Yakub Tri Handoko

Pendahuluan

                Bagian ini sangat berkaitan dengan perikop sebelumnya, terutama 11:16-19. Orang-orang Yahudi tidak mau menerima berita ilahi yang benar, baik melalui Yohanes Pembaptis maupun Yesus. Mereka selalu memiliki alasan yang dicari-cari untuk menolak dua utusan Allah ini.

                Di antara semua orang Yahudi yang menolak Dia, Yesus di 11:20-24 secara khusus menyoroti penduduk beberapa kota. Pembatasan ini tidak berarti bahwa penolakan di kota lain dimaklumi oleh Yesus. Yesus sengaja membatasi pada tiga kota – Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum – karena kota-kota ini telah menerima pelayanan khusus dari Yesus. Kota-kota ini telah menyaksikan begitu banyak mujizat yang dilakukan Yesus di tengah-tengah mereka.

                Struktur 11:20-24 sangat sistematis, sehingga mudah untuk ditemukan. Ayat 20 merupakan pengantar dan alasan mengapa Yesus mengecam tiga kota ini. Ayat 21-22 berisi kecaman terhadap Khorazim dan Betsaida, sedangkan ayat 23-24 ditujukan pada Kapernaum. Masing-masing kecaman mengandung tiga bagian: isi kecaman, penjelasan dan perbandingan dengan kota-kota kafir.

Pengantar dan alasan bagi kecaman (ayat 20)

                Kata “mengecam” (oneidizō) dapat dipakai untuk celaan yang tidak didasarkan pada fakta (Mat 5:11; 27:44; Mar 15:32; Luk 6:22; Rom 15:13; 1Yoh 4:14) atau teguran yang didasarkan pada fakta (Mar 16:14; Yak 1:5). Sesuai konteks Matius 11:20-24 kata ini secara jelas merujuk pada makna yang terakhir. Penduduk kota Khorazim, Betsaida, dan Kapernaum dikecam karena mereka tidak mau bertobat, sekalipun di tempat itu Yesus paling banyak melakukan mujizat-Nya. Frase hai pleistai dynameis autou (lit. “mujizat-mujizat-Nya yang sangat banyak”) dengan tepat dipahami sebagai superlatif dalam berbagai versi, sehingga frase ini diterjemahkan “mujizat-mujizat yang paling banyak”).

                Keterangan di atas sekilas agak membingungkan, karena Alkitab tidak mencatat banyak mujizat yang dilakukan Yesus di tiga kota ini. Alkitab bahkan tidak mencatat satu mujizat pun yang dilakukan Yesus di Khorazim, sedangkan di Betsaida hanya disebutkan dua mujizat saja. Hal ini menunjukkan bahwa tidak semua mujizat Yesus dicatat di dalam Alkitab (Yoh 20:30; 21:25).

Matius sebelumnya sudah mencatat beberapa kali bahwa pemberitaan Kerajaan Allah yang dilakukan Yesus disertai dengan berbagai perbuatan ajaib (4:23; 9:35; 10:7). Ini memberi petunjuk yang jelas bahwa berita kedatangan Kerajaan Allah (4:17) yang disertai mujizat menuntut respon dari orang-orang yang mendengar atau melihat. Berita ini disertai dengan ajakan untuk bertobat. Semakin banyak berita yang didengar atau mujizat yang dilihat, maka tuntutan kepada mereka juga semakin besar. Sama seperti yang terkecil dalam Kerajaan Surga (jaman keselamatan yang baru di dalam Yesus) lebih besar kebahagiaannya daripada Yohanes Pembaptis dan semua orang di masa dahulu (11:11), demikian pula mereka yang tidak berada dalam Kerajaan Allah akan mengalami penderitaan yang lebih besar daripada orang-orang di masa lampau.

