Yakub Tri Handoko, Th. M.

Pendahuluan

                Kisah ini pasti tidak asing bagi sebagian besar orang Kristen. Alur ceritanya sendiri mudah untuk diikuti. Jika diamati dengan teliti maka kita akan menemukan bahwa fokus penulis tidak terletak pada mujizat yang dilakukan Yesus. Tindakan Yesus hanya diceritakan dalam satu ayat saja. Penulis lebih menyoroti respon orang-orang waktu itu dan bagaimana Yesus menanggapi semua respon tersebut.  Hal inilah yang membuat kisah ini unik dibandingkan kisah-kisah lain tentang pengusiran roh-roh jahat. Dari kisah ini kita bisa mempelajari hal-hal yang lebih mendasar daripada sekadar cara Yesus mengusir roh-roh jahat atau ciri-ciri orang yang sudah dibebaskan dari kuasa kegelapan.

                Alur cerita dalam kisah ini dapat dijelaskan sebagai berikut:

Ayat 22                 Yesus mengusir setan

Ayat 23                 Respon orang banyak

Ayat 24                 Respon orang-orang Farisi

Ayat 25-32           Tanggapan Yesus terhadap respon orang Farisi

Yesus mengusir setan (ayat 22)

                Terjemahan LAI:TB “kerasukan setan” di bagian ini sebenarnya agak kurang tepat. Kata daimonizomenos lebih baik diterjemahkan “kerasukan roh jahat”, karena kata daimonion memang selalu merujuk pada roh jahat. Di sisi lain, kata “setan” (Satanas) biasanya merujuk pada Iblis atau penghulu roh-roh jahat (Why 20:2). Berdasarkan konteks Matius 12:22-32 kita juga bisa melihat bahwa yang diusir Yesus bukanlah penghulu roh-roh jahat (Setan), tetapi roh jahat. Di ayat 24 orang-orang Farisi menuduh Yesus mengusir daimonion (lit. “roh-roh jahat”) dengan kuasa penghulu mereka (Setan atau Iblis).

                Dalam PB istilah “kerasukan roh jahat” (daimonizomenos) tidak selalu menunjukkan gejala-gejala yang ekstrim. Istilah ini memang bisa merujuk pada kondisi yang sangat parah sampai tidak normal lagi (Mat 8:28; 15:22), tetapi juga bisa pada situasi tertentu yang terkendali (Mat 4:24; 9:32). Matius 12:22 menyebutkan bahwa orang yang kerasukan roh jahat ini “dibawa” kepada Yesus. Dari keterangan ini terlihat bahwa orang ini tidak menunjukkan gejala yang tidak terkontrol. Ia masih dapat dikendalikan, bahkan ia mau dibawa kepada Yesus.

                Dalam terjemahan LAI:TB tidak terlalu jelas apakah kerasukan ini memiliki hubungan dengan penyakit yang diderita. Penerjemah LAI:TB memilih untuk memberi tanda titik setelah kata “kerasukan setan [roh jahat]”. Dalam teks Yunani kaitan antara kerasukan dan penyakit sangat kentara. Kerasukan inilah yang menyebabkan orang tersebut buta dan tuli. Keterkaitan ini merupakan hal yang cukup umum (Mat 9:32; Luk 13:11).

                Matius lalu menceritakan bahwa orang ini sudah sembuh dari dua jenis penyakitnya. Tidak ada keterangan tentang metode penyembuhan yang dilakukan Yesus (karena dalam kesembuhan  yang penting memang bukan metode tetapi kuasa ilahi). Juga tidak ada penjelasan tentang pengusiran roh jahat, apalagi manifestasi ekstrim dari pengusiran itu. Walaupun semua keterangan ini tidak ada, namun dari keseluruhan konteks dapat diketahui bahwa roh jahat dalam diri orang ini sudah diusir. Jika tidak demikian maka tuduhan orang Farisi di ayat 24 tidak memiliki relevansi sama sekali.

Respon orang banyak (ayat 23)

                Matius memberikan beberapa penekanan di ayat ini. Bentuk jamak “orang banyak” (hoi ochloi) diberi tambahan “semua” (pantes) merupakan karakteristik Matius untuk mempertegas sesuatu; dalam konteks ini Matius ingin menegaskan bahwa kekaguman yang terjadi tidak hanya dari sebagian orang, tetapi mereka semua. Kata “takjub” (existēmi) hanya muncul di Injil Matius dan secara hurufiah mengandung makna “meletakkan sesuatu di luar”. Maksudnya, semua yang terjadi berada di luar pemahaman maupun indera manusia. Ini merupakan hal yang luar biasa!

