuan terhadap kesempurnaan sifat dan hakekat Allah. Tanpa pengakuan, pujian kita hanyalah sekadar ejekan untuk Allah.

            Dalam teks ini Yesus mengajarkan bahwa respon yang benar terhadap penolakan atau “kegagalan” adalah “memuji Allah”. Terlepas dari apakah kita merasa nyaman atau tidak dengan apa yang menimpa kita, kita tetap harus memberi pujian kepada Allah. Matius 11:25b-26 akan menjelaskan mengapa dalam kegagalan kita Allah tetap harus dipuji.

Allah adalah Bapa (ayat 25a)

            Yesus memang sering menyebut Allah sebagai “Bapa”. Ia mengajarkan murid-murid-Nya untuk memakai sebutan yang sama (Mat 6:9), walaupun harus ditambahkan kata “kami” (karena relasi Bapa-Yesus berbeda dengan relasi kita dengan Bapa surgawi). Ketika Ia menghadapi pergumulan berat di Getsemani, Ia menyebut Allah sebagai “Bapa” (Mat 26:39, 42).

            Sebutan “Bapa” (pathr) memiliki beragam arti. Secara khusus dalam konteks Matius 11:25, sebutan ini menyiratkan makna kedekatan. Ayat 27 menggambarkan bagaimana kedekatan timbal-balik antara Bapa dan Yesus. Tidak ada yang mengenal Bapa selain Anak, begitu pula sebaliknya. Manusia bisa menikmati kedekatan tersebut dalam taraf tertentu, itu pun harus melalui perkenanan Anak. Kedekatan inilah yang membuat Yesus bisa berkata “Ya Bapa, itulah yang berkenan kepada-Mu” (ayat 26). Ia tahu apa yang menjadi kehendak Bapa-Nya.

            Ketika kita mengalami kegagalan atau penolakan, tidak ada yang lebih menghibur selain keyakinan kita bahwa Allah adalah Bapa yang dekat dengan kita. Melalui penebusan Kristus Yesus di kayu salib, relasi yang dekat dengan Bapa sudah terbuka (bdk. Mat 11:27 “orang yang kepadanya Anak itu berkenan menyatakannya”). Dia mengenal kehinaan, kegagalan dan keputusasaan kita. Mazmur 103:13-14 “Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia. Sebab Dia sendiri tahu apa kita, Dia ingat, bahwa kita ini debu”.

Allah adalah Tuhan langit dan bumi (ayat 25a)

            Yesus jarang memanggil Allah dengan sebutan “Tuhan langit dan bumi” (kyrios tou ouranou kai ths ghs). Yang ditekankan dalams ebutan ini adalah kedaulatan Allah. Seperti dalam Doa Bapa Kami (Mat 6:9) kita diajarkan tentang imanensi (“Bapa kami”) dan transendensi Allah (“yang ada di surga”), demikian pula dalam doa Yesus di sini kita melihat aspek imanensi (“Bapa”) dan transendensi Allah (“Tuhan langit dan bumi”).

            Ketika Yesus merasa ditolak oleh tiga kota yang cukup besar waktu itu, Ia mengarahkan mata-Nya pada Allah sebagai Pencipta langit dan bumi. Apalah artinya ditolak oleh tiga kota, kalau Pencipta seluruh bumi tetap menerima kita? Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh gereja mula-mula. Ketika mereka diancam oleh para pemimpin Yahudi (Kis 4:17-18, 21), mereka memohon pertolongan pada Tuhan langit dan bumi (Kis 4:24). Mereka mempercayai bahwa kedaulatan Allah jauh lebih besar daripada para pemimpin Yahudi. Yesus selanjutnya menjelaskan kedaulatan Allah di atas dinyatakan melalui dua hal.

Allah berhak menyatakan maupun menyembunyikan (ayat 25b)

Yang dimaksud “semuanya itu” di bagian ini bukan mujizat, tetapi makna di balik mujizat. Seandainya “semuanya itu” berarti mujizat, maka semua penduduk kota yang dikecam Yesus termasuk orang yang kepadanya Bapa menyatakan. Mujizat hanyalah tanda yang seharusnya menolong orang untuk menemukan makna di baliknya. Sayangnya, banyak orang hanya berhenti pada mujizat. Mereka hanya mencari mujizat atau bahkan menolak mujizat. Terhadap orang-orang seperti ini Yesus memberikan kecaman (Mat 11:20-24).

            Di sisi lain, sebagian orang bisa memahami makna mujizat. Apa yang menyebabkan perbedaan respon seperti ini? Kedaulatan Allah! Semua manusia berdosa (Mat 1:21) dan jahat (Mat 7:11) pasti akan menolak hal-hal yang rohani (1Kor 2:14). Tanpa Allah menyatakan diri-Nya secara khusus bagi sebagian orang, maka mereka semua tidak mungkin percaya kepada Kristus. Mereka yang datang kepada Yesus adalah mereka yang ditarik oleh Bapa (Yoh 6:44).