Dari ayat 20 ini kita dapat mengetahui bahwa mujizat bukan sekadar demonstrasi kuasa Allah. Tanpa melakukan mujizat satu pun Allah tetap berkuasa penuh. Justru ketika Ia selalu membuat mujizat sesuai tuntutan manusia, maka Ia kehilangan kuasa-Nya. Mujizat harus dipahami sebagai tanda dari Allah. Ketika Yesus melakukan berbagai macam mujizat, orang-orang Yahudi seharusnya memahami bahwa Yesus adalah benar-benar Mesias yang dijanjikan. Inilah jawaban yang diberikan Yesus kepada para utusan Yohanes Pembaptis yang menanyakan apakah Ia benar-benar Mesias (11:3-5). Sama seperti jawaban Yesus kepada Yohanes yang disertai nasehat untuk tidak menolak Dia, demikian pula setiap orang yang melihat mujizat harus mengambil respon tertentu dengan konsekuensi tertentu pula yang sesuai dengan jenis respon yang diberikan. Mereka yang dikecam Yesus adalah yang tidak mau bertobat. Mereka mungkin tidak menganiaya atau menentang Yesus secara langsung, tetapi dalam hal ini berlaku prinsip “siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku” (12:30).

Kecaman kepada Khorazim dan Betsaida (ayat 21-22)

                Yesus memulai bagian ini dengan seruan “celakalah” (ouai). Arti dasar dari kata ini merujuk pada penderitaan atau kesakitan yang besar (Louw-Nida). Pemakaian di dalam Alkitab menunjukkan bahwa kata ini bisa mengandung makna “kasihan” (24:19; Luk 21:23) atau “kecaman” (23:13, 15, 16, 23, 25, 27, 29; 26:24). Sebagian besar versi Inggris memilih arti yang terakhir (“woe”), tetapi beberapa cenderung pada yang pertama (JB “alas”; GNB “how terrible it will be”). Para penafsir berpendapat bahwa dua makna ini muncul bersamaan dalam diri Yesus: di satu sisi Ia marah, tetapi di sisi lain Ia merasa kasihan.

Kota Khorazim hanya disebutkan dua kali dalam PB, yaitu di ayat 21 dan bagian paralelnya di Lukas 10:13. Di luar Alkitab, kota ini sempat disinggung di tulisan para rabi (Menah 85a). Para teolog umumnya meyakini bahwa Khorazim identik dengan Kirbet Kiraze yang terletak di daerah utara Laut Galilea. Jika dugaan ini tepat, maka kota inilah yang dulu dikenal karena gandumnya. Kota ini termasuk kota yang cukup makmur.

Kota Betsaida muncul beberapa kali dalam Alkitab. Berdasarkan pemunculan ini dapat diketahui bahwa kota ini terletak di seberang Laut Galilea (Mar 6:45 “…naik ke perahu dan berangkat dahulu ke seberang, ke Betsaida”). Mengingat letaknya di dekat laut, tidak heran nama kota ini memiliki arti “rumah pemancingan” (house of fishing). Beberapa murid Yesus berasal dari kota ini, misalnya Andreas, Petrus dan Filipus (Yoh 1:44, 12:21). Walaupun mujizat Yesus yang paling banyak diadakan di kota ini, tetapi Alkitab sendiri secara eksplisit hanya menyebut dua mujizat yang terjadi di tempat ini: menyembuhkan orang buta (Mar 8:22-26) & memberi makan 5000 orang (Luk 9:10-17). Hal seperti ini sekali lagi meyakinkan kita bahwa memang tidak semua mujizat Yesus ditulis dalam Alkitab (Yoh 20:30; 21:25).

Yesus selanjutnya membandingkan ketegaran hati penduduk dua kota dengan dua kota kafir, yaitu Tirus dan Sidon (ayat 21b). Dua daerah ini juga ada pada jaman Yesus (15:21; Mar 3:8; Luk 6:17), tetapi yang dimaksud Yesus dalam kecamannya bukan Tirus dan Sidon ini. Dalam kitab para nabi Tirus dan Sidon sudah menjadi langganan untuk dikecam (Yes 23; Yeh 26; Yoel 3:4; Am 1:9-10; Zak 9:2-4). Dalam tradisi Yahudi dua kota ini merupakan representasi bagi kota-kota kafir yang paling jahat.

