NAMA ALLAH (Bagian-1)

Yakub Tri Handoko, Th.M.

 

Jika kita memperhatikan penyebutan Allah di kitab Kejadian secara seksama, kita akan melihat perbedaan yang kentara. Di dalam pasal 1 nama Allah muncul dalam bentuk Elohim (LAI:TB menerjemahkan “Allah”), pasal 2-3 memakai Yahweh Elohim (TUHAN Allah), sedangkan mulai pasal 4 sebutan Yahweh (TUHAN) lebih umum ditemui. Dilihat dari persebaran penggunaannya, penyebutan “Yahweh Elohim” merupakan sesuatu yang penting. Di seluruh Pentateukh, kata ini muncul sebanyak 21 kali, 20 di antaranya hanya muncul di Kejadian 2-3 dan hanya satu kali muncul di Keluaran 9:30.

Perbedaan sebutan di atas menimbulkan pertanyaan, “Apakah perbedaan antara Elohim dan Yahweh?” Apakah variasi penyebutan ini hanya mengikuti tradisi kuno waktu itu yang memakai beberapa nama untuk suatu dewa (misalnya dewa Mesir Osiris =Wennefer = Khentamentiu = Neb-adu, dewa Babel Bel = Enlil = Nunamnir, dewi Ishtar = Inanna = Telitum)?

Perbedaan istilah Elohim dan Yahweh

Dari penyelidikan arti kata “Elohim” dan “Yahweh” di Perjanjian Lama, kita bisa melihat bahwa keduanya memiliki makna yang berbeda. Kata “Elohim” muncul sebanyak 2602 kali. Dari 2602 kali pemunculan kata “Elohim”, sekitar 2570 di antaranya merujuk pada Allah yang benar, sedangkan sisanya memiliki arti beragam. “Elohim” bisa merujuk pada dewadewa (Kel 18:11; 20:3; 23:13; 32:23; Ul 4:7, 28; 6:14; 7:4; 10:17), malaikat/makhluk surgawi (Mzm 8:5 [KJV/NIV]) atau hakim-hakim (Kel 21:6 [KJV]).

Kata “Yahweh” (YHWH) muncul 5321 kali, sedangkan bentuk pendek “Yah” muncul 50 kali. Kata ini merupakan nama diri dari Allah di Alkitab. Kata ini tidak pernah dipakai untuk allah/dewa lain. Memang beberapa orang memiliki nama yang ada unsur “Yah” atau “YHWH”-nya, tetapi mereka tidak bermaksud memposisikan diri sebagai Yahweh, misalnya Yosua berarti  “Yahweh adalah keselamatan” (Bil 13:8, 16), Elia berarti “Allah adalah Yahweh”.

Apa yang kita bisa dapatkan dari penjelasan di atas? Tanpa bermaksud mengabaikan kompleksitas dan kerumitan studi tentang nama Allah (bahkan di kalangan para sarjana isu ini belum konklusif), kita secara umum bisa menyimpulkan perbedaan “Elohim” dan “Yahweh” sebagai berikut:

 

Elohim Yahweh
Hanya sebagai ‘sebutan’ untuk suatu Pribadi yang ‘dianggap’ Allah atau ilahi. “Elohim” bisa berarti ‘Allah’, ‘ilah/dewa’, ‘malaikat’. Nama diri dari Elohim-nya bangsa Israel (umat milik Allah yang benar)
Dipakai untuk Allah bangsa Israel maupun dewa-dewa kafir Hanya untuk Allah bangsa Israel atau umat Allah saja
Lebih        dikaitkan        dengan         kebesaran

(transendensi) Allah, walaupun penggunaan “Elohim” di beberapa tempat bermakna kedekatan juga (Kej 17:8; 26:24; 28:13; Im 20:24; Yer 23:23; 2Raj 19:10).

Lebih dikaitkan dengan kehadiran (immanensi) Allah.  Yahweh lebih dikaitkan sebagai Allah perjanjian

Tujuan pemakaian “Elohim” dan “Yahweh” di Kejdian 1-4

Mengapa Musa sebagai penulis kitab Pentateukh (Kejadian-Ulangan) memakai sebutan yang berbeda untuk Allah di Kejadian 1-4? Beberapa sarjana yang menolak Musa sebagai penulis Pentateukh mengusulkan sebuah dugaan yang disebut Hipotesa Dokumenter, yaitu pendapat yang mengatakan bahwa Pentateukh merupakan kumpulan tulisan dari para penulis yang berbeda, lalu semua itu dikumpulkan dan diedit oleh seorang redaktur. Berdasarkan hipotesa ini, perbedaan sebutan untuk Allah disebabkan perbedaan tradisi dan ciri khas para penulis Pentateukh.

Terlepas dari lemahnya hipotesa di atas secara umum, ada penjelasan lain yang lebih bisa diterima. Penjelasan ini bahkan bisa memunculkan kesatuan dan perkembangan (progresivitas) ide dalam kitab Pentateukh. Penjelasan ini harus dipahami sesuai konteks bangsa Israel waktu itu yang sedang berada di padang gurun menuju tanah perjanjian (tanah Kanaan).

Melalui variasi penyebutan nama untuk Allah, Musa ingin menunjukkan kepada bangsa Israel waktu itu bahwa Yahweh yang memimpin mereka di padang gurun adalah Elohim yang menciptakan alam semesta dan yang telah mengikat perjanjian dengan Adam, Nuh, Abraham. Maksud ini tercermin jelas di Keluaran 2:23-25. Ayat 24  “Allah (Elohim) mendengar mereka mengerang, lalu Ia mengingat kepada perjanjian-Nya dengan Abraham, Ishak dan Yakub”. Selanjutnya, Elohim di sini menampakkan diri kepada Musa dengan nama “Yahweh”.

Keluaran 6:1-2 “Selanjutnya berfirmanlah Allah (Elohim) kepada Musa: “Akulah TUHAN

(Yahweh). Aku telah menampakkan diri kepada Abraham, Ishak dan Yakub sebagai Allah (El) Yang Mahakuasa, tetapi dengan nama-Ku TUHAN (Yahweh) Aku belum menyatakan diri”. Supaya maksud ini bisa ditangkap oleh pembaca kitabnya, Musa memakai tehnik transisi sebutan: Kejadian 1 memakai “Elohim”, Kejadian 2-3 memakai “Yahweh Elohim”, sedangkan mulai Kejadian 4 nama “Yahweh” lebih umum dipakai.

Selain penjelasan di atas, tujuan pemakaian variasi sebutan untuk Allah juga bisa dipahami menurut konteks Kejadian 1-3. Di pasal 1, Allah ditampilkan dalam hubungan dengan seluruh alam semesta, sehingga sebutan “Elohim” memang lebih sesuai. Mulai pasal 2, fokus perhatian terletak pada relasi Allah dengan manusia (bukan lagi dengan ciptaan secara umum seperti di pasal 1), sehingga penggunaan nama Yahweh [Elohim] menjadi lebih sesuai, karena menyiratkan imanensi Allah. #

Leave a Reply