                Sebagai bentuk kekaguman di atas orang banyak mengungkapkan sebuah pertanyaan (dalam LAI:TB kalimat yang ada dipahami sebagai kalimat pernyataan, padahal seharusnya pertanyaan). Kata tanya “apakah” (mēti) yang dipakai di sini bisa menunjukkan keragu-raguan (mayoritas versi Inggris), keyakinan (LAI:TB “ia ini agaknya Anak Daud”) atau ketidakpercayaan (NASB “Orang ini bukan Anak Daud kan?”). Karena bagian selanjutnya tidak menginformasikan respon lain dari orang banyak, maka kita mengalami kesulitan untuk menentukan apakah pertanyaan mereka menunjukkan keraguan, keyakinan atau ketidakpercayaan. Jika respon negatif yang dilontarkan orang-orang Farisi di ayat 24 dipahami sebagai reaksi/sanggahan terhadap opini publik, maka pertanyaan di ayat 23 tampaknya mengarah pada keyakinan.

                Tindakan orang banyak menghubungkan pengusiran roh jahat dan penyembuhan dengan sebutan “Anak Daud” di ayat ini merupakan hal yang sangat bisa dipahami menurut konteks waktu itu. Semua orang Yahudi mengharapkan Mesias (dikenal juga dengan sebutan “Anak Daud”) yang mampu mengadakan mujizat (11:4-5). Di samping itu, Yesus di bagian percakapan nanti (ayat 25-32) memang menyinggung tentang kerajaan – kerajaan Iblis (ayat 25-26) dan kerajaan Allah (ayat 28) – sehingga wajar jika Yesus ditampilkan sebagai keturunan Daud yang akan mewarisi tahta. Dengan demikian Yesus dalam peristiwa ini sekaligus ingin mengajarkan bahwa musuh utama yang Dia hadapi adalah Iblis dan semua pengikutnya, bukan penguasa kerajaan Romawi.

Respon orang-orang Farisi (ayat 24)

                Berbeda dengan orang banyak yang masih menyisakan keraguan terhadap Yesus (ayat 23), orang-orang Farisi memiliki sikap yang lebih pasti dan tegas. Menurut mereka, Yesus pasti mengusir roh jahat dengan kuasa penghulu roh-roh jahat (ayat 24). Sikap ini bukan hanya kali ini ditunjukkan oleh orang-orang Farisi, tetapi ini sudah menjadi asumsi dasar mereka. Di tempat lain Yesus sebelumnya pernah dituduhkan hal yang sama (9:34). Yesus sendiri menyadari hal ini (10:25), karena itu Ia menasehati murid-murid agar kuat menghadapi fitnahan. Tuduhan serupa bahkan masih dapat ditemukan dalam tulisan para rabi abad ke-3.

                Para teolog sampai sekarang belum mencapai kesepakatan tentang sejarah perkembangan penyebutan “Beelzebul” untuk penghulu roh-roh jahat. Nama ini mungkin merupakan upaya orang-orang Yahudi untuk menyamakan dewa Filistin “Baal-zebub” (2Raj 1:2, 3, 6, 16), dewa Kanaan “Beelzebul” atau Zeus (yang oleh orang Yahudi disebut “Baalsemayin”) dengan Iblis. Mana yang benar dari semua dugaan ini sulit untuk dipastikan. Yang jelas dewa ini pasti dianggap sebagai pemimpin para dewa, karena itu disejajarkan dengan Iblis sebagai penghulu roh-roh jahat.

                Mengapa orang-orang Farisi sampai memberi tuduhan yang sangat ekstrim seperti ini? Pembahasan di bagian selanjutnya mengungkapkan bahwa mereka sebenarnya tidak memiliki alasan apapun yang masuk akal. Penolakan mereka terhadap Yesus adalah masalah hati, bukan logika. Apa yang mereka katakan berasal dari hati yang jahat (12:34-35). Mereka pada dasarnya memang sengaja menolak Yesus. Ketika Yesus mengusir roh jahat, maka peristiwa supranatural ini hanya bisa dijelaskan secara supranatural juga, entah Yesus memakai kuasa Allah atau kuasa penghulu roh jahat. Karena mereka tidak mau menerima Yesus sebagai utusan Allah maka mereka terpaksa (dengan senang hati) mengambil alternatif yang tersisa: Yesus mengusir roh jahat dengan kuasa penghulu roh jahat.

Tanggapan Yesus terhadap respon orang-orang Farisi (ayat 25-32)

                Sanggahan Yesus dalam bagian ini terdiri dari tiga bagian. Pertama-tama Ia mengemukakan argumen rasional untuk menunjukkan bahwa respon tersebut tidak masuk akal (ayat 25-27). Berikutnya Ia memberikan argumen teologis sekaligus menjelaskan makna dari pengusiran roh jahat yang Ia lakukan (ayat 28-39). Di bagian terakhir Ia menarik konsekuensi dari semua yang ada (ayat 30-32).