Dari penjelasan Yesus di bagian ini terlihat jelas bahwa ketegaran hati penduduk Khorazim dan Betsaida jauh lebih buruk daripada Tirus dan Sidon. Yesus mengandaikan bahwa jika semua mujizat di Khorazim dan Betsaida dilakukan dulu di Tirus dan Sidon, maka mereka pasti sudah bertobat dan berkabung. Secara hurufiah dikatakan “sudah lama mereka bertobat dalam kain kabung dan abu” (KJV/RSV/NASB/NIV/ESV). Pertobatan dan perkabungan bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya tidak terpisahkan. Setiap pertobatan pasti melibatkan aspek perkabungan (penyesalan dan kesediahan karena dosa-dosa yang menyakiti hati Tuhan). Kata “kain kabung” (sakkos, LAI:TB tidak menerjemahkan kata ini) merujuk pada pakaian yang dibuat dari kain karung (Inggris “sackcloth”) dan biasanya berwarna hitam (Why 6:12), sehingga cocok untuk dikenakan pada saat perkabungan, karena menyimbolkan kesederhanaan dan ketidakberdayaan (bdk. 1Raj 20:31-32). Kata “abu” (spodos, LAI:TB tidak menerjemahkan kata ini) memang biasa dikaitkan dengan kain karung atau suasana perkabungan. Orang-orang Yahudi kadangkala meletakkan abu di atas kepala (2Sam 13:19), duduk di atas abu (Yun 3:6; bdk. Luk 10:13), tidur di atas abu (Est 4:3) atau berguling-guling di atas abu (Yer 6:26).

Pengandaian yang diucapkan Yesus di ayat ini sekilas berkontradiksi dengan doktrin penetapan Allah sejak kekekalan atas segala sesuatu. Hal yang mirip dengan ini juga dapat kita baca di bagian lain Alkitab. Ketika Daud mempertimbangkan untuk pergi ke Kehila, ia bertanya kepada Tuhan apakah Saul akan mengejar dia sampai ke sana dan apakah penduduk kota Kehila akan menyerahkan dia ke dalam tangan Saul. Tuhan memberitahu Daud bahwa Saul akan ke sana dan orang-orang Kehila pun akan mendukung Saul, karena itu Daud tidak jadi pergi ke Kehila (1Sam 23:11-13). Contoh lain adalah Elisa dan Raja Yoas. Ketika Yoas hanya memukulkan anak panah ke tanah sebanyak 3 kali, Elisa marah dan memberitahu Yoas bahwa seandainya ia memukul lebih banyak lagi maka kemenangan atas musuhnya juga akan semakin telak (2Raj 13:19).

Apakah tiga contoh di atas bertentangan dengan doktrin penetapan sejak kekekalan? Tidak. Allah mengetahui semua realita dan kemungkinan yang akhirnya tidak terjadi. Selain itu, kita tidak boleh membayangkan bahwa cara Allah merealisasikan ketetapan-Nya adalah dengan meniadakan kehendak bebas manusia. Manusia tetap memikirkan apa yang ia akan katakan atau lakukan, tetapi apapun hasil akhir dari hal itu tetap sesuai dengan kehendak Allah (Ams 16:1, 9). Pedoman hidup kita bukanlah ketetapan kekal Allah, tetapi ketetapan-Nya yang dinyatakan kepada kita melalui firman Tuhan. Dengan mempertimbangkan semua hal ini kita akan terhindari dari sikap hidup yang fatalis.

Di awal ayat 22 Yesus sedikit mengubah target pembicaraan. Kata “kamu” di ayat ini berbentuk jamak, tidak seperti kata “engkau” di ayat 21 yang tunggal. Sayangnya, perbedaan ini tidak tampak dalam berbagai versi Inggris dan LAI:TB. Perubahan ini menunjukkan bahwa Yesus sedang menujukan ayat 22 kepada para pendengar-Nya. Kecaman yang ditujukan pada Kota Khorazim dan Betsaida, sekarang diaplikasikan pada semua pendengar.

Ucapan Yesus bahwa tanggungan Tirus dan Sidon di penghakiman akan lebih ringan merupakan pernyataan yang sangat keras bagi orang-orang Yahudi. Mereka selama ini yakin bahwa sebagai umat perjanjian Allah akan memperlakukan mereka secara khusus pada saat penghakiman. Penghakiman atas mereka tidak mungkin sama dengan orang-orang kafir. Di sini Yesus malah menegaskan bahwa mereka akan dihakimi lebih berat daripada bangsa kafir.