            Cara Allah memilih ternyata berbeda dengan dunia. Allah menyembunyikan diri terhadap orang bijak dan pandai (Mat 11:25b). Apa yang dimaksud dengan “orang bijak dan pandai”? Sebagian penafsir cenderung memahami ungkapan ini secara hurufiah sebagai rujukan pada orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang terpelajar dan pandai. Pendapat seperti ini tidak tepat. Yang dikecam Yesus adalah seluruh kota (Mat 11:20-24), bukan hanya para pemimpin rohani mereka. Lebih jauh, jika “orang pandai dan bijak” ditafsirkan secara hurufiah, maka ungkapan “orang kecil” (lit. “bayi”) seharusnya juga ditafsirkan secara hurufiah. Hal ini tentu saja tidak tepat. Baik “orang bijak dan pandai” maupun “bayi” sama-sama harus ditafsirkan secara figuratif. Yang pertama merujuk pada mereka yang merasa diri hebat menurut ukuran dunia dan menolak ajaran Allah (bdk. 1Kor 1:19-20), sedangkan yang kedua merujuk pada mereka yang direndahkan dunia (bdk. 1Kor 1:27-28).

Pilihan Allah atas mereka yang dipandang rendah oleh dunia menyiratkan pilihan-Nya yang berdaulat. Dia menyatakan diri kepada sebagian orang bukan karena mereka memiliki kebaikan dan kelebihan dibandingkan orang lain. Dia menyatakan diri berdasarkan kedaulatan-Nya sebagai Tuhan langit dan bumi. Dalam perspektif seperti ini, pelayanan Yesus sebenarnya tidak gagal. Sama seperti Yesaya diutus untuk mengeraskan hati bangsa Yehuda (Yes 6:9-12), demikian pula Yesus (Mat 13:14-15).

Segala sesuatu yang terjadi pasti berkenan kepada Bapa (ayat 26)

            Ayat ini dimulai dengan kata nai (“ya”) yang berfungsi untuk memberikan penekanan. Yesus meneguhkan sekali lagi apa yang sudah Dia akui sebelumnya di ayat 25. Dalam teks Yunani ada satu kata sambung yang tidak diterjemahkan dalam LAI:TB, yaitu hoti. Dalam semua versi Inggris kata diterjemahkan “karena”. Kata sambung ini berfungsi menjelaskan alasan mengapa Yesus memuji atau mengakui Allah sebagai Bapa dan Tuhan langit-bumi.

            Allah tetap harus dipuji karena segala sesuatu yang terjadi – sekalipun dari sisi manusia tampak sebagai sebuah kegagaan pelayanan – tetap berkenan di hadapan-Nya. Kata “berkenan” (eudokia) secara hurufiah berarti “kehendak yang baik” (NIV “good pleasure”). Dari kata yang dipakai terlihat bahwa penolakan yang dialami Yesus adalah kehendak Allah sendiri. Allah berkehendak untuk tetap menyembunyikan diri dari orang-orang yang merasa diri pandai atau bijak (ayat 25b). Tindakan ini harus dipahami dalam konteks orang-orang itu memang sudah berdosa dan tidak mungkin bisa menemukan Allah. Dosa merekalah yang membuat Allah tersembunyi bagi mereka. Bagaimanapun, jika Allah mau menyatakan diri dalam anugerah dan kedaulatan-Nya, mereka tetap akan dimampukan untuk menemukan Dia. Kenyataannya, Allah tidak mau melakukan itu. Mengapa? Kita tidak tahu. Itu adalah kehendak-Nya yang berdaulat.

            Doa Yesus di sini merupakan sebuah perpaduan yang indah antara prescriptive will (kehendak Allah yang dinyatakan) dengan decretive will (kehendak Allah yang menentukan sejak kekakalan). Ketika Yesus mengadakan banyak mujizat di Korazim, Betsaida dan Kapernaum jelas Ia menghendaki supaya mereka bertobat. Ketika mereka tidak bertobat, maka Ia pun mengecam ketidakpercayaan mereka. Di sisi lain, orang yang mengenal Bapa adalah orang yang kepadanya Bapa (ayat 25) maupun Anak (ayat 27) berkenan menyatakannya. Jika Bapa atau Anak tidak menyatakan, maka orang itu tetap akan ada dalam dosa dan ketidakpercayaan mereka.

            Dua kehendak tersebt bukanlah sebuah kontradiski atau schizoprenia (pribadi yang terpisah). Ilustrasi yang cukup baik untuk menjelaskan hal ini adalah seorang pasien yang merelakan dirinya diamputasi guna menyelamatkan nyawanya. Di satu sisi dia tidak menginginkan amputasi (dia sebenarnya ingin agar tubuhnya tetap utuh), tetapi di sisi lain ia menghendaki amputasi itu agar nyawanya tertolong. Jadi, amputasi ini di satu sisi adalah kehendaknya, tetapi di sisi lain bukan.

            Jika kita berpegang teguh pada konsep ini, maka kita akan mendapatkan penghiburan yang besar dalam “kegagalan” kita. Porsi kita adalah melayani dengan sebaik-baiknya. Jika orang lain tetap menolak kita, maka hal itu tetap berada dalam kontrol Allah yang berdaulat. Doa Yesus di Yohanes 17:12 merupakan penutup yang tepat untuk khotbah kali ini. Yohanes 17:12 “Selama Aku bersama mereka, Aku memelihara mereka dalam nama-Mu, yaitu nama-Mu yang telah Engkau berikan kepada-Ku; Aku telah menjaga mereka dan tidak ada seorangpun dari mereka yang binasa selain dari pada dia yang telah ditentukan untuk binasa, supaya genaplah yang tertulis dalam Kitab Suci”. Soli Deo Gloria.

Leave a Reply