Argumen rasional (ayat 25-27)

                Dalam bagian ini Yesus tidak langsung menyinggung tentang pokok permasalahan yang ada. Sebaliknya Ia menggunakan ilsutrasi secara umum yang berkaitan dengan kerajaan, kota atau rumah tangga (ayat 25). Perpecahan akan mendatangkan kekalahan. Kata “binasa” (erēmoō) di ayat ini memiliki arti “menjadi padang tandus”, dengan demikian menyiratkan kekalahan dan kehancuran yang sangat telak. Perpecahan membuat suatu komunitas tidak dapat bertahan. “Pengetahuan umum” ini pasti dipahami semua orang, termasuk orang-orang Farisi dan Iblis sendiri.

                Hal yang sama berlaku dalam kerajaan Iblis (ayat 26). Iblis memiliki kuasa di dunia ini (bdk. 4:8-9; Why 2:13; Yoh 12:31). Jika Iblis mengusir roh jahat dalam diri seseorang, maka ia dengan sendirinya mengurangi daerah kekuasaannya. Argumen Yesus di sini sekilas tampak kurang meyakinkan apabila kita kaitkan dengan fakta bahwa Iblis adalah penipu yang pintar. Ia bisa saja pura-pura melepaskan seseorang padahal ia sedang mengganti roh jahat itu dengan roh yang lebih jahat lagi. Bukankah dukun pun bisa menangani orang yang kerasukan? Bukankah ini sebagai bukti bahwa setan bisa mengusir setan?

                Untuk melihat kekuatan argumen Yesus, kita perlu menyadari bahwa hasil yang dimunculkan adalah petunjuk pada status Yesus sebagai Mesias (ayat 24). Iblis tentu saja tidak bodoh. Ia tidak akan mau melakukan suatu tipuan yang pada akhirnya justru menguntungkan Yesus. Di samping itu, tindakan Yesus mengusir roh jahat merupakan tindakan yang terus-menerus dilakukan (4:23-24). Hal ini berarti bahwa Dia selalu berada dalam peperangan dengan Iblis. Apakah mungkin Iblis mau terus-menerus “membantu” Yesus dengan cara mengusir para pengikutnya dari dalam diri banyak orang sehingga orang-orang ini akhirnya mengikut Yesus? Iblis tampaknya tidak sebodoh itu.

                Argumen rasional yang lain adalah tentang pengusiran roh jahat yang dilakukan para pengikut Farisi (ayat 27). Beberapa catatan kuno menunjukkan bahwa pengusiran roh jahat juga dilakukan di kalangan orang Yahudi. Baik sejarahwan Yosefus (Ant. 8.45-49), penulis apokrifa (Tob 6:16-17; 8:1-3) maupun Lukas (Kis 19:13) mengisahkan praktik seperti ini. Pertanyaan Yesus di ayat ini bagaikan buah simalakama bagi orang-orang Farisi. Mereka tidak akan mau mengakui bahwa para pengikut mereka mengusir roh jahat dengan kuasa Iblis. Mereka tahu pasti bahwa pengusiran tersebut dilakukan dalam kuasa Allah. Jika demikian, mengapa mereka menuduhkan hal yangs ebaliknya untuk Yesus? Bukankah Yesus dan para pengikut mereka memiliki musuh yang sama dan kitab suci yang sama? Mengapa orang-orang Farisi memberi penilaian yang berbeda terhadap Yesus padahal hidup Yesus jauh lebih sesuai kitab suci daripada mereka (bdk. 12:33-35)?

Argumen teologis (ayat 28-29)

                Berdasarkan struktur kalimat Yunani yang dipakai di ayat 28 kita bisa melihat beberapa penekanan. Frase “dengan kuasa Roh Allah” (LAI:TB, dalam teks Yunani sebenarnya tidak ada kata “kuasa”) diletakkan di bagian terdepan. Penekanan ini sangat diperlukan karena Yesus dituduh menggunakan kuasa Iblis. Kata “Aku” (egō) juga diberi penekanan. Jika para pengikut Farisi saja mengusir roh jahat dengan kuasa Allah, apalagi Yesus!