Perbedaan hukuman merupakan ajaran yang konsisten dalam Alkitab. Pertimbangan didasarkan pada tingkat kesengajaan (Kel 21:12-14), keseriusan akibat yang ditimbulkan (Kel 21:22-23), tingkat pengetahuan pelaku terhadap kebenaran (Yak 3:1). Alasan terakhir inilah yang relevan dengan konteks Matius 11:20-24. Penduduk Khorazim dan Betsaida sudah melihat begitu banyak mujizat, namun tetap tidak bertobat. Kepada mereka berlaku ucapan Yesus di Lukas 12:47-48 “Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan.  Tetapi barangsiapa tidak tahu akan kehendak tuannya dan melakukan apa yang harus mendatangkan pukulan, ia akan menerima sedikit pukulan. Setiap orang yang kepadanya banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut, dan kepada siapa yang banyak dipercayakan, dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut”.

Kecaman kepada Kapernaum (ayat 23-24)

                Kota Kapernaum adalah salah satu yang terkenal. Kota ini adalah tempat Yesus tinggal setelah dewasa (4:13; 9:1). Alkitab juga mencatat beragam mujizat yang dilakukan di kota ini (8:5-17; 9:2-8, 18:33; Mar 1:23-28; Yoh 4:46-54). Dari cara Yesus menyendirikan kota ini dalam kecaman-Nya (tidak seperti Khorazim yang digabung dengan Betsaida) menyiratkan bahwa kota ini memang sangat spesial. Perbandingan dengan Sodom semakin mempertegas bahwa Kapernaum lebih buruk daripada dua kota sebelumnya. Keseriusan kejahatan Kapernaum mungkin dikaitkan dengan fakta bahwa di kota ini Yesus paling banyak mengadakan mujizat dibandingkan kota-kota lain.

                Kepada Kapernaum Yesus tidak mengucapkan “celakalah” (ouai). Sebagai gantinya Ia menggunakan sebuah pertanyaan retorik (KJV memakai bentuk pernyataan “which art exalted unto heaven”, karena didasarkan pada salinan yang kurang bisa dipercaya). Pertanyaan ini merupakan kecaman yang lebih mendalam daripada sekadar seruan ouai. Pertanyaan ini sekaligus menyiratkan keyakinan diri penduduk Kapernamum yang terlalu tinggi. Mereka yakin bahwa langit adalah tujuan hidup mereka, namun kenyataan mereka justru akan sampai ke dunia orang mati.

                Apa yang diucapkan Yesus di sini mengingatkan kita pada kecaman yang sama kepada Raja Babel yang sombong di Yesaya 14:14-15. Ia ingin mengatasi segala langit tetapi justru diturunkan ke dalam dunia orang mati. Dalam hal ini frase yang dipakai pun sama, yaitu eis hadou katabēsē (“engkau akan diturunkan sampai ke dunia orang mati”, LXX Yes 14:15; Mat 11:23). Melalui pengutipan ini Yesus secara implisit hendak menyamakan kesombongan Kapernamum dengan Babel.

                Kata Yunani yang dipakai untuk “dunia orang mati” di ayat ini adalah hadēs. Kata ini bisa merujuk pada dunia orang mati secara umum (Kis 2:23, 31) atau tempat hukuman kekal bagi yang tidak bertobat (Luk 16:23). Arti mana yang benar harus ditentukan berdasarkan konteks. Beberapa versi tetap mempertahankan kata “hades” (NASB/RSV/NRSV/ESV), sedangkan yang lain memberi terjemahan yang tidak terlalu tegas (NIV “the depths”). Terjemahan KJV “hell” dalam hal ini tampaknya lebih tepat, karena ketidakpercayaan penduduk Kapernamum kepada Yesus dan rujukan tentang penghakiman terakhir memberi dukungan untuk memahami hadēs di sini sebagai tempat hukuman kekal, bukan sekadar tempat orang mati.