                Bagian selanjutnya dari ayat 28 mengajarkan bahwa Roh Allah bukan hanya sarana mengusir roh jahat, tetapi simbol dari kedatangan Kerajaan Allah. Kerajaan Allah bukan hanya sudah dekat – seperti yang sebelumnya diberitakan Yohanes Pembaptis (3:2), Yesus (4:17) maupun murid-murid-Nya (10:7) – namun sudah datang (phthanō). Kata “datang” di sini menyiratkan sesuatu yang sudah tiba pada tempat yang seharusnya. Kedatangan ini menyiratkan konfrontasi dan penghukuman (Leon Morris). Kalau dahulu Iblis bisa menjadi penguasa tunggal di dunia, kini kerajaannya memiliki tandingan serius. Kerajaan Allah sudah datang melalui pelayanan Yesus dan terus-menerus melancarkan serangan terhadap kerajaan Iblis. Dalam Alkitab memang berkali-kali ditegaskan bahwa era yang baru telah tiba melalui kedatangan Kristus (Ibr 1:1-2; 9:26) maupun Roh Kudus (Kis 2:15-17). Era ini menandai ditahbiskannya kerajaan Allah di muka bumi.

                Kemenangan awal kerajaan Allah atas kerajaan Iblis diungkapkan dalam bentuk metafora pengikatan orang kuat (ayat 29). Yang dimaksud dengan “orang kuat” yang memiliki rumah ini pasti adalah Iblis, karena ia sebelumnya ditampilkan sebagai pemilik kerajaan maupun rumah tangga (ayat 25). Gambaran tentang perampasan jarahan atau tawanan dari orang kuat dalam ayat ini diambil dari nubuat Yesaya (Yes 49:24-25). Melalui kedatangan Yesus Iblis sudah diikat (Why 20:2) dan dijatuhkan dari kekuasaannya yang tinggi (Luk 10:18), sehingga para tawanan bisa dengan leluasa dibebaskan.

                Gambaran di atas sekaligus mengajarkan sesuatu yang fundamental dalam pelayanan pengusiran roh jahat yang dilakukan Yesus. Roh jahat yang diusir dari dalam diri seseorang hanyalah bukti kecil dari sebuah kekalahan yang besar. Hal itu menandakan bahwa Iblis secara hukum telah dikalahkan (Yoh 12:31; 14:30; 16:11; 2Kor 4:4). Kalau sampai sekarang orang-orang Kristen mampu mengusir roh-roh jahat, itu bukan karena mereka hebat, rohani atau banyak berdoa, tetapi lebih didasarkan pada kepastian secara hukum bahwa Iblis sudah dikalahkan melalui pelayanan Yesus di dunia, terutama kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya ke surga (Mat 22:44; 28:18; 1Pet 3:22).

Konsekuensi (ayat 30-32)

                Semua yang sudah disampaikan Yesus di ayat 25-29 membawa konsekuensi yang tidak remeh. Pertama, tidak ada tempat netral di dunia ini (ayat 30). Karena kerajaan Allah dan kerajaan Iblis selalu berada di dalam peperangan, maka setiap orang pasti mengambil salah satu posisi. Jika ia tidak bersama dengan Yesus berarti ia melawan Dia. Sama seperti seorang gembala yang tidak mau mengumpulkan domba-domba berarti ia sedang mencerai-beraikannya, demikian pua orang yang tidak mau turut menjarah barang rampasan Iblis berarti mengumpulkan untuk Iblis.

                Kerajaan Allah harus terus berkembang, sebagaimana biji sesawi menjadi pohon yang besar (13:31-32) dan ragi mengkhamiri seluruh adonan (13:33). Orang Kristen harus berperan secara aktif. Kita bisa mendoakan setiap hari agar kerajaan Allah datang di muka bumi sehingga kehendak Allah dapat ditaati secara sempurna, baik di bumi maupun di sorga (6:9-10). Kita juga harus memuridkan semua bangsa (28:19-20a) dengan jaminan otoritas Yesus Kristus (28:18) dan janji penyertaan-Nya (28:20b).

                Konsekuensi yang lain adalah keseriusan dosa yang dilakukan oleh oleh orang-orang Farisi. Mereka bukan hanya berdosa terhadap Anak Manusia, tetapi juga menghujat Roh Kudus (ayat 31-32). Dosa ini tidak akan terampuni, kini maupun kelak. Dari konteks yang ada kita bisa memahami mengapa dosa orang-orang Farisi dalam konteks ini dikategorikan sebagai penghujatan Roh Kudus. Dosa mereka bukan terletak pada ketidaktahuan. Mereka bahkan sangat tahu. Dosa mereka terletak pada sikap hati yang jahat (ayat 33-35). Secara logika maupun teologis mereka sudah tahu apa yang dikerjakan Roh Allah dalam diri Yesus (ayat 25-29). Mereka hanya mengeraskan hati sehingga pekerjaan Roh Kudus pun dianggap sebagai pekerjaan Iblis. Mereka bahkan terus-menerus memegang sikap seperti ini (9:34; 10:25). Dengan demikian sangat bisa dipahami mengapa mereka tidak akan mendapat pengampunan.

Leave a Reply