                Kontras antara “langit dan hadēs“ dalam Alkitab kadangkala dipakai secara metaforis sebagai ungkapan untuk menggambarkan kemuliaan dan kehinaan (Ay 11:8; Mzm 139:8; Amos 9:2; Rom 10:6-7). Apakah Yesus di Matius 11:23 hanya memaksudkan kontras ini sebagai ungkapan belaka? Konteks Matius 11:20-24 secara keseluruhan menentang hal ini. Mereka yang menolak Yesus bukan hanya akan direndahkan atau menerima hidup yang hina. Mereka akan menerima hukuman kekal.

                Untuk menekankan hukuman ini, Matius sengaja meletakkan kata hadēs di depan kata “diturunkan” (jawaban Yesus secara hurufiah dapat diterjemahkan “sampai ke hadēs engkau akan diturunkan!”). Peletakan ini dimaksudkan untuk mempertegas kontras antara keyakinan penduduk Kapernaum bahwa mereka akan ke langit dengan nasib kekal mereka yang menuju tempat hukuman. Para pembaca yang mengerti Bahasa Yunani pasti tidak akan gagal menangkap nuansa ironis yang dimunculkan melalui penekanan ini.

                Betapa jahatnya Kapernamum semakin jelas terlihat ketika Yesus membandingkannya dengan Sodom. Baik di PL (Yeh 16:48) maupun PB (Mat 10:15; Rom 9:29; 2Pet 2:6; Yud 7) Kota Sodom selalu menjadi simbol kefasikan yang sempurna. Ketenaran (kecemaran) ini bahkan jauh melebihi Tirus dan Sidon. Jika Kapernaum lebih jahat daripada Khorazim dan Betsaida, demikian pula Sodom melebihi Tirus dan Sidon.

                Yesus mengandaikan bahwa seandainya mujizat-mujizat-Nya dilakukan di Sodom, maka kota itu masih akan berdiri sampai hari ini. Bangsa Yahudi atau orang lain yang akrab dengan PL pasti tidak akan lupa dengan kedasyatan hukuman yang dilakukan Allah atas Sodom (Kej 19). Seluruh bagian kota musnah oleh belerang. Jika kehancuran fisik ini saja sudah sedemikian mengerikan, apalagi kehancuran rohani yang dihadapi mereka. Lebih-lebih lagi, hukuman kekal yang menanti penduduk Kapernaum! Kalau orang-orang Sodom yang menolak malaikat sebagai utusan Allah tetapi tanpa disertai mujizat dibinasakan dengan cara yang begitu mengerikan, apalagi orang-orang Kapernamum yang menolak Anak Allah sekalipun disertai dengan begitu banyaknya mujizat.

                Di ayat 24 Yesus kembali menggunakan kata ganti orang ke-2 jaman sebagai rujukan pada para pendengar-Nya. Ia ingin mengingatkan mereka bahwa prinsip yang sama bisa saja berlaku atas mereka. Mereka sudah berkali-kali mendengar ajaran Yesus secara langsung dan menikmati mujizat-mujizat-Nya; jika mereka pada akhirnya menolak Yesus, maka mereka akan dihakimi secara lebih berat.

Penutup

                Matius 11:20-24 memberi pencerahan tentang beberapa hal yang penting. (1) Yesus berkali-kali mengalami penolakan, bukan hanya dari individu-individu tertentu, tetapi juga mayoritas orang di suatu kota. Jika keberhasilan pelayanan diukur dengan hasil pertobatan, maka pelayanan Yesus bisa dikategorikan “gagal”. Bagaimanapun, dari sisi rencana Allah, pelayanan Yesus tidak gagal (bdk. Mat 11:25-27); (2) hukuman kekal untuk orang-orang di suku-suku terbaikan yang belum mendengar injil adalah tetap adil. Siapa saja yang tidak percaya kepada Yesus akan binasa, tetapi mereka yang belum mendengar injil akan mendapat hukuman lebih ringan; (3) orang-orang Kristen KTP (Kristen Tanpa Pertobatan) merupakan orang yang paling celaka. Lebih celaka lagi, para hamba Tuhan yang tidak mengalami pertobatan sejati. Bertobatlah! Soli Deo Gloria.

Leave a Reply